Review: Love In The Time Of Cholera

lovetime

Bila cinta datang memelukmu, sambutlah dengan suka cita meski nanti tentakel tentakelnya akan menghisap hidupmu dengan penuh duka lara. Tapi, satu hal yang pasti terjadi ialah, cinta selalu menyenangkan pada mulanya, selanjutnya terserah bagaimana nantinya. Meski masih muda dan minim pengalaman, tapi Florentina Ariza telah menetapkan hatinya untuk mencintai Fermina Daza, perempuan yang ia temui kala ia mengantarkan telegram kepada salah satu pelanggan. Fermina Daza sedang mengajari bibinya membaca ketika terlihat oleh Florentina Ariza, dan lope lope serentak terbang di udara. Florentina Ariza jatuh cinta tanpa syarat padanya. Keadaan menjadi lebih menyenangkan ketika perempuan itu juga menaruh hati pada Florentina Ariza. Dan ketika pada suatu hari Florentina Ariza mengajaknya menikah, Fermina Daza menyetujuinya.

Seharusnya ini akan menjadi kisah yang bahagia seandainya mereka benar benar menikah. Fermina Daza tiba tiba memutuskan begitu saja hubungan cintanya dengan laki laki itu. Hati Florentina Ariza pun terluka, tanpa tahu alasan mengapa perempuan itu tega melakukan hal
itu. Meskipun demikian, rasa cinta yang dimiliki Florentina Ariza ternyata tidak berubah.
Bahkan ketika Fermina Daza memutuskan untuk menikahi Dr. Juvenal Arbino dari golongan yang terpandang, Florentina Ariza malah menemukan sebuah harapan baru, sebuah mimpi khayali yang terlahir dari kepedihan hatinya, yaitu bahwasanya ia akan menunggu Fermina Daza sampai ia berpisah dengan suaminya. Sebuah gagasan yang romantis, sekaligus menyedihkan.
Menunggu seorang perempuan menjadi janda dan mau menikah lagi tentunya berbeda dengan kegiatan menunggu yang lain, dengan batas waktu yang tidak bisa ditentukan. Tapi sudah pasti menyakitkan.
Tapi Florentina Ariza menemukan cara bagaimana agar ia dapat mengurangi rasa sakitnya, yaitu dengan bercinta dengan perempuan lain. Dan selama setengah abad masa menunggunya, ia telah bercinta dengan lebih dari enam ratus perempuan yang ia simpan dalam sebuah dokumentasi pribadi yang diberi judul Perempuan Perempuan. Semuanya berjumlah dua puluh lima jilid dalam format buku, bukan .3gp. Ya kali!
Sementara itu kehidupan terus berjalan. Fermina Daza menjalani mahligai rumah tangganya dengan bahagia dengan suami beserta anak anak mereka.

Banyak yang bilang bahwa Love In The Time Of Cholera merupakan kisah cinta yang hebat, yang agung dan segala bentuk pujian yang lainnya. Tapi saya tidak setuju. Terlalu menggelikan. Mungkin Florentina Ariza memang memutuskan menunggu Fermina Daza, tapi ia juga sering meniduri perempuan lain. Mungkin ia melakukan hal itu dalam upayanya untuk mengatasi kepedihan hatinya akibat ditinggal kawin dengan Fermina Daza. Please deh!!. Memangnya tidak ada cara lain? Enam ratus perempuan lho. Saya pikir ini tidak bisa digolongkan sebagai bentuk kisah cinta yang agung. Justru ironis. Ketika Florentina Ariza berusaha untuk menjunjung tinggi kedudukan Fermina Daza sebagai mahkota
hatinya, tapi di sisi lain ia juga menganggap remeh perempuan yang hanya ia jadikan alat pelampiasan belaka. Semuanya dilakukan dengan suka sama suka sih, tapi tetap saja salah. Bayangkan saja kalau di usia tuamu, ada seorang yang mengaku telah menunggumu sepanjang
hidupnya, dan berkata bahwa ia mencintaimu.

