Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘buku’ Category

Ajun Komisaris Bursok Sembiring kembali beraksi. Setelah memecahkan kasus peti mati yang bisa terbang, kali ini ia berurusan dengan pembunuhan dan raibnya sesosok manekin milik korban pembunuhan itu. Sst, konon manekinnya bisa hidup sendiri dan mulai menuntut balas atas kematian Rendi, laki laki pemiliknya yang jatuh cinta padanya. Pembunuhan Rendi bukanlah tanpa saksi. Akan tetapi, saksinya sendiri berada jauh berkilo kilometer dari TKP. Saksi tersebut mengetahui kejadian itu melalui gambaran seperti halnya mimpi. 

Ia melihat melalui mata manekin milik Rendi. Saksi itu tak lain adalah saudari kembarnya, Rinda. Rinda mampu terkoneksi secara gaib ke dalam tubuh padat manekin yang dibuat amat mirip dengan dirinya. Keganjilan itu dimanfaatkan oleh Bursok untuk mencari siapa dalang pembunuhan Rendi. Berpacu dengan kecepatan sang manekin yang mulai menuntut balas atas kematian sang kekasih, Rendi.

Abdullah Harahap kembali menyuguhkan cerita horor mistis yang sedikit erotis dibingkai oleh thriller pembunuhan dan usaha untuk menangkap pelakunya. Bagi yang sudah membaca Misteri Peti Mati, tentu sudah tak asing lagi dengan Ajun Komisaris Bursok, yang punya ‘mata elang’, sanggup mendeteksi gerakan sehalus apa pun dari seseorang yang kemudian akan menuntunnya dalam menyelidiki kasus itu. Tapi bagi yang belum membaca Misteri Peti juga tak masalah. Buku ini bukanlah lanjutan dari buku itu. Ini ceritanya lain sekali.

Ciri khas Abdullah Harahap masih ada disini. Pembunuhan dengan cara cara yang di luar akal sehat. Erotisme. Tapi sayangnya, buku ini tidak terlalu bikin merinding. Hantu manekin bukanlah seperti hantu hantu yang lain. Ia spesial meski enggak pakai telor. Manekinnya sendiri pun acap kali membuat laki laki terpesona. Apalagi bibir merahnya yang membara. Membuat ingin menciumnya. Meski kerasss terasa. (Kalau pas ‘hidup’ sih, lembut.) Horornya dibuat dari kematian kematian yang membikin ngilu. Tsadis. 

Apa yang kini terlihat adalah sesosok monster yang berwujud manusia duduk, dengan kedua lengan menyilang di depan wajah. Duduk diam dan kaku, tak begerak gerak. Dengan sekujur tubuh mulai dari ujung rambut sampai ke ujung kaki semuanya terbuat dari lapisan fiberglass. Sesosok monster tanpa wajah.

Yang menarik dari buku ini ialah wujud sang manekin. Disamping wajahnya yang dibuat sangat mirip Rinda, ternyata bagian dalamnya terdiri dari rangkaian kabel kabel laksana robot. Manekin ini tak hanya diam, namun juga bisa bergerak. Meski terbatas dalam gerakan merangkul dan menjepit. Bahkan pahanya juga bisa hangat. Jangan heran, karena sejatinya manekin ini merangkap pula jadi boneka seks. Ini dalam kondisi normal. 

Dalam kondisi yang tak normal, atau dirasuki, manekin itu akan berlaku bak penyihir. Membuat kepalanya melayang layang, membuat kursi kursi bergerak sendiri. Serta bisa jalan lenggang kangkung seperti manusia. Manekin itu seperti dapat kekuatan super, dan digunakan untuk membalas kematian Rendi. Sayangnya, kekuatan super itu tidak meliputi sinar laser yang keluar dari telapak tangan, atau terbang ke langit seperti Iron Man. 

Manekin tidak ubahnya seperti manekin di toko yang memakai baju tidur. Bukan untuk semua orang meski banyak orang menyukai tidur. Tapi, ada orang yang enggak suka tidur. Yaitu, orang enggak ngantukk weee… Intinya ialah buku ini bisa mengobati dahaga atas cerita kriminal berbalut mistis dengan selimut erotis yang tipis. Bukan yang terbaik dari seorang Abdullah Harahap. Bukan pula yang buruk. Yang sedang sedang saja. 

Manekin | Abdullah Harahap | Paradoks | Jumlah halaman: 520 | Rate: 3

Advertisements

Read Full Post »

Selesai membaca buku ini kemungkinan besar kamu akan menempatkan kisah cinta Inayatun & Mat Dawuk sebagai cinta yang tragis, sebanding dengan kisah Romeo & Juliet, Qays & Layla, Mardio kepada Melatie, atau mungkin kisah cintamu sendiri. Muehehehe. Inayatun & Mat Dawuk mampu membuat lubang besar di hati saya, sehingga kosong melompong seperti tengah tengah kue donat assorted. Kenyataan bahwa cinta keduanya berakhir tragis dapat segera kamu temukan tak lama setelah membaca buku ini, di halaman empat belas. Jadi enggak spoiler amat. Tepatnya pada kalimat ini; Bagaimana mungkin para orang tua akan bercerita kepada para anak anaknya, atau para kakek nenek akan mendongengi cucu cucunya – bocah bocah polos tak tahu apa apa itu – tentang laki laki yang telah membunuh istrinya? Istrinya sendiri dan beberapa orang lainnya, lebih tepatnya

Yang dimaksud laki laki itu adalah Mat Dawuk, dan iatrinya adalah Inayatun. Meski sudah tahu ending kisah cinta mereka (bukan ending buku ini lho ya gaes), tapi tetap saja ketika membaca bagian yang menceritakan hal itu, rasanya tetap menyakitkan. Mungkin karena kita manusia tak ada yang benar benar siap menerima kabar menyedihkan. Mungkin juga karena saya kadung menyukai tokoh Inayatun & Mat Dawuk setelah mendengar sejarah masa lalu keduanya melalui mulut Warto Kemplung. Siapa pula Warto Kemplung?

