Magi Perempuan dan Malam Kunang Kunang

magiperempuan_malamkunang

Tentang pagar ini bisa bergerak dan memanjangkan sulur sulurnya, sudah pula kami dengar. Banyak kawan sepengajian mengurai cerita yang sama. Liman, misalnya, dia pernah bercerita saat berjalan sepulang dari masjid, tiba tiba ada sesuatu yang melilit kakinya. Liman tersentak, jatuh tengkurap mencium tanah. – Peri Kunang Kunang.

Magi Perempuan dan Malam Kunang Kunang dibuka oleh sebuah cerita berlandaskan rasa penasaran. Rasa penasaran yang menuntun empat orang anak muda ke dalam sebuah malam yang mencekam, dimana mereka ingin membuktikan dengan kepala sendiri cerita mengenai adanya peri kunang kunang, kekasih bujang lapuk yang tinggal di rumah terpencil yang menakutkan. cerita pertama ini berjudul Peri Kunang Kunang. Sedikit mengingatkan saya dengan penyihir di dongeng Hansel & Gretel, tapi kemudian kemiripan itu luntur sesampainya di akhir cerita.

 

Sejak gadis gadis memiliki cermin dalam bilik, mereka selalu mengajukan pertanyaan yang sama: “Cermin ajaib, siapa gadis tercantik di dunia?” Dan jawaban yang mereka terima pun sama: “Ratu Revenna-lah yang tercantik.” – Gadis Buruk Rupa dalam Cermin.

Kecantikan ada dua. Kecantikan dari dalam, dan dari luar. Tapi kebanyakan orang lebih mementingkan kecantikan dari luar. Kecantikan wajah. Bukan kecantikan hati. Ini tentu bertentangan dengan lagunya Cherybelle; kamu cantik cantik dari hatimuuu…”

Tapi tentu kita tidak menyalahkan mereka yang ingin wajahnya cantik. Karena memang sudah sewajarnya wanita berusaha agar wajahnya cantik. Karena kebanyakan orang melihat dengan mata kepala, bukan dengan mata hati.

Wajah yang cantik itu juga menjadi impian Revenna, jauh sebelum ia menjadi Ratu. Mulanya ia punya wajah yang buruk rupa menyerupai nenek sihir meski ia baru berusia 17 tahun. Tak ada yang menyukainya. Bahkan orang tuanya sendiri akhirnya memutuskan untuk membuang Revenna di hutan agar ia mati dimangsa hewan buas atau menjadi budak setan penunggu hutan. Tapi nasib berkata lain. Revenna tidak mati. Ia malah mendapatkan apa yang selama ini ia inginkan; kecantikan. Tidak hanya kecantikan, ia juga diberikan kekuasaan. Bagaimana hal itu bisa terjadi?

Cerita Gadis Buruk Rupa dalam Cermin menjadi semacam kisah alternative dari dongeng terkenal Putri Salju, lengkap dengan pertanyaan legendarisnya; “Cermin ajaib, siapa gadis tercantik di dunia?” yang oleh Guntur Alam dipelintir sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah kisah yang kelam dan jahat. Sangat kontras dengan cerita origin Putri Salju.

 

Almah, gadis bisu berusia delapan belas tahun itu melahirkan seorang anak laki laki. Ya Salam! Tentu saja ini menggemparkan, pasalnya dia tidak kelihatan bunting dan tidak pula bersuami. Nah, nah siapa pula yang sudah menghujamkan alu di lesung keramat gadis itu? – Almah Melahirkan Nabi.

Almah Melahirkan Nabi menjadi cerita yang paling ringan. Sepanjang cerita, kita diajak untuk menebak, mencari tahu siapa sebenarnya yang telah membuat hamil Almah melalui cerita enam orang yang ditengarai tahu siapa ayah jabang bayi, bahkan diduga salah satu enam orang tersebutlah yang menjadi biang keladinya. Cerita enam orang itu dibagi menjadi bab tersendiri; Kesaksian Amsal, Cerita Laki Laki yang ditinggal Istri ke Arab, Pengakuan Laki Laki Pendiam, Cerita versi Behula, Kisah Cinta Bujang Lapuk, dan Nubuat Emak Yesaya. Lalu siapakah yang menghamili Almah? Apakah ia benar benar telah melahirkan Nabi? Membaca judulnya, saya pikir ini akan menjadi cerita yang religious, tapi ternyata tidak seperti itu. Ini adalah keruwetan yang ditimbulkan karena kelahiran mendadak si anak gadis, dengan ending yang menyebalkan.

Magi Perempuan dan Malam Kunang Kunang berisi dua puluh dua cerita pendek, yang kebanyakan bukan sebuah cerita yang menyenangkan. Dongeng dongeng yang kembali diceritakan dengan lebih mengerikan, urban legend yang mencekam, cinta yang terlarang dan menyakitkan serta dendam yang membara. Buku ini ditulis dengan nyastra, tapi masih bisa dibaca dengan nyaman. Cerita di buku ini mengingatkan saya dengan Kumpulan Budak Setan (Ada salah satu cerita yang didedikasikan untuk Intan Paramaditha), serta bukunya Poppy D Chusfani; Orang Orang Tanah. Buat yang menyukai kedua buku tersebut, barangkali perlu mencoba buku ini.

