Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Marjin Kiri’

Selesai membaca buku ini kemungkinan besar kamu akan menempatkan kisah cinta Inayatun & Mat Dawuk sebagai cinta yang tragis, sebanding dengan kisah Romeo & Juliet, Qays & Layla, Mardio kepada Melatie, atau mungkin kisah cintamu sendiri. Muehehehe. Inayatun & Mat Dawuk mampu membuat lubang besar di hati saya, sehingga kosong melompong seperti tengah tengah kue donat assorted. Kenyataan bahwa cinta keduanya berakhir tragis dapat segera kamu temukan tak lama setelah membaca buku ini, di halaman empat belas. Jadi enggak spoiler amat. Tepatnya pada kalimat ini; Bagaimana mungkin para orang tua akan bercerita kepada para anak anaknya, atau para kakek nenek akan mendongengi cucu cucunya – bocah bocah polos tak tahu apa apa itu – tentang laki laki yang telah membunuh istrinya? Istrinya sendiri dan beberapa orang lainnya, lebih tepatnya

Yang dimaksud laki laki itu adalah Mat Dawuk, dan iatrinya adalah Inayatun. Meski sudah tahu ending kisah cinta mereka (bukan ending buku ini lho ya gaes), tapi tetap saja ketika membaca bagian yang menceritakan hal itu, rasanya tetap menyakitkan. Mungkin karena kita manusia tak ada yang benar benar siap menerima kabar menyedihkan. Mungkin juga karena saya kadung menyukai tokoh Inayatun & Mat Dawuk setelah mendengar sejarah masa lalu keduanya melalui mulut Warto Kemplung. Siapa pula Warto Kemplung?

Warto Kemplung ialah si tukang dongeng kita. Oh bukan tukang dongeng, tapi si pembual. Warto Kemplung memang dikenal sebagai tukang kibul. Orang orang nyaris tak percaya pada cerita ceritanya. Tapi tak punya daya untuk menolaknya manakala Warto Kemplung mulai bercerita. Buku ini berisi cerita Warto Kemplung saat berada di warung kopi. Sambil menyeruput kopi dan merokok, ia dengan semangat bercerita mengenai sebuah kejadian berdarah yang baru saja terjadi di desa mereka, yang kemudian merembet pada kisah kisah cinta, dendam, mistis, aksi laga, pembunuhan, yang asik sekali untuk disimak. 

“Mereka berkoar soal kekalahannya, soal penyerahan senjata dan buntalan di kalungnya, sampai soal pembakarannya, dan sama sekali tak menyinggung nyinggung tentang pengeroyokan itu. Dan, tentu saja, mereka tak akan bicara apa apa tentang seberkas sinar putih yang meluncur menembus api!” kata Warto Kemplung dengan kepongahan orang yang merasa lebih tahu. 

Kisah cinta Inayatun & Mat Dawuk memang sangat menarik. Karena ini adalah pasangan Beauty & the Beast yang sebenarnya. Inayatun gadis paling cantik nan bahenol di Rumbuk Randu. Setiap laki laki ingin memilikinya. Tapi sifat gadis itu tak seelok rupanya. Ia susah diatur. Pandai merayu laki laki sehingga menikah sampai tiga kali. A real bitch lah pokoke. Di sisi lain, Mat Dawuk sama sekali berbeda. Bentuk fisiknya mungkin di bawah sedikit dengan wajah si Cantik dalam novel Cantik Itu Luka karangan Eka Kurniawan. Jelek dan mengerikan. Nasibnya sebelas dua belas dengan Tyrion Lannister yang dibenci si ayah karena ibunya meninggal sewaktu melahirkan dia. Nyaris tak ada yang mau berteman dengannya. Kuburan jadi tempat favoritnya bermain. Namanya kerap dipakai ibu ibu untuk menakuti anak anak mereka kalau mereka membandel. Lantas, bagaimana Inayatun & Mat Dawuk bisa menjadi suami istri yang saling mengasihi?

