Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Movies’ Category

On the Beach at Night Alone ternyata jadi semacam curcol sutradara Ho Sang soo terhadap skandal percintaannya dengan artis Kim Min Hee yang juga membintangi film ini. Akhir dari kisah cintanya ialah ia akhirnya bercerai dengan istrinya dan memilih Kim Min Hee sebagai pasangannya. Konon, keduanya mulai dekat semenjak Kim Min Hee bermain di filmnya yang berjudul Right Now, Wrong Then. Tresno jalaran soko kulino, mungkin. Skandal ini sempat ramai di Korea Selatan sana. Meski kayaknya bakal lebih ramai seandainya keduanya ialah sutradara dan artis negeri Indonesia. 

Melalui film ini, yang ditulis oleh Hoo Sang Soo sendiri, seolah olah ingin memberikan gambaran atas apa yang bergolak di dalam hatinya atas kisah cinta terlarangnya itu. Bukan sebagai pembelaan, sepertinya hanya ingin didengar saja. Tidak hanya dari sisi dirinya tapi juga dari sisi Kim Min Hee. Malah porsi Kim Min Hee lebih banyak karena film ini memang berpusat padanya. Kim Min Hee berperan sebagai Young Hee, artis yang sedang menyepi ke luar negeri karena terlibat skandal dengan sutradara. Ia berlibur ke Jerman, bertemu dengan temannya yang baru saja bercerai. Setelahnya ia kembali ke Korea dan bertemu dengan teman temannya. Ngumpul, ngobrol ngobrol sambil minum bir atau soju. Di antara ngobrol ngobrolnya itu disinggung mengenai skandalnya dengan pak sutradara. Begitu saja filmnya.

Film ini memang segmented sekali. Isinya orang ngobrol. Sama seperti sedang menonton sekelompok orang yang lagi hangout di caffe. Kemudian direkam dengan kamera yang ditempel di tripod. Pergerakan kamera di film ini memang sederhana sekali. Orang yang baru memegang kamera mungkin bisa melakukannya. Tidak ada kamera yang berjalan. Statis saja. Dan yang dishoot itu kebanyakan orang ngobrol, jalan, makan, dan aktivitas lain layaknya orang orang. Tapi ada satu yang sedikit membuat beda yaitu adanya tokoh laki laki memakai baju hitam dan kupluk, yang tidak jelas dari mana datangnya. Kadang bisa dilihat kadang tidak. Yang ia lakukan ialah membopong Young Hee, minta korek api, sama sibuk ngelap kaca. Mungkin ia adalah simbol dari masalah Young Hee yang mengikuti kemana pun ia pergi. 

Bagi yang tidak cocok, film ini akan membosankan sekali dan bukan tak mungkin akan berhenti menonton di menit menit awalnya. Tapi, kebetulan saya termasuk yang suka film ini. Saya tidak masalah menonton orang orang ngobrol ngobrol saja. Yang membuat menarik ialah akting para pemainnya begitu natural, seolah olah tidak sedang berakting. Apalagi kebanyakan dishoot dalam satu take tanpa cut. Meski hanya kamera statis dengan zoom in zoom out dan sedikit geser kanan kiri saja. Dari film film Hoo Sang Hoo yang pernah saya tonton, memang seperti ini. Tidak ada kamera movement yang ciamik seperti film film lainnya. 

On the Beach at Night Alone tidak sepenuhnya bercerita mengenai seorang perempuan di pantai sendirian. Bahkan saya harus menunggu sampai film akan berakhir baru tahu apa maksud judul tersebut. Film ini diringi dengan iringan musik klasik Schubert’s String Quintet in C Major yang cocok sekali dengan film ini. Akhirnya, film ini wajib ditonton seandainya kamu menggemari film filmnya Hoo Sang Soo. Atau bagi yang ingin melihat Kim Min Hee karena ia adalah nyawa film ini. Aktingnya tak kalah superb dibanding sewaktu di The Handmaiden. Bagi yang ingin coba coba, boleh saja. Toh cuma nonton film, bukan buat anak yang katanya enggak boleh coba coba. Tapi siapkan moodnya dulu ya. 

