Anya’s Ghost

anya-cover

Haloh..nama gua Anya. Nama lengkapnya enggak usah ya. Ribet nulisnya. Gua aslinya orang Rusia, tapi sekolahnya di Amerika. Gua bukan cewek yang populer di sekolah, temen deket gua aja cuma satu. Namanya Siobhan. Gua juga enggak cantik cantik amat.
Gendut iya. Tapi kata nyokap, gua enggak boleh resah sama kegendutan gua. Nyokap gua bilang gini: Memangnya kenapa kalo kamu gendut sedikit? Di Rusia, gendut artinya kaya. Ya ampun. *Minum antimo segentong*

Tapi keadaan jadi sedikit berubah ketika gua enggak sengaja kecemplung sumur. Salah gua juga sih, jalan sambil ngelamun. Coba gua jalannya sambil goyang itik, pasti ga bakal kecemplung sumur. Palingan dikatain gila doang. Untungnya itu sumur enggak ada airnya. Tapi ada hantunya. Hantu cewek. Namanya Emily. Dia sama sekali enggak seram, dan enggak suka narik narik kaki waktu gua tidur, atau loncat dari lemari. *terkonjuring*
Malah kemudian gua sama Emily jadi teman dekat. Dia bantuin gua nyontek pas ulangan. Terus bantuin gua ngawasin pintu pas gua lagi asik ngerokok di toilet.  Dan yang paing gua demen, dia bantuin gua buat deket sama Sean, gebetan gua. Alhasil, gua akhirnya berhasil jadian sama Sean, lalu menikah, punya anak sepuluh lucu lucu, dan happily efer after, terus gua bangun dari tidur. Mimpi. Sadly, enggak gitu ceritanya.
Awalnya emang gua seneng dibantu sama Emily, tapi lama lama gua malah jadi enggak nyaman banget sama dia. Dan kemudian sampailah saat dimana gua harus mengeluarkan segala kemampuan gua untuk menghadapai Emily. Bayangin aja, gua yang bukan keturunan pengusir hantu, kudu berhadapan dengan hantu. Konspirasi kemakmuran atas kelabilan hati, kalau kata si Vicky mah.

Gua itu ada di buku yang ditulis oleh Vera Brosgol, judulnya Anya’s Ghost. Buku Anya’s Ghost (selanjutnya kita sebut buku gua, gitu ya) pertama kali terbit tahun 2011, dan langsung dapat penghargaan sebagai Best Publication for Young Adults dan Best Original Graphic Publication for Younger Readers. Keren khan ya? Nah, dua tahun kemudian diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh penerbit Mizan Publishing. Setelah dicetak, didistribusikan ke seluruh toko buku. Salah satunya di toko buku di dekat rumah seseorang yang kemudian beli buku gua. Dan, dia ngereview kayak gini:

anay2

Pengalaman saya membaca sebuah novel grafis bisa dihitung dengan jari, baik jarimu sendiri, atau pun jari orang lain, serta jari pasangan masing masing. Kalau punya. Ini artinya saya belum banyak membaca novel grafis. Bahkan buku Anya’s Ghost ini bisa
dikatakan sebagai novel grafis pertama yang saya baca secara utuh. Iya, dahulu kala saya pernah numpang membaca beberapa lembar novel grafis di toko buku. Tapi waktu itu  saya belum punya ketertarikan yang akan menggerakkan tubuh saya untuk membeli buku
itu, meski saya akui, gambar gambar di dalamnya telah memukau pandangan saya sedemikian rupa. Ini aneh. Dan tambah aneh ketika saya baru menyadari keanehan itu bertahun tahun kemudian. Bagaimana bisa sesuatu yang telah membuat saya tertarik, tapi saya tidak ingin membelinya? Tidak masuk akal. Dan sekarang saya malah mencari cari novel grafis itu, yang sudah tak dicetak lagi. Ini seperti kau menemukan orang yang membuatmu bahagia, tapi lantas kau tak berhasrat untuk memilikinya. Ketika kau kemudian merasa kehilangan, orang itu sudah tak ada di sana. Kosong.
anya3
Kembali ke Anya’s Ghost. Yang menarik dari buku ini ialah interaksi para tokohnya yang sering kali kocak. Mereka adalah anak anak SMU yang masih labil. Jikalau bicara tidak pernah dipikir lebih dahulu. Asal saja. Membaca buku ini seperti kita kembali masuk ke dalam masa masa SMU. Banyak yang bikin senyum senyum sendiri kalau dibaca. Dan yang keren adalah terjemahannya. Buku ini diterjemahkan dalam bahasa gaul orang Jakarta. Pakai ‘elo gua‘. Bahkan ada kata ‘anjrit’ segala.
Sangat mudah untuk menyelesaikan Anya’s Ghost. Karena jalan cerita yang tidak terlalu rumit, plus sedikit twist menjelang akhir cerita. Juga karena dialog dialognya yang realistis, dan fleksibel. Tidak lebay dan tidak kaku. Dengan kata lain, bahasanya mengalir. Tapi bukan mengalir seperti sungai yang menenangkan, tapi seperti air keran di bak mandi yang lupa ditutup. Lebih ‘hidup’.
Somehow, buku ini mengingatkan saya dengan Lupus. Rasanya sama.

Cowo:Suara lu kedengeran seksi. Lu cantik nggak? Anya: Cantik buanget. Lebih cantik dari yang lu bayangin.

Cowo:Suara lu kedengeran seksi. Lu cantik nggak?
Anya: Cantik buanget. Lebih cantik dari yang lu bayangin.

Yap, itu dia reviewnya dari mamang yang sudah beli buku gua. Bagus khan? Maksud gua bukunya yang bagus, bukan reviewnya. Kalau reviewnya sih biasa aja. Awal awal review malah rada ribet bahasanya. Lagi mikir apa kali. *Kibas poni*
Jadi intinya buku gua itu bagus, enggak ribet, enak buat dibaca, ringan, enggak berat kaya badan gua. Cocok buat dibaca siapa saja. Eh, tapi yang masih dibawah umur mungkin perlu didampingi orang tua kali ya, secara ada yang kata katanya termasuk kasar gitu. Dan juga perilaku gua yang tidak baik untuk dicontoh oleh generasi muda Indonesia. Cielah.

Judul: Anya’s Ghost
Penulis: Vera Brosgol
Penerbit: Mizan Publishing
Rate: 4

Advertisements

11 thoughts on “Anya’s Ghost

Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s