Review Ada Seseorang Di Kepalaku Yang Bukan Aku

Judul: Ada Seseorang Di Kepalaku Yang Bukan Aku
Penulis: Akmal Nasery Basral
Barangkali seandainya terjadi di dunia nyata, seseorang tiba tiba berkata: ada seseorang di kepalaku yang bukan aku, tentunya akan mendapat tanggapan yang berlainan, bergantung pada siapa yang menjadi lawan bicaranya. Bisa jadi, hanya akan mendapat jawaban singkat: ‘lebay banget sih lu!’, meskipun tak menampik kemungkinan jawaban panjang nan perhatian: ‘ah yang bener,jangan jangan kerasukan roh halus, emang kamu tadi kencing dimana sih!’, dan jawaban yang lebih panjang yang sedikit keterlaluan: ‘guah enggak peduli ada apaan di kepala loh, yang guah peduliin cuma satuh, balikin kancut beludru item guah!!’

Untungnya Akmal Nasery Basral menjadikan kalimat itu sebagai judul buku miliknya, sehingga kemungkinan terjadi hal hal seperti di atas masih dapat dihindari, sebab biasanya ketika menyentuh ranah sastra, segala hal selebay apa pun, masih bisa diterima, bahkan cenderung banyak yang menyukainya. Maka, kalimat ‘ada seseorang di kepalaku yang bukan aku’, akan menjadi terdengar sedikit romantis dan bikin penasaran.

Rasa penasaran saya terjawab dengan cepat, sebab penulis telah meletakan judul itu menjadi cerita pendek pertama dari keseluruhan cerita pendek yang ada di dalam buku ini.
Ada Seseorang Di Kepalaku Yang Bukan Aku, ternyata bukan cerita yang romantis, sebaliknya ini adalah cerita muram tentang seorang wanita bernama Nila yang hidup di penjara bersama teman satu selnya bernama Ibu Surti. Nila kerap membenturkan kepalanya ke dinding. Seperti pendulum. Setelah itu, biasanya ia akan ditemui oleh sesosok wanita cantik atau pria tampan yang akan mengajaknya bicara. Apa yang mereka bicarakan, dan alasan mengapa ia dipenjara itulah yang menjadi inti daripada cerita ini.
Ini bukan cerita yang buruk. Hanya saja, terkesan cerita biasa dibanding dengan judulnya yang bikin penasaran itu. Cerita ini juga gagal membuat saya simpati dengan apa yang dialami oleh tokoh utama, yaitu Nila, justru sebaliknya, saya malah bersimpati kepada temannya, Ibu Surti. Barangkali, karena penderitaan Ibu Surti diceritakan secara gamblang dan tuntas, sedangkan Nila diwakilkan oleh dialog dialog yang terlalu ribet. Cerita pertama ini, mengecewakan.

Sama mengecewakannya dengan apa yang telah dilakukan oleh Sutan Sampono Kayo kepada Midun. Midun cinta mati kepada Halimah. Begitu pula sebaliknya. Tapi, hasrat cinta yang menggeletar hebat itu tidak bisa mereka raih sepenuhnya, sebab Sutan Sampono Kayo telah menitahkannya demikian. Midun tak bisa menyentuh tangan Halimah meski ia sangat ingin. Kenyataan itu membuat Midun geram, maka suatu hari ia mengusulkan kepada Halimah, agar Sutan Sampono Kayo itu dibunuh saja. Siapa sebenarnya Sutan Sampono Kayo?
Cari jawabannya pada cerpen kedua dengan judul yang spoiler ini; Tewasnya Pengarang Paling Santun Di Dunia. Saya lebih menyukai cerpen ini daripada yang pertama. Memiliki ending yang sedikit mengejutkan, serta ada sebagian percakapan yang mengingatkankan saya pada salah satu dialog dalam novel Kite Runner nya Khaled Hosseini.
‘Pantangan yang berlaku universal itu cuma satu;jangan mencuri. Itu dosa utama. Kejahatan lainya hanyalah dosa dosa derivatif.’
Deja vu.
Kemudian ada Dilarang Bercanda Dengan Kenangan. Sebuah pertemuan tak sengaja kembali menghidupkan kenangan kenangan indah antara Johan, dengan Khaleeda, wartawati dari Irak yang ia temui beberapa tahun silam. Sebuah cerita percintaan dengan mengambil setting di Aceh, serta London. Lumayan.

