Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Luis Sepulveda’

Judul: Pak Tua Yang Membaca Kisah Cinta
Penulis: Luis Sepulveda
Penerbit: Marjin Kiri
Jumlah Halaman: 116

Pak Tua Yang Membaca Kisah Cinta. Ada kesan romantis sekaligus lucu dalam judul ini. Membayangkan seseorang yang sedang membaca surat cinta sambil duduk manis di sebuah bangku taman, tentunya akan memberi kesan romantis, dan menjadi sedikit lucu ketika hal itu dilakukannya sambil kayang di tengah jalan. Tapi mengapa harus ada gambar senapan dan seekor macan dalam sampul buku ini?
Ialah Antonio Jose Bolivar Proano, lelaki tua itu,yang mengisi masa tuanya dengan membaca kisah kisah cinta dari buku pemberian seorang dokter gigi. Tapi hobinya itu terganggu manakala seorang pendatang ditemukan mati, dengan luka cabikan seekor binatang
buas, macan kumbang. Ia kemudian mencoba melacak keberadaan macan itu bersama beberapa penduduk desa dan sang wali kota yang dipanggil si gendut. Si gendut ini tipe orang kota yang sok tahu dan sok punya kuasa, yang sebenarnya tidak begitu menyukai Antonio Jose Bolivar, tapi ia tak punya pilihan lain sebab lelaki tua itulah satu satunya orang yang tahu seluk beluk hutan melebihi siapa pun yang ia kenal. Berhasilkah mereka membunuh macan kumbang itu, sementara korban kembali berjatuhan?

Tidak seperti judulnya, ternyata buku ini jauh dari romantis, melainkan sedikit muram dan menegangkan. Muram sebab romantisme hujan yang kerap turun di tempat itu telah koyak oleh terbunuhnya beberapa orang oleh si macan kumbang, dan perburuan di tengah hutan yang lebat dan gelap membuatnya jadi sedikit menegangkan, karena si macan tentu saja  lebih mengenal medan dan tak bakal tinggal diam. Tapi buku ini juga lucu, terutama pada bagian awal. Aku sampai tergelak beberapa kali, yang menurutku kelucuan itu terjadi secara tidak sengaja. Maksudku, Luis Sepulveda, si penulis, barangkali tidak bermaksud untuk melucu. Ia hanya menulis apa adanya, yang boleh jadi bagi beberapa orang hal itu malah sama sekali tidak lucu. Tapi menurutku itu lucu. Untuk lebih jelasnya, contohnya seperti ini: bagian ini diambil ketika sedang diadakan pemeriksaan gigi.

Kadangkala ada pasien yang jeritannya membuat takut burung burung, dan ia tangkis catut itu agar tangannya gampang meraih pegangan parang.
“Bersikaplah jantan, banci. Aku tahu sakit memang, dan sudah kubilang salah siapa itu.
Jangan salahkan aku. Duduk diam dan tunjukkan kau berani.”
“Tapi kau robek robek jiwaku dokter. Biarkan aku minum dulu.”

Lucu enggak? Enggak lucu ya? Tak apa, memang lucunya bukan untuk semua orang. Tapi, akan kuberitahu mengapa itu lucu, sebab katanya kalau kau ketawa tanpa alasan, maka sama saja orang gila. Jadi begini lucunya. Perhatikan kalimat pertama, kata ‘agar gampang meraih pegangan parang’ bisa diasumsikan bahwa ia tipe orang sengcok, alias senggol bacok. Biasanya orangnya garang dan menyeramkan.
Lalu pada kalimat terakhir,tiba tiba orang itu berubah jadi orang paling lebay sejagat, alih alih mengancam si dokter dengan kata kata kotor atau mengayunkan parang, misalnya:  “Sialan kamu dok! Mau kupenggal kepalamu, lalu kubawa ke perempatan dan menginjaknya sampai otakmu keluar!’ orang itu malah ngomong:  “Tapi kau robek robek jiwaku dokter.”
Lebay.
Sekarang, lucu enggak? Kalau masih enggak lucu berarti selera humor kita beda, atau mungkin otakku saja yang sedang bermasalah.
Tapi, ‘kelucuan’ itu bukanlah satu satunya hal yang menarik dari buku ini. Hal menarik lainnya ialah aura ekspedisi belantara yang kental, yang oleh karena si penulis begitu lihai merangkai kata dan penerjemahan yang pas oleh Ronny Agustinus, maka seolah olah aku ikut berada di dalamnya. Ikut berbasah ria diguyur hujan, ikut menertawakan wali kota yang sok tahu, dan tegang oleh macan kumbang yang ternyata juga sedang mengintai itu. Kemudian menjelang penghabisan, hatiku dilingkupi oleh rasa haru yang menyedihkan ketika mengetahui alasan sebenarnya si macan kumbang itu membunuh orang orang. Lalu kisah hidup pak tua Jose Bolivar itu sendiri yang juga menarik. Bagaimana kisahnya hingga ia sampai terdampar di tempat terpencil itu dan perkenalannya dengan suku asli Shuar yang mengajarinya berburu, siapa sebenarnya dirinya, atau tentang istrinya, yang punya nama terlalu panjang, Dolores Encarnacion del Santisimo Sacramento Estupinan Otavalo.

Pak Tua Yang Membaca Kisah Cinta, jika dipikirkan lebih mendalam maka dapat dimaknai sebagai sebuah kritik mengenai kebiasaan manusia merusak lingkungannya, yang apabila dirasa sudah keterlaluan, maka alam akan menunjukkan kemarahannya dengan jalan yang sudah tentu tak mengenakkan. Bacalah buku ini, rasakan sebuah petualangan menembus hutan amazon, berjumpa dengan mitos mitos magis penghuninya, dan apabila merasa cukup jenaka, jangan sungkan untuk menertawai jalinan nasib malang menggelikan yang menyertai tokoh tokohnya. Ah, 116 halaman masih terlalu kurang panjang rasanya. Aku ketagihan.

Rating 5 out of 5

Advertisements

Read Full Post »