Arrival (2016)

arrivalposter

Apa jadinya kalau tiba tiba ada pesawat alien berbentuk cobek raksasa yang parkir tak jauh dari tempat tinggalmu? Mungkin kamu akan segera memberitahu bapakmu, ibumu, kakakmu, adikmu bahkan kucingmu, berbarengan dengan postinganmu di media social setelah terlebih dahulu mengambil gambar pesawat itu. Kemudian jadi rame. Semua orang tahu. Dan kemudian semuanya pun kompak bertanya; mau apa itu pesawat alien kemarih?

Pertanyaan itu hanya bisa dijawab dengan tepat oleh alien yang bersangkutan. Sementara manusia dan hewan hewan hanya bisa menduga duga sahaja. Untuk bisa mengetahui jawaban tersebut, tentu harus bertanya langsung dengan aliennya. Inilah yang terjadi di film Arrival, dan yang mewakili pemerintah Amerika untuk ‘bicara’ dengan tamu tak diundang itu ialah seorang pakar bahasa bernama Louise Banks (Amy Adams) dan Ian Donelly (Jeremy Reiner), seorang ilmuwan. Mereka berdua, berserta beberapa orang dari pemerintah mendatangi cobek raksasa tersebut. Pesawat itu memang mirip cobek. Meski dengan bentuk lebih lonjong memanjang, dan warnanya sama hitam. Buat yang tidak tahu apa itu cobek, cobek ialah untuk alat membuat sambal bersama dengan pasangannya, ulekan. Ketika membuat sambail, cabai yang akan ditumbuk ditempatkan di sebuah wadah terbuat dari batu berwarna hitam. Itulah cobek. Jangan ketukar sama cebok lho ya. Kalau cebok, itu waktu kamu kebanyakan makan sambal setan terus mules mules di kamar mandi, udahannya harus cebok. Ceboknya pakai apa, enggak usah dibahas kali ya. Ceboknya sama siapa, ini juga enggak usah dibahass.

Jadi, dua orang ahli itu kemudian berhasil bertemu dengan alien tersebut setelah masuk ke dalam pesawat yan ternyata membuka secara otomatis setiap 18 jam. Alien tersebut bentuknya seperti cumi cumi raksasa, dimana tentakelnya bisa mengeluarkan semacam ‘tinta’ yang akan membentuk sebuah gambar berbentuk lingkaran yang diyakini sebagai bahasa alien. Louise dan Ian kemudian membawa huruf huruf tersebut untuk cari tahu artinya, dan bagaimana cara bekerjanya. Sementara itu tekanan datang dari pemerintah, yang ingin segera mengetahui apa maksud alien tersebut datang karena negara negara lain yang juga kedatangan pesawat serupa sedang berusaha menyerang pesawat alien tersebut.

Arrival berbeda dengan film film alien seperti Independece Day, Aliens, Prometheus yang lebih ke ranah action. Arrival cenderung ke drama. Mengenai bagaimana caranya menerjemahkan huruf huruf alien agar bisa berkomunikasi dengan benar. Dan juga bagaimana proses penerjemahan itu yang berpengaruh besar terhadap kehidupan Louise. Kehidupan Louise inilah yang sebenarnya menjadi inti dari film ini. Potongan potongan kenangan yang terus menghantui pikirannya, pelan pelan akan terkuak pada akhir film menyisakan sebuah gambaran yang sama sekali berbeda dengan apa yang telah saya pikirkan. Twist yang  tidak hanya mengejutkan, tapi sekaligus membuat film ini menjadi sebuah sajian sci-fi yang tidak hanya menegangkan, tapi juga mengharukan.

Ketegangan yang dimaksud lebih ke atmosfernya yang haunting. Maksudnya seperti lagi jalan di sebuah gang sepi waktu malam malam sendirian, lalu ada suara burung hantu. Rasa menakutkan yang tidak membuatmu terlonjak, melainkan memakunya di kursi, dengan bulu kuduk meremang sedikit. Sedikit saja. Ketegangan ini dihasilkan dari iringan scoring yang efektif sekali menciptakan suasana menghantui, ditambah dengan design pesawat yang memang sangat unik. Ya, ketegangan ini memang salah satunya terjadi manakala sedang memasuki badan pesawat alien tersebut.

Sementara rasa haru baru bisa dirasakan setelah film ini habis. Setelah semua kepingan kepingan tersusun sempurna. Karena memang Arrival bukan film yang disajikan seutuhnya sekaligus, harus disusun perlahan lahan sehingga harus menunggu sampai film benar benar berakhir untuk bisa tahu apa yang sebenarnya ingin disampaikan.

Arrival merupakan persembahan pertama Dennis Villeneuve di tahun ini, sebelum Blade Runner 2049 tayang. Dan, seperti sebelumnya, Arrival pun lebih dari cukup untuk memuaskan saya. Memang tidak semindfuck Enemy, tapi Arrival punya cerita yang lebih kompleks dan debatable ketimbang filmnya yang lain. Intinya, bagi kamu kamu yang mencari film action, atau film dengan jalan cerita yang lurus lurus saja, lebih baik tidak menonton film ini. Arrival dianjurkan untuk mereka yang menggemari drama, dan tentunya fans dari Dennis Villeneuve  yang sudah menunggu nunggu filmnya.

