Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Books’ Category

Sewaktu tragedi itu terjadi, Kiewarra ialah tempat laksana bunyi telepon jaman dulu; KERIIINGGGG!!!!! Hujan seperti anak kecil naik ke pohon dan dibawahnya lahar gunung berapi; enggak mau turun. Musim kemarau terlalu lama singgah. Panas. Sungai kehilangan air. Manusianya kehilangan kesabaran. Tragedi itu merupakan yang terburuk sepanjang 20 tahun sejarah Keiwarra. Satu keluarga tewas terbunuh. Ibunya bersimbah darah di depan pintu masuk. Anak laki lakinya di dalam kamar. Ayahnya di atas mobil dengan kepala hancur terkena peluru. Senapan di tangannya. Bunuh diri.

Setidaknya itulah dugaan banyak orang. Luke Hadler membunuh istri dan anak laki lakinya sebelum membunuh dirinya sendiri. Orang tuanya tak setuju. Mereka membujuk Aaron Falk untuk menyelidiki. Aaron Falk ialah teman lama Luke Hadler. Semasa muda, keduanya bersahabat bersama dua teman perempuan lainnya, Elli Deacon & Gretchen. Kemudian kita akan tahu, kalau Elli Deacon meninggal. Aaron Falk terpaksa pergi dari tempat itu setelah ayah Elli Deacon menuduhnya sebagai pembunuh putrinya. Apakah Aaron Falk membunuh Elli Deacon? Kalau bukan, siapa pembunuh sebenarnya? Pertanyaan itu terputar di kepala bersama dengan pertanyaan lain; apakah Luke Hadler memang bunuh diri? Kalau bukan bunuh diri, siapa yang membunuh?

Jawaban atas pertanyaan itu akan diungkap menjelang bubaran setelah penyelidikan oleh Aaron Falk dibantu polisi setempat. Kisah penyelidikan itu berselingan dengan kisah 20 tahun yang lalu ketika Aaron Falk masih sering bermain dengan 3 temannya itu sampai Elli Deacon terbunuh. Porsi drama di buku ini lebih dominan ketimbang penyelidikan penembakan itu. Buku ini bukan kisah pembunuh berantai yang mengintai korban korbannya. Jadi bisa dibilang nyaris tanpa ketegangan, yang ada hanya penasaran. 

Sebagai yang pertama tiba di TKP, lalat lalat itu mengerubuti dengan puas dalam panas selagi genangan darah menghitam di ubin dan karpet. Di luar, jemuran bergeming di tali jemuran, kering dan kaku karena matahari. Sebuah sekuter anak anak tergolek di sebuah jalan setapak dari batu. Hanya ada satu jantung manusia yang masih berdetak dalam radius satu kilometer dari pertanian itu. 

Karena itulah tidak ada yang bereaksi ketika jauh di kedalaman rumah, bayi itu mulai menangis.

The Dry mungkin enggak sampai memainkan emosi, tapi cukup bisa untuk dinikmati. Siapa pelaku pembantaian itu pun mengejutkan. Sayangnya treatment yang diterapkan pada tokoh itu kurang meninggalkan kesan. Meski demikian buku ini masuk dalam kategori mudah untuk dihabiskan. Cobalah jika kamu menyukai kisah pembunuhan seperti buku Dekut Burung Kukut, Ulat Sutra, Dark Places dan lainnya. Rate:4

Advertisements

Read Full Post »

Ajun Komisaris Bursok Sembiring kembali beraksi. Setelah memecahkan kasus peti mati yang bisa terbang, kali ini ia berurusan dengan pembunuhan dan raibnya sesosok manekin milik korban pembunuhan itu. Sst, konon manekinnya bisa hidup sendiri dan mulai menuntut balas atas kematian Rendi, laki laki pemiliknya yang jatuh cinta padanya. Pembunuhan Rendi bukanlah tanpa saksi. Akan tetapi, saksinya sendiri berada jauh berkilo kilometer dari TKP. Saksi tersebut mengetahui kejadian itu melalui gambaran seperti halnya mimpi. 

Ia melihat melalui mata manekin milik Rendi. Saksi itu tak lain adalah saudari kembarnya, Rinda. Rinda mampu terkoneksi secara gaib ke dalam tubuh padat manekin yang dibuat amat mirip dengan dirinya. Keganjilan itu dimanfaatkan oleh Bursok untuk mencari siapa dalang pembunuhan Rendi. Berpacu dengan kecepatan sang manekin yang mulai menuntut balas atas kematian sang kekasih, Rendi.

