Feeds:
Posts
Comments

Archive for March, 2018

Sewaktu tragedi itu terjadi, Kiewarra ialah tempat laksana bunyi telepon jaman dulu; KERIIINGGGG!!!!! Hujan seperti anak kecil naik ke pohon dan dibawahnya lahar gunung berapi; enggak mau turun. Musim kemarau terlalu lama singgah. Panas. Sungai kehilangan air. Manusianya kehilangan kesabaran. Tragedi itu merupakan yang terburuk sepanjang 20 tahun sejarah Keiwarra. Satu keluarga tewas terbunuh. Ibunya bersimbah darah di depan pintu masuk. Anak laki lakinya di dalam kamar. Ayahnya di atas mobil dengan kepala hancur terkena peluru. Senapan di tangannya. Bunuh diri.

Setidaknya itulah dugaan banyak orang. Luke Hadler membunuh istri dan anak laki lakinya sebelum membunuh dirinya sendiri. Orang tuanya tak setuju. Mereka membujuk Aaron Falk untuk menyelidiki. Aaron Falk ialah teman lama Luke Hadler. Semasa muda, keduanya bersahabat bersama dua teman perempuan lainnya, Elli Deacon & Gretchen. Kemudian kita akan tahu, kalau Elli Deacon meninggal. Aaron Falk terpaksa pergi dari tempat itu setelah ayah Elli Deacon menuduhnya sebagai pembunuh putrinya. Apakah Aaron Falk membunuh Elli Deacon? Kalau bukan, siapa pembunuh sebenarnya? Pertanyaan itu terputar di kepala bersama dengan pertanyaan lain; apakah Luke Hadler memang bunuh diri? Kalau bukan bunuh diri, siapa yang membunuh?

Jawaban atas pertanyaan itu akan diungkap menjelang bubaran setelah penyelidikan oleh Aaron Falk dibantu polisi setempat. Kisah penyelidikan itu berselingan dengan kisah 20 tahun yang lalu ketika Aaron Falk masih sering bermain dengan 3 temannya itu sampai Elli Deacon terbunuh. Porsi drama di buku ini lebih dominan ketimbang penyelidikan penembakan itu. Buku ini bukan kisah pembunuh berantai yang mengintai korban korbannya. Jadi bisa dibilang nyaris tanpa ketegangan, yang ada hanya penasaran. 

Sebagai yang pertama tiba di TKP, lalat lalat itu mengerubuti dengan puas dalam panas selagi genangan darah menghitam di ubin dan karpet. Di luar, jemuran bergeming di tali jemuran, kering dan kaku karena matahari. Sebuah sekuter anak anak tergolek di sebuah jalan setapak dari batu. Hanya ada satu jantung manusia yang masih berdetak dalam radius satu kilometer dari pertanian itu. 

Karena itulah tidak ada yang bereaksi ketika jauh di kedalaman rumah, bayi itu mulai menangis.

The Dry mungkin enggak sampai memainkan emosi, tapi cukup bisa untuk dinikmati. Siapa pelaku pembantaian itu pun mengejutkan. Sayangnya treatment yang diterapkan pada tokoh itu kurang meninggalkan kesan. Meski demikian buku ini masuk dalam kategori mudah untuk dihabiskan. Cobalah jika kamu menyukai kisah pembunuhan seperti buku Dekut Burung Kukut, Ulat Sutra, Dark Places dan lainnya. Rate:4

Advertisements

Read Full Post »

Topan badai seharusnya jadi teman baik bagi gerombolan pencuri uang di sebuah fasilitas milik pemerintah. Sebenarnya uang itu memang akan dimusnahkan. Jumlahnya banyak sekali. Cukup buat mandi. Tapi tetap saja tidak boleh diambil sembarang orang. Mencuri tetaplah mencuri. Tidak boleh dilakukan. Gerombolan maling itu memanfaatkan topan badai untuk melancarkan aksinya. Agar jalanan jadi lengang karena orang orang terpaksa mengungsi. 