Legenda Bandar Angin menjadi cerpen keempat, dan ini bukan cerpen pendekar. Ini adalah kisah seorang anak perempuan yang berdiri di atas bukit setiap senja, menunggu ayahnya. Cerpen ini lumayan, daripada lumanyun.
Selanjutnya cerpen Lebaran Penghabisan. Tentang mudik ke kampung halaman, namun disana mendapatkan kejadian yang tak disangka, yang akan mengubah nasib mereka selamanya. Ini juga lumayan, daripada lumanyun apalagi lumajang. Jauhhhhh!!
Lalu cerpen Kelambu, yang membuat saya sedikit mengerti ternyata pernikahan itu bukan perkara gampang. Cerpen Prolog Kematian, yang mengambil insiden Bom Bali, serta cerpen Boyon, yang merupakan cerpen paling lucu diantara cerpen yang lain.
Boyon bercerita tentang seorang bernama Jems Boyon, versi ngawur daripada James Bond, yang kerap berganti ganti nama. Salah satu bagian paling lucu ialah ketika ia berada di Jakarta.

Di Jakarta ternyata nama Boy banyak sekali. Aku ingin berbeda, modern sekaligus khas. Maka kupilih nama Jems Boy Chaniago. Panggilan: Jembi. Ketika teman teman mendengar ini mereka tertawa terbahak bahak.

Cerpen selanjutnya ialah Laki Laki yang Berumah Di Tepi Pantai bercerita tentang kepercayaan, dan Perkabungan Hujan, tentang kecelakaan. Sementara Lelaki Gagah, bercerita tentang pengagum rahasia, dengan ending yang mengejutkan namun terasa dipaksakan, sebelas dua belas dengan cerita berikutnya; Seekor Hiu di Cangkir Kopi.
Seekor Hiu di Cangkir Kopi berisi surat surat Alderan kepada Hyacinth, dan sebaliknya. Mereka kerap membicarakan tentang peristiwa peristiwa yang terjadi, juga kritik terhadap kondisi sosial yang menurut mereka tidak baik. Namun sayangnya ditutup dengan ending ala drama korea yang malah jadi terkesan dibuat buat.
Sebagai penutup, ada cerpen Fiona Benci Dengan Paul Anka, yang sedikit menggantung, sebab ternyata cerpen ini ialah cuplikan dari bab pertama novel yang sedang dikerjakan penulis. Semacam tester, begitu.

Pada akhirnya, tidak ada cerita yang benar benar istimewa. Ada beberapa cerpen yang ditulis dengan bahasa yang mengalir sehingga enak dibaca, namun ada juga yang terkesan terlalu kaku untuk sebuah karya sastra. Tidak ada hal yang menarik melebihi judul daripada buku ini. Itulah mengapa di awal review saya menekankan kepada judul. Pemilihan judul yang unik ini ternyata tidak sebanding dengan isinya. Istilah kerennya itu, keberatan judul.Hehe

Advertisements

Review A Tale Dark & Grimm

Judul: A Tale Dark & Grimm
Penulis: Adam Gidwitz

Ada sebuah cerita. Pada suatu malam di sebuah ranjang tempat tidur, seorang anak kecil bernama Mawar meminta kepada ayahnya untuk membacakan sebuah dongeng. Ayahnya kemudian mengambil sebuah buku yang baru saja ia beli: A Tale Dark & Grimm , dan ia mulai membaca.
Tak lama kemudian, Mawar menjerit.
Papah, hentikan! Mawar takut! Mawar.. gak gak gak gak kuat!! Gak gak gak gak level!!

Bertahun tahun kemudian, Mawar menciptakan sebuah lagu berdasarkan pengalaman masa kecilnya berjudul Playboy dan dinyanyikan oleh girl band pendatang baru: 7icon.