Overall, Magi Perempuan dan Malam Kunang Kunang ialah sebuah tempat singgah bagi siapa pun yang menyukai cerita gothic, dark fantasi, urban legend, dan semacamnya. Ditulis dengan bahasa yang memikat, seperti halnya membaca tulisan Eka Kurniawan atau pun A.S Laksana, tapi dengan kadar humor yang nyaris tak ada.

 

Judul: Magi Perempuan dan Malam Kunang Kunang
Penulis: Guntur Alam
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 176
Rate: 4/5

Rahasia Lantai Keempat

Jpeg

Bagi gedung yang berlantai tiga, keberadaan lantai keempat tentu akan mengundang pertanyaan, meski tidak sedang hajatan. Padahal kalau pun lagi hajatan, pertanyaan juga belum tentu bakal diundang juga, karena diutamakan mengundang handai taulan dan teman teman, dan juga mantan dong. Pertanyaan yang datang itu bisa berupa;

  1. Lantai empat dari mana, lha wong cuma lantai tiga gitu? Sampeyan ngelindur? Nyari nyari perhatian!
  2. Yang mana sih, ga ada gitu lho. Kamu jangan bohong dong. Nonton aja yuk?
  3. Hmm, jadi di gedung ini ada lantai empat? Lantai lima ada juga ga? Kalau ada, saya mau tuh pesen. Buat cucu di rumah.
  4. Dan pertanyaan yang lainnya. Sila isi sendiri.

Begitulah, lantai empat mustahil ada di sebuah gedung yang sejatinya hanya punya tiga lantai. Tapi, kita juga harus ingat, tidak selamanya yang tidak bisa dilihat oleh mata itu memang benar benar tidak ada. Siapa tahu memang ada, hanya saja kita tidak bisa lihat saja. Atau barang kali karena tidak tahu caranya. Apalagi kalau cerita lantai keempat itu dibumbui dengan cerita fantastis; bahwa di lantai empat itu ada sesosok penunggu yang bisa mengabulkan permintaan apa pun. Lebih simple, ketimbang harus mengumpulkan bola bola naga.

Meski demikian, ada saja orang orang yang percaya bahwa lantai keempat itu ada. Atau setidaknya penasaran, ingin membuktikan keberadaan mitos tersebut. Adalah Fara, yang tak sengaja menemukan sebuah catatan tentang bagaimana caranya pergi ke lantai empat, ketika sedang berada di perpustakaan sekolah bersama temannya, Nikki. Nikki yang kebetulan sedang mencari ide untuk artikel buat mading sekolah mengusulkan untuk pergi ke lantai empat. Ia akan menulis mengenai urban legend di sekolahnya tersebut, siapa tahu bisa sekaligus mengusut cerita mengenai hantu Maria, hantu penunggu sekolah yang ceritanya meninggal bunuh diri.

Setelah mengajak dua temannya, Randy dan Neil, mereka berempat memutuskan untuk pergi ke lantai empat menggunakan panduan dari catatan yang baru saja mereka temukan. Dan, ketika mereka akhirnya benar benar sampai di lantai keempat, mereka pun menemui kenyataan yang mengerikan, yang mengancam nyawa mereka.

Rahasia Lantai Keempat tidak perlu lama lama untuk memulai konfliknya, yang tambah lama tambah seru. Bagaimana keempat orang itu berusaha untuk keluar dari lantai empat, dan harus berhadapan dengan makhluk makhluk penghuninya. Ditambah dengan ilustrasi yang didominasi warna hitam, yang cukup berhasil menggambarkan suasana di sana. Dan, drama yang terjadi di antara mereka juga pas, tidak merusak tone yang ada. Tokoh tokohnya juga tergambar dengan baik. Masing masing mampu memberikan warnanya tersendiri. Begitu pula dengan tokoh hantu hantunya, yang cukup berkarakter. Bahkan tokoh yang paling memorable di buku ini bukan keempat tokoh utama, melainkan sosok hantu yang memburu mereka, dengan bunyi krincing krincing nya.

Krincing… krincing…

Bunyi gemerincing itu menggantikan suara tawanya. Meski terdengar jauh, bunyi itu jelas. Sosok itu melirik ke atas dengan bola mata yang nyaris keluar dari rongganya, lalu menyeringai lebar hingga mulutnya hampir membelah wajah itu menjadi dua.

“Kalian sudah membangunkan dia.”

Overall, Rettania sudah berhasil membuat sebuah cerita horror yang tak juga menarik, tapi berkesan. Rahasia Lantai Keempat mampu memberikan ketegangan secara konsisten, tanpa detail detail yang tak perlu. Dan ditutup dengan ending yang mirip mirip ending film film masa kini. Ngomongin film, buku ini juga saya rasa cukup cinematic untuk dituangkan dalam layar lebar. Saya membayangkan hantu krincing krincing itu mirip dormentor dengan tubuh yang lebih gendut, tapi lebih menyeramkan.

