Orang Orang Tanah

orang2tanah

Di bawah pohon, gadis kecil itu berdiri memegang keranjang bambu yang kosong. Angin menerbangkan syal yang melilit lehernya, beserta rambut dan gaun mungilnya yang berwarna merah jambu. Matanya menatap pohon ungu di depannya. Pada batang pohon itu, menyembulah dua pasang mata bercahaya yang menakutkan, seperti mata penyihir Orko dari negeri Trolla. Dua buah apel tergeletak begitu saja di samping kaki si gadis yang mengenakan sepatu pink seperti SNSD.
Ini saya lagi ngomongin cover buku terbarunya Poppy D. Chusfani,berupa kumpulan cerpen Orang Orang Tanah, dimana cover itu bisa jadi merupakan ilustrasi dari apa yang terjadi pada cerita pendek Orang Orang Tanah. Gadis itu namanya Alia. Kalau kamu namanya siapah? #ngokk

Cerita pertama diberi judul Jendela. Dinah menggunakan jendela sebagai media untuk melarikan diri dari kenyataan. Membuka jendela adalah hal yang paling ia sukai. Jendela itu istimewa, sebab ia serupa cahaya. Dinah tinggal bersama ibunya yang kerap dihajar oleh Bang Darwin. Jendela mengangkat tema kekerasan pada perempuan dalam sudut pandang anak kecil.

Ibu mengerang. Darah mengalir di mulutnya. Tangan Dinah berhenti bergerak. Tanpa mengalihkan tatapan ibu,Dinah mengulurkan tangan masuk ke jendela, merasakan angin lembut dan aliran tenaga di sana, seperti sengatan listrik.

Pelarian mengisahkan Lara, gadis remaja yang punya kemampuan khusus; bisa bernafas di dalam air, dan ketangkasan lainnya. Ia tergabung dalam Garda Laut, pasukan elit kerajaan yang bertugas menghalau bajak laut. Lara sepenuhnya mengabdi kepada Ratu penguasa kerajaan. Hingga suatu hari, ibunya menceritakan rahasia yang akan mengubah kehidupan Lara selamanya.
Saya suka ceritanya. Berharap bahwa cerita ini akan dilanjutkan menjadi sebuah novel tersendiri. Karena banyak hal yang menarik untuk diceritakan lebih lanjut lagi.

Ada banyak cara untuk menumbuhkan isnpirasi di kala mood menulis sedang rubuh. Salah satunya ialah dengan menyewa sebuah pondok terpencil di tengah hutan. Tanpa ada siapa pun di seklilingnya. Seperti yang dilakukan oleh tokoh utama dalam cerita Pondok Paling Ujung. Di sana, ia memang menemukan kembali hasrat menulisnya. Bersamaan dengan hal itu, perlahan ia juga diganggu oleh gambaran gambaran mengerikan. Misteri apa yang sebenarnya terkubur di dalam pondok itu?
Pondok Paling Ujung menjadi cerita paling mencekam. Dengan menggunakan pov orang pertama, membuat saya ikut pula merasakan ketegangan yang dialami tokoh aku.

Tiba tiba sesuatu menarikku ke belakang. Aku memekik nyaring dan terempas ke dinding.  Punggungku terbentuk keras, membuat seluruh tulangku berdenyut. Aku berusaha menggapai ke depan, namun tak mampu bergerak. Sangat ketakutan, aku mengeluarkan suara merintih.

Dan, cerita ini juga memberikan pelajaran bahwasanya tidak terlalu bijak seandainya kau memutuskan untuk menginap sendirian di tempat yang terpencil, hanya gara gara ingin mencari inspirasi. Ada banyak tempat untuk mencari isnpirasi. Cari yang sekiranya tidak dihuni oleh makhluk yang mengerikan.

Makhluk mengerikan itu misalnya ada dalam cerita selanjutnya; Bulan Merah. Masih menggunakan pov aku, Bulan Merah bercerita mengenai kegelisahan seorang pemuda yang mendapatkan bisikan malaikat bahwa dunia akan berakhir. Ia bukan pemuda biasa. Ia biasa dikurung di kamar jika malam tiba, dan hidup bersama orang tuanya yang menganut sebuah sekte aneh yang mewajibkan untuk mandi darah hewan jika berbuat kesalahan. Pemuda itu punya kekasih yang juga aneh. Ami, nama kekasihnya,  pernah diundang ke liang Pangeran Penghisap Darah. Suatu malam saat bulan purnama pemuda itu pergi menemui Ami. Tapi, kali ini ia dalam bentuk yang berbeda.