Oke, itu semua cerita bohong belaka. Karena lagu Playboy ditulis oleh Dewiq, dan tentu saja tak ada seorang ayah yang tega menceritakan sebuah dongeng yang menakutkan untuk buah hatinya tercinta.
Tapi jangan salah, bahkan di dalam kebohongan pun terkadang ada sebuah kebenaran yang nyata adanya .
Kebenaran yang ada pada cerita di atas ialah adanya sebuah buku berjudul A Tale Dark & Grimm. Dan memang benar, di dalamnya memuat begitu banyak unsur kekerasan yang tidak boleh dibaca oleh anak dibawah umur. Sebut saja pembunuhan, potong jari hingga potong kepala, mutilasi, merebus orang dan lain sebagainya. Keras dan berdarah darah.
Seharusnya menakutkan, ya enggak sih?
Sayangnya, buku ini tidak terlalu menakutkan seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Karena Adam Gidwitz, sang penulis, hanya piawai menggambarkan berbagai kekejaman kekejaman, namun gagal membangun atmosfir kengerian, alih alih terkesan jadi lucu dan terlalu riang. Ibaratkan saja kita menonton film horor di tengah lapangan pada siang hari bolong, ditemani oleh tetangga sekampung plus dukun pengusir setan.
Juga ditambah dengan banyaknya interupsi oleh penulisnya, semakin mengurangi ketegangan yang susah payah dijaga. Interupsi bagaimana maksudnya?
Maksudnya begini. Misalnya kita sedang seru serunya baca, kemudian tiba tiba ada tulisan dari penulisnya (dengan type font yang berbeda) yang memberitahu bahwa kejadian selanjutnya akan menakutkan, atau himbauan agar seandainya ada anak kecil suruh cepat keluar, atau penjelasan mengenai kejadian kejadian sebelumnya yang sayangnya malah tidak menjelaskan apa pun: ‘Jadi apa alasannya, jangan tanya padaku, aku juga tidak tahu’, begitu katanya.
Jadi, membaca buku ini seperti sedang ngabuburit menunggu bedug maghrib tapi tanpa beli makanan buat tajil, atau tamasya bersepeda mengelilingi kompleks rumah tapi tanpa ada yang dikecengin , alias tidak membawa kesan apa pun, kecuali sekedar pengisi waktu yang sedikit menyenangkan tapi tidak cukup kuat untuk membuat diriku terpesona.

Review The Hobbit

The Hobbit
Penulis: J.R.R Tolkien

review The Hobbit, dalam sebuah ilustrasi:

Hari ini Bapak akan meriview buku berjudul The Hobbit yang ditulis oleh J.R.R Tolkien. Ada yang sudah baca? Yak, jangan dijawab, karena pokok pembahasan kali ini adalah tentang review buku itu, bukan tentang apakah sudah kalian baca atau belum. Mengerti!
Ngerti Paaakkk!!!
Bagooossss!! Markitmul!
Markitmul apaan Pak?
Mari kita mulai, muridku.
*tepokjidat*
Jadi, The Hobbit itu menceritakan tentang petualangan seorang hobbit, bernama Bilbo Baggins, yang diajak oleh Gandalf, penyihir baik hati, dan tiga belas kurcaci, untuk merebut kembali harta nenek moyang mereka yang dikuasai oleh naga jahat bernama Smaug. Tapi, sebelum mereka sampai di tempat dimana naga itu tinggal, mereka harus mengadakan perjalanan panjang yang tidak hanya melelahkan, tapi juga menakutkan, yang hampir saja merenggut nyawa mereka. Sebab mereka harus melalui tempat tempat yang dihuni oleh makhluk makhluk berbahaya.

Terus, nasib mereka gimana Pak? Apa mereka berhasil dapetin tuh harta, terus gimana caranya mereka menghadapi naga?
Nah, jawaban dari pada pertanyaan itu bisa ditemui di dalam buku ini.
Jadi, bukunya bagus gitu Pak?
Yah, bagus sih, meski tidak bagus banget. Penulis berhasil membawa saya untuk dapat ikut serta menikmati berbagai kisah di dalamnya. Yang diceritakan dengan tepat, tanpa basa basi, tidak ada detail detail yang mengganggu. Semua ditulis dengan ringkas, dan…eh, kamu Saprudin, ngapain kakimu ditaro di atas meja begitu.
Gerah Pak!
Kamu itu aneh. Kalau gerah, ya jendelanya dibuka, bukannya naruh kaki begitu!!
Siap, Pak!!

*Saprudin berdiri hendak membuka jendela, ketika tiba tiba seorang murid yang lain berteriak melarangnya*; ‘Jangan dibukaa!!!
Kenapa? *tanya Pak Guru*
Nanti airnya masuk!!
Oalaha, bocah gemblung. Ngelindur mesti ini. Woi, bangun! Cuci muka sono di kamar mandi. Dasar edun, di kelas bukannya belajar malah tidur, emangnya ini hostes!
Salah Paaak, yang benar hotel!
Jangan dibenerin. Saya lagi emisi!
Emosiiiii Paaakkkk!!!
#@$$&##**??!

