The Babysitter (2017) – Sengatan si Cantik Bee

Seringkali menyenangkan tatkala sebuah lagu yang disukai tiba tiba terputar di salah satu adegan film tanpa kita duga sebelumnya yang tentu saja akan menjadikan adegan tersebut menjadi berkesan. Sebuah kejutan yang manis. Terakhir kali hal itu terjadi waktu saya menonton Valerian and The City of Thousand Planets sewaktu Space Oddity milik David Bowie mengalun di opening scene. Well, saya bukan fans beratnya beliau, tapi siapa yang bakal menolak Space Oddity? Atau siapa yang enggak suka We Are The Champion punya Queen? Benar sekali, di The Babysitter lagu itu terdengar mengiringi salah satu adegan paling keren di film ini. 

The Babysitter bercerita mengenai anak kecil yang sudah terlalu besar untuk punya babysitter tapi ia punya itu. Alasannya karena Cole, nama anak itu, terlalu tidak bisa diandalkan untuk tinggal di rumah sendirian waktu orang tuanya pergi liburan. Cole penakut, dan sering dibully teman temannya. Babysitter yang menjaga Cole bernama Bee. Wanita seksi yang punya potensi untuk ‘menyengat’ setiap pria yang melihatnya. Dan film ini, bassicly emang mau nunjukkin ‘sengatan’ Bee yang sungguh dahsyat, dan tajam. Setajam silet yang sudah diasah sehari semalam. Kan maen. 

Saya enggak mau cerita banyak mengenai jalan ceritanya, karena menurut saya akan lebih baik kalau tahu cuma sedikit saja. Meski kalau tahunya sedikit memang enggak bikin kenyang ya. Jadi masalah bermula ketika Cole didoktrin oleh cewek tetangganya yang mengatakan bahwa biasanya babysitter akan memasukan pacarnya ke dalam rumah waktu bocah yang sedang dijaganya tidur, lalu ena ena deh. Malam harinya, Cole yang penasaran pun pura pura tidur. Lalu mengintip babysitternya itu, dan apa yang ia lihat sungguh mengejutkan, dan sama sekali di luar dugaan. Horor pun dimulai.

The Babysitter sepertinya akan membuat pecinta horor slasher tersenyum. Dengan darah yang tak malu malu menyemprot ke muka, cukup gore untuk ukuran film dengan tokoh utama anak kecil. Tak hanya itu, film ini juga cukup lucu yang akan membuat tergelak di sela sela darah yang mengalir. Serius film ini lebih lucu dari perkiraan saya. Mengingatkan saya dengan film Tucker and Dale vs Evil. Satu satunya pertanyaan yang mengganjal yaitu kok tetangganya pada enggak ada yang dengar ya ribut ribut kayak gitu? Oh, mungkin lagi tidur kali ya. Tanya sendiri dijawab sendiri. Terkadang hidup lebih baik memang seperti itu. Jawaban sendiri bisa memuaskan. Tapi tidak semua pertanyaan bisa dijawab sendiri. Pertanyaan macam ‘sudah punya pacar apa belum?’ itu ya jangan sampai dijawab sendiri. Halu bener. 

Film ini disutradarai oleh sutradara yang namanya lumayan pendek, McG. Beliau menyutradari 3 Days To Kill yang saya tidak suka kecuali Amber Heard nya. Dan otomatis The Babysitter menjadi film favorit dari semua film McG yang pernah saya tonton. Ada banyak momen momen memorable, salah satu sudah saya sebelumnya, yang melibatkan lagunya Queen. Yang lainnya misalnya pembunuhan pertama. Itu shocking sih, enggak nyangka bakal kaya gitu ditambah adegan selanjutnya yang malah bikin ngakak. Tak lupa, babysitter idaman setiap pria, Bee yang somehow kayak hibrid Gena Davis, Megan Fox dan Cinta Laura. Samara Weaving memang sangat pas memerankan Bee. Btw, menurut imdb, si Samara ini pernah tinggal di Indonesia lho. Entah kapan tinggalnya. Namanya juga sering saya dengar. Apalagi pas ada temen nikahan. Semoga samara ya..