Aku mencintaimu. Aku telah menunggumu selama lima puluh tahun.
Benarkah? Pas lagi nunggu kamu ngapain aja?
Mm.. bercinta dulu dengan enam ratus perempuan. Abis aku sakit hati sih ditinggal kawin kamu.
Apaa!! Enam ratus perempuan!!! *mata melotot* *zoom in zoom out!* *kepotong iklan*

Dari ilustrasi di atas apakah kamu masih menganggap kisah Florentina Ariza hebat? Kalau iya, berarti kita punya penilaian yang berbeda. Florentina Ariza seharusnya mampu untuk mengendalikan birahinya, dan berani memilih cara yang berbeda dalam mengatasi kepedihan
cintanya. Sayang sekali memang. Karena hal inilah yang menjadi penyebab mengapa saya menjadi tidak simpatik kepada Florentina Ariza. Rasa simpatik saya semakin berkurang ketika sampai pada satu kisah tentang salah satu perempuan yang ditidurinya, dimana perempuan itu masih sangat belia, yang sebenarnya tak lain dan tak bukan adalah..ehm..adalah..
*sfx: jeng jeng jeng jeng* *kepotong iklan lagi*

Komentar saya cuma satu: busyet ini aki aki!!

Love In The Time Of Cholera memang tidak sepenuhnya bercerita tentang kepedihan Florentina Ariza, tapi juga mengenai kehidupan Fermina Daza dan siapa sebenarnya Dr. Juvenal Arbino yang menjadi suaminya. Meski dari luar nampak bahagia, sebenarnya ada gelombang gelombang
besar yang menghalangi biduk rumah tangga mereka. Dr. Juvenal Arbino adalah seorang dokter yang disegani oleh masyarakat. Ia mengeluarkan kebijakan kebijakan untuk mengatasi wabah kolera yang sedang menjangkiti tempat itu. Dr. Juvenal Arbino juga mengenal baik
Florentina Ariza meski ia tidak tahu tentang kisah yang terjadi antara Florentina Ariza dengan istrinya.

Salah satu kisah penting dalam rumah tangga Dr. Juvenal Arbino dengan Florentina Ariza menjadi pembuka buku ini. Iya, buku ini menganut alur campuran. Masa kini, ke masa lalu, kembali ke masa kini, dan masa depan. Agak surprises sih, karena saya pikir kisah pertemuan Florentina Ariza dan Fermina Daza yang menjadi pembuka sehingga saya akan mendapatkan kesempatan untuk menebak nebak apakah Florentina Ariza akan menikahi Fermina Daza atau tidak. Keadaan ini sedikit banyak mempengaruhi dalam hal kenikmatan membaca.
Karena di awal saya sudah terlanjur mengetahui bahwa Fermina Daza menikah dengan orang lain, sementara di bagian selanjutnya justru menceritakan tentang pertemuan awal Florentina Ariza dengan Fermina Daza.

Buku ini terbagi menjadi enam bab dari lima ratus enam ratus tujuh puluh dua total halaman. Yang menjadi masalah ialah buku ini ditulis dengan kalimat yang panjang panjang dan minim dialog. Dialog biasanya ditemukan setelah beberapa lembar deskripsi, itu pun bukan contoh dialog yang panjang. Paling hanya beberapa patah kata saja. Ditambah lagi dengan penempatan catatan kaki yang diletakkan di bagian akhir tiap tiap bab, bukannya langsung di bagian bawah tiap tiap halaman. Ini sedikit merepotkan karena saya harus membolak balik halaman akhir tiap bab ketika menemukan kata yang asing.

Buku ini telah gagal memenuhi harapan saya akan sebuah kisah cinta yang agung. Tapi masih ada beberapa bagian yang menurut saya menarik. Di antaranya ialah mengenai penderitaan Florentina Ariza yang bukan karena kecintaannya kepada Fermina Daza, melainkan kecintaannya kepada rambut kepala. Ia terancam botak. Ia pun telah mencoba berbagai macam ramuan yang pada akhirnya membuat kepalanya terserang penyakit aneh.
Kemudian mengenai syarat yang diajukan Fermina Daza ketika ia menerima lamaran Florentina Ariza. Syaratnya nge-twist abis. Simple. Enggak sampai menyuruh agar dibuatkan seribu candi, atau cincin berlian. Saya tidak akan memberitahu apa alasannya, tapi cluenya adalah: ada hubungannya dengan buah terong.
Hm, kira kira apa yaa?

