Feeds:
Posts
Comments

Archive for December, 2017

Selesai membaca buku ini kemungkinan besar kamu akan menempatkan kisah cinta Inayatun & Mat Dawuk sebagai cinta yang tragis, sebanding dengan kisah Romeo & Juliet, Qays & Layla, Mardio kepada Melatie, atau mungkin kisah cintamu sendiri. Muehehehe. Inayatun & Mat Dawuk mampu membuat lubang besar di hati saya, sehingga kosong melompong seperti tengah tengah kue donat assorted. Kenyataan bahwa cinta keduanya berakhir tragis dapat segera kamu temukan tak lama setelah membaca buku ini, di halaman empat belas. Jadi enggak spoiler amat. Tepatnya pada kalimat ini; Bagaimana mungkin para orang tua akan bercerita kepada para anak anaknya, atau para kakek nenek akan mendongengi cucu cucunya – bocah bocah polos tak tahu apa apa itu – tentang laki laki yang telah membunuh istrinya? Istrinya sendiri dan beberapa orang lainnya, lebih tepatnya

Yang dimaksud laki laki itu adalah Mat Dawuk, dan iatrinya adalah Inayatun. Meski sudah tahu ending kisah cinta mereka (bukan ending buku ini lho ya gaes), tapi tetap saja ketika membaca bagian yang menceritakan hal itu, rasanya tetap menyakitkan. Mungkin karena kita manusia tak ada yang benar benar siap menerima kabar menyedihkan. Mungkin juga karena saya kadung menyukai tokoh Inayatun & Mat Dawuk setelah mendengar sejarah masa lalu keduanya melalui mulut Warto Kemplung. Siapa pula Warto Kemplung?

Warto Kemplung ialah si tukang dongeng kita. Oh bukan tukang dongeng, tapi si pembual. Warto Kemplung memang dikenal sebagai tukang kibul. Orang orang nyaris tak percaya pada cerita ceritanya. Tapi tak punya daya untuk menolaknya manakala Warto Kemplung mulai bercerita. Buku ini berisi cerita Warto Kemplung saat berada di warung kopi. Sambil menyeruput kopi dan merokok, ia dengan semangat bercerita mengenai sebuah kejadian berdarah yang baru saja terjadi di desa mereka, yang kemudian merembet pada kisah kisah cinta, dendam, mistis, aksi laga, pembunuhan, yang asik sekali untuk disimak. 

“Mereka berkoar soal kekalahannya, soal penyerahan senjata dan buntalan di kalungnya, sampai soal pembakarannya, dan sama sekali tak menyinggung nyinggung tentang pengeroyokan itu. Dan, tentu saja, mereka tak akan bicara apa apa tentang seberkas sinar putih yang meluncur menembus api!” kata Warto Kemplung dengan kepongahan orang yang merasa lebih tahu. 

Kisah cinta Inayatun & Mat Dawuk memang sangat menarik. Karena ini adalah pasangan Beauty & the Beast yang sebenarnya. Inayatun gadis paling cantik nan bahenol di Rumbuk Randu. Setiap laki laki ingin memilikinya. Tapi sifat gadis itu tak seelok rupanya. Ia susah diatur. Pandai merayu laki laki sehingga menikah sampai tiga kali. A real bitch lah pokoke. Di sisi lain, Mat Dawuk sama sekali berbeda. Bentuk fisiknya mungkin di bawah sedikit dengan wajah si Cantik dalam novel Cantik Itu Luka karangan Eka Kurniawan. Jelek dan mengerikan. Nasibnya sebelas dua belas dengan Tyrion Lannister yang dibenci si ayah karena ibunya meninggal sewaktu melahirkan dia. Nyaris tak ada yang mau berteman dengannya. Kuburan jadi tempat favoritnya bermain. Namanya kerap dipakai ibu ibu untuk menakuti anak anak mereka kalau mereka membandel. Lantas, bagaimana Inayatun & Mat Dawuk bisa menjadi suami istri yang saling mengasihi?

Dawuk sudah pasti jadi buku favorit saya tahun ini, bersanding dengan Muslihat Musang Emas nya Yusi Avianto Pareanom . Membaca Dawuk membuat saya seolah olah menjelma jadi pria tamvan penasaran yang ikut duduk ngopi di warung kopi Siti, sambil duduk mendengarkan cerita Warto Kemplung dengan sungguh sungguh. Ikut tersenyum sewaktu ada kejadian lucu (yang sebenarnya tidak lucu tapi karena Warto Kemplung seperti ngelucu jadi saya tertawa), ikut tegang sewaktu terjadi ketegangan (ada beberapa bagian yang rasanya seperti menonton film thriller, penuh dengan suspen, dan perkelahian yang seru), ikut berduka sewaktu kisah cinta dua manusia menemukan muara kesedihannya. Tapi saya enggak ikut nyanyi sewaktu lirik lirik lagu India bertebaran di buku ini. Soalnya enggak paham lagu apaan. Enggak banyak tahu lagunya. Lagu India terakhir yang saya simak itu lagu Tum Hi Ho. Versi koplo tapinya. Kalau lagu dangdutnya sih paham. Ehehe.