Warto Kemplung ialah si tukang dongeng kita. Oh bukan tukang dongeng, tapi si pembual. Warto Kemplung memang dikenal sebagai tukang kibul. Orang orang nyaris tak percaya pada cerita ceritanya. Tapi tak punya daya untuk menolaknya manakala Warto Kemplung mulai bercerita. Buku ini berisi cerita Warto Kemplung saat berada di warung kopi. Sambil menyeruput kopi dan merokok, ia dengan semangat bercerita mengenai sebuah kejadian berdarah yang baru saja terjadi di desa mereka, yang kemudian merembet pada kisah kisah cinta, dendam, mistis, aksi laga, pembunuhan, yang asik sekali untuk disimak. 

“Mereka berkoar soal kekalahannya, soal penyerahan senjata dan buntalan di kalungnya, sampai soal pembakarannya, dan sama sekali tak menyinggung nyinggung tentang pengeroyokan itu. Dan, tentu saja, mereka tak akan bicara apa apa tentang seberkas sinar putih yang meluncur menembus api!” kata Warto Kemplung dengan kepongahan orang yang merasa lebih tahu. 

Kisah cinta Inayatun & Mat Dawuk memang sangat menarik. Karena ini adalah pasangan Beauty & the Beast yang sebenarnya. Inayatun gadis paling cantik nan bahenol di Rumbuk Randu. Setiap laki laki ingin memilikinya. Tapi sifat gadis itu tak seelok rupanya. Ia susah diatur. Pandai merayu laki laki sehingga menikah sampai tiga kali. A real bitch lah pokoke. Di sisi lain, Mat Dawuk sama sekali berbeda. Bentuk fisiknya mungkin di bawah sedikit dengan wajah si Cantik dalam novel Cantik Itu Luka karangan Eka Kurniawan. Jelek dan mengerikan. Nasibnya sebelas dua belas dengan Tyrion Lannister yang dibenci si ayah karena ibunya meninggal sewaktu melahirkan dia. Nyaris tak ada yang mau berteman dengannya. Kuburan jadi tempat favoritnya bermain. Namanya kerap dipakai ibu ibu untuk menakuti anak anak mereka kalau mereka membandel. Lantas, bagaimana Inayatun & Mat Dawuk bisa menjadi suami istri yang saling mengasihi?

Dawuk sudah pasti jadi buku favorit saya tahun ini, bersanding dengan Muslihat Musang Emas nya Yusi Avianto Pareanom . Membaca Dawuk membuat saya seolah olah menjelma jadi pria tamvan penasaran yang ikut duduk ngopi di warung kopi Siti, sambil duduk mendengarkan cerita Warto Kemplung dengan sungguh sungguh. Ikut tersenyum sewaktu ada kejadian lucu (yang sebenarnya tidak lucu tapi karena Warto Kemplung seperti ngelucu jadi saya tertawa), ikut tegang sewaktu terjadi ketegangan (ada beberapa bagian yang rasanya seperti menonton film thriller, penuh dengan suspen, dan perkelahian yang seru), ikut berduka sewaktu kisah cinta dua manusia menemukan muara kesedihannya. Tapi saya enggak ikut nyanyi sewaktu lirik lirik lagu India bertebaran di buku ini. Soalnya enggak paham lagu apaan. Enggak banyak tahu lagunya. Lagu India terakhir yang saya simak itu lagu Tum Hi Ho. Versi koplo tapinya. Kalau lagu dangdutnya sih paham. Ehehe.

Mahfud Ikhwan, yang sudah menelurkan buku Aku dan Film India Melawan Dunia hingga dua buku, kembali membawa keIndiaannya dalam buku ini yang meliputi adegan film dan lagu. Lagu India berseliweran, dan ada yang menjadi anthem song nya pasangan Inayatun & Mat Dawuk. Beberapa bagian ada yang terinspirasi oleh film India. Misalnya sewaktu Inayatun & Mat Dawuk memadu kasih dengan berlarian. Atau dalam percakapan romantis intim mereka berdua. 

“Ini persis kandang di film Betaab. Luas dan sepi,” kata Inayatun dengan mata ceria, sehabis mereka bercinta di lantai- sebab dipan untuk mereka tidur belum selesai dibikin. Siang siang pula.  “Kita adalah Roma dam Sunny dari Rumbuk Randu,” sambungnya sambil menjejerkan wajahnya dengan wajah Mat. Dari segala segi, jelas tak cocok, bertentangan, tak sepatutnya dipertemukan. Seperti langit dan bumi. Seperti pucuk bintang paling jauh dan dasar sumur paling dalam. Seperti hujan dan jemuran. 

“Tapi kita tak punya peternakan kuda seperti mereka. Hanya ada kambing. Itu pun cuma seekor.” Sahut Mat mengacu pada film India yang dibicarakan Inayatun.