Abdullah Harahap kembali menyuguhkan cerita horor mistis yang sedikit erotis dibingkai oleh thriller pembunuhan dan usaha untuk menangkap pelakunya. Bagi yang sudah membaca Misteri Peti Mati, tentu sudah tak asing lagi dengan Ajun Komisaris Bursok, yang punya ‘mata elang’, sanggup mendeteksi gerakan sehalus apa pun dari seseorang yang kemudian akan menuntunnya dalam menyelidiki kasus itu. Tapi bagi yang belum membaca Misteri Peti juga tak masalah. Buku ini bukanlah lanjutan dari buku itu. Ini ceritanya lain sekali.

Ciri khas Abdullah Harahap masih ada disini. Pembunuhan dengan cara cara yang di luar akal sehat. Erotisme. Tapi sayangnya, buku ini tidak terlalu bikin merinding. Hantu manekin bukanlah seperti hantu hantu yang lain. Ia spesial meski enggak pakai telor. Manekinnya sendiri pun acap kali membuat laki laki terpesona. Apalagi bibir merahnya yang membara. Membuat ingin menciumnya. Meski kerasss terasa. (Kalau pas ‘hidup’ sih, lembut.) Horornya dibuat dari kematian kematian yang membikin ngilu. Tsadis. 

Apa yang kini terlihat adalah sesosok monster yang berwujud manusia duduk, dengan kedua lengan menyilang di depan wajah. Duduk diam dan kaku, tak begerak gerak. Dengan sekujur tubuh mulai dari ujung rambut sampai ke ujung kaki semuanya terbuat dari lapisan fiberglass. Sesosok monster tanpa wajah.

Yang menarik dari buku ini ialah wujud sang manekin. Disamping wajahnya yang dibuat sangat mirip Rinda, ternyata bagian dalamnya terdiri dari rangkaian kabel kabel laksana robot. Manekin ini tak hanya diam, namun juga bisa bergerak. Meski terbatas dalam gerakan merangkul dan menjepit. Bahkan pahanya juga bisa hangat. Jangan heran, karena sejatinya manekin ini merangkap pula jadi boneka seks. Ini dalam kondisi normal. 

Dalam kondisi yang tak normal, atau dirasuki, manekin itu akan berlaku bak penyihir. Membuat kepalanya melayang layang, membuat kursi kursi bergerak sendiri. Serta bisa jalan lenggang kangkung seperti manusia. Manekin itu seperti dapat kekuatan super, dan digunakan untuk membalas kematian Rendi. Sayangnya, kekuatan super itu tidak meliputi sinar laser yang keluar dari telapak tangan, atau terbang ke langit seperti Iron Man. 

Manekin tidak ubahnya seperti manekin di toko yang memakai baju tidur. Bukan untuk semua orang meski banyak orang menyukai tidur. Tapi, ada orang yang enggak suka tidur. Yaitu, orang enggak ngantukk weee… Intinya ialah buku ini bisa mengobati dahaga atas cerita kriminal berbalut mistis dengan selimut erotis yang tipis. Bukan yang terbaik dari seorang Abdullah Harahap. Bukan pula yang buruk. Yang sedang sedang saja. 

Manekin | Abdullah Harahap | Paradoks | Jumlah halaman: 520 | Rate: 3

Read Full Post »

Kamu yang ingin menjajal bukunya Ahmad Tohari cobalah untuk membaca Di Kaki Bukit Cibalak. Ceritanya sederhana, tak berbelit belit. Mudah untuk dipahami. Hanya 170an halaman pula. Tak butuh lama untuk menyelesaikannya. Dengan catatan kamu enggak masalah dengan setting tempatnya yang sebagian besar di desa. Juga waktu kejadian di tahun 1970an. Jelas masih jadul. Belum ada handphone. Belum ada social media. Belum ada kamu juga. Mungkin.

