Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Ahmad Tohari’

Kamu yang ingin menjajal bukunya Ahmad Tohari cobalah untuk membaca Di Kaki Bukit Cibalak. Ceritanya sederhana, tak berbelit belit. Mudah untuk dipahami. Hanya 170an halaman pula. Tak butuh lama untuk menyelesaikannya. Dengan catatan kamu enggak masalah dengan setting tempatnya yang sebagian besar di desa. Juga waktu kejadian di tahun 1970an. Jelas masih jadul. Belum ada handphone. Belum ada social media. Belum ada kamu juga. Mungkin.

Tapi sudah ada Pambudi lho. Siapakah dia? Dia adalah tokoh utama kita. Seorang pemuda desa yang punya sifat baik, berbudi pekerti luhur, gemar menolong dan sifat sifat baik yang mungkin hanya bisa ditandingi oleh Fahri di universe sebelah. Karena sifatnya yang kelewat bener itu, Pambudi terpaksa berhenti dari pekerjaannya sebagai pengurus lumbung koperasi desa Tangir. Ia tak setuju pada tindakan kepala desanya yaitu Pak Dirga yang tak mau menolong warganya yang sedang membutuhkan bantuan. Kepemimpinan Pak Dirga jauh dari kata adil. Pambudi ingin sekali melawan, tapi ia belum punya kekuatan. Pak Dirga yang tak menyukai Pambudi kemudian berupaya agar pemuda itu enyah dari desanya. 

Di Kaki Bukit Cibadak tidak memberikan kisah kisah memilukan meski ada potensi ke arah sana. Ini pas buat kamu yang mencari bacaan ringan, tidak membuat kening berkerut dan hati sesak oleh penderitaan. Baca buku ini tidak akan mempengaruhi kehidupan bahagia kalian semua. Andai makanan, buku ini laksana cemilan sehat yang tidak bikin gendut. 

Di Kaki Bukit Cibalak seperti sebuah contoh pertarungan antara si baik dan si jahat. Kisah kesombongan dan keserakahan yang berusaha menghilangkan kemanusiaan. Melalui Pambudi dapat dicontohkan bahwa jadilah orang baik meski keadaan tidak menguntungkan, mengalah bukan untuk kalah tapi menunggu saat yang tepat untuk menyerang. Buku yang sayang untuk dilewatkan. Apalagi jika sudah pernah baca buku Ahmad Tohari dan merasa cocok. 

Di Kaki Bukit Cibalak | Ahmad Tohari | PT Gramedia Pustaka Utama | Halaman: 176 | Rate: 4

Advertisements

Read Full Post »

Genduk ialah nama panggilan anak gadis rambut panjang dengan menekankan kata “Nduk” sewaktu dipanggil. “Nduk, mau kemana?” Sebab akan terdengar aneh pabila orang memanggil “Gen”. “Gen, mau kemana?” Nanti disangka namanya Gendeng. Bisa berabe. Atau Gendut. Tambah berabe. Apalagi Gentayangan. Hii, serem. Genduk ini tinggal berdua dengan ibunya. Ayahnya tak tahu rimbanya. Sang ibu mengandalkan kehidupannya pada tanaman tembakau. Sama seperti keluarga yang lainnya. Hasil panen yang baik selalu dinanti. Meski demikian, menjual tembakau ialah hal yang lain lagi. Penjualan tembakau dikuasai oleh tengkulak curang yang mengandalkan segala cara untuk mendapatkan uang. Ketuanya bernama Kaduk. Ia kemudian menjadi orang yang paling dibenci Genduk. 

