[Review] Exess Anonymous, Dalam Sebuah Ilustrasi

Judul: Exes Anonymous
Penulis: Lauren Henderson
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 512

Halo anak anak, hari ini saya akan mereview sebuah buku tentang patah hati, tepatnya patah hati karena cinta. Rasanya tentu saja menyakitkan. Nah, di sini ada yang pernah patah hati karena cinta? Coba tunjuk tangan.
Saya Pakkkk!!!!!
Ya ampun semuanya. Kalian ini memang bener bener deh. Ya sudah, kita mulai saja. Bukunya berjudul Exes Anonymous karangan Lauren Henderson. Bercerita mengenai Rebecca, wanita karir yang lagi patah hati karena diputus oleh pacarnya. Padahal Rebecca ini masih sayang sama pacarnya itu. Ia punya teman curhat bernama Davey, yang juga sedang patah hati ditinggal pacarnya. Davey ini teman kantornya. Davey mengusulkan agar Rebecca membuat sebuah perkumpulan orang orang patah hati, sebagai tempat curhat berjamaah, sambil kemudian dicari jalan keluarnya. Rebecca akhirnya menyetujui usul Davey. Maka terbentuklah sebuah perkumpulan orang orang patah hati, yang diberi nama Exes Anonymous, atau Klub Patah Hati. Kenapa Rebecca setuju bikin Klub Patah Hati, karena Rebecca sedang patah hati, coba kalau misalnya Rebecca ini sedang patah tulang, pasti..
Pasti jadinya bikin Klub Patah Tulang yah Pak?
Huss, salah! Kamu itu sukanya nyamber saja kalau orang lagi ngomong. Mana salah pula.
Lho salahnya dimana Pak?
Lha jelas salah. Kalau lagi patah tulang,  ngapain bikin klub. Mending santai di rumah, rebahan sambil dengerin lagu K Pop. Gee Gee Gee Gee Baby Baby Baby.. Gee Gee Gee Gee Be Be Be Be Be Be.
Laaah, malah nyanyi Bapake. Terus, di Klub Patah Hati itu ngapain aja Pak?
Jadi begini. Ada sesi curhat, terus sesi evaluasi dan menelaah apa sih yang sebenarnya sedang terjadi pada mereka. Tapi, buku ini isinya enggak melulu tentang pertemuan klub itu kok. Ada banyak kejadian kejadian menarik yang melibatkan Rebecca dengan teman temannya. Misalnya saja ketika ada yang pura pura jadian cuma untuk membuat mantan mereka cemburu, yang justru berakhir dengan kejadian yang sangat mengejutkan.
Kejadian apa tuh Pak?
Rahasia dong.
Ih, pelit. Terus ada apa lagi Pak?
Di buku ini juga ada lima tahap berduka karena tiba tiba ditinggalkan oleh orang yang kita sayangi, serta saran saran jika kita mendadak sendiri. Lima tahap berduka itu yang pertama ialah penyangkalan, yaitu menolak untuk mempercayai apa yang sebenarnya telah terjadi. Jadi misalnya kamu baru diputus, kamu enggak akan percaya, dan bakal tetap menganggap kamu masih jadian. Misalnya akan berkata: ‘Akuh masih jadi pacar kamuhh, khan Beb?’, ‘Akugh maacih sayanngg sama kamughh eaaaa’. Tahap selanjutnya, silahkan baca sendiri buku ini.
Lho, enggak sekalian Pak?
Kepanjangan kali. Jadi, menurut saya buku ini lumayan bagus. Mengingat saya jarang baca buku dengan genre chicklit seperti ini. Tadinya saya sempat kawatir kalau bakal susah untuk menikmati buku ini, tapi nyatanya saya bisa, yaitu ketika saya mulai menebak nebak bagaimana jalan ceritanya, dan ikut tersenyum ketika Rebecca tersenyum. Meski ada bagian yang nyaris membuat bosan dan melelahkan, yaitu ketika ada bagian yang hanya menyalin artikel dari internet, tanpa mengeditnya terlebih dahulu. Jadi seperti sedang membaca tulisan di salah satu lembar buku skripsi anak psikologi. Dan flash back masa lalu Rebecca dengan pacarnya yang sebenarnya tidak terlalu penting, dan bisa dihilangkan. Nah, ada pertanyaan?
Saya Pak! Isinya galau melulu dong Pak, secara bikinnya aja Klub Patah Hati.
Ya enggak lah. Ada cukup banyak bagian yang lucu, minimal bikin senyum gitu lah. Baca buku ini sama saja sedang menonton film komedi romantis, semacam Confessions of a Shopaholic, atau The Devil Wears Prada, bahkan New Moon.
Kok ada  New Moon segala?
Lha iya, galaunya Rebecca ini mirip sama Mbak Isabella Swan waktu ditinggal Mas Edward Cullen.
Ooo..kirain ada manusia serigalanya juga.
Huss, ngawur. Ada yang nanya lagi?
Kalau dikasih nilai dari satu sampai lima, dapat nilai berapa?
Hmm, tiga saja deh. Tapi, saya baca kurang lebih tiga hari selesai loh. Itu juga disambi kerjaan yang lain.
Oo..terus, saya harus bilang wow gitu Pak?
Ya enggak dong, manis. Kamu cukup bilang, ‘Bapak ganteng deh’. Ting!
Kantong plastik! Mana kantong plastik!
Buat apaan kantong plastik?
Mau muntah Pak!
Emang kamu lagi hamil?
Arrggg!!!
Baiklah. Jadi intinya Exess Anonymous mungkin bukanlah buku yang membuat saya terkesan dengan isinya, tapi sandainya ditinjau dari sisi hiburan, maka buku ini telah berhasil memberi pernghiburan yang lebih dari cukup. Ada pertanyaan lagi? Kalau tidak ada, silahkan kalian istirahat meski belum bel. Keluar yang tertib, satu satu. Lewat pintu. Woy, lewat pintu woy!!!… Heh, jangan dorong dorong gitu dong. Kasihan itu yang lagi hamil!
Saya enggak hamil Paaakkkkkkk!!!!