The LEGO Batman Movie (2017)

batmanlego
Sudah terlalu lama sendiri membuat Batman tidak lagi kepengen punya partner untuk memberantas penjahat di Gotham. Tapi kalau partner buat ena ena sih kayaknya masih tetep pengen ya. Ia prefer kerja sendirian. Even waktu lagi ngaso di Batcave pun sendirian. Makan sendirian. (Kasian) Nonton film  sendirian. (Kasian) Even mungkin buang air juga sendirian. (Ini ga kasian) Cuma ditemani komputernya yang dipanggil komputer juga. Semacam kurang ide buat ngasih nama.  Tapi, biar pun semua dilakukan sendirian, Batman terlihat bahagia. Karena kebahagian bukan berasal dari luar, tapi dari dalam diri masing masing. Akan tetapi, meski terlihat bahagia, ada sesuatu yang kurang dalam hidupnya.

Kekurangan ini dilihat oleh Alfred, pengasuhnya dari kecil. Alfred sudah member saran agar hidup Batman jadi lebih lengkap, tapi tidak dituruti. Hingga kemudian sebuah kejadian membuatnya mengadopsi seorang anak kecil. Sementara itu Joker bersama para penjahat berusaha untuk menghancurkan Gotham. Apakah Batman bisa mengalahkan Joker dan menyelamatkan Gotham sekaligus mendapatkan kepingan yang hilang dalam dirinya? (ciye)

Animasi lego tentu beda dengan animasi lainnya. Terlalu kotak.  Tapi ini juga bisa menjadi kelebihannya, karena unik. Saya juga bukan penggemar lego. Nonton ini karena faktor Batman. Dan ternyata cukup menghibur, terutama waktu berantemnya. Karena filmnya basicly ialah dunia lego, maka semua yang ada disini berbentuk lego. Tokohnya, bangunannya, kendaraannya, alat alatnya, dan juga efek ledakannya. Jadi unik aja lihat sinar laser jadi bentuk padat gitu. Apa lagi suara tembakannya; pakai mulut doang. Pew. Pew. Pew.

Sayangnya untuk film animasi, mungkin ini kurang lucu buat anak anak. Joke jokenya kebanyakan verbal, dan cuma bikin nyengir saja. Yang lucu sih pas awal awal di Phantom Zone ada penjahat yang teriak (kalau engga salah); wingardium leviosa. Lol. Dan ada lagi yang paling lucu di penghujung acara, sampai seluruh studio tertawa dengan gumuruh. Di film ini banyak bermunculan  villain villain dari film lain seperti yang mantranya sudah saya tulis sebelumnya, tahu khan ya siapa. Ada juga king kong, gremlins, raptor dan yang lainnya. Oh, Saruman juga. Kebayang khan gimana serunya mereka berantem melawan Batman dan kawan kawannya.

Dan pada akhirnya, Lego Batman akan memuaskan mereka yang mencintai Batman sekecil apa pun perasaan itu, atau malah jadi ilfill karena Batmannya benar benar beda dengan yang selama ini dikenal orang. Batman jadi lebih ramai, narsis bin cerewet. Lebih mirip Iron Man. Batman rasa Iron Man. Agak ironis mengingat Batman disini tidak menyukai Iron Man (buktinya lihat sendiri di film, jadi bukan hoax), tapi malah bertingkah laku seperti dia. Bukan cuma Batman yang beda, Jokernya pun jadi lebih baperan. Dan saya merekomendasikan untuk melihatnya dalam 3D, biar lebih asik dilihatnya. Karena dilihat dari jumlah penjahat dan heroinnya, mungkin ini yang paling fantastis sepanjang perfilmannya Warner Bros. Hue hue hue. Dan yang terakhir, Lego Batman seolah menunjukkan bahwa Batman saja tidak boleh terlalu lama sendirian, lha terus awakmu mo sampai kapan mblo?

batmanlego2-copy

Arrival (2016)

arrivalposter

Apa jadinya kalau tiba tiba ada pesawat alien berbentuk cobek raksasa yang parkir tak jauh dari tempat tinggalmu? Mungkin kamu akan segera memberitahu bapakmu, ibumu, kakakmu, adikmu bahkan kucingmu, berbarengan dengan postinganmu di media social setelah terlebih dahulu mengambil gambar pesawat itu. Kemudian jadi rame. Semua orang tahu. Dan kemudian semuanya pun kompak bertanya; mau apa itu pesawat alien kemarih?

