Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘cinta’

Ketika seseorang ditanya bagaimana kesannya terhadap buku yang telah dibaca, kalian tentu pernah mendengar jawaban ini: ‘oh, kalimatnya mengalir’, ‘bukunya menghanyutkan’, ‘unputdownable’, ‘bikin lupa waktu tapi enggak bikin lupa sama kamu uwuwuwuwu’, dan lain lainnya, endesbra endesbre. Mungkin tak sama persis, tapi intinya seperti itu. Begitulah kira kira saya akan memberi penilaian atas buku ini. Isabel Allende begitu piawai merangkai kata. Lembar demi lembar terangkat dengan ringannya. Tahu tahu sudah setengah buku. Tahu tahu sudah mau habis. Tahu tahu..tararahu..tararahu.. how deep is your love…tararahu..

Saya akan membahas covernya terlebih dahulu. Terlihat feminim dan cantik. Bunga mawar putih mengembang di dekat dinding biru muda yang penuh dengan totol totol hijau seperti wijen pada kue onde onde. Konon bunga mawar putih melambangkan cinta yang tulus dan murni. Ini sedikit banyak sesuai dengan apa yang terpapar di dalam buku. Jadi, gambar bunga mawar itu sudah tepat. Namun, akan lebih afdol jika ditambahi juga dengan duri. Karena akan lebih terasa simbolisnya, mawar dan duri, keindahan dan kesakitan. Selain itu mawar juga identik dengan duri, meski duri tidak selalu identik dengan mawar. Khan bisa saja itu duri ikan, duri kaktus, duri landak, atau duri duri dam dam duri duri dam… duri duri dam dam.. duri duri dam.. kamu makannya apa?!!! TEMPE

The Japanese Lover atau Kekasih Jepang dibuka dengan diterimanya Irina Bazili untuk bekerja di panti wreda bernama Lark House. Ia bertugas melayani penghuninya agar merasa nyaman. Disitu ia berkenalan dengan Alma Belasco yang meminta Irina untuk menjadi asisten pribadinya. Irina kemudian berkenalan juga dengan cucu Alma, Seth, yang kemudian menyuruh Irina untuk mematai matai neneknya. Irina yang juga penasaran pun menyetujui. Dengan dalih ingin menyusun buku, Irina dan Seth meminta neneknya untuk bercerita mengenai masa lalunya. Yang berhubungan dengan datangnya surat surat misterius dan juga bunga gardenia. Cerita Alma Belasco mengalir dari masa kanak kanaknya yang terpaksa berpisah dari orang tuanya karena perang, hingga ia bertemu dengan Ichimei Fukuda, putra tukang kebun di rumahnya. Jalinan pertemanan itu mengembang jadi cinta. Tapi jalan cinta mereka penuh dengan lubang, hingga mobil cintanya kadang jatuh dan tak bisa bangkit lagi.. aku tenggelam dalam luka dalam..

Buku ini mungkin tak sampai membuat hati pembacanya bengkak oleh rasa sedih, karena prahara cinta Alma dan Ichimei memang tak setragis kisah Romeo dan Juliet. Bahkan ada tokoh lain yang punya cerita lebih menyedihkan. Saya tidak akan memberitahu siapa. Ini kejutan. Kisah cinta di dalam buku ini juga tak hanya milik mereka berdua saja. Ada beberapa kisah cinta lainnya yang membuat saya takjub. Tak hanya cinta, ada pula kisah lain yang menarik, persahabatan ganjil, hidupnya kembali orang yang sudah mati, alasan mengapa kucing Alma diberi nama Neko, kehidupan di kamp konsentrasi dan lainnya. Semua itu membawa saya dalam petualangan kecil menyusuri tempat tempat jauh, dari Moldova, San Francisco, Topaz di tengah gurun Utah, hingga kota di Mexico, Tijuana meski tak sampai Havana oh na na… Half of my heart is in Havana, ooh na-na 

Jalan cerita buku ini tak mudah ditebak. Memberi kejutan kejutan kecil semisal tentang nasib kisah cinta sepihak Irina dengan salah satu penghuni panti wreda, hingga kejutan kejutan yang mengguncang. Membuat saya sedih dan terharu. Terbagi dalam 31 bab pendek yang ditulis dalam dua bagian, masa lalu dan masa kini secara bergantian. Ada beberapa pelajaran yang bisa diambil, bahwasanya sedekah bisa membuka pintu rejeki, berbuat baiklah sebanyak banyaknya terutama jika kalian orang kaya, dan cinta janganlah sampai menikam logika meski cinta ini kadang kadang tak ada logika.. berisi smua hasrat dalam hati… 

Saya juga ingin berterima kasih kepada mbak Tanti Lesmana yang sudah menerjemahkan buku ini dengan super sekali, sehingga rasanya sama seperti saya membaca The House of the Spirit & Daughter of Fortune yang diterjemahkan orang lain. Akhirnya, membaca Kekasih Jepang tidak seperti sedang arung jeram melainkan mengambang di kolam arus yang santai. Buku yang memikat saya sejak halaman pertama. Sayang, bagi yang mengharap kata kata romantis mungkin akan kecewa. Kalimat kalimat romantis sedikit ada di dalam surat surat Ichimei kepada Alma. Sayang, surat surat yang ditampilkan kurang banyak. Tapi jangan khawatir, romantisme itu ada dalam bentuk perbuatan tokoh tokohnya dalam rangka untuk menunjukkan cinta dan kasih sayang, opo kowe krungu jerit e ati ku.. Mengharap engkau kembali…Sayang, Nganti memutih rambutkuu….

The Japanese Lover/ Kekasih Jepang | Isabel Allende | Halaman: 408 | Rate: 4

Advertisements

Read Full Post »

????“Apa yang lebih besar dari cinta?”

“Hih, pagi pagi kok ngomongin cinta.” Celetuk Roy sambil menatap jendela kelas. Burung gereja hinggap di dahan pohon. Cahaya pagi menyinari ruang kelas dari lubang angin. “Iya, pagi pagi kok ngomongin cinta.” Sinta ikut ikutan bicara. Santi yang duduk di sampingnya menganggukkan kepala, sambil mengusap dagunya. Ikut setuju.

“Memangnya kenapa kalau pagi pagi ngomongin cinta?” Tanya Pak Guru sambil tersenyum, sebelum melanjutkan; “ah saya tahu, kalian pasti lagi jomblo ya, jadi malas ngomongin cinta.”

“Hih, kaya Pak Guru punya pacar saja.”

“Saya sudah punya pacar kok.” Jawab Pak Guru kalem. Seisi kelas mendadak heboh. Pak Guru punya pacar. Luar biasa.