Akhirnya, The Babysitter wajib kamu tonton apabila menyukai film film yang penuh darah, dan tak masalah dengan adegan pembunuhan yang ditampilkan secara jelas. Meski demikian, film ini boleh juga menjadi semacam film cooming of age yang bekerja dengan cara unik serta romansa yang malu malu untuk diakrabi. Oh satu lagi, ada setelah bubaran ada lagi satu adegan post credit yang sayang untuk dilewatkan. Sequel? Yes, please.

Advertisements

Happy Death Day (2017)

Di hari ulang tahunnya, Tree harus tewas oleh pembunuh bertopeng. Untungnya cewek remaja itu diberi kesempatan untuk hidup lagi tepat di hari ia akan terbunuh. Ia harus bisa mencegah agar tidak terbunuh dengan cara mencari siapa pembunuhnya itu. Apabila tidak berhasil, ia akan kembali mengulang hari kematiannya itu.Yah, tentu saja Tree tidak langsung menyadari kalau ia harus terjebak dalam pengulangan tersebut. Tree harus melalui fase “ini cuma mimpi” hingga fase “sueek, gue harus ngapain lagi ini woy!!” Untungnya ia tidak sampai fase “Duuhh, gue pengen rebahan di perut kucing.” karena itu berarti kepasrahan. Tree tidak menyerah. Ia berjuang. Berjuang. Berjuang sekuat teenagaa. Tetapi jangan lupa. Perjuangan harus pula disertai dengan doaa.. Tau ini lirik lagu siapa? Hebat kamu!

Asiknya, tidak cuma Tree yang pusing mencari pembunuhnya, saya pun demikian. Pembunuh sebenarnya rapi disimpan hingga menit menit terakhir. Saya beberapa kali salah menebak. Dan ketika akhirnya pembunuhnya ketahuan siapa, wow, engga nyangka kalau itu dia.

Sebagai film thriller, Happy Death Day memang menegangnya, sekaligus kocak. Tegangnya ya khas film film pembunuh bertopeng, waktu Tree diburu oleh si pembunuh, dan upayanya untuk mencari siapa yang bunuh, seringkali bikin ketawa. Beberapa kali. Dan akan jauh lebih seru seandainya saya tidak menonton trailernya, karena ada spoiler satu adegan yang seharusnya bakal lebih surprise di filmnya. Tapi menonton trailernya sendiri juga enggak masalah, masih tetap asik untuk ditonton. Dan kelebihan menonton trailernya ialah adanya lagu In Da Club nya 50 Cent yang pas sekali. Cuma sayangnya, enggak muncul di filmnya. Padahal ta tungguin.

Happy Death Day tidak terlalu sadis, adegan pembunuhannya tidak diperlihatkan. Cuma sebaiknya tidak ditonton bagi yang masih dibawah umur, karena ada beberapa dialog yang cukup vulgar, cuma orang dewasa aja yang harusnya tahu. Kalau untuk nudity, film ini relatif aman. Hanya ada kelihatan bagian punggungnya saja. Itu juga bukan sedang ena ena, melainkan jalan jalan di sekolah ga pakai baju.

Akhirnya, Happy Death Day pantas untuk ditonton meski diperankan oleh wajah wajah yang kurang familiar, pembunuhannya akan membuatmu tegang, siapa pembunuh bertopeng sebenarnya akan membuatmu mikir dan mulai nebak nebak, komedinya akan membuatmu tertawa, dan tak lupa sisipan drama yang pas dan tak lebay. Dan tak lupa ada pelajaran yang bisa dipetik bagi yang memang ingin memetiknya. Jreng jreng.

Geostorm (2017)

Alam identik dengan keindahan, mbah dukun dan bencana. Bencana alam sangat dihindari oleh kita semua karena itu berbahaya. Meski demikian, kita terkadang suka melihat bencana dalam wadah sinema. Yah, kurang lebih sama kaya film horor, lebih suka lihat setan di film film ketimbang ketemu di dunia nyata. Kecuali mungkin, bakso setan dan nasi goreng setan. Nah, film Geostorm ini diharapkan penuh dengan aksi bencana yang melanda bumi, menghancurkan bangunan bangunan, membuat kekacauan. Namun semua hanya tinggal harapan. Kehancuran kehancuran yang biasanya ada dalam film bencana, terpampang terlalu sedikit. 