On the Beach at Night Alone | Dir: Hoo Sang Soo | Cast: Kim Min Hee, Jung Jae Young | Rate: 4

Advertisements

Read Full Post »

Film ini diadaptasi dari buku detektif karangan penulis terkenal Agatha Christie. Salah satu keunggulannya ialah jalan cerita yang tidak mudah tertebak. Saya belum baca bukunya, tapi sudah menonton film versi jadulnya, dan ya, endingnya cukup mengejutkan. Nah, kalau saya sudah tahu jalan ceritanya, mengapa saya masih menonton versi terbaru ini? Kenapa hayo?? Jawabannya, karena saya pengen nonton. Jawaban yang singkat dan sederhana. Kecuali saya ditanya, kenapa eh kenapa minuman itu haram? Maka saya akan menjawab; karena eh karena… merusak pikiran. Ha ha haaaa.. yeaahh!!

Ternyata Murder on the Orient Express terbaru ini lebih asik ketimbang versi yang dahulu itu. Sinematografinya lebih cuamik, tidak hanya menyorot bagian dalam gerbong kereta namun juga view dari kejauhan. Beberapa adegan juga lebih terasa lonjakannya. Saya suka dengan openingnya, ketika Hercule Poirot bicara di depan ratusan orang di depan tembok ratapan. Kesannya epik sekali. Juga para pemainnya yang sebagian besar sudah punya nama. Ada Johny Deep yang lumayan berhasil melepaskan image bajak lautnya. Daisy Ridley yang tampil klasik dan cantik. Bagaimana dengan si detektif sendiri? Kenneth Branagh memerankannya dengan baik sekali. Jauh dari bayang bayang versi yang dahulu. Saya belum membaca bukunya jadi tidak bisa bandingin, tapi yang jelas versi terbaru ini akan memberikan kesan tersendiri di benak penonton. Gayanya yang semau sendiri saking pinternya mungkin. Kadang nyentrik. Yang cukup mengejutkan ialah, ternyata beliau cukup lucu meski ia sama sekali tak berniat melucu. Bahkan ia tak pernah bohong, tapi kata katanya bisa bikin tertawa. Enggak sampai ngakak sih. Inilah mungkin yang dinamakan lawakan yang hakiki; tidak perlu bohong untuk membuat orang tertawa. Dan, jangan lupa kumisnya juga ya. Kumisnya yang sekarang lebih panjang ketimbang versi yang lama. Katanya sih, agar lebih mendekati dengan bukunya.

Film ini juga lebih kena dramanya. Saya enggak menyebutkan yang mana saja, karena akan spoiler. Tegangnya juga lebih terasa, apalagi bagian menuju pungkas. Yang jelas, film ini akan memuaskan mereka yang sudah menonton film jadulnya. Buat mereka yang sudah baca bukunya, rasanya film ini tidak akan mengecewakan. Malah kudu ditonton. Buat penonton secara umum juga sepertinya akan menyukainya. Cara cara Hercule Poirot untuk menemukan siapa pembunuhnya asik untuk disimak. Tapi buat yang mengharapkan banyak aksi yang mendebarkan, sepertinya akan sedikit kecewa. Film ini lebih banyak ngobrolnya. Ngobrol seru.

Murder on the Orient Express sepertinya akan menjadi titik awal franchise Hercule Poirot. Di film ini disinggung kasus pembunuhan lain di Sungai Nil. Ini bisa jadi merujuk pada judul buku Agatha Christie yang lain, Death on the Nile. Dan tidak menutup kemungkinan buku buku yang lainnya pun ikut menyusul. Fans Agatha Christie pasti senang ya. Saya juga ikut senang, walau bukan fansnya. 

