Review A Tale Dark & Grimm

Judul: A Tale Dark & Grimm
Penulis: Adam Gidwitz

Ada sebuah cerita. Pada suatu malam di sebuah ranjang tempat tidur, seorang anak kecil bernama Mawar meminta kepada ayahnya untuk membacakan sebuah dongeng. Ayahnya kemudian mengambil sebuah buku yang baru saja ia beli: A Tale Dark & Grimm , dan ia mulai membaca.
Tak lama kemudian, Mawar menjerit.
Papah, hentikan! Mawar takut! Mawar.. gak gak gak gak kuat!! Gak gak gak gak level!!

Bertahun tahun kemudian, Mawar menciptakan sebuah lagu berdasarkan pengalaman masa kecilnya berjudul Playboy dan dinyanyikan oleh girl band pendatang baru: 7icon.

Oke, itu semua cerita bohong belaka. Karena lagu Playboy ditulis oleh Dewiq, dan tentu saja tak ada seorang ayah yang tega menceritakan sebuah dongeng yang menakutkan untuk buah hatinya tercinta.
Tapi jangan salah, bahkan di dalam kebohongan pun terkadang ada sebuah kebenaran yang nyata adanya .
Kebenaran yang ada pada cerita di atas ialah adanya sebuah buku berjudul A Tale Dark & Grimm. Dan memang benar, di dalamnya memuat begitu banyak unsur kekerasan yang tidak boleh dibaca oleh anak dibawah umur. Sebut saja pembunuhan, potong jari hingga potong kepala, mutilasi, merebus orang dan lain sebagainya. Keras dan berdarah darah.
Seharusnya menakutkan, ya enggak sih?
Sayangnya, buku ini tidak terlalu menakutkan seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Karena Adam Gidwitz, sang penulis, hanya piawai menggambarkan berbagai kekejaman kekejaman, namun gagal membangun atmosfir kengerian, alih alih terkesan jadi lucu dan terlalu riang. Ibaratkan saja kita menonton film horor di tengah lapangan pada siang hari bolong, ditemani oleh tetangga sekampung plus dukun pengusir setan.
Juga ditambah dengan banyaknya interupsi oleh penulisnya, semakin mengurangi ketegangan yang susah payah dijaga. Interupsi bagaimana maksudnya?
Maksudnya begini. Misalnya kita sedang seru serunya baca, kemudian tiba tiba ada tulisan dari penulisnya (dengan type font yang berbeda) yang memberitahu bahwa kejadian selanjutnya akan menakutkan, atau himbauan agar seandainya ada anak kecil suruh cepat keluar, atau penjelasan mengenai kejadian kejadian sebelumnya yang sayangnya malah tidak menjelaskan apa pun: ‘Jadi apa alasannya, jangan tanya padaku, aku juga tidak tahu’, begitu katanya.
Jadi, membaca buku ini seperti sedang ngabuburit menunggu bedug maghrib tapi tanpa beli makanan buat tajil, atau tamasya bersepeda mengelilingi kompleks rumah tapi tanpa ada yang dikecengin , alias tidak membawa kesan apa pun, kecuali sekedar pengisi waktu yang sedikit menyenangkan tapi tidak cukup kuat untuk membuat diriku terpesona.

Advertisements

Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s