The Wedding Eve

????“Apa yang lebih besar dari cinta?”

“Hih, pagi pagi kok ngomongin cinta.” Celetuk Roy sambil menatap jendela kelas. Burung gereja hinggap di dahan pohon. Cahaya pagi menyinari ruang kelas dari lubang angin. “Iya, pagi pagi kok ngomongin cinta.” Sinta ikut ikutan bicara. Santi yang duduk di sampingnya menganggukkan kepala, sambil mengusap dagunya. Ikut setuju.

“Memangnya kenapa kalau pagi pagi ngomongin cinta?” Tanya Pak Guru sambil tersenyum, sebelum melanjutkan; “ah saya tahu, kalian pasti lagi jomblo ya, jadi malas ngomongin cinta.”

“Hih, kaya Pak Guru punya pacar saja.”

“Saya sudah punya pacar kok.” Jawab Pak Guru kalem. Seisi kelas mendadak heboh. Pak Guru punya pacar. Luar biasa.

“Eleh eleh, Munah enggak nyangka euy. Siapa namanya Pak?” Tanya Munah dengan mata berbinar.

Pak Guru terbatuk. “Itu, juga saya belum tahu.”

“Loh, maksudnya gimana Pak Guru. Kok enggak tahu namanya.”

Pak Guru menjawab dengan malu malu. “Soalnya masih dititipin sama Tuhan.”

Eeeehhhh!!!!!!!!!!

“Pak Guru delusional ih!” Kata Kenes sambil menahan tawa.

“Itu namanya oportunis, Kenes. Law of attraction, gitu. Sudah sudah, kenapa jadi ngomongin pacar sih.”

Pak Guru mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah komik.

“Jadi, saya akan mengulang pertanyaan tadi, dan dilarang protes. Apa yang lebih besar dari cinta? Mengapa saya menanyakan pertanyaan itu. Karena komik ini. The Wedding Eve. Komik yang akan kita bahas pada pertemuan kali ini.”

Pak Guru mengangkat komik itu dan mengitari kelas sehingga seluruh murid bisa melihat dengan jelas. “Sudah ada yang tahu, apa yang lebih besar dari cinta?”

“Saya tahu!” Glenda mengangkat tangan.

“Apa jawabannya, Glenda?”

“Kasih sayang, Pak Guru.”

“Betul sekali, Glenda. Kamu benar. Bapak bangga menjadi guru kamu.”

“Itu mah pertanyaan gampang, Pak Guru. Nenek nenek juga tahu.”

“Bohong kamu, Glenda. Nenek saya enggak bakal tahu begituan. Kalau nanya Jodha Akbar, baru tahu.”

Protes Firas. Glenda cuma senyum senyum cemberut. Tidak ingin mendebat.

“Ya sudah, Pak Guru akan mulai membahasnya. The Wedding Eve ialah antologi komik yang dikarang oleh Hozumi. Di dalamnya berisi enam cerita, ada satu cerita yang dijadikan dua part. Meski komik ini berjudul malam pernikahan, tapi tema tiap komik tidak melulu tentang malam pernikahan. Cerita pertama punya judul sama dengan komik ini, The Wedding Eve. Ceritanya simple, tentang malam terakhir seorang adik dan kakak perempuannya yang akan menikah keesokan harinya.

Tidak ada twist, atau hal hal yang menegangkan. Isinya hanya keseharian kakak beradik tersebut. Mulai dari mencoba baju pengantin, sampai makan malam berdua. Tapi, hal yang sederhana itu sudah cukup untuk memberikan kisah yang menyentuh hati. Ditutup dengan ending yang mengharukan. Ternyata malam pengantin punya momen sedihnya sendiri, ketika malam itu menjadi malam terakhir bagi kita untuk bersama dengan keluarga, karena keesokan harinya sudah tidak sama lagi. Tapi tentu saja, itu kesedihan yang melegakan, yang harus terjadi, untuk menuju pada kebahagian yang lain.”

Pak Guru membuka halaman komik, dan menunjukan pada seisi kelas.

????

“Cerita kedua tidak lagi bercerita tentang malam pernikahan, tapi tentang hubungan ayah dan anak, judulnya Reunion At Azusa Number 2. Sama kaya cerita pertama, ini juga genrenya slice of life. Ceritanya tentang anak perempuan berumur tujuh tahun, Azisa, yang didatangi oleh ayahnya. Azusa sangat senang berduaan dengan ayahnya. Kemudian pelan pelan diketahui bahwa, ayah Azusa sudah bercerai, dan hanya sekali sekali datang menemuinya. Makan es krim bareng, dan menjemur pakaian. Melihat hubungan ayah anak itu sungguh menghangatkan. Ada sedikit twist di cerita ini, yang sungguh tak mengenakkan hati. Ini gambar Azusa dan ayahnya.”

????

“Yak, itu adalah dua cerita favorit dalam komik ini. Yang enggak bosan buat dibaca, meski terus terang saja bikin perasaan jadi enggak enak. Jadi galau, begitu.”

“Gegana dong, Pak!” Mahmud sekonyong bicara.

“Apa itu gegana? Penjinak bom.”

“Bukan. Itu lho Pak, lirik lagunya Cita Citata, gegana, gelisah galau merana.” Disusul suara tawa seisi kelas.

“Bisa aja kamu.”

“Ada lagi yang namanya gegaruk, Pak Guru.” Kali ini Samsul yang berteriak.

“Apa itu, Sam?”

“Gegaruk, gelisah garuk garuk.”

Tawa kembali menggelegar.

“Sudah sudah. Tenang anak anak. Pak Guru akan melanjutkan. Selain dua cerita tadi, di komik ini juga ada cerita mengenai dua orang sahabat yang kembali bertemu pada pemakaman seseorang dari masa lalu mereka, kemudian ada cerita seorang kakak yang menghadiri pernikahan adiknya di sebuah desa. Kakak adik ini punya seorang ibu, yang berupa orang orangan sawah. Ceritanya agak sedikit berbau fantasi. Judulnya Dreaming Scarecrow. Cerita ini yang dibagi menjadi dua bagian.

