Feeds:
Posts
Comments

Archive for April, 2012

Review Maryam

Judul buku: Maryam

Penulis: Okky Madasari

Sebelumnya, silahkan perhatikan gambar cover di atas. Ada yang aneh? Tentunya kamu pada bertanya tanya, mengapa saya menaruh gambar tiga anak panah A, B dan C, bukannya gambar yang lain. Ketiga anak panah itu menunjukkan keanehan yang terjadi pada gambar cover Maryam. Perhatikan gambar tangan yang sedang memegang rumah tersebut. Jika anak panah A, itu ialah gambar tangan kiri, anak panah B tangan kanan, lalu gambar apakah yang ditunjukkan oleh anak panah C?

Apabila dilihat dari segi anatomi, kemungkinan itu ialah gambar tangan kiri, sebab dengan posisi seperti itulah ‘rumah’ bisa digenggam dengan sempurna. Lalu, anak panah A apaan dong? Apa itu tangan pemain figuran yang ketutupan sama tokoh utama, atau jangan jangan tangan setan!! Tapi, itu bukan tangan kamu kan? #eaaa

Mari kita kembali ke teori awal; anak panah A itu sebetulnya tangan kiri, anak panah B tangan kanan, dan anak panah C itu jari tangan kanan yang melingkari rumah. Berarti jarinya panjang banget dong ya  :D

Jadi, menurut kamu gimana susunannya?

Kemudian, saya ingin bertanya; kamu tahu Ahmadiyah? Kalau kamu tahu, apa kamu tahu mengapa Ahmadiyah disebut aliran sesat? Kalau kamu juga tahu, maka tolong jelaskan kepada Maryam, sebab ia tidak tahu, tapi gara gara itulah hidupnya jadi menderita. Penderitaannya yang pertama dimulai sewaktu ia dilarang kawin dengan kekasihnya yang kebetulan bukan seorang Ahmadi. Ahmadi ialah sebutan bagi penganut aliran Ahmadiyah. Coba bayangkan, dilarang menikah ketika bunga cinta sedang tumbuh dengan dahsyatnya, itukan sesuatu banget nelangsanya. Tapi kemudian, ia menikah juga dengan kekasihnya. Ia kabur dari rumah tanpa restu kedua orang tua. Kemudian ia tinggal di rumah suaminya, yang ternyata masih serumah sama ibunya. Ibunya ini, suka bikin gara gara dengan mengungkit ungkit masalah keyakinan Maryam yang orang Ahmadi, meski Maryam sebenarnya tidak terlalu memperdulikan apakah ia Ahmadi atau pun bukan.

Penderitaan Maryam selanjutnya terjadi manakala ia kembali ke rumah orang tuanya, dan mendapati kenyataan yang mengerikan, dimana statusnya sebagai orang Ahmadi telah membawanya kepada berbagai ketidakadilan, intimidasi, dan cibiran orang orang yang menganggap mereka golongan yang tidak sesat.

Kira kira seperti itulah garis besar ceritanya. Tapi, buku ini bukan berisi tentang sesat atau tidaknya aliran Ahmadiyah, meskipun kita akan diajak untuk menyelami lika liku kehidupan seorang Ahmadi dalam memandang dirinya, serta orang orang di luar Ahmadi, yang justru kerap memberikan hal yang tidak mengenakkan kepada dirinya. Buku ini tidak sedang memberikan pengertian secara akidah, tapi lebih kepada bagaimana hubungan antar manusianya. Bagaimana cap sesat itu kemudian mempengaruhi kehidupan para Ahmadi, juga masyarakat di sekitar mereka yang bukan Ahmadi.

Waktu enam bulan yang telah dihabiskan oleh Okky Madasari untuk berkunjung ke Lombok, dan mewawancarai langsung para Ahmadi, nyatanya telah berhasil membawa saya untuk merasa lebih dekat dengan  buku ini, meski ia menulisnya dalam sudut pandang orang ketiga, yang biasanya memunculkan jarak itu. Kemudian ditutup dengan ending yang realistis, tidak terlalu didramatisir, meski saya mengharapkan lebih dari itu, mengingat beberapa taun silam Entrok telah berhasil membuat saya menderita penyakit galau nomer delapan belas.

Melalui buku ini, Okky mencoba untuk memperjuangkan nasib mereka yang menderita, yang selama ini, boleh jadi bagi banyak orang hanya sebatas menjadi obrolan di meja makan, kemudian terlupakan. Lebih dari itu, Maryam ialah sebuah himbauan agar siapa pun itu lebih menghormati pilihan orang lain, baik itu dalam hal keyakinan, atau pun hal yang lainnya.  Buku ini juga dilengkapi dengan sebuah CD, yang berisi delapan lagu ciptaannya sendiri. Kamu mau kan dengerin lagunya, jangan iwak peyek mulu yang didengerin :D

Advertisements

Read Full Post »