Feeds:
Posts
Comments

Archive for November, 2017

Covernya membuat saya menggumamkan lagu Padi; indah, terasa indah. Gambar perahu di tepi hutan bakau. Di tengah ada gubuknya. Laut tenang. Bulan sabit melayang diam. Gambaran itu dibingkai sebuah lingkaran. Seolah olah sedang ditatap melalui jendela kapal selam, melalui teropong, bahkan kue semprong. Atau melalui mata seorang perempuan yang bulat seperti bola ping pong. 

Tanjung Kemarau dibuka sama pasangan selingkuh guru madrasah dengan biduan dangdut. Walid, si guru madrasah menyuruh Ria, sang biduan segera minggat karena sudah siang. Takut dipergoki warga. Bisa berabe. Walid dan Ria selingkuh bukan karena cinta. Keduanya juga sudah ada yang punya. Walid sudah tunangan, dan Ria istri orang. Ria mau jadi selingkuhan Walid karena ingin dengar Walid mendongeng. Luar biasa. Dongeng apa yang bisa membuat wanita selingkuh dari suaminya? Yang jelas bukan dongeng Kancil nyolong Timun. Tapi kamu bisa menebaknya dengan membaca judul bab ini; Syahrazad Hujan Tempias.

Buku ini memang terbagi jadi enam belas bab. Judul tiap babnya menarik sangat. Seperti bab kedua; Perempuan yang Menyusui Kelelawar. Enak bener ya kelelawarnya. Perempuan itu namanya Nyai Rasera. Ditakuti dan dihormati warga sekitar. Tinggal sendiri dalam gubuk ditengah hutan bakau. Banyak cerita ganjil tentangnya. 

Nyai Rasera tak pernah menikah. Ia mengabdikan hidupnya kepada jin pohon bakau. Dan kelelawar kelelawar itu adalah buah cintanya dengan sang lelembut. Tiap senjakala meredup, ia telanjang di jantung hutan bakau dan menyerahkan kedua puting susunya kepada binatang binatang hitam itu. Dengan sekali isyarat, ribuan makhluk bersayap itu terbang mengerubungi tubuhnya, meminta jatah hangat seorang ibu. 

Begitulah kronologis peristiwa menyusui kelelawar. Pertanyaannya, jika Batman kebetulan ada di situ, ia akan ikut menyusui juga? Apa Batmannya malah sok keren terus nanya gini; Nyai Rasera, do you bleed? 

Oke sip. Lanjut.

Bab kedua ini bukan sepenuhnya menceritakan Nyai Rasera. Ada Walid dan teman karibnya Kholidi yang mendatangi tempat Nyai Rasera untuk memberi tahu bahwa Walid akan jadi tim sukses bakal calon kepala desa, Ra Amir. Walid bersedia jadi tim suksesnya karena Ra Amir menjanjikan program perluasan hutan bakau. Masalahnya, Nyai Rasera punya kenangan buruk dengan Ra Amir. Kenangan yang sangat buruk, sampai sampai kalau ditaruh di depan cermin, maka cerminnya kalang kabut melarikan diri. Kenangan buruk apakah itu? Begitu pula Walid dan warga lainnya juga tak suka Ra Amir. Intinya, Ra Amir bukan contoh pemimpin yang baik. 

Bab selanjutnya dibuka dengan kalimat; “Sebentar lagi aku akan melihat Tuhan.” Yang ngomong namanya Haji Badruddin, dan ia bukan dalam kondisi mau mati. Sehat wal afiat. Tapi memang benar ia akan melihat Tuhan. Saya tersenyum, terharu sewaktu mengetahui apa yang dimaksud oleh perkataan Haji Badruddin. Membuat saya seperti butiran debu yang diterbangkan kipas angin 50 inch. Apa yang Haji Badruddin lakukan untuk bisa melihat Tuhan ternyata sangatlah sederhana dan bisa dilakukan oleh siapa saja. Mungkin tak sebanyak yang dilakukan olehnya, tapi intinya sama saja. Haji Badruddin sudah mencapai tahap kewalian, yang beribadah bukan cuma dengan tubuhnya, tapi dengan hatinya, tarikan nafasnya, segala denyut kehidupannya. Dan ia mulai bermimpi. Salah satu mimpinya ialah ketika di dalam mimpi ada yang berkata; “Kau telah meneguk habis Lailatul Qadar sebelum waktunya.” Ini membikin saya sedih. Ingin seperti itu. 