Kemudian ada cerita seorang novelis dengan burung gagak. Dan yang terakhir, cerita yang paling sedikit dan rada enggak jelas, tentang keluh kesah seekor kucing rumahan. Dan baru kali ini saya menemukan gambar kucing, tapi enggak imut sama sekali.”

“Masa sih, Pak. Kucing kan selalu imut. Diam imut. Marah imut. Tidur imut. Bahkan, lagi boker juga imut.” Kata Vitra.

“Emang kucing lagi boker itu imut, Vit?” Rustam bertanya. Vitra mengangguk, “emang kamu enggak pernah lihat kucing boker?”

“Pernah sih, tapi aku enggak lihat mukanya.”

“Lah, emang kamu ngeliatin apanya?”

“Pantatnya.”

Vitra agak begidik mendengarnya, dan mulai hari itu ia tidak sama lagi memandang teman sekelasnya itu. Kemudian Pak Guru memperlihatkan halaman komik, sehingga mereka bisa menyaksikan kucing yang tidak imut itu seperti apa. Dan ternyata memang tidak imut, cenderung creepy.

“Dan, pada akhirnya komik The Wedding Eve ialah sebuah antologi komik dengan kisah kisah yang menghangatkan sekaligus menyedihkan, yang akan memberikan sebuah contoh bagaimana sebuah kasih sayang ternyata lebih besa daripada cinta. Betapa kasih sayang mampu mengalahkan segalanya. Mungkin bagi yang sering menonton film film Jepang, akan familiar dengan jenis cerita komik ini. Jadi, ada pertanyaan?”

Tapi tidak ada yang bertanya. Dan pelajaran hari itu pun selesai. Burung gereja sudah pergi dari dahan pohon. Hari sudah beranjak siang.

Judul: The Wedding Eve
Penulis: Hozumi
Penerbit: Level Comics
Jumlah Halaman:190
Rate:4

Misteri Patung Garam

misteriptnggaramMulanya saya tertarik dengan covernya yang cukup artsy, bisa dibilang minimalis tapi asik. Ditambah dengan dengan sinopsis di belakang buku, sudah lebih dari cukup buat saya memutuskan untuk membacanya. Novel pembunuhan ini unik, bahkan sepengetahuan saya belum pernah ada di khasanah pernovelan Indonesia, karena korbannya ditemukan telah menjadi patung garam, tubuhnya diolesi dengan garam sepenuhnya. Garam? Kenapa harus garam? Bukan kecap asin, Nutela, Firdaus Oil, atau yang lainnya?

Kemudian saya baca, dan kampret rebus, novel ini bagus. Akhirnya, terakhir kali saya baca novel thriller lokal yang bagus itu Katarsis nya Anastasia Aemilia. Meski berbeda tema, tapi Katarsis dan Misteri Patung Garam sama sama menghanyutkan.

Surabaya. Seorang pianis wanita ditemukan tewas di rumahnya, terduduk di depan piano, memakai gaun merah, senada dengan rambut palsu yang sengaja dipakaikan oleh pembunuhnya. Seluruh tubuhnya putih oleh lapisan garam. Sebuah simbol aneh tertulis di atas piano menggunakan garam.

“Dia mirip sekali patung.”

“Seluruh tubuhnya ditempeli dengan adonan garam dan tepung yang dicampur air hingga kalis.”

“Sepertinya adonan garam itu mengeras.”

“Tentu saja, sebab pembunuhnya memanggangnya di dalam oven.”

Kasus itu ditangani oleh Inspektur Kiri Lamari yang baru saja ditugaskan di Surabaya. Ia dibantu oleh Inspektur Saut. Inspektur Kiri Lamari dikenal sebagai polisi yang teliti, dan sudah memecahkan kasus yang gagal dipecahkan oleh polisi yang lain. Mereka berdua kemudian melakukan penyelidikan, sementara itu, si pembunuh pun mulai mencari mangsa yang lain. Korban korban berjatuhan. Semuanya berjenis kelamin perempuan dengan profesi yang berbeda beda. Sudah mapan secara finansial, dan dikenal sebagai perempuan baik baik. Mengapa mereka dibunuh? Siapa yang membunuh?

Inspektur Kiri Lamari dituntut untuk menyelesaikan masalah tersebut, dan juga masalah pribadinya dengan ayahnya yang berhubungan dengan kematian tidak wajar ibunya.

Fokus cerita buku ini memang kebanyakan ada di kisah Kiri Lamari, meski tokoh yang lain juga tak luput untuk diceritakan. Buku ini dibagi menjadi prolog, tiga puluh empat bab inti cerita, dan sebuah epilog. Awalnya saya merasa prolognya agak dipaksakan agar sesuai dengan judul, tapi setelah bukunya selesai dibaca, mungkin prolognya ingin sedikit memberi gambaran betapa sakitnya si pembunuh. Di prolognya tertulis, korban dihukum gara gara menyanyikan lirik sebuah lagu tidak sesuai dengan kemauan pembunuh. Lirik lagu milik Oasis, Don’t Look Back In Anger. Korban bersalah karena menyebutkan kata Sally, dan si pembunuh menginginkan Salty, bukan Sally. Padahal lirik yang benar ialah Sally. Tapi karena si pembunuh terobsesi dengan garam, diganti dengan Salty.

Secara keseluruhan, Misteri Patung Garam ialah sebuah thriller yang apik, tokoh tokoh yang cukup memorable dan menggelitik, terutama si Ireng, dan interaksinya dengan Kiri yang selalu membuat tersenyum, juga ada Inspektur polisi sangar yang hoby nonton Despicable Me, (pakai niruin ngomongnya minion pula :D), serta ahli forensik yang demennya dengerin K-pop. Salah satu kelebihan buku ini memang cukup lucu, bahkan ada bagian yang membuat saya tertawa ngakak. Meski itu tak banyak, which is good. Karena tidak sampai merusak ketegangan yang dibangun sejak awal.