Akhirnya, Arrival memang berbeda dengan film film alien yang lainnya. Mulai dari design aliennya yang merupakan gabungan antara hewan cumi cumi, laba laba, gajah dan ikan paus. Silahkan bayangkan sendiri, atau berdua juga boleh. Bentuk kapalnya yang terlihat kuno, dan sederhana, nyaris tanpa interior selayaknya kapal ruang angkasa. Cara manusia memasuki kapal itu juga belum pernah saya lihat di film alien sebelumnya. So, angkat topi buat pak sutradara yang berhasil mengadaptasi cerita pendek karangan Ted Chiang yang berjudul The Story Of Your Life dengan baik sekali.

Rate 4.5

Advertisements

Magi Perempuan dan Malam Kunang Kunang

magiperempuan_malamkunang

Tentang pagar ini bisa bergerak dan memanjangkan sulur sulurnya, sudah pula kami dengar. Banyak kawan sepengajian mengurai cerita yang sama. Liman, misalnya, dia pernah bercerita saat berjalan sepulang dari masjid, tiba tiba ada sesuatu yang melilit kakinya. Liman tersentak, jatuh tengkurap mencium tanah. – Peri Kunang Kunang.

Magi Perempuan dan Malam Kunang Kunang dibuka oleh sebuah cerita berlandaskan rasa penasaran. Rasa penasaran yang menuntun empat orang anak muda ke dalam sebuah malam yang mencekam, dimana mereka ingin membuktikan dengan kepala sendiri cerita mengenai adanya peri kunang kunang, kekasih bujang lapuk yang tinggal di rumah terpencil yang menakutkan. cerita pertama ini berjudul Peri Kunang Kunang. Sedikit mengingatkan saya dengan penyihir di dongeng Hansel & Gretel, tapi kemudian kemiripan itu luntur sesampainya di akhir cerita.

 

Sejak gadis gadis memiliki cermin dalam bilik, mereka selalu mengajukan pertanyaan yang sama: “Cermin ajaib, siapa gadis tercantik di dunia?” Dan jawaban yang mereka terima pun sama: “Ratu Revenna-lah yang tercantik.” – Gadis Buruk Rupa dalam Cermin.

Kecantikan ada dua. Kecantikan dari dalam, dan dari luar. Tapi kebanyakan orang lebih mementingkan kecantikan dari luar. Kecantikan wajah. Bukan kecantikan hati. Ini tentu bertentangan dengan lagunya Cherybelle; kamu cantik cantik dari hatimuuu…”

Tapi tentu kita tidak menyalahkan mereka yang ingin wajahnya cantik. Karena memang sudah sewajarnya wanita berusaha agar wajahnya cantik. Karena kebanyakan orang melihat dengan mata kepala, bukan dengan mata hati.

Wajah yang cantik itu juga menjadi impian Revenna, jauh sebelum ia menjadi Ratu. Mulanya ia punya wajah yang buruk rupa menyerupai nenek sihir meski ia baru berusia 17 tahun. Tak ada yang menyukainya. Bahkan orang tuanya sendiri akhirnya memutuskan untuk membuang Revenna di hutan agar ia mati dimangsa hewan buas atau menjadi budak setan penunggu hutan. Tapi nasib berkata lain. Revenna tidak mati. Ia malah mendapatkan apa yang selama ini ia inginkan; kecantikan. Tidak hanya kecantikan, ia juga diberikan kekuasaan. Bagaimana hal itu bisa terjadi?

Cerita Gadis Buruk Rupa dalam Cermin menjadi semacam kisah alternative dari dongeng terkenal Putri Salju, lengkap dengan pertanyaan legendarisnya; “Cermin ajaib, siapa gadis tercantik di dunia?” yang oleh Guntur Alam dipelintir sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah kisah yang kelam dan jahat. Sangat kontras dengan cerita origin Putri Salju.

 

Almah, gadis bisu berusia delapan belas tahun itu melahirkan seorang anak laki laki. Ya Salam! Tentu saja ini menggemparkan, pasalnya dia tidak kelihatan bunting dan tidak pula bersuami. Nah, nah siapa pula yang sudah menghujamkan alu di lesung keramat gadis itu? – Almah Melahirkan Nabi.

Almah Melahirkan Nabi menjadi cerita yang paling ringan. Sepanjang cerita, kita diajak untuk menebak, mencari tahu siapa sebenarnya yang telah membuat hamil Almah melalui cerita enam orang yang ditengarai tahu siapa ayah jabang bayi, bahkan diduga salah satu enam orang tersebutlah yang menjadi biang keladinya. Cerita enam orang itu dibagi menjadi bab tersendiri; Kesaksian Amsal, Cerita Laki Laki yang ditinggal Istri ke Arab, Pengakuan Laki Laki Pendiam, Cerita versi Behula, Kisah Cinta Bujang Lapuk, dan Nubuat Emak Yesaya. Lalu siapakah yang menghamili Almah? Apakah ia benar benar telah melahirkan Nabi? Membaca judulnya, saya pikir ini akan menjadi cerita yang religious, tapi ternyata tidak seperti itu. Ini adalah keruwetan yang ditimbulkan karena kelahiran mendadak si anak gadis, dengan ending yang menyebalkan.