*Setelah Pak Guru tenang, kemudian ia melanjutkan*: Nah, sampai dimana tadi. Ah, sudahlah..intinya The Hobbit ini buku yang bagus. Lagipula kalian juga pasti sudah pada tahu khan, kalau buku ini merupakan prekuel dari buku trilogi The Lord Of The Ring. Kalau kalian sudah tahu, pasti penasaran khan gimana sih kisahnya sampai Bilbo Baggins bisa mendapatkan cincin ajaib itu.
Iya Pak. Ntar bulan desember juga keluar filmnya, Pak!!
Oh iya, betul sekali. Nah, berhubung waktu sudah mulai habis. Kalian ada pertanyaan..yak kamu Sumarjo, mau nanya apa?
Bolehkah saya bertanya, Pak?
Oh, tentu saja boleh. Mau nanya apa?
Lha, itu tadi sudah dijawab..saya kan cuma mau nanya; Bolehkan saya bertanya, Pak?
Oalaaah..!!  Murid muridku, kalian sabar yah, punya teman kaya Sumarjo tadi.
Ada juga Bapak kali yang sabarrr..
Bapak mah, sudah sabar dari dulu..Hehehe..Ya sudah, pelajaran kali ini cukup sampai di sini. Sampai jumpa di lain kesempitan.
Kesempatan, Paaaakkkkk!!!!!!!!!

Review Extremely Loud and Incredibly Close

Extremely Loud and Incredibly Close
Penulis: Jonathan Safran Foer

Tiba tiba saja, saya ingin menjadi orang ganteng pertama yang pergi memanjat pohon toge, dan melemparkan buku ini ke tanah, kemudian saya diamkan selama sebulan penuh hingga tumbuh jamur, lalu saya makan, meskipun saya menyadari hal itu masih tak cukup buat menghilangkan kekecewaan yang saya alami.
Tapi, tentu saja hal itu hanya sebatas keinginan, tanpa pernah menjadi kenyataan. Sebab nyatanya saya jauh dari pohon toge, tidak akan melemparkan buku ke tanah, tidak makan jamur buku, tapi, saya masih tetap kecewa, plus tetap ganteng sebagaimana biasa.
Kemudian saya pun mulai menyalahkan orang orang dari Arena, Daily Telegraph, dan Observer, sebab di masa lalu telah dengan percaya diri menuliskan kata kata pujian pada lembar sampul;’Memikat’,Mengharu Biru’,’Spektakuler’. Menyalahkan Stephen Daldry, yang telah menggandeng Tom Hanks dan Sandra Bullock untuk membuat versi layar lebar daripada buku ini. Kedua hal itulah yang sekiranya menjadi biang keladi atas membubung tingginya harapan akan betapa menariknya buku ini. Dan seperti yang telah saya singgung sebelumnya, buku ini tidak sesuai dengan harapan. Saya kuciwa.

Ialah Oskar Schell, yang pada umurnya yang masih belia telah ditinggalkan oleh ayahnya yang ikut menjadi korban dalam peristiwa 11 September. Anak laki laki ini, yang begitu merasa kehilangan sosok ayahnya, kemudian sedikit merasa terhibur manakala pada suatu hari ia menemukan sebuah kunci, yang ia yakini sebagai milik ayahnya. Waktu itu ia sendirian di dalam kamar ayahnya, merasa kesal oleh tingkah laku ibunya di ruang tamu yang sedang tertawa bersama teman laki laki, saat itulah ia melihat sebuah vas bunga di atas lemari.
Ia mengambil kursi dan beberapa tumpuk buku sebagai pijakan, sebab lemari itu terlalu tinggi. Namun, tak sengaja ia menjatuhkan vas
bunga itu, dan pecah. Sewaktu sedang membersihkan pecahan vas bunga, ia menemukan amplop yang berisi kunci. Ia tak tahu, lubang kunci manakah yang cocok dengan kunci itu. Satu satunya petunjuk hanyalah sebuah tulisan pada amplop; ‘Black’.
Ia pun kemudian berusaha untuk mencari tahu siapa ‘Black’ itu sebenarnya, dengan cara menemui semua orang yang mempunyai nama ‘Black’;Aron Black, Abby Black, William Black,serta Black yang lainnya, meski sayangnya ia tidak berusaha untuk mencari Kamen Rider Black, sebab kalau itu terjadi, tentunya akan membuat buku ini menjadi menarik.