“Eleh eleh, Munah enggak nyangka euy. Siapa namanya Pak?” Tanya Munah dengan mata berbinar.

Pak Guru terbatuk. “Itu, juga saya belum tahu.”

“Loh, maksudnya gimana Pak Guru. Kok enggak tahu namanya.”

Pak Guru menjawab dengan malu malu. “Soalnya masih dititipin sama Tuhan.”

Eeeehhhh!!!!!!!!!!

“Pak Guru delusional ih!” Kata Kenes sambil menahan tawa.

“Itu namanya oportunis, Kenes. Law of attraction, gitu. Sudah sudah, kenapa jadi ngomongin pacar sih.”

Pak Guru mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah komik.

“Jadi, saya akan mengulang pertanyaan tadi, dan dilarang protes. Apa yang lebih besar dari cinta? Mengapa saya menanyakan pertanyaan itu. Karena komik ini. The Wedding Eve. Komik yang akan kita bahas pada pertemuan kali ini.”

Pak Guru mengangkat komik itu dan mengitari kelas sehingga seluruh murid bisa melihat dengan jelas. “Sudah ada yang tahu, apa yang lebih besar dari cinta?”

“Saya tahu!” Glenda mengangkat tangan.

“Apa jawabannya, Glenda?”

“Kasih sayang, Pak Guru.”

“Betul sekali, Glenda. Kamu benar. Bapak bangga menjadi guru kamu.”

“Itu mah pertanyaan gampang, Pak Guru. Nenek nenek juga tahu.”

“Bohong kamu, Glenda. Nenek saya enggak bakal tahu begituan. Kalau nanya Jodha Akbar, baru tahu.”

Protes Firas. Glenda cuma senyum senyum cemberut. Tidak ingin mendebat.

“Ya sudah, Pak Guru akan mulai membahasnya. The Wedding Eve ialah antologi komik yang dikarang oleh Hozumi. Di dalamnya berisi enam cerita, ada satu cerita yang dijadikan dua part. Meski komik ini berjudul malam pernikahan, tapi tema tiap komik tidak melulu tentang malam pernikahan. Cerita pertama punya judul sama dengan komik ini, The Wedding Eve. Ceritanya simple, tentang malam terakhir seorang adik dan kakak perempuannya yang akan menikah keesokan harinya.

Tidak ada twist, atau hal hal yang menegangkan. Isinya hanya keseharian kakak beradik tersebut. Mulai dari mencoba baju pengantin, sampai makan malam berdua. Tapi, hal yang sederhana itu sudah cukup untuk memberikan kisah yang menyentuh hati. Ditutup dengan ending yang mengharukan. Ternyata malam pengantin punya momen sedihnya sendiri, ketika malam itu menjadi malam terakhir bagi kita untuk bersama dengan keluarga, karena keesokan harinya sudah tidak sama lagi. Tapi tentu saja, itu kesedihan yang melegakan, yang harus terjadi, untuk menuju pada kebahagian yang lain.”

Pak Guru membuka halaman komik, dan menunjukan pada seisi kelas.

????

“Cerita kedua tidak lagi bercerita tentang malam pernikahan, tapi tentang hubungan ayah dan anak, judulnya Reunion At Azusa Number 2. Sama kaya cerita pertama, ini juga genrenya slice of life. Ceritanya tentang anak perempuan berumur tujuh tahun, Azisa, yang didatangi oleh ayahnya. Azusa sangat senang berduaan dengan ayahnya. Kemudian pelan pelan diketahui bahwa, ayah Azusa sudah bercerai, dan hanya sekali sekali datang menemuinya. Makan es krim bareng, dan menjemur pakaian. Melihat hubungan ayah anak itu sungguh menghangatkan. Ada sedikit twist di cerita ini, yang sungguh tak mengenakkan hati. Ini gambar Azusa dan ayahnya.”

????

“Yak, itu adalah dua cerita favorit dalam komik ini. Yang enggak bosan buat dibaca, meski terus terang saja bikin perasaan jadi enggak enak. Jadi galau, begitu.”

“Gegana dong, Pak!” Mahmud sekonyong bicara.

“Apa itu gegana? Penjinak bom.”

“Bukan. Itu lho Pak, lirik lagunya Cita Citata, gegana, gelisah galau merana.” Disusul suara tawa seisi kelas.

“Bisa aja kamu.”

“Ada lagi yang namanya gegaruk, Pak Guru.” Kali ini Samsul yang berteriak.

“Apa itu, Sam?”

“Gegaruk, gelisah garuk garuk.”

Tawa kembali menggelegar.

“Sudah sudah. Tenang anak anak. Pak Guru akan melanjutkan. Selain dua cerita tadi, di komik ini juga ada cerita mengenai dua orang sahabat yang kembali bertemu pada pemakaman seseorang dari masa lalu mereka, kemudian ada cerita seorang kakak yang menghadiri pernikahan adiknya di sebuah desa. Kakak adik ini punya seorang ibu, yang berupa orang orangan sawah. Ceritanya agak sedikit berbau fantasi. Judulnya Dreaming Scarecrow. Cerita ini yang dibagi menjadi dua bagian.

Kemudian ada cerita seorang novelis dengan burung gagak. Dan yang terakhir, cerita yang paling sedikit dan rada enggak jelas, tentang keluh kesah seekor kucing rumahan. Dan baru kali ini saya menemukan gambar kucing, tapi enggak imut sama sekali.”

“Masa sih, Pak. Kucing kan selalu imut. Diam imut. Marah imut. Tidur imut. Bahkan, lagi boker juga imut.” Kata Vitra.

“Emang kucing lagi boker itu imut, Vit?” Rustam bertanya. Vitra mengangguk, “emang kamu enggak pernah lihat kucing boker?”

“Pernah sih, tapi aku enggak lihat mukanya.”

“Lah, emang kamu ngeliatin apanya?”

“Pantatnya.”

Vitra agak begidik mendengarnya, dan mulai hari itu ia tidak sama lagi memandang teman sekelasnya itu. Kemudian Pak Guru memperlihatkan halaman komik, sehingga mereka bisa menyaksikan kucing yang tidak imut itu seperti apa. Dan ternyata memang tidak imut, cenderung creepy.

“Dan, pada akhirnya komik The Wedding Eve ialah sebuah antologi komik dengan kisah kisah yang menghangatkan sekaligus menyedihkan, yang akan memberikan sebuah contoh bagaimana sebuah kasih sayang ternyata lebih besa daripada cinta. Betapa kasih sayang mampu mengalahkan segalanya. Mungkin bagi yang sering menonton film film Jepang, akan familiar dengan jenis cerita komik ini. Jadi, ada pertanyaan?”

