The Wedding Eve

????“Apa yang lebih besar dari cinta?”

“Hih, pagi pagi kok ngomongin cinta.” Celetuk Roy sambil menatap jendela kelas. Burung gereja hinggap di dahan pohon. Cahaya pagi menyinari ruang kelas dari lubang angin. “Iya, pagi pagi kok ngomongin cinta.” Sinta ikut ikutan bicara. Santi yang duduk di sampingnya menganggukkan kepala, sambil mengusap dagunya. Ikut setuju.

“Memangnya kenapa kalau pagi pagi ngomongin cinta?” Tanya Pak Guru sambil tersenyum, sebelum melanjutkan; “ah saya tahu, kalian pasti lagi jomblo ya, jadi malas ngomongin cinta.”

“Hih, kaya Pak Guru punya pacar saja.”

“Saya sudah punya pacar kok.” Jawab Pak Guru kalem. Seisi kelas mendadak heboh. Pak Guru punya pacar. Luar biasa.

“Eleh eleh, Munah enggak nyangka euy. Siapa namanya Pak?” Tanya Munah dengan mata berbinar.

Pak Guru terbatuk. “Itu, juga saya belum tahu.”

“Loh, maksudnya gimana Pak Guru. Kok enggak tahu namanya.”

Pak Guru menjawab dengan malu malu. “Soalnya masih dititipin sama Tuhan.”

Eeeehhhh!!!!!!!!!!

“Pak Guru delusional ih!” Kata Kenes sambil menahan tawa.

“Itu namanya oportunis, Kenes. Law of attraction, gitu. Sudah sudah, kenapa jadi ngomongin pacar sih.”

Pak Guru mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah komik.

“Jadi, saya akan mengulang pertanyaan tadi, dan dilarang protes. Apa yang lebih besar dari cinta? Mengapa saya menanyakan pertanyaan itu. Karena komik ini. The Wedding Eve. Komik yang akan kita bahas pada pertemuan kali ini.”

Pak Guru mengangkat komik itu dan mengitari kelas sehingga seluruh murid bisa melihat dengan jelas. “Sudah ada yang tahu, apa yang lebih besar dari cinta?”

“Saya tahu!” Glenda mengangkat tangan.

“Apa jawabannya, Glenda?”

“Kasih sayang, Pak Guru.”

“Betul sekali, Glenda. Kamu benar. Bapak bangga menjadi guru kamu.”

“Itu mah pertanyaan gampang, Pak Guru. Nenek nenek juga tahu.”

“Bohong kamu, Glenda. Nenek saya enggak bakal tahu begituan. Kalau nanya Jodha Akbar, baru tahu.”

Protes Firas. Glenda cuma senyum senyum cemberut. Tidak ingin mendebat.

“Ya sudah, Pak Guru akan mulai membahasnya. The Wedding Eve ialah antologi komik yang dikarang oleh Hozumi. Di dalamnya berisi enam cerita, ada satu cerita yang dijadikan dua part. Meski komik ini berjudul malam pernikahan, tapi tema tiap komik tidak melulu tentang malam pernikahan. Cerita pertama punya judul sama dengan komik ini, The Wedding Eve. Ceritanya simple, tentang malam terakhir seorang adik dan kakak perempuannya yang akan menikah keesokan harinya.

Tidak ada twist, atau hal hal yang menegangkan. Isinya hanya keseharian kakak beradik tersebut. Mulai dari mencoba baju pengantin, sampai makan malam berdua. Tapi, hal yang sederhana itu sudah cukup untuk memberikan kisah yang menyentuh hati. Ditutup dengan ending yang mengharukan. Ternyata malam pengantin punya momen sedihnya sendiri, ketika malam itu menjadi malam terakhir bagi kita untuk bersama dengan keluarga, karena keesokan harinya sudah tidak sama lagi. Tapi tentu saja, itu kesedihan yang melegakan, yang harus terjadi, untuk menuju pada kebahagian yang lain.”

Pak Guru membuka halaman komik, dan menunjukan pada seisi kelas.

????

“Cerita kedua tidak lagi bercerita tentang malam pernikahan, tapi tentang hubungan ayah dan anak, judulnya Reunion At Azusa Number 2. Sama kaya cerita pertama, ini juga genrenya slice of life. Ceritanya tentang anak perempuan berumur tujuh tahun, Azisa, yang didatangi oleh ayahnya. Azusa sangat senang berduaan dengan ayahnya. Kemudian pelan pelan diketahui bahwa, ayah Azusa sudah bercerai, dan hanya sekali sekali datang menemuinya. Makan es krim bareng, dan menjemur pakaian. Melihat hubungan ayah anak itu sungguh menghangatkan. Ada sedikit twist di cerita ini, yang sungguh tak mengenakkan hati. Ini gambar Azusa dan ayahnya.”