Film ini bercerita mengenai sepak terjang detektif terbaik dunia, Hercule Poirot dalam mengungkap pembunuhan yang terjadi di dalam kereta api yang ia tumpangi. Beberapa orang pun ia curigai. Orang orang dengan latar belakang yang berbeda beda. Hingga kemudian penyelidikannya mengantarkannya pada sesuatu yang mengejutkan. Kasus tersebut berbeda dengan kasus yang ia kerjakan sebelumnya. 

Murder on the Orient Express yang terbaru ini mampu menghibur lebih dari yang saya harapkan. Ia punya cerita yang membikin saya penasaran lagi meski saya sudah tahu ceritanya, ditambah sedikit aksi dan drama yang cukup menyentuh. Dan ada pelajaran yang bisa saya dapatkan di film ini. Yaitu bagaimana saya sebaiknya bersikap manakala kaki saya tak sengaja menginjak tahi. Boleh tahi kuda, tahi kebo, tahi kucing, tahi ayam, asal jangan tahi lalat saja. Nanti yang punya marah. Sewaktu menginjak tahi, janganlah mengumpat. Cukup terkejut, dan berkatalah; hmm.. ini tentang keseimbangan..( ini akan membuatmu terlihat smart) kemudian, injaklah tahi itu dengan kaki satunya yang bebas dari tahi. Jadi dua duanya kena tahi. (Ini akan membuatmu terlihat murah hati.) (Atau sinting) (lol) Tapi menginjak tahi juga harus disyukuri, ketimbang menginjak ranjau, atau menginjak ekor kucing.

Murder on the Orient Express | Dir: Kenneth Branagh | Cast: Kenneth Branagh, Daisy Ridley, Johnny Deep, Penelope Cruz, Michelle Pfeiffer, Judi Dench, William Dafoe | Rate: 3.5

Read Full Post »

Coco (2017)

Nontonlah Coco bersama seseorang atau pun sendirian. Karena Coco indah sekali dengan warna warni ceria yang memukau pandangan. Coco juga sedih dan penuh rasa haru yang mungkin akan membuat air matamu berjatuhan. Oleh karena itu, akan lebih baik jika sediakan tisu, sapu tangan, atau bahu seseorang sebagai sandaran. Buat yang nonton sendirian bisa diakali dengan membawa tas punggung besar dan pangkulah di depan. Lalu berikan pelukan. Jangan bayangkan itu adalah seseorang karena itu terdengar menyedihkan. Tapi bayangkan saja kalau itu adalah sekeranjang kucing kucing gendut yang menggemaskan. 

Coco bercerita mengenai Miguel yang ingin jadi musisi. Ia ingin seperti Ernesto de la Cruz, musisi terkenal yang sudah meninggal dan patungnya terlihat keren sekali. Tapi keluarganya yang ingin Miguel menjadi tukang sepatu menentangnya berkali kali. Tapi Miguel tidak peduli. Suatu hari ia ingin ikut tampil di acara musik tapi ia tak punya alat musik sama sekali. Ia pun nekat mengambil gitar Ernersto de la Cruz dengan mencuri. Lalu, keajaiban terjadi. Miguel pergi ke dunia orang mati. Di sana ia bertemu dengan leluhurnya yang sudah lama tak hidup lagi. Miguel bisa kembali ke dunianya kalau leluhurnya itu merestui. Tapi leluhurnya mengajukan syarat, Miguel jangan sampai jadi musisi. Miguel kecewa karena leluhurnya tak mengerti keinginanya, dan kabur mencari Ernesto de la Cruz karena idolanya itu pasti akan mengerti. Di sinilah petualangan dimulai. 

Sebagai film tentang anak kecil yang bermimpi jadi musisi, sudah tentu Coco diiringi musik musik yang menghanyutkan. Lagu lagu hits Ernesto de la Cruz sering diperdengarkan. Lagu khas Mexico dengan petikan gitar nan syahdu namun ada juga yang bisa membuat kakimu ingin menari berloncatan. Belum lagi iringan musik scoring dari composer Michael Giacchino yang juga pernah menggarap The Incredibles, Ratatouille, Up, Inside Out dan The Incredibles 2 tahun depan. 