Tapi sudah ada Pambudi lho. Siapakah dia? Dia adalah tokoh utama kita. Seorang pemuda desa yang punya sifat baik, berbudi pekerti luhur, gemar menolong dan sifat sifat baik yang mungkin hanya bisa ditandingi oleh Fahri di universe sebelah. Karena sifatnya yang kelewat bener itu, Pambudi terpaksa berhenti dari pekerjaannya sebagai pengurus lumbung koperasi desa Tangir. Ia tak setuju pada tindakan kepala desanya yaitu Pak Dirga yang tak mau menolong warganya yang sedang membutuhkan bantuan. Kepemimpinan Pak Dirga jauh dari kata adil. Pambudi ingin sekali melawan, tapi ia belum punya kekuatan. Pak Dirga yang tak menyukai Pambudi kemudian berupaya agar pemuda itu enyah dari desanya. 

Di Kaki Bukit Cibadak tidak memberikan kisah kisah memilukan meski ada potensi ke arah sana. Ini pas buat kamu yang mencari bacaan ringan, tidak membuat kening berkerut dan hati sesak oleh penderitaan. Baca buku ini tidak akan mempengaruhi kehidupan bahagia kalian semua. Andai makanan, buku ini laksana cemilan sehat yang tidak bikin gendut. 

Di Kaki Bukit Cibalak seperti sebuah contoh pertarungan antara si baik dan si jahat. Kisah kesombongan dan keserakahan yang berusaha menghilangkan kemanusiaan. Melalui Pambudi dapat dicontohkan bahwa jadilah orang baik meski keadaan tidak menguntungkan, mengalah bukan untuk kalah tapi menunggu saat yang tepat untuk menyerang. Buku yang sayang untuk dilewatkan. Apalagi jika sudah pernah baca buku Ahmad Tohari dan merasa cocok. 

Di Kaki Bukit Cibalak | Ahmad Tohari | PT Gramedia Pustaka Utama | Halaman: 176 | Rate: 4

Read Full Post »

Hal paling mengerikan bagi seorang ibu bukanlah kehilangan tupperware, melainkan hilangnya anak yang dikasihinya sepanjang masa. Seorang ibu akan berusaha dengan segala cara untuk melindungi buah hatinya. Apalagi jika anak itu sudah lama dinantikan kehadirannya. Seperti yang terjadi pada Honami. Ia baru dikaruniai anak pada usia empat puluhan setelah menunggu bertahun tahun. Berbagai cara telah ia coba. Menyakitkan dan melelahkan. Maka dari itu, ia jadi posesif kepada putrinya yang masih kecil itu. Terjadinya pembunuhan terhadap anak kecil di lingkungan tempat tinggalnya semakin membuatnya khawatir akan keselamatan putrinya. Apalagi polisi pun masih belum menemukan si pelaku. Di tengah kekhawatirannya, ia tak sengaja melihat orang yang mencurigakan. Dan ia yakin bahwa orang itu adalah pembunuhnya.

Kesan pertama ketika selesai membaca ialah;yak, kalian memang benarrr!!! Ini saya tujukan kepada kalian yang sudah membaca buku ini lebih dulu, dan mengatakan bahwa endingnya tidak bisa ditebak. Dan memang benar, twistnya edan pisan. Bisa jadi akan saya masukan ke dalam daftar buku dengan twist mengguncang. Beneran menipu. Saking menipunya malah bisa bikin orang mencak mencak. Lho, kok bisa ya? Kejutan yang luar biasa itu memang jadi nilai plus buat buku ini, akan tetapi, twistnya itu sendiri menimbulkan pertanyaan lain yang sedikit mengurangi kejeniusan twistnya itu. Semacam love hate twist kayaknya. 

Holy Mother menuturkan kisah Honami dan putrinya, dua orang polisi yang menyelidiki kasus pembunuhan dan Makoto, seorang siswi SMU sekaligus pelatih kendo anak anak. Kisah mereka dituturkan secara bergantian diselingi flashback ketika Honami dalam masa pengobatan untuk mendapatkan keturunan. Berbagai cara yang dilakukan Honami dijelaskan secara gamblang dan detil. Bisa nambah ilmu. Tapi, karena bagian konsultasi dan pengobatannya keseringan, jadi agak ganggu dikit. Karena lagi penasaran mencari siapa pembunuhnya, tiba tiba beralih ke kisah Honami manakala di rumah sakit. Memang sih, semua itu diceritakan agar kita tahu seberapa desperatenya Honami untuk mendapatkan anak. 

Holy Mother ialah sebuah slow burn thriller yang mengajak saya untuk menebak, menerka siapa pembunuhnya, sekaligus berempati terhadap perjuangan seorang perempuan untuk mendapatkan seorang anak. Karena judulnya Holy Mother, kisah kasih ibu kepada anaknya lebih dominan ketimbang lika liku polisi mencari pembunuhnya. Sebuah kisah yang sayang untuk dilewatkan. Apalagi jika kalian penggemar kisah kisah dengan ending yang tidak mudah ditebak. 

