Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘mario vargas’

Judul: Siapa Pembunuh Palomino Molero?

Penulis: Mario Vargas Llosa

Jumlah Halaman: 192

Penerbit: Komodo Books

Dalam versi bahasa inggrisnya, setelah sejenak mengintip di amazon.com, kata pertama buku ini ialah sebuah umpatan ‘son of the b***h’, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi ‘kutukupret’, dan entah mengapa gue langsung terbayang wajah Tukul Arwana, lalu gue tertawa. Kutukupret.
Tapi kemudian kejenakaan itu langsung sirna manakala gue membaca kalimat selanjutnya;

Lituma tergagap gagap menahan muntah. “Mereka benar benar menghabisimu, nak.” Bocah itu menggantung pada pohon khurnub tua sekaligus mendelik ke arahnya, dengan posisi yang begitu absurd sampai sampai lebih mirip orang orangan sawah atau bonek karnaval busuk ketimbang mayat. Entah sebelum atau sesudah dibunuh ia dihajar dengan kekejaman tiada tara: hidung dan mulutnya robek, darah kering bergumpal gumpal, mukanya lebam penuh luka sayat dan sundutan rokok. Dan seakan itu belum cukup, Lituma juga melihat mereka juga mencoba mengebirinya, karena buah zakarnya melorot menutupi pangkal paha.

Begitulah kemudian gue akhirnya menyadari satu hal; gue bakal suka banget sama ini buku.  Rasanya seperti bertemu teman lama, terus ia bilang begini; bro, mau duit sekarung gak?

Absurd.

Siapa Membunuh Palomino Molero? ialah sebuah novel yang ditulis oleh Mario Vargas Llosa, yang telah berhasil mendapatkan Nobel Sastra pada tahun 2010 silam. Ini novel misteri pembunuhan pertama yang gue beri nilai nyaris sempurna. Sepanjang halaman buku ini, gue diajak berkeliling mencari petunjuk petunjuk yang sekiranya bisa membantu mengungkap siapa pembunuhnya melalui kacamata seorang Lituma, anggota Guardian Civil (semacam polisi), beserta atasannya, Letnan Silva. Tapi, jangan harapkan ada adegan aksi atau kejar kejaran di sini, karena buku ini lebih menitikberatkan pada kelihaian penegak hukum dalam rangka menginvestigasi saksi saksi, yang dituangkan dalam dialog dialog yang memikat dan blak blakan. Anak kecil dihimbau jangan ikutan baca.
Selain itu, jangan lewatkan usaha Letnan Silva untuk mengambil hati (baca: meniduri) wanita pujaan hatinya bernama Dona Adriana, si gendut pemilik rumah makan dan juga istri seorang pelaut. Letnan Silva tergila gila pada perempuan itu, yang digambarkan oleh Mario Vargas dengan begitu seksi, sekaligus absurd.

meski Letnan mendengar dan mengajak bicara soal pertemuan dengan Komandan Pangkalan Angakatan Udara nanti, segenap jiwa raganya terkonsentrasi pada gerak menggelombang Dona Adriana yang sedang menyapu restoran. Gerakannya tangkas dan gesit, kadang membuat ujung roknya terangkat naik sampai ke atas lutut, menyingkap sepotong paha tebal nan keras.

Jadi, apakah mereka bakal menemukan siapa sebenarnya pembunuh Palomino Molero? Apa motif dari pada pembunuhan itu? Lalu, apakah Letnan Silva berhasil menuntaskan hasratnya?

Tapi yang ia minati cuma Dona Adriana. Ia pun sudah mengakuinya ke Lituma, “Akan kutiduri si gendut itu, sialan.”

Ternyata jawabannya cukup menyedihkan dan sungguh di luar dugaan. Tapi, nasib Letnan Silva dan Dona Adriana lah yang justru terasa banget kejutannya. Antara nelangsa, dan ngakak tak terkira.

Pada akhirnya, buku ini cocok buat anda yang mengharapkan cerita misteri pembunuhan yang lain dari biasanya. Bagi yang suka nonton film, buku ini mengingatkan gue sama film thriler korea Memories Of Murder nya Bong Joon Ho. Atmosfirnya hampir sama, terutama pas openingnya.
Mengenai terjemahan buku ini, bisa dibilang nyaris sempurna, begitu nyaman buat dibaca. Dan, setelah gue baca siapa penerjemahnya, gue paham, ternyata ia adalah orang yang sama yang telah menerjemahkan Rumah Arwah, Daughter Of Fortune (yang juga gue sukai), yaitu Ronny Agustinus. Hanya saja, ada sedikit yang mengganjal yaitu di halaman 144.
Di situ tertulis: “Aku sesuatu yang panas, kopi itu kalau tak ada lainnya, kata gadis itu…

Mungkin maksudnya begini:
“Aku ingin sesuatu yang panas, kopi itu .. dst..

Tapi dari segi cerita, buku ini mantap betulan. Tak heran kalau si penulis memang pantas menyandang Nobel Sastra 2010 itu.

Rating 4.5 aout of 5

Advertisements

Read Full Post »