Mahfud Ikhwan, yang sudah menelurkan buku Aku dan Film India Melawan Dunia hingga dua buku, kembali membawa keIndiaannya dalam buku ini yang meliputi adegan film dan lagu. Lagu India berseliweran, dan ada yang menjadi anthem song nya pasangan Inayatun & Mat Dawuk. Beberapa bagian ada yang terinspirasi oleh film India. Misalnya sewaktu Inayatun & Mat Dawuk memadu kasih dengan berlarian. Atau dalam percakapan romantis intim mereka berdua. 

“Ini persis kandang di film Betaab. Luas dan sepi,” kata Inayatun dengan mata ceria, sehabis mereka bercinta di lantai- sebab dipan untuk mereka tidur belum selesai dibikin. Siang siang pula.  “Kita adalah Roma dam Sunny dari Rumbuk Randu,” sambungnya sambil menjejerkan wajahnya dengan wajah Mat. Dari segala segi, jelas tak cocok, bertentangan, tak sepatutnya dipertemukan. Seperti langit dan bumi. Seperti pucuk bintang paling jauh dan dasar sumur paling dalam. Seperti hujan dan jemuran. 

“Tapi kita tak punya peternakan kuda seperti mereka. Hanya ada kambing. Itu pun cuma seekor.” Sahut Mat mengacu pada film India yang dibicarakan Inayatun.

“Buat apa kuda. Aku sudah punya kamu,” balas Inayatun sambil menaiki perut Mat. Senyum dan tangannya nakal, seperti biasanya.

Peraih Kuala Sastra Khatulistiwa 2017 ini memang memikat sejak awal sampai akhir. Covernya yang tak mencolok mata, namun gambar kalajengking dan ularnya mematri di kepala. Ternyata kedua binatang itu memang diceritakan dalam buku. Covernya mengingatkan saya pada cover Mantra Pejinak Ular Kuntowidjoyo. Dawuk terbagi dalam 23 bab pendek pendek. Memberikan ilusi seperti makan kacang, sedikit demi sedikit lama lama habis.  Kacang gurih dan nikmat. 

Buku yang tak tebal tebal amat ini, mengingatkan saya dengan buku bukunya Eka Kurniawan pada masa sebelum O keluar. Kisah kisah yang terasa dekat diselingi hal hal ajaib. Tokoh tokoh yang masih terbayang manakala buku sudah diselesaikan. Ditutup dengan ending yang tak mudah dilupakan, karena menyebalkan. Menyebalkan karena saya punya gambaran lain yang menurut saya lebih keren, tapi jadinya mainstream. Sementara Mahfud Ikhwan memilih ending yang mengguncang siapa saja yang membaca buku ini. Love and hate ending. Tapi pastinya bikin mikir.

Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu | Mahfud Ikhwan | Marjin Kiri | Halaman: 182 | Rate: 4


Advertisements

Read Full Post »

Genduk ialah nama panggilan anak gadis rambut panjang dengan menekankan kata “Nduk” sewaktu dipanggil. “Nduk, mau kemana?” Sebab akan terdengar aneh pabila orang memanggil “Gen”. “Gen, mau kemana?” Nanti disangka namanya Gendeng. Bisa berabe. Atau Gendut. Tambah berabe. Apalagi Gentayangan. Hii, serem. Genduk ini tinggal berdua dengan ibunya. Ayahnya tak tahu rimbanya. Sang ibu mengandalkan kehidupannya pada tanaman tembakau. Sama seperti keluarga yang lainnya. Hasil panen yang baik selalu dinanti. Meski demikian, menjual tembakau ialah hal yang lain lagi. Penjualan tembakau dikuasai oleh tengkulak curang yang mengandalkan segala cara untuk mendapatkan uang. Ketuanya bernama Kaduk. Ia kemudian menjadi orang yang paling dibenci Genduk. 

Hubungan Genduk dengan ibunya tak bisa dibilang harmonis. Seringkali ibunya membuat hatinya terluka. Begitu pula sebaliknya. Genduk ingin sekali bertemu dengan bapaknya. Yang wajahnya tak pernah ia tahu. Suatu hari ia nekat kabur ke kota mencari jejak ayahnya. Mencari kepastian tentang nasib sang ayah. Apakah sudah meninggal atau masih hidup. Selayaknya nyanyian; Kalau masih bersemi di manakah rimbanya / Kalaupun sudah mati di mana pusaranya. Petualangan Genduk mencari ayahnya menjadi salah satu konflik yang terdapat dalam buku ini, melengkapi konflik yang lain; kegelisahan petani tembakau akan penen tembakaunya, hubungan tak harmonis antara Genduk dan ibunya, serta ketakutan Genduk kepada Kaduk.

Membaca Genduk seperti membaca buku buku Ahmad Tohari yang kental dengan muatan kedaerahannya. Membawa saya merasakan kembali suasana pedesaan yang hijau, beserta adat istiadat masyarakat sekitarnya. Tempatnya kali ini ialah desa Ringinsari yang terletak di lereng gunung Sindoro. Rumah rumah masih berlantaikan tanah, dengan dinding berupa gedek, bilah bambu yang dianyam. Anak anaknya masih suka bermain petak umpet. Belum ada listrik, sehingga televisi, yang hanya dipunyai oleh Lurah Cokro,  dinyalakan menggunakan aki. 