Tapi tidak ada yang bertanya. Dan pelajaran hari itu pun selesai. Burung gereja sudah pergi dari dahan pohon. Hari sudah beranjak siang.

Judul: The Wedding Eve
Penulis: Hozumi
Penerbit: Level Comics
Jumlah Halaman:190
Rate:4

Read Full Post »

Misteri Ratu Cinta

ratucinta

Seperti lagunya Rosa, kecantikan seorang wanita pasti akan pudar seiring dengan berlalunya waktu. Karena ada yang bilang, lelaki jatuh cinta dengan melihat, maka kecantikan menjadi krusial, apabila ingin mendapatkan lelaki pujaan. Oleh karena itulah, berbagai hal sering ditempuh agar wajah mereka terlihat cantik. Mulai berdandan secara sederhana, minum jamu, operasi plastik hingga memakai jalur klenik.

Jalur klenik inilah yang dipakai oleh Sukmarani.

Ia adalah seorang tabib yang menempuh cara yang tak lazim agar dirinya tetap awet muda, montok dan menggairahkan suaminya, Rusman. Ia tidak memakai susuk, melainkan menjalankan semacam ilmu hitam yang mengharuskannya bercinta dengan suaminya setiap hari selama ia tidak sedang berhalangan. Kenapa harus bercinta? Karena kalau harus begadang itu melelahkan, dan harus ada artinya, kata bang Roma. Tapi, tentu saja alasan sebenarnya ialah seperti apa yang dikatakan oleh Miranda.

“Sel sel kehidupan dalam spermamu yang memasuki tubuhnya. Itulah yang dimanfaatkan istrimu untuk melawan proses menuanya fisik yang muncul bersamaan dengan merambatnya waktu.”

Yang dijelaskan lebih detail oleh kakek kakek yang ditemui oleh Rusman:

“Karena unsur kehidupan dalam spermamu diambilnya sebagai penangkal proses menuanya tubuh. Sebaliknya, unsur unsur kehidupan dalam sel sel telur Sukmarani sendiri ia pancarkan ke dalam tubuhmu melalui kejantananmu. Itu akan menolongmu untuk tetap perkasa dan sanggup melayani istrimu di tempat tidur, meski tanpa ada hari yang terlewatkan… “

Itulah yang harus dilakukan oleh Sukmarani agar tetap awet mudah. Tapi, dalam waktu waktu tertentu masih ada ritual lain yang harus dilakukannya. Ritual yang melibatkan dupa dupa, lilin, dan darah ayam pelung.

Cerita bermula ketika Rusman kembali bertemu dengan Miranda, mantan kekasihnya yang telah ia campakkan begitu saja demi Sukmarani. Dari Miranda itulah, Rusman tahu kenyataan yang sebenarnya mengenai istrinya. Mulanya Rusman tidak percaya, tapi ketika kemudian terjadi hal hal yang persis seperti apa yang dikatakan oleh Miranda, Rusman pun mulai percaya. Rusman lalu diajak Miranda bertemu kakek kakek, yang ternyata adalah mantan suami Sukmarani sebelumnya, yang masih muda ketika dulu menikah dengan Sukmarani. Rusman pun menyadari bahwa istrinya ternyata sudah berusia sangat tua. Tidak tahu berapa pastinya. Bisa ratusan, bahkan lebih.

“Yang kau lihat itu Rusman,” menggema suara Miranda di telinga Rusman. “Adalah tubuh perempuan tua jompo. Perempuan yang pantas jadi nenekmu, bahkan mungkin juga nenek buyutmu!”

Rusman pun meminta bantuan agar ia terbebas dari permasalahannya itu.

Sementara itu, seorang wanita bernama Astuti dicegat oleh seseorang ketika akan pergi kuliah. Orang itu mengatakan bahwa Astuti harus ikut dengannya ke rumah sakit. Astuti pun menurutinya karena mengira kekasihnya, Hendra, kecelakaan. Tapi, ternyata ia dibawa oleh orang itu beserta dua orang temannya ke sebuah vila di puncak. Astuti, yang sedang hamil muda, disekap agar tidak mengganggu jalannya upacara pernikahan Hendra dengan istrinya. Hubungan Astuti dengan Hendra memang tidak direstui oleh kedua orang tua Hendra, yang menginginkan anaknya punya istri dari kalangan bangsawan.

Tapi penyekapan itu ternyata tidak berjalan sesuai dengan rencana semula. Bencana.

Dua kisah yang tampak tak punya hubungan itu kemudian terhubung dengan jalan yang tidak diduga duga. Mistis. Tapi tidak terkesan dipaksakan. Mengalir begitu saja. Keseruan yang sebenarnya pun dimulai. Abdullah Harahap membangun suspen dengan tidak terburu buru, tapi tetap terjaga hingga akhir, dan ditutup dengan ending yang cukup mengharukan, a bittersweet ending. Akhir yang menurut saya sempurna buat buku ini. Diantara buku Abdullah Harahap yang pernah saya baca, inilah ending yang paling saya suka.

Misteri Ratu Cinta dibagi penceritaanya menjadi dua bagian, dan untungnya perpindahan kisah tersebut dilakukan dengan begitu baik dan semakin membikin penasaran. Jadi tidak main asal putus saja. Meski secara keseluruhan tidak ada tokoh yang benar benar berkesan, tapi Abdullah Harahap menceritakan perubahan karakter tokoh Rusman dengan baik, meski tak terlalu banyak dikisahkan. Mengenai keraguannya kepada istrinya, ketakutannya, hingga rasa cinta yang ternyata masih tetap ada.

Seperti halnya novel Abdullah Harahap yang lain, Misteri Ratu Cinta juga terdapat pembunuhan secara mengerikan yang dilakukan oleh makhluk bukan manusia. Keuntungan pembunuhan oleh makhuk gaib ialah, tidak punya batasan imajinasi. Bisa dilakukan dengan cara apa pun akan tetap diterima. Dibuku ini, misalnya, ada tokoh yang dibunuh dengan dililit pagar kawat yang tiba tiba hidup seperti ular. Dan masih ada yang lebih mengerikan lagi.

Pada akhirnya Misteri Ratu Cinta tidak hanya memberikan sebuah kisah misteri, horror dengan aroma balas dendam, tapi juga berhasil menyelipkan sebuah kisah cinta yang tak biasa, manis tapi getir terasa.

