[Review] Seekor Anjing Mati di Bala Murghab

Judul:Seekor Anjing Mati di Bala Murghab.
Penulis: Linda Christanty
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Halaman: 129

 

Serdadu yang menembak anjing itu, memberi isyarat padaku.


Cerita pendek pertama, Ketika Makan Kepiting, dimulai dengan sebuah kalimat; ‘Ia terbaring lesu di atas pasir setelah terjaga dari mimpi melawan raja ketam’. Barangkali kalimat ini bagi sebagian orang terkesan biasa saja, tapi buat saya waktu itu, berlaku sebaliknya. Kalimat ini menjadi begitu ajaib, tepat setelah saya membaca tiga kata terakhir; melawan raja ketam. Epik.
Tapi ternyata kemudian saya menemukan hal menakjubkan lainnya, yang kali ini berhasil membuat otak saya menggelinjang. Otak, bukan yang lain. Ceritanya begini;
‘Sebulan yang lalu ia menonton film kartun di televisi, film yang mengesankan. Seorang pangeran disulap menjadi seekor kucing oleh kakek sihir yang mengincar putri raja. Bagian akhir film itu menampilkan sebuah kalimat di layar televisi. BARANGSIAPA RELA MENCIUM KUCING YANG MUNCUL DI MONITOR TELEVISI ANDA, MAKA ANDA TELAH MENYELAMATKAN SEORANG PANGERAN. Serta merta dengan penuh haru, ia mencium layar televisi.’
Itulah yang terjadi pada tokoh utama dalam cerita pendek pertama ini. Unik. Sebenarnya siapakah dia?
Rasanya tak berlebihan seandainya kemudian saya mulai memberi harapan berlebih terhadap buku kumpulan cerita pendek terbaru dari Linda Christanty, Seekor Anjing Mati di Bala Murghab, sebab cerita pertamanya saja sudah begitu saya sukai. Begitu pula dengan cerita pendek kedua, Zakaria.
Zakaria ialah seorang laki laki yang sedang merencanakan sesuatu dengan merekrut Geuchik Syawal, yang diyakini memiliki ilmu menghilang, yang sejatinya berasal dari azimat tulang kucing. Lalu ada Taufik, teman baiknya yang ia rekrut juga. Sebenarnya apa yang sedang Zakaria rencanakan, apakah akan berhasil?
Dan cerita Seekor Anjing Mati di Bala Murghab, bercerita tentang kegalauan seorang wartawan manakala ia melihat anak kecil menangis tak rela setelah mengetahui anjingnya mati diterjang peluru seorang serdadu. Sebenarnya yang membuat saya penasaran dari cerpen ini adalah judulnya. Bala Murghab. Kira kira dimana yah itu? Sebelah mananya Timbuktu? Ternyata, Bala Murghab ialah nama tempat di Afganistan. Saya kurang gaul, ternyata.

Membaca sebuah kumpulan cerita pendek mau tidak mau harus dihadapkan pada satu kenyataan bahwa, akan ada cerita pendek yang belum tentu saya suka, dan mudah untuk dilupakan. Dalam buku ini, saya menemukan ada sekitar tiga buah cerita pendek yang gagal untuk membuat saya terpesona, yaitu cerpen Karunia dari Laut dan Perpisahan, karena isi ceritanya yang biasa saja. Sedangkan cerita pendek Catatan Tentang Luta; Manusia Yang Hidup Abadi, tidak saya sukai meski ceritanya bagus, karena cerita ini ditulis menggunakan pendekatan penulisan artikel. Sehingga lebih mirip karya non fiksi, dan membuatnya menjadi sedikit melelahkan ketika dibaca.

Ada banyak isu isu sosial baik lokal maupun internasional yang mencoba untuk diungkapkan dalam cerita pendek dalam buku ini.Mulai dari Aceh dengan GAMnya, sampai di Bala Murghab, dengan bom bunuh dirinya. Sedikit mengingatkan saya dengan cerita pendeknya Seno Gumira Ajidarma. Tapi tenang saja, bagi yang tidak menyukai tema tersebut, masih ada cerita dengan nuansa cinta.
Lalu apakah buku ini layak baca? Ya, jika kamu penasaran:
1. Bagaimana caranya mendapatkan azimat tulang kucing yang bisa bikin kamu menghilang.
2. Kira kira apa yang terjadi dengan tokoh yang tadi mencium kucing yang ada di layar televisi.
Apa kucingnya benar benar jadi pengeran tampan, atau bibirnya jontor gara gara kesetrum.
3. Apa hubungannya antara Erika Sartika yang mati jatuh ke kolam ikan dari jendela apartmennya, dengan Tina Wang yang belum juga dipeluk dewa cinta. Dan, mengapa pula Erika membiarkan tukang kebunnya mengintipnya saat mandi?
4. Apa yang ingin dilakukan oleh serdadu itu? (Sebelumnya lihat quote paling atas review ini, yang saya ambil dari cerita pendek Seekor Anjing Mati di Bala Murghab.)
Yang jelas bukan nyuruh nari hula hula atau nari perut.

Tapi jika kamu enggak penasaran, buku ini tetap layak untuk dibaca. Sebab gara gara baca buku ini, saya jadi penasaran dengan buku buku Linda Christanty yang lainnya. Saya kira itu alasan yang cukup kuat.

Rating 3.5 of 5