Feeds:
Posts
Comments

Kamu yang ingin menjajal bukunya Ahmad Tohari cobalah untuk membaca Di Kaki Bukit Cibalak. Ceritanya sederhana, tak berbelit belit. Mudah untuk dipahami. Hanya 170an halaman pula. Tak butuh lama untuk menyelesaikannya. Dengan catatan kamu enggak masalah dengan setting tempatnya yang sebagian besar di desa. Juga waktu kejadian di tahun 1970an. Jelas masih jadul. Belum ada handphone. Belum ada social media. Belum ada kamu juga. Mungkin.

Tapi sudah ada Pambudi lho. Siapakah dia? Dia adalah tokoh utama kita. Seorang pemuda desa yang punya sifat baik, berbudi pekerti luhur, gemar menolong dan sifat sifat baik yang mungkin hanya bisa ditandingi oleh Fahri di universe sebelah. Karena sifatnya yang kelewat bener itu, Pambudi terpaksa berhenti dari pekerjaannya sebagai pengurus lumbung koperasi desa Tangir. Ia tak setuju pada tindakan kepala desanya yaitu Pak Dirga yang tak mau menolong warganya yang sedang membutuhkan bantuan. Kepemimpinan Pak Dirga jauh dari kata adil. Pambudi ingin sekali melawan, tapi ia belum punya kekuatan. Pak Dirga yang tak menyukai Pambudi kemudian berupaya agar pemuda itu enyah dari desanya. 

Di Kaki Bukit Cibadak tidak memberikan kisah kisah memilukan meski ada potensi ke arah sana. Ini pas buat kamu yang mencari bacaan ringan, tidak membuat kening berkerut dan hati sesak oleh penderitaan. Baca buku ini tidak akan mempengaruhi kehidupan bahagia kalian semua. Andai makanan, buku ini laksana cemilan sehat yang tidak bikin gendut. 

Di Kaki Bukit Cibalak seperti sebuah contoh pertarungan antara si baik dan si jahat. Kisah kesombongan dan keserakahan yang berusaha menghilangkan kemanusiaan. Melalui Pambudi dapat dicontohkan bahwa jadilah orang baik meski keadaan tidak menguntungkan, mengalah bukan untuk kalah tapi menunggu saat yang tepat untuk menyerang. Buku yang sayang untuk dilewatkan. Apalagi jika sudah pernah baca buku Ahmad Tohari dan merasa cocok. 

Di Kaki Bukit Cibalak | Ahmad Tohari | PT Gramedia Pustaka Utama | Halaman: 176 | Rate: 4

Advertisements

Holy Mother – Akiyoshi Rikako

Hal paling mengerikan bagi seorang ibu bukanlah kehilangan tupperware, melainkan hilangnya anak yang dikasihinya sepanjang masa. Seorang ibu akan berusaha dengan segala cara untuk melindungi buah hatinya. Apalagi jika anak itu sudah lama dinantikan kehadirannya. Seperti yang terjadi pada Honami. Ia baru dikaruniai anak pada usia empat puluhan setelah menunggu bertahun tahun. Berbagai cara telah ia coba. Menyakitkan dan melelahkan. Maka dari itu, ia jadi posesif kepada putrinya yang masih kecil itu. Terjadinya pembunuhan terhadap anak kecil di lingkungan tempat tinggalnya semakin membuatnya khawatir akan keselamatan putrinya. Apalagi polisi pun masih belum menemukan si pelaku. Di tengah kekhawatirannya, ia tak sengaja melihat orang yang mencurigakan. Dan ia yakin bahwa orang itu adalah pembunuhnya.

Kesan pertama ketika selesai membaca ialah;yak, kalian memang benarrr!!! Ini saya tujukan kepada kalian yang sudah membaca buku ini lebih dulu, dan mengatakan bahwa endingnya tidak bisa ditebak. Dan memang benar, twistnya edan pisan. Bisa jadi akan saya masukan ke dalam daftar buku dengan twist mengguncang. Beneran menipu. Saking menipunya malah bisa bikin orang mencak mencak. Lho, kok bisa ya? Kejutan yang luar biasa itu memang jadi nilai plus buat buku ini, akan tetapi, twistnya itu sendiri menimbulkan pertanyaan lain yang sedikit mengurangi kejeniusan twistnya itu. Semacam love hate twist kayaknya. 