????

“Yak, itu adalah dua cerita favorit dalam komik ini. Yang enggak bosan buat dibaca, meski terus terang saja bikin perasaan jadi enggak enak. Jadi galau, begitu.”

“Gegana dong, Pak!” Mahmud sekonyong bicara.

“Apa itu gegana? Penjinak bom.”

“Bukan. Itu lho Pak, lirik lagunya Cita Citata, gegana, gelisah galau merana.” Disusul suara tawa seisi kelas.

“Bisa aja kamu.”

“Ada lagi yang namanya gegaruk, Pak Guru.” Kali ini Samsul yang berteriak.

“Apa itu, Sam?”

“Gegaruk, gelisah garuk garuk.”

Tawa kembali menggelegar.

“Sudah sudah. Tenang anak anak. Pak Guru akan melanjutkan. Selain dua cerita tadi, di komik ini juga ada cerita mengenai dua orang sahabat yang kembali bertemu pada pemakaman seseorang dari masa lalu mereka, kemudian ada cerita seorang kakak yang menghadiri pernikahan adiknya di sebuah desa. Kakak adik ini punya seorang ibu, yang berupa orang orangan sawah. Ceritanya agak sedikit berbau fantasi. Judulnya Dreaming Scarecrow. Cerita ini yang dibagi menjadi dua bagian.

Kemudian ada cerita seorang novelis dengan burung gagak. Dan yang terakhir, cerita yang paling sedikit dan rada enggak jelas, tentang keluh kesah seekor kucing rumahan. Dan baru kali ini saya menemukan gambar kucing, tapi enggak imut sama sekali.”

“Masa sih, Pak. Kucing kan selalu imut. Diam imut. Marah imut. Tidur imut. Bahkan, lagi boker juga imut.” Kata Vitra.

“Emang kucing lagi boker itu imut, Vit?” Rustam bertanya. Vitra mengangguk, “emang kamu enggak pernah lihat kucing boker?”

“Pernah sih, tapi aku enggak lihat mukanya.”

“Lah, emang kamu ngeliatin apanya?”

“Pantatnya.”

Vitra agak begidik mendengarnya, dan mulai hari itu ia tidak sama lagi memandang teman sekelasnya itu. Kemudian Pak Guru memperlihatkan halaman komik, sehingga mereka bisa menyaksikan kucing yang tidak imut itu seperti apa. Dan ternyata memang tidak imut, cenderung creepy.

“Dan, pada akhirnya komik The Wedding Eve ialah sebuah antologi komik dengan kisah kisah yang menghangatkan sekaligus menyedihkan, yang akan memberikan sebuah contoh bagaimana sebuah kasih sayang ternyata lebih besa daripada cinta. Betapa kasih sayang mampu mengalahkan segalanya. Mungkin bagi yang sering menonton film film Jepang, akan familiar dengan jenis cerita komik ini. Jadi, ada pertanyaan?”

Tapi tidak ada yang bertanya. Dan pelajaran hari itu pun selesai. Burung gereja sudah pergi dari dahan pohon. Hari sudah beranjak siang.

Judul: The Wedding Eve
Penulis: Hozumi
Penerbit: Level Comics
Jumlah Halaman:190
Rate:4

Advertisements

Misteri Patung Garam

misteriptnggaramMulanya saya tertarik dengan covernya yang cukup artsy, bisa dibilang minimalis tapi asik. Ditambah dengan dengan sinopsis di belakang buku, sudah lebih dari cukup buat saya memutuskan untuk membacanya. Novel pembunuhan ini unik, bahkan sepengetahuan saya belum pernah ada di khasanah pernovelan Indonesia, karena korbannya ditemukan telah menjadi patung garam, tubuhnya diolesi dengan garam sepenuhnya. Garam? Kenapa harus garam? Bukan kecap asin, Nutela, Firdaus Oil, atau yang lainnya?

Kemudian saya baca, dan kampret rebus, novel ini bagus. Akhirnya, terakhir kali saya baca novel thriller lokal yang bagus itu Katarsis nya Anastasia Aemilia. Meski berbeda tema, tapi Katarsis dan Misteri Patung Garam sama sama menghanyutkan.