Hubungan Genduk dengan ibunya tak bisa dibilang harmonis. Seringkali ibunya membuat hatinya terluka. Begitu pula sebaliknya. Genduk ingin sekali bertemu dengan bapaknya. Yang wajahnya tak pernah ia tahu. Suatu hari ia nekat kabur ke kota mencari jejak ayahnya. Mencari kepastian tentang nasib sang ayah. Apakah sudah meninggal atau masih hidup. Selayaknya nyanyian; Kalau masih bersemi di manakah rimbanya / Kalaupun sudah mati di mana pusaranya. Petualangan Genduk mencari ayahnya menjadi salah satu konflik yang terdapat dalam buku ini, melengkapi konflik yang lain; kegelisahan petani tembakau akan penen tembakaunya, hubungan tak harmonis antara Genduk dan ibunya, serta ketakutan Genduk kepada Kaduk.

Membaca Genduk seperti membaca buku buku Ahmad Tohari yang kental dengan muatan kedaerahannya. Membawa saya merasakan kembali suasana pedesaan yang hijau, beserta adat istiadat masyarakat sekitarnya. Tempatnya kali ini ialah desa Ringinsari yang terletak di lereng gunung Sindoro. Rumah rumah masih berlantaikan tanah, dengan dinding berupa gedek, bilah bambu yang dianyam. Anak anaknya masih suka bermain petak umpet. Belum ada listrik, sehingga televisi, yang hanya dipunyai oleh Lurah Cokro,  dinyalakan menggunakan aki. 

Genduk punya cover dengan warna biru telor asin yang lembut, dengan dua lembar daun tembakau menumpuk ditempel menggunakan lakban kertas. Warnanya adem, tapi lakban kertasnya bikin geregetan ingin mengkeleteknya. Dibalik cover itu ada kejutan kecil. Ilustrasi berwarna anak kecil dengan rambut diikat kepang dua, mengenakan gaun putih. Tangannya terentang menyentuh pohon tembakau. Ia menatap gunung yang menjulang di depannya. Ilustrasi ini sebenarnya bisa juga dijadikan cover, tinggal ditambahi judul dan nama penulisnya saja. 

Sundari Mardjuki menulis ceritanya dengan ringkas dengan tempo yang lumayan cepat. Saya menyelesaikannya dalam sekali baca. Buku ini terbagi dalam beberapa bab yang tak terlalu panjang. Bahkan ada yang hanya dua halaman berisi puisi. Ada beberapa puisi dalam buku ini. Juga lirik lagu. Lagu lagu jawa lama dan lagu anak anak yang tidak saya kenal. Puisi puisinya ada yang panjang ada yang pendek. Yang panjang sampai dua halaman digunakan sebagai simbolis tentang apa yang sedang terjadi, karena mungkin akan kurang nyaman seandainya ditulis dengan kalimat biasa. Tapi untuk lirik lagunya sebaiknya tak usah ditulis saja tak masalah soalnya saya langsung skip jika ada lirik lagunya. 

Tempo cerita yang mengalir cepat juga membuat saya merasakan terlalu banyak kebetulan kebetulan yang mendukung nasib si Genduk. Kebetulan ketemu si anu, kebetulan dikasih itu, dan kebetulan dapat itu, dan yang lainnya. Tapi yang paling menjengkelkan ialah nasib tokoh antagonis utama yang, yah cuma gitu doang. Terlalu gampang. Mungkin karena Genduk masih kecil dan lemah hingga tak bisa melawan. Tapi kan bisa pakai tangan oranh lain. Seenggaknya dibikin lebih menegangkan gitu ceritanya. Hal mengganggu lainnya ialah dialog Genduk yang tak seperti anak seusianya, terlalu dewasa dan kaku sehingga jadi terlihat tidak natural Seperti dalam sinetron sinetron. Hal ini membuat saya merasa berjarak dengan tokoh tokohnya. Beberapa bagian yang seharusnya bisa menguras air mata jadi biasa saja. 

Akhirnya, Genduk bukanlah sebuah kisah yang rumit meski banyak hal yang diceritakan. Punya potensi untuk menjadi buku yang menguras air mata seandainya tak masalah dengan dialog dialognya yang cenderung tak sesuai dengan usia tokohnya. Jika masa kecil kamu dihabiskan di desa, maka buku ini adalah mesin waktu yang akan membawamu ke masa masa itu. Bermain di sawah, petak umpet di bawah sinar rembulan, ramai ramai menonton televisi, dan rasa takut sekaligus gembira menonton kuda lumping.