Holy Mother menuturkan kisah Honami dan putrinya, dua orang polisi yang menyelidiki kasus pembunuhan dan Makoto, seorang siswi SMU sekaligus pelatih kendo anak anak. Kisah mereka dituturkan secara bergantian diselingi flashback ketika Honami dalam masa pengobatan untuk mendapatkan keturunan. Berbagai cara yang dilakukan Honami dijelaskan secara gamblang dan detil. Bisa nambah ilmu. Tapi, karena bagian konsultasi dan pengobatannya keseringan, jadi agak ganggu dikit. Karena lagi penasaran mencari siapa pembunuhnya, tiba tiba beralih ke kisah Honami manakala di rumah sakit. Memang sih, semua itu diceritakan agar kita tahu seberapa desperatenya Honami untuk mendapatkan anak. 

Holy Mother ialah sebuah slow burn thriller yang mengajak saya untuk menebak, menerka siapa pembunuhnya, sekaligus berempati terhadap perjuangan seorang perempuan untuk mendapatkan seorang anak. Karena judulnya Holy Mother, kisah kasih ibu kepada anaknya lebih dominan ketimbang lika liku polisi mencari pembunuhnya. Sebuah kisah yang sayang untuk dilewatkan. Apalagi jika kalian penggemar kisah kisah dengan ending yang tidak mudah ditebak. 

Holy Mother | Akiyoshi Rikako | Penerbit Haru | Halaman: 277 | Rate: 4

What a Wonderful Family! (2016)

Slogan bersatu kita teguh bercerai kita runtuh mungkin hanya afdol pabila dipakai dalam kancah peperangan melawan penjajah. Pabila dipakai dalam pernikahan, akan lain lagi bunyinya. Bersatu kita runtuh, bercerai ya kawin lagi. Kalau masih ada yang mau. Kalau masih kepingin. Kalau masih kuat. Perceraian dalam pernikahan bukanlah sesuatu yang aneh meskipun bisa jadi awalnya tidak ingin cerai, tapi seiring waktu, cerai jadi satu satunya jalan. Bukan sesuatu yang aneh maksudnya perceraian itu ialah hal yang wajar dan mungkin akan terjadi. Ini dikarenakan syarat utama perceraian sudah terpenuhi, yaitu menikah. Orang yang belum menikah tidak bisa bercerai. Namanya juga masih bujangan atau gadis, masa mau cerai. Tapi boleh saja minta cerai jadi modus agar bisa segera dinikahi. Misalnya ada cewek berkata seperti ini, “Ceraikan saja aku, mas!” Cowoknya menjawab: “Lho, kan kita belum nikah, dik. Nikah dulu aja gimana?” Dijawab lagi sama ceweknya,”Sungguh! Aku mau mas!” Kemudian keduanya pun menikah. 

Perceraian bisa menimpa bagi pasangan yang belum lama atau pun sudah lama menikah. Imbasnya akan berbeda beda. Tapi, pasutri yang sudah tua dan lama menikah akan punya imbas yang lebih besar terhadap kehidupan orang orang di sekitarnya. Apalagi kalau pasutri itu sudah jadi kakek dan nenek. Mau enggak mau, persoalan cerai itu akan membawa anak beserta mantu dan besannya untuk turut serta mengatasi olengnya bahtera rumah tangga pasutri uzur itu. Tapi, hal paling pertama yang mereka lakukan manakala tahu bahwa kakek dan nenek tercintanya memutuskan untuk bercerai ialah terkejut. Terguncyangg. Kok bisa sih mau cerai. Padahal nenek sudah tua meski giginya masih lebih dari dua dan tidak suka duduk di jendela. Dan, datanglah pertanyaan ini; why? Kenafaaa???