“Buat apa kuda. Aku sudah punya kamu,” balas Inayatun sambil menaiki perut Mat. Senyum dan tangannya nakal, seperti biasanya.

Peraih Kuala Sastra Khatulistiwa 2017 ini memang memikat sejak awal sampai akhir. Covernya yang tak mencolok mata, namun gambar kalajengking dan ularnya mematri di kepala. Ternyata kedua binatang itu memang diceritakan dalam buku. Covernya mengingatkan saya pada cover Mantra Pejinak Ular Kuntowidjoyo. Dawuk terbagi dalam 23 bab pendek pendek. Memberikan ilusi seperti makan kacang, sedikit demi sedikit lama lama habis.  Kacang gurih dan nikmat. 

Buku yang tak tebal tebal amat ini, mengingatkan saya dengan buku bukunya Eka Kurniawan pada masa sebelum O keluar. Kisah kisah yang terasa dekat diselingi hal hal ajaib. Tokoh tokoh yang masih terbayang manakala buku sudah diselesaikan. Ditutup dengan ending yang tak mudah dilupakan, karena menyebalkan. Menyebalkan karena saya punya gambaran lain yang menurut saya lebih keren, tapi jadinya mainstream. Sementara Mahfud Ikhwan memilih ending yang mengguncang siapa saja yang membaca buku ini. Love and hate ending. Tapi pastinya bikin mikir.

Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu | Mahfud Ikhwan | Marjin Kiri | Halaman: 182 | Rate: 4


Read Full Post »

Genduk ialah nama panggilan anak gadis rambut panjang dengan menekankan kata “Nduk” sewaktu dipanggil. “Nduk, mau kemana?” Sebab akan terdengar aneh pabila orang memanggil “Gen”. “Gen, mau kemana?” Nanti disangka namanya Gendeng. Bisa berabe. Atau Gendut. Tambah berabe. Apalagi Gentayangan. Hii, serem. Genduk ini tinggal berdua dengan ibunya. Ayahnya tak tahu rimbanya. Sang ibu mengandalkan kehidupannya pada tanaman tembakau. Sama seperti keluarga yang lainnya. Hasil panen yang baik selalu dinanti. Meski demikian, menjual tembakau ialah hal yang lain lagi. Penjualan tembakau dikuasai oleh tengkulak curang yang mengandalkan segala cara untuk mendapatkan uang. Ketuanya bernama Kaduk. Ia kemudian menjadi orang yang paling dibenci Genduk. 

Hubungan Genduk dengan ibunya tak bisa dibilang harmonis. Seringkali ibunya membuat hatinya terluka. Begitu pula sebaliknya. Genduk ingin sekali bertemu dengan bapaknya. Yang wajahnya tak pernah ia tahu. Suatu hari ia nekat kabur ke kota mencari jejak ayahnya. Mencari kepastian tentang nasib sang ayah. Apakah sudah meninggal atau masih hidup. Selayaknya nyanyian; Kalau masih bersemi di manakah rimbanya / Kalaupun sudah mati di mana pusaranya. Petualangan Genduk mencari ayahnya menjadi salah satu konflik yang terdapat dalam buku ini, melengkapi konflik yang lain; kegelisahan petani tembakau akan penen tembakaunya, hubungan tak harmonis antara Genduk dan ibunya, serta ketakutan Genduk kepada Kaduk.

Membaca Genduk seperti membaca buku buku Ahmad Tohari yang kental dengan muatan kedaerahannya. Membawa saya merasakan kembali suasana pedesaan yang hijau, beserta adat istiadat masyarakat sekitarnya. Tempatnya kali ini ialah desa Ringinsari yang terletak di lereng gunung Sindoro. Rumah rumah masih berlantaikan tanah, dengan dinding berupa gedek, bilah bambu yang dianyam. Anak anaknya masih suka bermain petak umpet. Belum ada listrik, sehingga televisi, yang hanya dipunyai oleh Lurah Cokro,  dinyalakan menggunakan aki. 

Genduk punya cover dengan warna biru telor asin yang lembut, dengan dua lembar daun tembakau menumpuk ditempel menggunakan lakban kertas. Warnanya adem, tapi lakban kertasnya bikin geregetan ingin mengkeleteknya. Dibalik cover itu ada kejutan kecil. Ilustrasi berwarna anak kecil dengan rambut diikat kepang dua, mengenakan gaun putih. Tangannya terentang menyentuh pohon tembakau. Ia menatap gunung yang menjulang di depannya. Ilustrasi ini sebenarnya bisa juga dijadikan cover, tinggal ditambahi judul dan nama penulisnya saja. 

Sundari Mardjuki menulis ceritanya dengan ringkas dengan tempo yang lumayan cepat. Saya menyelesaikannya dalam sekali baca. Buku ini terbagi dalam beberapa bab yang tak terlalu panjang. Bahkan ada yang hanya dua halaman berisi puisi. Ada beberapa puisi dalam buku ini. Juga lirik lagu. Lagu lagu jawa lama dan lagu anak anak yang tidak saya kenal. Puisi puisinya ada yang panjang ada yang pendek. Yang panjang sampai dua halaman digunakan sebagai simbolis tentang apa yang sedang terjadi, karena mungkin akan kurang nyaman seandainya ditulis dengan kalimat biasa. Tapi untuk lirik lagunya sebaiknya tak usah ditulis saja tak masalah soalnya saya langsung skip jika ada lirik lagunya. 