Genduk | Sundari Mardjuki | Jumlah Halaman: 232 | PT Gramedia Pustaka Utama | Rate: 3

Read Full Post »

Kubah

 

Seandainya kamu menemukan buku Kubah karangan Ahmad Tohari di sebuah rak toko buku kemudian terbesit keinginan hendak membeli buku tersebut, maka saran saya, jangan sekali kali membaca sinopsis yang tertulis di lembar belakang buku tesebut, karena mengandung spoiler. Cukup banyak menurut saya. Buat kamu yang tidak begitu mempermasalahkan tentang adanya spoiler, memang tak menjadi soal, tapi bagi kamu yang termasuk dalam golongan die hard anti spoiler, tentunya akan menjadi masalah. Ditambah lagi apabila kamu sedang menderita kelainan aneh kutubuku nomer sembilan, yaitu kelainan-ketika-kamu-baca-spoiler-maka-kamu-akan-kejang-kejang-sambil-pukul-pukul-meja.
Spoiler apakah itu?
Jadi begini, secara garis besar buku ini terbagi menjadi tiga bagian. Apabila diurutkan, maka akan jadi seperti ini: masa kini, masa lalu, dan yang terakhir (masa kini + masa depan). Dan yang tercantum dalam synopsis di lembar belakang buku berisi bagian: masa kini, dan (masa kini + masa depan), bahkan sampai pada ending.
Lalu, kalau sudah terlanjur baca gimana dong?
Gampang saja.

Kamu jedotin saja kepala kamu ke lantai, atau kepruk pakai buku hardcover yang tebal. Menurut paham sinetron, kamu bakal kena amnesia. Tak ingat lagi tentang sinopsis buku Kubah, bahkan tak ingat siapa siapa.
Iss, ngawur banget sih caranya.

Seriusnya begini, kamu tidak usah khawatir apabila terlanjur membacanya, buku ini masih dapat memberikan kesenangan, karena sebagian besar kisah dalam buku ini terjadi pada bagian masa lalu, beserta konflik konflik yang menyertainya. Buku ini juga bisa memberikan keceriaan, bisa membuat kamu tertawa, tapi bukan karena ceritanya yang lucu. Lho, gimana caranya?
Caranya tinggal kamu pegang bukunya, terus gelitikin ke perut kamu.
krik
Hati Karman mendadak galau, justru ketika ia baru saja menghirup bau kebebasan. Karman ialah seorang tahan politik yang dijatuhi hukuman penjara selama dua belas tahun. Karman galau memikirkan apakah masih ada tempat untuk berpulang. Ia tak tahu kabar anaknya, sementara istrinya sudah kawin dengan laki laki lain. Serta ia pun tak bisa menebak bagaimana pandangan penduduk desa Pegaten, tempat ia dilahirkan, terhadap dirinya yang seorang tahanan politik. Seorang anggota PKI.
Berita mengenai keluarnya Karman pun sampai ke telinga istri berserta anaknya. Nah, apakah mereka akan bertemu dan bersatu kembali? Bagaimana pula masyarakat Pegaten menghadapi kebebasan Karman?

Sementara itu, bertahun tahun sebelum Karman mendekam di penjara, ia hanyalah seorang pemuda biasa yang mengadu nasib pada keluarga Haji Bakir, seorang kaya raya di desa Pegaten. Karman bekerja dengan giat, sehingga ia memperoleh kepercayaan dari Haji Bakir. Tapi kemudian sesuatu terjadi di antara mereka, yang melibatkan pihak ketiga. Sesuatu itu kemudian mengubah Karman menjadi pribadi yang lain. Karman menjadi begitu benci kepada Haji Bakir.
Apa yang mebuat Karman menjadi benci kepada Haji Bakir? Bagaimana kisah Karman hingga ia kemudian menjadi tahanan politik?