Tapi saya harus sabar menanti jawaban atas pertanyaan itu. Alih alih langsung ngasih jawaban, saya lebih dulu diajak untuk melihat bagaimana dampak rencana percerain kakek dan nenek itu kepada anak dan mantu mantunya. Shuzo Hirata dan istrinya Tomiko Hirata, pasangan lansia yang mau cerai itu punya tiga orang anak. Kedua anak laki lakinya tinggal bersamanya. Yang sulung sudah menikah dan punya dua anak. Sementara yang bungsu masih bujangan. Anak kedua, perempuan, tinggal ikut suaminya. Ketiganya kemudian berusaha menyelidiki apa penyebab orang tuanya ingin becerai. 

What a Wonderful Family! mungkin saja ingin memberi tahu pada kita bahwa sebuah keluarga yang hebat, menakjubkan itu bukanlah keluarga yang adem ayem tanpa konflik, melainkan keluarga yang berusaha keras menjaga persatuan dan kesatuan meski didera berbagai masalah yang semuanya itu dilandasi oleh keinginan luhur agar terciptanya harmonisasi kehidupan yang penuh dengan cinta dan kasih sayang. Sebuah film yang hangat diselingi komedi yang jarang tapi benar benar lucu. 

Dari sutradara yang telah menghadirkan trilogi drama samurai (Twilight Samurai, Love & Honor, dan The Hidden Blade), Yoji Yamada, What a Wonderfull Family! ini menang lebih santai seperti halnya film film slice of life lainnya. Tidak kebanyakan bumbu drama hingga enggak sampai menyesakkan dada. Didukung oleh penampilan aktor senior negeri Doraemon, mulai Ishao Hashizume hingga Yu Aoi. Ada juga Satoshi Tsumabuki jadi anak bungsu dan kekasih Yu Aoi, dimana ia kali ini sangat berbeda dengan perannya di film Ikari atau Rage. 

What a Wonderful Family! akan jadi sajian yang menyenangkan terutama pabila kamu menyukai drama drama Jepang yang cenderung santai. Kalau kamu sudah menonton dan suka, ada kabar gembira, film ini sudah ada lanjutannya. Dan jangan khawatir, ending film pertamanya enggak kentang kok. Sudah pas. 

What a Wonderful Family! | Dir: Yoji Yamada | Cast: Ishao Hashizume, Satoshi Tsumabuki, Yu Aoi, Yui Natsukawa | Rate: 4

Resign! – Almira Bastari

Eh, lu punya bacaan yang seru ga? Yang ringan ringan saja. Yang bisa bikin gue ketawa. 

Kalau gue ditanya kaya gitu sekarang, gue tanpa ragu ragu bakal jawab; mo tau aja, apa mau tau banget? 

Timpuk jangan?

Gue bakal langsung nyuruh orang yang tadi nanya buat baca buku Resign! Soalnya emang bukunya seru, lucu, enggak ribet, cocok sekali buat hiburan, mengisi waktu luang, biar hati senang. Bahkan buat orang orang yang emang dasarnya lagi happy, baca buku ini bisa menambah kadar kebahagian. Juga buat yang jarang baca metropop, sekali ini boleh lah dicoba. Gue juga awalnya coba coba, eh malah keterusan. 

Seperti judulnya, buku ini memang bercerita tentang orang orang yang ingin cepet cepet resign. Enggak tahan sama si bos yang ‘kejam’nya enggak ketulungan. Nama bosnya Tigran. Tigran ini ngingetin gue sama Bossman di film My Stupid Bos, cuma beda casing. Karyawannya, yang menyebut dirinya cungpret alias kacung kampret berlomba lomba cepet cepetan resign. Masalahnya ialah, si bos udah kaya cenayang yang bisa mencium bau bau anak buahnya pengin pindah ke tempat lain. 

Buku yang sebagian besar terjadi di dalam kubikle ini seru, susah buat berhenti dibaca. Plus, banyaknya dialog dialog yang tambah bikin cepat membalik halaman. Selain usaha para cungpret buat resign, masih ada konflik lain yang mungkin bisa ditebak oleh kalian yang jam terbang baca metropop sudah banyak. Resign! jadi buku pertama di tahun ini yang bisa bikin gue ketawa ketawa. Klimaks di tempat parkir itu asli lucu banget. Ngingetin gue sama buku Marriageable nya Riri Sardjono. Sama sama di parkiran pula. 