Tempo cerita yang mengalir cepat juga membuat saya merasakan terlalu banyak kebetulan kebetulan yang mendukung nasib si Genduk. Kebetulan ketemu si anu, kebetulan dikasih itu, dan kebetulan dapat itu, dan yang lainnya. Tapi yang paling menjengkelkan ialah nasib tokoh antagonis utama yang, yah cuma gitu doang. Terlalu gampang. Mungkin karena Genduk masih kecil dan lemah hingga tak bisa melawan. Tapi kan bisa pakai tangan oranh lain. Seenggaknya dibikin lebih menegangkan gitu ceritanya. Hal mengganggu lainnya ialah dialog Genduk yang tak seperti anak seusianya, terlalu dewasa dan kaku sehingga jadi terlihat tidak natural Seperti dalam sinetron sinetron. Hal ini membuat saya merasa berjarak dengan tokoh tokohnya. Beberapa bagian yang seharusnya bisa menguras air mata jadi biasa saja. 

Akhirnya, Genduk bukanlah sebuah kisah yang rumit meski banyak hal yang diceritakan. Punya potensi untuk menjadi buku yang menguras air mata seandainya tak masalah dengan dialog dialognya yang cenderung tak sesuai dengan usia tokohnya. Jika masa kecil kamu dihabiskan di desa, maka buku ini adalah mesin waktu yang akan membawamu ke masa masa itu. Bermain di sawah, petak umpet di bawah sinar rembulan, ramai ramai menonton televisi, dan rasa takut sekaligus gembira menonton kuda lumping.

Genduk | Sundari Mardjuki | Jumlah Halaman: 232 | PT Gramedia Pustaka Utama | Rate: 3

Read Full Post »

1. Pemintal Kegelapan 2. Vampir 3. Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari 4. Mobil Jenazah 5. Pintu Merah 6. Mak Ipah dan Bunga Bunga 7. Misteri Polaroid 8. Jeritan Dalam Botol 9. Sejak Porselen Berpipi Merah Itu Pecah 10. Darah 11. Sang Ratu

Beberapa orang menggemari cerita hantu tapi tak mau ketemu atau didatangi oleh mereka. Maunya cukup ditakuti lewat kata kata saja. Jangan sampai bertemu hantu betulan. Bisa pingsan. Atau menangis tanpa air mata, jika yang datang berupa hantu masa lalu yang menyakitkan. Sihir Perempuan diharapkan bisa menakut nakuti atau membuat perasaan tidak nyaman biar pun membaca di sofa empuk seperti perutnya Totoro. Apakah harapan itu terkabul? 

Jawabannya antara ya dan tidak. Membingungkan memang. Tapi ini mendingan, ketimbang jawabannya ialah antara ada dan tiada. Karena hantu hantu serta kenangan kenangan (juga sebuah lagu) bermukim di tempat itu. Antara ada dan tiada. Maksud dari antara ya dan tidak ialah bahwa buku ini ada yang menakutkan namun ada pula yang biasa saja. Mau tahu, cerita mana saja yang menakutkan? Mau tahunya mau tahu banget apa mau tahu tempe? 

Yang mau tahu banget keep stay tune, dan yang mau tahu tempe silahkan ke warteg terdekat. Saya tidak akan melarang. Nah, cerita yang menakutkan itu ialah… coba tebak cerita nomer berapa? Ya, kalian benar! Cerita pertama memang menakutkan. Judulnya Pemintal Kegelapan. Premisnya mengenai hantu perempuan yang menghuni loteng rumah seorang ibu dan anaknya. 

Ia, rahasia terbesar loteng rumahku, adalah hantu perempuan berambut panjang terurai yang selalu duduk di depan alat pemintal. Wajahnya penuh guratan merah kecokelatan, seperti luka yang mengering setelah dicakar habis habisan. Bola matanya berwarna merah seperti kobaran api. Bila ia membuka mulutnya, kau akan melihat taring taring yang panjang. 

Cerita ini mengingatkan saya dengan film horror Jepang, The Grudge. Di permulaan film ada adegan seorang anak perempuan yang penasaran ingin masuk loteng. Ia lantas membuka penutup loteng. Kepalanya baru saja masuk, ketika tiba tiba ia ditarik ke dalam loteng. Menyisakan jeritan. Di Pemintal Kegelapan, akan diceritakan kisah awal mula mengapa si hantu terdiam di sana. 

Sebagai cerita misteri tentu saja yang satu ini itu tak terlalu istimewa. Masih banyak film lain yang lebih seram, namun malam ini aku merinding mengingatnya. Lalu kusadari ketika tiba didepanku, laju mobil jenazah menjadi sangat lamban. Aneh. Tulisan hijau besar besar MOBIL JENAZAH menjadi sangat jelas di mataku. Dari kacanya yang gelap bisa kulihat sosok yang samar samar. Seorang laki laki, kurasa. Dan, entah ini benar atau khayalanku, ia tengah memperhatikanku.

Cerita selanjutnya berjudul Mobil Jenazah. Tentang wanita karir yang pulang malam, menunggu taksi di pinggir jalan. Eh, tidak disangka ia malah didatangi mobil jenazah. Tak hanya sekali namun berkali kali. Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Cerita ini sepertinya akan menarik jika diadaptasi jadi sebuah film pendek. Cukup cinematic, dan punya twist yang lumayan mengejutkan. Btw, saya jadi ingat cerita angkot setan. Mungkin kalian sudah sering mendengarnya. Jadi ada orang sedang naik angkot jam 12 malam. Ia sendirian. Berdua dengan pak supir. Sewaktu turun, ia bayar pakai uang 50 ribuan. Begitu menerima uangnya, pak sopir langsung tancap gas. Orang itu kaget, langsung teriak; dasar angkot setaaannnn!!!!