Bermula dari itikad baik untuk menghilangkan semua bencana alam di muka bumi, dibuatlah sebuah alat canggih yang melayang di atas bumi bernama Dutch Boy. Dutch Boy mampu menggagalkan bencana yang akan terjadi sehingga berita berita kematian masal akibat bencana sudah tidak terjadi lagi. Dutch Boy setia melindungi bumi, sampai terjadi sebuah insiden yang mengakibatkan orang satu kampung meninggal dunia. Dan disusul insiden insiden yang lain. Keadaan ini memaksa pencipta Dutch Boy untuk menyelidikinya, dan ternyata ia menemukan kenyataan yang mengejutkannya. 

Tidak seperti film film disaster yang lain, contohnya The Day After Tomorrow atau 2012, Geostorm sedikit berbeda. Kesan survivalnya teralihkan oleh drama terorisme berujung konspirasi dengan adegan adegan aksi semacam penculikan, kejar kejaran mobil, peretasan serta sisipan drama keluarga. Bagi yang mengharapkan banyak bencana alam terus orang lari lari menyelamatkan diri tak terkecuali tokoh utama, film ini dibawah ekspektasi sih jadinya, padahal Geostorm punya semua jenis bencana untuk ditampilkan. Yah, namanya juga film tentang bencana alam, pasti inginnya lihat alam mengamuk sebanyak banyaknya khan. Kecuali film tentang bencana hati. Duh!

Untuk CGI nya juga masih ada beberapa yang terlihat kurang mulus. Scoringnya biasa saja. Dramanya kurang kena di hati. Yang lumayan cuma Abby Cornis seorang. Heu.

Kesimpulannya, Geostorm filmnya mengecewakan. Lebih baik lihat trailernya saja. Lebih wah. 

2/5

Blade Runner 2049

bladerunner2049

Blade Runner 2049 terjadi pada masa ketika orang tak lagi bertanya aslinya dari mana ya?, melainkan kamu asli apa engga?, biarpun kamu adalah makhluk hidup bukan barang dagangan semacam handphone, gundam atau ulekan cabe. Teknologi sudah sedemikian maju sehingga manusia buatan bukanlah sebuah hil yang mustahal. Manusia buatan ini disebut Replicant, dibuat untuk meringankan tugas umat manusia. Seiring waktu, dibuatlah Replicant dengan model yang lebih canggih, sehingga membuat Replicants model lama harus melarikan diri sembunyi karena mereka akan dinonaktifkan alias dibunuh. Para pemburu Replicants disebut Blade Runner. Di film sebelumnya bercerita tentang Blade Runner bernama Deckard, yang muncul juga di film ini. Bagi yang sudah nonton Blade Runner sebelumnya, tentu saja akan menjawab rasa penasaran akan lanjutan nasib beliau.

Di film ini, kita (iya, kita) akan bertemu Blade Runner tipe terbaru yang dipanggil K. K ditugaskan untuk menyelikidi sebuah kasus yang dimulai dengan ditemukannya tulang belulang yang terkubur di bawah pohon. Penyelikidian itu membawanya untuk mencari seorang Deckard yang sudah bertahun tahun menghilang. Selain itu, kasus ini juga menarik minat bos pembuat Replicant yang punya agenda sendiri terhadap kasus tersebut.

Blade Runner 2049, 32 tahun lagi dari sekarang, tapi bumi sudah begitu berubah. Kusam. Lusuh. Muram. Abu abu. Dan dingin. Tumbuhan dan hewan asli menjadi barang langka dan mahal. Di sebuah adegan, seorang tukang loak modern yang dulu mungkin pernah jadi perompak di laut, menawarkan harga yang cukup tinggi untuk sebuah action figure kuda kudaan kecil dari kayu. Mungkin di masa depan, kayu bisa menjadi investasi yang menguntungkan. Ini membuat saya sedih, sebab bumi tak nampak indah dan menyejukkan mata. Keindahan yang haqiqi mungkin tercipta dari pohon pohon hidup dan bernafas, sementara pohon pohon beton hanya menampilkan keindahan semu. Dan dingin. Kalo dilihat atau pun dipeluk.

