Feeds:
Posts
Comments

Archive for July, 2012

Judul: Pak Tua Yang Membaca Kisah Cinta
Penulis: Luis Sepulveda
Penerbit: Marjin Kiri
Jumlah Halaman: 116

Pak Tua Yang Membaca Kisah Cinta. Ada kesan romantis sekaligus lucu dalam judul ini. Membayangkan seseorang yang sedang membaca surat cinta sambil duduk manis di sebuah bangku taman, tentunya akan memberi kesan romantis, dan menjadi sedikit lucu ketika hal itu dilakukannya sambil kayang di tengah jalan. Tapi mengapa harus ada gambar senapan dan seekor macan dalam sampul buku ini?
Ialah Antonio Jose Bolivar Proano, lelaki tua itu,yang mengisi masa tuanya dengan membaca kisah kisah cinta dari buku pemberian seorang dokter gigi. Tapi hobinya itu terganggu manakala seorang pendatang ditemukan mati, dengan luka cabikan seekor binatang
buas, macan kumbang. Ia kemudian mencoba melacak keberadaan macan itu bersama beberapa penduduk desa dan sang wali kota yang dipanggil si gendut. Si gendut ini tipe orang kota yang sok tahu dan sok punya kuasa, yang sebenarnya tidak begitu menyukai Antonio Jose Bolivar, tapi ia tak punya pilihan lain sebab lelaki tua itulah satu satunya orang yang tahu seluk beluk hutan melebihi siapa pun yang ia kenal. Berhasilkah mereka membunuh macan kumbang itu, sementara korban kembali berjatuhan?

Tidak seperti judulnya, ternyata buku ini jauh dari romantis, melainkan sedikit muram dan menegangkan. Muram sebab romantisme hujan yang kerap turun di tempat itu telah koyak oleh terbunuhnya beberapa orang oleh si macan kumbang, dan perburuan di tengah hutan yang lebat dan gelap membuatnya jadi sedikit menegangkan, karena si macan tentu saja  lebih mengenal medan dan tak bakal tinggal diam. Tapi buku ini juga lucu, terutama pada bagian awal. Aku sampai tergelak beberapa kali, yang menurutku kelucuan itu terjadi secara tidak sengaja. Maksudku, Luis Sepulveda, si penulis, barangkali tidak bermaksud untuk melucu. Ia hanya menulis apa adanya, yang boleh jadi bagi beberapa orang hal itu malah sama sekali tidak lucu. Tapi menurutku itu lucu. Untuk lebih jelasnya, contohnya seperti ini: bagian ini diambil ketika sedang diadakan pemeriksaan gigi.

Kadangkala ada pasien yang jeritannya membuat takut burung burung, dan ia tangkis catut itu agar tangannya gampang meraih pegangan parang.
“Bersikaplah jantan, banci. Aku tahu sakit memang, dan sudah kubilang salah siapa itu.
Jangan salahkan aku. Duduk diam dan tunjukkan kau berani.”
“Tapi kau robek robek jiwaku dokter. Biarkan aku minum dulu.”