Mak Ipah dan Bunga Bunga menjadi cerita ketiga yang menakutkan sekaligus menyedihkan. Cerita ini bukan menakuti dalam bentuk hantu. Mungkin bukan menakuti, lebih tepatnya membuat tak nyaman. Marini, pengantin baru, tak sengaja bertemu dengan salah satu tetangganya, Mak Ipah. Tidak seperti yang lain,ternyata Mak Ipah tidak diundang pesta oleh keluarga suami Marini. Sewaktu ditanya alasannya, suaminya mengatakan bahwa Mak Ipah kurang waras. Marini tak percaya. Ia terus mendekati Mak Ipah. Hingga kemudian terkuaklah rahasia mengerikan dan menyedihkan dari Mak Ipah. 

Misteri Polaroid. Cerita berikutnya. Mungkin sudah bisa ditebak ya ini ceritanya tentang apa. Iya, kalian benar. Ini memang bercerita mengenai hantu yang numpang eksis di dalam sebuah sesi pemotretan. Cerita ini mengingatkan saya dengan film horror negeri gajah putih, Shutter. Dalam cerita ini tak ada twist. Seperti sekedar memberikan cerita permulaan tentang bagaimana hantu itu bermula. 

Cerita ini berakar dari ramalan. Mungkin kau tidak percaya hal mistis. Dulu aku juga demikian, sampai kusaksikan hidup sahabatku Herjuno dipermainkan oleh kekuatan gaib yang luar biasa besar sekaligus sulit dimengerti. Paragraf ini membuka cerita terakhir yang menakutkan versi saya. Judulnya Sang Ratu. Mengenai Herjuno yang ingin bertemu dengan Ratu Pantai Selatan setelah ia bermimpi aneh. Ia ingin meminta agar kehidupannya jadi lebih sukses. Tak lama, ia bertemu dengan perempuan yang ia yakini sebagai titisan Sang Ratu. Ia begitu yakin hajatnya akan terkabul. Tak tahu bahwa tindakannya akan membawa kehancuran bagi hidupnya. 

Sihir Perempuan terdiri dari sebelas cerita pendek dengan tema yang beragam tapi tak jauh jauh dari hantu, setan, darah yang sebagian besar menampilkan perempuan sebagai karakter sentral. Saya pertama kali membaca karya Intan Paramadhita di buku  Kumpulan Budak Setan yang berkolaborasi dengan Eka Kurniawan & Ugoran Prasad. Saya menyukai cerita cerita Intan di buku itu. Sayangnya, Sihir Perempuan sedikit dibawah ekspektasi saya. Belum ada cerita yang benar benar mengguncang. Meski nuansa horrornya terasa sekali. Mungkin akan beda penilaiannya jika saya belum membaca Kumpulan Budak Setan. Dengan cover gothic yang keren, beserta sebelas ilustrasi dari Muhammad Taufiq (Emte) yang mengawali setiap cerita, saya rasa Sihir Perempuan layak untuk dikoleksi dan dibaca jika kalian menggemari cerita cerita horror yang tak hanya bercerita mengenai hantu hantu, tapi juga nafsu, keserakahan manusia serta persoalan hidup dari sudut pandang perempuan. 

Sihir Perempuan | Intan Paramadhita | Halaman: 158 | PT Gramedia Pustaka Utama | Rate: 3

Read Full Post »

Ketika seseorang ditanya bagaimana kesannya terhadap buku yang telah dibaca, kalian tentu pernah mendengar jawaban ini: ‘oh, kalimatnya mengalir’, ‘bukunya menghanyutkan’, ‘unputdownable’, ‘bikin lupa waktu tapi enggak bikin lupa sama kamu uwuwuwuwu’, dan lain lainnya, endesbra endesbre. Mungkin tak sama persis, tapi intinya seperti itu. Begitulah kira kira saya akan memberi penilaian atas buku ini. Isabel Allende begitu piawai merangkai kata. Lembar demi lembar terangkat dengan ringannya. Tahu tahu sudah setengah buku. Tahu tahu sudah mau habis. Tahu tahu..tararahu..tararahu.. how deep is your love…tararahu..

Saya akan membahas covernya terlebih dahulu. Terlihat feminim dan cantik. Bunga mawar putih mengembang di dekat dinding biru muda yang penuh dengan totol totol hijau seperti wijen pada kue onde onde. Konon bunga mawar putih melambangkan cinta yang tulus dan murni. Ini sedikit banyak sesuai dengan apa yang terpapar di dalam buku. Jadi, gambar bunga mawar itu sudah tepat. Namun, akan lebih afdol jika ditambahi juga dengan duri. Karena akan lebih terasa simbolisnya, mawar dan duri, keindahan dan kesakitan. Selain itu mawar juga identik dengan duri, meski duri tidak selalu identik dengan mawar. Khan bisa saja itu duri ikan, duri kaktus, duri landak, atau duri duri dam dam duri duri dam… duri duri dam dam.. duri duri dam.. kamu makannya apa?!!! TEMPE