Coco, benar benar melebihi harapan. Seketika menjadi film Pixar yang saya favoritkan. Selain musik yang enak, animasinya juga halus, dan ceritanya punya twist yang mengesankan. Cerita yang dalam dan penuh makna kehidupan. Terutama dalam hal melupakan. Ingatan dari seseorang jauh lebih penting ketimbang segerobak intan berlian. Karena dilupakan ialah hal yang begitu mengerikan. Seperti kata Dr Hiluluk, manusia mati bukan sewaktu ditembak pakai pistol, saat kena penyakit, ketika diracun, melainkan ketika dilupakan. Maka marilah jangan melupakan, dan berusahalah agar tidak dilupakan. Marilah mengingat orang orang yang telah mendahului kita, dan mendoakan. 

Coco | Dir: Lee Unkrich | Cast: Antonie Gonzales, Gael Garcia Bernal, Benjamin Brat | Rate: 4

Read Full Post »

Kurang lebih satu jam kemudian film ini mensleeding hatiku so hard hingga amburadul. Pengalaman menonton film paling menyakitkan tahun ini. Inilah horor yang hakiki. Tak hanya membuat kaget, tapi juga sedih sekali, disusul dengan kemarahan yang meletup letup seperti air dalam panci yukihira nabe saat kamu masak aer biar mateng. Ingin sekali aku masuk ke dalam film dan merubahnya. Tapi tak bisa. Hidup seakan menjelma dalam untaian lagu Tulus; aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi, aku tenggelam dalam lautan luka dalam.. Sungguh, satu adegan itu terus terbayang sepanjang film berjalan, hingga film selesai, bahkan saat kutulis review ini. Masih terasa ada sakitnya. Oh apa yang harus kulakukan? Apa aku harus lari ke hutan kemudian teriakku, atau aku harus lari ke dalam pelukanmu? Uwuwuwuwu.

Kurang lebih satu jam sebelumnya Ikari / Rage / Anger memberikan kisah sebuah pembunuhan sadis sepasang suami istri di rumahnya sendiri. Pembunuhnya meninggalkan tulisan di pintu “Ikari / Anger”. Pembunuh itu lalu kabur dan wajahnya dioperasi plastik. Polisi hanya punya gambar wajah yang si pembunuh sebelum operasi. Siapakah pembunuh itu, mengapa ia membunuh, mengapa ia menulis kata Ikari, marah sama siapa? Aksi kepolisian mengungkap kasus ini menjadi cerita pertama. 

Cerita kedua mengenai seorang ayah, Yohei Maki, dengan putri tersayangnya, Aiko. Ia bekerja di pelabuhan bersama dengan Tetsuya Takihiro. Aiko lalu kencan dengam Takihiro. Sementara itu ayahnya perlahan mulai mencurigai Takihiro sebagai pembunuh yang dicari polisi. Apakah ia memang pembunuhnya?

Selanjutnya ada cerita tentang Yuma Fujita yang bertemu dengan Naoto Onishi dan mulai pacaran. Keduanya laki laki. Pasangan gay itu hidup bahagia sampai kemudian Yuma Fujita mulai ragu dan mengira kalau pacarnya itu adalah pembunuh yang dicari polisi. Apakah ia memang pembunuhnya? 

Cerita terakhir terjadi di sebuah kota di tepi pantai. Lautnya begitu biru. Indah sekali. Di dekatnya ada sebuah pulau tak berpenghuni. Suatu ketika Izumi Komiya pergi ke pulau itu dan di sana tak sengaja bertemu dengan laki laki bernama Singo Tanaka. Singo Tanaka berpesan pada Izumi agar tidak bilang siapa pun kalau ia ada di situ. Izumi Komiya memang tak curiga kalau ia pembunuhnya, yang curiga itu aku. Apakah ia pembunuhnya?