Rencana berjalan dengan mulus, tapi ada satu masalah. Brankas raksasa tempat menyimpan uang itu tak bisa ditembus karena passwordnya sudah diganti. Hanya satu orang yang tahu. Casey. Cewek tangguh penanggung jawab brankas itu. Casey ndilalah lagi pergi menjemput tukang genset waktu perampokan itu terjadi. Jadilah, gerombolan maling itu memburu Casey demi mendapatkan password itu. 

Casey tak sendiri. Selain dibantu tukang genset, ahli cuaca juga ikut menyelamatkannya dari kejaran gerombolan maling itu. Secara kebetulan ahli cuaca itu adiknya si tukang genset. Kebetulan juga, adiknya itu adalah ahli cuaca. Sebab itu sangatlah membantu. Ahli cuaca tentu ngerti masalah topan badai yang mulai datang dan akan bertambah besar. Tapi yang paling membantu ialah ia punya kendaraan dinas yang kece badai. Versi KWnya Batmobile versi Nolan, bukan Snyder. Anti peluru. Bisa berdiri kokoh di tengah badai soale punya fitur paku bumi, yaitu dari bawah mobil bisa muncul paku paku yang memaku tanah sehingga tidak goyang tertiup angin. 

Hurricane Heist memang seperti B movie, tapi kesenangan menontonnya melebihi waktu saya nonton Pacific Rim 2. Menegangkan. Lucu sedikit. Tembak tembakan. Topan badai mengamuk menghempas tanpa pandang bulu yang berhasil dimanfaatkan oleh ahli cuaca untuk menyerang gerombolan maling itu. Dalam sebuah adegan digambarkan velg velg mobil melayang menembus dada manusia. Kalah deh tamengnya si Kapten Amerika. Truk truk besar menderu menjauhi amukan si topan. 

Tak bisa dipungkiri memang ada beberapa yang mengganjal, seperti ketika si tukang genset & ahli cuaca bersiap menyerang dengan memamerkan lemari berisi penuh senjata, tapi malah senjatanya enggak dipakai. Ada juga yang rada aneh, tapi juga terlihat lebih manusiawi. Di saat sedang pusing dikejar kejar penjahat dan menghindari badai kok bisa bisanya kencing dulu. Berdua barengan pula. Padahal kalaupun bagian kencing itu dicut juga enggak ngaruh ke jalan cerita. Mereka ngobrol hal yang bisa dilakukan tanpa kencing. Enggak ngomong gini, misalnya; eh, waktu aku lihat air kencingku tadi, aku jadi punya ide gila. 

Yah, enggak sampai ganggu juga sih, cuma lucu aja lihatnya. Mungkin ingin mengingatkan kali ya, bahwa nahan kencing itu enggak baik. Nanti jadi penyakit. Film ini juga berhasil membawa saya untuk ikut merasakan apa yang protagonisnya rasakan. Saya ikut senang waktu mereka berhasil membuat musuh kewalahan. Saya ikut tegang waktu mereka mati matian menghindar dari topan badai. Tapi saya enggak ikutan kencing waktu mereka kencing lho ya.

Hurricane Heist dibesut oleh orang yang dulu membuat cikal bakal franchise laris The Fast and The Furious, dan agen rahasia xXx. Dimainkan pemain pemain yang kurang familiar, kecuali Maggie Grace yang pernah jadi anaknya Liam Neeson di trilogi Taken. Di imdb, tomat enggak segar, film ini dapat rate jelek. Tapi jangan percaya sama mereka sebelum melihatnya sendiri. Saya berani kasih rate 4 dari 5. Kalau kamu berani kasih berapa?