Magi Perempuan dan Malam Kunang Kunang berisi dua puluh dua cerita pendek, yang kebanyakan bukan sebuah cerita yang menyenangkan. Dongeng dongeng yang kembali diceritakan dengan lebih mengerikan, urban legend yang mencekam, cinta yang terlarang dan menyakitkan serta dendam yang membara. Buku ini ditulis dengan nyastra, tapi masih bisa dibaca dengan nyaman. Cerita di buku ini mengingatkan saya dengan Kumpulan Budak Setan (Ada salah satu cerita yang didedikasikan untuk Intan Paramaditha), serta bukunya Poppy D Chusfani; Orang Orang Tanah. Buat yang menyukai kedua buku tersebut, barangkali perlu mencoba buku ini.

Overall, Magi Perempuan dan Malam Kunang Kunang ialah sebuah tempat singgah bagi siapa pun yang menyukai cerita gothic, dark fantasi, urban legend, dan semacamnya. Ditulis dengan bahasa yang memikat, seperti halnya membaca tulisan Eka Kurniawan atau pun A.S Laksana, tapi dengan kadar humor yang nyaris tak ada.

 

Judul: Magi Perempuan dan Malam Kunang Kunang
Penulis: Guntur Alam
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 176
Rate: 4/5

Rahasia Lantai Keempat

Jpeg

Bagi gedung yang berlantai tiga, keberadaan lantai keempat tentu akan mengundang pertanyaan, meski tidak sedang hajatan. Padahal kalau pun lagi hajatan, pertanyaan juga belum tentu bakal diundang juga, karena diutamakan mengundang handai taulan dan teman teman, dan juga mantan dong. Pertanyaan yang datang itu bisa berupa;

  1. Lantai empat dari mana, lha wong cuma lantai tiga gitu? Sampeyan ngelindur? Nyari nyari perhatian!
  2. Yang mana sih, ga ada gitu lho. Kamu jangan bohong dong. Nonton aja yuk?
  3. Hmm, jadi di gedung ini ada lantai empat? Lantai lima ada juga ga? Kalau ada, saya mau tuh pesen. Buat cucu di rumah.
  4. Dan pertanyaan yang lainnya. Sila isi sendiri.

Begitulah, lantai empat mustahil ada di sebuah gedung yang sejatinya hanya punya tiga lantai. Tapi, kita juga harus ingat, tidak selamanya yang tidak bisa dilihat oleh mata itu memang benar benar tidak ada. Siapa tahu memang ada, hanya saja kita tidak bisa lihat saja. Atau barang kali karena tidak tahu caranya. Apalagi kalau cerita lantai keempat itu dibumbui dengan cerita fantastis; bahwa di lantai empat itu ada sesosok penunggu yang bisa mengabulkan permintaan apa pun. Lebih simple, ketimbang harus mengumpulkan bola bola naga.

Meski demikian, ada saja orang orang yang percaya bahwa lantai keempat itu ada. Atau setidaknya penasaran, ingin membuktikan keberadaan mitos tersebut. Adalah Fara, yang tak sengaja menemukan sebuah catatan tentang bagaimana caranya pergi ke lantai empat, ketika sedang berada di perpustakaan sekolah bersama temannya, Nikki. Nikki yang kebetulan sedang mencari ide untuk artikel buat mading sekolah mengusulkan untuk pergi ke lantai empat. Ia akan menulis mengenai urban legend di sekolahnya tersebut, siapa tahu bisa sekaligus mengusut cerita mengenai hantu Maria, hantu penunggu sekolah yang ceritanya meninggal bunuh diri.

Setelah mengajak dua temannya, Randy dan Neil, mereka berempat memutuskan untuk pergi ke lantai empat menggunakan panduan dari catatan yang baru saja mereka temukan. Dan, ketika mereka akhirnya benar benar sampai di lantai keempat, mereka pun menemui kenyataan yang mengerikan, yang mengancam nyawa mereka.

Rahasia Lantai Keempat tidak perlu lama lama untuk memulai konfliknya, yang tambah lama tambah seru. Bagaimana keempat orang itu berusaha untuk keluar dari lantai empat, dan harus berhadapan dengan makhluk makhluk penghuninya. Ditambah dengan ilustrasi yang didominasi warna hitam, yang cukup berhasil menggambarkan suasana di sana. Dan, drama yang terjadi di antara mereka juga pas, tidak merusak tone yang ada. Tokoh tokohnya juga tergambar dengan baik. Masing masing mampu memberikan warnanya tersendiri. Begitu pula dengan tokoh hantu hantunya, yang cukup berkarakter. Bahkan tokoh yang paling memorable di buku ini bukan keempat tokoh utama, melainkan sosok hantu yang memburu mereka, dengan bunyi krincing krincing nya.

Krincing… krincing…

Bunyi gemerincing itu menggantikan suara tawanya. Meski terdengar jauh, bunyi itu jelas. Sosok itu melirik ke atas dengan bola mata yang nyaris keluar dari rongganya, lalu menyeringai lebar hingga mulutnya hampir membelah wajah itu menjadi dua.

“Kalian sudah membangunkan dia.”