Ikari berbeda dengan film film pembunuhan yang lain. Film ini menyuruhku untuk menebak siapa di antara ketiga orang itu yang benar benar pembunuh. Dan jawabannya baru akan terkuak menjelang film ini berakhir. Tapi kemudian semua itu seakan tak penting. Rasanya ada yang kurang. Rentetan peristiwa yang terjadi sebelum ending telah mencuri rasa penasaran akan identitas pembunuhnya. Peristiwa yang meninggalkan lubang dalam di dada yang susah ditutup kecuali oleh perhatian darimu (uwuwuwuwu), bukan perhatian dari operator di stasiun kereta; “perhatian perhatian, kepada para penumpang jurusan.. ”

Keempat cerita yang berbeda tokoh dan tempatnya itu kemudian akan terhubung satu sama lain. Masing masing kisah ditampilkan bergantian, saling menyalip di antara kisah yang lain. Tapi jangan khawatir dan bimbang, tidak akan membingungkan. Editingnya menang patut diacungi jempol. Penggalan per adegannya benar benar pas dan berhasil menjaga rasa penasaran. Yang patut diacungi jempol satu lagi ialah scoringnya. Eduh, paass banget mbangun suasana muram, galau dan kelam. Apalagi dentingan pianonya, seperti selimut premium nan mahal yang membungkusmu dalam buaian kesengsaraan. 

Yang patut diacungi jempol lagi ialah akting pemainnya yang super sekali dan seperti roti tawar yang bertabur coklat meises, film ini pun bertabur bintang. Aktor aktor kawakan yang sudah malang melintang di dunia perfilman, maupun yang baru beberapa kali main film namun mampu memberikan akting yang luar biasa. Aktor dan aktris ini boleh jadi adalah idola kamu, seperti contohnya Aoi Miyazaki yang jadi aktris idolaku. Ada pula Suzu Hiroze yang mencuri perhatian sejak ia menjadi saudari kecil di film Our Little Sister / Umimachi Diary. Sedikit saran, buat yang benar benar ngefans dek Suzu Hiroze sebaiknya jangan menonton, takut enggak kuat. Ini serius lho ini! Buat fansnya Sathosi Tsumabuki & Gou Ayano, mungkin akan merasa enggak nyaman karena mereka jadi pasangan sejenis, dan ada adegan dewasanya yang cukup berani dan vulgar. Kemudian ada juga Ken Watanabe dan Kenichi Matsuyama sebagai ayah dan pacar Aiko.

Anak kucing akan menyedot susu ibunya yang kucing, sementara Ikari / Anger / Rage akan menyedot kebahagian dalam hidupmu. Membuatmu patah hati sejenak. Memberikan apa yang seekor kucing tidak bisa berikan kepadamu, yaitu kesedihan. Kesedihan yang memukau, sehingga kamu akan menerima dengan ikhlas meski hati tersakiti. Betapa aneh kalimat ini. Tapi begitulah kadang keajaiban sebuah film, sudah tahu tersakiti, pas ditanya puas atau enggak nontonnya, pasti dijawab puassss!! HLHEDN. Film ini tak semata mata tentang siapa yang membunuh dan alasannya, melainkan tentang kepercayaan dan rasa tak berdaya. Apakah kepercayaan bisa mengoyak rasa cinta? Seberapa dalam manusia bisa menyimpan penyesalan dan rasa bersalah? Akhir kata, seperti judulnya, film ini memang bikin emosi jiwa.

Ikari / Anger / Rage | Dir: Lee Sang Il | Cast: Aoi Miyazaki, Suzu Hirose, Ken Watanabe, Kenichi Matsuyama, Gou Ayano | Rate: 4

Read Full Post »

Kalau alasannya cuma ingin melihat Batman, Wonder Woman, Superman, Aquaman, Cyborg dan Flash berkelahi melawan alien, maka jangan ragu dan bimbang, segeralah menonton. Percayalah mereka pasti berantem seru kok. Mereka eggak bakal ngumpul ngumpul main remi yang kalah mukanya dicoret pake bedak. Dan enggak cuma mereka yang dilihatkan bertarung, ada dewa dewa kuno dan wanita wanita perkasa yang berjuang melawan sang musuh utama. 