Judul: Misteri Ratu Cinta
Penulis: Abdullah Harahap
Jumlah Halaman: 251
Penerbit: Paradoks
Rate: 3,75

Read Full Post »

Her Sunny Side

sunny

Jadi gini, sebelum nulis review, gue mau cerita dulu ya. Kalau gue koprol dulu kan bisa mumet kepala. Apalagi koprolnya sambil ngerjain TTS. TTS pake sandi rumput pula. Rumputnya rumput gajah. Gajahnya gajah bengkak, dst.
Jadi begini ceritanya…
Basman menyelamatkan rusa dari kebakaran dan membawanya ke tempat yang aman. Si rusa mengucapkan terima kasih, dan meminta pertolongan lagi kepada Basman. “Minta tolong apa?” Tanya Basman.
“Begini, sebenarnya aku bukan rusa betulan. Aslinya aku adalah pangeran. Tapi aku akan berubah jadi pangeran lagi kalau ada yang menciumku. Jadi, kamu mau cium aku?”
“Enggak salah?” Tanya Basman, “biasanya gadis yang disuruh cium.”
“Untuk kasusku, tidak masalah laki laki atau gadis yang mencium. Sama khasiatnya.”
Tapi Basman langsung menolak.
“Kenapa, nanti aku kasih hadiah.”
Basman tetap menolak.
Si rusa terus berusaha. “Enggak pakai nafsu juga enggak apa apa kok.”
“Sialan. Yang nafsu sama kamu itu sapa!”
“Heuheuheuheu.”
“Jangan ketawa!!”
“Ah iya aku baru ingat,” kata si rusa tiba tiba, “ciumnya enggak di bibir kok. Di pantat juga boleh”
“Masa? Tapi, enggak di pantat juga kali”
“Iya, boleh dimana saja. Mau ya. nanti tak kasih hadiah banyak.”
Basman pun mencium si rusa, di keningnya. Dan, munculah asap tebal menyelubungi rusa itu. Basman mundur, dan menunggu dengan sabar sampai rusa kembali ke bentuk semula; menjadi pangeran.

Dua jam kemudian.
Asap itu masih belum hilang. Si rusa belum kelihatan. “Woi, rusa! Kapan kamu berubahnya!”
“Nunggu asapnya hilang dulu.” Teriak si Rusa.
“Kapan itu?”
“Yah, kira kira dua harian lah.”
“Eh, buset. Lama beut.” Basman keki, dan keluarlah sifat alaynya. “bisa jamuran nih aku nunggu.”
“Tidak apa apa. Kalau kamu jamuran, nanti aku sembuhkan.”
“Bukan jamuran seperti itu maksudku.” Basman mulai berpikir si rusa agak kurang daya pikirnya.
“Bukan jamur seperti itu?.” tanya si rusa.
“Bukan. Sama sekali bukan.”
Terjadi keheningan sebentar, dan si rusa bicara lagi. “Aku mengerti.”
“Mengerti apa?” Tanya Basman.
“Kamu akan bosan menungguku. Jadi lebih baik kamu pulang dulu ke rumah. Nanti balik lagi ke sini.”
Mendengar hal itu, Basman menarik kembali anggapannya mengenai daya pikir rusa.
Lalu Basman pamit pergi.
“Hati hati,” teriak si rusa, “salam buat istrimu.”
“Aku belum punya istri.”
“Oh, kalau gitu salam buat anakmu.”
Basman terhenti, apakah rusa ini benar benar bodoh? Tanyanya dalam hati.
“Heuheuheu, aku becanda..” Basman ikut tertawa. Tentu saja ia becanda, pikirnya. Kemudian si rusa berkata lagi, “maksudku aku nitip salam buat cucumu.”
Basman tidak menjawabnya. Pun ketika si rusa berteriak “hei, aku serius, salam buat cucumu ya!”

Dua hari kemudian, Basman kembali ke tempat itu. Asap telah hilang. Berarti si rusa telah berubah jadi pangeran. Basman mencari sosok pangeran itu. Basman melihat ada yang datang dari balik pohon, dan berkata kepada Basman. “Halo, kita bertemu lagi.”
Alis Basman tertarik ke atas. “Siapa kamu?”
“Aku si rusa. Sekarang aku sudah berubah.”
“Itu dusta.”
“Tidak. Aku si rusa yang kemarin kamu tolong.”
Basman menolak kenyataan itu. Di depannya berdiri sosok pangeran yang berbeda jauh dari bayangannya. “K-kemarin katanya kamu akan berubah jadi pangeran?”
“Iya, aku pangeran.”
“T-tapi kamu kan babi?”
“Lha iya, aku kan pangeran babi.”
Basman tak bisa berkata apa apa. Shock.

Maaf kalau ceritanya kepanjangan. Nanti ada terusannya kok. Jadi begini, kondisi Basman sama gue setelah membaca buku ini agak agak mirip. Bedanya, gue enggak ketemu rusa yang bisa ngomong. Bedanya gue enggak lagi di hutan. Persamaanya, sama sama ketemu hal yang tidak terduga, tapi kemudian bahagia. Memang cerita di atas, Basman belum terlihat bahagia, tapi nanti. Semua akan indah pada waktunya, begitu kira kira.
Yang gue maksud dengan ketemu hal yang tidak terduga yaitu gue lagi ngomogin cerita di buku Her Sunny Side. Mulanya memang agak datar, tapi menjelang ending, twistnya buat gue keren. Gue sama sekali enggak bisa nebak. Somehow gue jadi inget Haruki Murakami, sama Hayao Miyazaki.
Pokoknya endingnya sukses menjungkir balikan prediksi jalan cerita yang gue pikir bakal berakhir klise.

Kalau sudah jodoh, nanti bakal ketemu di pelaminan. Kalau enggak jadi pengantinnya, ya jadi tamunya  gitu ya. Ungkapan itu (kayaknya) cocok dengan kondisi Okuda Kosuke yang kembali bertemu dengan teman masa kecilnya, Watarai Mao. Pertemuan itu membuat Okuda Kosuke kembali mengenang ke masa dimana ia dan Mao pernah menjadi teman sekolah. Waktu itu, Kosuke sering membantu gadis itu dalam hal pelajaran, karena Mao tidak terlalu pintar. Tapi 10 tahun kemudian, setelah Kosuke bertemu lagi dengan Mao, gadis itu telah berubah. Keduanya lalu menjadi dekat, dan akhirnya memutuskan untuk menikah.

Tapi, ada sesuatu tentang Mao yang Kosuke tidak tahu. Rahasia Mao pun perlahan terungkap. Dan, kesungguhan cinta Kosuke pun diuji.

Buku yang punya judul asli, Hidamari no Kanojo ini tidak terlalu mengumbar konflik, bahkan cenderung biasa saja. Sebagian besar menceritakan keseharian pasangan baru itu. Mungkin bagi yang mengharapkan kisah yang mengharu biru bakal kecewa. Kisah cinta mereka dituturkan secara sederhana, ringan, dan manis. Buku ini juga sudah difilmkan dengan judul The Girl In The Sun, dimana Watarai Mao diperankan oleh Ueno Juri.