Yang kurang dari Resign! barangkali akhirnya yang berlangsung terlalu cepat. Bagian Alranita sama bapaknya itu enggak ada juga enggak apa apa kayaknya. Novel ini juga membikin istilah Makan Teman jadi tidak terkesan mengerikan. Kesannya woles bae. Apakah karena sudah lebih dulu ngasih lampu sen sewaktu mau nikung? Atau Makan Teman ini masih kalah ngeri dibanding sama Makan Dinikahan Mantan?

Akhirnya, Resign! beneran bisa bikin resign sementara dari hiruk pikuknya masalah yang sedang menimpa siapa saja. Bacaan santai. Meriah oleh interaksi cungpret cungpret dengan bosnya. Cungpret cungpret itu juga ngasih quote quote pedoman hidup yang ditulis di permulaan setiap bab. Quotenya inspiratif dan berfaedah sekali. Quote paporit gue itu yang ini: “Don’t rich people difficult. Jangan kaya(k) orang susah.” -Moto cungpret mapan.

Dan sebagai cungpret, gue juga punya quote yang pengen gue share ke kalian semuanya. “Kalau nemuin rambut di meja kantor jangan dimakan, kecuali rambutnya pake akhiran an.” – Moto cungpret yang baru saja makan rambutan.

Oke khaaannn. Eh ada lagi!

“Jangan nikah sama orang sekantor. Kebanyakannn!!” Duh, basi banget ya motonya. Madingnya udah keburu terbit deh!

Resign! | Almira Bastari | PT Gramedia Pustaka Utama | Jumlah Halaman: 288 | Rate: 3.5

Selesai membaca buku ini kemungkinan besar kamu akan menempatkan kisah cinta Inayatun & Mat Dawuk sebagai cinta yang tragis, sebanding dengan kisah Romeo & Juliet, Qays & Layla, Mardio kepada Melatie, atau mungkin kisah cintamu sendiri. Muehehehe. Inayatun & Mat Dawuk mampu membuat lubang besar di hati saya, sehingga kosong melompong seperti tengah tengah kue donat assorted. Kenyataan bahwa cinta keduanya berakhir tragis dapat segera kamu temukan tak lama setelah membaca buku ini, di halaman empat belas. Jadi enggak spoiler amat. Tepatnya pada kalimat ini; Bagaimana mungkin para orang tua akan bercerita kepada para anak anaknya, atau para kakek nenek akan mendongengi cucu cucunya – bocah bocah polos tak tahu apa apa itu – tentang laki laki yang telah membunuh istrinya? Istrinya sendiri dan beberapa orang lainnya, lebih tepatnya

Yang dimaksud laki laki itu adalah Mat Dawuk, dan iatrinya adalah Inayatun. Meski sudah tahu ending kisah cinta mereka (bukan ending buku ini lho ya gaes), tapi tetap saja ketika membaca bagian yang menceritakan hal itu, rasanya tetap menyakitkan. Mungkin karena kita manusia tak ada yang benar benar siap menerima kabar menyedihkan. Mungkin juga karena saya kadung menyukai tokoh Inayatun & Mat Dawuk setelah mendengar sejarah masa lalu keduanya melalui mulut Warto Kemplung. Siapa pula Warto Kemplung?

Warto Kemplung ialah si tukang dongeng kita. Oh bukan tukang dongeng, tapi si pembual. Warto Kemplung memang dikenal sebagai tukang kibul. Orang orang nyaris tak percaya pada cerita ceritanya. Tapi tak punya daya untuk menolaknya manakala Warto Kemplung mulai bercerita. Buku ini berisi cerita Warto Kemplung saat berada di warung kopi. Sambil menyeruput kopi dan merokok, ia dengan semangat bercerita mengenai sebuah kejadian berdarah yang baru saja terjadi di desa mereka, yang kemudian merembet pada kisah kisah cinta, dendam, mistis, aksi laga, pembunuhan, yang asik sekali untuk disimak. 