Judul: Rahasia Lantai Keempat
Penulis: Rettania
Penerbit: Bukune
Jumlah halaman: 153
Rate: 4/5

Misteri Ratu Cinta

ratucinta

Seperti lagunya Rosa, kecantikan seorang wanita pasti akan pudar seiring dengan berlalunya waktu. Karena ada yang bilang, lelaki jatuh cinta dengan melihat, maka kecantikan menjadi krusial, apabila ingin mendapatkan lelaki pujaan. Oleh karena itulah, berbagai hal sering ditempuh agar wajah mereka terlihat cantik. Mulai berdandan secara sederhana, minum jamu, operasi plastik hingga memakai jalur klenik.

Jalur klenik inilah yang dipakai oleh Sukmarani.

Ia adalah seorang tabib yang menempuh cara yang tak lazim agar dirinya tetap awet muda, montok dan menggairahkan suaminya, Rusman. Ia tidak memakai susuk, melainkan menjalankan semacam ilmu hitam yang mengharuskannya bercinta dengan suaminya setiap hari selama ia tidak sedang berhalangan. Kenapa harus bercinta? Karena kalau harus begadang itu melelahkan, dan harus ada artinya, kata bang Roma. Tapi, tentu saja alasan sebenarnya ialah seperti apa yang dikatakan oleh Miranda.

“Sel sel kehidupan dalam spermamu yang memasuki tubuhnya. Itulah yang dimanfaatkan istrimu untuk melawan proses menuanya fisik yang muncul bersamaan dengan merambatnya waktu.”

Yang dijelaskan lebih detail oleh kakek kakek yang ditemui oleh Rusman:

“Karena unsur kehidupan dalam spermamu diambilnya sebagai penangkal proses menuanya tubuh. Sebaliknya, unsur unsur kehidupan dalam sel sel telur Sukmarani sendiri ia pancarkan ke dalam tubuhmu melalui kejantananmu. Itu akan menolongmu untuk tetap perkasa dan sanggup melayani istrimu di tempat tidur, meski tanpa ada hari yang terlewatkan… “

Itulah yang harus dilakukan oleh Sukmarani agar tetap awet mudah. Tapi, dalam waktu waktu tertentu masih ada ritual lain yang harus dilakukannya. Ritual yang melibatkan dupa dupa, lilin, dan darah ayam pelung.

Cerita bermula ketika Rusman kembali bertemu dengan Miranda, mantan kekasihnya yang telah ia campakkan begitu saja demi Sukmarani. Dari Miranda itulah, Rusman tahu kenyataan yang sebenarnya mengenai istrinya. Mulanya Rusman tidak percaya, tapi ketika kemudian terjadi hal hal yang persis seperti apa yang dikatakan oleh Miranda, Rusman pun mulai percaya. Rusman lalu diajak Miranda bertemu kakek kakek, yang ternyata adalah mantan suami Sukmarani sebelumnya, yang masih muda ketika dulu menikah dengan Sukmarani. Rusman pun menyadari bahwa istrinya ternyata sudah berusia sangat tua. Tidak tahu berapa pastinya. Bisa ratusan, bahkan lebih.

“Yang kau lihat itu Rusman,” menggema suara Miranda di telinga Rusman. “Adalah tubuh perempuan tua jompo. Perempuan yang pantas jadi nenekmu, bahkan mungkin juga nenek buyutmu!”

Rusman pun meminta bantuan agar ia terbebas dari permasalahannya itu.

Sementara itu, seorang wanita bernama Astuti dicegat oleh seseorang ketika akan pergi kuliah. Orang itu mengatakan bahwa Astuti harus ikut dengannya ke rumah sakit. Astuti pun menurutinya karena mengira kekasihnya, Hendra, kecelakaan. Tapi, ternyata ia dibawa oleh orang itu beserta dua orang temannya ke sebuah vila di puncak. Astuti, yang sedang hamil muda, disekap agar tidak mengganggu jalannya upacara pernikahan Hendra dengan istrinya. Hubungan Astuti dengan Hendra memang tidak direstui oleh kedua orang tua Hendra, yang menginginkan anaknya punya istri dari kalangan bangsawan.

Tapi penyekapan itu ternyata tidak berjalan sesuai dengan rencana semula. Bencana.

Dua kisah yang tampak tak punya hubungan itu kemudian terhubung dengan jalan yang tidak diduga duga. Mistis. Tapi tidak terkesan dipaksakan. Mengalir begitu saja. Keseruan yang sebenarnya pun dimulai. Abdullah Harahap membangun suspen dengan tidak terburu buru, tapi tetap terjaga hingga akhir, dan ditutup dengan ending yang cukup mengharukan, a bittersweet ending. Akhir yang menurut saya sempurna buat buku ini. Diantara buku Abdullah Harahap yang pernah saya baca, inilah ending yang paling saya suka.