Lucu enggak? Enggak lucu ya? Tak apa, memang lucunya bukan untuk semua orang. Tapi, akan kuberitahu mengapa itu lucu, sebab katanya kalau kau ketawa tanpa alasan, maka sama saja orang gila. Jadi begini lucunya. Perhatikan kalimat pertama, kata ‘agar gampang meraih pegangan parang’ bisa diasumsikan bahwa ia tipe orang sengcok, alias senggol bacok. Biasanya orangnya garang dan menyeramkan.
Lalu pada kalimat terakhir,tiba tiba orang itu berubah jadi orang paling lebay sejagat, alih alih mengancam si dokter dengan kata kata kotor atau mengayunkan parang, misalnya:  “Sialan kamu dok! Mau kupenggal kepalamu, lalu kubawa ke perempatan dan menginjaknya sampai otakmu keluar!’ orang itu malah ngomong:  “Tapi kau robek robek jiwaku dokter.”
Lebay.
Sekarang, lucu enggak? Kalau masih enggak lucu berarti selera humor kita beda, atau mungkin otakku saja yang sedang bermasalah.
Tapi, ‘kelucuan’ itu bukanlah satu satunya hal yang menarik dari buku ini. Hal menarik lainnya ialah aura ekspedisi belantara yang kental, yang oleh karena si penulis begitu lihai merangkai kata dan penerjemahan yang pas oleh Ronny Agustinus, maka seolah olah aku ikut berada di dalamnya. Ikut berbasah ria diguyur hujan, ikut menertawakan wali kota yang sok tahu, dan tegang oleh macan kumbang yang ternyata juga sedang mengintai itu. Kemudian menjelang penghabisan, hatiku dilingkupi oleh rasa haru yang menyedihkan ketika mengetahui alasan sebenarnya si macan kumbang itu membunuh orang orang. Lalu kisah hidup pak tua Jose Bolivar itu sendiri yang juga menarik. Bagaimana kisahnya hingga ia sampai terdampar di tempat terpencil itu dan perkenalannya dengan suku asli Shuar yang mengajarinya berburu, siapa sebenarnya dirinya, atau tentang istrinya, yang punya nama terlalu panjang, Dolores Encarnacion del Santisimo Sacramento Estupinan Otavalo.

Pak Tua Yang Membaca Kisah Cinta, jika dipikirkan lebih mendalam maka dapat dimaknai sebagai sebuah kritik mengenai kebiasaan manusia merusak lingkungannya, yang apabila dirasa sudah keterlaluan, maka alam akan menunjukkan kemarahannya dengan jalan yang sudah tentu tak mengenakkan. Bacalah buku ini, rasakan sebuah petualangan menembus hutan amazon, berjumpa dengan mitos mitos magis penghuninya, dan apabila merasa cukup jenaka, jangan sungkan untuk menertawai jalinan nasib malang menggelikan yang menyertai tokoh tokohnya. Ah, 116 halaman masih terlalu kurang panjang rasanya. Aku ketagihan.

Rating 5 out of 5

Advertisements

Read Full Post »

Judul: Exes Anonymous
Penulis: Lauren Henderson
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 512