Holy Mother | Akiyoshi Rikako | Penerbit Haru | Halaman: 277 | Rate: 4

Read Full Post »

Eh, lu punya bacaan yang seru ga? Yang ringan ringan saja. Yang bisa bikin gue ketawa. 

Kalau gue ditanya kaya gitu sekarang, gue tanpa ragu ragu bakal jawab; mo tau aja, apa mau tau banget? 

Timpuk jangan?

Gue bakal langsung nyuruh orang yang tadi nanya buat baca buku Resign! Soalnya emang bukunya seru, lucu, enggak ribet, cocok sekali buat hiburan, mengisi waktu luang, biar hati senang. Bahkan buat orang orang yang emang dasarnya lagi happy, baca buku ini bisa menambah kadar kebahagian. Juga buat yang jarang baca metropop, sekali ini boleh lah dicoba. Gue juga awalnya coba coba, eh malah keterusan. 

Seperti judulnya, buku ini memang bercerita tentang orang orang yang ingin cepet cepet resign. Enggak tahan sama si bos yang ‘kejam’nya enggak ketulungan. Nama bosnya Tigran. Tigran ini ngingetin gue sama Bossman di film My Stupid Bos, cuma beda casing. Karyawannya, yang menyebut dirinya cungpret alias kacung kampret berlomba lomba cepet cepetan resign. Masalahnya ialah, si bos udah kaya cenayang yang bisa mencium bau bau anak buahnya pengin pindah ke tempat lain. 

Buku yang sebagian besar terjadi di dalam kubikle ini seru, susah buat berhenti dibaca. Plus, banyaknya dialog dialog yang tambah bikin cepat membalik halaman. Selain usaha para cungpret buat resign, masih ada konflik lain yang mungkin bisa ditebak oleh kalian yang jam terbang baca metropop sudah banyak. Resign! jadi buku pertama di tahun ini yang bisa bikin gue ketawa ketawa. Klimaks di tempat parkir itu asli lucu banget. Ngingetin gue sama buku Marriageable nya Riri Sardjono. Sama sama di parkiran pula. 

Yang kurang dari Resign! barangkali akhirnya yang berlangsung terlalu cepat. Bagian Alranita sama bapaknya itu enggak ada juga enggak apa apa kayaknya. Novel ini juga membikin istilah Makan Teman jadi tidak terkesan mengerikan. Kesannya woles bae. Apakah karena sudah lebih dulu ngasih lampu sen sewaktu mau nikung? Atau Makan Teman ini masih kalah ngeri dibanding sama Makan Dinikahan Mantan?

Akhirnya, Resign! beneran bisa bikin resign sementara dari hiruk pikuknya masalah yang sedang menimpa siapa saja. Bacaan santai. Meriah oleh interaksi cungpret cungpret dengan bosnya. Cungpret cungpret itu juga ngasih quote quote pedoman hidup yang ditulis di permulaan setiap bab. Quotenya inspiratif dan berfaedah sekali. Quote paporit gue itu yang ini: “Don’t rich people difficult. Jangan kaya(k) orang susah.” -Moto cungpret mapan.

Dan sebagai cungpret, gue juga punya quote yang pengen gue share ke kalian semuanya. “Kalau nemuin rambut di meja kantor jangan dimakan, kecuali rambutnya pake akhiran an.” – Moto cungpret yang baru saja makan rambutan.

Oke khaaannn. Eh ada lagi!

“Jangan nikah sama orang sekantor. Kebanyakannn!!” Duh, basi banget ya motonya. Madingnya udah keburu terbit deh!