“Mereka berkoar soal kekalahannya, soal penyerahan senjata dan buntalan di kalungnya, sampai soal pembakarannya, dan sama sekali tak menyinggung nyinggung tentang pengeroyokan itu. Dan, tentu saja, mereka tak akan bicara apa apa tentang seberkas sinar putih yang meluncur menembus api!” kata Warto Kemplung dengan kepongahan orang yang merasa lebih tahu. 

Kisah cinta Inayatun & Mat Dawuk memang sangat menarik. Karena ini adalah pasangan Beauty & the Beast yang sebenarnya. Inayatun gadis paling cantik nan bahenol di Rumbuk Randu. Setiap laki laki ingin memilikinya. Tapi sifat gadis itu tak seelok rupanya. Ia susah diatur. Pandai merayu laki laki sehingga menikah sampai tiga kali. A real bitch lah pokoke. Di sisi lain, Mat Dawuk sama sekali berbeda. Bentuk fisiknya mungkin di bawah sedikit dengan wajah si Cantik dalam novel Cantik Itu Luka karangan Eka Kurniawan. Jelek dan mengerikan. Nasibnya sebelas dua belas dengan Tyrion Lannister yang dibenci si ayah karena ibunya meninggal sewaktu melahirkan dia. Nyaris tak ada yang mau berteman dengannya. Kuburan jadi tempat favoritnya bermain. Namanya kerap dipakai ibu ibu untuk menakuti anak anak mereka kalau mereka membandel. Lantas, bagaimana Inayatun & Mat Dawuk bisa menjadi suami istri yang saling mengasihi?

Dawuk sudah pasti jadi buku favorit saya tahun ini, bersanding dengan Muslihat Musang Emas nya Yusi Avianto Pareanom . Membaca Dawuk membuat saya seolah olah menjelma jadi pria tamvan penasaran yang ikut duduk ngopi di warung kopi Siti, sambil duduk mendengarkan cerita Warto Kemplung dengan sungguh sungguh. Ikut tersenyum sewaktu ada kejadian lucu (yang sebenarnya tidak lucu tapi karena Warto Kemplung seperti ngelucu jadi saya tertawa), ikut tegang sewaktu terjadi ketegangan (ada beberapa bagian yang rasanya seperti menonton film thriller, penuh dengan suspen, dan perkelahian yang seru), ikut berduka sewaktu kisah cinta dua manusia menemukan muara kesedihannya. Tapi saya enggak ikut nyanyi sewaktu lirik lirik lagu India bertebaran di buku ini. Soalnya enggak paham lagu apaan. Enggak banyak tahu lagunya. Lagu India terakhir yang saya simak itu lagu Tum Hi Ho. Versi koplo tapinya. Kalau lagu dangdutnya sih paham. Ehehe.

Mahfud Ikhwan, yang sudah menelurkan buku Aku dan Film India Melawan Dunia hingga dua buku, kembali membawa keIndiaannya dalam buku ini yang meliputi adegan film dan lagu. Lagu India berseliweran, dan ada yang menjadi anthem song nya pasangan Inayatun & Mat Dawuk. Beberapa bagian ada yang terinspirasi oleh film India. Misalnya sewaktu Inayatun & Mat Dawuk memadu kasih dengan berlarian. Atau dalam percakapan romantis intim mereka berdua. 

“Ini persis kandang di film Betaab. Luas dan sepi,” kata Inayatun dengan mata ceria, sehabis mereka bercinta di lantai- sebab dipan untuk mereka tidur belum selesai dibikin. Siang siang pula.  “Kita adalah Roma dam Sunny dari Rumbuk Randu,” sambungnya sambil menjejerkan wajahnya dengan wajah Mat. Dari segala segi, jelas tak cocok, bertentangan, tak sepatutnya dipertemukan. Seperti langit dan bumi. Seperti pucuk bintang paling jauh dan dasar sumur paling dalam. Seperti hujan dan jemuran. 

“Tapi kita tak punya peternakan kuda seperti mereka. Hanya ada kambing. Itu pun cuma seekor.” Sahut Mat mengacu pada film India yang dibicarakan Inayatun.

“Buat apa kuda. Aku sudah punya kamu,” balas Inayatun sambil menaiki perut Mat. Senyum dan tangannya nakal, seperti biasanya.

