Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘detektif’

Film ini diadaptasi dari buku detektif karangan penulis terkenal Agatha Christie. Salah satu keunggulannya ialah jalan cerita yang tidak mudah tertebak. Saya belum baca bukunya, tapi sudah menonton film versi jadulnya, dan ya, endingnya cukup mengejutkan. Nah, kalau saya sudah tahu jalan ceritanya, mengapa saya masih menonton versi terbaru ini? Kenapa hayo?? Jawabannya, karena saya pengen nonton. Jawaban yang singkat dan sederhana. Kecuali saya ditanya, kenapa eh kenapa minuman itu haram? Maka saya akan menjawab; karena eh karena… merusak pikiran. Ha ha haaaa.. yeaahh!!

Ternyata Murder on the Orient Express terbaru ini lebih asik ketimbang versi yang dahulu itu. Sinematografinya lebih cuamik, tidak hanya menyorot bagian dalam gerbong kereta namun juga view dari kejauhan. Beberapa adegan juga lebih terasa lonjakannya. Saya suka dengan openingnya, ketika Hercule Poirot bicara di depan ratusan orang di depan tembok ratapan. Kesannya epik sekali. Juga para pemainnya yang sebagian besar sudah punya nama. Ada Johny Deep yang lumayan berhasil melepaskan image bajak lautnya. Daisy Ridley yang tampil klasik dan cantik. Bagaimana dengan si detektif sendiri? Kenneth Branagh memerankannya dengan baik sekali. Jauh dari bayang bayang versi yang dahulu. Saya belum membaca bukunya jadi tidak bisa bandingin, tapi yang jelas versi terbaru ini akan memberikan kesan tersendiri di benak penonton. Gayanya yang semau sendiri saking pinternya mungkin. Kadang nyentrik. Yang cukup mengejutkan ialah, ternyata beliau cukup lucu meski ia sama sekali tak berniat melucu. Bahkan ia tak pernah bohong, tapi kata katanya bisa bikin tertawa. Enggak sampai ngakak sih. Inilah mungkin yang dinamakan lawakan yang hakiki; tidak perlu bohong untuk membuat orang tertawa. Dan, jangan lupa kumisnya juga ya. Kumisnya yang sekarang lebih panjang ketimbang versi yang lama. Katanya sih, agar lebih mendekati dengan bukunya.

Film ini juga lebih kena dramanya. Saya enggak menyebutkan yang mana saja, karena akan spoiler. Tegangnya juga lebih terasa, apalagi bagian menuju pungkas. Yang jelas, film ini akan memuaskan mereka yang sudah menonton film jadulnya. Buat mereka yang sudah baca bukunya, rasanya film ini tidak akan mengecewakan. Malah kudu ditonton. Buat penonton secara umum juga sepertinya akan menyukainya. Cara cara Hercule Poirot untuk menemukan siapa pembunuhnya asik untuk disimak. Tapi buat yang mengharapkan banyak aksi yang mendebarkan, sepertinya akan sedikit kecewa. Film ini lebih banyak ngobrolnya. Ngobrol seru.

Murder on the Orient Express sepertinya akan menjadi titik awal franchise Hercule Poirot. Di film ini disinggung kasus pembunuhan lain di Sungai Nil. Ini bisa jadi merujuk pada judul buku Agatha Christie yang lain, Death on the Nile. Dan tidak menutup kemungkinan buku buku yang lainnya pun ikut menyusul. Fans Agatha Christie pasti senang ya. Saya juga ikut senang, walau bukan fansnya. 

Film ini bercerita mengenai sepak terjang detektif terbaik dunia, Hercule Poirot dalam mengungkap pembunuhan yang terjadi di dalam kereta api yang ia tumpangi. Beberapa orang pun ia curigai. Orang orang dengan latar belakang yang berbeda beda. Hingga kemudian penyelidikannya mengantarkannya pada sesuatu yang mengejutkan. Kasus tersebut berbeda dengan kasus yang ia kerjakan sebelumnya. 

Murder on the Orient Express yang terbaru ini mampu menghibur lebih dari yang saya harapkan. Ia punya cerita yang membikin saya penasaran lagi meski saya sudah tahu ceritanya, ditambah sedikit aksi dan drama yang cukup menyentuh. Dan ada pelajaran yang bisa saya dapatkan di film ini. Yaitu bagaimana saya sebaiknya bersikap manakala kaki saya tak sengaja menginjak tahi. Boleh tahi kuda, tahi kebo, tahi kucing, tahi ayam, asal jangan tahi lalat saja. Nanti yang punya marah. Sewaktu menginjak tahi, janganlah mengumpat. Cukup terkejut, dan berkatalah; hmm.. ini tentang keseimbangan..( ini akan membuatmu terlihat smart) kemudian, injaklah tahi itu dengan kaki satunya yang bebas dari tahi. Jadi dua duanya kena tahi. (Ini akan membuatmu terlihat murah hati.) (Atau sinting) (lol) Tapi menginjak tahi juga harus disyukuri, ketimbang menginjak ranjau, atau menginjak ekor kucing.

Murder on the Orient Express | Dir: Kenneth Branagh | Cast: Kenneth Branagh, Daisy Ridley, Johnny Deep, Penelope Cruz, Michelle Pfeiffer, Judi Dench, William Dafoe | Rate: 3.5

Advertisements

Read Full Post »

dekutburugnkukut

Lula Landry ditemukan tewas terjatuh. Polisi menetapkannya sebagai bunuh diri. Beberapa bulan kemudian, John Bristow, kakaknya mendatangi Cormoran Strike, seorang detektif partikelir, untuk mengusut kematian Lula Landry sebab ia kukuh pada pendiriannya bahwasanya adik perempuannya itu mati dibunuh.

Cormoran Strike, yang sedang paceklik uang akhirnya menyetujui permintaan John Bristow. Kemudian, Strike pun mulai menyelidiki penyebab sebenarnya kematian model terkenal itu dibantu oleh karyawan sementaranya, Robin Ellacott.

Apakah Lula Landry mati dibunuh, atau memang murni bunih diri?

Satu pertanyaan besar itu terus saja berputar mengelilingi kepala, bersamaan dengan beberapa pertanyaan kecil, misalnya apakah alasan Robin mendadak berhenti kuliah psikologi? Apakah akan tumbuh benih benih cinta antara Strike dan Robin? Dan, apakah rambut Strike benar benar seperti jembut?

Novel ini dikarang oleh Robert Galbraith, tapi semua tahu belaka bahwa itu adalah nama samaran milik JK Rowling. Sebagai sebuah novel criminal, The Cuckoo’s Calling tampil dengan tempo yang lambat. Tapi masih dapat untuk dinikmati tanpa rasa bosan.  Robert Galbraith menuliskannya dengan deskripsi yang mampu memikat saya dari awal. Sehingga seperti apa pun jalan ceritanya nanti, tetap bisa saya nikmati.

Kemudian, saya juga menemukan ada beberapa terjemahan yang terbaca lumayan ganjil, dan bikin senyum senyum sendiri.   Tapi saya tak terlalu suka dengan ukuran bukunya yang terlalu besar (mungkin Guy Some akan suka).  Jadi kurang nyaman buat dibawa bawa.

Pada akhirnya, buku ini sedikit kurang mempermainkan emosi pembaca, rasa penasaran yang terbentuk biasa saja, tapi  justru tokoh tokoh di dalamnya mampu tampil tak terlupakan.

Judul: The Cuckos’s Calling / Dekut Burung Kukut
Penulis: Robert Galbraith
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 517
Rate: 4

Read Full Post »