Meski mengusung tema yang berhubungan dengan organisasi terlarang, tapi tidak lantas membuat Kubah menjadi buku yang berat untuk dibaca. Karena Kubah hanyalah sebuah kisah kehidupan seorang penduduk desa yang terjebak dalam permainan politik, tanpa menitik beratkan pada politik itu sendiri. Ahmad Tohari hanya memberikan kisah hubungan antara partai politik dengan orang orang disekitarnya (dalam hal ini Karman ), bukan kepada pemerintahnya. Maka di sini ada cara cara propaganda yang dilakukan kepada Karman, serta perubahan pandangan hidup Karman.

Selain kisah Karman, diceritakan pula mengenai Marni, istri Karman. Bagaimana perasaannya ketika mendengar Karman dibebaskan, serta apa yang hendak ia lakukan ketika bertemu dengan Karman.

Menulis juga bisa bernilai ibadah. Kalimat yang tertulis dalam bio data twitter milik Ahmad Tohari, @AhmadTohari, yang sayangnya sudah jarang diupdate, ini sangat sesuai dengan apa yang dapat saya simpulkan setelah membaca buku ini. Ada kesan religius yang berhasil menyatu dengan real ke dalam cerita, tanpa bermaksud sebagai dakwah. Contohnya dalam sebuah dialog antara Karman dengan Kastagethek. Iya, namanya Kastagethek. Karman menanyakan tentang istri Kastaghetek yang ditinggal di rumah.

“Kang bila kamu sedang menjalankan rakit seperti ini, bersama siapa istri di rumah? Apakah dia sendiri?
“Ah, tentu tidak, Pak. Bila istriku tinggal sendiri di rumah, mana mungkin saya bisa pergi berhari hari dengan tenang.”
“Tetapi kudengar kamu tidak punya anak, bukan?”
“Benar.”
“Lalu?”
“Di rumah istriku selalu tinggal berdua.”
“Sama?”
“Sama Tuhan,” jawab Kasta sambil tersenyum. Kutitipkan dia kepada Tuhan sehingga saya bisa pergi cari makan dengan perasaan enak.”

Membaca Kubah, saya teringat dengan Entrok & Maryam karangan Oky Madasari, serta Gadis Kretek milik Ratih Kumala. Menyinggung isu isu sensitif di masa lalu tanpa terjebak menjadi bacaan yang bikin pusing kepala. Hanya saja, Kubah berjalan nyaris tanpa memberikan denyutan denyutan yang sanggup membuat hati saya bergetar. Kubah tak mampu mempermainkan emosi saya. Entahlah, saya merasa biasa saja. Saya tidak mengernyitkan dahi, sedih, atau tertawa gembira ria. Muka saya tanpa ekspresi. Flat. Mirip gambar ini.
jihyo

Untung saja, tidak sampai membuat muka saya jadi seperti ini:

kwang_so

Kemudian, saya juga sedikit keberatan mengenai pemilihan Kubah sebagai judul buku ini. Karena kisah tentang kubah, sebagai kata benda, hanya muncul sedikit sekali, yaitu menjelang ending. Sementara saya tidak menemukan adanya simbolisasi kubah dalam seluruh rangkain cerita. Mungkin akan lebih cocok apabila diberi judul Karman, atau yang lainnya.

Pada akhirnya meski Kubah gagal untuk menjadi sebuah bacaan yang berkesan, tapi tidak sampai jatuh menjadi mengecewakan. Kubah akan memberikamu sajian cerita kisah kehidupan manusia, sejarah kelam oraganisasi terlarang bersimbol palu arit, serta kisah cinta, dendam dan penerimaan diri dalam balutan nilai religius yang apa adanya.

Judul: Kubah
Penulis: Ahmad Tohari
Jumlah Halaman: 216
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Rate

Rate

Read Full Post »