The Gate

the-gates

Jingga duduk mencangkung di dahan pohon nangka. Tangan kirinya memegang buku. Tangan kanannya mengambil buah rambutan, dan melemparnya ke arah Basman yang berdiri di bawahnya.
Pletuk!
Basman mendongak. Melotot.
‘Bas, sini naik!’ Pinta Jingga.
‘Panggil nama saja bisa kali, enggak usah pakai nimpuk segala.’ Balas Basman sewot.

Tapi, ia naik juga ke pohon.
Jingga lalu menggeser tubunya sehingga Basman bisa duduk di sebelahnya. Di dahan paling besar itu, mereka akhirnya duduk berdua.
‘Kamu dapet rambutan dari mana?’ tanya Basman.
‘Apa, Bas?’
‘Itu rambutan yang buat nimpuk aku. Dapet dari mana, khan ini pohon nangka.’
Jingga menolehkan wajah, menunjuk pada tas kresek hitam yang menggantung. Basman meraih tas kresek itu. Di dalamnya terdapat macam macam buah. Ada rambutan, pisang, jeruk, apel dan semangka utuh.
‘Buah semua nih. Enggak ada gorengannya.’
‘Enggak Bas. Aku lagi suka ngemil buah. Biar wajahku jadi kenceng.’ Sambil berkata demikian, Jingga mencubit pipinya sendiri. Basman mengernyit.
‘Ih, kok ngelihatnya gitu. Suka yaa..’
Basman menaruh tas kresek di pangkuan dan memasang ekspresi muntah. ‘Ini kok adasemangka utuh segala?’ tanya Basman kemudian.
‘Oh itu. Tadinya buat nimpuk kamu Bas, kalau saja kamu enggak noleh pas aku timpuk pakai rambutan.’
Basman menarik nafas panjang. ‘Jingga, untuk satu ini aku punya sebuah lagu buatmu.’
‘Apa Bas?’
‘TEGANYA TEGANYA TEGANYA…HOOOO…’
‘Basman tidak!!!!!!!’

Buku yang dipegang Jingga berpindah dengan cepat ke wajah Basman. Dengan sigap Basman menangkisnya dengan tangan. Bahkan Basman berhasil merebut buku itu. Buku itu berjudul The Gates yang ditulis oleh John Connolly. Gerbang neraka, akan segera terbuka. Basman membacanya dalam hati.
‘Bagus enggak?’
‘Bagus dong. Justru aku mau ceritain buku ini ke kamu.’
‘Sekarang?’
‘Bukan, tahun depan.’
‘Oh, kalau gitu aku pergi dulu ya.’
Tangan Jingga mengepal gemas.’ Ya sekarang lah, Basman pinterrr!!!’
Matanya melotot. Tapi Basman tenang tenang saja. Malahan ia kemudian berkata;
Jingga, kalau kamu melotot gitu. Aku jadi ingat sebuah judul buku.’
Jingga melotot semakin lebar. Tapi kali ini bukan karena marah tapi penasaran. ‘Oh ya, judul buku apa?’
‘Judulnya, mata yang enak dipandang. Kaya mata kamu barusan.’
‘Wahahahaha..’
Jingga tergelak. Senang. Tidak jadi marah. ‘Nanti aku ceritain deh bukunya. Yang nulis Ahmad Tohari. Mau enggak?’
Jingga mengangguk. ‘Tapi nanti ya, sekarang aku mau cerita buku The Gates dulu.’
‘Gini ceritanya’, Jingga mulai bercerita,’jadi ada anak kecil namanya Samuel. Samuel punya anjing namanya Boswel. Suatu hari mereka memergoki tetangga mereka, Mr. & Mrs Abernathy berserta temannya sedang melakukan ritual pemanggilan setan.

Ritual tersebut kemudian menjadi pembuka jalan bagi Sang Maha Dengki untuk datang ke bumi. Sang Maha Dengki itu semacam rajanya Iblis. Akibat ritual itu, Mr. & Mrs Abernathy berserta temannya berubah menjadi bukan manusia lagi. Aku bacain quotenya Bas.