Genduk punya cover dengan warna biru telor asin yang lembut, dengan dua lembar daun tembakau menumpuk ditempel menggunakan lakban kertas. Warnanya adem, tapi lakban kertasnya bikin geregetan ingin mengkeleteknya. Dibalik cover itu ada kejutan kecil. Ilustrasi berwarna anak kecil dengan rambut diikat kepang dua, mengenakan gaun putih. Tangannya terentang menyentuh pohon tembakau. Ia menatap gunung yang menjulang di depannya. Ilustrasi ini sebenarnya bisa juga dijadikan cover, tinggal ditambahi judul dan nama penulisnya saja. 

Sundari Mardjuki menulis ceritanya dengan ringkas dengan tempo yang lumayan cepat. Saya menyelesaikannya dalam sekali baca. Buku ini terbagi dalam beberapa bab yang tak terlalu panjang. Bahkan ada yang hanya dua halaman berisi puisi. Ada beberapa puisi dalam buku ini. Juga lirik lagu. Lagu lagu jawa lama dan lagu anak anak yang tidak saya kenal. Puisi puisinya ada yang panjang ada yang pendek. Yang panjang sampai dua halaman digunakan sebagai simbolis tentang apa yang sedang terjadi, karena mungkin akan kurang nyaman seandainya ditulis dengan kalimat biasa. Tapi untuk lirik lagunya sebaiknya tak usah ditulis saja tak masalah soalnya saya langsung skip jika ada lirik lagunya. 

Tempo cerita yang mengalir cepat juga membuat saya merasakan terlalu banyak kebetulan kebetulan yang mendukung nasib si Genduk. Kebetulan ketemu si anu, kebetulan dikasih itu, dan kebetulan dapat itu, dan yang lainnya. Tapi yang paling menjengkelkan ialah nasib tokoh antagonis utama yang, yah cuma gitu doang. Terlalu gampang. Mungkin karena Genduk masih kecil dan lemah hingga tak bisa melawan. Tapi kan bisa pakai tangan oranh lain. Seenggaknya dibikin lebih menegangkan gitu ceritanya. Hal mengganggu lainnya ialah dialog Genduk yang tak seperti anak seusianya, terlalu dewasa dan kaku sehingga jadi terlihat tidak natural Seperti dalam sinetron sinetron. Hal ini membuat saya merasa berjarak dengan tokoh tokohnya. Beberapa bagian yang seharusnya bisa menguras air mata jadi biasa saja. 

Akhirnya, Genduk bukanlah sebuah kisah yang rumit meski banyak hal yang diceritakan. Punya potensi untuk menjadi buku yang menguras air mata seandainya tak masalah dengan dialog dialognya yang cenderung tak sesuai dengan usia tokohnya. Jika masa kecil kamu dihabiskan di desa, maka buku ini adalah mesin waktu yang akan membawamu ke masa masa itu. Bermain di sawah, petak umpet di bawah sinar rembulan, ramai ramai menonton televisi, dan rasa takut sekaligus gembira menonton kuda lumping.

Genduk | Sundari Mardjuki | Jumlah Halaman: 232 | PT Gramedia Pustaka Utama | Rate: 3

Read Full Post »

Saya kira Jumanji: Jumanji Welcome to the Jungle akan menjadi film yang cocok untuk ditonton bersama anggota keluarga dari yang termuda sampai paling tua. Pergi ke bioskop bisa menjadi tamasya yang asik dan murah meriah ketimbang liburan ke Eropa sana. Film ini akan memberikan penghiburan yang layak. Buat saya menyenangkan, cuma boleh jadi kalian akan berkata lain. Tapi setidaknya, satu bioskop yang nonton bareng saya, ramai sekali dengan suara orang tertawa. Bahkan Thor: Ragnarok yang saya anggap lucu itu pun masih kalah ramainya. Sebelah kanan saya sampai tertawa ngakak sekali. Banyak orang tua yang membawa anaknya. Semuanya gembira. Hilang duka lara. 

Kejenakaan itu bersumber dari tingkah laku empat tokoh utamanya yang tersedot ke dalam dunia game Jumanji. Sebuah tempat asing penuh dengan dan binatang binatang berbahaya. Belum lagi mereka harus menunaikan misi agar bisa kembali ke dunia mereka sebelumnya. Pergi ke tempat baru adalah masalah, tapi menempati tubuh yang berbeda ialah satu hal lainnya. Keempat orang tadi ternyata harus berada dalam tubuh orang lain yaitu tubuh avatar game yang mereka pilih sebelumnya. Kaget banget dong mereka.

Gimana enggak kaget. Spencer Giplin, yang tadinya cowok kurus, kutu buku, rambut kriwil kriwil tiba tiba berubah jadi cowok berotot tinggi besar melebihi Agung Hercules dan botak, sekaligus tokoh utama dalam game. Martha Kaply, cewek cupu, canggung, bintang kelas mendapat anugerah luar biasa manakala berubah menjadi si sexy ahli bela diri yang cantik pakai banget. Sementara dua orang lainnya tidak seberuntung mereka. Fridge yang memang sebesar kulkas, terpaksa menerima kalau ia berubah menjadi ahli zoologis pendek yang kemana mana memanggul tas ransel ajaib berisi senjata. Yang paling parah ialah Bethany Walker, cewek hot jaman now, hobby upload foto di instagram, ternyata berubah menjadi cowok gendut ahli membaca peta. Mereka ditakdirkan untuk menyelamatkan negeri Jumanji dengan cara menaruh kembali permata hijau ke tempat semula sambil dikejar oleh penjahat. 