Dewa Kematian. Seorang wanita bernama Venus terbangun tanpa mengingat apa yang telah terjadi sebelumnya. Bersamanya, nampak seorang wanita yang terus saja mengajukan pertanyaan. Perlahan, ingatan Venus pun kembali hadir sekaligus menguak fakta mengerikan mengenai apa yang sebenarnya terjadi padanya.
Salah satu yang saya tak bisa menebak endingnya dengan benar. Misterinya tetap terjaga hingga akhir. Saya terus menebak siapa sebenarnya Venus, dan siapa wanita yang bersamanya sebenarnya itu.

Pintu Kembali dibuka dengan sebuah kalimat yang mengatakan bahwa tokoh utama telah mati. Ini berarti cerita selanjutnya terjadi di alam kematian. Cerita pendek ini mengisahkan tentang Kiran dan pengalamannya di dunia kematian. Di sana, ditemani oleh seekor anjing, Kiran berusaha menemukan sebuah pintu. Meski ia diganggu oleh serigala yang terus mengejarnya.
Cerita ini mungkin sudah bisa ditebak endingnya akan seperti apa. Hanya saja, alasan mengapa Kiran sampai dalam kondisi seperti itulah yang membuat cerita ini jadi lebih menarik.

Lelaki Tua Dan Tikus. Ini juga jadi cerita favorit saya. Bercerita mengenai Sari. Wanita yang sedang mencari pekerjaan. Ia tinggal sendiri di rumah susun. Ia bertetangga dengan seorang lelaki tua yang memelihara tikus. Mulanya Sari merasa risih kepadanya, hingga kemudian sebuah kejadian membuatnya mengubah sikap. Lelaki tua itu bukan lelaki biasa, begitu pula tikus tikus miliknya.
Meski ceritanya cukup ramai, tapi saya malah merasa cerita ini sepi. Mungkin ini karena tokohnya yang memang tak banyak bergaul dengan orang. Hidup di rumah susun yang sempit, dimana kebanyakan tetangga sibuk dengan urusan masing masing.

Sang Penyihir, tentu saja bercerita Keira yang dituduh sebagai penyihir. Sebenarnya Keira orang baik. Ia membantu mengobati sakit orang orang. Bahkan salah seorang pemuda jatuh cinta padanya. Tapi semua itu tak berhasil menghentikan penduduk desa untuk menyerbu rumahnya.  Cerita mengambil setting jaman dahulu, dimana prakter sihir dilarang dengan ancaman hukuman mati.

Buku ini ditutup dengan cerita Orang Orang Tanah. Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, Orang Orang Tanah bercerita tentang gadis cilik bernama Alia yang menginap di perkebunan milik ayahnya yang jauh dari kota. Alia membenci ibu tirinya yang kerap kejam kepadanya. Di perkebunan itu, Alia berkenalan dengan Edi, anak seorang pekerja. Edi bercerita bahwa di satu pohon di tempat itu, hidup orang orang tanah yang akan keluar pada tengah malam. Orang orang tanah itu suka memakan sesuatu yang hidup. Setelah menyaksikan sendiri orang orang tanah, Alia lalu berusaha memanfaatkan mereka untuk mencapai tujuan pribadinya.

Buku Orang Orang Tanah terdiri dari sembilan cerita pendek dengan tema yang cukup random. Menariknya, di antara cerita tersebut ada beberapa yang mengingatkan saya kepada Haruki Murakami dan Hayao Miyazaki. Pada Lelaki Tua Dan Tikus, lelaki tua di sana mengingatkan saya kepada Nakata  di Kafka On The Shore. Kesendiriannya, serta bakat uniknya. Lelaki tua di sini berhubungan dengan tikus, sementara Nakata bisa ngomong sama kucing. Pondok terpencil di hutan mengingatkan saya kepada pondok tempat Kafka tinggal untuk sementara. Dan suasana alam di Orang Orang Tanah sedikit mirip dengan rumah tempat Mei bertemu dengan Totoro di film My Neighbor Totoro.

Pada akhirnya, buku ini tampil cukup legit untuk dinikmati dengan tema yang bervariasi, dan tokoh tokohnya yang cukup unik. Tapi sebaiknya tidak dibaca oleh mereka yang masih dibawan umur, meski covernya terlihat imut. Orang Orang Tanah, sebuah buku yang sayang untuk dilewatkan.

Judul: Orang-orang Tanah
Penulis: Poppy D. Chusfani
Halaman : 200
Penerbit: Gramedia Pustaka  Utama
Rate: 4

Advertisements