Overall, Rettania sudah berhasil membuat sebuah cerita horror yang tak juga menarik, tapi berkesan. Rahasia Lantai Keempat mampu memberikan ketegangan secara konsisten, tanpa detail detail yang tak perlu. Dan ditutup dengan ending yang mirip mirip ending film film masa kini. Ngomongin film, buku ini juga saya rasa cukup cinematic untuk dituangkan dalam layar lebar. Saya membayangkan hantu krincing krincing itu mirip dormentor dengan tubuh yang lebih gendut, tapi lebih menyeramkan.

Judul: Rahasia Lantai Keempat
Penulis: Rettania
Penerbit: Bukune
Jumlah halaman: 153
Rate: 4/5

Just So Stories

Jpeg

Apa kamu tahu mengapa gajah hidungnya panjang? Ceritanya begini. Pada suatu waktu, hiduplah seorang laki laki yang miskin. Ayah ibunya miskin. Istri pertamanya miskin. Istri keduanya ikut ikutan miskin. Anak laki laki itu punya asisten pribadi yang juga miskin. Ia juga punya tukang kebun, yang juga ikut ikutan miskin. Pokoknya semuanya miskin. Suatu hari, laki laki itu pergi ke gunung mencari batu akik. Di tengah perjalanan, kebetulan ia bertemu dengan seekor gajah. Lalu laki laki itu bertanya kepada gajah mengapa hidungnya begitu panjang. Si gajah pun menjawab sambil tersenyum; sudah dari sananya, Dik. Sejak saat itu, laki laki itu pun tahu alasannya mengapa si gajah hidungnya panjang.

Begitulah ceritanya, mengapa gajah hidungnya panjang. Ternyata sudah dari sananya. Heuheuheu. Tapi kalau kamu tidak puas dengan cerita ini, kamu bisa menemukan cerita yang lainnya. Carilah cerpen dengan judul Kisah Si Anak Gajah.

Sudah pernah lihat unta? Apa kamu ingin tahu dari mana unta mendapatkan punuknya? Jaman dulu kala, punggung unta masih mulus dan rata. Suatu hari seekor unta sedang berjalan di pasang pasir. Tiba tiba ia menemukan botol kecap. Si unta yang suka main bola kemudian menendang botol kecap itu hingga pecah. Lalu dari botol kecap itu keluarlah putri yang cantik. “Oh kuda yang baik, terima kasih sudah menolong aku”, kata si putri. “Saya bukan kuda, tapi unta,” jawab si unta meralat.

Tapi putri itu keukeuh bilang bahwa itu kuda. Mungkin kelamaan di dalam botol kecap membuat otaknya sedikit kongslet. “Kamu itu kuda, bukan unta!”

“Saya unta keles.” Unta juga ikut ngotot.

“Kamu tuh kuda, kamu tuh enggak ada bedanya sama kuda, tahu!”

Demi menuntaskan perdebatan, si unta kemudia berusaha agar ia beda dengan kuda. Si unta mengepalkan dua kaki depannya, merapal ilmu kanuragan yang baru saja ia pelajari. Dan, pluk! Dari punggungnya muncullah tonjolan dua biji. Dengan peluh membasahi dahi, unta berkata kepada putri; “lihat, aku sudah beda kan dengan kuda?”

Si putri mengangguk, kemudian pamit pulang. Si unta kemudian ingin mengembalikan punggungnya seperti semula. Tapi tidak bisa. Karena tekniknya ternyata berbeda. Sejak itulah unta punya punuk di punggungnya. Begitulah ceritanya, darimana unta mendapatkan punuknya. Tapi kalau kamu masih menginginkan kisah yang lain, kamu bisa membacanya di cerpen Bagaimana Unta Mendapatkan Punuknya.

Apa kamu juga ingin tahu kenapa ikan paus tidak memakan manusia? Kisahnya bergulir sewaktu ikan paus masih hidup di darat. Suatu hari, seekor ikan paus melihat ada pesawat jatuh di hutan. Semua orang tewas, kecuali bayi perempuan. Merasa iba, si ikan paus lalu merawat bayi itu. Bayi itu diberi nama Tarsanda. Bertahun tahun kemudian, ikan paus memutuskan hidup di laut. Perpisahan pun terjadi. “Selamat tinggal, paus. Paus teman Tarsanda.”,kata Tarsanda. Itulah sebabnya mengapa paus kemudian tidak memakan manusia. Karena manusia mengingatkannya kepada si Tarsanda. “Tarsanda teman paus. Paus teman Tarsanda.”

Begitulah ceritanya. Paus tidak memakan manusia karena mereka berteman. Teman seharusnya tidak makan teman. Betul tidak? Tapi, kalau kamu ingin versi yang lain dari cerita paus, kamu bisa membaca cerpen Kenapa Paus Tidak Bisa Memakan Manusia. Ada di urutan pertama buku kumpulan cerpen Just So Stories karangan Rudyard Kipling.