Sajian aksi yang ada juga lumayan seru, terutama yang dikejar kejar badak. Aksi perkelahiannya sering kali mengundang gelak tawa akibat dari tingkah laku keempat orang itu. Karena masih awam dengan perubahan yang terjadi pada mereka. Joke joke verbalnya lucu. Apalagi kalau Fridge lagi ngomel ngomel. Untuk anak kecil, saya kira masih aman. Ada beberapa kata umpatan, dan ngomongin alat kelamin sewaktu kencing. Untuk ciuman, aman. Dipotong habis sama LSF. 

Bagi yang sudah sudah menonton Jumanji versi lama, mungkin akan menganggap film ini kurang terasa nostalgianya. Tapi, akan ikut terhibur dengan apa yang ada di dalamnya. Kalau enggak terhibur juga, yah tidak apa apa. Yang jelas, bagi yang ingin melepaskan beban hidup, sejenak lupa dengan persoalan di dunia, bolehlah menonton film ini. Boleh juga menonton film yang lain. Sing penting joget, eh senang. Ngomongin joget, salah satu kekuatan avatar milik Martha ialah ‘kelahi joget’. Sebuah ilmu joget yang sanggup merobohkan musuh. Sayangnya, karena ini film barat, lagunya pun pakai lagu barat. Mungkinkah jika kita yang bikin, bakal pakai lagu Jaran Goyang? Atau Ditinggal Rabi? 

Jumanji: Welcome to the Jungle menjadi film Dwayne Johnson kesekian yang pernah saya tonton dan di sini ia lebih berkesan ketimbang fillm filmnya yang lain. Karen Gillan tampil sexy, badass, dan ada satu scene lucu sekali yang menghilangkan imej sexynya. Film ini juga jadi semacam comming of age yang unik. Bagaimana mencari jati diri yang sebenarnya, menjadi percaya diri dengan apa yang kita punya. Apa yang ada di dalam lebih penting dari apa yang terlihat dari luar. Serigala akan tetap serigala meski berbulu domba. Tapi ayam akan jadi fried chicken apabila berbulu tepung bumbu lalu digoreng crispy. Yummy.

Kekurangan film ini ada di bagian awal yang terasa membosankan, padahal cuma sepuluh menitan kurang lebih. Tapi terasa lama. Begitu sudah masuk ke dunia Jumanji, baru asik. Juga villain utamanya yang terasa over power tapi tidak dimanfaatkan dengan maksimal kekuatannya itu. Saya pikir bakal ada makhluk makhluk mengerikan yang akan muncul, tapi ternyata tidak. Akhirnya, Jumanji: Welcome to the Jungle patut dijadikan tujuan untuk mengisi liburan anda. 

Jumanji: Wellcome to the Jungle | Dir: Jake Kasdan | Cast: Dwayne Johnson, Karren Gillan, Jack Black, Kevin Hart| Rate: 3.5

Read Full Post »

1. Pemintal Kegelapan 2. Vampir 3. Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari 4. Mobil Jenazah 5. Pintu Merah 6. Mak Ipah dan Bunga Bunga 7. Misteri Polaroid 8. Jeritan Dalam Botol 9. Sejak Porselen Berpipi Merah Itu Pecah 10. Darah 11. Sang Ratu

Beberapa orang menggemari cerita hantu tapi tak mau ketemu atau didatangi oleh mereka. Maunya cukup ditakuti lewat kata kata saja. Jangan sampai bertemu hantu betulan. Bisa pingsan. Atau menangis tanpa air mata, jika yang datang berupa hantu masa lalu yang menyakitkan. Sihir Perempuan diharapkan bisa menakut nakuti atau membuat perasaan tidak nyaman biar pun membaca di sofa empuk seperti perutnya Totoro. Apakah harapan itu terkabul? 

Jawabannya antara ya dan tidak. Membingungkan memang. Tapi ini mendingan, ketimbang jawabannya ialah antara ada dan tiada. Karena hantu hantu serta kenangan kenangan (juga sebuah lagu) bermukim di tempat itu. Antara ada dan tiada. Maksud dari antara ya dan tidak ialah bahwa buku ini ada yang menakutkan namun ada pula yang biasa saja. Mau tahu, cerita mana saja yang menakutkan? Mau tahunya mau tahu banget apa mau tahu tempe? 

Yang mau tahu banget keep stay tune, dan yang mau tahu tempe silahkan ke warteg terdekat. Saya tidak akan melarang. Nah, cerita yang menakutkan itu ialah… coba tebak cerita nomer berapa? Ya, kalian benar! Cerita pertama memang menakutkan. Judulnya Pemintal Kegelapan. Premisnya mengenai hantu perempuan yang menghuni loteng rumah seorang ibu dan anaknya. 