Sayangnya, saya agak sedikit terganggu dengan epilognya. Apa buku ini akan dibikin sequelnya? Kalau iya, saya masih bisa memaklumi epilog tersebut, meski bukan hal yang baru. Tapi, kalau memang tidak akan dibikin sequel, mbok ya enggak usah dibikin epilognya. Buat apa? Memang twist, dan bikin orang penasaran, tapi terlalu tiba tiba dan merusak jalinan manis yang sudah ada sebelumnya. Tapi, semoga saja memang akan dibikin sequel.

Akhirnya, Ruwi Meita sudah berhasil membuat thriller lokal yang menegangnya, dibumbui dengan kisah cinta yang tidak berlebihan, humor yang menggelitik, serta interaksi antar tokoh yang natural dan berkesan. Ada beberapa bagian yang agak kepanjangan, misalnya cerita mengenai kisah segi tiga biru, serta epilognya yang menuntut sebuah jawaban, tapi overall, Misteri Patung Garam terlalu menarik untuk diabaikan. Kampret rebus.

Judul: Misteri Patung Garam
Penulis: Ruwi Meita
Penerbit: GagasMedia
Jumlah Halaman:276
Rate:3,9

Bastian dan Jamur Ajaib

jamur

Sayangnya, kelereng milik Aldi yang sudah ia kumpulkan harus ia simpan rapi di kaleng roti, karena tren permainan sedang mengalami perubahan. Teman temannya tak lagi menggemari gundu, dan beralih mengadu jangkrik. Jangkriknya pun spesial dan mereka harus mencari sendiri. Karena tidak sembarang jangkrik bisa tahan untuk diadu. Biasanya ada dua jenis yang sering dijadikan aduan, jangkrik jeliteng dan jelabang. Suatu hari Aldi menemukan jangkrik jeliteng. Ia lalu membawa jangkriknya untuk diadu dengan jangkrik temannya yang sudah berulang kali memenangkan pertandingan. Apakah jangkrik Aldi akan menang?

Sebenarnya pertanyaan itu masih kurang tepat, karena isi cerpen pertama yang diberi judul Ode Untuk Jangkrik ini tidak melulu bercerita mengenai jangkrik siapa yang menang atau kalah. Ini adalah kisah Aldi, yang sedang dibutakan oleh permainan adu jangkrik sehingga mengindahkan himbauan orang tuanya. Barangkali nasib yang menimpa Aldi adalah buah dari apa yang telah ia tanam. Cerpen ini, secara samar ingin mengingatkan bahwa mengadu jangkrik itu tidak baik. Secara luas juga dapat diartikan bahwa tidak hanya jangkrik, kita pun tidak boleh mengadu binatang. Ingat lagu Adu Domba milik Kak Rhoma, adu domba mengadu domba, perbuatan tercela.., atau lagu Ayam Jago punya Aida Saskia, ayam jago jangan diadu, kalau diadu jenggernya merah.

Lebih baik mengadu kepintaran atau ilmu kenuragan sahaja. Melalui Ode Untuk Jangkrik, Ratih Kumala berhasil membawa kembali permainan yang sempat menjadi hits di tahun 90an(atau 90an ke bawah) dengan baik, dan akan sedikit membawa nostalgia bagi siapa saja yang pernah mengalaminya.

Sayangnya, persahabatan Aida (bukan yang nyanyi dangdut tadi) dengan Nonik menimbulkan masalah. Aida dinterogasi oleh polisi perihal Nonik. “Sejak kapan kamu kenal Nonik?” tanya polisi. Aida pun menceritakan awal mula ia kenal dengan Nonik. Nonik menganggap Aida sebagai guardian angelnya, yang menjaga Nonik agar tidak kebablasan sewaktu sedang mabuk. Mengapa Aida diinterogasi polisi? Apa yang terjadi dengan Nonik? Melalui cerita Aida, pelan pelan semua akan terungkap. Sesuai judulnya, Nonik, cerpen ini berkisah tentang kehidupan Nonik melalui kacamata sahabatnya, Aida. Tentang nasib Nonik, mungkin mudah untuk ditebak, tapi yang menarik ialah alasannya dibalik semua kejadian itu.

 

Sayangnya, nasib telah menakdirkan Ah Kauw sebagai tukang gali kubur. Tapi bukan tukang gali kubur biasa, karena ia menggali kuburan yang ada isinya. Ah kaw menggali pemakaman, membongkar kuburan. Upahnya lumayan menguntungkan baginya. Apalagi terkadang ia juga mengambil barang perhiasan yang ikut terkubur jika kebetulan ia menggali kuburan orang Cina atau Belanda. Tapi pekerjaannya membuat hubungan dengan orang tuanya renggang. Dan ketika ia juga tak kunjung dikaruniai anak, ia dan istrinya pun berpikir ada yang tidak beres dengan pekerjaannya.

 

Sayangnya, cerpen yang menjadi judul buku ini, Bastian dan Jamur Ajaib, tidak seperti yang saya bayangkan. Ternyata bukan cerita dongeng, atau apa pun yang berbau fantasi, melainkan cerita tentang Bastian yang sedang patah hati, dan berkelana mencari pil lupa cinta. Cerpen ini terjadi pada masa ketika orang orang menganggap biasa pada sebuah pertanyaan; “Kamu jual pil lupa cinta?” Suatu hari seorang bartender member Bastian minuman yang berwarna kecoklatan atau abu abu, tak jelas karena lampunya remang remang.

“Apa ini” Jus eek?” tanya Bastian.

Ketika diminum, ternyata rasanya mengerikan. Tapi, tak lama setelah kejadian itu sesuatu yang aneh terjadi dengan Bastian. Ia bertemu dengan Raquel, perempuan yang dicintainya. Kemudian diketahui itu adalah efek dari jus eek yang ia minum. Jus itu rupanya berasal dari jamur. Bastian pun ketagihan, dan berusaha menemui seorang tabib yang punya persediaan jamur tersebut, tanpa Bastian ketahui bahwa itu bukanlah jalan yang baik.