The Japanese Lover atau Kekasih Jepang dibuka dengan diterimanya Irina Bazili untuk bekerja di panti wreda bernama Lark House. Ia bertugas melayani penghuninya agar merasa nyaman. Disitu ia berkenalan dengan Alma Belasco yang meminta Irina untuk menjadi asisten pribadinya. Irina kemudian berkenalan juga dengan cucu Alma, Seth, yang kemudian menyuruh Irina untuk mematai matai neneknya. Irina yang juga penasaran pun menyetujui. Dengan dalih ingin menyusun buku, Irina dan Seth meminta neneknya untuk bercerita mengenai masa lalunya. Yang berhubungan dengan datangnya surat surat misterius dan juga bunga gardenia. Cerita Alma Belasco mengalir dari masa kanak kanaknya yang terpaksa berpisah dari orang tuanya karena perang, hingga ia bertemu dengan Ichimei Fukuda, putra tukang kebun di rumahnya. Jalinan pertemanan itu mengembang jadi cinta. Tapi jalan cinta mereka penuh dengan lubang, hingga mobil cintanya kadang jatuh dan tak bisa bangkit lagi.. aku tenggelam dalam luka dalam..

Buku ini mungkin tak sampai membuat hati pembacanya bengkak oleh rasa sedih, karena prahara cinta Alma dan Ichimei memang tak setragis kisah Romeo dan Juliet. Bahkan ada tokoh lain yang punya cerita lebih menyedihkan. Saya tidak akan memberitahu siapa. Ini kejutan. Kisah cinta di dalam buku ini juga tak hanya milik mereka berdua saja. Ada beberapa kisah cinta lainnya yang membuat saya takjub. Tak hanya cinta, ada pula kisah lain yang menarik, persahabatan ganjil, hidupnya kembali orang yang sudah mati, alasan mengapa kucing Alma diberi nama Neko, kehidupan di kamp konsentrasi dan lainnya. Semua itu membawa saya dalam petualangan kecil menyusuri tempat tempat jauh, dari Moldova, San Francisco, Topaz di tengah gurun Utah, hingga kota di Mexico, Tijuana meski tak sampai Havana oh na na… Half of my heart is in Havana, ooh na-na 

Jalan cerita buku ini tak mudah ditebak. Memberi kejutan kejutan kecil semisal tentang nasib kisah cinta sepihak Irina dengan salah satu penghuni panti wreda, hingga kejutan kejutan yang mengguncang. Membuat saya sedih dan terharu. Terbagi dalam 31 bab pendek yang ditulis dalam dua bagian, masa lalu dan masa kini secara bergantian. Ada beberapa pelajaran yang bisa diambil, bahwasanya sedekah bisa membuka pintu rejeki, berbuat baiklah sebanyak banyaknya terutama jika kalian orang kaya, dan cinta janganlah sampai menikam logika meski cinta ini kadang kadang tak ada logika.. berisi smua hasrat dalam hati… 

Saya juga ingin berterima kasih kepada mbak Tanti Lesmana yang sudah menerjemahkan buku ini dengan super sekali, sehingga rasanya sama seperti saya membaca The House of the Spirit & Daughter of Fortune yang diterjemahkan orang lain. Akhirnya, membaca Kekasih Jepang tidak seperti sedang arung jeram melainkan mengambang di kolam arus yang santai. Buku yang memikat saya sejak halaman pertama. Sayang, bagi yang mengharap kata kata romantis mungkin akan kecewa. Kalimat kalimat romantis sedikit ada di dalam surat surat Ichimei kepada Alma. Sayang, surat surat yang ditampilkan kurang banyak. Tapi jangan khawatir, romantisme itu ada dalam bentuk perbuatan tokoh tokohnya dalam rangka untuk menunjukkan cinta dan kasih sayang, opo kowe krungu jerit e ati ku.. Mengharap engkau kembali…Sayang, Nganti memutih rambutkuu….

The Japanese Lover/ Kekasih Jepang | Isabel Allende | Halaman: 408 | Rate: 4

Read Full Post »

Covernya membuat saya menggumamkan lagu Padi; indah, terasa indah. Gambar perahu di tepi hutan bakau. Di tengah ada gubuknya. Laut tenang. Bulan sabit melayang diam. Gambaran itu dibingkai sebuah lingkaran. Seolah olah sedang ditatap melalui jendela kapal selam, melalui teropong, bahkan kue semprong. Atau melalui mata seorang perempuan yang bulat seperti bola ping pong. 

Tanjung Kemarau dibuka sama pasangan selingkuh guru madrasah dengan biduan dangdut. Walid, si guru madrasah menyuruh Ria, sang biduan segera minggat karena sudah siang. Takut dipergoki warga. Bisa berabe. Walid dan Ria selingkuh bukan karena cinta. Keduanya juga sudah ada yang punya. Walid sudah tunangan, dan Ria istri orang. Ria mau jadi selingkuhan Walid karena ingin dengar Walid mendongeng. Luar biasa. Dongeng apa yang bisa membuat wanita selingkuh dari suaminya? Yang jelas bukan dongeng Kancil nyolong Timun. Tapi kamu bisa menebaknya dengan membaca judul bab ini; Syahrazad Hujan Tempias.

Buku ini memang terbagi jadi enam belas bab. Judul tiap babnya menarik sangat. Seperti bab kedua; Perempuan yang Menyusui Kelelawar. Enak bener ya kelelawarnya. Perempuan itu namanya Nyai Rasera. Ditakuti dan dihormati warga sekitar. Tinggal sendiri dalam gubuk ditengah hutan bakau. Banyak cerita ganjil tentangnya. 