Mimpi Haji Badruddin berikutnya menjadi semacam pencerahan baginya. Ia lantas mengajak orang orang untuk melakukan apa yang ia anggap sebagai pencerahan, dan terbentuklah Tarekat Nabi Kesturi, sekaligus jadi judul bab ketiga ini. Masih ada lagi yang membuat dada saya tersentak, waktu Haji Badruddin diminta oleh Gopar untuk menunjukkan mukjizat. Yang Haji Badruddin lakukan ternyata bisa dilakukan oleh siapa saja asal ada kemauan. Kamu bisa. Saya bisa. Kita semua bisa. 

Bab selanjutnya tidak saya ceritakan. Dan ketiga cerita di atas hanya sedikit dari apa yang terjadi sebenarnya. Yang pasti, nanti akan terlihat bagaimana busuknya manuver manuver salah satu calon kepala desa. Diceritakan juga mengenai masa lalu Gopar sebagai bajing hingga ia bertemu dengan Ria dan menikahinya. Ria yang juga selingkuh dengan Walid. Enggak spoiler kok ini, dari awal sudah dikasih tahu. Juga mengenai percintaan Walid dengan Risti, pacar waktu kuliah. 

Ada banyak isu yang diceritakan Tanjung Kemarau. Isu isu yang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kehidupan nyata. Tentang kerakusan seseorang dengan kekuasaan. Sosok yang dipuja puja secara berlebihan. Kelestarian alam yang dikoyak pembangunan. Orang orang yang terlalu pintar sehingga menciptakan aturan sendiri. Cinta yang terlarang. Diselingi dengan dongeng dongeng magis yang hidup di antara tokoh tokohnya. Tokoh tokoh yang lumayan banyak ternyata punya keunikan tersendiri sehingga tidak mudah dilupakan. Masing masing punya lembar tersendiri untuk bersinar. Rasanya tidak ada yang benar benar jadi tokoh utama. Ada beberapa yang bisa diambil contohnya, ada juga yang sebaiknya dihindari. Harus bisa memilah dan mimilih mana yang baik. Yang tidak baik contohnya pola pikir Risti yang terlalu pintar, justru membuatnya menciptakan aturan aturan sendiri yang ia anggap benar. Kata katanya punya potensi membuat orang kebakaran jenggot. 

Royyan Julian menulis dengan narasi yang indah nyaris puitis. Tapi tidak membingungkan. Mengingatkan saya dengan novelnya Ayu Utami, Manjali dan Cakrabirawa. Salah satu yang saya suka ialah kalimat pembuka bab Perempuan Yang Menyusui Kelelawar; Seekor cumi cumi hitam raksasa mengapung di langit utara ketika Walid dan Kholidi tiba di halaman rumah Nyai Rasera.

Ini mengingatkan saya pada pembuka buku Haruki Murakami, Afer Dark, yang mengibaratkan kota kota sebagai monster raksasa. 

Tanjung Kemarau rasanya akan disukai untuk yang sedang mencari buku dengan cerita lokal dengan kritik sosial disertai cerita cerita magis. Kadang saya merasa buku ini sedikit mirip buku Eka Kurniawan, Ahmad Tohari, Okky Madasari dan Ayu Utami. Banyak amat. Buku ini juga menjadi semacam self reminder buat saya, agar saya bisa jadi manusia yang lebih baik lagi, lebih ikhlas dan taat dalam beribadah, tidak mudah termakan oleh berita berita yang belum tentu benar, dan menjaga tiap tiap makhluk yang bernyawa, menjaga lingkungan, menjaga hati, jangan kau kotori, jagalah hati.. cahaya Ilahi.. Hobaa..

Tanjung Kemarau | Royyan Julian | Grasindo | 254 Halaman | Rate: 3.5

Advertisements

Read Full Post »

Coco (2017)

Nontonlah Coco bersama seseorang atau pun sendirian. Karena Coco indah sekali dengan warna warni ceria yang memukau pandangan. Coco juga sedih dan penuh rasa haru yang mungkin akan membuat air matamu berjatuhan. Oleh karena itu, akan lebih baik jika sediakan tisu, sapu tangan, atau bahu seseorang sebagai sandaran. Buat yang nonton sendirian bisa diakali dengan membawa tas punggung besar dan pangkulah di depan. Lalu berikan pelukan. Jangan bayangkan itu adalah seseorang karena itu terdengar menyedihkan. Tapi bayangkan saja kalau itu adalah sekeranjang kucing kucing gendut yang menggemaskan. 