Cerpen ini menjadi yang terakhir, dan sedikit kurang nendang kalau dijadikan sebagai penutup. Meski dari seluruh cerpen di buku ini, sebenarnya memang tidak ada yang benar benar nendang. Ceritanya biasa saja. Tak ada yang benar benar menonjol. Bukan berarti jelek, hanya saja terlalu biasa, tidak ada yang membekas begitu selesai membacanya. Buku ini terdiri dari tiga belas cerpen, beberapa sudah pernah terbit di koran. Sebagian besar bercerita mengenai ketidakbahagiaan dengan tema yang beragam, mulai dari penggali kubur sampai putri duyung. Dan, meski gagal untuk memberikan kesan yang mendalam Bastian dan Jamur Ajaib masih bisa dinikmati dengan lezat.

Judul: Bastian dan Jamur Ajaib
Penulis: Ratih Kumala
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman:130
Rate:2,5

 

Misteri Ratu Cinta

ratucinta

Seperti lagunya Rosa, kecantikan seorang wanita pasti akan pudar seiring dengan berlalunya waktu. Karena ada yang bilang, lelaki jatuh cinta dengan melihat, maka kecantikan menjadi krusial, apabila ingin mendapatkan lelaki pujaan. Oleh karena itulah, berbagai hal sering ditempuh agar wajah mereka terlihat cantik. Mulai berdandan secara sederhana, minum jamu, operasi plastik hingga memakai jalur klenik.

Jalur klenik inilah yang dipakai oleh Sukmarani.

Ia adalah seorang tabib yang menempuh cara yang tak lazim agar dirinya tetap awet muda, montok dan menggairahkan suaminya, Rusman. Ia tidak memakai susuk, melainkan menjalankan semacam ilmu hitam yang mengharuskannya bercinta dengan suaminya setiap hari selama ia tidak sedang berhalangan. Kenapa harus bercinta? Karena kalau harus begadang itu melelahkan, dan harus ada artinya, kata bang Roma. Tapi, tentu saja alasan sebenarnya ialah seperti apa yang dikatakan oleh Miranda.

“Sel sel kehidupan dalam spermamu yang memasuki tubuhnya. Itulah yang dimanfaatkan istrimu untuk melawan proses menuanya fisik yang muncul bersamaan dengan merambatnya waktu.”

Yang dijelaskan lebih detail oleh kakek kakek yang ditemui oleh Rusman:

“Karena unsur kehidupan dalam spermamu diambilnya sebagai penangkal proses menuanya tubuh. Sebaliknya, unsur unsur kehidupan dalam sel sel telur Sukmarani sendiri ia pancarkan ke dalam tubuhmu melalui kejantananmu. Itu akan menolongmu untuk tetap perkasa dan sanggup melayani istrimu di tempat tidur, meski tanpa ada hari yang terlewatkan… “

Itulah yang harus dilakukan oleh Sukmarani agar tetap awet mudah. Tapi, dalam waktu waktu tertentu masih ada ritual lain yang harus dilakukannya. Ritual yang melibatkan dupa dupa, lilin, dan darah ayam pelung.

Cerita bermula ketika Rusman kembali bertemu dengan Miranda, mantan kekasihnya yang telah ia campakkan begitu saja demi Sukmarani. Dari Miranda itulah, Rusman tahu kenyataan yang sebenarnya mengenai istrinya. Mulanya Rusman tidak percaya, tapi ketika kemudian terjadi hal hal yang persis seperti apa yang dikatakan oleh Miranda, Rusman pun mulai percaya. Rusman lalu diajak Miranda bertemu kakek kakek, yang ternyata adalah mantan suami Sukmarani sebelumnya, yang masih muda ketika dulu menikah dengan Sukmarani. Rusman pun menyadari bahwa istrinya ternyata sudah berusia sangat tua. Tidak tahu berapa pastinya. Bisa ratusan, bahkan lebih.

“Yang kau lihat itu Rusman,” menggema suara Miranda di telinga Rusman. “Adalah tubuh perempuan tua jompo. Perempuan yang pantas jadi nenekmu, bahkan mungkin juga nenek buyutmu!”

Rusman pun meminta bantuan agar ia terbebas dari permasalahannya itu.

Sementara itu, seorang wanita bernama Astuti dicegat oleh seseorang ketika akan pergi kuliah. Orang itu mengatakan bahwa Astuti harus ikut dengannya ke rumah sakit. Astuti pun menurutinya karena mengira kekasihnya, Hendra, kecelakaan. Tapi, ternyata ia dibawa oleh orang itu beserta dua orang temannya ke sebuah vila di puncak. Astuti, yang sedang hamil muda, disekap agar tidak mengganggu jalannya upacara pernikahan Hendra dengan istrinya. Hubungan Astuti dengan Hendra memang tidak direstui oleh kedua orang tua Hendra, yang menginginkan anaknya punya istri dari kalangan bangsawan.

Tapi penyekapan itu ternyata tidak berjalan sesuai dengan rencana semula. Bencana.

Dua kisah yang tampak tak punya hubungan itu kemudian terhubung dengan jalan yang tidak diduga duga. Mistis. Tapi tidak terkesan dipaksakan. Mengalir begitu saja. Keseruan yang sebenarnya pun dimulai. Abdullah Harahap membangun suspen dengan tidak terburu buru, tapi tetap terjaga hingga akhir, dan ditutup dengan ending yang cukup mengharukan, a bittersweet ending. Akhir yang menurut saya sempurna buat buku ini. Diantara buku Abdullah Harahap yang pernah saya baca, inilah ending yang paling saya suka.

Misteri Ratu Cinta dibagi penceritaanya menjadi dua bagian, dan untungnya perpindahan kisah tersebut dilakukan dengan begitu baik dan semakin membikin penasaran. Jadi tidak main asal putus saja. Meski secara keseluruhan tidak ada tokoh yang benar benar berkesan, tapi Abdullah Harahap menceritakan perubahan karakter tokoh Rusman dengan baik, meski tak terlalu banyak dikisahkan. Mengenai keraguannya kepada istrinya, ketakutannya, hingga rasa cinta yang ternyata masih tetap ada.