Resign! | Almira Bastari | PT Gramedia Pustaka Utama | Jumlah Halaman: 288 | Rate: 3.5

Read Full Post »

Selesai membaca buku ini kemungkinan besar kamu akan menempatkan kisah cinta Inayatun & Mat Dawuk sebagai cinta yang tragis, sebanding dengan kisah Romeo & Juliet, Qays & Layla, Mardio kepada Melatie, atau mungkin kisah cintamu sendiri. Muehehehe. Inayatun & Mat Dawuk mampu membuat lubang besar di hati saya, sehingga kosong melompong seperti tengah tengah kue donat assorted. Kenyataan bahwa cinta keduanya berakhir tragis dapat segera kamu temukan tak lama setelah membaca buku ini, di halaman empat belas. Jadi enggak spoiler amat. Tepatnya pada kalimat ini; Bagaimana mungkin para orang tua akan bercerita kepada para anak anaknya, atau para kakek nenek akan mendongengi cucu cucunya – bocah bocah polos tak tahu apa apa itu – tentang laki laki yang telah membunuh istrinya? Istrinya sendiri dan beberapa orang lainnya, lebih tepatnya

Yang dimaksud laki laki itu adalah Mat Dawuk, dan iatrinya adalah Inayatun. Meski sudah tahu ending kisah cinta mereka (bukan ending buku ini lho ya gaes), tapi tetap saja ketika membaca bagian yang menceritakan hal itu, rasanya tetap menyakitkan. Mungkin karena kita manusia tak ada yang benar benar siap menerima kabar menyedihkan. Mungkin juga karena saya kadung menyukai tokoh Inayatun & Mat Dawuk setelah mendengar sejarah masa lalu keduanya melalui mulut Warto Kemplung. Siapa pula Warto Kemplung?

Warto Kemplung ialah si tukang dongeng kita. Oh bukan tukang dongeng, tapi si pembual. Warto Kemplung memang dikenal sebagai tukang kibul. Orang orang nyaris tak percaya pada cerita ceritanya. Tapi tak punya daya untuk menolaknya manakala Warto Kemplung mulai bercerita. Buku ini berisi cerita Warto Kemplung saat berada di warung kopi. Sambil menyeruput kopi dan merokok, ia dengan semangat bercerita mengenai sebuah kejadian berdarah yang baru saja terjadi di desa mereka, yang kemudian merembet pada kisah kisah cinta, dendam, mistis, aksi laga, pembunuhan, yang asik sekali untuk disimak. 

“Mereka berkoar soal kekalahannya, soal penyerahan senjata dan buntalan di kalungnya, sampai soal pembakarannya, dan sama sekali tak menyinggung nyinggung tentang pengeroyokan itu. Dan, tentu saja, mereka tak akan bicara apa apa tentang seberkas sinar putih yang meluncur menembus api!” kata Warto Kemplung dengan kepongahan orang yang merasa lebih tahu. 

Kisah cinta Inayatun & Mat Dawuk memang sangat menarik. Karena ini adalah pasangan Beauty & the Beast yang sebenarnya. Inayatun gadis paling cantik nan bahenol di Rumbuk Randu. Setiap laki laki ingin memilikinya. Tapi sifat gadis itu tak seelok rupanya. Ia susah diatur. Pandai merayu laki laki sehingga menikah sampai tiga kali. A real bitch lah pokoke. Di sisi lain, Mat Dawuk sama sekali berbeda. Bentuk fisiknya mungkin di bawah sedikit dengan wajah si Cantik dalam novel Cantik Itu Luka karangan Eka Kurniawan. Jelek dan mengerikan. Nasibnya sebelas dua belas dengan Tyrion Lannister yang dibenci si ayah karena ibunya meninggal sewaktu melahirkan dia. Nyaris tak ada yang mau berteman dengannya. Kuburan jadi tempat favoritnya bermain. Namanya kerap dipakai ibu ibu untuk menakuti anak anak mereka kalau mereka membandel. Lantas, bagaimana Inayatun & Mat Dawuk bisa menjadi suami istri yang saling mengasihi?

Dawuk sudah pasti jadi buku favorit saya tahun ini, bersanding dengan Muslihat Musang Emas nya Yusi Avianto Pareanom . Membaca Dawuk membuat saya seolah olah menjelma jadi pria tamvan penasaran yang ikut duduk ngopi di warung kopi Siti, sambil duduk mendengarkan cerita Warto Kemplung dengan sungguh sungguh. Ikut tersenyum sewaktu ada kejadian lucu (yang sebenarnya tidak lucu tapi karena Warto Kemplung seperti ngelucu jadi saya tertawa), ikut tegang sewaktu terjadi ketegangan (ada beberapa bagian yang rasanya seperti menonton film thriller, penuh dengan suspen, dan perkelahian yang seru), ikut berduka sewaktu kisah cinta dua manusia menemukan muara kesedihannya. Tapi saya enggak ikut nyanyi sewaktu lirik lirik lagu India bertebaran di buku ini. Soalnya enggak paham lagu apaan. Enggak banyak tahu lagunya. Lagu India terakhir yang saya simak itu lagu Tum Hi Ho. Versi koplo tapinya. Kalau lagu dangdutnya sih paham. Ehehe.