Err..sangat susah buat saya untuk menikmati buku ini. Bukan karena ceritanya yang tidak menarik, meskipun memang ternyata tidak begitu menarik juga sih, melainkan cara penulisannya yang bikin bingung. Jonathan S Foer menulis buku ini dengan gaya yang sama sekali berbeda dengan penulis kebanyakan. Ketika biasanya penulis berusaha keras untuk memberikan sebuah tulisan yang memudahkan orang lain untuk membaca, maka Jonathan S Foer berlaku sebaliknya.
Ia menulis seenak udelnya sendiri yang mengakibatkan buku ini menjadi sulit untuk dibaca. Sebagai contoh, penulisan dialog. Lazimnya dialog ditulis satu dialog dalam satu baris, dan dialog berikutnya ditulis di bawahnya. Tapi Jonathan S Foern malah menulis hampir semua dialog berikutnya, di samping dialog sebelumnya. Tapi, puncak dari segala proses ‘seenak udelnya’ sendiri itu terjadi pada halaman 345 – 348; tulisannya sama sekali tidak bisa dibaca.
Barangkali seandainya buku ini ditulis menggunakan tulisan hanacaraka pada lembar daun lontar milik Brama Kumbara, atau tulisan hieroglyph pada dinding piramid, atau tulisan 4l4y pada dinding dinding Facebook, masih dimaklumi kalau sampai saya tidak bisa membacanya, tapi kalau jenis tulisan Times New Roman, diketik komputer dan tidak bisa dibaca, itu kan sesuatu banget namanya. Betul tidak mbak Sahrini?
Sahrininya ga ada mas.
Pergi kemana emang?
Jangan memilihh akkyuuuu…
Malah nanyi

Dan, ketidaknyamanan dalam hal penulisan itu pun berimbas pada menurunnya daya tangkap saya terhadap apa yang disebut sebagai jalan cerita. Cerita yang sebenarnya tidak begitu kompleks itu pun menjadi kelihatan berbelit belit kesana kemari, dan errr..pokoknya gitu deh ye, bikin pusing bacanya :
Tapi meski begitu, buku ini bukannya tanpa kelebihan, sebab nyatanya biarpun secuil, Jonathan S Foer mampu menghadirkan momen momen yang mampu menggetarkan hati, meski paragraf sebelumnya dan sesudahnya tetap bikin mabok. Ini membuktikan bahwa sebenarnya Jonathan S Foer penulis yang bukan sembarangan, penulis yang sesuatu banget lah. Betul tidak mbak Sahrini?
Sahrininya ga ada mas.
Jangan memilih akkyuuu…
*keduluan nyanyi

Kelebihan yang lain ialah adanya ilustrasi foto hitam putih yang menunjukkan apa saja yang disebutkan di dalam buku. Misalnya tokoh utama menyebutkan kunci,kura kura, sidik jari maka nanti akan ada foto kunci, kura kura, sidik jari, dan seterusnya. Bahkan lembar pertama buku ini diisi secara berurutan oleh sebuah foto lubang kunci, burung burung terbang, dan sisi samping sebuah apartemen.

Pada akhirnya buku ini bukan untuk semua orang, termasuk saya. Butuh perjuangan yang besar untuk menyelesaikannya. Ini adalah buku paling unik, tapi juga sekaligus paling menyebalkan yang pernah saya baca. Tidak cocok untuk dibaca sambil santai ongkang ongkang kaki di bawah pohon ditemani secangkir teh di sore hari, tidak cocok dibaca bersama keluarga anda, atau kekasih anda, atau teman tapi mesra anda, atau binatang peliharaan anda, atau temannya tentenya bapaknya ibunya adiknya sepupunya tetangganya adiknya neneknya teman anda. Pokoke kudu dibaca dalam kondisi siap tempur deh, dan jangan lupa… helmnya dicopot, biar keliatan .
Sudah yee..:D/

Review Where The Mountain Meets The Moon

Where the Mountain Meets the Moon
Penulis : Grace Lin

Hampir mirip dengan Pak Rebo, tokoh fiktif ciptaan Mas Didi Kempot, yang justru lahir di hari Kamis, Kakek Rembulan ternyata tidak bermukim di bulan, melainkan di puncak Gunung Tak Berujung. Hal tidak nyambung itu nyatanya harus dipahami sebagai sebuah kabar baik, sebab akan lebih mudah untuk tetap menjadikan siapa penghuni bulan sebagai sebuah misteri yang kerap mengilhami para pemuda untuk merayu pujaan hati, dari pada mengetahui ternyata dihuni oleh kakek kakek.