Coco bercerita mengenai Miguel yang ingin jadi musisi. Ia ingin seperti Ernesto de la Cruz, musisi terkenal yang sudah meninggal dan patungnya terlihat keren sekali. Tapi keluarganya yang ingin Miguel menjadi tukang sepatu menentangnya berkali kali. Tapi Miguel tidak peduli. Suatu hari ia ingin ikut tampil di acara musik tapi ia tak punya alat musik sama sekali. Ia pun nekat mengambil gitar Ernersto de la Cruz dengan mencuri. Lalu, keajaiban terjadi. Miguel pergi ke dunia orang mati. Di sana ia bertemu dengan leluhurnya yang sudah lama tak hidup lagi. Miguel bisa kembali ke dunianya kalau leluhurnya itu merestui. Tapi leluhurnya mengajukan syarat, Miguel jangan sampai jadi musisi. Miguel kecewa karena leluhurnya tak mengerti keinginanya, dan kabur mencari Ernesto de la Cruz karena idolanya itu pasti akan mengerti. Di sinilah petualangan dimulai. 

Sebagai film tentang anak kecil yang bermimpi jadi musisi, sudah tentu Coco diiringi musik musik yang menghanyutkan. Lagu lagu hits Ernesto de la Cruz sering diperdengarkan. Lagu khas Mexico dengan petikan gitar nan syahdu namun ada juga yang bisa membuat kakimu ingin menari berloncatan. Belum lagi iringan musik scoring dari composer Michael Giacchino yang juga pernah menggarap The Incredibles, Ratatouille, Up, Inside Out dan The Incredibles 2 tahun depan. 

Coco, benar benar melebihi harapan. Seketika menjadi film Pixar yang saya favoritkan. Selain musik yang enak, animasinya juga halus, dan ceritanya punya twist yang mengesankan. Cerita yang dalam dan penuh makna kehidupan. Terutama dalam hal melupakan. Ingatan dari seseorang jauh lebih penting ketimbang segerobak intan berlian. Karena dilupakan ialah hal yang begitu mengerikan. Seperti kata Dr Hiluluk, manusia mati bukan sewaktu ditembak pakai pistol, saat kena penyakit, ketika diracun, melainkan ketika dilupakan. Maka marilah jangan melupakan, dan berusahalah agar tidak dilupakan. Marilah mengingat orang orang yang telah mendahului kita, dan mendoakan. 

Coco | Dir: Lee Unkrich | Cast: Antonie Gonzales, Gael Garcia Bernal, Benjamin Brat | Rate: 4

Read Full Post »

Kurang lebih satu jam kemudian film ini mensleeding hatiku so hard hingga amburadul. Pengalaman menonton film paling menyakitkan tahun ini. Inilah horor yang hakiki. Tak hanya membuat kaget, tapi juga sedih sekali, disusul dengan kemarahan yang meletup letup seperti air dalam panci yukihira nabe saat kamu masak aer biar mateng. Ingin sekali aku masuk ke dalam film dan merubahnya. Tapi tak bisa. Hidup seakan menjelma dalam untaian lagu Tulus; aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi, aku tenggelam dalam lautan luka dalam.. Sungguh, satu adegan itu terus terbayang sepanjang film berjalan, hingga film selesai, bahkan saat kutulis review ini. Masih terasa ada sakitnya. Oh apa yang harus kulakukan? Apa aku harus lari ke hutan kemudian teriakku, atau aku harus lari ke dalam pelukanmu? Uwuwuwuwu.

Kurang lebih satu jam sebelumnya Ikari / Rage / Anger memberikan kisah sebuah pembunuhan sadis sepasang suami istri di rumahnya sendiri. Pembunuhnya meninggalkan tulisan di pintu “Ikari / Anger”. Pembunuh itu lalu kabur dan wajahnya dioperasi plastik. Polisi hanya punya gambar wajah yang si pembunuh sebelum operasi. Siapakah pembunuh itu, mengapa ia membunuh, mengapa ia menulis kata Ikari, marah sama siapa? Aksi kepolisian mengungkap kasus ini menjadi cerita pertama. 