Pada akhirnya, hal yang paling menarik dari buku ini adalah endingnya. Koshigaya Osamu berhasil memberikan kisah cinta yang unik, sebuah slice of life dengan ending yang tiada duanya. Magical, menurut gue. Tapi, gue juga punya pemikiran kalau endingnya itu tergolong love and hate ending. Kalau suka ya bakal suka sekali, kalau enggak suka, bakalan protes; apa sih ini!

Dan yang terakhir, gue mau nerusin cerita Basman. Tinggal dikit.
Basman akhirnya menerima kenyataan, dan memilih pulang. Di perjalanan pulang ia bertemu dengan gadis berambut singa; rambutnya awut awutan mirip singa. Gadis itu menghampiri Basman.
“Kamu lihat rusa?”
Basman berhenti. “Rambutmu kenapa?”
“Aku tanya sekali lagi, kamu lihat rusa?”
“Aku juga tanya sekali lagi. Rambutmu kenapa?”
Gadis itu mendengus kesal. “Jawab dulu pertanyaanku!”
Basman enggak mau kalah. “Pertanyaanku dulu lah.”
“Aku dulu!”
“Aku dulu!”
“Aku dulu!”
“Aku dulu!”

Empat jam lima belas menit dua puluh detik kemudian.

“Aku capek,” kata gadis itu, “baiklah aku aku jawab pertanyaan kamu.”
“Iya, aku juga capek. Aku juga akan menjawab pertanyaan kamu.”
“Aku dulu yang jawab ya.”
“Aku dulu aja yang jawab.”
“Aku dulu!”
“Aku dulu!”
“Aku dulu!”
“Aku dulu!”

Tiga jam dua puluh sembilan menit empat puluh detik kemudian, gadis itu yang pertama menjawab setelah keduanya melakukan suit. Dan, satu jam kemudian mereka mulai akrab. Dan bertahun tahun kemudian mereka tetap bersama sama, setelah gadis itu mengajak Basman untuk bergabung menjadi agen rahasia AAB Corp. Nama gadis itu Jingga.

Judul: Her Sunny Side
Penulis: Koshigaya Osamu
Penerbit: Haru
Tebal: 224 hlm
Rate: 3,75

Read Full Post »

lovetime

Bila cinta datang memelukmu, sambutlah dengan suka cita meski nanti tentakel tentakelnya akan menghisap hidupmu dengan penuh duka lara. Tapi, satu hal yang pasti terjadi ialah, cinta selalu menyenangkan pada mulanya, selanjutnya terserah bagaimana nantinya. Meski masih muda dan minim pengalaman, tapi Florentina Ariza telah menetapkan hatinya untuk mencintai Fermina Daza, perempuan yang ia temui kala ia mengantarkan telegram kepada salah satu pelanggan. Fermina Daza sedang mengajari bibinya membaca ketika terlihat oleh Florentina Ariza, dan lope lope serentak terbang di udara. Florentina Ariza jatuh cinta tanpa syarat padanya. Keadaan menjadi lebih menyenangkan ketika perempuan itu juga menaruh hati pada Florentina Ariza. Dan ketika pada suatu hari Florentina Ariza mengajaknya menikah, Fermina Daza menyetujuinya.

Seharusnya ini akan menjadi kisah yang bahagia seandainya mereka benar benar menikah. Fermina Daza tiba tiba memutuskan begitu saja hubungan cintanya dengan laki laki itu. Hati Florentina Ariza pun terluka, tanpa tahu alasan mengapa perempuan itu tega melakukan hal
itu. Meskipun demikian, rasa cinta yang dimiliki Florentina Ariza ternyata tidak berubah.
Bahkan ketika Fermina Daza memutuskan untuk menikahi Dr. Juvenal Arbino dari golongan yang terpandang, Florentina Ariza malah menemukan sebuah harapan baru, sebuah mimpi khayali yang terlahir dari kepedihan hatinya, yaitu bahwasanya ia akan menunggu Fermina Daza sampai ia berpisah dengan suaminya. Sebuah gagasan yang romantis, sekaligus menyedihkan.
Menunggu seorang perempuan menjadi janda dan mau menikah lagi tentunya berbeda dengan kegiatan menunggu yang lain, dengan batas waktu yang tidak bisa ditentukan. Tapi sudah pasti menyakitkan.
Tapi Florentina Ariza menemukan cara bagaimana agar ia dapat mengurangi rasa sakitnya, yaitu dengan bercinta dengan perempuan lain. Dan selama setengah abad masa menunggunya, ia telah bercinta dengan lebih dari enam ratus perempuan yang ia simpan dalam sebuah dokumentasi pribadi yang diberi judul Perempuan Perempuan. Semuanya berjumlah dua puluh lima jilid dalam format buku, bukan .3gp. Ya kali!
Sementara itu kehidupan terus berjalan. Fermina Daza menjalani mahligai rumah tangganya dengan bahagia dengan suami beserta anak anak mereka.

Banyak yang bilang bahwa Love In The Time Of Cholera merupakan kisah cinta yang hebat, yang agung dan segala bentuk pujian yang lainnya. Tapi saya tidak setuju. Terlalu menggelikan. Mungkin Florentina Ariza memang memutuskan menunggu Fermina Daza, tapi ia juga sering meniduri perempuan lain. Mungkin ia melakukan hal itu dalam upayanya untuk mengatasi kepedihan hatinya akibat ditinggal kawin dengan Fermina Daza. Please deh!!. Memangnya tidak ada cara lain? Enam ratus perempuan lho. Saya pikir ini tidak bisa digolongkan sebagai bentuk kisah cinta yang agung. Justru ironis. Ketika Florentina Ariza berusaha untuk menjunjung tinggi kedudukan Fermina Daza sebagai mahkota
hatinya, tapi di sisi lain ia juga menganggap remeh perempuan yang hanya ia jadikan alat pelampiasan belaka. Semuanya dilakukan dengan suka sama suka sih, tapi tetap saja salah. Bayangkan saja kalau di usia tuamu, ada seorang yang mengaku telah menunggumu sepanjang
hidupnya, dan berkata bahwa ia mencintaimu.