Misteri Ratu Cinta dibagi penceritaanya menjadi dua bagian, dan untungnya perpindahan kisah tersebut dilakukan dengan begitu baik dan semakin membikin penasaran. Jadi tidak main asal putus saja. Meski secara keseluruhan tidak ada tokoh yang benar benar berkesan, tapi Abdullah Harahap menceritakan perubahan karakter tokoh Rusman dengan baik, meski tak terlalu banyak dikisahkan. Mengenai keraguannya kepada istrinya, ketakutannya, hingga rasa cinta yang ternyata masih tetap ada.

Seperti halnya novel Abdullah Harahap yang lain, Misteri Ratu Cinta juga terdapat pembunuhan secara mengerikan yang dilakukan oleh makhluk bukan manusia. Keuntungan pembunuhan oleh makhuk gaib ialah, tidak punya batasan imajinasi. Bisa dilakukan dengan cara apa pun akan tetap diterima. Dibuku ini, misalnya, ada tokoh yang dibunuh dengan dililit pagar kawat yang tiba tiba hidup seperti ular. Dan masih ada yang lebih mengerikan lagi.

Pada akhirnya Misteri Ratu Cinta tidak hanya memberikan sebuah kisah misteri, horror dengan aroma balas dendam, tapi juga berhasil menyelipkan sebuah kisah cinta yang tak biasa, manis tapi getir terasa.

Judul: Misteri Ratu Cinta
Penulis: Abdullah Harahap
Jumlah Halaman: 251
Penerbit: Paradoks
Rate: 3,75

Spora

spora

Ketika akan membeli sebuah buku, biasanya ada pertimbangan tertentu. Bisa banyak, bisa juga sedikit. Apa lagi kalau buku itu ditulis oleh penulis baru yang kita tidak pernah kenal sebelumnya. Alasannya tentu bisa banyak. Bisa juga sedikit. Bisa karena design covernya yang menarik. Bisa karena sinopsis di belakang bukunya yang membuat penasaran. Bisa juga karena judulnya. Meski kemudian ketiga hal tersebut tidak menarik, ada yang tetap membeli buku tersebut. Bisa jadi beli buat ditimbun dulu, nunggu waktu yang tepat untuk dibaca, bisa jadi beli karena bisikan gaib, atau bisikan teman, atau bisik bisik tetangga, kini mulai terdengar slaluuu.

Dan alasan saya membeli Spora karangan Alkadri adalah semata mata karena design cover, sinopsis di sampul belakang, dan judulnya yang simple. Ada gambar orang yang setengah telungkup dan dari punggungnya muncul seperti cabang pohon, dengan spora beterbangan dari tubuhnya. Ada kurcaci yang menumpuk harta di gunung. Ada anak sekolah yang menemukan mayat di depan sekolahannya dengan kondisi yang mengenaskan. Dan, ada monster yang bangkit mengancam kehidupan manusia. Terdengar lezat bukan? So, apakah memang selezat yang saya bayangkan?

Ternyata tidak.
Awalnya berjalan dengan baik dan menarik, hingga kemudian saya menemukan satu hal yang barangkali sepele, tapi buat saya waktu itu cukup mengganggu. Yaitu tentang pemilihan kata. Terutama tentang reaksi seseorang ketika sedang menanggapi pembicaraan orang lain. Ada banyak pemilihan kata untuk menggambarkan reaksi orang ketika menerima informasi dari lawan bicaranya. Mengerutkan dahi, menatap tajam, menutup mulut dengan tangan, dan lain lain. Bahkan terdiam juga bisa dijadikan contoh. Tapi di buku ini, nyaris hanya ada satu reaksi; mengangkat alis. Seharusnya ini tidak menjadi masalah, tapi ketika ‘mengangkat alis’ terlalu sering digunakan, bahkan sampai dua kali di halaman yang sama, maka lama lama saya jadi ikut mengangkat alis juga. Untung saja cuma mengangkat alis, bukan mengangkat barbel seperti Agung Herkules.

Kalau itu terjadi hanya pada satu tokoh sih wajar, mungkin itu ciri khasnya dia, tapi itu digunakan di semua tokoh. Dan, waktu itu saya jadi punya ‘pekerjaan’ baru selain menebak nebak jalan cerita, yaitu menghitung kapan ‘mengangkat alis’nya muncul. Dan sampai halaman 40an, ada sekitar 11an. Tapi, untunglah kemudian kata itu jarang muncul lagi di pertengahan cerita.
Kemudian ada satu lagi yaitu ‘mengerling’. Memang sih penempatannya tidak salah, cuma agak kurang tepat. Mungkin hanya saya yang merasa seperti itu, tapi saya telanjur berpikir bahwa kata ‘mengerling’ biasanya dilakukan kepada lawan jenis untuk hal hal yang bersifat romantis.  Jadi ketika ada kalimat Alif mengerling kepada polisi, mengerling kepada Roy, jadi agak sedikit janggal. Kurang terbiasa, mungkin.