Surabaya. Seorang pianis wanita ditemukan tewas di rumahnya, terduduk di depan piano, memakai gaun merah, senada dengan rambut palsu yang sengaja dipakaikan oleh pembunuhnya. Seluruh tubuhnya putih oleh lapisan garam. Sebuah simbol aneh tertulis di atas piano menggunakan garam.

“Dia mirip sekali patung.”

“Seluruh tubuhnya ditempeli dengan adonan garam dan tepung yang dicampur air hingga kalis.”

“Sepertinya adonan garam itu mengeras.”

“Tentu saja, sebab pembunuhnya memanggangnya di dalam oven.”

Kasus itu ditangani oleh Inspektur Kiri Lamari yang baru saja ditugaskan di Surabaya. Ia dibantu oleh Inspektur Saut. Inspektur Kiri Lamari dikenal sebagai polisi yang teliti, dan sudah memecahkan kasus yang gagal dipecahkan oleh polisi yang lain. Mereka berdua kemudian melakukan penyelidikan, sementara itu, si pembunuh pun mulai mencari mangsa yang lain. Korban korban berjatuhan. Semuanya berjenis kelamin perempuan dengan profesi yang berbeda beda. Sudah mapan secara finansial, dan dikenal sebagai perempuan baik baik. Mengapa mereka dibunuh? Siapa yang membunuh?

Inspektur Kiri Lamari dituntut untuk menyelesaikan masalah tersebut, dan juga masalah pribadinya dengan ayahnya yang berhubungan dengan kematian tidak wajar ibunya.

Fokus cerita buku ini memang kebanyakan ada di kisah Kiri Lamari, meski tokoh yang lain juga tak luput untuk diceritakan. Buku ini dibagi menjadi prolog, tiga puluh empat bab inti cerita, dan sebuah epilog. Awalnya saya merasa prolognya agak dipaksakan agar sesuai dengan judul, tapi setelah bukunya selesai dibaca, mungkin prolognya ingin sedikit memberi gambaran betapa sakitnya si pembunuh. Di prolognya tertulis, korban dihukum gara gara menyanyikan lirik sebuah lagu tidak sesuai dengan kemauan pembunuh. Lirik lagu milik Oasis, Don’t Look Back In Anger. Korban bersalah karena menyebutkan kata Sally, dan si pembunuh menginginkan Salty, bukan Sally. Padahal lirik yang benar ialah Sally. Tapi karena si pembunuh terobsesi dengan garam, diganti dengan Salty.

Secara keseluruhan, Misteri Patung Garam ialah sebuah thriller yang apik, tokoh tokoh yang cukup memorable dan menggelitik, terutama si Ireng, dan interaksinya dengan Kiri yang selalu membuat tersenyum, juga ada Inspektur polisi sangar yang hoby nonton Despicable Me, (pakai niruin ngomongnya minion pula :D), serta ahli forensik yang demennya dengerin K-pop. Salah satu kelebihan buku ini memang cukup lucu, bahkan ada bagian yang membuat saya tertawa ngakak. Meski itu tak banyak, which is good. Karena tidak sampai merusak ketegangan yang dibangun sejak awal.

Sayangnya, saya agak sedikit terganggu dengan epilognya. Apa buku ini akan dibikin sequelnya? Kalau iya, saya masih bisa memaklumi epilog tersebut, meski bukan hal yang baru. Tapi, kalau memang tidak akan dibikin sequel, mbok ya enggak usah dibikin epilognya. Buat apa? Memang twist, dan bikin orang penasaran, tapi terlalu tiba tiba dan merusak jalinan manis yang sudah ada sebelumnya. Tapi, semoga saja memang akan dibikin sequel.

Akhirnya, Ruwi Meita sudah berhasil membuat thriller lokal yang menegangnya, dibumbui dengan kisah cinta yang tidak berlebihan, humor yang menggelitik, serta interaksi antar tokoh yang natural dan berkesan. Ada beberapa bagian yang agak kepanjangan, misalnya cerita mengenai kisah segi tiga biru, serta epilognya yang menuntut sebuah jawaban, tapi overall, Misteri Patung Garam terlalu menarik untuk diabaikan. Kampret rebus.

Judul: Misteri Patung Garam
Penulis: Ruwi Meita
Penerbit: GagasMedia
Jumlah Halaman:276
Rate:3,9