Nyai Rasera tak pernah menikah. Ia mengabdikan hidupnya kepada jin pohon bakau. Dan kelelawar kelelawar itu adalah buah cintanya dengan sang lelembut. Tiap senjakala meredup, ia telanjang di jantung hutan bakau dan menyerahkan kedua puting susunya kepada binatang binatang hitam itu. Dengan sekali isyarat, ribuan makhluk bersayap itu terbang mengerubungi tubuhnya, meminta jatah hangat seorang ibu. 

Begitulah kronologis peristiwa menyusui kelelawar. Pertanyaannya, jika Batman kebetulan ada di situ, ia akan ikut menyusui juga? Apa Batmannya malah sok keren terus nanya gini; Nyai Rasera, do you bleed? 

Oke sip. Lanjut.

Bab kedua ini bukan sepenuhnya menceritakan Nyai Rasera. Ada Walid dan teman karibnya Kholidi yang mendatangi tempat Nyai Rasera untuk memberi tahu bahwa Walid akan jadi tim sukses bakal calon kepala desa, Ra Amir. Walid bersedia jadi tim suksesnya karena Ra Amir menjanjikan program perluasan hutan bakau. Masalahnya, Nyai Rasera punya kenangan buruk dengan Ra Amir. Kenangan yang sangat buruk, sampai sampai kalau ditaruh di depan cermin, maka cerminnya kalang kabut melarikan diri. Kenangan buruk apakah itu? Begitu pula Walid dan warga lainnya juga tak suka Ra Amir. Intinya, Ra Amir bukan contoh pemimpin yang baik. 

Bab selanjutnya dibuka dengan kalimat; “Sebentar lagi aku akan melihat Tuhan.” Yang ngomong namanya Haji Badruddin, dan ia bukan dalam kondisi mau mati. Sehat wal afiat. Tapi memang benar ia akan melihat Tuhan. Saya tersenyum, terharu sewaktu mengetahui apa yang dimaksud oleh perkataan Haji Badruddin. Membuat saya seperti butiran debu yang diterbangkan kipas angin 50 inch. Apa yang Haji Badruddin lakukan untuk bisa melihat Tuhan ternyata sangatlah sederhana dan bisa dilakukan oleh siapa saja. Mungkin tak sebanyak yang dilakukan olehnya, tapi intinya sama saja. Haji Badruddin sudah mencapai tahap kewalian, yang beribadah bukan cuma dengan tubuhnya, tapi dengan hatinya, tarikan nafasnya, segala denyut kehidupannya. Dan ia mulai bermimpi. Salah satu mimpinya ialah ketika di dalam mimpi ada yang berkata; “Kau telah meneguk habis Lailatul Qadar sebelum waktunya.” Ini membikin saya sedih. Ingin seperti itu. 

Mimpi Haji Badruddin berikutnya menjadi semacam pencerahan baginya. Ia lantas mengajak orang orang untuk melakukan apa yang ia anggap sebagai pencerahan, dan terbentuklah Tarekat Nabi Kesturi, sekaligus jadi judul bab ketiga ini. Masih ada lagi yang membuat dada saya tersentak, waktu Haji Badruddin diminta oleh Gopar untuk menunjukkan mukjizat. Yang Haji Badruddin lakukan ternyata bisa dilakukan oleh siapa saja asal ada kemauan. Kamu bisa. Saya bisa. Kita semua bisa. 

Bab selanjutnya tidak saya ceritakan. Dan ketiga cerita di atas hanya sedikit dari apa yang terjadi sebenarnya. Yang pasti, nanti akan terlihat bagaimana busuknya manuver manuver salah satu calon kepala desa. Diceritakan juga mengenai masa lalu Gopar sebagai bajing hingga ia bertemu dengan Ria dan menikahinya. Ria yang juga selingkuh dengan Walid. Enggak spoiler kok ini, dari awal sudah dikasih tahu. Juga mengenai percintaan Walid dengan Risti, pacar waktu kuliah. 

Ada banyak isu yang diceritakan Tanjung Kemarau. Isu isu yang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kehidupan nyata. Tentang kerakusan seseorang dengan kekuasaan. Sosok yang dipuja puja secara berlebihan. Kelestarian alam yang dikoyak pembangunan. Orang orang yang terlalu pintar sehingga menciptakan aturan sendiri. Cinta yang terlarang. Diselingi dengan dongeng dongeng magis yang hidup di antara tokoh tokohnya. Tokoh tokoh yang lumayan banyak ternyata punya keunikan tersendiri sehingga tidak mudah dilupakan. Masing masing punya lembar tersendiri untuk bersinar. Rasanya tidak ada yang benar benar jadi tokoh utama. Ada beberapa yang bisa diambil contohnya, ada juga yang sebaiknya dihindari. Harus bisa memilah dan mimilih mana yang baik. Yang tidak baik contohnya pola pikir Risti yang terlalu pintar, justru membuatnya menciptakan aturan aturan sendiri yang ia anggap benar. Kata katanya punya potensi membuat orang kebakaran jenggot. 

Royyan Julian menulis dengan narasi yang indah nyaris puitis. Tapi tidak membingungkan. Mengingatkan saya dengan novelnya Ayu Utami, Manjali dan Cakrabirawa. Salah satu yang saya suka ialah kalimat pembuka bab Perempuan Yang Menyusui Kelelawar; Seekor cumi cumi hitam raksasa mengapung di langit utara ketika Walid dan Kholidi tiba di halaman rumah Nyai Rasera.

