[Review] The Ring Of Solomon

barti

Sebelum kenal dengan Bartimaeus, selanjutnya akan saya tulis Barti saja *1), saya hanya kenal dengan dua jin. Pertama jin biru milik Aladin, sedang yang kedua jin kakek kakek dalam sinetron Jin & Jun yang memaksa dirinya untuk dipanggil Om Jin. Kedua jin itu memiliki satu persamaan; keduanya rela melakukan segala perintah masternya dengan sukarela. Berbeda dengan Barti. Ia melakukan segala perintah masternya dengan terpaksa. Tepatnya karena ia tidak punya pilihan lain. Karena hal yang buruk akan terjadi pada Barti apa bila ia tidak menaati perintah masternya.

Tapi kemudian sosok Barti menjelma menjadi tokoh fiksi yang menempati urutan pertama kategori favorit pilihan diri saya sendiri. Saya masih ingat *2) betapa asiknya membaca buku Barti sebelumnya yang dikenal dengan sebutan Trilogy Bartimaeus. Betapa cepat waktu berlalu. Rasanya seperti baru lima tahun yang lalu. Padahal saya baca Trilogy Bartimaeus sekitar tahun 2007.
Dan jujur saja, ada sedikit rasa kehilangan ketika saya menyelesaikan Trilogy Bartimaeus. Tokoh Barti telah benar benar mencuri hati saya. Tahu alasannya? *3) Karena karakter Barti begitu unik. Mendobrak pakem jin yang telah mengendap di dalam otak saya. Barti itu susah diatur, percaya diri yang berlebihan, narsis maksimal. Tapi ia juga cerdik, dan saya merasa ada kebaikan di dalam dirinya. Barti juga lucu. Meski ia sama sekali tidak bermaksud untuk melucu.

Itulah mengapa ketika tahun ini Jonathan Stroud kembali mengeluarkan buku Barti, saya langsung senang sekali. Saya sampai tidak doyan makan kalau belum lapar, dan susah tidur kalau tidak ngantuk. Buku ini diberi judul The Ring Of Solomon. Kisah dalam buku ini terjadi sebelum peristiwa di buku Trilogy Bartimaeus terjadi. Semacam prekuel. Jadi bagi kalian yang belum membaca ketiga buku sebelumnya tapi ingin langsung membaca buku ini, no problemo. Tidak masalah.

The Ring Of Solomon mengambil setting di Jerusalem pada masa pemerintahan Raja Solomon. Beliau memiliki sebuah cincin yang sakti andraguna yang akan mengabulkan semua permintaan beliau dalam sekejap mata. Hal ini terjadi karena dalam cincin itu terdapat sebuah entitas atau makhluk yang amat teramat sakti sekali *4). Tentu saja kesaktian cincin itu mengundang beberapa orang ingin mencurinya dari Raja Solomon. Dalam menjalankan pemerintahannya, beliau dibantu oleh dewan penyihir. Salah satunya bernama Khaba. Khaba inilah yang menjadi master Barti. Master ialah orang yang memanggil jin, dan permintaannya harus dituruti. Khaba dikenal sebagai penyihir yang kejam. Barti, dan makhluk gaib lainnya *5), cenderung membenci Khaba dan dengan senang hati akan memakannya jika mampu dan punya kesempatan. Khaba juga memiliki bentuk fisik yang aneh, dan bayangan yang mencurigakan. Bayangannya bisa membesar. *6)
Suatu ketika, Barti membuat kesalahan di depan Raja Solomon. Karena Barti adalah budak Khaba, maka Khaba otomatis juga ikut dihukum. Mereka diperintahkan oleh Raja Solomon untuk menumpas gerombolan perampok di sebuah gurun pasir yang akhir akhir ini meresahkan warga.  Suatu hal yang dibenci oleh Khaba, karena hal itu berarti ia semakin jauh dari Raja Solomon.

Di sisi lain, tersebutlah seorang ratu Sheba yang merasa sakit hati kepada Raja Solomon karena utusannya telah mengancam negerinya akan dihancurkan kalau tidak membayar upeti. Sang ratu kemudian mengutus Asmira, pengawal pribadinya dalam sebuah misi rahasia yaitu membunuh raja Solomon. Kemudian tangan nasib pun memmpertemukan Barti dengan Asmira. Mereka bertemu dalam sebuah pertempuran di gurun. Mulanya mereka saling bermusuhan. Hingga kemudian. sifat Asmira yang lugu dan terlalu fanatik kepada ratunya, tapi juga seorang petarung yang handal membuat Barti tertarik. Dan tentu saja, ada lagi satu alasan utama yang membuat Barti mau menjadi ‘teman’ Asmira.
Nah, berhasilkah rencana Asmira? Apakah Khaba akan membiarkan budaknya bertingkah semaunya sendiri, dan apa sebenarnya tujuan Khaba sebenarnya? Apa sebenarnya yang ditwarkan Asmira sehingga Barti mau membantunya untuk membunuh Raja Solomon yang sakti itu?