Just So Stories, atau Sekadar Cerita memang kumpulan dongeng yang berusia sangat tua, ditulis oleh penulis yang juga menulis The Jungle Book. Kisah kisah di buku ini mengambil tema tema yang barangkali tidak terpikirkan oleh kita. Misalnya saja mengapa gajah hidungnya panjang, mengapa ikan paus tidak makan manusia, awal mula unta mendapatkan punuknya, bahkan ada sejarah lahirnya huruf huruf alphabet. Total ada dua belas cerpen. Sebagian besar tema ceritanya memang berkisar mengenai awal mula, kejadian kejadian yang menimpa hewan hewan sehingga mereka berperilaku atau berpenampilan seperti sekarang.

Buku ini mengingatkan saya pada dongeng dongeng lokal, semacam Kancil Nyolong Timun, Bawang Merah Bawang Putih. Oleh karena ini Just So Stories cocok sebagai bacaan untuk adik atau pun keponakan. Ditambah dengan adanya ilustrasi ilistrasi yang menarik di setiap cerita. Salah satu kelebihan buku ini adalah karena ilustrasinya yang sangat nyeni, tidak seperti ilustrasi buat anak anak, tapi tetap seperti ilustrasi anak anak. *hammer*

Jpeg

Kenapa Paus Tidak Bisa Memakan Manusia

Overall, karena ini dongeng, maka banyak hal hal yang tak masuk akal yang terjadi, seolah olah hanya untuk mencocok cocokan supaya hasil akhirnya sesuai dengan cerita. Meski demikian, ada juga cerita yang rasanya dipikirkan dengan masak masak, yaitu cerpen tentang bagaimana huruf alphabet itu di buat. Mengapa huruf A bentuknya seperti itu, huruf B, dan seterusnya. Just So Stories, ialah buku yang harus kamu ambil, seandainya kamu ingin membacakan dongeng untuk adik kecilmu dan kamu sudah tak tahu lagi harus mendongengkan apa. Masa kamu tega mendongengkan kisah cintamu yang menyedihkan itu sama adikmu itu sih?
Judul: Just So Stories
Penulis: Rudyard Kipling
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 158
Rate:3,5

The Wedding Eve

????“Apa yang lebih besar dari cinta?”

“Hih, pagi pagi kok ngomongin cinta.” Celetuk Roy sambil menatap jendela kelas. Burung gereja hinggap di dahan pohon. Cahaya pagi menyinari ruang kelas dari lubang angin. “Iya, pagi pagi kok ngomongin cinta.” Sinta ikut ikutan bicara. Santi yang duduk di sampingnya menganggukkan kepala, sambil mengusap dagunya. Ikut setuju.

“Memangnya kenapa kalau pagi pagi ngomongin cinta?” Tanya Pak Guru sambil tersenyum, sebelum melanjutkan; “ah saya tahu, kalian pasti lagi jomblo ya, jadi malas ngomongin cinta.”

“Hih, kaya Pak Guru punya pacar saja.”

“Saya sudah punya pacar kok.” Jawab Pak Guru kalem. Seisi kelas mendadak heboh. Pak Guru punya pacar. Luar biasa.

“Eleh eleh, Munah enggak nyangka euy. Siapa namanya Pak?” Tanya Munah dengan mata berbinar.

Pak Guru terbatuk. “Itu, juga saya belum tahu.”

“Loh, maksudnya gimana Pak Guru. Kok enggak tahu namanya.”

Pak Guru menjawab dengan malu malu. “Soalnya masih dititipin sama Tuhan.”

Eeeehhhh!!!!!!!!!!

“Pak Guru delusional ih!” Kata Kenes sambil menahan tawa.

“Itu namanya oportunis, Kenes. Law of attraction, gitu. Sudah sudah, kenapa jadi ngomongin pacar sih.”

Pak Guru mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah komik.

“Jadi, saya akan mengulang pertanyaan tadi, dan dilarang protes. Apa yang lebih besar dari cinta? Mengapa saya menanyakan pertanyaan itu. Karena komik ini. The Wedding Eve. Komik yang akan kita bahas pada pertemuan kali ini.”

Pak Guru mengangkat komik itu dan mengitari kelas sehingga seluruh murid bisa melihat dengan jelas. “Sudah ada yang tahu, apa yang lebih besar dari cinta?”

“Saya tahu!” Glenda mengangkat tangan.

“Apa jawabannya, Glenda?”

“Kasih sayang, Pak Guru.”

“Betul sekali, Glenda. Kamu benar. Bapak bangga menjadi guru kamu.”

“Itu mah pertanyaan gampang, Pak Guru. Nenek nenek juga tahu.”

“Bohong kamu, Glenda. Nenek saya enggak bakal tahu begituan. Kalau nanya Jodha Akbar, baru tahu.”

Protes Firas. Glenda cuma senyum senyum cemberut. Tidak ingin mendebat.

“Ya sudah, Pak Guru akan mulai membahasnya. The Wedding Eve ialah antologi komik yang dikarang oleh Hozumi. Di dalamnya berisi enam cerita, ada satu cerita yang dijadikan dua part. Meski komik ini berjudul malam pernikahan, tapi tema tiap komik tidak melulu tentang malam pernikahan. Cerita pertama punya judul sama dengan komik ini, The Wedding Eve. Ceritanya simple, tentang malam terakhir seorang adik dan kakak perempuannya yang akan menikah keesokan harinya.