Read Full Post »

Pas nonton pengen tepuk tangan, tapi enggak ada temennya. Jadi diam saja. Tepuk tangannya di dalam hati. Tapi untuk pertama kalinya dalam sejarah, aku nonton matanya sampai melotot. Ingin melihat lebih jelas. Lebih jelas lagi. Tapi pas bagian The Shinning itu, enggak berani melotot. Takut kaget. Ntar jantungan piye? 
Tadi nonton yang 3D. Manjain mata banget. Enggak pengen kelewatan satu detik pun. Apalagi pas balapan mobil yang ada di trailer itu. Wiuhh, mantabbbbb!! Dan last battle nya, aduuhhhh gilak! Ada Gundam. Mechagodzilla. Edun!! Yang suka main game, baca komik, nonton anime pasti bakal suka. Banyak tokoh tokoh yang akan muncul. Mulai dari Batman, Chucky, King Kong sampai Iron Giant. Yah, memang enggak semua dapat peran yang krusial, tapi tetap saja menyenangkan. 

Tak cuma visualnya saja yang emejing, Ready Player One juga punya cerita yang asik buat disimak. Terjadi di tepat 100 tahun setelah Indonesia merdeka yaitu 2045, sebuah game virtual bernama OASIS menjadi tempat sebagian besar warga Amerika untuk melarikan diri dari kenyataan. Di OASIS, setiap orang bisa menjadi siapa pun. OASIS jadi semacam candu baru bagi setiap orang. Tidak terkecuali Wade Watts. Pemuda 18 tahun dari pemukiman kumuh yang punya avatar bernama Parzival. Ia, seperti semua orang yang ada di OASIS, berhasrat untuk menemukan 3 kunci yang bisa menjadikan dirinya pemenang dan menguasai OASIS. Ia dibantu oleh teman temannya. Selain berpikir keras mencari 3 kunci itu, ia juga harus bersaing dengan IOI, perusahaan yang juga berniat menguasai OASIS dengan cara apa pun. 

Ready Player One.. hmm, rasanya sudah cukup berkata kata. Silahkan buktikan sendiri kedahsyatannya. Rate:4.5

Ps: Alasan mengapa harus nonton Ready Player One. Nomer 5 bisa bikin kesel sendiri.

1. Tokoh idola masa kecil (tua) nongol di layar.
2. Gundam fight hollywood version (jangan tanya musuhnya siapa. Beuhh!! Mantap soull!!)
3. Balap mobilnya, BRUTAL!!
4. Steven Spielberg.
5. Rekomendasi yang tulus dari dalam hatiku. 😚

Read Full Post »

Pacific Rim: Uprising (2018)

Mau lihat robot raksasa berantem sama robot raksasa? 

Mau lihat robot raksasa berkelahi bak jagoan melawan monster gede banget?

Kalau jawabannya ‘iya’, enggak usah ragu buat nonton film ini. Kalau jawabannya tidak, cobalah buat tetap nonton. Mungkin bakal suka sama gebuk gebukan robot dan monster raksasa di tengah kota. Tapi, jangan ditanya ceritanya. Biasa saja. Malah mboseni. Untunglah, ketidakmenarikan cerita dibayar dengan pertarungan seru para pelindung bumi melawan maklhluk makhluk dimensi lain bernama Kaiju. Eits, enggak cuma lawan Kaiju, lawan sesama robot juga lho. 

Bagi yang sudah nonton film pertama, dan protes kenapa tarungnya kadang suka gelap gelapan, di film yang kedua ini tarungnya jelas kelihatan. Jaegernya semakin lincah. Seperti Transformer saja. Pertarungan mencapai klimaksnya sewaktu di Jepang. Sayangnya, tidak ada crossover sama Ultraman. Kalau saja ada, wuih, luar biasah. Meski ini film kedua, tapi kalau enggak nonton film pertama juga enggak apa apa. Masih bisa ngikutin ceritanya. 

Intinya, Pacific Rim: Uprising jangan dilihat ceritanya, tapi lihatlah pertarungannya. Maka kamu akan keluar bioskop dengan muka bahagia. Rate: 3

Read Full Post »

Tomb Raider (2018)