 Pada zaman dahulu, hiduplah seorang kurcaci.
Ia tinggal di sebuah gua di dalam gunung.
Gunung yang menjulang tinggi melampaui langit.
Tubuhnya kecil, rupanya buruk, dan perangai pun kasar.
Namun, sang kurcaci memiliki sesuatu.
Sesuatu yang  diinginkan oleh segenap manusia di kaki gunung.

Di suatu pagi, Alif menemukan sesosok mayat yang tergeletak di lapangan sekolahnya. Kepalanya pecah berkeping-keping. Sejak saat itulah, mimpi buruk alif dimulai. Satu persatu orang di sekitar Alif jatuh menjadi korban, mati dalam kondisi mengenaskan tanpa diketahui penyebabnya. Polisi mulai melakukan penyelidikan dan mencurigai keterlibatan Alif. Bersamaan dengan itu, masa lalu Alif yang kelam datang untuk menghantuinya kembali.

Monster itu telah bangkit,
Dan ia takkan berhenti membunuh hingga manusia terakhir mati.

Itu adalah tulisan yang ada di cover belakang. Oh, review saya selanjutnya agak berbau spoiler.
*/SPOILER START

Berdasarkan tulisan di cover belakang, saya mengharapkan porsi cerita kurcaci seimbang dengan kisah Alif, mungkin kurcaci itu pembunuhnya. Monster yang ingin menghabisi umat manusia. Ternyata, kisah kurcaci itu hanya selipan saja. Kisah kurcaci itu ditulis secara terpisah dengan halaman khusus berwarna hitam sebelum bab selanjutnya dimulai. Menarik memang, tapi menurut saya tidak harus dijadikan terpisah seperti itu, kalau nantinya kisah tersebut dikisahkan lagi melalui sebuah percakapan. Percakapan itu juga mengungkap hubungan kisah kurcaci dengan kisah Alif, yang ternyata cuma gitu aja.

Selain itu ada beberapa bagian yang membuat saya bertanya tanya. Pertama ialah sewaktu Alif bertemu dengan monster yang menyerupai bapaknya di rumah Alif. Sebelum monster itu datang, di kulkas ada notes dari ibunya yang member tahu bahwa ibunya sedang menjenguk teh Laras. Setelah monster pergi(Alif bangun), ibunya pulang dan berkata bahwa ia dari mini market. Siapa yang menulis notes di kulkas?
Ada beberapa kemungkinan.
1.    Si monster. Tapi si monster waktu itu hanya bisa hidup di kepala Alif waktu ia sedang tidak sadar.
2.    Ibunya Alif. Mungkin beliau memang menulis notes itu. Jadi sewaktu Alif tidur, ibunya pulang, dan pergi lagi ke mini market.
3.    Alif yang menulis, tapi entah kenapa ia jadi lupa. Mirip kasus di film Modus Anomali.

Kedua, yang membuat saya bingung, dari sekian banyak orang, mengapa tidak ada yang mencurigai ruangan sekeretariat KIR, tempat ditemukannya empat mayat, serta toilet di lantai 3 yang baunya menyengat. Padahal di halaman 8, dikatakan bahwa polisi akan memeriksa seisi sekolah selama 2,3 hari. Padahal hari senin mulai masuk sekolah, dan ada mayat di ruang KIR yang sudah 3 hari dan pasti bau. Polisi baru memeriksa ruangan KIR, setelah ada mayat lagi yang jatuh dari atap setelah pulang sekolah.

Kemudian, masalah sifat dari jamur itu sendiri. Mengapa korban ada yang naik ke atas atap setelah mengurung di toilet sementara empat anggota KIR mayatnya ditemukan tetap di ruangan KIR. Kalau ruangan itu dikunci, bukankah di malam yang sama Sujarwo masuk dan membuka pintu? Juga di hari Sabtu, ada 2 anggotanya yang masuk ke ruang tersebut?
Dan, jamur itu kok terkesan pintar sekali ya. Tahu semua konspirasi mengenai siapa yang membawa jamur itu dari Brazil. Darimana ia tahu semua informasi itu. Apakah ia menyerap informasi dari otak korban? Tapi, para korban tidak punya potensi untuk tahu sampai sedetail itu. Polisi yang jadi korban itu pun bukan polisi tingkat atas, yang menurut  saya tidak tahu menahu masalah itu. Apa jamur itu memang sejenis organisme yang punya intelegensia tinggi?

SPOILER END/*

Selanjutnya adalah ending. Spora punya ending yang tidak saya duga, twist. Biasanya saya suka ending yang seperti itu. Tapi, tidak untuk yang ini. Epilognya memang menceritakan siapa dalangnya, tapi semua muncul terlalu tiba tiba. Tidak ada clue sedikit pun. Biasanya, twist ending selalu punya remeh remeh kecil yang disebar di sepanjang cerita sehingga ketika twistnya keluar, orang akan terkejut,dan mungkin akan bilang; oh, ternyata yang tadi itu.. atau, ‘o, pantes si anu begini’.. tapi buku ini tidak demikian.
Bagian terakhir buku ini memunculkan satu tokoh yang punya peranan besar, tapi jarang diceritakan di  buku. Akibatnya, saya jadi tidak punya perasaan apa apa kebenaran itu terungkap, alias cukup tahu saja. Dan muncul pertanyaan lagi; apa alasan mereka mengambil jamur di Brazil? Apakah untuk membuat senjata biologis? Apakah murni alasan science? Yang jelas sih enggak mungkin ngambil jamur itu buat ditumis. Kalau buat ditumis sih enggak perlu lah jauh jauh ke Brazil, di pasar juga banyak.

