Untunglah, Susunya

milk3

Untunglah, ayah di buku ini bukan Bang Toyib, jadi si adik dan kakak tak perlu menunggu hingga tiga kali lebaran tiga kali puasa sampai ayah mereka pulang dari membeli susu. Susu di rumah habis, dan makan sereal tak bisa tanpa susu. Si ayah pun pergi beli susu. Karena menunggu adalah pekerjaan yang membosankan, apalagi kalau lagi lapar, maka kepergian si ayah terasa lama sekali. Seperti halnya bertahun tahun, bahkan berabad abad. Padahal tidak selama itu. Jelas, masih lamaan Bang Toyib. Hingga si adik dan kakak berpikir untuk makan acar saja sebagai sarapan.

Untunglah, sebelum kedua anak tersebut benar benar makan acar, si ayah pulang. Ayah kemana saja, kok lama, begitu tanya si adik. Kemudian si ayah pun merasa perlu untuk menjelaskan. Daripada mengeluarkan alasan yang umum, misalnya:

  1. Oh, ayah tadi ketemu teman lama, terus ngobrol keterusan.
  2. Tadi si pemilik tokonya lagi pergi, jadi ayah terpaksa menunggu.
  3. Begini Nak, ayah lupa bawa uang, jadi ayah tadi nyuci piring, nyapu nyapu, sama nguras bak mandi dulu sebagai pengganti uang buat beli susu.

Si ayah malah bercerita seperti ini:

“Aku membeli susu,” kata Ayah. “Dan ya, aku menyapa Mister Ronson dari seberang jalan yang akan membeli Koran. Aku keluar dari took pojok, dan mendengar suara aneh seolah datang dari atasku, suaranya seperti: dhum… dhumm… Aku mendongak, dan kulihat piringan perak besar menggantung di atas jalan Marshal.”

Dengan kata lain, si ayah melihat UFO.

Untunglah, si kakak tidak langsung menuduh si ayah banyak alasan. Ia malah berkata bahwa hal itu belum aneh. Lalu si ayah pun melanjutkan ceritanya, yang tambah lama tambah aneh. Si ayah di angkat masuk ke dalam piring terbang yang ternyata berisi alien yang ingin menata ulang bumi. Sebelum disiksa oleh alien itu, si ayah keburu kabur lewat sebuah pintu aneh. Pintu itu ternyata kalau dibuku bisa mengacaukan ruang dan waktu. Dan dimulailah petualangan si ayah, yang setelah membuka pintu darurat itu malah kecebur ke laut di jaman bajak laut. Lalu di selamatkan oleh seorang professor dengan mesin waktunya. Profesor itu bernama Steg, dan ia seekor dinosaurus.

Untunglah, meski Neil Gaiman menceritakan petualangan si ayah dengan begitu absurd, dan tidak masuk akal, tapi  ceritanya sungguh fresh dan orisinil. Profesor dengan tubuh dinosaurus, alien yang hoby renovasi planet dengan mengganti semua tumbuhan dengan flamingo plastik, dan awan awan dengan lilin plastik, dan botol susu yang menyelamatkan alam semesta.

Untunglah, imajinasi seliar itu dilengkapi dengan ilustrasi yang hampir ada di setiap halaman. Dan ilustrasinya itu keren keren. Bisa melihat bagaimana bentuk Profesor Steg dan mesin waktunya, si ayah dan botol susunya, alien alien peñata lingkungan dan lainnya. Bukunya termasuk tipis, enggak perlu waktu lama untuk menyelesaikannya.

Untunglah, Susunya secara keseluruhan cukup menghibur, meski mungkin time paradoksnya agak membingungkan buat anak anak. Saya pribadi tidak terlalu suka, terlalu gurih rasanya. Ringan, tanpa ampas. Yang paling saya suka itu ilustrasinya, serta penempatan jenis dan ukuran font yang berbeda beda. Lebih enak dilihat. Yang masih mengganjal itu sebenarnya judul. Untunglah, Susunya. Semacam tidak enak buat diucapkan, seperti ada yang mengganjal dan tidak kompak. Seperti bait puisi Rako Prijanto; seperti berjelaga jika kusendiri. Entahlah.

Judul: Untunglah, Susunya
Penulis: Neil Gaiman
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman:128
Rate: 2,5

Jpeg

Advertisements

One thought on “Untunglah, Susunya

Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s