Lalu ada satu qoute yang menurut saya bisa menjadi semacam penghiburan, untuk membesarkan hati mereka yang saat ini telah meniti jalan terjal bernama patah hati. Qoute ini merupakan sebuah pesan ayah Florentina Ariza ketika melihat putranya sedang galau maksimal.

“Nikmatilah sekarang, saat kau masih muda, dan menderitalah sekuat kuatnya,” begitu yang dia katakan pada anaknya,” karena perasaan seperti ini tidak akan berlangsung sepanjang hidupmu.”

Pernyataan ini secara tidak langsung telah menjadi semacam penegasan bahwa tidak apa apa menjadi orang galau. Bahwa tidak ada jalan yang salah dalam percintaan, sekalipun itu menyakitkan.

Poster Film

Love In The Time Of Cholera cocok dibaca oleh mereka yang merindukan kisah cinta yang tak biasa. Jika sedang tidak mood untuk membaca, bisa juga mencicipi filmnya terlebih dahulu. Film Love In The Time Of Cholera disutradarai oleh Mike Newell pada tahun 2007, setelah sebelumnya beliau menyutradarai sebuah film adaptasi Harry Potter and the Goblet of Fire. Florentina Ariza diperankan oleh aktor Javier Bardem. Fermina Daza oleh artis Italia, Giovanna Mezzogiorno, sementara Dr.Juvenal Arbino oleh Benjamin Brat.
Sayangnya, saya belum sempat menonton filmnya sehingga tidak tahu apakah filmnya mampu menggambarkan apa yang ada di dalam buku dengan baik atau sebaliknya.

 

Cast Film

Cast Film

Judul: Love In The Time Of , diterjemahkan menjadi Cinta Sepanjang Derita Cholera
Penulis: Gabriel Garcia Marquez
Penerbit: Selasar Surabaya Publishing
Jumlah Halaman: 672

Rate

Rate

 

(Review) Innocent Erendira & Other Stories

ERENDIRA

Peluklah…. dirikuuu….sendiri…ho..ho..ho..

Lirik lagu ini memang tak ada di dalam buku yang akan saya review, bahkan barangkali memang tidak bakal ditemukan dimana pun. Lirik lagu ini terngiang begitu saja setelah saya berhasil menyelesaikan buku ini. Saya tersiksa saudara saudara. Buku ini ternyata sedemikian sulit untuk dimengerti.
Marilah kita lihat sama sama ada apa sebenarnya. Buku ini diberi judul Innocent Erendira & Other Stories dengan cover wajah perempuan menutup mulut dan hidungnya, sementara matanya menatap ke atas. Seperti orang menahan tangis, atau malah menahan aroma kentut. Cerita pertama dalam kumpulan cerpen karya penulis Gabriel Garcia Marquez ini berjudul Drama Erendira.
Pertama kali muncul di majalah Esquire, cerpen ini bercerita tentang Erendira, bocah perempuan berumur empat belas tahun yang mengabdikan dirinya untuk mengurus neneknya yang gendut seperti ikan paus. Mereka berdua hidup di dalam sebuah rumah besar yang terpencil di jantung gurun pasir. Suatu ketika, rumah besar itu terbakar hebat. Nyaris tidak menyisakan apa pun. Si nenek menimpakan kesalahan kepada Erendira, dan emaksanya
untuk membayar segala kerugian yang ia derita dengan cara menjadikan Erendira seorang pekerja seks komersil.
Erendira, dengan segala pesona yang dimilikinya berhasil menarik banyak lelaki hidung belang. Keadaan itu tentu saja membuat Erendira menderita. Kondisi fisiknya tidak mampu untuk melayani begitu banyak lelaki di waktu yang bersamaan.

“Nenek,” dia terisak, “aku sekarat.”
Sang nenek meraba dahinya dan begitu tahu tidak ada demam, ia berusaha menghiburnya.
“Hanya tinggal sepuluh prajurit lagi di luar,” katanya.

Najos gandos semelekotos!!