Pertanyaan itu hanya bisa dijawab dengan tepat oleh alien yang bersangkutan. Sementara manusia dan hewan hewan hanya bisa menduga duga sahaja. Untuk bisa mengetahui jawaban tersebut, tentu harus bertanya langsung dengan aliennya. Inilah yang terjadi di film Arrival, dan yang mewakili pemerintah Amerika untuk ‘bicara’ dengan tamu tak diundang itu ialah seorang pakar bahasa bernama Louise Banks (Amy Adams) dan Ian Donelly (Jeremy Reiner), seorang ilmuwan. Mereka berdua, berserta beberapa orang dari pemerintah mendatangi cobek raksasa tersebut. Pesawat itu memang mirip cobek. Meski dengan bentuk lebih lonjong memanjang, dan warnanya sama hitam. Buat yang tidak tahu apa itu cobek, cobek ialah untuk alat membuat sambal bersama dengan pasangannya, ulekan. Ketika membuat sambail, cabai yang akan ditumbuk ditempatkan di sebuah wadah terbuat dari batu berwarna hitam. Itulah cobek. Jangan ketukar sama cebok lho ya. Kalau cebok, itu waktu kamu kebanyakan makan sambal setan terus mules mules di kamar mandi, udahannya harus cebok. Ceboknya pakai apa, enggak usah dibahas kali ya. Ceboknya sama siapa, ini juga enggak usah dibahass.

Jadi, dua orang ahli itu kemudian berhasil bertemu dengan alien tersebut setelah masuk ke dalam pesawat yan ternyata membuka secara otomatis setiap 18 jam. Alien tersebut bentuknya seperti cumi cumi raksasa, dimana tentakelnya bisa mengeluarkan semacam ‘tinta’ yang akan membentuk sebuah gambar berbentuk lingkaran yang diyakini sebagai bahasa alien. Louise dan Ian kemudian membawa huruf huruf tersebut untuk cari tahu artinya, dan bagaimana cara bekerjanya. Sementara itu tekanan datang dari pemerintah, yang ingin segera mengetahui apa maksud alien tersebut datang karena negara negara lain yang juga kedatangan pesawat serupa sedang berusaha menyerang pesawat alien tersebut.

Arrival berbeda dengan film film alien seperti Independece Day, Aliens, Prometheus yang lebih ke ranah action. Arrival cenderung ke drama. Mengenai bagaimana caranya menerjemahkan huruf huruf alien agar bisa berkomunikasi dengan benar. Dan juga bagaimana proses penerjemahan itu yang berpengaruh besar terhadap kehidupan Louise. Kehidupan Louise inilah yang sebenarnya menjadi inti dari film ini. Potongan potongan kenangan yang terus menghantui pikirannya, pelan pelan akan terkuak pada akhir film menyisakan sebuah gambaran yang sama sekali berbeda dengan apa yang telah saya pikirkan. Twist yang  tidak hanya mengejutkan, tapi sekaligus membuat film ini menjadi sebuah sajian sci-fi yang tidak hanya menegangkan, tapi juga mengharukan.

Ketegangan yang dimaksud lebih ke atmosfernya yang haunting. Maksudnya seperti lagi jalan di sebuah gang sepi waktu malam malam sendirian, lalu ada suara burung hantu. Rasa menakutkan yang tidak membuatmu terlonjak, melainkan memakunya di kursi, dengan bulu kuduk meremang sedikit. Sedikit saja. Ketegangan ini dihasilkan dari iringan scoring yang efektif sekali menciptakan suasana menghantui, ditambah dengan design pesawat yang memang sangat unik. Ya, ketegangan ini memang salah satunya terjadi manakala sedang memasuki badan pesawat alien tersebut.

Sementara rasa haru baru bisa dirasakan setelah film ini habis. Setelah semua kepingan kepingan tersusun sempurna. Karena memang Arrival bukan film yang disajikan seutuhnya sekaligus, harus disusun perlahan lahan sehingga harus menunggu sampai film benar benar berakhir untuk bisa tahu apa yang sebenarnya ingin disampaikan.

Arrival merupakan persembahan pertama Dennis Villeneuve di tahun ini, sebelum Blade Runner 2049 tayang. Dan, seperti sebelumnya, Arrival pun lebih dari cukup untuk memuaskan saya. Memang tidak semindfuck Enemy, tapi Arrival punya cerita yang lebih kompleks dan debatable ketimbang filmnya yang lain. Intinya, bagi kamu kamu yang mencari film action, atau film dengan jalan cerita yang lurus lurus saja, lebih baik tidak menonton film ini. Arrival dianjurkan untuk mereka yang menggemari drama, dan tentunya fans dari Dennis Villeneuve  yang sudah menunggu nunggu filmnya.

Akhirnya, Arrival memang berbeda dengan film film alien yang lainnya. Mulai dari design aliennya yang merupakan gabungan antara hewan cumi cumi, laba laba, gajah dan ikan paus. Silahkan bayangkan sendiri, atau berdua juga boleh. Bentuk kapalnya yang terlihat kuno, dan sederhana, nyaris tanpa interior selayaknya kapal ruang angkasa. Cara manusia memasuki kapal itu juga belum pernah saya lihat di film alien sebelumnya. So, angkat topi buat pak sutradara yang berhasil mengadaptasi cerita pendek karangan Ted Chiang yang berjudul The Story Of Your Life dengan baik sekali.

Rate 4.5