Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Gagas Media’

misteriptnggaramMulanya saya tertarik dengan covernya yang cukup artsy, bisa dibilang minimalis tapi asik. Ditambah dengan dengan sinopsis di belakang buku, sudah lebih dari cukup buat saya memutuskan untuk membacanya. Novel pembunuhan ini unik, bahkan sepengetahuan saya belum pernah ada di khasanah pernovelan Indonesia, karena korbannya ditemukan telah menjadi patung garam, tubuhnya diolesi dengan garam sepenuhnya. Garam? Kenapa harus garam? Bukan kecap asin, Nutela, Firdaus Oil, atau yang lainnya?

Kemudian saya baca, dan kampret rebus, novel ini bagus. Akhirnya, terakhir kali saya baca novel thriller lokal yang bagus itu Katarsis nya Anastasia Aemilia. Meski berbeda tema, tapi Katarsis dan Misteri Patung Garam sama sama menghanyutkan.

Surabaya. Seorang pianis wanita ditemukan tewas di rumahnya, terduduk di depan piano, memakai gaun merah, senada dengan rambut palsu yang sengaja dipakaikan oleh pembunuhnya. Seluruh tubuhnya putih oleh lapisan garam. Sebuah simbol aneh tertulis di atas piano menggunakan garam.

“Dia mirip sekali patung.”

“Seluruh tubuhnya ditempeli dengan adonan garam dan tepung yang dicampur air hingga kalis.”

“Sepertinya adonan garam itu mengeras.”

“Tentu saja, sebab pembunuhnya memanggangnya di dalam oven.”

Kasus itu ditangani oleh Inspektur Kiri Lamari yang baru saja ditugaskan di Surabaya. Ia dibantu oleh Inspektur Saut. Inspektur Kiri Lamari dikenal sebagai polisi yang teliti, dan sudah memecahkan kasus yang gagal dipecahkan oleh polisi yang lain. Mereka berdua kemudian melakukan penyelidikan, sementara itu, si pembunuh pun mulai mencari mangsa yang lain. Korban korban berjatuhan. Semuanya berjenis kelamin perempuan dengan profesi yang berbeda beda. Sudah mapan secara finansial, dan dikenal sebagai perempuan baik baik. Mengapa mereka dibunuh? Siapa yang membunuh?

Inspektur Kiri Lamari dituntut untuk menyelesaikan masalah tersebut, dan juga masalah pribadinya dengan ayahnya yang berhubungan dengan kematian tidak wajar ibunya.

Fokus cerita buku ini memang kebanyakan ada di kisah Kiri Lamari, meski tokoh yang lain juga tak luput untuk diceritakan. Buku ini dibagi menjadi prolog, tiga puluh empat bab inti cerita, dan sebuah epilog. Awalnya saya merasa prolognya agak dipaksakan agar sesuai dengan judul, tapi setelah bukunya selesai dibaca, mungkin prolognya ingin sedikit memberi gambaran betapa sakitnya si pembunuh. Di prolognya tertulis, korban dihukum gara gara menyanyikan lirik sebuah lagu tidak sesuai dengan kemauan pembunuh. Lirik lagu milik Oasis, Don’t Look Back In Anger. Korban bersalah karena menyebutkan kata Sally, dan si pembunuh menginginkan Salty, bukan Sally. Padahal lirik yang benar ialah Sally. Tapi karena si pembunuh terobsesi dengan garam, diganti dengan Salty.

Secara keseluruhan, Misteri Patung Garam ialah sebuah thriller yang apik, tokoh tokoh yang cukup memorable dan menggelitik, terutama si Ireng, dan interaksinya dengan Kiri yang selalu membuat tersenyum, juga ada Inspektur polisi sangar yang hoby nonton Despicable Me, (pakai niruin ngomongnya minion pula :D), serta ahli forensik yang demennya dengerin K-pop. Salah satu kelebihan buku ini memang cukup lucu, bahkan ada bagian yang membuat saya tertawa ngakak. Meski itu tak banyak, which is good. Karena tidak sampai merusak ketegangan yang dibangun sejak awal.

Sayangnya, saya agak sedikit terganggu dengan epilognya. Apa buku ini akan dibikin sequelnya? Kalau iya, saya masih bisa memaklumi epilog tersebut, meski bukan hal yang baru. Tapi, kalau memang tidak akan dibikin sequel, mbok ya enggak usah dibikin epilognya. Buat apa? Memang twist, dan bikin orang penasaran, tapi terlalu tiba tiba dan merusak jalinan manis yang sudah ada sebelumnya. Tapi, semoga saja memang akan dibikin sequel.