Cerita kedua mengenai seorang ayah, Yohei Maki, dengan putri tersayangnya, Aiko. Ia bekerja di pelabuhan bersama dengan Tetsuya Takihiro. Aiko lalu kencan dengam Takihiro. Sementara itu ayahnya perlahan mulai mencurigai Takihiro sebagai pembunuh yang dicari polisi. Apakah ia memang pembunuhnya?

Selanjutnya ada cerita tentang Yuma Fujita yang bertemu dengan Naoto Onishi dan mulai pacaran. Keduanya laki laki. Pasangan gay itu hidup bahagia sampai kemudian Yuma Fujita mulai ragu dan mengira kalau pacarnya itu adalah pembunuh yang dicari polisi. Apakah ia memang pembunuhnya? 

Cerita terakhir terjadi di sebuah kota di tepi pantai. Lautnya begitu biru. Indah sekali. Di dekatnya ada sebuah pulau tak berpenghuni. Suatu ketika Izumi Komiya pergi ke pulau itu dan di sana tak sengaja bertemu dengan laki laki bernama Singo Tanaka. Singo Tanaka berpesan pada Izumi agar tidak bilang siapa pun kalau ia ada di situ. Izumi Komiya memang tak curiga kalau ia pembunuhnya, yang curiga itu aku. Apakah ia pembunuhnya?

Ikari berbeda dengan film film pembunuhan yang lain. Film ini menyuruhku untuk menebak siapa di antara ketiga orang itu yang benar benar pembunuh. Dan jawabannya baru akan terkuak menjelang film ini berakhir. Tapi kemudian semua itu seakan tak penting. Rasanya ada yang kurang. Rentetan peristiwa yang terjadi sebelum ending telah mencuri rasa penasaran akan identitas pembunuhnya. Peristiwa yang meninggalkan lubang dalam di dada yang susah ditutup kecuali oleh perhatian darimu (uwuwuwuwu), bukan perhatian dari operator di stasiun kereta; “perhatian perhatian, kepada para penumpang jurusan.. ”

Keempat cerita yang berbeda tokoh dan tempatnya itu kemudian akan terhubung satu sama lain. Masing masing kisah ditampilkan bergantian, saling menyalip di antara kisah yang lain. Tapi jangan khawatir dan bimbang, tidak akan membingungkan. Editingnya menang patut diacungi jempol. Penggalan per adegannya benar benar pas dan berhasil menjaga rasa penasaran. Yang patut diacungi jempol satu lagi ialah scoringnya. Eduh, paass banget mbangun suasana muram, galau dan kelam. Apalagi dentingan pianonya, seperti selimut premium nan mahal yang membungkusmu dalam buaian kesengsaraan. 

Yang patut diacungi jempol lagi ialah akting pemainnya yang super sekali dan seperti roti tawar yang bertabur coklat meises, film ini pun bertabur bintang. Aktor aktor kawakan yang sudah malang melintang di dunia perfilman, maupun yang baru beberapa kali main film namun mampu memberikan akting yang luar biasa. Aktor dan aktris ini boleh jadi adalah idola kamu, seperti contohnya Aoi Miyazaki yang jadi aktris idolaku. Ada pula Suzu Hiroze yang mencuri perhatian sejak ia menjadi saudari kecil di film Our Little Sister / Umimachi Diary. Sedikit saran, buat yang benar benar ngefans dek Suzu Hiroze sebaiknya jangan menonton, takut enggak kuat. Ini serius lho ini! Buat fansnya Sathosi Tsumabuki & Gou Ayano, mungkin akan merasa enggak nyaman karena mereka jadi pasangan sejenis, dan ada adegan dewasanya yang cukup berani dan vulgar. Kemudian ada juga Ken Watanabe dan Kenichi Matsuyama sebagai ayah dan pacar Aiko.

