[Review] Coming Home

coming home

19 cm.  Ada yang tahu ini ukuran panjang benda apa?  Yap, itu adalah ukuran panjang buuuu…..
Eh, tunggu dulu, mari kita teriakan bersama sama:  BUUU….KUUUUUU..

Pertanyaan selanjutnya, buku apa itu? Buku itu diberi judul Coming Home, karya penulis Sefryana Khairil. Ukuran lengkapnya panjang 19 cm, dan lebar 13 cm. Panjangnya hanya serentangan tangan orang dewasa, membuat buku itu terlihat sempurna; tidak terlalu besar
atau kecil. Belum lagi apabila melihat design cover yang teduh di mata. Sebuah sarang burung yang teronggok pada beberapa ranting
pohon. Sarang burung itu kosong, seolah olah menantikan sang penghuni untuk pulang padanya. Cocok sekali bukan dengan judul buku
ini? Pulang ke rumah.

Mengapa sarang burung, bukan sarang  yang lain, sarang semut  misalnya? Sarang burung akan terlihat lebih indah dari pada sarang semut, juga barangkali hal itu terkait dengan peribahasa sejauh jauhnya burung terbang, suatu saat akan kembali ke sarangnya, kecuali yang tidak. Kemudian, cover buku ini disempurnakan oleh pemilihan kertas yang tidak biasanya. Kertasnya licin, tapi ketika jemari saya meraba raba, ada sensasi menggelitik di sana. Semacam geli geli nikmat. Hal itu disebabkan oleh tekstur permukaan kertas yang bergelombang kecil dan rapat. Tapi, sensasi menggelitik itu agak hilang manakala digosokkan ke pipi. Saya belum mencobanya ke bagian tubuh yang lain, karena kesannya kok kurang kerjaan banget yaaaa…

Nah, bisa disimpulkan bahwa sepanjang sejarah kehidupan saya, inilah buku paling menarik ditinjau dari bentuk fisiknya. Bagaimana
dengan isinya?

Amira sama sekali tidak menduga bahwa ia akan kembali bertemu Rayhan, mantan suaminya. Waktu itu Amira sedang mengajar di sebuah Taman Kanak Kanak, ketika laki laki itu datang ingin menyekolahkan Raisa Kirana, anak perempuan semata wayangnya. Dalam sekejap, hatinya dihinggapi kepedihan, lukanya berdarah kembali. Amira mengenang Rayhan sebagai lelaki yang dahulu memberikan kebahagiaan dalam sebuah ikatan perkawinan, sebelum datang perempuan lain. Amira mengalah meski hatinya hancur. Kemudian perlahan berusaha menata kehidupannya kembali. Mengalihkannya kepada keceriaan anak anak dengan menjadi guru TK. Tapi, mengapa ia harus bertemu lagi dengan laki laki itu?

Sebenarnya Rayhan juga tak kalah kagetnya ketika bertemu dengan Amira, mantan istrinya itu. Ia hanya ingin mendaftarkan Nana, panggilan Raisa Kirana, di Taman Kanak Kanak. Perasaan bersalah kemudian merebak di dalam hatinya. Ia tahu bahwa ia sudah menyakiti hati perempuan itu. Ia lebih memilih Elsa, perempuan ketiga yang menjadi alasan ia menceraikan Amira, sekaligus ibu dari Nana. Tapi ia sudah mendapatkan hukumannya; Elsa meninggal dunia. Sekarang hanya tinggal dirinya dan Nana saja.

Nana yang akhirnya bersekolah di tempat Amira mengajar membuat kedua orang itu sering bertemu. Rayhan sebenarnya ingin meminta maaf. Tentu saja tidak mudah. Luka yang ia tinggalkan sudah terlalu dalam. Sementara itu hubungan antara Nana dan Amira semakin erat seiring dengan kebersamaan yang mereka dapatkan.
Apakah Amira akan memaafkan Rayhan? Apakah kedua orang itu akan bersatu kembali?