Akhirnya, Ruwi Meita sudah berhasil membuat thriller lokal yang menegangnya, dibumbui dengan kisah cinta yang tidak berlebihan, humor yang menggelitik, serta interaksi antar tokoh yang natural dan berkesan. Ada beberapa bagian yang agak kepanjangan, misalnya cerita mengenai kisah segi tiga biru, serta epilognya yang menuntut sebuah jawaban, tapi overall, Misteri Patung Garam terlalu menarik untuk diabaikan. Kampret rebus.

Judul: Misteri Patung Garam
Penulis: Ruwi Meita
Penerbit: GagasMedia
Jumlah Halaman:276
Rate:3,9

Advertisements

Read Full Post »

atkh

Dengan design cover yang terlalu riang untuk sebuah novel horor, boleh jadi Aku Tahu Kamu Hantu akan luput dari perhatian pecinta horor, dan seandainya mereka kebetulan melihatnya pun, boleh jadi, akan menganggap buku ini sebagai kisah cinta antara manusia dengan setan seperti halnya manusia dan vampire di Twilight, dan mereka, boleh jadi, akan melewatkan buku ini dan memilih buku yang lain yang mereka anggap lebih seram. Meski demikian, boleh jadi mereka akan tetap membeli buku ini karena alasan yang lain.

Untungnya saya sudah terlebih dahulu membaca bukunya Eve Shi yang lain yaitu Lost dan untungnya Lost termasuk dalam buku yang saya suka meski kalau dilihat dari segi cerita masih ada kekurangan, tapi untungnya beliau punya sesuatu yang jarang dimiliki oleh penulis lain, yaitu dinosaurus… untungnya saya bercanda, beliau tidak punya dinosaurus, tapi punya gaya penulisan yang menarik sehingga saya jadi penasaran dengan karya beliau yang lain, dan untungnya saya kemudian menemukannya di toko buku.

Ternyata buku yang bercerita tentang murid SMU bernama Olivia yang biasa dipanggil Liv yang punya kemampuan bisa melihat makhluk halus yang kemudian memanfaatkan kemampuan uniknya itu untuk membantu mengungkap sebuah tragedi hilangnya salah seorang murid yang bernama Frans meski ada pihak pihak yang menghalangi tujuannya serta beberapa masalah yang juga sedang dihadapinya yang berhubungan dengan sahabat karibnya yang bernama Daniel yang tiba tiba bersikap aneh kepada Liv, juga rasa sukanya kepada salah satu murid sekolah yang justru membuat keadaan menjadi tambah rumit ini, sangat asik untuk diikuti.

Kata kata yang digunakan tidak berbelit belit, terasa pas sekali. Dengan alur maju, membuat buku ini mudah untuk diikuti sambil berusaha menebak nebak misteri yang ada di dalamnya. Dan karena ini buku horor, tentu ada beberapa penampakan penampakan serta ilustrasi seram sebagai tambahan agar semakin menakutkan. Meski penampakan tersebut pada akhirnya ada yang tidak dijelaskan secara detail padahal sebenarnya karakternya sudah kuat. Sedikit mengecewakan tentu saja. Sudah seram dan lumayan ada chemistry dengan Liv. Tapi, siapa tahu itu akan dibahas di buku selanjutnya. Siapa tahu kisah Liv ini akan jadi semacam franchise baru tentang cewek SMU yang bisa melihat hantu.

Aku Tahu Kamu Hantu mengetengahkan cerita horor dengan sedikit romansa serta thriller pembunuhan yang dikemas dengan cita rasa anak muda yang boleh jadi akan disuka oleh siapa saja yang menyukainya. Boleh jadi buku ini akan benar benar membuat anda takut. Kalau pun anda tidak takut, boleh jadi anda akan menyukai misteri di dalamnya. Mohon maaf kalau ada salah kata.