Meski sudah diketahui tempat tinggalnya, namun Minli sama sekali buta dimana Gunung Tak Berujung itu berada. Ya, Minli hendak mencari Kakek Rembulan untuk bertanya bagaimana caranya menghadirkan peruntungan atau nasib baik, sebab ia tak tahan melihat Ma dan Ba ,sebutan untuk ibu dan ayahnya, berkerja terlalu keras. Keinginan Minli mendapati titik terang, ketika suatu hari ia membeli seekor ikan emas, dan membawanya ke rumah. Namun, karena terlalu miskin, Minli akhirnya melepaskan ikan emas itu ke sungai.
Dan, ternyata ikan emas itu bisa ngomong. Lalu berkatalah sang ikan kepada Minli, bahwa ia mengetahui dimana Gunung Tak Berujung itu berada. Berbekal alamat dan sedikit tips dan trik dari si ikan, maka berangkatlah Minli untuk memenuhi hasratnya bertemu Kakek Rembulan, dan bertanya bagaimana caranya menghadirkan peruntungan. Lalu, dimulailah petualangan penuh keajaiban Minli, yang merupakan sajian utama dari pada buku ini.

Buku ini menggunakan kalimat pembuka khas dongeng dongeng jadul, ‘Pada jaman dahulu kala, di suatu tempat bernama anu, hiduplah si anu bersama anu. Karena anu, kemudian si anu jadi anu, maka jadilah ia beranu. Karena si anu jadi anu dan beranu, maka anunya jadi banyak ‘. Namun, perihal ‘anu’ yang banyak itu ternyata masih aman untuk konsumsi anak anak. Tidak ada adegan adegan sadis semacam pemenggalan kepala, atau bacok perut orang sampai ususnya keluar kemudian dibikin ayunan. Tidak ada.

Buku ini sangat aman untuk dibaca bersama putra dan putri anda, apalagi dengan adanya ilustrasi ilustrasi berwarna yang menggambarkan adegan adegan dalam buku itu, tentu semakin membuat putra dan putri anda semakin tertarik. Atau bagi anda yang belum punya buntut, jangan khawatir, buku ini juga cocok untuk dibaca berdua dengan kekasih anda, teman karib anda, atau binatang peliharaan anda.

Anda: pus, aku mau bacain buku cerita nih ke kamu. Coba tebak judulnya apa, dimulai dengan huruf W?

Kucing : meongg, Whiskas bukan?

Tapi, jika anda kebetulan sedang dalam kondisi galau akut, jangan khawatir buku ini pun bisa mengobati kegalauan anda. Anda galau, berarti anda tidak bahagia. Dan, di buku ini ada resep jitu supaya anda jadi bahagia, selama lamanya hahahaha.
Sebuah resep kebahagiaan milik sebuah keluarga yang selalu bahagia. Dan, ternyata resep kebahagiaan itu sangatlah sederhana, yang barangkali sering anda dengar di acara tausiah keagamaan. Jadi, maukah duhai anda yang sedang galau, yang sedang mencari kebahagiaan, saya beritahu apa sebenarnya resep kebahagiaan itu?

Resepnya ialah…

Mau tauuuuuu ajahhhh :D/

Ah, maafkan saya jika ternyata jawabannya membuat anda terkejut, shock, dan ingin melempar laptop anda. Bukan maksud hati untuk menutupi, tapi tentunya akan lebih baik jika anda membacanya sendiri bukan? Lebih afdol, begitu kata orang orang.
Selain dari pada itu, hal menarik lainnya daripada buku ini ialah kemasannya yang sedikit lain dari pada yang lain. Dengan design cover yang unyu sekaligus misterius di saat yang bersamaan. Sebuah lukisan anak kecil yang sedang memeluk naga, dengan background langit berwarna biru, tanpa tulisan apa pun, kecuali judul dan nama pengarang, bahkan untuk sekedar sinopsis sekalipun. Misterius.

Pada akhirnya buku ini barangkali tidak menyajikan kisah kisah dramatis yang mendebarkan hati, buku ini hanyalah sebuah kisah ‘sederhana’ seorang anak manusia dalam rangka mewujudkan cita citanya. Sebuah bacaan ringan pengisi waktu luang.

 

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.