Tapi kalau yang dicari adalah kedalaman cerita dan sinematografi yang ciamik seperti yang ada di  Man Of Steel dan Batman V Superman: Dawn Of Justice maka kalian mungkin akan kecewa. Jalan cerita Justice League lebih sederhana, tidak ribet. Mudah dimengerti. Seperti film filmnya studio sebelah. Bahkan banyak juga joke joke yang dihadirkan. Sayang, jokenya banyak yang enggak lucu. Biasa saja. Ini menurut saya. Menurut orang lain tentu beda lagi. 

Sudah liat trailernya? Ingat adegan flash nunjuk kaca pakai jari lalu kacanya kaya mau pecah? Ingat adegan pemain rugby yang tak lain tak bukan ialah Cyborg? Ingat Alfred ngomong sama seseorang yang tak keliatan atau cuma hologram doang? Ketiga adegan itu enggak tahunya tidak dimasukan dalam versi final yang release di bioskop. Tidak hanya itu, gosipnya banyak adegan yang gagal dipakai, yang kalau dijumlahkan bisa mencapai kurang lebih durasi setengah jam. Asem tenan. Apakah nanti bakal keluar director’s cut seperti Batman V Superman: Dawn Of Justice kemarin? Padahal bakal jadi lebih menarik seandainya dipakai saja adegan adegan tersebut. Ini menurut saya. Menurut orang lain tentu beda lagi. 

Justice League memang di bawah harapan. Lebih kacau daripada Batman V Superman kemarin. Tapi buat yang nyari seru seruan dan lucu lucuan, Justice League masih layak untuk ditonton. Buat bawa anak kecil juga aman. Apalagi buat yang nge fans sama Wonder Woman, di sini doi tambah badass dan bohay. Yang suka sama Superman, juga bakal girang meski ada moment dimana wajah CGI nya kelihatan terlalu sempurna malah jadi serem. Dan di film ini ada penampakan Queen Mera, yang cantiknya luar biasah, biar pun basah basah basah… seluruh tubuhh… ah ah ah, menyentuh kalbuu..

Justice League | Dir: Zack Snyder | Cast: Ben Affleck, Gal Gadot, Henry Cavill, Amy Adams, Amber Heard | Rate: 3

Read Full Post »

Biar lebih afdol, baiknya review ini dibaca sambil nyanyi rap ala lagu openingnya serial Kera Sakti jaman dulu.

Blade of the Immortal dibuka dengan brutal. Seorang samurai bernama Manji berkelahi melawan puluhan orang dengan kesal. Ia menusuk, menebas, membunuh musuhnya tanpa rasa sesal. Keberingasannya terhenti saat satu musuhnya menawan gadis muda yang ia kenal. Ia letakkan senjatanya agar gadis itu tak mendapatkan luka yang fatal. Sungguh mati ia tak mengira, si gadis tetap ditusuk hingga meninggal.

Manji berang dan musuh itu dibunuhnya. Manji menyesal dan tak ingin hidup di dunia. Tapi, nenek tua misterius memberikan obat untuk kesembuhannya. Berupa cacing darah ajaib yang bisa menyembuhkan segala luka seketika. Manji sembuh namun ia tak bahagia. Sebab ia ingin mati, tapi malah sekarang ia akan hidup selamanya. 

Blade of the Immortal.. Blade of the Immortal…

Puluhan tahun berlalu dengan cepat. Rin Asano, gadis remaja anak ketua dojo samurai sedang meratap. Rumahnya diserang Kagehisa Anotsu dan anak buahnya hingga ayahnya mangkat. Rin ingin membunuh orang itu, dan tekadnya sudah bulat. Atas saran nenek misterius, ia pun mencari seorang samurai yang tak bisa mokat. Ia ingin menyewa samurai itu untuk membalas dendamnya yang kesumat. Samurai yang dimaksud ialah Manji yang berhasil ditemui digubuknya dalam keadaan sehat wal afiat.