Seperti halnya novel Abdullah Harahap yang lain, Misteri Ratu Cinta juga terdapat pembunuhan secara mengerikan yang dilakukan oleh makhluk bukan manusia. Keuntungan pembunuhan oleh makhuk gaib ialah, tidak punya batasan imajinasi. Bisa dilakukan dengan cara apa pun akan tetap diterima. Dibuku ini, misalnya, ada tokoh yang dibunuh dengan dililit pagar kawat yang tiba tiba hidup seperti ular. Dan masih ada yang lebih mengerikan lagi.

Pada akhirnya Misteri Ratu Cinta tidak hanya memberikan sebuah kisah misteri, horror dengan aroma balas dendam, tapi juga berhasil menyelipkan sebuah kisah cinta yang tak biasa, manis tapi getir terasa.

Judul: Misteri Ratu Cinta
Penulis: Abdullah Harahap
Jumlah Halaman: 251
Penerbit: Paradoks
Rate: 3,75

Untunglah, Susunya

milk3

Untunglah, ayah di buku ini bukan Bang Toyib, jadi si adik dan kakak tak perlu menunggu hingga tiga kali lebaran tiga kali puasa sampai ayah mereka pulang dari membeli susu. Susu di rumah habis, dan makan sereal tak bisa tanpa susu. Si ayah pun pergi beli susu. Karena menunggu adalah pekerjaan yang membosankan, apalagi kalau lagi lapar, maka kepergian si ayah terasa lama sekali. Seperti halnya bertahun tahun, bahkan berabad abad. Padahal tidak selama itu. Jelas, masih lamaan Bang Toyib. Hingga si adik dan kakak berpikir untuk makan acar saja sebagai sarapan.

Untunglah, sebelum kedua anak tersebut benar benar makan acar, si ayah pulang. Ayah kemana saja, kok lama, begitu tanya si adik. Kemudian si ayah pun merasa perlu untuk menjelaskan. Daripada mengeluarkan alasan yang umum, misalnya:

  1. Oh, ayah tadi ketemu teman lama, terus ngobrol keterusan.
  2. Tadi si pemilik tokonya lagi pergi, jadi ayah terpaksa menunggu.
  3. Begini Nak, ayah lupa bawa uang, jadi ayah tadi nyuci piring, nyapu nyapu, sama nguras bak mandi dulu sebagai pengganti uang buat beli susu.

Si ayah malah bercerita seperti ini:

“Aku membeli susu,” kata Ayah. “Dan ya, aku menyapa Mister Ronson dari seberang jalan yang akan membeli Koran. Aku keluar dari took pojok, dan mendengar suara aneh seolah datang dari atasku, suaranya seperti: dhum… dhumm… Aku mendongak, dan kulihat piringan perak besar menggantung di atas jalan Marshal.”

Dengan kata lain, si ayah melihat UFO.

Untunglah, si kakak tidak langsung menuduh si ayah banyak alasan. Ia malah berkata bahwa hal itu belum aneh. Lalu si ayah pun melanjutkan ceritanya, yang tambah lama tambah aneh. Si ayah di angkat masuk ke dalam piring terbang yang ternyata berisi alien yang ingin menata ulang bumi. Sebelum disiksa oleh alien itu, si ayah keburu kabur lewat sebuah pintu aneh. Pintu itu ternyata kalau dibuku bisa mengacaukan ruang dan waktu. Dan dimulailah petualangan si ayah, yang setelah membuka pintu darurat itu malah kecebur ke laut di jaman bajak laut. Lalu di selamatkan oleh seorang professor dengan mesin waktunya. Profesor itu bernama Steg, dan ia seekor dinosaurus.

Untunglah, meski Neil Gaiman menceritakan petualangan si ayah dengan begitu absurd, dan tidak masuk akal, tapi  ceritanya sungguh fresh dan orisinil. Profesor dengan tubuh dinosaurus, alien yang hoby renovasi planet dengan mengganti semua tumbuhan dengan flamingo plastik, dan awan awan dengan lilin plastik, dan botol susu yang menyelamatkan alam semesta.

Untunglah, imajinasi seliar itu dilengkapi dengan ilustrasi yang hampir ada di setiap halaman. Dan ilustrasinya itu keren keren. Bisa melihat bagaimana bentuk Profesor Steg dan mesin waktunya, si ayah dan botol susunya, alien alien peñata lingkungan dan lainnya. Bukunya termasuk tipis, enggak perlu waktu lama untuk menyelesaikannya.

Untunglah, Susunya secara keseluruhan cukup menghibur, meski mungkin time paradoksnya agak membingungkan buat anak anak. Saya pribadi tidak terlalu suka, terlalu gurih rasanya. Ringan, tanpa ampas. Yang paling saya suka itu ilustrasinya, serta penempatan jenis dan ukuran font yang berbeda beda. Lebih enak dilihat. Yang masih mengganjal itu sebenarnya judul. Untunglah, Susunya. Semacam tidak enak buat diucapkan, seperti ada yang mengganjal dan tidak kompak. Seperti bait puisi Rako Prijanto; seperti berjelaga jika kusendiri. Entahlah.

Judul: Untunglah, Susunya
Penulis: Neil Gaiman
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman:128
Rate: 2,5

Jpeg

Spora

spora

Ketika akan membeli sebuah buku, biasanya ada pertimbangan tertentu. Bisa banyak, bisa juga sedikit. Apa lagi kalau buku itu ditulis oleh penulis baru yang kita tidak pernah kenal sebelumnya. Alasannya tentu bisa banyak. Bisa juga sedikit. Bisa karena design covernya yang menarik. Bisa karena sinopsis di belakang bukunya yang membuat penasaran. Bisa juga karena judulnya. Meski kemudian ketiga hal tersebut tidak menarik, ada yang tetap membeli buku tersebut. Bisa jadi beli buat ditimbun dulu, nunggu waktu yang tepat untuk dibaca, bisa jadi beli karena bisikan gaib, atau bisikan teman, atau bisik bisik tetangga, kini mulai terdengar slaluuu.

Dan alasan saya membeli Spora karangan Alkadri adalah semata mata karena design cover, sinopsis di sampul belakang, dan judulnya yang simple. Ada gambar orang yang setengah telungkup dan dari punggungnya muncul seperti cabang pohon, dengan spora beterbangan dari tubuhnya. Ada kurcaci yang menumpuk harta di gunung. Ada anak sekolah yang menemukan mayat di depan sekolahannya dengan kondisi yang mengenaskan. Dan, ada monster yang bangkit mengancam kehidupan manusia. Terdengar lezat bukan? So, apakah memang selezat yang saya bayangkan?

