(Review) Innocent Erendira & Other Stories

ERENDIRA

Peluklah…. dirikuuu….sendiri…ho..ho..ho..

Lirik lagu ini memang tak ada di dalam buku yang akan saya review, bahkan barangkali memang tidak bakal ditemukan dimana pun. Lirik lagu ini terngiang begitu saja setelah saya berhasil menyelesaikan buku ini. Saya tersiksa saudara saudara. Buku ini ternyata sedemikian sulit untuk dimengerti.
Marilah kita lihat sama sama ada apa sebenarnya. Buku ini diberi judul Innocent Erendira & Other Stories dengan cover wajah perempuan menutup mulut dan hidungnya, sementara matanya menatap ke atas. Seperti orang menahan tangis, atau malah menahan aroma kentut. Cerita pertama dalam kumpulan cerpen karya penulis Gabriel Garcia Marquez ini berjudul Drama Erendira.
Pertama kali muncul di majalah Esquire, cerpen ini bercerita tentang Erendira, bocah perempuan berumur empat belas tahun yang mengabdikan dirinya untuk mengurus neneknya yang gendut seperti ikan paus. Mereka berdua hidup di dalam sebuah rumah besar yang terpencil di jantung gurun pasir. Suatu ketika, rumah besar itu terbakar hebat. Nyaris tidak menyisakan apa pun. Si nenek menimpakan kesalahan kepada Erendira, dan emaksanya
untuk membayar segala kerugian yang ia derita dengan cara menjadikan Erendira seorang pekerja seks komersil.
Erendira, dengan segala pesona yang dimilikinya berhasil menarik banyak lelaki hidung belang. Keadaan itu tentu saja membuat Erendira menderita. Kondisi fisiknya tidak mampu untuk melayani begitu banyak lelaki di waktu yang bersamaan.

“Nenek,” dia terisak, “aku sekarat.”
Sang nenek meraba dahinya dan begitu tahu tidak ada demam, ia berusaha menghiburnya.
“Hanya tinggal sepuluh prajurit lagi di luar,” katanya.

Najos gandos semelekotos!!

Jawaban si nenek bikin emosi saja. Tapi memang begitulah si nenek, yang ia pedulikan cuma bagaimana agar mendapatkan uang yang banyak sehingga bisa menutupi kerugian yang telah ia derita. Di antara orang orang yang hendak menggunakan jasa Erendira, tersebutlah seorang lelaki muda bernama Ulises. Ulises yang lugu itu pun
kemudian jatuh cinta kepada Erendira, begitu pula sebaliknya. Tapi keadaan Erendira yang tak bisa lepas dari neneknya membuat hubungan mereka menjadi bermasalah. Maka keduanya pun lantas memikirkan bagaimana cara agar Erendira bisa segera terbebas. Nah, berhasilkah rencana mereka berdua?

Cerita yang pada aslinya mempunyai judul The Incridible and Sad Tale of Innocent Erendira and Heartless Grandmother ini adalah salah satunya yang paling saya sukai. Karena kemalangan Erendira telah membuat saya menjadi nelangsa oleh rasa iba yang datang tiba tiba. Karena inilah cerita yang paling mudah untuk dimengerti. Tidak membuat dahi berkerut. Ketika cerita ditulis dengan deskripsi apa adanya, tidak berbelit belit.
Singkatnya, ketika selesai membaca sebuah kalimat, saya akan langsung tahu maksudnya. Sementara untuk cerita yang lain, saya mesti baca lebih dari sekali, dan itu pun masih belum paham. Hmm, barangkali memang otak saya yang belum sampai. Barangkali memang terjemahannya yang susah diterima.

Tiba tiba dia memperhatikan bahwa kecantikan sudah runtuh berantakan pada dirinya, bahwa itu sudah mulai melukainya secara fisik seperti tumor atau kanker. Dia masih ingat bobot hak istimewa yang telah ditanggung oleh seluruh tubuhnya selama masa remaja, yang sudah dilepaskannya sekarang-siapa yang tahu dimana?-dengan keletihan penyerahan diri, dengan gerak isyarat terakhir dari makhluk yang sedang melemah. Sudah tidak mungkin membawa beban itu lebih lama lagi.

Ini adalah pembukaan cerpen Eva di Dalam Kucingnya. Dari judulnya saja sudah absurd. Eva ada di dalam kucingnya. Apakah Eva dimakan kucingnya sendiri, atau Eva punya kemampuan masuk ke dalam tubuh kucingnya? Tapi ternyata tidak demikian. Bahkan sampai pertengahan cerita saya tidak menemukan ada kaitannya dengan kucing. Tapi isinya bergalau ria tentang keadaan tokoh ‘dia’ yang insomnia, tentang bocah laki laki, dan lainnya. Dan ketika sampai pada ending, barulah saya sedikit mengerti apa yang sebenarnya diceritakan. Sedikit. Dan cerita dengan deskripsi model begitu ternyata banyak.