Ngomongin sedih, enggak nyangka film ini memang membuat saya sedih. Jalan ceritanya punya potensi untuk menggetarkan hati. Saya percaya, seandainya film ini diremake oleh Korea Selatan, bisa jadi akan menjadi film yang menguras air mata, dan sekaligus menguras bak mandi kalau kamu nontonnya sambil nguras bak mandi. Orang kaya mah bebas.

Jadi dimana sedihnya? Jawabnya ada di ujung langit.. kita ke sana dengan seorang anakk…

Sudah ya.

Kesedihan itu terletak pada kisah cinta yang tumbuh mengambang di sungai kehidupan K dan Joi, aplikasi hologram yang mengurusi keperluan hidup K. Jadi Joi ini semacam asissten pribadi yang bisa disuruh apa saja. Menyediakan keperluan si majikan. Makanya di masa depan, lagu Caca Handika yang ‘masak masak sendiri, cuci baju sendiri‘ itu sudah tidak relevan karena jomblowan yang budiman bisa memiliki Joi. Kekurangannya cuma satu, doi hologram alias bayangan doang. Jadi kalau mau megang, ya megang angin. Mau meluk, meluk angin. Mau cium, cium angin. Sedih ya.

Kisah cinta K dan Joi memang tidak terlalu banyak rintangan, tapi bukan berarti berjalan dengan mulus. Padahal keduanya nampak cocok satu sama lain. Meski berbeda.

Kesedihan yang lain ada pada sebuah kisah pencarian keluarga yang lama berpisah oleh keadaan. Perpisahan yang tidak diinginkan. Tapi, memangnya ada perpisahan yang diinginkan? Semua perpisahan tidak diinginkan oleh siapa pun kecuali pisahnya sambel dengan semangkuk bakso; sambelnya dipisah ya bang!

Jadi laper.

Rasa sedih ini ditambah dengan scoring yang pas, haunting tapi enak buat didengarkan. Nah, jadi di Blade Runner 2049 ini ada romansa cinta laki laki dan perempuan sekaligus cinta keluarga. Korea Selatan kan biasanya paling jago yang beginian ya. Betul tidak?

Blade Runner 2049 meski durasinya dua jam setengah tapi sama sekali enggak bosan untuk ditonton. Tapi tentu saja ini masalah selera. Kalau kamu ingin nonton film yang banyak aksinya maka lebih baik jangan nonton. Boleh dibilang ini film drama misteri dengan setting masa depan yang melibatkan manusia tiruan mengendarai mobil terbang. Denis Villeneuve, sekali lagi, tidak membuat saya kecewa. Baiklah, akan saya tutup review film ini dengan salah satu quote bagus yang kira kira bunyinya begini: Sometimes to love someone, you have to be a stranger. Nasibmu Pak.

The LEGO Batman Movie (2017)

batmanlego
Sudah terlalu lama sendiri membuat Batman tidak lagi kepengen punya partner untuk memberantas penjahat di Gotham. Tapi kalau partner buat ena ena sih kayaknya masih tetep pengen ya. Ia prefer kerja sendirian. Even waktu lagi ngaso di Batcave pun sendirian. Makan sendirian. (Kasian) Nonton film  sendirian. (Kasian) Even mungkin buang air juga sendirian. (Ini ga kasian) Cuma ditemani komputernya yang dipanggil komputer juga. Semacam kurang ide buat ngasih nama.  Tapi, biar pun semua dilakukan sendirian, Batman terlihat bahagia. Karena kebahagian bukan berasal dari luar, tapi dari dalam diri masing masing. Akan tetapi, meski terlihat bahagia, ada sesuatu yang kurang dalam hidupnya.