Peraih Kuala Sastra Khatulistiwa 2017 ini memang memikat sejak awal sampai akhir. Covernya yang tak mencolok mata, namun gambar kalajengking dan ularnya mematri di kepala. Ternyata kedua binatang itu memang diceritakan dalam buku. Covernya mengingatkan saya pada cover Mantra Pejinak Ular Kuntowidjoyo. Dawuk terbagi dalam 23 bab pendek pendek. Memberikan ilusi seperti makan kacang, sedikit demi sedikit lama lama habis.  Kacang gurih dan nikmat. 

Buku yang tak tebal tebal amat ini, mengingatkan saya dengan buku bukunya Eka Kurniawan pada masa sebelum O keluar. Kisah kisah yang terasa dekat diselingi hal hal ajaib. Tokoh tokoh yang masih terbayang manakala buku sudah diselesaikan. Ditutup dengan ending yang tak mudah dilupakan, karena menyebalkan. Menyebalkan karena saya punya gambaran lain yang menurut saya lebih keren, tapi jadinya mainstream. Sementara Mahfud Ikhwan memilih ending yang mengguncang siapa saja yang membaca buku ini. Love and hate ending. Tapi pastinya bikin mikir.

Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu | Mahfud Ikhwan | Marjin Kiri | Halaman: 182 | Rate: 4


Genduk – Sundari Mardjuki

Genduk ialah nama panggilan anak gadis rambut panjang dengan menekankan kata “Nduk” sewaktu dipanggil. “Nduk, mau kemana?” Sebab akan terdengar aneh pabila orang memanggil “Gen”. “Gen, mau kemana?” Nanti disangka namanya Gendeng. Bisa berabe. Atau Gendut. Tambah berabe. Apalagi Gentayangan. Hii, serem. Genduk ini tinggal berdua dengan ibunya. Ayahnya tak tahu rimbanya. Sang ibu mengandalkan kehidupannya pada tanaman tembakau. Sama seperti keluarga yang lainnya. Hasil panen yang baik selalu dinanti. Meski demikian, menjual tembakau ialah hal yang lain lagi. Penjualan tembakau dikuasai oleh tengkulak curang yang mengandalkan segala cara untuk mendapatkan uang. Ketuanya bernama Kaduk. Ia kemudian menjadi orang yang paling dibenci Genduk. 

Hubungan Genduk dengan ibunya tak bisa dibilang harmonis. Seringkali ibunya membuat hatinya terluka. Begitu pula sebaliknya. Genduk ingin sekali bertemu dengan bapaknya. Yang wajahnya tak pernah ia tahu. Suatu hari ia nekat kabur ke kota mencari jejak ayahnya. Mencari kepastian tentang nasib sang ayah. Apakah sudah meninggal atau masih hidup. Selayaknya nyanyian; Kalau masih bersemi di manakah rimbanya / Kalaupun sudah mati di mana pusaranya. Petualangan Genduk mencari ayahnya menjadi salah satu konflik yang terdapat dalam buku ini, melengkapi konflik yang lain; kegelisahan petani tembakau akan penen tembakaunya, hubungan tak harmonis antara Genduk dan ibunya, serta ketakutan Genduk kepada Kaduk.

Membaca Genduk seperti membaca buku buku Ahmad Tohari yang kental dengan muatan kedaerahannya. Membawa saya merasakan kembali suasana pedesaan yang hijau, beserta adat istiadat masyarakat sekitarnya. Tempatnya kali ini ialah desa Ringinsari yang terletak di lereng gunung Sindoro. Rumah rumah masih berlantaikan tanah, dengan dinding berupa gedek, bilah bambu yang dianyam. Anak anaknya masih suka bermain petak umpet. Belum ada listrik, sehingga televisi, yang hanya dipunyai oleh Lurah Cokro,  dinyalakan menggunakan aki. 