Blade of the Samurai punya durasi yang lama, dua jam setengah. Tapi jika kamu gemar nonton film samurai bertarung, maka kamu akan bungah. Akan ada banyak pertarungan yang menumpahkan darah. Tak terhitung mayat mayat yang terkulai rebah. Oleh sabetan samurai Manji, Kagehitsa Anotsu maupun orang pemerintah. Yo man, film ini memang tak cuma ajang aksi balas dendammya Rin, gadis remaja yang suka pakai baju merah. Ada pihak pemerintah yang tak ingin ada yang berubah. 

Blade of the Immortal.. Blade of the Immortal.. yo.. yo..

Disutradarai oleh Takashi Miike, Blade of the Immortal tampil cukup mengesankan. Banyaknya pertarungan yang terjadi tidak membuat bosan. Ada tarung satu satu hingga keroyokan. Musuh musuh yang aneh pun bermunculan. Dari yang normal, hingga pakai masker, dan ada pula yang menggunakan kandang burung untuk menutupi wajahnya walau tak jerawatan. Belum lagi senjata yang digunakan. Kebanyakan memang katana tapi ada juga senjata aneh seperti pedang dwisula, pedang kapak, serta pedang bergerigi seperti gergaji yang kurang cocok untuk acara sunatan. 

Yang menarik lainnya ialah Manji yang dibuat tidak terlalu hebat meski tidak bisa mati. Ia terluka dan hampir meregang nyawa berkali kali. That’s right yo, nanti ada kejadian yang membuat ia tidak langsung menyembuhkan diri. Yang imba justru musuhnya, Kagehitsa Anotsu, terlihat kuat dan jago berkelahi. Selain itu Manji juga sepertinya punya baju ajaib yang bisa menyimpan banyak senjata untuk membela diri. Yang harusnya senjata senjata itu tak bakal muat diselipkan dibaju, karena senjatanya bakal menusuk nusuk geli badannya sendiri. Tapi karena ini adaptasi dari manga, hal itu bisa dimaklumi. 

Blade of the Immortal sajian film buat yang suka Samurai X, 13 Assasin, dan film samurai lainnya. Tapi kalau enggak suka film itu juga enggak apa apa. Film ini cukup menghibur dan tak bikin pusing kepala. Mungkin takut atau geli geli dikit ngeliat darah dan anggota tubuh terpisah dari badannya. Blade of the Immortal dibintangi oleh aktor aktor kece dari Hana Sugisaki, Takuya Kimura, Hayato Ichihara sampai Erika Toda. Nama terakhir biasanya tampil manis tapi di sini tak ragu tebas kepala. Tapi kalau kamu enggak kenal mereka juga enggak apa apa. Karena mereka juga enggak kenal siapa anda. Yo yo.. Blade of the Immortal… Blade of the Immortaall…

Blade of the Immortal | Dir: Takashi Miike | Cast:  Hana Sugisaki, Takuya Kimura, Hayato Ichihara, Erika Toda | Rate: 3.5

Read Full Post »

Jika Marlina punya hobi bikin pantun, apakah filmnya bakal punya judul Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Kali Empat Sama Dengan Enam Belas, Sempat Tidak Sempat Harap Dibalas? Tentu saja tidak demikian. Marlina wajib punya judul aslinya, Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak. Terlihat classy, keren dan bikin penasaran ingin segera menuju bioskop terdekat. Judulnya memang gurih, mengandung umpan yang bakal disambar oleh para penonton film jenis pertama, yaitu golongan penikmat film yang menonton karena judulnya. 