Judul: Aku Tahu Kamu Hantu
Penulis: Eve Shi
Penerbit: Gagas Media
Jumlah Halaman: 269
Rate: 3.5

 

 

Read Full Post »

Lost

lost

Seperti judul lagunya Zaskia Gotik yang judulnya 1000 Alasan, ada seribu alasan mengapa saya harus membaca buku ini. Pertama tentu saja karena saya suka novel horor, kedua karena sinopsisnya yang ngeri ngeri sedap, alasan ketiga dan sembilan ratus sembilan puluh tujuh alasan lain yang sama yaitu; karena saya kepengen. Itu saja.
Mungkin ada yang bertanya, sinopsis yang ngeri ngeri sedap itu yang kayak gimana?
Seperti ini:

Maura mengucek mata. Tempat tidur ini dibawa dari apartemen lama dan sudah tidak baru. Tapi pasti belum reyot sampai berbunyi tiap kali ia bergerak. Maura mulai menegakkan badan untuk memeriksa kerangka tempat tidur, lalu terkesima.

Di ujung tempat tidur duduk seorang perempuan berambut panjang, memunggungi Maura….

Kenapa bisa ngeri ngeri sedap, kenapa enggak ngeri ngeri geli, atau ngeri ngeri teuing?
Karena sinopsis tersebut telah berhasil menumbuhkan perasaan ngeri, serem yang pakai bingit.
Dimana seremnya? Coba perhatikan kalimat terakhir sinopsis tersebut, terus bayangkan betapa mengerikannya kalimat itu. Tempat tidur adalah tempat paling nyaman di dalam rumah, tempat kau merasa aman dan tentram melepas lelah. Bahkan Toni Stark pun tidur enggak pakai baju Iron Man. Ini membuktikan kalau tempat tidur itu seharusnya menjadi tempat paling aman di rumah, disamping ribet juga kali ya tidur pakai baju besi. Nanti kegencet.

Nah sekarang, tiba tiba ada seorang perempuan berambut panjang yang duduk di tepi tempat tidur, malam malam, dan kau tahu perempuan itu bukan ibumu, adikmu, kakakmu, tantemu, asisten pribadimu, tukang jamu langgananmu, atau siapa pun itu. Kamu tidak kenal.
Tapi  kamu tahu bahwa perempuan itu adalah setan.
Bayangkan di tempat tidur kamu didatangi setan perempuan rambut panjang.
Serem bingit bukan? Tapi bikin penasaran juga.

Itulah sebabnya saya menyebutnya ngeri ngeri sedap. Seandainya Maura tidak didatangi setan perempuan, tapi didatangi oleh Cak Lontong, maka itu akan menjadi ngeri ngeri geli, kalau didatangi artis OM Palapa, ya jadi ngeri ngeri teuing

Ternyata buku ini tidak sengeri yang saya kira. Tapi untungnya sama sekali tidak mengecewakan. Ini buku horor pertama yang saya baca dimana tokohnya masih sekolah. Dan yup, ada masalah cinta cintaan di sini, jadi bumbu penyedap bagi masalah utama yaitu setan setan di apartemen Maura. Maura baru saja pindah bersama kakak laki lakinya, Ryan, ke sebuah apartemen dengan nama keren Ilustra Casa. Di sana, Maura mendapatkan gangguan dari setan. Bukannya kabur, cewek itu malah penasaran. Masalah itu membuatnya berdekatan dengan Julian, cowok sepantarannya yang bertetangga dengan Maura.
Maura kemudian mulai menyelidiki keganjilan apartemen tersebut, yang mau tak mau melibatkan orang orang terdekatnya.

Sebagai buku horor, ada beberapa penampakan yang cukup mengerikan tapi tak ada yang baru. Maksudnya, saya pernah melihatnya di film film horor asia. Ada beberapa twist yang cukup mengejutkan. Dan saya suka interaksi Maura dengan tetangga tetangganya, terutama tante Nila dimana menyumbang satu buah twist yang tak terduga.
Meski demikian, menurut saya buku ini kurang tebal. Ada beberapa hal yang seandainya diceritakan lebih detail mungkin akan lebih mengikat emosi pembaca, tentang masa lalu Julian misalnya. Sedih memang, tapi belum bisa menyayat hati merobek jiwa, hanya sampai dalam tahap cukup-tahu-saja. Cukstaw.
Justru hal hal yang tidak penting (menurut saya) malah diceritakan. Misalnya konfilk anggota Girl Band White Juliet. Dan konflik menjelang ending yang anti klimaks, tidak ada ketegangan. Tapi untungnya, endingnya bukan rasa Holywood.

Pada akhirnya, Lost yang ditulis oleh Eve Shi ini memang masih kurang sempurna, tapi sebagai sebuah novel horor, buku punya potensi untuk membuat orang ketakutan, atau pun kalau tidak takut, mungkin akan terhibur dengan beberapa kejutan di dalamnya.

