Review Ada Seseorang Di Kepalaku Yang Bukan Aku

Judul: Ada Seseorang Di Kepalaku Yang Bukan Aku
Penulis: Akmal Nasery Basral
Barangkali seandainya terjadi di dunia nyata, seseorang tiba tiba berkata: ada seseorang di kepalaku yang bukan aku, tentunya akan mendapat tanggapan yang berlainan, bergantung pada siapa yang menjadi lawan bicaranya. Bisa jadi, hanya akan mendapat jawaban singkat: ‘lebay banget sih lu!’, meskipun tak menampik kemungkinan jawaban panjang nan perhatian: ‘ah yang bener,jangan jangan kerasukan roh halus, emang kamu tadi kencing dimana sih!’, dan jawaban yang lebih panjang yang sedikit keterlaluan: ‘guah enggak peduli ada apaan di kepala loh, yang guah peduliin cuma satuh, balikin kancut beludru item guah!!’

Untungnya Akmal Nasery Basral menjadikan kalimat itu sebagai judul buku miliknya, sehingga kemungkinan terjadi hal hal seperti di atas masih dapat dihindari, sebab biasanya ketika menyentuh ranah sastra, segala hal selebay apa pun, masih bisa diterima, bahkan cenderung banyak yang menyukainya. Maka, kalimat ‘ada seseorang di kepalaku yang bukan aku’, akan menjadi terdengar sedikit romantis dan bikin penasaran.

Rasa penasaran saya terjawab dengan cepat, sebab penulis telah meletakan judul itu menjadi cerita pendek pertama dari keseluruhan cerita pendek yang ada di dalam buku ini.
Ada Seseorang Di Kepalaku Yang Bukan Aku, ternyata bukan cerita yang romantis, sebaliknya ini adalah cerita muram tentang seorang wanita bernama Nila yang hidup di penjara bersama teman satu selnya bernama Ibu Surti. Nila kerap membenturkan kepalanya ke dinding. Seperti pendulum. Setelah itu, biasanya ia akan ditemui oleh sesosok wanita cantik atau pria tampan yang akan mengajaknya bicara. Apa yang mereka bicarakan, dan alasan mengapa ia dipenjara itulah yang menjadi inti daripada cerita ini.
Ini bukan cerita yang buruk. Hanya saja, terkesan cerita biasa dibanding dengan judulnya yang bikin penasaran itu. Cerita ini juga gagal membuat saya simpati dengan apa yang dialami oleh tokoh utama, yaitu Nila, justru sebaliknya, saya malah bersimpati kepada temannya, Ibu Surti. Barangkali, karena penderitaan Ibu Surti diceritakan secara gamblang dan tuntas, sedangkan Nila diwakilkan oleh dialog dialog yang terlalu ribet. Cerita pertama ini, mengecewakan.

Sama mengecewakannya dengan apa yang telah dilakukan oleh Sutan Sampono Kayo kepada Midun. Midun cinta mati kepada Halimah. Begitu pula sebaliknya. Tapi, hasrat cinta yang menggeletar hebat itu tidak bisa mereka raih sepenuhnya, sebab Sutan Sampono Kayo telah menitahkannya demikian. Midun tak bisa menyentuh tangan Halimah meski ia sangat ingin. Kenyataan itu membuat Midun geram, maka suatu hari ia mengusulkan kepada Halimah, agar Sutan Sampono Kayo itu dibunuh saja. Siapa sebenarnya Sutan Sampono Kayo?
Cari jawabannya pada cerpen kedua dengan judul yang spoiler ini; Tewasnya Pengarang Paling Santun Di Dunia. Saya lebih menyukai cerpen ini daripada yang pertama. Memiliki ending yang sedikit mengejutkan, serta ada sebagian percakapan yang mengingatkankan saya pada salah satu dialog dalam novel Kite Runner nya Khaled Hosseini.
‘Pantangan yang berlaku universal itu cuma satu;jangan mencuri. Itu dosa utama. Kejahatan lainya hanyalah dosa dosa derivatif.’
Deja vu.
Kemudian ada Dilarang Bercanda Dengan Kenangan. Sebuah pertemuan tak sengaja kembali menghidupkan kenangan kenangan indah antara Johan, dengan Khaleeda, wartawati dari Irak yang ia temui beberapa tahun silam. Sebuah cerita percintaan dengan mengambil setting di Aceh, serta London. Lumayan.

Legenda Bandar Angin menjadi cerpen keempat, dan ini bukan cerpen pendekar. Ini adalah kisah seorang anak perempuan yang berdiri di atas bukit setiap senja, menunggu ayahnya. Cerpen ini lumayan, daripada lumanyun.
Selanjutnya cerpen Lebaran Penghabisan. Tentang mudik ke kampung halaman, namun disana mendapatkan kejadian yang tak disangka, yang akan mengubah nasib mereka selamanya. Ini juga lumayan, daripada lumanyun apalagi lumajang. Jauhhhhh!!
Lalu cerpen Kelambu, yang membuat saya sedikit mengerti ternyata pernikahan itu bukan perkara gampang. Cerpen Prolog Kematian, yang mengambil insiden Bom Bali, serta cerpen Boyon, yang merupakan cerpen paling lucu diantara cerpen yang lain.
Boyon bercerita tentang seorang bernama Jems Boyon, versi ngawur daripada James Bond, yang kerap berganti ganti nama. Salah satu bagian paling lucu ialah ketika ia berada di Jakarta.

Di Jakarta ternyata nama Boy banyak sekali. Aku ingin berbeda, modern sekaligus khas. Maka kupilih nama Jems Boy Chaniago. Panggilan: Jembi. Ketika teman teman mendengar ini mereka tertawa terbahak bahak.

Cerpen selanjutnya ialah Laki Laki yang Berumah Di Tepi Pantai bercerita tentang kepercayaan, dan Perkabungan Hujan, tentang kecelakaan. Sementara Lelaki Gagah, bercerita tentang pengagum rahasia, dengan ending yang mengejutkan namun terasa dipaksakan, sebelas dua belas dengan cerita berikutnya; Seekor Hiu di Cangkir Kopi.
Seekor Hiu di Cangkir Kopi berisi surat surat Alderan kepada Hyacinth, dan sebaliknya. Mereka kerap membicarakan tentang peristiwa peristiwa yang terjadi, juga kritik terhadap kondisi sosial yang menurut mereka tidak baik. Namun sayangnya ditutup dengan ending ala drama korea yang malah jadi terkesan dibuat buat.
Sebagai penutup, ada cerpen Fiona Benci Dengan Paul Anka, yang sedikit menggantung, sebab ternyata cerpen ini ialah cuplikan dari bab pertama novel yang sedang dikerjakan penulis. Semacam tester, begitu.

Pada akhirnya, tidak ada cerita yang benar benar istimewa. Ada beberapa cerpen yang ditulis dengan bahasa yang mengalir sehingga enak dibaca, namun ada juga yang terkesan terlalu kaku untuk sebuah karya sastra. Tidak ada hal yang menarik melebihi judul daripada buku ini. Itulah mengapa di awal review saya menekankan kepada judul. Pemilihan judul yang unik ini ternyata tidak sebanding dengan isinya. Istilah kerennya itu, keberatan judul.Hehe

Advertisements

Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s