Ia, rahasia terbesar loteng rumahku, adalah hantu perempuan berambut panjang terurai yang selalu duduk di depan alat pemintal. Wajahnya penuh guratan merah kecokelatan, seperti luka yang mengering setelah dicakar habis habisan. Bola matanya berwarna merah seperti kobaran api. Bila ia membuka mulutnya, kau akan melihat taring taring yang panjang. 

Cerita ini mengingatkan saya dengan film horror Jepang, The Grudge. Di permulaan film ada adegan seorang anak perempuan yang penasaran ingin masuk loteng. Ia lantas membuka penutup loteng. Kepalanya baru saja masuk, ketika tiba tiba ia ditarik ke dalam loteng. Menyisakan jeritan. Di Pemintal Kegelapan, akan diceritakan kisah awal mula mengapa si hantu terdiam di sana. 

Sebagai cerita misteri tentu saja yang satu ini itu tak terlalu istimewa. Masih banyak film lain yang lebih seram, namun malam ini aku merinding mengingatnya. Lalu kusadari ketika tiba didepanku, laju mobil jenazah menjadi sangat lamban. Aneh. Tulisan hijau besar besar MOBIL JENAZAH menjadi sangat jelas di mataku. Dari kacanya yang gelap bisa kulihat sosok yang samar samar. Seorang laki laki, kurasa. Dan, entah ini benar atau khayalanku, ia tengah memperhatikanku.

Cerita selanjutnya berjudul Mobil Jenazah. Tentang wanita karir yang pulang malam, menunggu taksi di pinggir jalan. Eh, tidak disangka ia malah didatangi mobil jenazah. Tak hanya sekali namun berkali kali. Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Cerita ini sepertinya akan menarik jika diadaptasi jadi sebuah film pendek. Cukup cinematic, dan punya twist yang lumayan mengejutkan. Btw, saya jadi ingat cerita angkot setan. Mungkin kalian sudah sering mendengarnya. Jadi ada orang sedang naik angkot jam 12 malam. Ia sendirian. Berdua dengan pak supir. Sewaktu turun, ia bayar pakai uang 50 ribuan. Begitu menerima uangnya, pak sopir langsung tancap gas. Orang itu kaget, langsung teriak; dasar angkot setaaannnn!!!!

Mak Ipah dan Bunga Bunga menjadi cerita ketiga yang menakutkan sekaligus menyedihkan. Cerita ini bukan menakuti dalam bentuk hantu. Mungkin bukan menakuti, lebih tepatnya membuat tak nyaman. Marini, pengantin baru, tak sengaja bertemu dengan salah satu tetangganya, Mak Ipah. Tidak seperti yang lain,ternyata Mak Ipah tidak diundang pesta oleh keluarga suami Marini. Sewaktu ditanya alasannya, suaminya mengatakan bahwa Mak Ipah kurang waras. Marini tak percaya. Ia terus mendekati Mak Ipah. Hingga kemudian terkuaklah rahasia mengerikan dan menyedihkan dari Mak Ipah. 

Misteri Polaroid. Cerita berikutnya. Mungkin sudah bisa ditebak ya ini ceritanya tentang apa. Iya, kalian benar. Ini memang bercerita mengenai hantu yang numpang eksis di dalam sebuah sesi pemotretan. Cerita ini mengingatkan saya dengan film horror negeri gajah putih, Shutter. Dalam cerita ini tak ada twist. Seperti sekedar memberikan cerita permulaan tentang bagaimana hantu itu bermula. 

Cerita ini berakar dari ramalan. Mungkin kau tidak percaya hal mistis. Dulu aku juga demikian, sampai kusaksikan hidup sahabatku Herjuno dipermainkan oleh kekuatan gaib yang luar biasa besar sekaligus sulit dimengerti. Paragraf ini membuka cerita terakhir yang menakutkan versi saya. Judulnya Sang Ratu. Mengenai Herjuno yang ingin bertemu dengan Ratu Pantai Selatan setelah ia bermimpi aneh. Ia ingin meminta agar kehidupannya jadi lebih sukses. Tak lama, ia bertemu dengan perempuan yang ia yakini sebagai titisan Sang Ratu. Ia begitu yakin hajatnya akan terkabul. Tak tahu bahwa tindakannya akan membawa kehancuran bagi hidupnya. 

Sihir Perempuan terdiri dari sebelas cerita pendek dengan tema yang beragam tapi tak jauh jauh dari hantu, setan, darah yang sebagian besar menampilkan perempuan sebagai karakter sentral. Saya pertama kali membaca karya Intan Paramadhita di buku  Kumpulan Budak Setan yang berkolaborasi dengan Eka Kurniawan & Ugoran Prasad. Saya menyukai cerita cerita Intan di buku itu. Sayangnya, Sihir Perempuan sedikit dibawah ekspektasi saya. Belum ada cerita yang benar benar mengguncang. Meski nuansa horrornya terasa sekali. Mungkin akan beda penilaiannya jika saya belum membaca Kumpulan Budak Setan. Dengan cover gothic yang keren, beserta sebelas ilustrasi dari Muhammad Taufiq (Emte) yang mengawali setiap cerita, saya rasa Sihir Perempuan layak untuk dikoleksi dan dibaca jika kalian menggemari cerita cerita horror yang tak hanya bercerita mengenai hantu hantu, tapi juga nafsu, keserakahan manusia serta persoalan hidup dari sudut pandang perempuan. 