Genduk punya cover dengan warna biru telor asin yang lembut, dengan dua lembar daun tembakau menumpuk ditempel menggunakan lakban kertas. Warnanya adem, tapi lakban kertasnya bikin geregetan ingin mengkeleteknya. Dibalik cover itu ada kejutan kecil. Ilustrasi berwarna anak kecil dengan rambut diikat kepang dua, mengenakan gaun putih. Tangannya terentang menyentuh pohon tembakau. Ia menatap gunung yang menjulang di depannya. Ilustrasi ini sebenarnya bisa juga dijadikan cover, tinggal ditambahi judul dan nama penulisnya saja. 

Sundari Mardjuki menulis ceritanya dengan ringkas dengan tempo yang lumayan cepat. Saya menyelesaikannya dalam sekali baca. Buku ini terbagi dalam beberapa bab yang tak terlalu panjang. Bahkan ada yang hanya dua halaman berisi puisi. Ada beberapa puisi dalam buku ini. Juga lirik lagu. Lagu lagu jawa lama dan lagu anak anak yang tidak saya kenal. Puisi puisinya ada yang panjang ada yang pendek. Yang panjang sampai dua halaman digunakan sebagai simbolis tentang apa yang sedang terjadi, karena mungkin akan kurang nyaman seandainya ditulis dengan kalimat biasa. Tapi untuk lirik lagunya sebaiknya tak usah ditulis saja tak masalah soalnya saya langsung skip jika ada lirik lagunya. 

Tempo cerita yang mengalir cepat juga membuat saya merasakan terlalu banyak kebetulan kebetulan yang mendukung nasib si Genduk. Kebetulan ketemu si anu, kebetulan dikasih itu, dan kebetulan dapat itu, dan yang lainnya. Tapi yang paling menjengkelkan ialah nasib tokoh antagonis utama yang, yah cuma gitu doang. Terlalu gampang. Mungkin karena Genduk masih kecil dan lemah hingga tak bisa melawan. Tapi kan bisa pakai tangan oranh lain. Seenggaknya dibikin lebih menegangkan gitu ceritanya. Hal mengganggu lainnya ialah dialog Genduk yang tak seperti anak seusianya, terlalu dewasa dan kaku sehingga jadi terlihat tidak natural Seperti dalam sinetron sinetron. Hal ini membuat saya merasa berjarak dengan tokoh tokohnya. Beberapa bagian yang seharusnya bisa menguras air mata jadi biasa saja. 

Akhirnya, Genduk bukanlah sebuah kisah yang rumit meski banyak hal yang diceritakan. Punya potensi untuk menjadi buku yang menguras air mata seandainya tak masalah dengan dialog dialognya yang cenderung tak sesuai dengan usia tokohnya. Jika masa kecil kamu dihabiskan di desa, maka buku ini adalah mesin waktu yang akan membawamu ke masa masa itu. Bermain di sawah, petak umpet di bawah sinar rembulan, ramai ramai menonton televisi, dan rasa takut sekaligus gembira menonton kuda lumping.

Genduk | Sundari Mardjuki | Jumlah Halaman: 232 | PT Gramedia Pustaka Utama | Rate: 3

Saya kira Jumanji: Jumanji Welcome to the Jungle akan menjadi film yang cocok untuk ditonton bersama anggota keluarga dari yang termuda sampai paling tua. Pergi ke bioskop bisa menjadi tamasya yang asik dan murah meriah ketimbang liburan ke Eropa sana. Film ini akan memberikan penghiburan yang layak. Buat saya menyenangkan, cuma boleh jadi kalian akan berkata lain. Tapi setidaknya, satu bioskop yang nonton bareng saya, ramai sekali dengan suara orang tertawa. Bahkan Thor: Ragnarok yang saya anggap lucu itu pun masih kalah ramainya. Sebelah kanan saya sampai tertawa ngakak sekali. Banyak orang tua yang membawa anaknya. Semuanya gembira. Hilang duka lara. 

Kejenakaan itu bersumber dari tingkah laku empat tokoh utamanya yang tersedot ke dalam dunia game Jumanji. Sebuah tempat asing penuh dengan dan binatang binatang berbahaya. Belum lagi mereka harus menunaikan misi agar bisa kembali ke dunia mereka sebelumnya. Pergi ke tempat baru adalah masalah, tapi menempati tubuh yang berbeda ialah satu hal lainnya. Keempat orang tadi ternyata harus berada dalam tubuh orang lain yaitu tubuh avatar game yang mereka pilih sebelumnya. Kaget banget dong mereka.

