[Review] The Reader

Judul: The Reader (Sang Juru Baca)
Penulis: Bernhard Schlink
Penerbit: Elex Media Komputindo
Jumlah Halaman: 227

Sewaktu sedang berjalan jalan, penyakit kuning Michael Berg kambuh. Ia lalu ditolong oleh perempuan setengah baya bernama Hanna. Keesokan harinya, Michael Berg mengunjungi rumah Hanna. Ia bermaksud untuk mengucapkan terima kasih. Tapi kemudian terjadilah sesuatu, waktu ia tak sengaja melihat Hanna sedang memakai stocking, dan terlihat kakinya. Ia berumur lima belas tahun, dan masih lugu hingga ia langsung kabur keluar dari rumah Hanna.Tapi insiden pasang stocking itu telah begitu mengusik ketenangan hidupnya. Ia penasaran.
Begitulah kemudian ia mulai menemui Hanna lagi, dan tak butuh waktu lama hingga benih benih cinta mulai tumbuh di hati keduanya. Tapi ada sesuatu tentang Hanna yang tidak diketahui oleh Michael Berg.

Pertama kali melihat The Reader, saya langsung jatuh cinta pada covernya. Simple, tapi elegan, dalam balutan warna hitam dan putih. Sebuah buku yang terbuka, dengan sekuntum bunga mawar di atasnya. Buku yang terbuka, berarti sedang dibaca, dan ini tentu saja merujuk pada judul buku ini, The Reader, yang diterjemahkan menjadi Sang Juru Baca. Sementara sekuntum bunga mawar, menurut saya, menggambarkan dualisme makna cinta yang saling kontradiktif satu sama lain. Mahkota mawar sebagai simbol keindahan cinta, sementara durinya melambangkan rasa sakit yang menyertainya. Dan fakta bahwa buku ini termasuk dalam daftar 1001 Buku yang Harus Kau Baca Sebelum Mati, serta ingatan bahwa saya pernah sekali menonton filmnya di masa lalu( meski tak sampai selesai ) membuat saya tak ragu untuk membelinya.

Buku ini ternyata dibagi menjadi tiga bagian. Tiga bagian itu dibagi lagi menjadi beberapa bab. Dalam satu bab, hanya ada beberapa lembar halaman. Tak banyak. Hal itu seharusnya membuat buku ini mudah untuk dibaca, karena ini seperti memisah misah bagian buku menjadi kecil. Seperti memakan kue nastar rainbow (salah satu varian terbaru kue nastar) satu demi satu. Nikmat. Tentu saja, bagi orang yang biasa makan kue nastar langsung satu toples sekaligus, logika ini menjadi tidak valid.
Tapi ternyata kenikmatan itu tidaklah abadi. Memasuki bagian dua, saya tak lagi menikmati buku ini. Bab demi bab yang sedikit itu nyatanya terlalu melelahkan untuk dibaca. Ini karena Bernhard Schlink terlalu bertele tele dalam bercerita. Terlalu asik memainkan pemikiran pemikiran dari Michael Berg, hingga sampai pada titik ga-usah-mikir-gitu-juga-ga-ngaruh. Hal yang seharusnya selesai dalam satu dua kalimat, malah melebar kemana mana.
Ada kalanya hal ini cukup membantu untuk menciptakan chemistry ke dalam tokoh tokohnya, tapi apabila tidak dikerjakan dengan benar, yang terjadi malah sebaliknya. Untunglah, mendekati akhir cerita, saya kembali menemukan kenikmatan membaca buku ini terutama karena jalinan cerita yang tidak mudah untuk ditebak itu.
The Reader mulanya merujuk pada Michael Berg yang kerap membacakan sebuah novel kepada Hanna, sewaktu mereka sedang berdua. Namun maksud ‘The Reader’ ini semakin meluas ketika mendekati ending. Alasan mengapa Hanna kerap memintanya untuk membaca novel inilah yang kemudian menjadi kunci dari segala peristiwa yang terjadi.
Buku ini memang tidak mampu memberikan sesuatu yang mengesankan, sesuatu yang akan saya nikmati ketika sedang membaca, tapi saya lupakan setelahnya. Bahkan dengan aura muram yang biasanya sanggup untuk menyentuh hati itu. Ah ya, buku ini sebaiknya dijauhkan dalam jangkauan anak anak. Karena isinya sanggup untuk membikin orang berpikir yang tidak tidak, terutama pada bagian bagian awal. Dan bagi yang sudah membaca bukunya, dan ingin melihat imajinasinya menjadi kenyataan, maka tontonlah filmnya. Sebab The Reader telah diadaptasi menjadi sebuah film dengan judul yang sama, dan dibintangi oleh Kate Winslet.

Rating 3 of 5