Aku mencintaimu. Aku telah menunggumu selama lima puluh tahun.
Benarkah? Pas lagi nunggu kamu ngapain aja?
Mm.. bercinta dulu dengan enam ratus perempuan. Abis aku sakit hati sih ditinggal kawin kamu.
Apaa!! Enam ratus perempuan!!! *mata melotot* *zoom in zoom out!* *kepotong iklan*

Dari ilustrasi di atas apakah kamu masih menganggap kisah Florentina Ariza hebat? Kalau iya, berarti kita punya penilaian yang berbeda. Florentina Ariza seharusnya mampu untuk mengendalikan birahinya, dan berani memilih cara yang berbeda dalam mengatasi kepedihan
cintanya. Sayang sekali memang. Karena hal inilah yang menjadi penyebab mengapa saya menjadi tidak simpatik kepada Florentina Ariza. Rasa simpatik saya semakin berkurang ketika sampai pada satu kisah tentang salah satu perempuan yang ditidurinya, dimana perempuan itu masih sangat belia, yang sebenarnya tak lain dan tak bukan adalah..ehm..adalah..
*sfx: jeng jeng jeng jeng* *kepotong iklan lagi*

Komentar saya cuma satu: busyet ini aki aki!!

Love In The Time Of Cholera memang tidak sepenuhnya bercerita tentang kepedihan Florentina Ariza, tapi juga mengenai kehidupan Fermina Daza dan siapa sebenarnya Dr. Juvenal Arbino yang menjadi suaminya. Meski dari luar nampak bahagia, sebenarnya ada gelombang gelombang
besar yang menghalangi biduk rumah tangga mereka. Dr. Juvenal Arbino adalah seorang dokter yang disegani oleh masyarakat. Ia mengeluarkan kebijakan kebijakan untuk mengatasi wabah kolera yang sedang menjangkiti tempat itu. Dr. Juvenal Arbino juga mengenal baik
Florentina Ariza meski ia tidak tahu tentang kisah yang terjadi antara Florentina Ariza dengan istrinya.

Salah satu kisah penting dalam rumah tangga Dr. Juvenal Arbino dengan Florentina Ariza menjadi pembuka buku ini. Iya, buku ini menganut alur campuran. Masa kini, ke masa lalu, kembali ke masa kini, dan masa depan. Agak surprises sih, karena saya pikir kisah pertemuan Florentina Ariza dan Fermina Daza yang menjadi pembuka sehingga saya akan mendapatkan kesempatan untuk menebak nebak apakah Florentina Ariza akan menikahi Fermina Daza atau tidak. Keadaan ini sedikit banyak mempengaruhi dalam hal kenikmatan membaca.
Karena di awal saya sudah terlanjur mengetahui bahwa Fermina Daza menikah dengan orang lain, sementara di bagian selanjutnya justru menceritakan tentang pertemuan awal Florentina Ariza dengan Fermina Daza.

Buku ini terbagi menjadi enam bab dari lima ratus enam ratus tujuh puluh dua total halaman. Yang menjadi masalah ialah buku ini ditulis dengan kalimat yang panjang panjang dan minim dialog. Dialog biasanya ditemukan setelah beberapa lembar deskripsi, itu pun bukan contoh dialog yang panjang. Paling hanya beberapa patah kata saja. Ditambah lagi dengan penempatan catatan kaki yang diletakkan di bagian akhir tiap tiap bab, bukannya langsung di bagian bawah tiap tiap halaman. Ini sedikit merepotkan karena saya harus membolak balik halaman akhir tiap bab ketika menemukan kata yang asing.

Buku ini telah gagal memenuhi harapan saya akan sebuah kisah cinta yang agung. Tapi masih ada beberapa bagian yang menurut saya menarik. Di antaranya ialah mengenai penderitaan Florentina Ariza yang bukan karena kecintaannya kepada Fermina Daza, melainkan kecintaannya kepada rambut kepala. Ia terancam botak. Ia pun telah mencoba berbagai macam ramuan yang pada akhirnya membuat kepalanya terserang penyakit aneh.
Kemudian mengenai syarat yang diajukan Fermina Daza ketika ia menerima lamaran Florentina Ariza. Syaratnya nge-twist abis. Simple. Enggak sampai menyuruh agar dibuatkan seribu candi, atau cincin berlian. Saya tidak akan memberitahu apa alasannya, tapi cluenya adalah: ada hubungannya dengan buah terong.
Hm, kira kira apa yaa?

Lalu ada satu qoute yang menurut saya bisa menjadi semacam penghiburan, untuk membesarkan hati mereka yang saat ini telah meniti jalan terjal bernama patah hati. Qoute ini merupakan sebuah pesan ayah Florentina Ariza ketika melihat putranya sedang galau maksimal.

“Nikmatilah sekarang, saat kau masih muda, dan menderitalah sekuat kuatnya,” begitu yang dia katakan pada anaknya,” karena perasaan seperti ini tidak akan berlangsung sepanjang hidupmu.”

Pernyataan ini secara tidak langsung telah menjadi semacam penegasan bahwa tidak apa apa menjadi orang galau. Bahwa tidak ada jalan yang salah dalam percintaan, sekalipun itu menyakitkan.

Poster Film

Love In The Time Of Cholera cocok dibaca oleh mereka yang merindukan kisah cinta yang tak biasa. Jika sedang tidak mood untuk membaca, bisa juga mencicipi filmnya terlebih dahulu. Film Love In The Time Of Cholera disutradarai oleh Mike Newell pada tahun 2007, setelah sebelumnya beliau menyutradarai sebuah film adaptasi Harry Potter and the Goblet of Fire. Florentina Ariza diperankan oleh aktor Javier Bardem. Fermina Daza oleh artis Italia, Giovanna Mezzogiorno, sementara Dr.Juvenal Arbino oleh Benjamin Brat.
Sayangnya, saya belum sempat menonton filmnya sehingga tidak tahu apakah filmnya mampu menggambarkan apa yang ada di dalam buku dengan baik atau sebaliknya.

 

Cast Film

Cast Film

Judul: Love In The Time Of , diterjemahkan menjadi Cinta Sepanjang Derita Cholera
Penulis: Gabriel Garcia Marquez
Penerbit: Selasar Surabaya Publishing
Jumlah Halaman: 672

Rate

Rate

 

Read Full Post »

coming home

19 cm.  Ada yang tahu ini ukuran panjang benda apa?  Yap, itu adalah ukuran panjang buuuu…..
Eh, tunggu dulu, mari kita teriakan bersama sama:  BUUU….KUUUUUU..

Pertanyaan selanjutnya, buku apa itu? Buku itu diberi judul Coming Home, karya penulis Sefryana Khairil. Ukuran lengkapnya panjang 19 cm, dan lebar 13 cm. Panjangnya hanya serentangan tangan orang dewasa, membuat buku itu terlihat sempurna; tidak terlalu besar
atau kecil. Belum lagi apabila melihat design cover yang teduh di mata. Sebuah sarang burung yang teronggok pada beberapa ranting
pohon. Sarang burung itu kosong, seolah olah menantikan sang penghuni untuk pulang padanya. Cocok sekali bukan dengan judul buku
ini? Pulang ke rumah.