Spora juga ditulis menggunakan bahasa yang agak kaku. Dialognya kadang menggunakan bahasa resmi, kadang bahasa sehari hari. Jadi terkesan tidak natural. Masih ada typo, dan penggunaan kata ganti orang yang berubah ubah. Dan, si Alif ini kok rasanya tidak pantas ya jadi tokoh utama. Menyebalkan. Saya jadi ingat salah satu adegan di film Prometheus, ketika ada scientist  bertemu alien yang mirip ular, terus mati dicaplok alien itu. Sama juga dengan Alif. Alif ini type orang keras kepala yang bikin celaka temannya.

Akhirnya, setelah membaca buku ini kesan pertama yang baik akhirnya jadi berantakan. Ada banyak kejanggalan yang saya temukan, di jalan cerita atau pun penulisan. Mungkin  waktu saya membaca ada yang terlewat. Tapi saya suka idenya. Saya jarang menemukan buku lokal yang punya premis seperti ini. Spora punya potensi untuk dikembangkan menjadi sebuah sequel. Dan seandainya memang akan ditulis kelanjutannya, semoga akan jadi lebih baik.

Judul: Spora
Penulis: Alkadri
Jumlah  halaman :238
Penerbit: Moka Media
Rate: 2

[Mini Review] Cermin Api, Kolam Darah dan Persik Raksasa

 

miror&dreamChitra Banerjee Divakaruni sudah menulis buku trilogi, The Brotherhood of the Conch Trilogy. Buku pertama , buku kedua The Miror of Fire and Dreaming, dan buku terakhir; Shadowland. The Conch Bearer sudah diterjemahkan menjadi Keong Ajaib beberapa tahun lampau, dan buku kedua belum lama diterjemahkan menjadi Cermin Api dan Mimpi. Buku ketiga belum diterjemahkan ke bahasa Indonesia.
Baru ada dua buku yang diterjemahin. Hanya saja, dalam waktu yang cukup lama. Hingga saya jadi tidak tahu kalau, buku berwarna ungu yang saya beli waktu itu adalah buku kedua. Barangkali karena saya enggak terlalu tahu buku buku Divakaruni, barangkali karena di sampul buku tidak ada pemberitahuan apa pun mengenai hal tersebut, barangkali karena buku Cermin Api dan Mimpi itu sudah ditakdirkan untuk menjadi milik saya, enggak kayak dia yang jadi milik orang lain *elaahhhh…
Anyway, meski kemudian jadi agak sedikit kecewa, karena saya lebih suka baca buku dari yang pertama dulu kemudian baru yang kedua, tapi pada akhirnya saya harus belajar untuk menerima kenyataan. Pada awalnya memang jadi agak roaming, ketika sekonyong konyong saya harus dijejali informasi mengenai adanya keong ajaib yang punya kekuatan super serta peristiwa peristiwa yang terjadi di buku pertama yang fantastis ( dikerjar penyihir, ular raksasa merah), tapi lama kelamaan saya cukup enjoy bacanya.
Meski enggak enjoy enjoy banget.
Karena sebagai sebuah novel fantasi, ternyata ceritanya biasa saja, tidak ada hal yang wah banget. Ceritanya sendiri meneruskan kisah Anand yang berhasil menyelamatkan Keong Ajaib, dan kemudian suatu hari harus mencuri Keong Ajaib tersebut untuk menolong gurunya, Abhaydatta yang sedang dalam bahaya sekaligus untuk menyelamatkan sebuah negeri dari cengkeraman penyihir jahat yang dibantu oleh jin maha sakti.
Ceritanya terlalu flat, tokoh tokohnya juga tidak ada yang berkesan. Hanya sekedar numpang lewat saja.
Dan, yang jadi pertanyaan saya adalah mengapa buku pertamanya tidak diterbitkan ulang, lalu ditaruh berdampingan di toko buku? Siapa tahu banyak yang beli dua duanya, atau beli yang pertama dulu, kemudian dilanjut beli yang kedua. Rate  2,5/5

