Feeds:
Posts
Comments

Archive for April, 2018

Di film ini, kalau ingin selamat kamu enggak boleh mengeluarkan suara sekecil apa pun. Baik yang dilakukan secara sadar mau pun tidak sadar. Yang secara sadar misalnya ngomong, nyanyi, memperbaiki lemari baju yang rusak, atau bikin video unboxing kacang sukro dua kelinci. Yang dilakukan secara tidak sadar misalnya tidur ngorok. Kalau hal ini sampai dilakukan, ya wasalam deh. 

Penyebab utamanya ialah adanya monster ganas yang akan dan membantai siapa pun yang mengeluarkan suara. Diam benar benar berarti emas. Monster itu hanya bereaksi terhadap suara. Jadi, intinya kamu boleh melakukan apa pun asal jangan sampai bersuara. Susah dan enggak seru tentunya. Monster monster itu telah membunuh ratusan ribu manusia. Mereka yang bertahan, hidup terpisah pisah. Berusaha sekuat tenaga untuk beradaptasi dengan kehidupan yang baru. Kehidupan tanpa suara.

Diantara para penyintas itu, tinggalah satu keluarga; ayah, ibu dan dua orang anak, laki laki, dan perempuan. Sang ibu sedang hamil. Selain kesusahan karena adanya monster anti suara itu, mereka juga sedang dalam masa penyembuhan luka dalam hati karena kehilangan anak terkecil mereka yang dimangsa monster. Tapi mereka cukup baik menyembunyikan duka laranya. Kehidupan mereka berjalan baik baik saja hingga kemudian terjadilah kecelakaan yang diakibatkan oleh sebuah paku. Kejadian itu menimbulkan suara yang cukup keras. 

A Quiet Place efektif sekali untuk memacu jantung hingga berdebar debar. Karena kaget oleh kedatangan monster. Karena tegang melihat nasib tokoh tokohnya. Kaya lagi nonton film film survival oleh alien, zombie, atau psikopat. Seperti premisnya yang kudu tanpa suara, menonton film ini secara tidak sadar membuat saya juga tidak ingin mengeluarkan suara. Suasana jadi tambah menegangkan. Ini ditunjang dengan scoring yang pas sekali kemunculannya. 

A Queit Place menitikberatkan pada kisah keluarga penyintas itu, jadi jangan harapkan penjelasan mengenai asal usul si monster. Kenapa mereka bisa sampai di bumi. Kenapa manusia bisa kalah, padahal dari segi fisik sepertinya enggak kuat kuat amat. Ditembak pakai rudal juga mati kayaknya. Kalau mereka sensitif dengan suara mengapa enggak dijebak untuk masuk ke sebuah ruangan lantas ditembakin ramai ramai atau disetel musik dangdut koplo sekalian biar ajojing. Monsternya mengingatkan saya dengan demigorghon di serial Stranger Things. 

Akhirnya, A Quiet Place ialah sebuah film yang membuatmu geregetan, kaget dan tak lupa sengatan di hati yang bisa membuat mata jadi sedikit panas manakala hubungan ayah dan anak berada dalam puncaknya. John Krasinski menjadi sutradara sekaligus berperan sebagai suami, dan mengajak Emily Blunt,istrinya sendiri di dunia nyata sebagai istrinya. Si anak laki laki dimainkan oleh Noah Jupe. Yang sudah nonton Wonder, dia jadi temannya August. Sementara Millicent Simmonds jadi anak perempuannya. 

A Quiet Place ditutup dengan ending yang badasse poll. Melihat bahwa masih banyak yang bisa dikembangkan ceritanya, bukan enggak mungkin kelak bakal dibikin kisah lanjutan, atau prequell bahkan spin off juga bisa. Seperti Cloverfield. Rate:4

Advertisements

Read Full Post »

Rampage (2018)

Rampage tentunya masuk dalam jenis film yang ceritanya enggak perlu bagus bagus banget. Cerita standar. Bahkan endingnya pun sudah bisa diterka bagi yang sudi untuk menebaknya. Karena film ini bukan jualan cerita, melainkan.. tahu sendiri lah ya apa yang dijual. Seperti percakapan berikut ini;

+Gue mau nonton Rampage!
-Ceritanya paling begitu. Udah bisa ditebaklah!!
+Ya, enggak apa apa. Lha wong, gue mau lihat gorila raksasa berantem ngancurin kota!
-Ya terserah lu sih. Cuma pas ngomong gorila, mata lu jangan ngeliatin gue gitu dong!! 
+Waduh, maap deh. Sudah kebiasaan!
-Tendangan matahari!!!!

Meski sayangnya hewan hewan raksasanya sudah muncul di trailler semua, tapi mereka bertiga sanggup menghadirkan keseruan yang haqiqi. Bagi yang memang menunggu mereka tawur di tengah kota bersama sama dengan pasukan militer, maka kalian tidak akan kecewa. Berkelahinya seru banget. Gedung gedung enggak sayang buat dirobohkan. Tank tank dilempar. Pesawat tempur dan helikopter digigit gigit layaknya mainan. Debu debu beterbangan. Ini lebih seru ketimbang final battle robot raksasa lawan kaiju kemarin itu. 

Dari cerita sebenarnya enggak ancur ancur banget. Openingnya lumayan bagus. Mirip film film sci fic luar angkasa. Saya memang belum pernah main gamenya, jadi enggak bisa bandingin. Sebagai penonton awam, Rampage lebih dari cukup ngasih hiburan yang seru. Yang bikin tambah asik nontonnya ialah film ini enggak malu malu ngasih adegan gore. Darah muncrat. Orang dimakan. Orang dimakan with slow motion. Dada tertusuk besi. Dicabik cabik.

Terus gimana sama lawaknya? Enggak terlalu banyak, dan enggak pecah kaya filmnya  Dwayne Johnson yang kemarin masuk ke dalam game itu. Cuma ada 1 lawakan yang membuat saya ngakak. Dan itu adalah lawakan terakhir. Akting Dwayne Johnson pun sebelas dua belas dengan aktingnya yang dulu dulu. Belum mampu membuat saya tersentuh meski ada moment yang punya potensi untuk itu.

Sebagai adaptasi dari games lawas, saya kira Rampage cukup sukses dalam upayanya menghidupkan gorila raksasa bersamaan dengan serigala dan buaya yang menghancurkan kota. Brad Preyton, yang kembali menggaet Dwayne Johnson setelah San Andreas dan Journey 2: The Mysterious Island, seakan faham bahwa yang bisa menyelamatkan film ini ialah aksi masif perkelahian sambil menghancurkan kota. Maka itulah yang ia sajikan. 

Jangan lupakan juga, sosok Dwayne Johnson yang akhir akhir ini identik dengan film yang seru. Apalagi bagi yang sudah menonton Jumanji tahun kemarin dan suka, besar kemungkinan akan menonton ini juga. Jadi, apakah Rampage berhasil menghindari kutukan buruk film film yang berasal dari game? Kalau saya sih, yes, kalau kamu? Rate: 3,5

Read Full Post »