Ternyata tidak.
Awalnya berjalan dengan baik dan menarik, hingga kemudian saya menemukan satu hal yang barangkali sepele, tapi buat saya waktu itu cukup mengganggu. Yaitu tentang pemilihan kata. Terutama tentang reaksi seseorang ketika sedang menanggapi pembicaraan orang lain. Ada banyak pemilihan kata untuk menggambarkan reaksi orang ketika menerima informasi dari lawan bicaranya. Mengerutkan dahi, menatap tajam, menutup mulut dengan tangan, dan lain lain. Bahkan terdiam juga bisa dijadikan contoh. Tapi di buku ini, nyaris hanya ada satu reaksi; mengangkat alis. Seharusnya ini tidak menjadi masalah, tapi ketika ‘mengangkat alis’ terlalu sering digunakan, bahkan sampai dua kali di halaman yang sama, maka lama lama saya jadi ikut mengangkat alis juga. Untung saja cuma mengangkat alis, bukan mengangkat barbel seperti Agung Herkules.

Kalau itu terjadi hanya pada satu tokoh sih wajar, mungkin itu ciri khasnya dia, tapi itu digunakan di semua tokoh. Dan, waktu itu saya jadi punya ‘pekerjaan’ baru selain menebak nebak jalan cerita, yaitu menghitung kapan ‘mengangkat alis’nya muncul. Dan sampai halaman 40an, ada sekitar 11an. Tapi, untunglah kemudian kata itu jarang muncul lagi di pertengahan cerita.
Kemudian ada satu lagi yaitu ‘mengerling’. Memang sih penempatannya tidak salah, cuma agak kurang tepat. Mungkin hanya saya yang merasa seperti itu, tapi saya telanjur berpikir bahwa kata ‘mengerling’ biasanya dilakukan kepada lawan jenis untuk hal hal yang bersifat romantis.  Jadi ketika ada kalimat Alif mengerling kepada polisi, mengerling kepada Roy, jadi agak sedikit janggal. Kurang terbiasa, mungkin.

 Pada zaman dahulu, hiduplah seorang kurcaci.
Ia tinggal di sebuah gua di dalam gunung.
Gunung yang menjulang tinggi melampaui langit.
Tubuhnya kecil, rupanya buruk, dan perangai pun kasar.
Namun, sang kurcaci memiliki sesuatu.
Sesuatu yang  diinginkan oleh segenap manusia di kaki gunung.

Di suatu pagi, Alif menemukan sesosok mayat yang tergeletak di lapangan sekolahnya. Kepalanya pecah berkeping-keping. Sejak saat itulah, mimpi buruk alif dimulai. Satu persatu orang di sekitar Alif jatuh menjadi korban, mati dalam kondisi mengenaskan tanpa diketahui penyebabnya. Polisi mulai melakukan penyelidikan dan mencurigai keterlibatan Alif. Bersamaan dengan itu, masa lalu Alif yang kelam datang untuk menghantuinya kembali.

Monster itu telah bangkit,
Dan ia takkan berhenti membunuh hingga manusia terakhir mati.

Itu adalah tulisan yang ada di cover belakang. Oh, review saya selanjutnya agak berbau spoiler.
*/SPOILER START

Berdasarkan tulisan di cover belakang, saya mengharapkan porsi cerita kurcaci seimbang dengan kisah Alif, mungkin kurcaci itu pembunuhnya. Monster yang ingin menghabisi umat manusia. Ternyata, kisah kurcaci itu hanya selipan saja. Kisah kurcaci itu ditulis secara terpisah dengan halaman khusus berwarna hitam sebelum bab selanjutnya dimulai. Menarik memang, tapi menurut saya tidak harus dijadikan terpisah seperti itu, kalau nantinya kisah tersebut dikisahkan lagi melalui sebuah percakapan. Percakapan itu juga mengungkap hubungan kisah kurcaci dengan kisah Alif, yang ternyata cuma gitu aja.

Selain itu ada beberapa bagian yang membuat saya bertanya tanya. Pertama ialah sewaktu Alif bertemu dengan monster yang menyerupai bapaknya di rumah Alif. Sebelum monster itu datang, di kulkas ada notes dari ibunya yang member tahu bahwa ibunya sedang menjenguk teh Laras. Setelah monster pergi(Alif bangun), ibunya pulang dan berkata bahwa ia dari mini market. Siapa yang menulis notes di kulkas?
Ada beberapa kemungkinan.
1.    Si monster. Tapi si monster waktu itu hanya bisa hidup di kepala Alif waktu ia sedang tidak sadar.
2.    Ibunya Alif. Mungkin beliau memang menulis notes itu. Jadi sewaktu Alif tidur, ibunya pulang, dan pergi lagi ke mini market.
3.    Alif yang menulis, tapi entah kenapa ia jadi lupa. Mirip kasus di film Modus Anomali.

Kedua, yang membuat saya bingung, dari sekian banyak orang, mengapa tidak ada yang mencurigai ruangan sekeretariat KIR, tempat ditemukannya empat mayat, serta toilet di lantai 3 yang baunya menyengat. Padahal di halaman 8, dikatakan bahwa polisi akan memeriksa seisi sekolah selama 2,3 hari. Padahal hari senin mulai masuk sekolah, dan ada mayat di ruang KIR yang sudah 3 hari dan pasti bau. Polisi baru memeriksa ruangan KIR, setelah ada mayat lagi yang jatuh dari atap setelah pulang sekolah.