Anak kucing akan menyedot susu ibunya yang kucing, sementara Ikari / Anger / Rage akan menyedot kebahagian dalam hidupmu. Membuatmu patah hati sejenak. Memberikan apa yang seekor kucing tidak bisa berikan kepadamu, yaitu kesedihan. Kesedihan yang memukau, sehingga kamu akan menerima dengan ikhlas meski hati tersakiti. Betapa aneh kalimat ini. Tapi begitulah kadang keajaiban sebuah film, sudah tahu tersakiti, pas ditanya puas atau enggak nontonnya, pasti dijawab puassss!! HLHEDN. Film ini tak semata mata tentang siapa yang membunuh dan alasannya, melainkan tentang kepercayaan dan rasa tak berdaya. Apakah kepercayaan bisa mengoyak rasa cinta? Seberapa dalam manusia bisa menyimpan penyesalan dan rasa bersalah? Akhir kata, seperti judulnya, film ini memang bikin emosi jiwa.

Ikari / Anger / Rage | Dir: Lee Sang Il | Cast: Aoi Miyazaki, Suzu Hirose, Ken Watanabe, Kenichi Matsuyama, Gou Ayano | Rate: 4

Read Full Post »

Kalau alasannya cuma ingin melihat Batman, Wonder Woman, Superman, Aquaman, Cyborg dan Flash berkelahi melawan alien, maka jangan ragu dan bimbang, segeralah menonton. Percayalah mereka pasti berantem seru kok. Mereka eggak bakal ngumpul ngumpul main remi yang kalah mukanya dicoret pake bedak. Dan enggak cuma mereka yang dilihatkan bertarung, ada dewa dewa kuno dan wanita wanita perkasa yang berjuang melawan sang musuh utama. 

Tapi kalau yang dicari adalah kedalaman cerita dan sinematografi yang ciamik seperti yang ada di  Man Of Steel dan Batman V Superman: Dawn Of Justice maka kalian mungkin akan kecewa. Jalan cerita Justice League lebih sederhana, tidak ribet. Mudah dimengerti. Seperti film filmnya studio sebelah. Bahkan banyak juga joke joke yang dihadirkan. Sayang, jokenya banyak yang enggak lucu. Biasa saja. Ini menurut saya. Menurut orang lain tentu beda lagi. 

Sudah liat trailernya? Ingat adegan flash nunjuk kaca pakai jari lalu kacanya kaya mau pecah? Ingat adegan pemain rugby yang tak lain tak bukan ialah Cyborg? Ingat Alfred ngomong sama seseorang yang tak keliatan atau cuma hologram doang? Ketiga adegan itu enggak tahunya tidak dimasukan dalam versi final yang release di bioskop. Tidak hanya itu, gosipnya banyak adegan yang gagal dipakai, yang kalau dijumlahkan bisa mencapai kurang lebih durasi setengah jam. Asem tenan. Apakah nanti bakal keluar director’s cut seperti Batman V Superman: Dawn Of Justice kemarin? Padahal bakal jadi lebih menarik seandainya dipakai saja adegan adegan tersebut. Ini menurut saya. Menurut orang lain tentu beda lagi. 

Justice League memang di bawah harapan. Lebih kacau daripada Batman V Superman kemarin. Tapi buat yang nyari seru seruan dan lucu lucuan, Justice League masih layak untuk ditonton. Buat bawa anak kecil juga aman. Apalagi buat yang nge fans sama Wonder Woman, di sini doi tambah badass dan bohay. Yang suka sama Superman, juga bakal girang meski ada moment dimana wajah CGI nya kelihatan terlalu sempurna malah jadi serem. Dan di film ini ada penampakan Queen Mera, yang cantiknya luar biasah, biar pun basah basah basah… seluruh tubuhh… ah ah ah, menyentuh kalbuu..

Justice League | Dir: Zack Snyder | Cast: Ben Affleck, Gal Gadot, Henry Cavill, Amy Adams, Amber Heard | Rate: 3

Read Full Post »

Biar lebih afdol, baiknya review ini dibaca sambil nyanyi rap ala lagu openingnya serial Kera Sakti jaman dulu.

Blade of the Immortal dibuka dengan brutal. Seorang samurai bernama Manji berkelahi melawan puluhan orang dengan kesal. Ia menusuk, menebas, membunuh musuhnya tanpa rasa sesal. Keberingasannya terhenti saat satu musuhnya menawan gadis muda yang ia kenal. Ia letakkan senjatanya agar gadis itu tak mendapatkan luka yang fatal. Sungguh mati ia tak mengira, si gadis tetap ditusuk hingga meninggal.