Halo anak anak, hari ini saya akan mereview sebuah buku tentang patah hati, tepatnya patah hati karena cinta. Rasanya tentu saja menyakitkan. Nah, di sini ada yang pernah patah hati karena cinta? Coba tunjuk tangan.
Saya Pakkkk!!!!!
Ya ampun semuanya. Kalian ini memang bener bener deh. Ya sudah, kita mulai saja. Bukunya berjudul Exes Anonymous karangan Lauren Henderson. Bercerita mengenai Rebecca, wanita karir yang lagi patah hati karena diputus oleh pacarnya. Padahal Rebecca ini masih sayang sama pacarnya itu. Ia punya teman curhat bernama Davey, yang juga sedang patah hati ditinggal pacarnya. Davey ini teman kantornya. Davey mengusulkan agar Rebecca membuat sebuah perkumpulan orang orang patah hati, sebagai tempat curhat berjamaah, sambil kemudian dicari jalan keluarnya. Rebecca akhirnya menyetujui usul Davey. Maka terbentuklah sebuah perkumpulan orang orang patah hati, yang diberi nama Exes Anonymous, atau Klub Patah Hati. Kenapa Rebecca setuju bikin Klub Patah Hati, karena Rebecca sedang patah hati, coba kalau misalnya Rebecca ini sedang patah tulang, pasti..
Pasti jadinya bikin Klub Patah Tulang yah Pak?
Huss, salah! Kamu itu sukanya nyamber saja kalau orang lagi ngomong. Mana salah pula.
Lho salahnya dimana Pak?
Lha jelas salah. Kalau lagi patah tulang,  ngapain bikin klub. Mending santai di rumah, rebahan sambil dengerin lagu K Pop. Gee Gee Gee Gee Baby Baby Baby.. Gee Gee Gee Gee Be Be Be Be Be Be.
Laaah, malah nyanyi Bapake. Terus, di Klub Patah Hati itu ngapain aja Pak?
Jadi begini. Ada sesi curhat, terus sesi evaluasi dan menelaah apa sih yang sebenarnya sedang terjadi pada mereka. Tapi, buku ini isinya enggak melulu tentang pertemuan klub itu kok. Ada banyak kejadian kejadian menarik yang melibatkan Rebecca dengan teman temannya. Misalnya saja ketika ada yang pura pura jadian cuma untuk membuat mantan mereka cemburu, yang justru berakhir dengan kejadian yang sangat mengejutkan.
Kejadian apa tuh Pak?
Rahasia dong.
Ih, pelit. Terus ada apa lagi Pak?
Di buku ini juga ada lima tahap berduka karena tiba tiba ditinggalkan oleh orang yang kita sayangi, serta saran saran jika kita mendadak sendiri. Lima tahap berduka itu yang pertama ialah penyangkalan, yaitu menolak untuk mempercayai apa yang sebenarnya telah terjadi. Jadi misalnya kamu baru diputus, kamu enggak akan percaya, dan bakal tetap menganggap kamu masih jadian. Misalnya akan berkata: ‘Akuh masih jadi pacar kamuhh, khan Beb?’, ‘Akugh maacih sayanngg sama kamughh eaaaa’. Tahap selanjutnya, silahkan baca sendiri buku ini.
Lho, enggak sekalian Pak?
Kepanjangan kali. Jadi, menurut saya buku ini lumayan bagus. Mengingat saya jarang baca buku dengan genre chicklit seperti ini. Tadinya saya sempat kawatir kalau bakal susah untuk menikmati buku ini, tapi nyatanya saya bisa, yaitu ketika saya mulai menebak nebak bagaimana jalan ceritanya, dan ikut tersenyum ketika Rebecca tersenyum. Meski ada bagian yang nyaris membuat bosan dan melelahkan, yaitu ketika ada bagian yang hanya menyalin artikel dari internet, tanpa mengeditnya terlebih dahulu. Jadi seperti sedang membaca tulisan di salah satu lembar buku skripsi anak psikologi. Dan flash back masa lalu Rebecca dengan pacarnya yang sebenarnya tidak terlalu penting, dan bisa dihilangkan. Nah, ada pertanyaan?
Saya Pak! Isinya galau melulu dong Pak, secara bikinnya aja Klub Patah Hati.
Ya enggak lah. Ada cukup banyak bagian yang lucu, minimal bikin senyum gitu lah. Baca buku ini sama saja sedang menonton film komedi romantis, semacam Confessions of a Shopaholic, atau The Devil Wears Prada, bahkan New Moon.
Kok ada  New Moon segala?
Lha iya, galaunya Rebecca ini mirip sama Mbak Isabella Swan waktu ditinggal Mas Edward Cullen.
Ooo..kirain ada manusia serigalanya juga.
Huss, ngawur. Ada yang nanya lagi?
Kalau dikasih nilai dari satu sampai lima, dapat nilai berapa?
Hmm, tiga saja deh. Tapi, saya baca kurang lebih tiga hari selesai loh. Itu juga disambi kerjaan yang lain.
Oo..terus, saya harus bilang wow gitu Pak?
Ya enggak dong, manis. Kamu cukup bilang, ‘Bapak ganteng deh’. Ting!
Kantong plastik! Mana kantong plastik!
Buat apaan kantong plastik?
Mau muntah Pak!
Emang kamu lagi hamil?
Arrggg!!!
Baiklah. Jadi intinya Exess Anonymous mungkin bukanlah buku yang membuat saya terkesan dengan isinya, tapi sandainya ditinjau dari sisi hiburan, maka buku ini telah berhasil memberi pernghiburan yang lebih dari cukup. Ada pertanyaan lagi? Kalau tidak ada, silahkan kalian istirahat meski belum bel. Keluar yang tertib, satu satu. Lewat pintu. Woy, lewat pintu woy!!!… Heh, jangan dorong dorong gitu dong. Kasihan itu yang lagi hamil!
Saya enggak hamil Paaakkkkkkk!!!!