Buku yang telah naik cetak hingga dua kali ini ternyata memiliki tingkat kemuraman yang cukup tinggi. Barangkali karena ternyata ,menurut saya, buku ini bukan menceritakan ‘bagaimana memunculkan cinta’ yang ditonjolkan melainkan ‘bagaimana memaafkan dan menerima kembali orang yang telah membuat kita tersakiti’. Hal itu tidak mudah. Sulit. Karena hati yang tersakiti akan lebih lama sembuhnya, meski sudah ada permintaan maaf. Karena apabila diibaratkan hati yang tersakiti itu seperti kue apem yang ditusuk besi lancip, maka meminta maaf hanya akan mencabut paku lancip dari kue apem, sementara lubangnya akan tetap menganga. Inilah yang membutuhkan waktu dan pengorbanan yang tidak kecil, karena lubang itu tidak akan pernah kembali menutup seperti semula. Keadaan inilah yang sedang dialami oleh Amira. Kue apem, eh hatinya telah disakiti oleh Rayhan.
Kegamangan hati Amira diceritakan oleh Sefryana Khairil dengan melimpah, penuh dengan deskripsi perasaan yang sedang dialami oleh Amira, sehingga seolah olah saya juga ikut merasakannya juga.

Bayangan bayangan kembali menyapu nyapu benaknya di antara keraguan dan ketakutannya. Dinging dinding kamar mandi menyelimutinya, membekukan sekujur tubuh. Kepedihan yang tajam menusuk nusuk batinnya. Hening menebarkan kehampaan. Otaknya kosong. Ia tidak sanggup memikirkan atau merasakan apa pun. Kepalanya berdenyut. Tubuhnya nyeri.

Keresahan yang dialami Amira rupanya juga terjadi kepada Rayhan meski dalam konteks yang berbeda, dan diceritakan dalam porsi yang sama banyaknya. Barangkali inilah yang menyebabkan berkurangnya momen momen romantis di dalam buku ini. Dan romantisme dalam buku ini tidak membuat saya tersenyum, saya diam saja. Tapi tentu ini bukan salah siapa siapa, karena penilaian seseorang untuk menentukan kadar keromantisan tidaklah sama. Bisa saja, bagi orang lain justru malah terkesan sangat romantis sehingga pipinya ikut merona tersipu malu dan tersenyum dengan menawan sementara didalam hatinya berteriak ceria; ih..co cwiiitttt!!!! Sambil geleng geleng kepala pula. Tapi enggak guling guling.

Untunglah romantisme yang tidak terlalu menggeletar itu tidak sampai mengganggu kesyahduan saya dalam menyelesaikan buku ini.
Masih ada hal lain yang justru lebih menyita perhatian saya. Itu adalah hubungan antara Amira dengan Nana, atau pun Rayhan dengan
Nana. Ada banyak kehangatan yang terpampang nyata di sana. Ketika Amira membantu Nana membuat daun, makan es krim, mendongeng dan yang lainnya.

“Bu Guru, es krimnya rasa apa?” tanya Kirana.
“Mint.” Amira menggeser gelasnya ke Kirana. “Mau?”
“Mint itu rasanya kayak apa?” Kirana melihat es krim dalam gelas Amira yang belum banyak berubah bentuknya itu.
“Mint itu dingin, Sayang. Ada pedesnya kayak permen,” ujar Rayhan.
Kirana penasaran dengan es krim itu. Ia menyendoknya sedikit dan wajahnya mengerut. “Rasanya aneh.”

Coming Home mengantarkan kisahnya dengan membawa pembaca untuk  menyelami perasaan perasaan tokohnya melalui sudut pandang orang ketiga yang diawali dengan sebuah kutipan lagu pada setiap permulaan bab. Dua puluh tiga bab. Dua puluh tiga kutipan lagu. Wake Me Up When September Ends dari  Green Days, Remember When It Rained dari Josh Groban, Because I Love You nya Lionel Richie, dan lagu yang lainnya. Lagu lagu itu secara tidak langsung bisa dikatakan sebagai soundtrack yang bisa kamu dengarkan ketika sedang  membaca buku ini. Barangkali akan lebh terasa feel-nya.

Pada akhirnya, Coming Home mampu tampil sebagai sajian kisah yang muram, meski dengan jalan cerita yang lumayan klise dan bisa ditebak di beberapa bagian, tapi percikan kecil kehangatan yang terjalin mampu menjadikan buku ini lebih mudah untuk disukai. Tiga bintang untuk buku ini.

Judul Buku: Coming Home
Penulis: Sefryana Khairil
Penerbit: Gagas Media
Jumlah Halaman: 318

Advertisements