Mengapa sarang burung, bukan sarang  yang lain, sarang semut  misalnya? Sarang burung akan terlihat lebih indah dari pada sarang semut, juga barangkali hal itu terkait dengan peribahasa sejauh jauhnya burung terbang, suatu saat akan kembali ke sarangnya, kecuali yang tidak. Kemudian, cover buku ini disempurnakan oleh pemilihan kertas yang tidak biasanya. Kertasnya licin, tapi ketika jemari saya meraba raba, ada sensasi menggelitik di sana. Semacam geli geli nikmat. Hal itu disebabkan oleh tekstur permukaan kertas yang bergelombang kecil dan rapat. Tapi, sensasi menggelitik itu agak hilang manakala digosokkan ke pipi. Saya belum mencobanya ke bagian tubuh yang lain, karena kesannya kok kurang kerjaan banget yaaaa…

Nah, bisa disimpulkan bahwa sepanjang sejarah kehidupan saya, inilah buku paling menarik ditinjau dari bentuk fisiknya. Bagaimana
dengan isinya?

Amira sama sekali tidak menduga bahwa ia akan kembali bertemu Rayhan, mantan suaminya. Waktu itu Amira sedang mengajar di sebuah Taman Kanak Kanak, ketika laki laki itu datang ingin menyekolahkan Raisa Kirana, anak perempuan semata wayangnya. Dalam sekejap, hatinya dihinggapi kepedihan, lukanya berdarah kembali. Amira mengenang Rayhan sebagai lelaki yang dahulu memberikan kebahagiaan dalam sebuah ikatan perkawinan, sebelum datang perempuan lain. Amira mengalah meski hatinya hancur. Kemudian perlahan berusaha menata kehidupannya kembali. Mengalihkannya kepada keceriaan anak anak dengan menjadi guru TK. Tapi, mengapa ia harus bertemu lagi dengan laki laki itu?

Sebenarnya Rayhan juga tak kalah kagetnya ketika bertemu dengan Amira, mantan istrinya itu. Ia hanya ingin mendaftarkan Nana, panggilan Raisa Kirana, di Taman Kanak Kanak. Perasaan bersalah kemudian merebak di dalam hatinya. Ia tahu bahwa ia sudah menyakiti hati perempuan itu. Ia lebih memilih Elsa, perempuan ketiga yang menjadi alasan ia menceraikan Amira, sekaligus ibu dari Nana. Tapi ia sudah mendapatkan hukumannya; Elsa meninggal dunia. Sekarang hanya tinggal dirinya dan Nana saja.

Nana yang akhirnya bersekolah di tempat Amira mengajar membuat kedua orang itu sering bertemu. Rayhan sebenarnya ingin meminta maaf. Tentu saja tidak mudah. Luka yang ia tinggalkan sudah terlalu dalam. Sementara itu hubungan antara Nana dan Amira semakin erat seiring dengan kebersamaan yang mereka dapatkan.
Apakah Amira akan memaafkan Rayhan? Apakah kedua orang itu akan bersatu kembali?

Buku yang telah naik cetak hingga dua kali ini ternyata memiliki tingkat kemuraman yang cukup tinggi. Barangkali karena ternyata ,menurut saya, buku ini bukan menceritakan ‘bagaimana memunculkan cinta’ yang ditonjolkan melainkan ‘bagaimana memaafkan dan menerima kembali orang yang telah membuat kita tersakiti’. Hal itu tidak mudah. Sulit. Karena hati yang tersakiti akan lebih lama sembuhnya, meski sudah ada permintaan maaf. Karena apabila diibaratkan hati yang tersakiti itu seperti kue apem yang ditusuk besi lancip, maka meminta maaf hanya akan mencabut paku lancip dari kue apem, sementara lubangnya akan tetap menganga. Inilah yang membutuhkan waktu dan pengorbanan yang tidak kecil, karena lubang itu tidak akan pernah kembali menutup seperti semula. Keadaan inilah yang sedang dialami oleh Amira. Kue apem, eh hatinya telah disakiti oleh Rayhan.
Kegamangan hati Amira diceritakan oleh Sefryana Khairil dengan melimpah, penuh dengan deskripsi perasaan yang sedang dialami oleh Amira, sehingga seolah olah saya juga ikut merasakannya juga.

Bayangan bayangan kembali menyapu nyapu benaknya di antara keraguan dan ketakutannya. Dinging dinding kamar mandi menyelimutinya, membekukan sekujur tubuh. Kepedihan yang tajam menusuk nusuk batinnya. Hening menebarkan kehampaan. Otaknya kosong. Ia tidak sanggup memikirkan atau merasakan apa pun. Kepalanya berdenyut. Tubuhnya nyeri.

Keresahan yang dialami Amira rupanya juga terjadi kepada Rayhan meski dalam konteks yang berbeda, dan diceritakan dalam porsi yang sama banyaknya. Barangkali inilah yang menyebabkan berkurangnya momen momen romantis di dalam buku ini. Dan romantisme dalam buku ini tidak membuat saya tersenyum, saya diam saja. Tapi tentu ini bukan salah siapa siapa, karena penilaian seseorang untuk menentukan kadar keromantisan tidaklah sama. Bisa saja, bagi orang lain justru malah terkesan sangat romantis sehingga pipinya ikut merona tersipu malu dan tersenyum dengan menawan sementara didalam hatinya berteriak ceria; ih..co cwiiitttt!!!! Sambil geleng geleng kepala pula. Tapi enggak guling guling.

Untunglah romantisme yang tidak terlalu menggeletar itu tidak sampai mengganggu kesyahduan saya dalam menyelesaikan buku ini.
Masih ada hal lain yang justru lebih menyita perhatian saya. Itu adalah hubungan antara Amira dengan Nana, atau pun Rayhan dengan
Nana. Ada banyak kehangatan yang terpampang nyata di sana. Ketika Amira membantu Nana membuat daun, makan es krim, mendongeng dan yang lainnya.

“Bu Guru, es krimnya rasa apa?” tanya Kirana.
“Mint.” Amira menggeser gelasnya ke Kirana. “Mau?”
“Mint itu rasanya kayak apa?” Kirana melihat es krim dalam gelas Amira yang belum banyak berubah bentuknya itu.
“Mint itu dingin, Sayang. Ada pedesnya kayak permen,” ujar Rayhan.
Kirana penasaran dengan es krim itu. Ia menyendoknya sedikit dan wajahnya mengerut. “Rasanya aneh.”