Ini mengingatkan saya pada pembuka buku Haruki Murakami, Afer Dark, yang mengibaratkan kota kota sebagai monster raksasa. 

Tanjung Kemarau rasanya akan disukai untuk yang sedang mencari buku dengan cerita lokal dengan kritik sosial disertai cerita cerita magis. Kadang saya merasa buku ini sedikit mirip buku Eka Kurniawan, Ahmad Tohari, Okky Madasari dan Ayu Utami. Banyak amat. Buku ini juga menjadi semacam self reminder buat saya, agar saya bisa jadi manusia yang lebih baik lagi, lebih ikhlas dan taat dalam beribadah, tidak mudah termakan oleh berita berita yang belum tentu benar, dan menjaga tiap tiap makhluk yang bernyawa, menjaga lingkungan, menjaga hati, jangan kau kotori, jagalah hati.. cahaya Ilahi.. Hobaa..

Tanjung Kemarau | Royyan Julian | Grasindo | 254 Halaman | Rate: 3.5

Read Full Post »

Yang memutuskan untuk menjadi vegetarian ialah Young Hye, perempuan, yang menurut suaminya biasa biasa saja. Keputusannya menjadi vegetarian mengejutkan suaminya beserta keluarga besarnya. Young Hye benar benar tidak ingin makan daging. Bahkan saat keluarganya memaksa. Penyebabnya ialah mimpi. Suatu hari Young Hye mimpi, bangun dan menjadi vegetarian. Itu saja. Mimpinya apa, nanti diceritakan, tapi ga terlalu jelas juga. Jadi kalau kamu semalam mimpi liat semangka, terus pas bangun kamu pengin jadi semangka maka kamu mirip Young Hye. Rada sableng. Cuma kalau kamu mimpi kawin, terus kamu pengen kawin, hmm ya itu wajar sih. Ehehehe. Tapii, Young Hye mimpinya bukan lihat semangka lho ya.
Yang kemudian menjadi masalah ialah kelakuan Young Hye yang tambah ajaib sejak jadi vegetarian. Stock daging sekulkas dibuang semuanya. (Buat pecinta daging, ini horor banget ya. Bayangin aja sesuatu yang disayang banget malah dibuang gitu aja. Dibuangnya sama orang yang disayang juga. Double ngenesnya.) Memaksa suaminya yang bukan vegeterian ikut tidak makan daging. Tidak hanya itu, ia kadang jadi lebih suka tidak pakai baju. Hingga kemudian terjadi hal yang tragis dan menyedihkan.

Yang menjadi pencerita ialah suami Young Hye, kakak perempuan Young Hye, dan suami kakak perempuan Young Hye alias kakak iparnya. Buku ini memang terbagi menjadi 3 bagian sesuai dengan siapa yang bercerita. Bagian pertama (Suami Young Hye) mengisahkan awal mula Young Hye jadi vegetarian dan kelakuan ajaibnya. Bagian kedua (kakak ipar Young Hye) ialah bagian mesum tapi (anggap saja) nyeni yang melibatkan tubuh tubuh yang dilukis seluruhnya kemudian ena ena. Bagian terakhir diceritakan melalui sudut pandang kakak perempuan Young Hye. Bagian ini mungkin yang paling menyedihkan, dan mbingungi, lantas ditutup dengan ending yang menyebalkan. Potato. Kentang. Mungkin lebih tepatnya, i want more..

Yang sedikit mengejutkan ialah Vegetarian ternyata tidak segore dugaan saya. Mulanya saya berpikir ceritanya tentang seorang yang menjadi vegetarian kemudian jadi gila dan mulai bunuh bunuhin orang, lantas dimakan. Vegetarian lebih ke sisi psikologis, bagaimana perilaku aneh Young Hye mempengaruhi kehidupan mereka. Meski demikian, Vegetarian tetap punya hal hal yang bisa membuat kening berkerut sampai syok ringan. Keadaan Young Hye menjelang akhir itu memang sungguh membuat tidak nyaman.

Yang membuat buku ini menarik untuk dibaca ialah gaya Han Kang dengan mengambil 3 sudut pandang yang membuat novel ini menjadi seperti 3 cerita yang tidak berhubungan satu sama lain. Meski sayangnya, sudut pandang tokoh Young Hye justru malah tidak ada. Padahal ini yang saya tunggu untuk menjelaskan secara langsung fenomena yang ada padanya. Menyelesaikan buku ini jadi semacam ada yang kurang. Untungnya terjemahannya asik, enak untuk dibaca sampai habis. Terima kasih ya kakak penerjemah. Apa yang kamu lakukan itu… keren. Ngikutin gaya Cinta eh kakak Young Hye di buku ini. Ada perkataan kakaknya Young Hye yang sama dengan kata Cinta di film AADC 2. Dua duanya lagi disakitin lelakinya. Lebih jahat lakinya kakaknya Young Hye tapi.

Yang terakhir dari review buku ini, Vegetarian ialah sebuah dongeng yang gelap, aneh dan menyedihkan tanpa menyisakan sedikit pun ruang untuk bahagia. Bagi yang merasa cocok, buku ini akan membiusmu sampai akhir meski bukan dokter. Apa sih.

Buku ini akan menghipnotismu sampai akhir meski bukan Tommy Rafael. Apa lagi ini.

Buku ini akan mengoyak rasa nyamanmu meski bukan bayangan masa lalu. Apa pula ini. Hentikan!

Buku ini.. Sudah cukup, Hayati lelah bang.

4/5

Read Full Post »

Older Posts »