Kekurangan ini dilihat oleh Alfred, pengasuhnya dari kecil. Alfred sudah member saran agar hidup Batman jadi lebih lengkap, tapi tidak dituruti. Hingga kemudian sebuah kejadian membuatnya mengadopsi seorang anak kecil. Sementara itu Joker bersama para penjahat berusaha untuk menghancurkan Gotham. Apakah Batman bisa mengalahkan Joker dan menyelamatkan Gotham sekaligus mendapatkan kepingan yang hilang dalam dirinya? (ciye)

Animasi lego tentu beda dengan animasi lainnya. Terlalu kotak.  Tapi ini juga bisa menjadi kelebihannya, karena unik. Saya juga bukan penggemar lego. Nonton ini karena faktor Batman. Dan ternyata cukup menghibur, terutama waktu berantemnya. Karena filmnya basicly ialah dunia lego, maka semua yang ada disini berbentuk lego. Tokohnya, bangunannya, kendaraannya, alat alatnya, dan juga efek ledakannya. Jadi unik aja lihat sinar laser jadi bentuk padat gitu. Apa lagi suara tembakannya; pakai mulut doang. Pew. Pew. Pew.

Sayangnya untuk film animasi, mungkin ini kurang lucu buat anak anak. Joke jokenya kebanyakan verbal, dan cuma bikin nyengir saja. Yang lucu sih pas awal awal di Phantom Zone ada penjahat yang teriak (kalau engga salah); wingardium leviosa. Lol. Dan ada lagi yang paling lucu di penghujung acara, sampai seluruh studio tertawa dengan gumuruh. Di film ini banyak bermunculan  villain villain dari film lain seperti yang mantranya sudah saya tulis sebelumnya, tahu khan ya siapa. Ada juga king kong, gremlins, raptor dan yang lainnya. Oh, Saruman juga. Kebayang khan gimana serunya mereka berantem melawan Batman dan kawan kawannya.

Dan pada akhirnya, Lego Batman akan memuaskan mereka yang mencintai Batman sekecil apa pun perasaan itu, atau malah jadi ilfill karena Batmannya benar benar beda dengan yang selama ini dikenal orang. Batman jadi lebih ramai, narsis bin cerewet. Lebih mirip Iron Man. Batman rasa Iron Man. Agak ironis mengingat Batman disini tidak menyukai Iron Man (buktinya lihat sendiri di film, jadi bukan hoax), tapi malah bertingkah laku seperti dia. Bukan cuma Batman yang beda, Jokernya pun jadi lebih baperan. Dan saya merekomendasikan untuk melihatnya dalam 3D, biar lebih asik dilihatnya. Karena dilihat dari jumlah penjahat dan heroinnya, mungkin ini yang paling fantastis sepanjang perfilmannya Warner Bros. Hue hue hue. Dan yang terakhir, Lego Batman seolah menunjukkan bahwa Batman saja tidak boleh terlalu lama sendirian, lha terus awakmu mo sampai kapan mblo?

batmanlego2-copy

Arrival (2016)

arrivalposter

Apa jadinya kalau tiba tiba ada pesawat alien berbentuk cobek raksasa yang parkir tak jauh dari tempat tinggalmu? Mungkin kamu akan segera memberitahu bapakmu, ibumu, kakakmu, adikmu bahkan kucingmu, berbarengan dengan postinganmu di media social setelah terlebih dahulu mengambil gambar pesawat itu. Kemudian jadi rame. Semua orang tahu. Dan kemudian semuanya pun kompak bertanya; mau apa itu pesawat alien kemarih?

Pertanyaan itu hanya bisa dijawab dengan tepat oleh alien yang bersangkutan. Sementara manusia dan hewan hewan hanya bisa menduga duga sahaja. Untuk bisa mengetahui jawaban tersebut, tentu harus bertanya langsung dengan aliennya. Inilah yang terjadi di film Arrival, dan yang mewakili pemerintah Amerika untuk ‘bicara’ dengan tamu tak diundang itu ialah seorang pakar bahasa bernama Louise Banks (Amy Adams) dan Ian Donelly (Jeremy Reiner), seorang ilmuwan. Mereka berdua, berserta beberapa orang dari pemerintah mendatangi cobek raksasa tersebut. Pesawat itu memang mirip cobek. Meski dengan bentuk lebih lonjong memanjang, dan warnanya sama hitam. Buat yang tidak tahu apa itu cobek, cobek ialah untuk alat membuat sambal bersama dengan pasangannya, ulekan. Ketika membuat sambail, cabai yang akan ditumbuk ditempatkan di sebuah wadah terbuat dari batu berwarna hitam. Itulah cobek. Jangan ketukar sama cebok lho ya. Kalau cebok, itu waktu kamu kebanyakan makan sambal setan terus mules mules di kamar mandi, udahannya harus cebok. Ceboknya pakai apa, enggak usah dibahas kali ya. Ceboknya sama siapa, ini juga enggak usah dibahass.