Coming Home mengantarkan kisahnya dengan membawa pembaca untuk  menyelami perasaan perasaan tokohnya melalui sudut pandang orang ketiga yang diawali dengan sebuah kutipan lagu pada setiap permulaan bab. Dua puluh tiga bab. Dua puluh tiga kutipan lagu. Wake Me Up When September Ends dari  Green Days, Remember When It Rained dari Josh Groban, Because I Love You nya Lionel Richie, dan lagu yang lainnya. Lagu lagu itu secara tidak langsung bisa dikatakan sebagai soundtrack yang bisa kamu dengarkan ketika sedang  membaca buku ini. Barangkali akan lebh terasa feel-nya.

Pada akhirnya, Coming Home mampu tampil sebagai sajian kisah yang muram, meski dengan jalan cerita yang lumayan klise dan bisa ditebak di beberapa bagian, tapi percikan kecil kehangatan yang terjalin mampu menjadikan buku ini lebih mudah untuk disukai. Tiga bintang untuk buku ini.

Judul Buku: Coming Home
Penulis: Sefryana Khairil
Penerbit: Gagas Media
Jumlah Halaman: 318

Read Full Post »

Aku pulang ke rumah dalam keadaan lebih miskin beberapa ratus dolar, tapi lebih kaya dengan lebih banyak buku daripada yang bisa kubawa. Ini adalah kalimat yang diucapkan Sara Gruen setelah ia membeli duplikat buku buku langka di Ringling Circus Museum. Waktu itu ia sedang mengadakan riset untuk sebuah buku yang akan ia tulis. Berbulan bulan kemudian, ia berhasil menyelesaikan buku itu, yang ia beri judul Air Untuk Gajah.

Air Untuk Gajah, apabila dimaknai secara lugas tentu saja mempunyai arti yang biasa saja. Apa menariknya memberi air untuk seekor gajah? Meski kita belum tahu apakah air itu untuk minum, atau untuk mandi, gosok gigi, keramas, atau buat cebok, tapi tetap saja hal itu tidak begitu menarik. Untunglah, judul buku ini ternyata hanyalah sebuah idiom, ungkapan yang mempunyai arti kurang lebih melakukan pekerjaan yang berat. Pekerjaan berat apa itu? Yang jelas sih, bukan manggul gajah sambil kayang loh ya kakak. Ciyus. Miapah.

Tokoh utama buku ini ialah seorang laki laki jomblo, ganteng, dan calon dokter hewan tapi bukan saya, melainkan Jacob Jankowski yang sedang stress karena seminggu sebelum ujian akhir dokter hewan, kedua orang tuanya meninggal dunia. Jacob kemudian memutuskan pergi dari rumah dan ketika ia sedang berjalan di tepi rel kereta api, melintaslah sebuah kereta api, dan ia langsung melompat ke dalamnya.
Ternyata kereta api itu adalah sebuah rombongan sirkus Benzini Bersaudara Pertunjukan Paling Spektakuler di Dunia, milik Paman Al yang ambisius dan lebih mementingkan kepentingan hewan hewan miliknya dari pada kepentingan para pekerjanya. Sampai sampai ia tega melempar orang orang yang ia anggap sudah tidak berguna lagi dari dalam gerbong kereta api ketika sedang melaju kencang.
Jacob kemudian menjadi dokter hewan bagi rombongan sirkus itu atas rekomendasi August, seorang kepala pertunjukan yang mempunyai sifat unik, yaitu ia bisa menjadi orang yang sangat baik tapi ketika marah ia kan berubah menjadi sangat mengerikan. August mempunyai istri bernama Marlena, seorang bintang pertunjukan sirkus yang berhasil menawan hati Jacob. Apakah Jacob akan berhasil mendapatkan hati Marlena? Bagaimana reaksi August kepada Jacob?

Kisah perebutan cinta macam ini barangkali klise, dan mudah untuk ditebak, tapi masih ada cerita lain yang menarik untuk disimak. Tentang Rosie misalnya. Rosie ialah gajah betina yang baru saja dibeli oleh Paman Al untuk melengkapi koleksinya, dan ia adalah seekor gajah yang bandel dan tidak mau di atur ( sebagai contoh Rosie tega memakan sayuran milik penduduk sekitar ), hingga kemudian diketahui sebuah cara untuk membuatnya menjadi gajah yang penurut. Sangat penurut, hingga Rosie akan benar benar mengangkat kaki apabila disuruh untuk mengangkat kaki.
Juga kisah mengenai bagaimana kehidupan sebenarnya di balik megahnya sebuah sirkus. Bagaimana menyedihkannya para pekerja ketika gajinya ditunda karena sepi penonton. Bagaimana memprihatinkan kondisi hewan hewan yang terpaksa memakan makanan yang tidak layak, atau terpaksa dipotong demi kelangsungan hidup hewan lainnya.

Air Untuk Gajah bukanlah sebuah buku yang rumit untuk diikuti, meski ditulis dengan menggunakan dua pendekatan yang berbeda, yaitu melalui cerita Jacob pada waktu masih muda, dan Jacob ketika lanjut usia. Dan, jujur saja, cerita Jacob tua sedikit tidak menarik karena hanya berisi keresahan dirinya menghuni panti jompo, sedang ia merasa masih cukup kuat untuk melakukan kegiatannya sendiri.
Kedua pendekatan ini, diceritakan secara bergantian sehingga alurnya terkesan maju dan mundur, dan menurut saya hal itu sangat tepat karena apabila buku ini ditulis dengan alur maju, maka ketika tiba pada bagian Jacob tua, akan terasa membosankan.
Di dalam buku ini juga terdapat foto foto asli milik Ringling Circus, sebuah kelompok sirkus yang ada di dunia nyata, dan dalam buku ini juga diceritakan merupakan saingan dari kelompok sirkus Benzini Bersaudara, dan juga foto kelompok sirkus yang lainnya.

Pada akhirnya Air Untuk Gajah mampu memberikan sebuah cerita yang kompleks, cinta segitiga, atraksi sirkus menakjubkan, gajah yang cerdas,  kekejaman serta tumpahan darah, yang menjadi sebuah ironi dari gemerlapnya panggung sirkus, tanpa membuat kening saya berkerut. Dan, buku ini pantas mendapat rating 4, dari 5 bintang. Buku ini juga telah diadaptasi menjadi film pada tahun 2011, dibintangi oleh Robert Pattinson sebagai Jacob, dan Reese Witherspoon, sebagai Marlena, dan gajah sebagai RosieTapi, saya belum nonton filmnya. #persoalan

Judul: Air Untuk Gajah
Penulis: Sara Gruen
Jumlah Halaman: 506
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Read Full Post »

Older Posts »