Jawaban si nenek bikin emosi saja. Tapi memang begitulah si nenek, yang ia pedulikan cuma bagaimana agar mendapatkan uang yang banyak sehingga bisa menutupi kerugian yang telah ia derita. Di antara orang orang yang hendak menggunakan jasa Erendira, tersebutlah seorang lelaki muda bernama Ulises. Ulises yang lugu itu pun
kemudian jatuh cinta kepada Erendira, begitu pula sebaliknya. Tapi keadaan Erendira yang tak bisa lepas dari neneknya membuat hubungan mereka menjadi bermasalah. Maka keduanya pun lantas memikirkan bagaimana cara agar Erendira bisa segera terbebas. Nah, berhasilkah rencana mereka berdua?

Cerita yang pada aslinya mempunyai judul The Incridible and Sad Tale of Innocent Erendira and Heartless Grandmother ini adalah salah satunya yang paling saya sukai. Karena kemalangan Erendira telah membuat saya menjadi nelangsa oleh rasa iba yang datang tiba tiba. Karena inilah cerita yang paling mudah untuk dimengerti. Tidak membuat dahi berkerut. Ketika cerita ditulis dengan deskripsi apa adanya, tidak berbelit belit.
Singkatnya, ketika selesai membaca sebuah kalimat, saya akan langsung tahu maksudnya. Sementara untuk cerita yang lain, saya mesti baca lebih dari sekali, dan itu pun masih belum paham. Hmm, barangkali memang otak saya yang belum sampai. Barangkali memang terjemahannya yang susah diterima.

Tiba tiba dia memperhatikan bahwa kecantikan sudah runtuh berantakan pada dirinya, bahwa itu sudah mulai melukainya secara fisik seperti tumor atau kanker. Dia masih ingat bobot hak istimewa yang telah ditanggung oleh seluruh tubuhnya selama masa remaja, yang sudah dilepaskannya sekarang-siapa yang tahu dimana?-dengan keletihan penyerahan diri, dengan gerak isyarat terakhir dari makhluk yang sedang melemah. Sudah tidak mungkin membawa beban itu lebih lama lagi.

Ini adalah pembukaan cerpen Eva di Dalam Kucingnya. Dari judulnya saja sudah absurd. Eva ada di dalam kucingnya. Apakah Eva dimakan kucingnya sendiri, atau Eva punya kemampuan masuk ke dalam tubuh kucingnya? Tapi ternyata tidak demikian. Bahkan sampai pertengahan cerita saya tidak menemukan ada kaitannya dengan kucing. Tapi isinya bergalau ria tentang keadaan tokoh ‘dia’ yang insomnia, tentang bocah laki laki, dan lainnya. Dan ketika sampai pada ending, barulah saya sedikit mengerti apa yang sebenarnya diceritakan. Sedikit. Dan cerita dengan deskripsi model begitu ternyata banyak.

Pada bantal, kepalanya terbenam dalam materi lembut, tubuhnya jatuh ke dalam organ organnya yang beristirahat, kehidupan mempunyai selera horisontal, suatu akomodasi yang lebih baik untuk prinsip prinsipnya sendiri. Dia tahu bahwa dengan usaha minimal untuk menutup matanya, maka tugas yang panjang dan melelahkan yang sedang menunggunya itu menjadi tidak rumit, tanpa ada kompromi dengan waktu atau ruang;tanpa ada perlunya…

Bau pesing keteknya rambo, haduuh pusing booo!! *tibatibangondek*
Beli permen sama koh Amin, ini cerpen judulnya ‘Dialog dengan Cermin. *senyumimut*
Ke Carita makan tahu, ceritanya..enggakk tahuuu!! *monyongmonyong*
Si Nana perutnya kembung, karena bikin bingung. *ngelusngeluskepala*
Si Nana nelen gangsing, karena bikin pusingg. *gedekgedek*
Si Nana ngangkat lemari, busett kuat amatttt *stress*

Yap, cerita dalam buku ini memang bikin stress. Enggak semua memang. Dari dua belas cerita hanya ada tiga cerita yang saya bisa menikmati. Yaitu Drama Erendira, Yang Melampaui Cinta, dan Perempuan Jam Enam. Yang Melampaui Cinta bercerita tentang Senator Onesimo Sanchez yang umurnya tinggal enam bulan sepuluh hari. Ia sedang menyibukkan dirinya dalam sebuah kampanye pemilu. Saat itulah ia bertemu dengan seorang gadis bernama Laura Farina. Laura Farina diutus oleh ayahnya untuk membujuk sang senator agar mau membantu dalam urusannya. Ia akan menyerahkan dirinya untuk sang senator. Tapi, ketika mereka sedang di
atas ranjang, terjadi hal yang sama sekali tidak diduga oleh sang senator.