 

kolamdarah
Bisa jadi, Kolam Darah ini adalah buku Abdullah Harahap yang menurut saya tidak semenarik buku buku beliau yang lain. Mungkin karena tebakan saya salah. Jadi begini, pertama kali baca judulnya, saya langsung berpikir bahwa buku ini bakal bercerita banyak mengenai kolam darah, dan yang pasti bakal berdarah darah, karena kalau berlele lele, itu namanya kolam lele. Tapi nyatanya tidak seperti itu.
Kolam darah itu hanya sebagai sebuah mimpi si Agus, yang ia yakini sebagai pertanda.
Dalam mimpi ia melihat ayah serta dua saudara angkatnya Maharani dan Rudi terperosok dalam kubangan darah yang menggeliat serta menyedot liar. Lebih liat daripada lumpur atau pasir hidup yang siap menelan hidup-hidup mangsanya yang terjebak. Agus kemudian melihat dirinya nekat terjun ke tengah kubangan darah, berusaha menyelamatkan ketiga orang anak beranak yang sudah setengah terpejam dan mengggapai ribut serte putus asa itu.
Cerita dimulai dengan terbunuhnya ayah angkat Agus dengan kondisi yang mengenaskan. Sementara polisi menetapkan pembantu laki lakinya yang ternyata ayah Agus juga sebagai tersangka. Tapi kemudian kejadian bertambah semakin buruk. Ada sosok misterius yang dicurigai sebagai tersangka dan melakukan kembali pembunuhan pembunuhan anggota keluarga tersebut. Ternyata itu semua berawal dari sebuah dendam masa lalu yang melibatkan sebuah senjata keris maha sakti, keris Nagapati.
Dengan cover kuning ceria, Kolam Darah secara keseluruhan memang tidak terlalu menakutkan. tidak ada bagian yang benar benar berkesan, dan sinopsis di cover belakang menurut saya agak spoiler. Rate 2/5

jamesAda banyak cara untuk berpetualang, dan James Henry Trotter pergi berpetualang menggunakan buah persik raksasa bersama temannya, serangga yang bisa bicara. James yang yatim piatu tinggal bersama dua bibinya yang jahat. Suatu hari, pria tua misterus memberi James sekantong kristal berwarna hijau yang aneh. “Kekuatan dan kejaiban dalam benda benda ini lebih banyak dari pada seluruh keajaiban di dunia dijadikan satu,” kata pria itu.
Tapi James ceroboh, kristal ajaib itu lalu jatuh ke tanah. Akibatnya, di lain hari, munculah buah persik raksasa. Suatu malam, James menemukan sebuah lubang di buah persik raksasa itu. Ketika ia masuk ke dalam, ternyata di sana ia bertemu dengan sekelompok serangga yang ukurannya lebih besar dari serangga biasa, dan mereka bisa bicara. Ada Kakek Belalang Hijau, Laba Laba besar, Kepik raksasa, Lipan, Cacing Tanah, Ulat Sutra, dan Cacing Cahaya. Bersama mereka, James terlibat petualangan seru melintasi samudera, bertemu dengan Manusia Awan, dan memperdaya burung burung.
James dan Persik Raksasa ditulis oleh Roald Dahl dan ada bayak ilustrasi ilustrasi dari Quentin Blake yang menggambarkan cerita di dalamnya. Buku ini memang buku untuk anak anak, meski ada bagian kekerasan yang di buku lain mungkin bisa terlihat terlalu sadis. Jadi begini, membaca buku ini seperti kita menonton kartun Tom and Jerry, dimana kekerasan tidak terlihat mengerikan, tapi lucu (rrr..mungkin lucu bukan kata yang tepat, tapi tahu kan maksud saya). Hal yang menurut saya janggal adalah kematian orang tua James. Ditelan badak mengamuk di siang hari. Hmm…
Overall, buat saya buku ini biasa saja, faktor U mungkin. Rate 2,5/5

Penunggu Jenazah

misteri-penunggu-jenazah

Pada jaman dahulu kala yang tidak dulu dulu banget, ada orang yang sedang duduk di kursi sambil mengetik sebuah review. Ketika review itu sudah tertulis banyak, tiba tiba mati lampu. Orang itu kaget karena keadaaan menjadi gelap gulita dan ia sedang menulis review buku horor. Semacam takut ada yang meluk dari belakang, begitu.Tapi, tidak terjadi apa apa.
Lampu menyala kembali dan hilanglah rasa cemasnya. Hilang pula review yang belum sempat disimpan olehnya.

Seperti celana kolor, hari pun berganti. Orang itu kembali menulis ulang reviewnya, dan kejadian yang sama pun terulang kembali. Orang itu memang tidak menyimpannya lebih dulu karena ia menganggap cukup tampan untuk tertimpa nasib sial yang sama kedua kali. Tapi ia lupa, nasib sial tidak mengenal ketampanan.

Tapi karena kegagalan menulis review tidak terlalu menyakitkan seperti halnya kegagalan cinta, maka orang itu pun mulai menulis lagi reviewnya.  Menggali sedikit demi sedikit kenangan dengan buku itu dengan hati hati karena takut menyentuh kenangan yang lain.

Judul bukunya Penunggu Jenazah yang ditulis oleh Abdullah Harahap. Penunggu Jenazah bercerita mengenai seorang penunggu jenazah bernama Kurdi. Profesinya yang ganjil menjadikannya tidak punya teman dekat, apalagi teman tapi mesra.
Ternyata proses menunggu jenazah yang dilakukan Kurdi tidak sesederhana menunggu jenazah pada umumnya. Bisa dibilang Kurdi hendak menolong jenazah tersebut atau ahli warisnya untuk menyelesaikan segala persoalan yang belum selesai. Misalnya, ada seorang ayah yang meminta Kurdi untuk mencari kepala anaknya yang hilang. Dan karena pekerjaannya sering bersinggungan dengan kepentingan orang lain, Kurdi jadi punya musuh yang tidak segan segan untuk menghilangkan nyawanya.