Jalan ceritanya pun benar benar akan membuat golongan penonton tipe kedua mempercepat langkah kakinya menuju bioskop, yaitu jenis penonton film yang menonton karena jalan cerita. Film ini punya jalan cerita yang tak umum. Seorang janda terpaksa membunuh lima perampok yang menyatroni rumahnya, kemudian menenteng kepala salah satu perampok itu menuju kantor polisi sambil dikejar oleh kawan si perampok. 

Keindahan Sumba dalam film ini ialah keindahan haqiqi. Manjain mata. Wajib untuk disaksikan melalui layar bioskop kecuali kamu punya TV LED 100 inch. Itu juga kudu nunggu DVDnya rilis dulu. Kelamaan. Nanti keburu disamber orang. Disamber orang tiketnya maksudnya. Layar bioskop yang besar membuat pemandangan Sumba terlihat begitu memukau. Hamparan rumput kering yang luas, jalan berliku, dengan ujung  samudera biru membentang. Malamnya, biarpun sedikit, ada bulan purnama bulat, besar benderang. Jelasnya, visualnya outstanding, yang bisa jadi akan membuat jenis penonton ketiga; yang menonton karena visualnya, akan memacu kudanya menuju bioskop terdekat menyusul jenis penonton pertama dan kedua.

Film ini juga ingin menunjukkan betapa kuatnya perempuan. Misalnya Novi, temannya Marlina yang lagi hamil itu. Waktu lihat Marlina tenteng itu kepala, responnya cuma beringsut sedikit, sesudahnya mengobrol seperti biasa. Padahal yang ditenteng itu kepala orang. Bukan sayuran, atau buah buahan. Kok ya enggak histeris, shock, terus langsung melahirkan. Kekuatan perempuan terlihat dengan jelas sepanjang film. Jenis penonton yang keempat; yang menonton karena kekuatan wanita kemungkinan besar akan segera mengebut mobilnya menuju bioskop terdekat. 

Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak mengingatkan saya dengan film Quentin Qarantino, Django Unchained. Pengalaman saya nonton film film western emang nol besar, tahunya dari Quentin Tarantino saja. Juga ada sedikit yang seperti cerita cerita karangan Gabriel Garcia Marquez, atau Eka Kurniawan. Perihal hantu tanpa kepala yang memainkan alat musik tradisional Sumba itu memang punya daya magisnya sendiri. Iringan musiknya pun demikian. Dan satu lagu yang dinyanyikan pakai bahasa Sumba itu, masih terngiang sampai sekarang meski tak tahu artinya. Judulnya Lahape Jodoh, nyari di google tak nemu artinya. Tapi dengernya sedih betul. Tentang jodoh yang tak kunjung datang, mungkin. Karena hal hal inilah, maka jenis penonton kelima akan berbondong bondong naik bis pergi ke bioskop; jenis yang menonton film karena genre western, ditambah punya scoring dan lagu yang yahud. (Maksa emang.)

Akhirnya, film ini sangat layak untuk ditonton. Memang brutal dan mengerikan ada kepala menggelinding atau ditenteng dan menyakitkan melihat apa yang terjadi didalamnya. Entah saya saja atau yang lain juga, saya lebih enggak tega melihat Novi. Sewaktu ia lagi lari lari kecil nyamperin Marlina, aduh itu takut jatuh. Lebih parah lagi yang terjadi selanjutnya. Ngeri sekali lihat perutnya. Tapi bukan berarti tanpa kehangatan dan rasa haru. Interaksi antara Marlina dan Topan sedikit memberi angin yang menyejukkan. Yang jelas, nonton Marlina si Pembunuh Dalam Empat Babak di bioskop jadi tamasya yang menyenangkan. Tidak ada duanya. Kecuali nonton lagi, baru ada duanya. Dan, ngeliat sop ayam jadi tidak pernah sama lagi. 

Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak | Dir: Mouly Surya | Cast: Marsha Timothy, Dea Panendra, Yoga Pratama | Rate: 4

Read Full Post »

Older Posts »