Manji berang dan musuh itu dibunuhnya. Manji menyesal dan tak ingin hidup di dunia. Tapi, nenek tua misterius memberikan obat untuk kesembuhannya. Berupa cacing darah ajaib yang bisa menyembuhkan segala luka seketika. Manji sembuh namun ia tak bahagia. Sebab ia ingin mati, tapi malah sekarang ia akan hidup selamanya. 

Blade of the Immortal.. Blade of the Immortal…

Puluhan tahun berlalu dengan cepat. Rin Asano, gadis remaja anak ketua dojo samurai sedang meratap. Rumahnya diserang Kagehisa Anotsu dan anak buahnya hingga ayahnya mangkat. Rin ingin membunuh orang itu, dan tekadnya sudah bulat. Atas saran nenek misterius, ia pun mencari seorang samurai yang tak bisa mokat. Ia ingin menyewa samurai itu untuk membalas dendamnya yang kesumat. Samurai yang dimaksud ialah Manji yang berhasil ditemui digubuknya dalam keadaan sehat wal afiat.

Blade of the Samurai punya durasi yang lama, dua jam setengah. Tapi jika kamu gemar nonton film samurai bertarung, maka kamu akan bungah. Akan ada banyak pertarungan yang menumpahkan darah. Tak terhitung mayat mayat yang terkulai rebah. Oleh sabetan samurai Manji, Kagehitsa Anotsu maupun orang pemerintah. Yo man, film ini memang tak cuma ajang aksi balas dendammya Rin, gadis remaja yang suka pakai baju merah. Ada pihak pemerintah yang tak ingin ada yang berubah. 

Blade of the Immortal.. Blade of the Immortal.. yo.. yo..

Disutradarai oleh Takashi Miike, Blade of the Immortal tampil cukup mengesankan. Banyaknya pertarungan yang terjadi tidak membuat bosan. Ada tarung satu satu hingga keroyokan. Musuh musuh yang aneh pun bermunculan. Dari yang normal, hingga pakai masker, dan ada pula yang menggunakan kandang burung untuk menutupi wajahnya walau tak jerawatan. Belum lagi senjata yang digunakan. Kebanyakan memang katana tapi ada juga senjata aneh seperti pedang dwisula, pedang kapak, serta pedang bergerigi seperti gergaji yang kurang cocok untuk acara sunatan. 

Yang menarik lainnya ialah Manji yang dibuat tidak terlalu hebat meski tidak bisa mati. Ia terluka dan hampir meregang nyawa berkali kali. That’s right yo, nanti ada kejadian yang membuat ia tidak langsung menyembuhkan diri. Yang imba justru musuhnya, Kagehitsa Anotsu, terlihat kuat dan jago berkelahi. Selain itu Manji juga sepertinya punya baju ajaib yang bisa menyimpan banyak senjata untuk membela diri. Yang harusnya senjata senjata itu tak bakal muat diselipkan dibaju, karena senjatanya bakal menusuk nusuk geli badannya sendiri. Tapi karena ini adaptasi dari manga, hal itu bisa dimaklumi. 

Blade of the Immortal sajian film buat yang suka Samurai X, 13 Assasin, dan film samurai lainnya. Tapi kalau enggak suka film itu juga enggak apa apa. Film ini cukup menghibur dan tak bikin pusing kepala. Mungkin takut atau geli geli dikit ngeliat darah dan anggota tubuh terpisah dari badannya. Blade of the Immortal dibintangi oleh aktor aktor kece dari Hana Sugisaki, Takuya Kimura, Hayato Ichihara sampai Erika Toda. Nama terakhir biasanya tampil manis tapi di sini tak ragu tebas kepala. Tapi kalau kamu enggak kenal mereka juga enggak apa apa. Karena mereka juga enggak kenal siapa anda. Yo yo.. Blade of the Immortal… Blade of the Immortaall…

Blade of the Immortal | Dir: Takashi Miike | Cast:  Hana Sugisaki, Takuya Kimura, Hayato Ichihara, Erika Toda | Rate: 3.5

Read Full Post »

Jika Marlina punya hobi bikin pantun, apakah filmnya bakal punya judul Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Kali Empat Sama Dengan Enam Belas, Sempat Tidak Sempat Harap Dibalas? Tentu saja tidak demikian. Marlina wajib punya judul aslinya, Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak. Terlihat classy, keren dan bikin penasaran ingin segera menuju bioskop terdekat. Judulnya memang gurih, mengandung umpan yang bakal disambar oleh para penonton film jenis pertama, yaitu golongan penikmat film yang menonton karena judulnya. 