Tidak ada twist, atau hal hal yang menegangkan. Isinya hanya keseharian kakak beradik tersebut. Mulai dari mencoba baju pengantin, sampai makan malam berdua. Tapi, hal yang sederhana itu sudah cukup untuk memberikan kisah yang menyentuh hati. Ditutup dengan ending yang mengharukan. Ternyata malam pengantin punya momen sedihnya sendiri, ketika malam itu menjadi malam terakhir bagi kita untuk bersama dengan keluarga, karena keesokan harinya sudah tidak sama lagi. Tapi tentu saja, itu kesedihan yang melegakan, yang harus terjadi, untuk menuju pada kebahagian yang lain.”

Pak Guru membuka halaman komik, dan menunjukan pada seisi kelas.

????

“Cerita kedua tidak lagi bercerita tentang malam pernikahan, tapi tentang hubungan ayah dan anak, judulnya Reunion At Azusa Number 2. Sama kaya cerita pertama, ini juga genrenya slice of life. Ceritanya tentang anak perempuan berumur tujuh tahun, Azisa, yang didatangi oleh ayahnya. Azusa sangat senang berduaan dengan ayahnya. Kemudian pelan pelan diketahui bahwa, ayah Azusa sudah bercerai, dan hanya sekali sekali datang menemuinya. Makan es krim bareng, dan menjemur pakaian. Melihat hubungan ayah anak itu sungguh menghangatkan. Ada sedikit twist di cerita ini, yang sungguh tak mengenakkan hati. Ini gambar Azusa dan ayahnya.”

????

“Yak, itu adalah dua cerita favorit dalam komik ini. Yang enggak bosan buat dibaca, meski terus terang saja bikin perasaan jadi enggak enak. Jadi galau, begitu.”

“Gegana dong, Pak!” Mahmud sekonyong bicara.

“Apa itu gegana? Penjinak bom.”

“Bukan. Itu lho Pak, lirik lagunya Cita Citata, gegana, gelisah galau merana.” Disusul suara tawa seisi kelas.

“Bisa aja kamu.”

“Ada lagi yang namanya gegaruk, Pak Guru.” Kali ini Samsul yang berteriak.

“Apa itu, Sam?”

“Gegaruk, gelisah garuk garuk.”

Tawa kembali menggelegar.

“Sudah sudah. Tenang anak anak. Pak Guru akan melanjutkan. Selain dua cerita tadi, di komik ini juga ada cerita mengenai dua orang sahabat yang kembali bertemu pada pemakaman seseorang dari masa lalu mereka, kemudian ada cerita seorang kakak yang menghadiri pernikahan adiknya di sebuah desa. Kakak adik ini punya seorang ibu, yang berupa orang orangan sawah. Ceritanya agak sedikit berbau fantasi. Judulnya Dreaming Scarecrow. Cerita ini yang dibagi menjadi dua bagian.

Kemudian ada cerita seorang novelis dengan burung gagak. Dan yang terakhir, cerita yang paling sedikit dan rada enggak jelas, tentang keluh kesah seekor kucing rumahan. Dan baru kali ini saya menemukan gambar kucing, tapi enggak imut sama sekali.”

“Masa sih, Pak. Kucing kan selalu imut. Diam imut. Marah imut. Tidur imut. Bahkan, lagi boker juga imut.” Kata Vitra.

“Emang kucing lagi boker itu imut, Vit?” Rustam bertanya. Vitra mengangguk, “emang kamu enggak pernah lihat kucing boker?”

“Pernah sih, tapi aku enggak lihat mukanya.”

“Lah, emang kamu ngeliatin apanya?”

“Pantatnya.”

Vitra agak begidik mendengarnya, dan mulai hari itu ia tidak sama lagi memandang teman sekelasnya itu. Kemudian Pak Guru memperlihatkan halaman komik, sehingga mereka bisa menyaksikan kucing yang tidak imut itu seperti apa. Dan ternyata memang tidak imut, cenderung creepy.

“Dan, pada akhirnya komik The Wedding Eve ialah sebuah antologi komik dengan kisah kisah yang menghangatkan sekaligus menyedihkan, yang akan memberikan sebuah contoh bagaimana sebuah kasih sayang ternyata lebih besa daripada cinta. Betapa kasih sayang mampu mengalahkan segalanya. Mungkin bagi yang sering menonton film film Jepang, akan familiar dengan jenis cerita komik ini. Jadi, ada pertanyaan?”

Tapi tidak ada yang bertanya. Dan pelajaran hari itu pun selesai. Burung gereja sudah pergi dari dahan pohon. Hari sudah beranjak siang.

Judul: The Wedding Eve
Penulis: Hozumi
Penerbit: Level Comics
Jumlah Halaman:190
Rate:4

Misteri Patung Garam

misteriptnggaramMulanya saya tertarik dengan covernya yang cukup artsy, bisa dibilang minimalis tapi asik. Ditambah dengan dengan sinopsis di belakang buku, sudah lebih dari cukup buat saya memutuskan untuk membacanya. Novel pembunuhan ini unik, bahkan sepengetahuan saya belum pernah ada di khasanah pernovelan Indonesia, karena korbannya ditemukan telah menjadi patung garam, tubuhnya diolesi dengan garam sepenuhnya. Garam? Kenapa harus garam? Bukan kecap asin, Nutela, Firdaus Oil, atau yang lainnya?