Mahfud Ikhwan, yang sudah menelurkan buku Aku dan Film India Melawan Dunia hingga dua buku, kembali membawa keIndiaannya dalam buku ini yang meliputi adegan film dan lagu. Lagu India berseliweran, dan ada yang menjadi anthem song nya pasangan Inayatun & Mat Dawuk. Beberapa bagian ada yang terinspirasi oleh film India. Misalnya sewaktu Inayatun & Mat Dawuk memadu kasih dengan berlarian. Atau dalam percakapan romantis intim mereka berdua. 

“Ini persis kandang di film Betaab. Luas dan sepi,” kata Inayatun dengan mata ceria, sehabis mereka bercinta di lantai- sebab dipan untuk mereka tidur belum selesai dibikin. Siang siang pula.  “Kita adalah Roma dam Sunny dari Rumbuk Randu,” sambungnya sambil menjejerkan wajahnya dengan wajah Mat. Dari segala segi, jelas tak cocok, bertentangan, tak sepatutnya dipertemukan. Seperti langit dan bumi. Seperti pucuk bintang paling jauh dan dasar sumur paling dalam. Seperti hujan dan jemuran. 

“Tapi kita tak punya peternakan kuda seperti mereka. Hanya ada kambing. Itu pun cuma seekor.” Sahut Mat mengacu pada film India yang dibicarakan Inayatun.

“Buat apa kuda. Aku sudah punya kamu,” balas Inayatun sambil menaiki perut Mat. Senyum dan tangannya nakal, seperti biasanya.

Peraih Kuala Sastra Khatulistiwa 2017 ini memang memikat sejak awal sampai akhir. Covernya yang tak mencolok mata, namun gambar kalajengking dan ularnya mematri di kepala. Ternyata kedua binatang itu memang diceritakan dalam buku. Covernya mengingatkan saya pada cover Mantra Pejinak Ular Kuntowidjoyo. Dawuk terbagi dalam 23 bab pendek pendek. Memberikan ilusi seperti makan kacang, sedikit demi sedikit lama lama habis.  Kacang gurih dan nikmat. 

Buku yang tak tebal tebal amat ini, mengingatkan saya dengan buku bukunya Eka Kurniawan pada masa sebelum O keluar. Kisah kisah yang terasa dekat diselingi hal hal ajaib. Tokoh tokoh yang masih terbayang manakala buku sudah diselesaikan. Ditutup dengan ending yang tak mudah dilupakan, karena menyebalkan. Menyebalkan karena saya punya gambaran lain yang menurut saya lebih keren, tapi jadinya mainstream. Sementara Mahfud Ikhwan memilih ending yang mengguncang siapa saja yang membaca buku ini. Love and hate ending. Tapi pastinya bikin mikir.

Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu | Mahfud Ikhwan | Marjin Kiri | Halaman: 182 | Rate: 4


Read Full Post »

Genduk ialah nama panggilan anak gadis rambut panjang dengan menekankan kata “Nduk” sewaktu dipanggil. “Nduk, mau kemana?” Sebab akan terdengar aneh pabila orang memanggil “Gen”. “Gen, mau kemana?” Nanti disangka namanya Gendeng. Bisa berabe. Atau Gendut. Tambah berabe. Apalagi Gentayangan. Hii, serem. Genduk ini tinggal berdua dengan ibunya. Ayahnya tak tahu rimbanya. Sang ibu mengandalkan kehidupannya pada tanaman tembakau. Sama seperti keluarga yang lainnya. Hasil panen yang baik selalu dinanti. Meski demikian, menjual tembakau ialah hal yang lain lagi. Penjualan tembakau dikuasai oleh tengkulak curang yang mengandalkan segala cara untuk mendapatkan uang. Ketuanya bernama Kaduk. Ia kemudian menjadi orang yang paling dibenci Genduk. 