Sihir Perempuan | Intan Paramadhita | Halaman: 158 | PT Gramedia Pustaka Utama | Rate: 3

Read Full Post »

Ketika seseorang ditanya bagaimana kesannya terhadap buku yang telah dibaca, kalian tentu pernah mendengar jawaban ini: ‘oh, kalimatnya mengalir’, ‘bukunya menghanyutkan’, ‘unputdownable’, ‘bikin lupa waktu tapi enggak bikin lupa sama kamu uwuwuwuwu’, dan lain lainnya, endesbra endesbre. Mungkin tak sama persis, tapi intinya seperti itu. Begitulah kira kira saya akan memberi penilaian atas buku ini. Isabel Allende begitu piawai merangkai kata. Lembar demi lembar terangkat dengan ringannya. Tahu tahu sudah setengah buku. Tahu tahu sudah mau habis. Tahu tahu..tararahu..tararahu.. how deep is your love…tararahu..

Saya akan membahas covernya terlebih dahulu. Terlihat feminim dan cantik. Bunga mawar putih mengembang di dekat dinding biru muda yang penuh dengan totol totol hijau seperti wijen pada kue onde onde. Konon bunga mawar putih melambangkan cinta yang tulus dan murni. Ini sedikit banyak sesuai dengan apa yang terpapar di dalam buku. Jadi, gambar bunga mawar itu sudah tepat. Namun, akan lebih afdol jika ditambahi juga dengan duri. Karena akan lebih terasa simbolisnya, mawar dan duri, keindahan dan kesakitan. Selain itu mawar juga identik dengan duri, meski duri tidak selalu identik dengan mawar. Khan bisa saja itu duri ikan, duri kaktus, duri landak, atau duri duri dam dam duri duri dam… duri duri dam dam.. duri duri dam.. kamu makannya apa?!!! TEMPE

The Japanese Lover atau Kekasih Jepang dibuka dengan diterimanya Irina Bazili untuk bekerja di panti wreda bernama Lark House. Ia bertugas melayani penghuninya agar merasa nyaman. Disitu ia berkenalan dengan Alma Belasco yang meminta Irina untuk menjadi asisten pribadinya. Irina kemudian berkenalan juga dengan cucu Alma, Seth, yang kemudian menyuruh Irina untuk mematai matai neneknya. Irina yang juga penasaran pun menyetujui. Dengan dalih ingin menyusun buku, Irina dan Seth meminta neneknya untuk bercerita mengenai masa lalunya. Yang berhubungan dengan datangnya surat surat misterius dan juga bunga gardenia. Cerita Alma Belasco mengalir dari masa kanak kanaknya yang terpaksa berpisah dari orang tuanya karena perang, hingga ia bertemu dengan Ichimei Fukuda, putra tukang kebun di rumahnya. Jalinan pertemanan itu mengembang jadi cinta. Tapi jalan cinta mereka penuh dengan lubang, hingga mobil cintanya kadang jatuh dan tak bisa bangkit lagi.. aku tenggelam dalam luka dalam..

Buku ini mungkin tak sampai membuat hati pembacanya bengkak oleh rasa sedih, karena prahara cinta Alma dan Ichimei memang tak setragis kisah Romeo dan Juliet. Bahkan ada tokoh lain yang punya cerita lebih menyedihkan. Saya tidak akan memberitahu siapa. Ini kejutan. Kisah cinta di dalam buku ini juga tak hanya milik mereka berdua saja. Ada beberapa kisah cinta lainnya yang membuat saya takjub. Tak hanya cinta, ada pula kisah lain yang menarik, persahabatan ganjil, hidupnya kembali orang yang sudah mati, alasan mengapa kucing Alma diberi nama Neko, kehidupan di kamp konsentrasi dan lainnya. Semua itu membawa saya dalam petualangan kecil menyusuri tempat tempat jauh, dari Moldova, San Francisco, Topaz di tengah gurun Utah, hingga kota di Mexico, Tijuana meski tak sampai Havana oh na na… Half of my heart is in Havana, ooh na-na 

Jalan cerita buku ini tak mudah ditebak. Memberi kejutan kejutan kecil semisal tentang nasib kisah cinta sepihak Irina dengan salah satu penghuni panti wreda, hingga kejutan kejutan yang mengguncang. Membuat saya sedih dan terharu. Terbagi dalam 31 bab pendek yang ditulis dalam dua bagian, masa lalu dan masa kini secara bergantian. Ada beberapa pelajaran yang bisa diambil, bahwasanya sedekah bisa membuka pintu rejeki, berbuat baiklah sebanyak banyaknya terutama jika kalian orang kaya, dan cinta janganlah sampai menikam logika meski cinta ini kadang kadang tak ada logika.. berisi smua hasrat dalam hati… 

Saya juga ingin berterima kasih kepada mbak Tanti Lesmana yang sudah menerjemahkan buku ini dengan super sekali, sehingga rasanya sama seperti saya membaca The House of the Spirit & Daughter of Fortune yang diterjemahkan orang lain. Akhirnya, membaca Kekasih Jepang tidak seperti sedang arung jeram melainkan mengambang di kolam arus yang santai. Buku yang memikat saya sejak halaman pertama. Sayang, bagi yang mengharap kata kata romantis mungkin akan kecewa. Kalimat kalimat romantis sedikit ada di dalam surat surat Ichimei kepada Alma. Sayang, surat surat yang ditampilkan kurang banyak. Tapi jangan khawatir, romantisme itu ada dalam bentuk perbuatan tokoh tokohnya dalam rangka untuk menunjukkan cinta dan kasih sayang, opo kowe krungu jerit e ati ku.. Mengharap engkau kembali…Sayang, Nganti memutih rambutkuu….