Judul: Lost
Penulis: Eve Shi
Penerbit: Gagas Media
Jumlah Halaman:310
Rate: 3

Read Full Post »

coming home

19 cm.  Ada yang tahu ini ukuran panjang benda apa?  Yap, itu adalah ukuran panjang buuuu…..
Eh, tunggu dulu, mari kita teriakan bersama sama:  BUUU….KUUUUUU..

Pertanyaan selanjutnya, buku apa itu? Buku itu diberi judul Coming Home, karya penulis Sefryana Khairil. Ukuran lengkapnya panjang 19 cm, dan lebar 13 cm. Panjangnya hanya serentangan tangan orang dewasa, membuat buku itu terlihat sempurna; tidak terlalu besar
atau kecil. Belum lagi apabila melihat design cover yang teduh di mata. Sebuah sarang burung yang teronggok pada beberapa ranting
pohon. Sarang burung itu kosong, seolah olah menantikan sang penghuni untuk pulang padanya. Cocok sekali bukan dengan judul buku
ini? Pulang ke rumah.

Mengapa sarang burung, bukan sarang  yang lain, sarang semut  misalnya? Sarang burung akan terlihat lebih indah dari pada sarang semut, juga barangkali hal itu terkait dengan peribahasa sejauh jauhnya burung terbang, suatu saat akan kembali ke sarangnya, kecuali yang tidak. Kemudian, cover buku ini disempurnakan oleh pemilihan kertas yang tidak biasanya. Kertasnya licin, tapi ketika jemari saya meraba raba, ada sensasi menggelitik di sana. Semacam geli geli nikmat. Hal itu disebabkan oleh tekstur permukaan kertas yang bergelombang kecil dan rapat. Tapi, sensasi menggelitik itu agak hilang manakala digosokkan ke pipi. Saya belum mencobanya ke bagian tubuh yang lain, karena kesannya kok kurang kerjaan banget yaaaa…

Nah, bisa disimpulkan bahwa sepanjang sejarah kehidupan saya, inilah buku paling menarik ditinjau dari bentuk fisiknya. Bagaimana
dengan isinya?

Amira sama sekali tidak menduga bahwa ia akan kembali bertemu Rayhan, mantan suaminya. Waktu itu Amira sedang mengajar di sebuah Taman Kanak Kanak, ketika laki laki itu datang ingin menyekolahkan Raisa Kirana, anak perempuan semata wayangnya. Dalam sekejap, hatinya dihinggapi kepedihan, lukanya berdarah kembali. Amira mengenang Rayhan sebagai lelaki yang dahulu memberikan kebahagiaan dalam sebuah ikatan perkawinan, sebelum datang perempuan lain. Amira mengalah meski hatinya hancur. Kemudian perlahan berusaha menata kehidupannya kembali. Mengalihkannya kepada keceriaan anak anak dengan menjadi guru TK. Tapi, mengapa ia harus bertemu lagi dengan laki laki itu?

Sebenarnya Rayhan juga tak kalah kagetnya ketika bertemu dengan Amira, mantan istrinya itu. Ia hanya ingin mendaftarkan Nana, panggilan Raisa Kirana, di Taman Kanak Kanak. Perasaan bersalah kemudian merebak di dalam hatinya. Ia tahu bahwa ia sudah menyakiti hati perempuan itu. Ia lebih memilih Elsa, perempuan ketiga yang menjadi alasan ia menceraikan Amira, sekaligus ibu dari Nana. Tapi ia sudah mendapatkan hukumannya; Elsa meninggal dunia. Sekarang hanya tinggal dirinya dan Nana saja.

Nana yang akhirnya bersekolah di tempat Amira mengajar membuat kedua orang itu sering bertemu. Rayhan sebenarnya ingin meminta maaf. Tentu saja tidak mudah. Luka yang ia tinggalkan sudah terlalu dalam. Sementara itu hubungan antara Nana dan Amira semakin erat seiring dengan kebersamaan yang mereka dapatkan.
Apakah Amira akan memaafkan Rayhan? Apakah kedua orang itu akan bersatu kembali?