Jalan ceritanya pun benar benar akan membuat golongan penonton tipe kedua mempercepat langkah kakinya menuju bioskop, yaitu jenis penonton film yang menonton karena jalan cerita. Film ini punya jalan cerita yang tak umum. Seorang janda terpaksa membunuh lima perampok yang menyatroni rumahnya, kemudian menenteng kepala salah satu perampok itu menuju kantor polisi sambil dikejar oleh kawan si perampok. 

Keindahan Sumba dalam film ini ialah keindahan haqiqi. Manjain mata. Wajib untuk disaksikan melalui layar bioskop kecuali kamu punya TV LED 100 inch. Itu juga kudu nunggu DVDnya rilis dulu. Kelamaan. Nanti keburu disamber orang. Disamber orang tiketnya maksudnya. Layar bioskop yang besar membuat pemandangan Sumba terlihat begitu memukau. Hamparan rumput kering yang luas, jalan berliku, dengan ujung  samudera biru membentang. Malamnya, biarpun sedikit, ada bulan purnama bulat, besar benderang. Jelasnya, visualnya outstanding, yang bisa jadi akan membuat jenis penonton ketiga; yang menonton karena visualnya, akan memacu kudanya menuju bioskop terdekat menyusul jenis penonton pertama dan kedua.

Film ini juga ingin menunjukkan betapa kuatnya perempuan. Misalnya Novi, temannya Marlina yang lagi hamil itu. Waktu lihat Marlina tenteng itu kepala, responnya cuma beringsut sedikit, sesudahnya mengobrol seperti biasa. Padahal yang ditenteng itu kepala orang. Bukan sayuran, atau buah buahan. Kok ya enggak histeris, shock, terus langsung melahirkan. Kekuatan perempuan terlihat dengan jelas sepanjang film. Jenis penonton yang keempat; yang menonton karena kekuatan wanita kemungkinan besar akan segera mengebut mobilnya menuju bioskop terdekat. 

Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak mengingatkan saya dengan film Quentin Qarantino, Django Unchained. Pengalaman saya nonton film film western emang nol besar, tahunya dari Quentin Tarantino saja. Juga ada sedikit yang seperti cerita cerita karangan Gabriel Garcia Marquez, atau Eka Kurniawan. Perihal hantu tanpa kepala yang memainkan alat musik tradisional Sumba itu memang punya daya magisnya sendiri. Iringan musiknya pun demikian. Dan satu lagu yang dinyanyikan pakai bahasa Sumba itu, masih terngiang sampai sekarang meski tak tahu artinya. Judulnya Lahape Jodoh, nyari di google tak nemu artinya. Tapi dengernya sedih betul. Tentang jodoh yang tak kunjung datang, mungkin. Karena hal hal inilah, maka jenis penonton kelima akan berbondong bondong naik bis pergi ke bioskop; jenis yang menonton film karena genre western, ditambah punya scoring dan lagu yang yahud. (Maksa emang.)

Akhirnya, film ini sangat layak untuk ditonton. Memang brutal dan mengerikan ada kepala menggelinding atau ditenteng dan menyakitkan melihat apa yang terjadi didalamnya. Entah saya saja atau yang lain juga, saya lebih enggak tega melihat Novi. Sewaktu ia lagi lari lari kecil nyamperin Marlina, aduh itu takut jatuh. Lebih parah lagi yang terjadi selanjutnya. Ngeri sekali lihat perutnya. Tapi bukan berarti tanpa kehangatan dan rasa haru. Interaksi antara Marlina dan Topan sedikit memberi angin yang menyejukkan. Yang jelas, nonton Marlina si Pembunuh Dalam Empat Babak di bioskop jadi tamasya yang menyenangkan. Tidak ada duanya. Kecuali nonton lagi, baru ada duanya. Dan, ngeliat sop ayam jadi tidak pernah sama lagi. 

Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak | Dir: Mouly Surya | Cast: Marsha Timothy, Dea Panendra, Yoga Pratama | Rate: 4

Read Full Post »

Kim Byeong Soo terkena dementia. Kadang ia tak ingat siapa dirinya, siapa namanya, ada dimana, dengan siapa, semalam berbuat apa. Ia lupa teman temannya, bahkan anaknya. Masalah bertambah karena ia dulunya seorang pembunuh berantai. Kadang, tubuhnya melakukan gerakan membunuh tanpa ia sadari. Pernah ia pernah mencekik Eun Hee, anak gadis satu satunya, karena menyangkanya orang lain. Sekalipun begitu, Eun Hee sangat mencintai ayahnya itu. Kepikunan ayahnya tak menyurutkan hasratnya untuk berbakti kepada ayahnya semenjak ibunya tiada. Calon mantu idaman. Cantik pula.

Masa lalu ayahnya sebagai pembunuh berantai yang mengubur korban korbannya di hutan bambu tak diketahui oleh Eun Hee atau siapa pun. Suatu hari, Kim Byeong Soo tak sengaja menabrak mobil di depannya hingga bagasi mobil itu terbuka. Di dalam bagasi, ada koper dengan darah yang menetes keluar. Curiga, ia lalu mengambil darah itu lantas memeriksanya. Ternyata darah manusia. Ia pun melaporkan ke polisi, tapi tak ada yang percaya. Suatu ia bertemu kembali dengan orang yang ia tabrak. Orang itu  Min Tae Jo, sedang bersama Eun Hee, mengaku jadi pacarnya. Kim Byeong Soo pun berusaha memisahkan mereka berdua. Keadaan tambah ramai ketika Min Tae Jo juga tak tinggal diam, dan tau bahwa Kim Byeong Soo seorang pembunuh berantai yang insaf.

Konflik antara kedua orang itu berlangsung seru ketika Kim Byeong Soo sedar ingat siapa dirinya. Tapi kalau lagi kumat pikunnya, keadaan akan berbalik 180 derajat; Kim Byeong Soo akan menerima dengan lapang dada hubungan Min Tae Jo dengan putrinya. Seperti ingatan Kim Byeong Soo yang timbul tenggelam, Memoir Of A Murderer pun seringkali berganti antara thriller dan drama ayah dan anak.

Bagi yang menggemari thriller Korea Selatan, film ini boleh dicoba dan kemungkinan bakal suka. Meski tak begitu menegangkan, tapi cuilan drama ayah dan anak barangkali cukup untuk menyentuh hati kalian sekalian. Film ini tak seperti The Chaser, I Saw Devil, No Mercy, melainkan lebih menyerupai Memories Of Murder. Bahkan ada satu scene yang tempatnya mirip; adanya sebuah terowongan.

Memoir of A Murderer juga menjadi ajang pembuktian untuk Seol Hyun dimana tampil cukup baik memerankan Eun Hee meski dengan kosmetik melekat di wajah setiap waktu. Penampilannya jauh berbeda jika dibandingkan waktu ia sedang joget joget bersama grupnya AOA. Sementara itu, Sol Kyung Go berhasil memerankan seorang pensiunan pembunuh berantai yang mengidap dementia. Perubahan saat sadar dan pikunnya kambuh itu terlihat dengan baik.

Ending Memoir of A Murderer mengingatkan saya dengan peribahasa karena nila setitik rusak susu sebelanga. Meski sebenarnya peribahasa itu terlalu berlebihan dibanding yang sebenarnya terjadi. Tapi, saya tak menemukan peribahasa lain yang punya maksud sama. Peribahasa buruk muka cermin dibelah jelas tidak nyambung sama sekali. Nah, maksudnya gimana kok bisa ngingetin sama peribahasa itu? Jadi, ada sedikit scene di ending yang malah menghancurkan scene sebelumnya yang seharusnya sudah perfect untuk menutup film ini. Simplenya, endingnya kepanjangan. Entahlah, mungkin agar lebih membekas di hati penonton, sayangnya bekasnya jadi tidak enak.

Sutradara Won Shin Yeon, yang sebelumnya membesut film action spy thriller The Suspect, barangkali tidak sepenuhnya berhasil membuat film pembunuh berantai yang membuat tegang sepanjang waktu, tapi drama antara ayah dan anak bisa jadi akan membekas dibenak meski tak sampai jadi film penguras air mata.

Memoir Of Murderer | Dir: Won Shin Yeon |Cast: Sol Kyung Go, Seol Hyun | Rate: 3

Read Full Post »

Older Posts »