The Japanese Lover/ Kekasih Jepang | Isabel Allende | Halaman: 408 | Rate: 4

Read Full Post »

On the Beach at Night Alone ternyata jadi semacam curcol sutradara Ho Sang soo terhadap skandal percintaannya dengan artis Kim Min Hee yang juga membintangi film ini. Akhir dari kisah cintanya ialah ia akhirnya bercerai dengan istrinya dan memilih Kim Min Hee sebagai pasangannya. Konon, keduanya mulai dekat semenjak Kim Min Hee bermain di filmnya yang berjudul Right Now, Wrong Then. Tresno jalaran soko kulino, mungkin. Skandal ini sempat ramai di Korea Selatan sana. Meski kayaknya bakal lebih ramai seandainya keduanya ialah sutradara dan artis negeri Indonesia. 

Melalui film ini, yang ditulis oleh Hoo Sang Soo sendiri, seolah olah ingin memberikan gambaran atas apa yang bergolak di dalam hatinya atas kisah cinta terlarangnya itu. Bukan sebagai pembelaan, sepertinya hanya ingin didengar saja. Tidak hanya dari sisi dirinya tapi juga dari sisi Kim Min Hee. Malah porsi Kim Min Hee lebih banyak karena film ini memang berpusat padanya. Kim Min Hee berperan sebagai Young Hee, artis yang sedang menyepi ke luar negeri karena terlibat skandal dengan sutradara. Ia berlibur ke Jerman, bertemu dengan temannya yang baru saja bercerai. Setelahnya ia kembali ke Korea dan bertemu dengan teman temannya. Ngumpul, ngobrol ngobrol sambil minum bir atau soju. Di antara ngobrol ngobrolnya itu disinggung mengenai skandalnya dengan pak sutradara. Begitu saja filmnya.

Film ini memang segmented sekali. Isinya orang ngobrol. Sama seperti sedang menonton sekelompok orang yang lagi hangout di caffe. Kemudian direkam dengan kamera yang ditempel di tripod. Pergerakan kamera di film ini memang sederhana sekali. Orang yang baru memegang kamera mungkin bisa melakukannya. Tidak ada kamera yang berjalan. Statis saja. Dan yang dishoot itu kebanyakan orang ngobrol, jalan, makan, dan aktivitas lain layaknya orang orang. Tapi ada satu yang sedikit membuat beda yaitu adanya tokoh laki laki memakai baju hitam dan kupluk, yang tidak jelas dari mana datangnya. Kadang bisa dilihat kadang tidak. Yang ia lakukan ialah membopong Young Hee, minta korek api, sama sibuk ngelap kaca. Mungkin ia adalah simbol dari masalah Young Hee yang mengikuti kemana pun ia pergi. 

Bagi yang tidak cocok, film ini akan membosankan sekali dan bukan tak mungkin akan berhenti menonton di menit menit awalnya. Tapi, kebetulan saya termasuk yang suka film ini. Saya tidak masalah menonton orang orang ngobrol ngobrol saja. Yang membuat menarik ialah akting para pemainnya begitu natural, seolah olah tidak sedang berakting. Apalagi kebanyakan dishoot dalam satu take tanpa cut. Meski hanya kamera statis dengan zoom in zoom out dan sedikit geser kanan kiri saja. Dari film film Hoo Sang Hoo yang pernah saya tonton, memang seperti ini. Tidak ada kamera movement yang ciamik seperti film film lainnya. 

On the Beach at Night Alone tidak sepenuhnya bercerita mengenai seorang perempuan di pantai sendirian. Bahkan saya harus menunggu sampai film akan berakhir baru tahu apa maksud judul tersebut. Film ini diringi dengan iringan musik klasik Schubert’s String Quintet in C Major yang cocok sekali dengan film ini. Akhirnya, film ini wajib ditonton seandainya kamu menggemari film filmnya Hoo Sang Soo. Atau bagi yang ingin melihat Kim Min Hee karena ia adalah nyawa film ini. Aktingnya tak kalah superb dibanding sewaktu di The Handmaiden. Bagi yang ingin coba coba, boleh saja. Toh cuma nonton film, bukan buat anak yang katanya enggak boleh coba coba. Tapi siapkan moodnya dulu ya. 

