Kaki yang Terhormat

kakiygterhormat

Judulnya ngingetin saya sama puisinya Pablo Neruda yang kira kira begini bunyinya:

But I love your feet /only because they walked /upon the earth and upon /the wind and upon the waters, /until they found me

Keduanya sama sama menjunjung tinggi kaki, ketimbang bagian tubuh lain yang sering kali dijadikan sebagai inspirasi sebuah karya sastra. Puisinya Neruda tentu saja romantis, dan hal itu membuat saya jadi punya pemikiran bahwa jangan jangan Kaki yang Terhormat juga tak berbeda meski kaki yang terhormat tentu saja agak sedikit berbeda dengan kaki yang dicintai.

Kaki yang dicintai adalah milik sang kekasih, sementara kaki yang dihormati bisa milik siapa saja. Milikmu, milikku, milik kita semua berhak untuk mendapatkan penghormatan, apalagi jika kamu adalah seorang pembina upacara.

Cerita tersebut ada di urutan ketujuh dari dua belas cerpen yang ada di buku kumpulan cerpen yang ditulis oleh Gus Tf Sakai ini. Saya belum kenal beliau secara mendalam, tapi saya tahu cerpen cerpen beliau sudah wara wiri di surat kabar, dan saya pun meyakini bahwa saya sudah pernah membaca salah satu cerpen itu, meski saya gagal untuk mengingat apa judul cerpennya. Terus terang saya lupa. Enggak apa apa ya saya lupa, dari pada saya joget.

Cerpen pertama judulnya Kulah. Kulah bisa disebut juga mata air. Mengisahkan tentang Marni yang hendak pergi ke mata air yang dulunya sering disebut sebagai mata air Marni. Marni ingin tahu, mengapa tempat itu bisa menjadi penyebab keponakannya meninggal. Cerpen ini adalah sebuah kritik terhadap pengrusakan lingkungan yang disebabkan oleh kemajuan jaman. Dengan flashback yang bergantian, saya jadi ikut merasakan kegelisahan yang dialami Marni, serta rasa kehilangannya.

Lalu ada Upit yang dipaksa oleh orang tuanya untuk menikah di usia muda meski ia masih ingin bersekolah. Upit dinikahkan dengan majikannya yang umurnya hampir empat puluh. Kehidupan rumah tangga Upit terusik ketika ada seorang laki laki yang mengontrak di depan rumahnya. Mulanya saya mengira akan membaca sebuah kisah cinta segitiga, tapi saya salah. Cerpen dengan judul Upit ini ternyata tak hanya berkisah tentang cinta, tapi juga tentang perilaku orang orang yang masih melihat bukan ‘apa’ tapi ‘siapa’?

Cerpen Kaki yang Terhormat sendiri berkisah tentang seorang nenek yang begitu menghargai kakinya. “Kaki! Lebih penting pelihara kaki!” katanya kepada cucu cucunya. Kemana mana nenek lebih suka jalan kaki. Suatu hari ada kabar bahwa anaknya Harun, sudah menjadi orang kaya di kota. Bahkan naiknya pakai helikopter. Nenek pun senang, dan kabar itu cepat tersebar di kampungnya. Hingga kemudian terdengar kabar yang mengejutkan.

Kurang dahsyat sebenarnya cerpen ini sebagai sebuah cerpen yang jadi judul buku. Biasa saja. Saya lebih memilih cerpen Kak Ros sebagai cerpen yang paling saya suka. Kak Ros ceritanya tentang penulis yang menginap di kos kosan temannya. Suatu hari ia melihat Kak Ros, perempuan setengah baya sedang membungkuk menyemprot rimbun daun. Tapi, anehnya wajahnya nampak sangat dekat dengan daun itu, dan bibirnya terbuka seperti sedang bicara. Kata temannya, Kak Ros memang sedang bicara dengan daun daun. Tentu saja penulis itu enggak percaya dan perlahan ia terus memikirkan Kak Ros.

Saya suka ide perempuan yang bisa bicara dengan tanaman. Dan, endingnya membuat cerpen ini jauh lebih baik. A dark twist. Cerpen terbaik di buku ini. Dan, judulnya memang kelewat sederhana. Mungkin akan lebih greget kalau judulnya diganti jadi ‘Perempuan yang Bicara Dengan Daun’.

Dan ada cerpen cerpen lainnya yang semuanya sudah pernah dimuat di surat kabar pada rentang waktu 1986 – 2011. Cerpen cerpennya kebanyakan mengambil budaya Sumatra, lengkap dengan istilah istilahnya. Ditulis dengan kalimat yang cenderung pendek pendek, dengan tema yang tidak jauh dari masalah kehidupan sehari hari. Kaki yang Terhormat sayangnya gagal untuk menjadi sebuah buku yang memorable secara keseluruhan. Alur cerita mau pun pemilihan kata terkesan biasa saja. Untungnya cerpen tersebut tidak terlalu panjang sehingga dengan cepat bisa diselesaikan.

 

Judul:  Kaki yang Terhormat
Penulis: Gus Tf Sakai
Penerbit:  Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 117
Rate: 2.5

Advertisements

Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s