Kesan pertama ternyata buku ini adalah lucu. Dari awal sampai akhir. Terutama yang berhubungan dengan Barti. Kelucuan ini pun lantas membuat aspek aspek yang lain menjadi tidak terlalu diperdulikan. Kelucuan inilah yang menurut saya paling menonjol dari pada buku ini. Bukan cerita. Karena apabila dibandingnkan dengan ketiga buku sebelumnya, cerita The Ring Of Solomon lebih ringan. Seperti dongeng nina bobo. Tak ada adegan yang sanggup menyentuh perasaan, dalam hal ini perasaan sedih yang sanggup menyentuh hatimu hingga kamu akan berhenti sejenak dan matamu menjadi sedikit hangat. Tapi semua itu terbayar dengan, yah itu tadi, kelucuan. Kelucuan yang ditimbulkan oleh perkataan Barti, atau aksi komikalnya yang dipicu oleh kadar kepercayaan dan kenarsisan yang terlalu berlebihan.

Misalnya Barti ketahuan menghina Raja Solomon melalui sebuah nyanyian. Dalam lirik nyanyian itu disamping isinya merendahkan Raja Solomon, juga diselipkan lirik memuji diri sendiri ‘Bartimaeus paling hebat’ yang diulang berkali kali. *7) Kemudian yang tidak kalah serunya ialah mengikuti hubungan antara Barti dan temannya sesama jin, Faquarl. Faquarl bisa dibilang lebih kejam daripada Barti. Tapi tidak berarti lebih hebat. Kejam dalam artian ia tak segan segan memakan manusia jika ada kesempatan. Nah, Faquarl dan Barti sebenarnya tidak terlalu suka berteman, tapi keadaanlah yang memaksa mereka berdua menjalin hubungan. Mengasikkan sekali melihat akward chemistry di antara keduanya. Keduanya seringkali berbeda pendapat, tapi disitulah menariknya. Misalnya dalam sebuah adegan ketika keduanya sedang membangun sebuah kuil.

“Lihat lihat dong kalau menjatuhkan serpihan batu,” bentak Faquarl. “Hujan serpihan barusan menimpa leherku.”

“Sori.”

“Dan sebaiknya kau mengenakan rok yang lebih panjang. Aku jadi takut melihat ke atas.”

Aku berhenti memahat. “Aku hanya mengikuti mode terkini.”

Seandainya kamu terhibur dengan quote di atas, maka percayalah, hal seperti itu banyak di buku ini. Tapi jika kamu menganggapnya biasa saja, jangan kawatir. Karena apabila ditinjau dari segi cerita, buku ini masih sangat layak untuk diikuti. Ditulis dengan beberapa sudut padang para tokoh di dalamnnya, menjadikan misterinya lebih terasa karena terkadang ketika sedang tegang tegangnya, tiba tiba harus berganti ke tokoh lain, yang tentu saja menjadi sedikit tertunda ceritanya. *8) Dan lima ratus dua puluh empat halaman pun dengan cepat terselesaikan.
Pada akhirnya The Ring Of Solomon barangkali masih belum mampu menandingi tiga buku sebelumnya, tapi sudah cukup menuntaskan kerinduan pada sosok Barti. Dan akan kembali menunggu buku berikutnya terbit. Entah kapan. Empat bintang untuk buku ini. *9)

Judul: The Ring Of Solomon, diterjemahkan menjadi Cincin Solomon
Penulis: Jonathan Stroud
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman:524

catatan kaki:
*1) Tadinya mau saya tulis Bartigagahcelaluw, tapi terlalu alay, dan kepanjangan juga. Yang panjang panjang belum tentu yang terbaik.
*2) Samar samar. Beradu dengan ingatan tentang seseorang. *tengadah memandang langit*
*3) Ini retoris. Tidak perlu dijawab.
*4) Kalau ingin lebih diperjelas, bisa ditambahkan dibelakangnya: yakinlah sumpah ciyus enelan.
*5) Makhluk gaib disini bukan tuyul, wewe gombel, genderuwo, kuntilanak, pocong, atau kolor ijo. Tapi berupa imp, foliot dan jin. Penjelasan lengkapnya ada di dalam buku.
*6) Tapi tetap hitam. Bukan pelangi. Siapa tahu ada yang berpikiran seperti itu. Yah siapa tahu, namanya juga manusia.
*7) Sebuah pelajaran kehidupan, kalau menghina orang jangan sambil narsis. Catet!
*8) Hm, kalimatnya memang membingungkan. Tapi kita lihat contohnya:
Mawar (bukan nama sebenarnya)
Mawar mendekati Udin dengan pelan. Tangannya memegang parang. Di belakang Udin, Mawar mengayunkan parang itu ke leher Udin.

(sampai di sini tokoh yang bercerita berubah menjadi Udin.)
Udin (juga bukan nama sebenarnya)
Udin duduk di kursi sambil mengisi TTS. Ia tertahan di pertanyaan nomer 39 mendatar: Nama hewan yang paling romantis dan ditunggu para pasangan. Tiba tiba ia merasa lehernya dihantam sesuatu. Trang!! Suara parang jatuh. Udin menengok ke belakang. “Kamu ngapain? Aku kan robot.”
*9) Cuma mau tanya aja sih, kira kira setelah menulis review ini kira kira kadar ketampanan saya tambah berapa persen?