Kemudian saya baca, dan kampret rebus, novel ini bagus. Akhirnya, terakhir kali saya baca novel thriller lokal yang bagus itu Katarsis nya Anastasia Aemilia. Meski berbeda tema, tapi Katarsis dan Misteri Patung Garam sama sama menghanyutkan.

Surabaya. Seorang pianis wanita ditemukan tewas di rumahnya, terduduk di depan piano, memakai gaun merah, senada dengan rambut palsu yang sengaja dipakaikan oleh pembunuhnya. Seluruh tubuhnya putih oleh lapisan garam. Sebuah simbol aneh tertulis di atas piano menggunakan garam.

“Dia mirip sekali patung.”

“Seluruh tubuhnya ditempeli dengan adonan garam dan tepung yang dicampur air hingga kalis.”

“Sepertinya adonan garam itu mengeras.”

“Tentu saja, sebab pembunuhnya memanggangnya di dalam oven.”

Kasus itu ditangani oleh Inspektur Kiri Lamari yang baru saja ditugaskan di Surabaya. Ia dibantu oleh Inspektur Saut. Inspektur Kiri Lamari dikenal sebagai polisi yang teliti, dan sudah memecahkan kasus yang gagal dipecahkan oleh polisi yang lain. Mereka berdua kemudian melakukan penyelidikan, sementara itu, si pembunuh pun mulai mencari mangsa yang lain. Korban korban berjatuhan. Semuanya berjenis kelamin perempuan dengan profesi yang berbeda beda. Sudah mapan secara finansial, dan dikenal sebagai perempuan baik baik. Mengapa mereka dibunuh? Siapa yang membunuh?

Inspektur Kiri Lamari dituntut untuk menyelesaikan masalah tersebut, dan juga masalah pribadinya dengan ayahnya yang berhubungan dengan kematian tidak wajar ibunya.

Fokus cerita buku ini memang kebanyakan ada di kisah Kiri Lamari, meski tokoh yang lain juga tak luput untuk diceritakan. Buku ini dibagi menjadi prolog, tiga puluh empat bab inti cerita, dan sebuah epilog. Awalnya saya merasa prolognya agak dipaksakan agar sesuai dengan judul, tapi setelah bukunya selesai dibaca, mungkin prolognya ingin sedikit memberi gambaran betapa sakitnya si pembunuh. Di prolognya tertulis, korban dihukum gara gara menyanyikan lirik sebuah lagu tidak sesuai dengan kemauan pembunuh. Lirik lagu milik Oasis, Don’t Look Back In Anger. Korban bersalah karena menyebutkan kata Sally, dan si pembunuh menginginkan Salty, bukan Sally. Padahal lirik yang benar ialah Sally. Tapi karena si pembunuh terobsesi dengan garam, diganti dengan Salty.

Secara keseluruhan, Misteri Patung Garam ialah sebuah thriller yang apik, tokoh tokoh yang cukup memorable dan menggelitik, terutama si Ireng, dan interaksinya dengan Kiri yang selalu membuat tersenyum, juga ada Inspektur polisi sangar yang hoby nonton Despicable Me, (pakai niruin ngomongnya minion pula :D), serta ahli forensik yang demennya dengerin K-pop. Salah satu kelebihan buku ini memang cukup lucu, bahkan ada bagian yang membuat saya tertawa ngakak. Meski itu tak banyak, which is good. Karena tidak sampai merusak ketegangan yang dibangun sejak awal.

Sayangnya, saya agak sedikit terganggu dengan epilognya. Apa buku ini akan dibikin sequelnya? Kalau iya, saya masih bisa memaklumi epilog tersebut, meski bukan hal yang baru. Tapi, kalau memang tidak akan dibikin sequel, mbok ya enggak usah dibikin epilognya. Buat apa? Memang twist, dan bikin orang penasaran, tapi terlalu tiba tiba dan merusak jalinan manis yang sudah ada sebelumnya. Tapi, semoga saja memang akan dibikin sequel.

Akhirnya, Ruwi Meita sudah berhasil membuat thriller lokal yang menegangnya, dibumbui dengan kisah cinta yang tidak berlebihan, humor yang menggelitik, serta interaksi antar tokoh yang natural dan berkesan. Ada beberapa bagian yang agak kepanjangan, misalnya cerita mengenai kisah segi tiga biru, serta epilognya yang menuntut sebuah jawaban, tapi overall, Misteri Patung Garam terlalu menarik untuk diabaikan. Kampret rebus.

Judul: Misteri Patung Garam
Penulis: Ruwi Meita
Penerbit: GagasMedia
Jumlah Halaman:276
Rate:3,9

Bastian dan Jamur Ajaib

jamur

Sayangnya, kelereng milik Aldi yang sudah ia kumpulkan harus ia simpan rapi di kaleng roti, karena tren permainan sedang mengalami perubahan. Teman temannya tak lagi menggemari gundu, dan beralih mengadu jangkrik. Jangkriknya pun spesial dan mereka harus mencari sendiri. Karena tidak sembarang jangkrik bisa tahan untuk diadu. Biasanya ada dua jenis yang sering dijadikan aduan, jangkrik jeliteng dan jelabang. Suatu hari Aldi menemukan jangkrik jeliteng. Ia lalu membawa jangkriknya untuk diadu dengan jangkrik temannya yang sudah berulang kali memenangkan pertandingan. Apakah jangkrik Aldi akan menang?