Sebuah tentakel, permukaannya dipenuhi organ penghisap tajam yang bergerak gerak bagaikan mulut mulut, membelit kaki sosok itu untuk sesaat. lalu tersedot ke dalam tubuh utama. Kulit manjadi putih, kuku berubah dari kuning menjadi merah cat kuku.
dan sesuatu yang hampir menyerupai Mrs. Abernathy berdiri di depan mereka.’

Jingga berhenti bicara. Ia ingin melihat bagaimana tanggapan Basman terlebih dahulu. Tidak tahu sedang diperhatikan, Basman asik mengambil buah dari tas kresek. Jingga melanjutkan reviewnya.

‘Kemudian Samuel pulang ke rumah. Ketika ia memberitahu ibunya tentang peristiwa itu, ibunya tidak percaya. Hingga kemudian setan setan itu benar benar datang ke bumi. Samuel pun harus berusaha untuk melawan setan setan itu dibantu oleh dua orang
temang bermainnya, dan Nurd. Nurd itu setan yang tertarik ke bumi secara tidak sengaja. Gitu Bas ceritanya.’

Basman sedikit menolehkan kepalanya. ‘Hm, temanya sudah umum ya. Anak kecil yang menyelamatkan dunia.’
‘Memang, tapi tahu enggak Bas..’
‘Enggak.’
‘Yee, main samber aja. Kan aku belum selesai ngomong. Jadi gini, buku ini bagus. Enak dibaca. Ringan gitu, bukan bacaan yang bikin dahi berkerut.’
‘Pasti ringan lah. Beratnya saja enggak sampai seratus kilo..’
Basman menggantung perkataannya. Ia baru menyadari bahwa ia telah mengucapkan kata yang tidak boleh dikatakan kepada Jingga. Ia tidak boleh menyinggung berat di atas 50 kilo. Lebih satu kilo saja sudah gawat. Apalagi sampai seratus kilo.

Tapi semua sudah terlambat.
‘Oh, jadi menurutmu aku gendut gitu Bas!!’
Basman gelagapan.’ Bb..bukan, maksudku buku itu yang beratnya tidak sampai seratus kilo.’
‘Tuh kan. Malah ngatain berat badanku seratus kilo.’
‘Enggak Jingga manis.’
‘Eh ngatain gendut lagi. Dasar kamu yah Bas!!’

Tanpa kompromi.
Basman pusing. ‘Yang ngatain kamu gendut itu siapaaa..
‘Banyak alasan! Kamu ngajak ribut ya Bas!’
Jingga berdiri di dahan pohon, lalu melancarkan tendangan ke muka Basman. Basman menjatuhkan diri ke tanah. Jingga pun turun. Sambil salto ia mengirim tendangan lagi. Basman menghindar lagi. Jingga melayangkan pukulan bertubi tubi. Begitulah
akhirnya mereka berkelahi. Tapi jangan khawatir, mereka baik baik saja kok. nanti juga baikan lagi.

***

Berhubung sedang berkelahi, maka saya yang akan melanjutkan review The Gate. Ini versi saya. Sebenarnya cukup mengejutkan ketika buku ini ternyata mampu tampil jenaka. Kejenakaan itu muncul dari nama nama setan yang lebay, tingkah laku Nurd
dengan bawahannya di negeri pembuangan, Nurd dengan orang orang di bumi. Bahkan setan setan yang seharusnya mengerikan, malah dibikin kocak dengan tingkah lakunya menghadapi orang orang yang ingin dibunuh. Akibatnya ialah, saya kehilangan momen untuk merasa ngeri, meski ada beberapa adegan yang cukup gore.

Di buku ini juga disinggung mengenai penciptaan dunia, serta CERN, tempat penelitian tentang materi. CERN juga ada dibuku Angel & Demon-nya Dan Brown. Hanya menurut saya, adanya plot CERN ini tidak terlalu berpengaruh terhadap jalan cerita. Mungkin dibuat agar terlihat lebih ilmiah. Tidak tahu juga.

Pada akhirnya The Gate termasuk buku yang menarik, meski tidak ada momen momen yang membekas dalam hati. Buku ini ditulis oleh John Connolly. Ia juga menulis The Books OF Lost Things, sebuah fantasi yang dark yang berhubungan dengan dongeng dongeng dunia.

Judul : The Gates
Penulis : John Connolly
Halaman : 320
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Rate: 3.5

Advertisements

Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s