Read Full Post »

Judul: Metamorfosis
Penulis: Franz Kafka
Penerbit: Homerian Pustaka
Jumlah Halaman: 154

Entah dosa apa yang telah dilakukan oleh Gregor Samsa atau ia hanya sedang bernasib sangat sial sehingga suatu hari ketika ia bangun tidur, didapatinya dirinya telah berubah menjadi seekor kutu besar. Hal ini tentu sangat mengejutkan Gregor Samsa. Tapi yang lebih mengejutkan ialah, Gregor Samsa sama sekali tidak berlebihan dalam menghadapi masalah tersebut. Ia hanya berkata, “apa yang terjadi padaku?”. Tadinya ia berpikir ini cuma mimpi, dan ia hendak melanjutkan tidurnya ketika ia menyadari bahwa ia memang telah berubah menjadi kutu besar. Dan, sekali lagi, ia tidak histeris atau pun panik. Ia malah kemudian curhat masalah kerjaan, “Oh Tuhan,” gumamnya, “Begitu besar pekerjaan yang telah kupilih, melakukan perjalanan seharian.”
Kemudian reaksiku ialah: Laahh, kenapa jadi ngomongin kerjaan sih!
Aku membayangkan seandainya aku bernasib sama dengan Gregor, tentu aku sudah panik bukan main. Celaka dua belas. Apa yang harus kulakukan? Maksudku, ini mengerikan. Aku bahkan belum kawin. Eaaa.
Lalu bagaimana nasib Gregor Samsa selanjutnya? Apa yang akan dilakukan oleh keluarganya?

Buku ini tipis, hanya 154 halaman, tapi ketika dibaca terasa begitu melelahkan. Aku berpikir tentang kata kata yang digunakan. Tidak begitu enak waktu dibaca. Dan ceritanya yang menyedihkan, semakin membuat buku ini tidak nyaman untuk dibaca. Tapi anehnya, tepat setelah aku selesai membaca, aku baru menyadari, aku menyukai buku ini. Aku menyukai aura depresif yang mengusik ketenangan hidupku. Yang membuat aku sejenak merenungkan nasib Gregor Samsa, dan ingin memberi sedikit penghiburan padanya seandainya hal itu memang bisa dilakukan.
Jadi inti buku ini ialah perubahan. Bagaimana perubahan yang dialami oleh Gregor Samsa kemudian mempengaruhi kehidupan kedua orang tua serta adik perempuannya.

Buku ini mengingatkanku pada In A Strange Room karangan Damon Galgut. Sama sama depresif dan melelahkan untuk dibaca. Tapi bukan berarti tidak bagus. Buku ini bagus. Yang diperlukan hanyalah kesabaran, karena mungkin kata kata yang dipilih oleh Kafka( atau terjemahannya) tidak begitu enak untuk dibaca (terlalu baku). Yang jelas, buku ini bukan untuk anda yang sedang mencari hiburan. Meski tidak ada salahnya jika dibaca ketika sedang tidak ada kerjaan, sedang dalam perjalanan, menunggu bis kota, atau menunggu jodoh anda. Eaaa.
Rating 3 of 5

Read Full Post »

Judul: Kronik Kematian Yang Telah Direncanakan (Chronicle of a Death Foretold)
Penulis: Gabriel Garcia Marquez
Penerbit: Selasar Publishing
Halaman:175

Semua orang tahu belaka bahwa Santiago Nazar hendak dibunuh oleh dua orang bersaudara itu. Meskipun demikian, banyak orang yang tak percaya begitu saja. Dianggapnya dua bersaudara itu sedang mabuk berat setelah merayakan pesta pernikahan adik mereka semalaman. Tapi ketika paginya, berbarengan dengan kedatangan uskup di kota itu, sirine meraung sedih, orang orang baru tersadar bahwa kembar bersaudara itu benar benar serius melakukannya. Santiago Nasar telah terbunuh.
Dua puluh tujuh tahun kemudian, seseorang berusaha menyusun kembali lembaran lembaran sejarah pembunuhan itu yang telah lapuk oleh waktu. Ditemuinya orang orang yang telah ia anggap tahu mengenai detail pembunuhan di hari yang naas itu. Mengapa Santiago Nasar dibunuh?

