[Review] Misteri Kalung Setan

misteri_kalung_setan

“Ceritakan padaku tentang kolang kaling!”  pinta seorang wanita.
Kemudian si lelaki membacakan tulisan ini:

Anton punya istri namanya Eliza. Anaknya bernama Amelia. Suatu malam Eliza terbunuh dengan misterius. Kalungnya jadi hidup dan mencekik lehernya. Sejak kejadian itu, Amelia mentalnya jadi terganggu. Tak bisa bicara dengan baik, hanya keluar suara; shiisisii..taa..ta….
Kemudian Anton punya istri baru. Ningsih namanya. Punya anak lagi. Solavina dan Rudi. Ningsih gila harta, begitu pula Solavina. Suatu ketika Anton pergi mengambil kalung yang masih melingkar di leher Eliza, istrinya. Malam malam, ia pergi ke kuburan Eliza, membongkar, dan mengambil kalungnya, dan diakhiri dengan mengencingi kerangka Eliza.
Yah, semua itu dilakukan atas perintah dukun sakti, sebagai syarat agar Anton bisa menguasai harta Amelia.
Dan, mulai saat itulah, teror kemudian menghantui kehidupan Anton.

Misteri Kalung Setan ibaratnya kisah perebutan harta dengan bumbu supranatural. Mainannya setan. Sayangnya, tidak ada perkelahian antara setan dan manusia, seperti di buku Abudllah Harahap yang saya baca sebelumnya, Misteri Perawan Kubur. Yang ada hanya manusia yang dimangsa setan, ini pun caranya tidak terlalu kreatif. Mengapa harus berhubungan dengan birahi? Nanggung pula.  Mungkin ini memang disengaja, sebab penulis dikenal sering menyisipkan erotisme ke dalam buku bukunya.

Buku ini tidak berhasil membuat saya ngeri dan takut, tapi pertanyaan pertanyaan yang timbul ketika membaca buku ini sudah cukup untuk menggantikan kekurangan tersebut. Siapa yang membunuh Eliza. Apakah sebenarnya setan yang ada di kalung itu. Mengapa Amelia diberi obat telur mentah, lalu dimakan dengan cangkangnya. Berpihak kepada siapakah setan itu. Dan semua pertanyaan itu terjawab ketika buku ini selesai dibaca.

Kemudian yang menarik lagi ialah bentuk asli setan kalung itu sendiri. Namanya Kolang Kilung. Kalau melihat covernya, bentuknya seperti ular betulan yang mengerikan. Tapi aslinya sama sekali lain.

Ujung yang satu sama besar dengan ujung yang lainnya. Hanya jika salah satu ujung itu terangkat, dan tampak bintik bintik merah kehijuauan, dapat ditebak, ujung itulah kepalanya. Dan ketika ujung lainnya yakni ekornya mengibas ngibas, terdengarlah suara berdesis samar samar dari lubang kecil menganga pada bagian bawah. Lubang duburnya.

Misteri Kalung Setan ialah kisah umat manusia yang takluk oleh nafsu dunia sehingga menghalalkan berbagai cara yang justru menjadi bumerang. Kemudian semua i..


“Cukup!! Mana kolang kalingnya?”, tanya si wanita.
“Kolang kaling?”, si lelaki balas bertanya.
“Iya, kolang kaling!”
“Bukan kolang kilung?”
“Bukaaannn!!” *gebrak gebrak meja*

Judul Buku: Misteri Kalung Setan
Penulis: Abdullah Harahap
Jumlah Halaman:336
Penerbit: Paradoks

Rate

Rate

Advertisements

[Review] Kubah

Kubah

 

Seandainya kamu menemukan buku Kubah karangan Ahmad Tohari di sebuah rak toko buku kemudian terbesit keinginan hendak membeli buku tersebut, maka saran saya, jangan sekali kali membaca sinopsis yang tertulis di lembar belakang buku tesebut, karena mengandung spoiler. Cukup banyak menurut saya. Buat kamu yang tidak begitu mempermasalahkan tentang adanya spoiler, memang tak menjadi soal, tapi bagi kamu yang termasuk dalam golongan die hard anti spoiler, tentunya akan menjadi masalah. Ditambah lagi apabila kamu sedang menderita kelainan aneh kutubuku nomer sembilan, yaitu kelainan-ketika-kamu-baca-spoiler-maka-kamu-akan-kejang-kejang-sambil-pukul-pukul-meja.
Spoiler apakah itu?
Jadi begini, secara garis besar buku ini terbagi menjadi tiga bagian. Apabila diurutkan, maka akan jadi seperti ini: masa kini, masa lalu, dan yang terakhir (masa kini + masa depan). Dan yang tercantum dalam synopsis di lembar belakang buku berisi bagian: masa kini, dan (masa kini + masa depan), bahkan sampai pada ending.
Lalu, kalau sudah terlanjur baca gimana dong?
Gampang saja.

Kamu jedotin saja kepala kamu ke lantai, atau kepruk pakai buku hardcover yang tebal. Menurut paham sinetron, kamu bakal kena amnesia. Tak ingat lagi tentang sinopsis buku Kubah, bahkan tak ingat siapa siapa.
Iss, ngawur banget sih caranya.

