[Review] Kronik Kematian Yang Telah Direncanakan

Judul: Kronik Kematian Yang Telah Direncanakan (Chronicle of a Death Foretold)
Penulis: Gabriel Garcia Marquez
Penerbit: Selasar Publishing
Halaman:175

Semua orang tahu belaka bahwa Santiago Nazar hendak dibunuh oleh dua orang bersaudara itu. Meskipun demikian, banyak orang yang tak percaya begitu saja. Dianggapnya dua bersaudara itu sedang mabuk berat setelah merayakan pesta pernikahan adik mereka semalaman. Tapi ketika paginya, berbarengan dengan kedatangan uskup di kota itu, sirine meraung sedih, orang orang baru tersadar bahwa kembar bersaudara itu benar benar serius melakukannya. Santiago Nasar telah terbunuh.
Dua puluh tujuh tahun kemudian, seseorang berusaha menyusun kembali lembaran lembaran sejarah pembunuhan itu yang telah lapuk oleh waktu. Ditemuinya orang orang yang telah ia anggap tahu mengenai detail pembunuhan di hari yang naas itu. Mengapa Santiago Nasar dibunuh?

Dari sini tentu sudah bisa ditebak, bahwa buku ini berisi semacam investigasi mengungkap kasus pembunuhan. Tapi untuk menyebutnya sebagai cerita detektif, saya rasa tidak terlalu tepat. Sebab pembunuhnya sudah lebih dulu diketahui, dan seseorang yang sedang melakukan investigasi pun bukanlah seorang penegak hukum, hanya orang biasa saja. Maka saya lebih suka menyebutnya, cerita yang mengandung unsur per-kepo-an. Sebab saya gagal menangkap maksud lain dari diadakannya investigasi itu, selain untuk menuruti ego dari si pencari berita. Sungguh mati aku jadi penasaran, begitu Bang Rhoma Irama pernah menyinggungnya dalam sebuah lagu di masa silam.
Dan wabah kepo itu kemudian menyerang saya dengan begitu perlahan namun pasti. Saya jadi penasaran, dan itu bikin tidak tenang. Tapi di tengah tengah rasa penasaran itu, saya sempat pusing juga, sebab ada begitu banyak tokoh yang berlalu lalang, dengan ceritanya sendiri sendiri, meski kesemuanya itu memang memegang peranan dalam investigasi yang sedang dilakukan.
Tapi rasa pusing saya perlahan menghilang, dan berganti menjadi rasa tak enak di perut, dan hati sedikit nelangsa, yang barangkali oleh orang yang paling lebay sejagat akan ditafsirkan dengan tindakan menangis meraung raung bergulingan di lantai, sambil memegangi dadanya, dan berteriak: Cukup! Hentikan semua ini!!  Aku sudah gak gak gak kuat..gak gak gak level!!!

Serius, diantara buku karangan Gabriel Garcia Marquez yang pernah saya baca, cuma buku ini yang berhasil membuat saya merinding, dan sedikit merasa bersalah kepada Santiago Nazar. Mulanya saya merasa ia memang pantas dibunuh, tapi kemudian ketika perlahan kebenaran mulai terungkap, saya jadi bertanya tanya; benarkah Nazar yang melakukan perbuatan itu? Ah, kasihan sekali kamu Nazar.

Tapi membaca buku ini memang kudu bersabar sebab sepanjang buku kita hanya akan diajak mengikuti perjalanan orang orang yang kebetulan mengenal Santiagao Nazar dan tahu tentang kejadian mengerikan itu. Apa lagi kalau belum familiar dengan nama amerika latin yang kadang kadang ajaib itu. Meskipun demikian, buku ini tetap layak untuk dibaca, terutama jika anda penggemar Gabriel Garcia Marquez, atau sastra amerika latin pada umumnya.
Terakhir, entah mengapa saya jadi teringat novel Lelaki Harimau, dari penulis favorit saya yang lain, Eka Kurniawan. Sebab ada sebuah kabar pembunuhan di awal cerita. Dan, bagian ketika kolonel Lazaro Aponte merampas pisau yang hendak digunakan untuk membunuh Santiago Nazar, mengingatkan saya pada saat Mayor Sadrah(namanya kalau tidak salah) merampas samurai karatan yang dipegang oleh Margio beberapa saat sebelum ia membunuh Anwar Sadat.

Rating 4 dari 5