Hubungan Genduk dengan ibunya tak bisa dibilang harmonis. Seringkali ibunya membuat hatinya terluka. Begitu pula sebaliknya. Genduk ingin sekali bertemu dengan bapaknya. Yang wajahnya tak pernah ia tahu. Suatu hari ia nekat kabur ke kota mencari jejak ayahnya. Mencari kepastian tentang nasib sang ayah. Apakah sudah meninggal atau masih hidup. Selayaknya nyanyian; Kalau masih bersemi di manakah rimbanya / Kalaupun sudah mati di mana pusaranya. Petualangan Genduk mencari ayahnya menjadi salah satu konflik yang terdapat dalam buku ini, melengkapi konflik yang lain; kegelisahan petani tembakau akan penen tembakaunya, hubungan tak harmonis antara Genduk dan ibunya, serta ketakutan Genduk kepada Kaduk.

Membaca Genduk seperti membaca buku buku Ahmad Tohari yang kental dengan muatan kedaerahannya. Membawa saya merasakan kembali suasana pedesaan yang hijau, beserta adat istiadat masyarakat sekitarnya. Tempatnya kali ini ialah desa Ringinsari yang terletak di lereng gunung Sindoro. Rumah rumah masih berlantaikan tanah, dengan dinding berupa gedek, bilah bambu yang dianyam. Anak anaknya masih suka bermain petak umpet. Belum ada listrik, sehingga televisi, yang hanya dipunyai oleh Lurah Cokro,  dinyalakan menggunakan aki. 

Genduk punya cover dengan warna biru telor asin yang lembut, dengan dua lembar daun tembakau menumpuk ditempel menggunakan lakban kertas. Warnanya adem, tapi lakban kertasnya bikin geregetan ingin mengkeleteknya. Dibalik cover itu ada kejutan kecil. Ilustrasi berwarna anak kecil dengan rambut diikat kepang dua, mengenakan gaun putih. Tangannya terentang menyentuh pohon tembakau. Ia menatap gunung yang menjulang di depannya. Ilustrasi ini sebenarnya bisa juga dijadikan cover, tinggal ditambahi judul dan nama penulisnya saja. 

Sundari Mardjuki menulis ceritanya dengan ringkas dengan tempo yang lumayan cepat. Saya menyelesaikannya dalam sekali baca. Buku ini terbagi dalam beberapa bab yang tak terlalu panjang. Bahkan ada yang hanya dua halaman berisi puisi. Ada beberapa puisi dalam buku ini. Juga lirik lagu. Lagu lagu jawa lama dan lagu anak anak yang tidak saya kenal. Puisi puisinya ada yang panjang ada yang pendek. Yang panjang sampai dua halaman digunakan sebagai simbolis tentang apa yang sedang terjadi, karena mungkin akan kurang nyaman seandainya ditulis dengan kalimat biasa. Tapi untuk lirik lagunya sebaiknya tak usah ditulis saja tak masalah soalnya saya langsung skip jika ada lirik lagunya. 

Tempo cerita yang mengalir cepat juga membuat saya merasakan terlalu banyak kebetulan kebetulan yang mendukung nasib si Genduk. Kebetulan ketemu si anu, kebetulan dikasih itu, dan kebetulan dapat itu, dan yang lainnya. Tapi yang paling menjengkelkan ialah nasib tokoh antagonis utama yang, yah cuma gitu doang. Terlalu gampang. Mungkin karena Genduk masih kecil dan lemah hingga tak bisa melawan. Tapi kan bisa pakai tangan oranh lain. Seenggaknya dibikin lebih menegangkan gitu ceritanya. Hal mengganggu lainnya ialah dialog Genduk yang tak seperti anak seusianya, terlalu dewasa dan kaku sehingga jadi terlihat tidak natural Seperti dalam sinetron sinetron. Hal ini membuat saya merasa berjarak dengan tokoh tokohnya. Beberapa bagian yang seharusnya bisa menguras air mata jadi biasa saja. 

Akhirnya, Genduk bukanlah sebuah kisah yang rumit meski banyak hal yang diceritakan. Punya potensi untuk menjadi buku yang menguras air mata seandainya tak masalah dengan dialog dialognya yang cenderung tak sesuai dengan usia tokohnya. Jika masa kecil kamu dihabiskan di desa, maka buku ini adalah mesin waktu yang akan membawamu ke masa masa itu. Bermain di sawah, petak umpet di bawah sinar rembulan, ramai ramai menonton televisi, dan rasa takut sekaligus gembira menonton kuda lumping.

Genduk | Sundari Mardjuki | Jumlah Halaman: 232 | PT Gramedia Pustaka Utama | Rate: 3

Read Full Post »

Older Posts »