Lara Croft. Namanya mengingatkan saya dengan lagunya Melinda yang judulnya Mabuk Janda. Liriknya seperti ini; lara hati aduh lara hati, kutidur sendiri, suami lupa diri. Mabuk Janda berkisah tentang keresahan seorang wanita yang ditinggal oleh suaminya. Tak terlalu mirip betul dengan Lara Croft, tapi keduanya sama sama ditinggalkan oleh orang tersayang. Lara Croft ditinggal bapaknya entah kemana.  Tujuh tahun ia menanti, berharap menemukan bapaknya yang tercinta. 
Suatu ketika, secercah harapan merekah ketika ia menemukan sebuah petunjuk tentang keberadaan sang bango, eh bapak. Menggadaikan kalung giok warisan, ia nekat pergi mencari sang bango, eh sang bango lagi, sang bapak maksudnya. Pencarian itu membawanya pada sebuah petualangan melintasi lautan, menembus badai, terjatuh di sungai, berkelahi sampai akhirnya ia harus berupaya untuk mencegah kebangkitan sebuah kekuatan jahat yang bisa mengguncang duniaaaaa.. 

Lara Croft yang dimainkan oleh Alicia Vikander ini pantas dijuluki dekil dekil cabe rawit. Biarpun dekil tapi tahan banting. Memang ia belum begitu mahir ilmu beladiri(apalagi ilmu kanuragan), akan tetapi keahliannya untuk bertahan hidup itu pantas diacungi jempol dan tepuk tangan yang gemuruh. Ia melompat lompat, berayun ayun menghindari terjangan musuh atau pun reruntuhan bangunan sebesar kebo. Aksi aksi yang menegangkan justru hadir saat Lara berjuang sendiri menghindar dari marabahaya. Seperti melihat film disaster dimana jagoannya dikejar kejar gedung yang runtuh, atau meteor. Oh, tapi ada adegan first killing nya Lara cukup menegangkan. Membuat saya enggak sadar menggigit gigi sendiri. 

Saya enggak bisa bandingin film ini dengan gamenya karena enggak mainin, juga enggak bisa bandingin sama film Tomb Raider teteh Angelina Jolie soale saya enggak nonton full, cuma setengah setengah di tivi. Jadi saya kudu mbandingin sama sapa? Masa sama kucing? Duh jadi bingung, nyanyi aja deh.. lara hati.. aduh lara hatii…kutidur sendiri..

Oh wait!! Saya bisa bandingin dengan film film adapatasi game lainnya. Sebagai adaptasi game, film ini cukup berhasil jadi tontonan yang asik. Ketimbang misalnya, Assasin’s Creed , yang saya gagal nonton sampai habis. Kiprah Alicia Vikander jelas lebih baik ketimbang suaminya. Alicia Vikander berhasil menjadi sosok Lara Croft baru yang sama sekali berbeda dengan Lara Croft sebelumnya. 

Saya enggak komplain sama ceritanya yang so so, tapi sedikit twist diakhir film jelas merujuk akan adanya sequel. Ngomongin twist, ada satu lagi twist yang ada menjelang ending. Tapi sebuah twist bukanlah jaminan kalau ceritanya akan bisa diterima seluruh lapisan masyarakat. Yang mendamba cerita yang dalam penuh emosi mungkin akan kuciwa. Memang ada momen momen yang diharapkan akan menyentuh, tapi sayangnya terlihat hambar. Bukan bermaksud jahat, tapi sempat geli juga ngelihat simbol cinta dua jari. Itu kan yang dilakukan pemuda pemuda jaman dulu. 
Tomb Raider cukup sukses mengangkat kembali sosok Lara Croft. Sequel yang akan tayang entah sampai kapan, bisa jadi akan dinantikan. Rate: 3

Read Full Post »

Abis nonton apa lu?
Red Sparrow.
Oh, itu apanya Jack Sparrow?
Bukan siapa siapanya.
Oh, kaya lu sama dia dong?
Naniiii *autoteriak*

Percakapan di atas memang hanya ada di kepala saya saja. Sama seperti bayangan akan sebuah adegan berantem seru  Jennifer Lawrence mengalahkan lawannya. Saya tahu, Red Sparrow memang tidak akan sama dengan film mata mata perempuan macam Salt, Atomic Blonde. Red Sparrow lebih drama. Tapi saya kira bakal dikasih aksi walau pun secuil. Nyatanya tidak. Nyaris tanpa aksi. My bad. Memang jadi kebiasaan, kalau ada film yang ingin ditonton, saya menghindari berbagai hal yang berhubungan dengan filmnya. Seperti trailer, review review bahkan sinopsisnya secara detail. Jennifer Lawrence jadi mata mata Rusia sudah cukup membuat bungah untuk melangkahkan kaki menuju bioskop.