Sang senator mencumbunya perlahan, mencarinya dengan tangannya, nyaris menyentuhnya, tapi di tempat yang diharapkannya bisa menemukannya, malahan dia berpapasan dengan sesuatu dari besi di tengah jalan.”Apa yang kau punyai di situ?””Gembok,” dia menjawabnya.

Yaahh, digembok ternyata :)) Nah, apakah sang senator bakal bisa membuka gembok tersebut, sementara ia tidak punya kuncinya,dan ia cukup terhormat untuk tidak mencoba membongkar paksa dengan obeng, atau gergaji besi.
Cerita yang menyedihkan sebenarnya. Sang senator yang sebentar lagi mati itu ternyata begitu kesepian. Hal yang menarik ialah cara sang senator untuk menggalang dukungan. Ketika ia sedang pidato di podium menyampaikan program programnya, para pembantunya akan menerbangkan burung burung kertas ke udara, dan akan membuat replika dunia fiksi yang sedang ia janjikan. Dengan ini maka para warga bisa mempunyai gambaran yang jelas. Setelah itu ia akan berjalan jalan menemui warganya dan jika warganya itu kemudian meminta bantuan sang senator, maka sang senator akan menolongnya. Unik meski sedikit lebay.

Perempuan Jam Enam berkisah tentang Jose, laki laki gemuk pemilik restoran yang jatuh cinta kepada perempuan yang selalu datang ke tempatnya pada pukul enam sore. Jose akan memberinya makanan gratis meski Jose tidak tahu apakah perempuan itu juga mencintainya.
Suatu hari, perempuan itu meminta Jose untuk berbohong sebagai alibi dirinya karena ia telah membunuh laki laki yang telah tidur dengannya. Jose yang lugu dan terkenal karena kejujurannya tidak lantas menyanggupi permintaan perempuan itu. Tapi perempuan itu terus membujuk Jose. Lalu, apakah Jose akan rela membantu perempuan itu?

Sebuah cerita tentang si baik melawan si jahat. Tentang bagaimana cara si lugu Jose mempertahankan pendapatnya melawan perempuan itu. Isinya sebagian besar berupa percakapan di restoran. Sedikit datar, tidak ada percakapan yang mampu menggugah emosi. Tapi tidak sampai jadi membosankan.

Itulah tiga cerita yang tergolong ringan dan mudah dimengerti, dan yang lainnya tidak. Buku ini adalah buku karangan Gabriel Garcia Marquez yang paling tidak menarik yang pernah saya baca. Untungnya saya masih bisa menemukan hal hal ajaib yang kerap saya temui di dalam cerita cerita Gabriel Garcia Marquez. Hal hal ajaib yang tidak masuk akal, namun tidak lantas menjadi sebuah cerita fantasi. Misalnya dalam Drama Erendira, ada sebuah adegan dimana si nenek menanyakan kepada Ulises apa yang terjadi dengan sayapnya, lalu Ulisess menjawab bahwa kakeknya yang memiliki sayap, bukan dirinya. Juga ketika Laura Farina datang ke kantor sang senator, ia melihat banyak kupu kupu kertas beterbangan, dan apabila hinggap di tembok, maka tidak akan bisa dilepas.
Di luar akal sehat bukan? Orang bersayap. Kupu kupu kertas terbang dan tak bisa dilepas.
Hal hal inilah sebenarnya yang saya cari di setiap cerita karangan Gabriel Garcia Marquez. Yah, meski dalam kasus buku ini, hal itu tidak menolong banyak. Innocent Erendira & Other Stories jauh dibawah harapan. Bukan buku yang cocok untuk dibaca dengan santai. Dengan tema serius dan muram, yang sayangnya dalam penyampaiannya mungkin tidak mampu menjangkau setiap pembaca. Dua bintang untuk buku ini.

Judul: Innocent Erendira & Other Stories
Penulis: Gabriel Garcia Marquez
Penerbit: Selasar Surabaya Publising
Jumlah Halaman: 287
Cetakan I: Juli 2009