On the Beach at Night Alone | Dir: Hoo Sang Soo | Cast: Kim Min Hee, Jung Jae Young | Rate: 4

Read Full Post »

Film ini diadaptasi dari buku detektif karangan penulis terkenal Agatha Christie. Salah satu keunggulannya ialah jalan cerita yang tidak mudah tertebak. Saya belum baca bukunya, tapi sudah menonton film versi jadulnya, dan ya, endingnya cukup mengejutkan. Nah, kalau saya sudah tahu jalan ceritanya, mengapa saya masih menonton versi terbaru ini? Kenapa hayo?? Jawabannya, karena saya pengen nonton. Jawaban yang singkat dan sederhana. Kecuali saya ditanya, kenapa eh kenapa minuman itu haram? Maka saya akan menjawab; karena eh karena… merusak pikiran. Ha ha haaaa.. yeaahh!!

Ternyata Murder on the Orient Express terbaru ini lebih asik ketimbang versi yang dahulu itu. Sinematografinya lebih cuamik, tidak hanya menyorot bagian dalam gerbong kereta namun juga view dari kejauhan. Beberapa adegan juga lebih terasa lonjakannya. Saya suka dengan openingnya, ketika Hercule Poirot bicara di depan ratusan orang di depan tembok ratapan. Kesannya epik sekali. Juga para pemainnya yang sebagian besar sudah punya nama. Ada Johny Deep yang lumayan berhasil melepaskan image bajak lautnya. Daisy Ridley yang tampil klasik dan cantik. Bagaimana dengan si detektif sendiri? Kenneth Branagh memerankannya dengan baik sekali. Jauh dari bayang bayang versi yang dahulu. Saya belum membaca bukunya jadi tidak bisa bandingin, tapi yang jelas versi terbaru ini akan memberikan kesan tersendiri di benak penonton. Gayanya yang semau sendiri saking pinternya mungkin. Kadang nyentrik. Yang cukup mengejutkan ialah, ternyata beliau cukup lucu meski ia sama sekali tak berniat melucu. Bahkan ia tak pernah bohong, tapi kata katanya bisa bikin tertawa. Enggak sampai ngakak sih. Inilah mungkin yang dinamakan lawakan yang hakiki; tidak perlu bohong untuk membuat orang tertawa. Dan, jangan lupa kumisnya juga ya. Kumisnya yang sekarang lebih panjang ketimbang versi yang lama. Katanya sih, agar lebih mendekati dengan bukunya.

Film ini juga lebih kena dramanya. Saya enggak menyebutkan yang mana saja, karena akan spoiler. Tegangnya juga lebih terasa, apalagi bagian menuju pungkas. Yang jelas, film ini akan memuaskan mereka yang sudah menonton film jadulnya. Buat mereka yang sudah baca bukunya, rasanya film ini tidak akan mengecewakan. Malah kudu ditonton. Buat penonton secara umum juga sepertinya akan menyukainya. Cara cara Hercule Poirot untuk menemukan siapa pembunuhnya asik untuk disimak. Tapi buat yang mengharapkan banyak aksi yang mendebarkan, sepertinya akan sedikit kecewa. Film ini lebih banyak ngobrolnya. Ngobrol seru.

Murder on the Orient Express sepertinya akan menjadi titik awal franchise Hercule Poirot. Di film ini disinggung kasus pembunuhan lain di Sungai Nil. Ini bisa jadi merujuk pada judul buku Agatha Christie yang lain, Death on the Nile. Dan tidak menutup kemungkinan buku buku yang lainnya pun ikut menyusul. Fans Agatha Christie pasti senang ya. Saya juga ikut senang, walau bukan fansnya. 

Film ini bercerita mengenai sepak terjang detektif terbaik dunia, Hercule Poirot dalam mengungkap pembunuhan yang terjadi di dalam kereta api yang ia tumpangi. Beberapa orang pun ia curigai. Orang orang dengan latar belakang yang berbeda beda. Hingga kemudian penyelidikannya mengantarkannya pada sesuatu yang mengejutkan. Kasus tersebut berbeda dengan kasus yang ia kerjakan sebelumnya. 

Murder on the Orient Express yang terbaru ini mampu menghibur lebih dari yang saya harapkan. Ia punya cerita yang membikin saya penasaran lagi meski saya sudah tahu ceritanya, ditambah sedikit aksi dan drama yang cukup menyentuh. Dan ada pelajaran yang bisa saya dapatkan di film ini. Yaitu bagaimana saya sebaiknya bersikap manakala kaki saya tak sengaja menginjak tahi. Boleh tahi kuda, tahi kebo, tahi kucing, tahi ayam, asal jangan tahi lalat saja. Nanti yang punya marah. Sewaktu menginjak tahi, janganlah mengumpat. Cukup terkejut, dan berkatalah; hmm.. ini tentang keseimbangan..( ini akan membuatmu terlihat smart) kemudian, injaklah tahi itu dengan kaki satunya yang bebas dari tahi. Jadi dua duanya kena tahi. (Ini akan membuatmu terlihat murah hati.) (Atau sinting) (lol) Tapi menginjak tahi juga harus disyukuri, ketimbang menginjak ranjau, atau menginjak ekor kucing.

Murder on the Orient Express | Dir: Kenneth Branagh | Cast: Kenneth Branagh, Daisy Ridley, Johnny Deep, Penelope Cruz, Michelle Pfeiffer, Judi Dench, William Dafoe | Rate: 3.5

Read Full Post »