Seriusnya begini, kamu tidak usah khawatir apabila terlanjur membacanya, buku ini masih dapat memberikan kesenangan, karena sebagian besar kisah dalam buku ini terjadi pada bagian masa lalu, beserta konflik konflik yang menyertainya. Buku ini juga bisa memberikan keceriaan, bisa membuat kamu tertawa, tapi bukan karena ceritanya yang lucu. Lho, gimana caranya?
Caranya tinggal kamu pegang bukunya, terus gelitikin ke perut kamu.
krik
Hati Karman mendadak galau, justru ketika ia baru saja menghirup bau kebebasan. Karman ialah seorang tahan politik yang dijatuhi hukuman penjara selama dua belas tahun. Karman galau memikirkan apakah masih ada tempat untuk berpulang. Ia tak tahu kabar anaknya, sementara istrinya sudah kawin dengan laki laki lain. Serta ia pun tak bisa menebak bagaimana pandangan penduduk desa Pegaten, tempat ia dilahirkan, terhadap dirinya yang seorang tahanan politik. Seorang anggota PKI.
Berita mengenai keluarnya Karman pun sampai ke telinga istri berserta anaknya. Nah, apakah mereka akan bertemu dan bersatu kembali? Bagaimana pula masyarakat Pegaten menghadapi kebebasan Karman?

Sementara itu, bertahun tahun sebelum Karman mendekam di penjara, ia hanyalah seorang pemuda biasa yang mengadu nasib pada keluarga Haji Bakir, seorang kaya raya di desa Pegaten. Karman bekerja dengan giat, sehingga ia memperoleh kepercayaan dari Haji Bakir. Tapi kemudian sesuatu terjadi di antara mereka, yang melibatkan pihak ketiga. Sesuatu itu kemudian mengubah Karman menjadi pribadi yang lain. Karman menjadi begitu benci kepada Haji Bakir.
Apa yang mebuat Karman menjadi benci kepada Haji Bakir? Bagaimana kisah Karman hingga ia kemudian menjadi tahanan politik?

Meski mengusung tema yang berhubungan dengan organisasi terlarang, tapi tidak lantas membuat Kubah menjadi buku yang berat untuk dibaca. Karena Kubah hanyalah sebuah kisah kehidupan seorang penduduk desa yang terjebak dalam permainan politik, tanpa menitik beratkan pada politik itu sendiri. Ahmad Tohari hanya memberikan kisah hubungan antara partai politik dengan orang orang disekitarnya (dalam hal ini Karman ), bukan kepada pemerintahnya. Maka di sini ada cara cara propaganda yang dilakukan kepada Karman, serta perubahan pandangan hidup Karman.

Selain kisah Karman, diceritakan pula mengenai Marni, istri Karman. Bagaimana perasaannya ketika mendengar Karman dibebaskan, serta apa yang hendak ia lakukan ketika bertemu dengan Karman.

Menulis juga bisa bernilai ibadah. Kalimat yang tertulis dalam bio data twitter milik Ahmad Tohari, @AhmadTohari, yang sayangnya sudah jarang diupdate, ini sangat sesuai dengan apa yang dapat saya simpulkan setelah membaca buku ini. Ada kesan religius yang berhasil menyatu dengan real ke dalam cerita, tanpa bermaksud sebagai dakwah. Contohnya dalam sebuah dialog antara Karman dengan Kastagethek. Iya, namanya Kastagethek. Karman menanyakan tentang istri Kastaghetek yang ditinggal di rumah.

“Kang bila kamu sedang menjalankan rakit seperti ini, bersama siapa istri di rumah? Apakah dia sendiri?
“Ah, tentu tidak, Pak. Bila istriku tinggal sendiri di rumah, mana mungkin saya bisa pergi berhari hari dengan tenang.”
“Tetapi kudengar kamu tidak punya anak, bukan?”
“Benar.”
“Lalu?”
“Di rumah istriku selalu tinggal berdua.”
“Sama?”
“Sama Tuhan,” jawab Kasta sambil tersenyum. Kutitipkan dia kepada Tuhan sehingga saya bisa pergi cari makan dengan perasaan enak.”

Membaca Kubah, saya teringat dengan Entrok & Maryam karangan Oky Madasari, serta Gadis Kretek milik Ratih Kumala. Menyinggung isu isu sensitif di masa lalu tanpa terjebak menjadi bacaan yang bikin pusing kepala. Hanya saja, Kubah berjalan nyaris tanpa memberikan denyutan denyutan yang sanggup membuat hati saya bergetar. Kubah tak mampu mempermainkan emosi saya. Entahlah, saya merasa biasa saja. Saya tidak mengernyitkan dahi, sedih, atau tertawa gembira ria. Muka saya tanpa ekspresi. Flat. Mirip gambar ini.
jihyo

Untung saja, tidak sampai membuat muka saya jadi seperti ini:

kwang_so

Kemudian, saya juga sedikit keberatan mengenai pemilihan Kubah sebagai judul buku ini. Karena kisah tentang kubah, sebagai kata benda, hanya muncul sedikit sekali, yaitu menjelang ending. Sementara saya tidak menemukan adanya simbolisasi kubah dalam seluruh rangkain cerita. Mungkin akan lebih cocok apabila diberi judul Karman, atau yang lainnya.

Pada akhirnya meski Kubah gagal untuk menjadi sebuah bacaan yang berkesan, tapi tidak sampai jatuh menjadi mengecewakan. Kubah akan memberikamu sajian cerita kisah kehidupan manusia, sejarah kelam oraganisasi terlarang bersimbol palu arit, serta kisah cinta, dendam dan penerimaan diri dalam balutan nilai religius yang apa adanya.

Judul: Kubah
Penulis: Ahmad Tohari
Jumlah Halaman: 216
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Rate

Rate