Jadi, dua orang ahli itu kemudian berhasil bertemu dengan alien tersebut setelah masuk ke dalam pesawat yan ternyata membuka secara otomatis setiap 18 jam. Alien tersebut bentuknya seperti cumi cumi raksasa, dimana tentakelnya bisa mengeluarkan semacam ‘tinta’ yang akan membentuk sebuah gambar berbentuk lingkaran yang diyakini sebagai bahasa alien. Louise dan Ian kemudian membawa huruf huruf tersebut untuk cari tahu artinya, dan bagaimana cara bekerjanya. Sementara itu tekanan datang dari pemerintah, yang ingin segera mengetahui apa maksud alien tersebut datang karena negara negara lain yang juga kedatangan pesawat serupa sedang berusaha menyerang pesawat alien tersebut.

Arrival berbeda dengan film film alien seperti Independece Day, Aliens, Prometheus yang lebih ke ranah action. Arrival cenderung ke drama. Mengenai bagaimana caranya menerjemahkan huruf huruf alien agar bisa berkomunikasi dengan benar. Dan juga bagaimana proses penerjemahan itu yang berpengaruh besar terhadap kehidupan Louise. Kehidupan Louise inilah yang sebenarnya menjadi inti dari film ini. Potongan potongan kenangan yang terus menghantui pikirannya, pelan pelan akan terkuak pada akhir film menyisakan sebuah gambaran yang sama sekali berbeda dengan apa yang telah saya pikirkan. Twist yang  tidak hanya mengejutkan, tapi sekaligus membuat film ini menjadi sebuah sajian sci-fi yang tidak hanya menegangkan, tapi juga mengharukan.

Ketegangan yang dimaksud lebih ke atmosfernya yang haunting. Maksudnya seperti lagi jalan di sebuah gang sepi waktu malam malam sendirian, lalu ada suara burung hantu. Rasa menakutkan yang tidak membuatmu terlonjak, melainkan memakunya di kursi, dengan bulu kuduk meremang sedikit. Sedikit saja. Ketegangan ini dihasilkan dari iringan scoring yang efektif sekali menciptakan suasana menghantui, ditambah dengan design pesawat yang memang sangat unik. Ya, ketegangan ini memang salah satunya terjadi manakala sedang memasuki badan pesawat alien tersebut.

Sementara rasa haru baru bisa dirasakan setelah film ini habis. Setelah semua kepingan kepingan tersusun sempurna. Karena memang Arrival bukan film yang disajikan seutuhnya sekaligus, harus disusun perlahan lahan sehingga harus menunggu sampai film benar benar berakhir untuk bisa tahu apa yang sebenarnya ingin disampaikan.

Arrival merupakan persembahan pertama Dennis Villeneuve di tahun ini, sebelum Blade Runner 2049 tayang. Dan, seperti sebelumnya, Arrival pun lebih dari cukup untuk memuaskan saya. Memang tidak semindfuck Enemy, tapi Arrival punya cerita yang lebih kompleks dan debatable ketimbang filmnya yang lain. Intinya, bagi kamu kamu yang mencari film action, atau film dengan jalan cerita yang lurus lurus saja, lebih baik tidak menonton film ini. Arrival dianjurkan untuk mereka yang menggemari drama, dan tentunya fans dari Dennis Villeneuve  yang sudah menunggu nunggu filmnya.

Akhirnya, Arrival memang berbeda dengan film film alien yang lainnya. Mulai dari design aliennya yang merupakan gabungan antara hewan cumi cumi, laba laba, gajah dan ikan paus. Silahkan bayangkan sendiri, atau berdua juga boleh. Bentuk kapalnya yang terlihat kuno, dan sederhana, nyaris tanpa interior selayaknya kapal ruang angkasa. Cara manusia memasuki kapal itu juga belum pernah saya lihat di film alien sebelumnya. So, angkat topi buat pak sutradara yang berhasil mengadaptasi cerita pendek karangan Ted Chiang yang berjudul The Story Of Your Life dengan baik sekali.

Rate 4.5