Dari sini tentu sudah bisa ditebak, bahwa buku ini berisi semacam investigasi mengungkap kasus pembunuhan. Tapi untuk menyebutnya sebagai cerita detektif, saya rasa tidak terlalu tepat. Sebab pembunuhnya sudah lebih dulu diketahui, dan seseorang yang sedang melakukan investigasi pun bukanlah seorang penegak hukum, hanya orang biasa saja. Maka saya lebih suka menyebutnya, cerita yang mengandung unsur per-kepo-an. Sebab saya gagal menangkap maksud lain dari diadakannya investigasi itu, selain untuk menuruti ego dari si pencari berita. Sungguh mati aku jadi penasaran, begitu Bang Rhoma Irama pernah menyinggungnya dalam sebuah lagu di masa silam.
Dan wabah kepo itu kemudian menyerang saya dengan begitu perlahan namun pasti. Saya jadi penasaran, dan itu bikin tidak tenang. Tapi di tengah tengah rasa penasaran itu, saya sempat pusing juga, sebab ada begitu banyak tokoh yang berlalu lalang, dengan ceritanya sendiri sendiri, meski kesemuanya itu memang memegang peranan dalam investigasi yang sedang dilakukan.
Tapi rasa pusing saya perlahan menghilang, dan berganti menjadi rasa tak enak di perut, dan hati sedikit nelangsa, yang barangkali oleh orang yang paling lebay sejagat akan ditafsirkan dengan tindakan menangis meraung raung bergulingan di lantai, sambil memegangi dadanya, dan berteriak: Cukup! Hentikan semua ini!!  Aku sudah gak gak gak kuat..gak gak gak level!!!

Serius, diantara buku karangan Gabriel Garcia Marquez yang pernah saya baca, cuma buku ini yang berhasil membuat saya merinding, dan sedikit merasa bersalah kepada Santiago Nazar. Mulanya saya merasa ia memang pantas dibunuh, tapi kemudian ketika perlahan kebenaran mulai terungkap, saya jadi bertanya tanya; benarkah Nazar yang melakukan perbuatan itu? Ah, kasihan sekali kamu Nazar.

Tapi membaca buku ini memang kudu bersabar sebab sepanjang buku kita hanya akan diajak mengikuti perjalanan orang orang yang kebetulan mengenal Santiagao Nazar dan tahu tentang kejadian mengerikan itu. Apa lagi kalau belum familiar dengan nama amerika latin yang kadang kadang ajaib itu. Meskipun demikian, buku ini tetap layak untuk dibaca, terutama jika anda penggemar Gabriel Garcia Marquez, atau sastra amerika latin pada umumnya.
Terakhir, entah mengapa saya jadi teringat novel Lelaki Harimau, dari penulis favorit saya yang lain, Eka Kurniawan. Sebab ada sebuah kabar pembunuhan di awal cerita. Dan, bagian ketika kolonel Lazaro Aponte merampas pisau yang hendak digunakan untuk membunuh Santiago Nazar, mengingatkan saya pada saat Mayor Sadrah(namanya kalau tidak salah) merampas samurai karatan yang dipegang oleh Margio beberapa saat sebelum ia membunuh Anwar Sadat.

Rating 4 dari 5

Read Full Post »

Judul:Seekor Anjing Mati di Bala Murghab.
Penulis: Linda Christanty
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Halaman: 129

 

Serdadu yang menembak anjing itu, memberi isyarat padaku.