Kemudian, masalah sifat dari jamur itu sendiri. Mengapa korban ada yang naik ke atas atap setelah mengurung di toilet sementara empat anggota KIR mayatnya ditemukan tetap di ruangan KIR. Kalau ruangan itu dikunci, bukankah di malam yang sama Sujarwo masuk dan membuka pintu? Juga di hari Sabtu, ada 2 anggotanya yang masuk ke ruang tersebut?
Dan, jamur itu kok terkesan pintar sekali ya. Tahu semua konspirasi mengenai siapa yang membawa jamur itu dari Brazil. Darimana ia tahu semua informasi itu. Apakah ia menyerap informasi dari otak korban? Tapi, para korban tidak punya potensi untuk tahu sampai sedetail itu. Polisi yang jadi korban itu pun bukan polisi tingkat atas, yang menurut  saya tidak tahu menahu masalah itu. Apa jamur itu memang sejenis organisme yang punya intelegensia tinggi?

SPOILER END/*

Selanjutnya adalah ending. Spora punya ending yang tidak saya duga, twist. Biasanya saya suka ending yang seperti itu. Tapi, tidak untuk yang ini. Epilognya memang menceritakan siapa dalangnya, tapi semua muncul terlalu tiba tiba. Tidak ada clue sedikit pun. Biasanya, twist ending selalu punya remeh remeh kecil yang disebar di sepanjang cerita sehingga ketika twistnya keluar, orang akan terkejut,dan mungkin akan bilang; oh, ternyata yang tadi itu.. atau, ‘o, pantes si anu begini’.. tapi buku ini tidak demikian.
Bagian terakhir buku ini memunculkan satu tokoh yang punya peranan besar, tapi jarang diceritakan di  buku. Akibatnya, saya jadi tidak punya perasaan apa apa kebenaran itu terungkap, alias cukup tahu saja. Dan muncul pertanyaan lagi; apa alasan mereka mengambil jamur di Brazil? Apakah untuk membuat senjata biologis? Apakah murni alasan science? Yang jelas sih enggak mungkin ngambil jamur itu buat ditumis. Kalau buat ditumis sih enggak perlu lah jauh jauh ke Brazil, di pasar juga banyak.

Spora juga ditulis menggunakan bahasa yang agak kaku. Dialognya kadang menggunakan bahasa resmi, kadang bahasa sehari hari. Jadi terkesan tidak natural. Masih ada typo, dan penggunaan kata ganti orang yang berubah ubah. Dan, si Alif ini kok rasanya tidak pantas ya jadi tokoh utama. Menyebalkan. Saya jadi ingat salah satu adegan di film Prometheus, ketika ada scientist  bertemu alien yang mirip ular, terus mati dicaplok alien itu. Sama juga dengan Alif. Alif ini type orang keras kepala yang bikin celaka temannya.

Akhirnya, setelah membaca buku ini kesan pertama yang baik akhirnya jadi berantakan. Ada banyak kejanggalan yang saya temukan, di jalan cerita atau pun penulisan. Mungkin  waktu saya membaca ada yang terlewat. Tapi saya suka idenya. Saya jarang menemukan buku lokal yang punya premis seperti ini. Spora punya potensi untuk dikembangkan menjadi sebuah sequel. Dan seandainya memang akan ditulis kelanjutannya, semoga akan jadi lebih baik.

Judul: Spora
Penulis: Alkadri
Jumlah  halaman :238
Penerbit: Moka Media
Rate: 2

Her Sunny Side

sunny

Jadi gini, sebelum nulis review, gue mau cerita dulu ya. Kalau gue koprol dulu kan bisa mumet kepala. Apalagi koprolnya sambil ngerjain TTS. TTS pake sandi rumput pula. Rumputnya rumput gajah. Gajahnya gajah bengkak, dst.
Jadi begini ceritanya…
Basman menyelamatkan rusa dari kebakaran dan membawanya ke tempat yang aman. Si rusa mengucapkan terima kasih, dan meminta pertolongan lagi kepada Basman. “Minta tolong apa?” Tanya Basman.
“Begini, sebenarnya aku bukan rusa betulan. Aslinya aku adalah pangeran. Tapi aku akan berubah jadi pangeran lagi kalau ada yang menciumku. Jadi, kamu mau cium aku?”
“Enggak salah?” Tanya Basman, “biasanya gadis yang disuruh cium.”
“Untuk kasusku, tidak masalah laki laki atau gadis yang mencium. Sama khasiatnya.”
Tapi Basman langsung menolak.
“Kenapa, nanti aku kasih hadiah.”
Basman tetap menolak.
Si rusa terus berusaha. “Enggak pakai nafsu juga enggak apa apa kok.”
“Sialan. Yang nafsu sama kamu itu sapa!”
“Heuheuheuheu.”
“Jangan ketawa!!”
“Ah iya aku baru ingat,” kata si rusa tiba tiba, “ciumnya enggak di bibir kok. Di pantat juga boleh”
“Masa? Tapi, enggak di pantat juga kali”
“Iya, boleh dimana saja. Mau ya. nanti tak kasih hadiah banyak.”
Basman pun mencium si rusa, di keningnya. Dan, munculah asap tebal menyelubungi rusa itu. Basman mundur, dan menunggu dengan sabar sampai rusa kembali ke bentuk semula; menjadi pangeran.

Dua jam kemudian.
Asap itu masih belum hilang. Si rusa belum kelihatan. “Woi, rusa! Kapan kamu berubahnya!”
“Nunggu asapnya hilang dulu.” Teriak si Rusa.
“Kapan itu?”
“Yah, kira kira dua harian lah.”
“Eh, buset. Lama beut.” Basman keki, dan keluarlah sifat alaynya. “bisa jamuran nih aku nunggu.”
“Tidak apa apa. Kalau kamu jamuran, nanti aku sembuhkan.”
“Bukan jamuran seperti itu maksudku.” Basman mulai berpikir si rusa agak kurang daya pikirnya.
“Bukan jamur seperti itu?.” tanya si rusa.
“Bukan. Sama sekali bukan.”
Terjadi keheningan sebentar, dan si rusa bicara lagi. “Aku mengerti.”
“Mengerti apa?” Tanya Basman.
“Kamu akan bosan menungguku. Jadi lebih baik kamu pulang dulu ke rumah. Nanti balik lagi ke sini.”
Mendengar hal itu, Basman menarik kembali anggapannya mengenai daya pikir rusa.
Lalu Basman pamit pergi.
“Hati hati,” teriak si rusa, “salam buat istrimu.”
“Aku belum punya istri.”
“Oh, kalau gitu salam buat anakmu.”
Basman terhenti, apakah rusa ini benar benar bodoh? Tanyanya dalam hati.
“Heuheuheu, aku becanda..” Basman ikut tertawa. Tentu saja ia becanda, pikirnya. Kemudian si rusa berkata lagi, “maksudku aku nitip salam buat cucumu.”
Basman tidak menjawabnya. Pun ketika si rusa berteriak “hei, aku serius, salam buat cucumu ya!”