Pada bantal, kepalanya terbenam dalam materi lembut, tubuhnya jatuh ke dalam organ organnya yang beristirahat, kehidupan mempunyai selera horisontal, suatu akomodasi yang lebih baik untuk prinsip prinsipnya sendiri. Dia tahu bahwa dengan usaha minimal untuk menutup matanya, maka tugas yang panjang dan melelahkan yang sedang menunggunya itu menjadi tidak rumit, tanpa ada kompromi dengan waktu atau ruang;tanpa ada perlunya…

Bau pesing keteknya rambo, haduuh pusing booo!! *tibatibangondek*
Beli permen sama koh Amin, ini cerpen judulnya ‘Dialog dengan Cermin. *senyumimut*
Ke Carita makan tahu, ceritanya..enggakk tahuuu!! *monyongmonyong*
Si Nana perutnya kembung, karena bikin bingung. *ngelusngeluskepala*
Si Nana nelen gangsing, karena bikin pusingg. *gedekgedek*
Si Nana ngangkat lemari, busett kuat amatttt *stress*

Yap, cerita dalam buku ini memang bikin stress. Enggak semua memang. Dari dua belas cerita hanya ada tiga cerita yang saya bisa menikmati. Yaitu Drama Erendira, Yang Melampaui Cinta, dan Perempuan Jam Enam. Yang Melampaui Cinta bercerita tentang Senator Onesimo Sanchez yang umurnya tinggal enam bulan sepuluh hari. Ia sedang menyibukkan dirinya dalam sebuah kampanye pemilu. Saat itulah ia bertemu dengan seorang gadis bernama Laura Farina. Laura Farina diutus oleh ayahnya untuk membujuk sang senator agar mau membantu dalam urusannya. Ia akan menyerahkan dirinya untuk sang senator. Tapi, ketika mereka sedang di
atas ranjang, terjadi hal yang sama sekali tidak diduga oleh sang senator.

Sang senator mencumbunya perlahan, mencarinya dengan tangannya, nyaris menyentuhnya, tapi di tempat yang diharapkannya bisa menemukannya, malahan dia berpapasan dengan sesuatu dari besi di tengah jalan.”Apa yang kau punyai di situ?””Gembok,” dia menjawabnya.

Yaahh, digembok ternyata :)) Nah, apakah sang senator bakal bisa membuka gembok tersebut, sementara ia tidak punya kuncinya,dan ia cukup terhormat untuk tidak mencoba membongkar paksa dengan obeng, atau gergaji besi.
Cerita yang menyedihkan sebenarnya. Sang senator yang sebentar lagi mati itu ternyata begitu kesepian. Hal yang menarik ialah cara sang senator untuk menggalang dukungan. Ketika ia sedang pidato di podium menyampaikan program programnya, para pembantunya akan menerbangkan burung burung kertas ke udara, dan akan membuat replika dunia fiksi yang sedang ia janjikan. Dengan ini maka para warga bisa mempunyai gambaran yang jelas. Setelah itu ia akan berjalan jalan menemui warganya dan jika warganya itu kemudian meminta bantuan sang senator, maka sang senator akan menolongnya. Unik meski sedikit lebay.

Perempuan Jam Enam berkisah tentang Jose, laki laki gemuk pemilik restoran yang jatuh cinta kepada perempuan yang selalu datang ke tempatnya pada pukul enam sore. Jose akan memberinya makanan gratis meski Jose tidak tahu apakah perempuan itu juga mencintainya.
Suatu hari, perempuan itu meminta Jose untuk berbohong sebagai alibi dirinya karena ia telah membunuh laki laki yang telah tidur dengannya. Jose yang lugu dan terkenal karena kejujurannya tidak lantas menyanggupi permintaan perempuan itu. Tapi perempuan itu terus membujuk Jose. Lalu, apakah Jose akan rela membantu perempuan itu?

Sebuah cerita tentang si baik melawan si jahat. Tentang bagaimana cara si lugu Jose mempertahankan pendapatnya melawan perempuan itu. Isinya sebagian besar berupa percakapan di restoran. Sedikit datar, tidak ada percakapan yang mampu menggugah emosi. Tapi tidak sampai jadi membosankan.

Itulah tiga cerita yang tergolong ringan dan mudah dimengerti, dan yang lainnya tidak. Buku ini adalah buku karangan Gabriel Garcia Marquez yang paling tidak menarik yang pernah saya baca. Untungnya saya masih bisa menemukan hal hal ajaib yang kerap saya temui di dalam cerita cerita Gabriel Garcia Marquez. Hal hal ajaib yang tidak masuk akal, namun tidak lantas menjadi sebuah cerita fantasi. Misalnya dalam Drama Erendira, ada sebuah adegan dimana si nenek menanyakan kepada Ulises apa yang terjadi dengan sayapnya, lalu Ulisess menjawab bahwa kakeknya yang memiliki sayap, bukan dirinya. Juga ketika Laura Farina datang ke kantor sang senator, ia melihat banyak kupu kupu kertas beterbangan, dan apabila hinggap di tembok, maka tidak akan bisa dilepas.
Di luar akal sehat bukan? Orang bersayap. Kupu kupu kertas terbang dan tak bisa dilepas.
Hal hal inilah sebenarnya yang saya cari di setiap cerita karangan Gabriel Garcia Marquez. Yah, meski dalam kasus buku ini, hal itu tidak menolong banyak. Innocent Erendira & Other Stories jauh dibawah harapan. Bukan buku yang cocok untuk dibaca dengan santai. Dengan tema serius dan muram, yang sayangnya dalam penyampaiannya mungkin tidak mampu menjangkau setiap pembaca. Dua bintang untuk buku ini.

Judul: Innocent Erendira & Other Stories
Penulis: Gabriel Garcia Marquez
Penerbit: Selasar Surabaya Publising
Jumlah Halaman: 287
Cetakan I: Juli 2009

Advertisements