Cerita pendek pertama, Ketika Makan Kepiting, dimulai dengan sebuah kalimat; ‘Ia terbaring lesu di atas pasir setelah terjaga dari mimpi melawan raja ketam’. Barangkali kalimat ini bagi sebagian orang terkesan biasa saja, tapi buat saya waktu itu, berlaku sebaliknya. Kalimat ini menjadi begitu ajaib, tepat setelah saya membaca tiga kata terakhir; melawan raja ketam. Epik.
Tapi ternyata kemudian saya menemukan hal menakjubkan lainnya, yang kali ini berhasil membuat otak saya menggelinjang. Otak, bukan yang lain. Ceritanya begini;
‘Sebulan yang lalu ia menonton film kartun di televisi, film yang mengesankan. Seorang pangeran disulap menjadi seekor kucing oleh kakek sihir yang mengincar putri raja. Bagian akhir film itu menampilkan sebuah kalimat di layar televisi. BARANGSIAPA RELA MENCIUM KUCING YANG MUNCUL DI MONITOR TELEVISI ANDA, MAKA ANDA TELAH MENYELAMATKAN SEORANG PANGERAN. Serta merta dengan penuh haru, ia mencium layar televisi.’
Itulah yang terjadi pada tokoh utama dalam cerita pendek pertama ini. Unik. Sebenarnya siapakah dia?
Rasanya tak berlebihan seandainya kemudian saya mulai memberi harapan berlebih terhadap buku kumpulan cerita pendek terbaru dari Linda Christanty, Seekor Anjing Mati di Bala Murghab, sebab cerita pertamanya saja sudah begitu saya sukai. Begitu pula dengan cerita pendek kedua, Zakaria.
Zakaria ialah seorang laki laki yang sedang merencanakan sesuatu dengan merekrut Geuchik Syawal, yang diyakini memiliki ilmu menghilang, yang sejatinya berasal dari azimat tulang kucing. Lalu ada Taufik, teman baiknya yang ia rekrut juga. Sebenarnya apa yang sedang Zakaria rencanakan, apakah akan berhasil?
Dan cerita Seekor Anjing Mati di Bala Murghab, bercerita tentang kegalauan seorang wartawan manakala ia melihat anak kecil menangis tak rela setelah mengetahui anjingnya mati diterjang peluru seorang serdadu. Sebenarnya yang membuat saya penasaran dari cerpen ini adalah judulnya. Bala Murghab. Kira kira dimana yah itu? Sebelah mananya Timbuktu? Ternyata, Bala Murghab ialah nama tempat di Afganistan. Saya kurang gaul, ternyata.

Membaca sebuah kumpulan cerita pendek mau tidak mau harus dihadapkan pada satu kenyataan bahwa, akan ada cerita pendek yang belum tentu saya suka, dan mudah untuk dilupakan. Dalam buku ini, saya menemukan ada sekitar tiga buah cerita pendek yang gagal untuk membuat saya terpesona, yaitu cerpen Karunia dari Laut dan Perpisahan, karena isi ceritanya yang biasa saja. Sedangkan cerita pendek Catatan Tentang Luta; Manusia Yang Hidup Abadi, tidak saya sukai meski ceritanya bagus, karena cerita ini ditulis menggunakan pendekatan penulisan artikel. Sehingga lebih mirip karya non fiksi, dan membuatnya menjadi sedikit melelahkan ketika dibaca.

Ada banyak isu isu sosial baik lokal maupun internasional yang mencoba untuk diungkapkan dalam cerita pendek dalam buku ini.Mulai dari Aceh dengan GAMnya, sampai di Bala Murghab, dengan bom bunuh dirinya. Sedikit mengingatkan saya dengan cerita pendeknya Seno Gumira Ajidarma. Tapi tenang saja, bagi yang tidak menyukai tema tersebut, masih ada cerita dengan nuansa cinta.
Lalu apakah buku ini layak baca? Ya, jika kamu penasaran:
1. Bagaimana caranya mendapatkan azimat tulang kucing yang bisa bikin kamu menghilang.
2. Kira kira apa yang terjadi dengan tokoh yang tadi mencium kucing yang ada di layar televisi.
Apa kucingnya benar benar jadi pengeran tampan, atau bibirnya jontor gara gara kesetrum.
3. Apa hubungannya antara Erika Sartika yang mati jatuh ke kolam ikan dari jendela apartmennya, dengan Tina Wang yang belum juga dipeluk dewa cinta. Dan, mengapa pula Erika membiarkan tukang kebunnya mengintipnya saat mandi?
4. Apa yang ingin dilakukan oleh serdadu itu? (Sebelumnya lihat quote paling atas review ini, yang saya ambil dari cerita pendek Seekor Anjing Mati di Bala Murghab.)
Yang jelas bukan nyuruh nari hula hula atau nari perut.

Tapi jika kamu enggak penasaran, buku ini tetap layak untuk dibaca. Sebab gara gara baca buku ini, saya jadi penasaran dengan buku buku Linda Christanty yang lainnya. Saya kira itu alasan yang cukup kuat.

Rating 3.5 of 5

Read Full Post »