Gimana enggak kaget. Spencer Giplin, yang tadinya cowok kurus, kutu buku, rambut kriwil kriwil tiba tiba berubah jadi cowok berotot tinggi besar melebihi Agung Hercules dan botak, sekaligus tokoh utama dalam game. Martha Kaply, cewek cupu, canggung, bintang kelas mendapat anugerah luar biasa manakala berubah menjadi si sexy ahli bela diri yang cantik pakai banget. Sementara dua orang lainnya tidak seberuntung mereka. Fridge yang memang sebesar kulkas, terpaksa menerima kalau ia berubah menjadi ahli zoologis pendek yang kemana mana memanggul tas ransel ajaib berisi senjata. Yang paling parah ialah Bethany Walker, cewek hot jaman now, hobby upload foto di instagram, ternyata berubah menjadi cowok gendut ahli membaca peta. Mereka ditakdirkan untuk menyelamatkan negeri Jumanji dengan cara menaruh kembali permata hijau ke tempat semula sambil dikejar oleh penjahat. 

Sajian aksi yang ada juga lumayan seru, terutama yang dikejar kejar badak. Aksi perkelahiannya sering kali mengundang gelak tawa akibat dari tingkah laku keempat orang itu. Karena masih awam dengan perubahan yang terjadi pada mereka. Joke joke verbalnya lucu. Apalagi kalau Fridge lagi ngomel ngomel. Untuk anak kecil, saya kira masih aman. Ada beberapa kata umpatan, dan ngomongin alat kelamin sewaktu kencing. Untuk ciuman, aman. Dipotong habis sama LSF. 

Bagi yang sudah sudah menonton Jumanji versi lama, mungkin akan menganggap film ini kurang terasa nostalgianya. Tapi, akan ikut terhibur dengan apa yang ada di dalamnya. Kalau enggak terhibur juga, yah tidak apa apa. Yang jelas, bagi yang ingin melepaskan beban hidup, sejenak lupa dengan persoalan di dunia, bolehlah menonton film ini. Boleh juga menonton film yang lain. Sing penting joget, eh senang. Ngomongin joget, salah satu kekuatan avatar milik Martha ialah ‘kelahi joget’. Sebuah ilmu joget yang sanggup merobohkan musuh. Sayangnya, karena ini film barat, lagunya pun pakai lagu barat. Mungkinkah jika kita yang bikin, bakal pakai lagu Jaran Goyang? Atau Ditinggal Rabi? 

Jumanji: Welcome to the Jungle menjadi film Dwayne Johnson kesekian yang pernah saya tonton dan di sini ia lebih berkesan ketimbang fillm filmnya yang lain. Karen Gillan tampil sexy, badass, dan ada satu scene lucu sekali yang menghilangkan imej sexynya. Film ini juga jadi semacam comming of age yang unik. Bagaimana mencari jati diri yang sebenarnya, menjadi percaya diri dengan apa yang kita punya. Apa yang ada di dalam lebih penting dari apa yang terlihat dari luar. Serigala akan tetap serigala meski berbulu domba. Tapi ayam akan jadi fried chicken apabila berbulu tepung bumbu lalu digoreng crispy. Yummy.

Kekurangan film ini ada di bagian awal yang terasa membosankan, padahal cuma sepuluh menitan kurang lebih. Tapi terasa lama. Begitu sudah masuk ke dunia Jumanji, baru asik. Juga villain utamanya yang terasa over power tapi tidak dimanfaatkan dengan maksimal kekuatannya itu. Saya pikir bakal ada makhluk makhluk mengerikan yang akan muncul, tapi ternyata tidak. Akhirnya, Jumanji: Welcome to the Jungle patut dijadikan tujuan untuk mengisi liburan anda. 

Jumanji: Wellcome to the Jungle | Dir: Jake Kasdan | Cast: Dwayne Johnson, Karren Gillan, Jack Black, Kevin Hart| Rate: 3.5