Buku itu lebih banyak bercerita mengenai keseharian Kurdi, bagaimana harus menjadi penunggu jenazah, atau alasannya mengapa ia suka bercinta dengan jenazah. Iya, jenazah yang akan ditolong biasanya akan ia hidupnya kembali lalu disetubuhi. Kurdi adalah tokoh yang bisa membuatmu jijik, kemudian bersimpati atas nasib malangnya menjadi penunggu jenazah.

“Kita mewarisi kutuk yang ditimpakan pada nenek moyang kita, anakku. Kita ditakdirkan menjadi penunggu jenazah, seperti juga sudah ditakdirkan padaku, pada kakekmu. Takdir kedua yang harus kau jalani: membujang seumur hidupmu, atau istrimu mati ketika kau masih sayang-sayangnya padanya…!”

Overall, buku ini tidak terlalu menegangkan meski ada beberapa perkelahian. Justru penggambaran karakter Kurdi lah yang menarik. Dan.. begitulah orang itu menulis review meski bukunya dibaca sudah lama.
Sebenarnya siapakah orang itu? Kalau kamu bisa menebaknya, mungkin kamu bisa mendapatkan hadiah menarik, yaitu (pilih salah satu):
1. Menarik gerobak
2. Menarik odong odong
3. Menarik becak

Judul : Penunggu Jenazah
Pengarang : Abdullah Harahap
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Halaman : 352 hal
Rate : 3

Aku Tahu Kamu Hantu

atkh

Dengan design cover yang terlalu riang untuk sebuah novel horor, boleh jadi Aku Tahu Kamu Hantu akan luput dari perhatian pecinta horor, dan seandainya mereka kebetulan melihatnya pun, boleh jadi, akan menganggap buku ini sebagai kisah cinta antara manusia dengan setan seperti halnya manusia dan vampire di Twilight, dan mereka, boleh jadi, akan melewatkan buku ini dan memilih buku yang lain yang mereka anggap lebih seram. Meski demikian, boleh jadi mereka akan tetap membeli buku ini karena alasan yang lain.

Untungnya saya sudah terlebih dahulu membaca bukunya Eve Shi yang lain yaitu Lost dan untungnya Lost termasuk dalam buku yang saya suka meski kalau dilihat dari segi cerita masih ada kekurangan, tapi untungnya beliau punya sesuatu yang jarang dimiliki oleh penulis lain, yaitu dinosaurus… untungnya saya bercanda, beliau tidak punya dinosaurus, tapi punya gaya penulisan yang menarik sehingga saya jadi penasaran dengan karya beliau yang lain, dan untungnya saya kemudian menemukannya di toko buku.

Ternyata buku yang bercerita tentang murid SMU bernama Olivia yang biasa dipanggil Liv yang punya kemampuan bisa melihat makhluk halus yang kemudian memanfaatkan kemampuan uniknya itu untuk membantu mengungkap sebuah tragedi hilangnya salah seorang murid yang bernama Frans meski ada pihak pihak yang menghalangi tujuannya serta beberapa masalah yang juga sedang dihadapinya yang berhubungan dengan sahabat karibnya yang bernama Daniel yang tiba tiba bersikap aneh kepada Liv, juga rasa sukanya kepada salah satu murid sekolah yang justru membuat keadaan menjadi tambah rumit ini, sangat asik untuk diikuti.

Kata kata yang digunakan tidak berbelit belit, terasa pas sekali. Dengan alur maju, membuat buku ini mudah untuk diikuti sambil berusaha menebak nebak misteri yang ada di dalamnya. Dan karena ini buku horor, tentu ada beberapa penampakan penampakan serta ilustrasi seram sebagai tambahan agar semakin menakutkan. Meski penampakan tersebut pada akhirnya ada yang tidak dijelaskan secara detail padahal sebenarnya karakternya sudah kuat. Sedikit mengecewakan tentu saja. Sudah seram dan lumayan ada chemistry dengan Liv. Tapi, siapa tahu itu akan dibahas di buku selanjutnya. Siapa tahu kisah Liv ini akan jadi semacam franchise baru tentang cewek SMU yang bisa melihat hantu.

Aku Tahu Kamu Hantu mengetengahkan cerita horor dengan sedikit romansa serta thriller pembunuhan yang dikemas dengan cita rasa anak muda yang boleh jadi akan disuka oleh siapa saja yang menyukainya. Boleh jadi buku ini akan benar benar membuat anda takut. Kalau pun anda tidak takut, boleh jadi anda akan menyukai misteri di dalamnya. Mohon maaf kalau ada salah kata.

Judul: Aku Tahu Kamu Hantu
Penulis: Eve Shi
Penerbit: Gagas Media
Jumlah Halaman: 269
Rate: 3.5