Minusnya aksi di film ini terbayar dengan jalinan cerita yang seru, meski dua jam lebih durasinya masih terasa agak kepanjangan. Ceritanya tidak terlalu berat. Endingnya cukup punya kejutan. Saya gagal menebak siapa sebenarnya tokoh ‘Marble’ yang dicari itu. Marble itu sebutan untuk orang Rusia yang membantu agen Amerika. Siapa sebenarnya Marble jadi teka teki yang harus dipecahkan. Jati diri Marble sangat diinginkan oleh Rusia. Oleh karena itu mereka mengirim Sparrow, agen rahasia khusus dengan keahlian merayu untuk mendapatkan rahasia. Merayu mungkin bukan kata yang tepat. Intinya , Sparrow ini ialah orang yang akan bisa memberikan apa yang kamu mau, dan menerka apa yang kamu inginkan meski kamu diam saja. Plus didukung paras yang jelita. Paket komplit. 

Jennifer Lawrence kembali menunjukkan akting yang yahud. Cocok sekali menjadi seorang Sparrow. Di film ini tampil lebih berani. LSF pun memberi rating 21 ke atas. Dan ya, ada lumayan banyak yang disensor. Tapi enggak sampai merusak cerita. Yang disensor seperti biasa yang berhubungan dengan adegan ena ena, dan pose pose yang mengangkang, eh menantang. Saya suka sekali dengan aksen Rusia yang diucapkan Jenifer Lawrence. 

Selain sensualitas, Red Sparrow juga ngasih sajian brutal berdarah darah. Yang untungnya enggak sampai disensor. Tapi kalau memang disensor, motongnya rapiiih banget. Ada dua adegan yang cukup shocking dan enggak nyaman sama sekali buat dilihat tapi udah terlanjur dilihat. Yang pertama ialah penutupan dari opening film. Dari awal, saya sudah suka sekali dengan openingnya. Dua kejadian yang tidak berhubungan disajikan bergantian dengan iringan orkestra megah pertunjukan balet. Seorang balerina menari ditonton banyak orang. Seorang laki laki berlari dari kejaran polisi. Semakin lama semakin menegangkan. Apa yang bakal terjadi dengan mereka? Sementara saya terpukau dengan Jenifer Lawrence menari balet, gelisah pula hati saya melihat laki laki itu dikejar kejar. Hingga akhirnya… Kampretos!!! Itu adalah momen dimana saya berkata kasar di dalam hati. Ngilu.

Yang kedua mengingatkan saya dengan buku Haruki Murakami, The Wind Up Bird Chronicle. Dalam buku itu ada bagian yang waktu itu saya baca sambil meringis karena ngeri. Dan bagian itu saya saksikan di film ini. Memang tidak sampai sebrutal di buku, tapi tetap saja. Intinya sama, yaitu skinning. Sebuah penyiksaan sadis dengan cara menguliti manusia tipis tipis. Di film ini menggunakan alat seperti alat untuk mengupas kulit buah. Tahu kan ya alatnya seperti apa. Ngeri lah pokoknya.

Red Sparrow enggak bakal memuaskan kamu yang ingin melihat banyak aksi. Tapi kisahnya jelas bakal membikin betah ditonton, apalagi jika kamu fansnya Jennifer Lawrence. Selain dia, film ini juga didukung oleh aktor aktor seperti Jeremy Irons yang pindah dari Gotham ke Rusia. Joel Edgerton yang kemarin jadi polisi orc di film Netflix. Di sutradarai oleh orang yang berada dibalik trilogy Hunger Games, I am Legend, Constantine hingga adaptasi buku Sara Guerin, Water for Elephants, yaitu  Francis Lawrence. Rate: 3,5

Read Full Post »