Dua hari kemudian, Basman kembali ke tempat itu. Asap telah hilang. Berarti si rusa telah berubah jadi pangeran. Basman mencari sosok pangeran itu. Basman melihat ada yang datang dari balik pohon, dan berkata kepada Basman. “Halo, kita bertemu lagi.”
Alis Basman tertarik ke atas. “Siapa kamu?”
“Aku si rusa. Sekarang aku sudah berubah.”
“Itu dusta.”
“Tidak. Aku si rusa yang kemarin kamu tolong.”
Basman menolak kenyataan itu. Di depannya berdiri sosok pangeran yang berbeda jauh dari bayangannya. “K-kemarin katanya kamu akan berubah jadi pangeran?”
“Iya, aku pangeran.”
“T-tapi kamu kan babi?”
“Lha iya, aku kan pangeran babi.”
Basman tak bisa berkata apa apa. Shock.

Maaf kalau ceritanya kepanjangan. Nanti ada terusannya kok. Jadi begini, kondisi Basman sama gue setelah membaca buku ini agak agak mirip. Bedanya, gue enggak ketemu rusa yang bisa ngomong. Bedanya gue enggak lagi di hutan. Persamaanya, sama sama ketemu hal yang tidak terduga, tapi kemudian bahagia. Memang cerita di atas, Basman belum terlihat bahagia, tapi nanti. Semua akan indah pada waktunya, begitu kira kira.
Yang gue maksud dengan ketemu hal yang tidak terduga yaitu gue lagi ngomogin cerita di buku Her Sunny Side. Mulanya memang agak datar, tapi menjelang ending, twistnya buat gue keren. Gue sama sekali enggak bisa nebak. Somehow gue jadi inget Haruki Murakami, sama Hayao Miyazaki.
Pokoknya endingnya sukses menjungkir balikan prediksi jalan cerita yang gue pikir bakal berakhir klise.

Kalau sudah jodoh, nanti bakal ketemu di pelaminan. Kalau enggak jadi pengantinnya, ya jadi tamunya  gitu ya. Ungkapan itu (kayaknya) cocok dengan kondisi Okuda Kosuke yang kembali bertemu dengan teman masa kecilnya, Watarai Mao. Pertemuan itu membuat Okuda Kosuke kembali mengenang ke masa dimana ia dan Mao pernah menjadi teman sekolah. Waktu itu, Kosuke sering membantu gadis itu dalam hal pelajaran, karena Mao tidak terlalu pintar. Tapi 10 tahun kemudian, setelah Kosuke bertemu lagi dengan Mao, gadis itu telah berubah. Keduanya lalu menjadi dekat, dan akhirnya memutuskan untuk menikah.

Tapi, ada sesuatu tentang Mao yang Kosuke tidak tahu. Rahasia Mao pun perlahan terungkap. Dan, kesungguhan cinta Kosuke pun diuji.

Buku yang punya judul asli, Hidamari no Kanojo ini tidak terlalu mengumbar konflik, bahkan cenderung biasa saja. Sebagian besar menceritakan keseharian pasangan baru itu. Mungkin bagi yang mengharapkan kisah yang mengharu biru bakal kecewa. Kisah cinta mereka dituturkan secara sederhana, ringan, dan manis. Buku ini juga sudah difilmkan dengan judul The Girl In The Sun, dimana Watarai Mao diperankan oleh Ueno Juri.

Pada akhirnya, hal yang paling menarik dari buku ini adalah endingnya. Koshigaya Osamu berhasil memberikan kisah cinta yang unik, sebuah slice of life dengan ending yang tiada duanya. Magical, menurut gue. Tapi, gue juga punya pemikiran kalau endingnya itu tergolong love and hate ending. Kalau suka ya bakal suka sekali, kalau enggak suka, bakalan protes; apa sih ini!

Dan yang terakhir, gue mau nerusin cerita Basman. Tinggal dikit.
Basman akhirnya menerima kenyataan, dan memilih pulang. Di perjalanan pulang ia bertemu dengan gadis berambut singa; rambutnya awut awutan mirip singa. Gadis itu menghampiri Basman.
“Kamu lihat rusa?”
Basman berhenti. “Rambutmu kenapa?”
“Aku tanya sekali lagi, kamu lihat rusa?”
“Aku juga tanya sekali lagi. Rambutmu kenapa?”
Gadis itu mendengus kesal. “Jawab dulu pertanyaanku!”
Basman enggak mau kalah. “Pertanyaanku dulu lah.”
“Aku dulu!”
“Aku dulu!”
“Aku dulu!”
“Aku dulu!”

Empat jam lima belas menit dua puluh detik kemudian.

“Aku capek,” kata gadis itu, “baiklah aku aku jawab pertanyaan kamu.”
“Iya, aku juga capek. Aku juga akan menjawab pertanyaan kamu.”
“Aku dulu yang jawab ya.”
“Aku dulu aja yang jawab.”
“Aku dulu!”
“Aku dulu!”
“Aku dulu!”
“Aku dulu!”

Tiga jam dua puluh sembilan menit empat puluh detik kemudian, gadis itu yang pertama menjawab setelah keduanya melakukan suit. Dan, satu jam kemudian mereka mulai akrab. Dan bertahun tahun kemudian mereka tetap bersama sama, setelah gadis itu mengajak Basman untuk bergabung menjadi agen rahasia AAB Corp. Nama gadis itu Jingga.

Judul: Her Sunny Side
Penulis: Koshigaya Osamu
Penerbit: Haru
Tebal: 224 hlm
Rate: 3,75