Sebenarnya pertanyaan itu masih kurang tepat, karena isi cerpen pertama yang diberi judul Ode Untuk Jangkrik ini tidak melulu bercerita mengenai jangkrik siapa yang menang atau kalah. Ini adalah kisah Aldi, yang sedang dibutakan oleh permainan adu jangkrik sehingga mengindahkan himbauan orang tuanya. Barangkali nasib yang menimpa Aldi adalah buah dari apa yang telah ia tanam. Cerpen ini, secara samar ingin mengingatkan bahwa mengadu jangkrik itu tidak baik. Secara luas juga dapat diartikan bahwa tidak hanya jangkrik, kita pun tidak boleh mengadu binatang. Ingat lagu Adu Domba milik Kak Rhoma, adu domba mengadu domba, perbuatan tercela.., atau lagu Ayam Jago punya Aida Saskia, ayam jago jangan diadu, kalau diadu jenggernya merah.

Lebih baik mengadu kepintaran atau ilmu kenuragan sahaja. Melalui Ode Untuk Jangkrik, Ratih Kumala berhasil membawa kembali permainan yang sempat menjadi hits di tahun 90an(atau 90an ke bawah) dengan baik, dan akan sedikit membawa nostalgia bagi siapa saja yang pernah mengalaminya.

Sayangnya, persahabatan Aida (bukan yang nyanyi dangdut tadi) dengan Nonik menimbulkan masalah. Aida dinterogasi oleh polisi perihal Nonik. “Sejak kapan kamu kenal Nonik?” tanya polisi. Aida pun menceritakan awal mula ia kenal dengan Nonik. Nonik menganggap Aida sebagai guardian angelnya, yang menjaga Nonik agar tidak kebablasan sewaktu sedang mabuk. Mengapa Aida diinterogasi polisi? Apa yang terjadi dengan Nonik? Melalui cerita Aida, pelan pelan semua akan terungkap. Sesuai judulnya, Nonik, cerpen ini berkisah tentang kehidupan Nonik melalui kacamata sahabatnya, Aida. Tentang nasib Nonik, mungkin mudah untuk ditebak, tapi yang menarik ialah alasannya dibalik semua kejadian itu.

 

Sayangnya, nasib telah menakdirkan Ah Kauw sebagai tukang gali kubur. Tapi bukan tukang gali kubur biasa, karena ia menggali kuburan yang ada isinya. Ah kaw menggali pemakaman, membongkar kuburan. Upahnya lumayan menguntungkan baginya. Apalagi terkadang ia juga mengambil barang perhiasan yang ikut terkubur jika kebetulan ia menggali kuburan orang Cina atau Belanda. Tapi pekerjaannya membuat hubungan dengan orang tuanya renggang. Dan ketika ia juga tak kunjung dikaruniai anak, ia dan istrinya pun berpikir ada yang tidak beres dengan pekerjaannya.

 

Sayangnya, cerpen yang menjadi judul buku ini, Bastian dan Jamur Ajaib, tidak seperti yang saya bayangkan. Ternyata bukan cerita dongeng, atau apa pun yang berbau fantasi, melainkan cerita tentang Bastian yang sedang patah hati, dan berkelana mencari pil lupa cinta. Cerpen ini terjadi pada masa ketika orang orang menganggap biasa pada sebuah pertanyaan; “Kamu jual pil lupa cinta?” Suatu hari seorang bartender member Bastian minuman yang berwarna kecoklatan atau abu abu, tak jelas karena lampunya remang remang.

“Apa ini” Jus eek?” tanya Bastian.

Ketika diminum, ternyata rasanya mengerikan. Tapi, tak lama setelah kejadian itu sesuatu yang aneh terjadi dengan Bastian. Ia bertemu dengan Raquel, perempuan yang dicintainya. Kemudian diketahui itu adalah efek dari jus eek yang ia minum. Jus itu rupanya berasal dari jamur. Bastian pun ketagihan, dan berusaha menemui seorang tabib yang punya persediaan jamur tersebut, tanpa Bastian ketahui bahwa itu bukanlah jalan yang baik.

Cerpen ini menjadi yang terakhir, dan sedikit kurang nendang kalau dijadikan sebagai penutup. Meski dari seluruh cerpen di buku ini, sebenarnya memang tidak ada yang benar benar nendang. Ceritanya biasa saja. Tak ada yang benar benar menonjol. Bukan berarti jelek, hanya saja terlalu biasa, tidak ada yang membekas begitu selesai membacanya. Buku ini terdiri dari tiga belas cerpen, beberapa sudah pernah terbit di koran. Sebagian besar bercerita mengenai ketidakbahagiaan dengan tema yang beragam, mulai dari penggali kubur sampai putri duyung. Dan, meski gagal untuk memberikan kesan yang mendalam Bastian dan Jamur Ajaib masih bisa dinikmati dengan lezat.

Judul: Bastian dan Jamur Ajaib
Penulis: Ratih Kumala
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman:130
Rate:2,5