Buku yang telah naik cetak hingga dua kali ini ternyata memiliki tingkat kemuraman yang cukup tinggi. Barangkali karena ternyata ,menurut saya, buku ini bukan menceritakan ‘bagaimana memunculkan cinta’ yang ditonjolkan melainkan ‘bagaimana memaafkan dan menerima kembali orang yang telah membuat kita tersakiti’. Hal itu tidak mudah. Sulit. Karena hati yang tersakiti akan lebih lama sembuhnya, meski sudah ada permintaan maaf. Karena apabila diibaratkan hati yang tersakiti itu seperti kue apem yang ditusuk besi lancip, maka meminta maaf hanya akan mencabut paku lancip dari kue apem, sementara lubangnya akan tetap menganga. Inilah yang membutuhkan waktu dan pengorbanan yang tidak kecil, karena lubang itu tidak akan pernah kembali menutup seperti semula. Keadaan inilah yang sedang dialami oleh Amira. Kue apem, eh hatinya telah disakiti oleh Rayhan.
Kegamangan hati Amira diceritakan oleh Sefryana Khairil dengan melimpah, penuh dengan deskripsi perasaan yang sedang dialami oleh Amira, sehingga seolah olah saya juga ikut merasakannya juga.

Bayangan bayangan kembali menyapu nyapu benaknya di antara keraguan dan ketakutannya. Dinging dinding kamar mandi menyelimutinya, membekukan sekujur tubuh. Kepedihan yang tajam menusuk nusuk batinnya. Hening menebarkan kehampaan. Otaknya kosong. Ia tidak sanggup memikirkan atau merasakan apa pun. Kepalanya berdenyut. Tubuhnya nyeri.

Keresahan yang dialami Amira rupanya juga terjadi kepada Rayhan meski dalam konteks yang berbeda, dan diceritakan dalam porsi yang sama banyaknya. Barangkali inilah yang menyebabkan berkurangnya momen momen romantis di dalam buku ini. Dan romantisme dalam buku ini tidak membuat saya tersenyum, saya diam saja. Tapi tentu ini bukan salah siapa siapa, karena penilaian seseorang untuk menentukan kadar keromantisan tidaklah sama. Bisa saja, bagi orang lain justru malah terkesan sangat romantis sehingga pipinya ikut merona tersipu malu dan tersenyum dengan menawan sementara didalam hatinya berteriak ceria; ih..co cwiiitttt!!!! Sambil geleng geleng kepala pula. Tapi enggak guling guling.

Untunglah romantisme yang tidak terlalu menggeletar itu tidak sampai mengganggu kesyahduan saya dalam menyelesaikan buku ini.
Masih ada hal lain yang justru lebih menyita perhatian saya. Itu adalah hubungan antara Amira dengan Nana, atau pun Rayhan dengan
Nana. Ada banyak kehangatan yang terpampang nyata di sana. Ketika Amira membantu Nana membuat daun, makan es krim, mendongeng dan yang lainnya.

“Bu Guru, es krimnya rasa apa?” tanya Kirana.
“Mint.” Amira menggeser gelasnya ke Kirana. “Mau?”
“Mint itu rasanya kayak apa?” Kirana melihat es krim dalam gelas Amira yang belum banyak berubah bentuknya itu.
“Mint itu dingin, Sayang. Ada pedesnya kayak permen,” ujar Rayhan.
Kirana penasaran dengan es krim itu. Ia menyendoknya sedikit dan wajahnya mengerut. “Rasanya aneh.”

Coming Home mengantarkan kisahnya dengan membawa pembaca untuk  menyelami perasaan perasaan tokohnya melalui sudut pandang orang ketiga yang diawali dengan sebuah kutipan lagu pada setiap permulaan bab. Dua puluh tiga bab. Dua puluh tiga kutipan lagu. Wake Me Up When September Ends dari  Green Days, Remember When It Rained dari Josh Groban, Because I Love You nya Lionel Richie, dan lagu yang lainnya. Lagu lagu itu secara tidak langsung bisa dikatakan sebagai soundtrack yang bisa kamu dengarkan ketika sedang  membaca buku ini. Barangkali akan lebh terasa feel-nya.

Pada akhirnya, Coming Home mampu tampil sebagai sajian kisah yang muram, meski dengan jalan cerita yang lumayan klise dan bisa ditebak di beberapa bagian, tapi percikan kecil kehangatan yang terjalin mampu menjadikan buku ini lebih mudah untuk disukai. Tiga bintang untuk buku ini.

Judul Buku: Coming Home
Penulis: Sefryana Khairil
Penerbit: Gagas Media
Jumlah Halaman: 318

Read Full Post »