Dawuk sudah pasti jadi buku favorit saya tahun ini, bersanding dengan Muslihat Musang Emas nya Yusi Avianto Pareanom . Membaca Dawuk membuat saya seolah olah menjelma jadi pria tamvan penasaran yang ikut duduk ngopi di warung kopi Siti, sambil duduk mendengarkan cerita Warto Kemplung dengan sungguh sungguh. Ikut tersenyum sewaktu ada kejadian lucu (yang sebenarnya tidak lucu tapi karena Warto Kemplung seperti ngelucu jadi saya tertawa), ikut tegang sewaktu terjadi ketegangan (ada beberapa bagian yang rasanya seperti menonton film thriller, penuh dengan suspen, dan perkelahian yang seru), ikut berduka sewaktu kisah cinta dua manusia menemukan muara kesedihannya. Tapi saya enggak ikut nyanyi sewaktu lirik lirik lagu India bertebaran di buku ini. Soalnya enggak paham lagu apaan. Enggak banyak tahu lagunya. Lagu India terakhir yang saya simak itu lagu Tum Hi Ho. Versi koplo tapinya. Kalau lagu dangdutnya sih paham. Ehehe.

Mahfud Ikhwan, yang sudah menelurkan buku Aku dan Film India Melawan Dunia hingga dua buku, kembali membawa keIndiaannya dalam buku ini yang meliputi adegan film dan lagu. Lagu India berseliweran, dan ada yang menjadi anthem song nya pasangan Inayatun & Mat Dawuk. Beberapa bagian ada yang terinspirasi oleh film India. Misalnya sewaktu Inayatun & Mat Dawuk memadu kasih dengan berlarian. Atau dalam percakapan romantis intim mereka berdua. 

“Ini persis kandang di film Betaab. Luas dan sepi,” kata Inayatun dengan mata ceria, sehabis mereka bercinta di lantai- sebab dipan untuk mereka tidur belum selesai dibikin. Siang siang pula.  “Kita adalah Roma dam Sunny dari Rumbuk Randu,” sambungnya sambil menjejerkan wajahnya dengan wajah Mat. Dari segala segi, jelas tak cocok, bertentangan, tak sepatutnya dipertemukan. Seperti langit dan bumi. Seperti pucuk bintang paling jauh dan dasar sumur paling dalam. Seperti hujan dan jemuran. 

“Tapi kita tak punya peternakan kuda seperti mereka. Hanya ada kambing. Itu pun cuma seekor.” Sahut Mat mengacu pada film India yang dibicarakan Inayatun.

“Buat apa kuda. Aku sudah punya kamu,” balas Inayatun sambil menaiki perut Mat. Senyum dan tangannya nakal, seperti biasanya.

Peraih Kuala Sastra Khatulistiwa 2017 ini memang memikat sejak awal sampai akhir. Covernya yang tak mencolok mata, namun gambar kalajengking dan ularnya mematri di kepala. Ternyata kedua binatang itu memang diceritakan dalam buku. Covernya mengingatkan saya pada cover Mantra Pejinak Ular Kuntowidjoyo. Dawuk terbagi dalam 23 bab pendek pendek. Memberikan ilusi seperti makan kacang, sedikit demi sedikit lama lama habis.  Kacang gurih dan nikmat. 

Buku yang tak tebal tebal amat ini, mengingatkan saya dengan buku bukunya Eka Kurniawan pada masa sebelum O keluar. Kisah kisah yang terasa dekat diselingi hal hal ajaib. Tokoh tokoh yang masih terbayang manakala buku sudah diselesaikan. Ditutup dengan ending yang tak mudah dilupakan, karena menyebalkan. Menyebalkan karena saya punya gambaran lain yang menurut saya lebih keren, tapi jadinya mainstream. Sementara Mahfud Ikhwan memilih ending yang mengguncang siapa saja yang membaca buku ini. Love and hate ending. Tapi pastinya bikin mikir.

Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu | Mahfud Ikhwan | Marjin Kiri | Halaman: 182 | Rate: 4


Advertisements

Read Full Post »

Judul: Pak Tua Yang Membaca Kisah Cinta
Penulis: Luis Sepulveda
Penerbit: Marjin Kiri
Jumlah Halaman: 116

Pak Tua Yang Membaca Kisah Cinta. Ada kesan romantis sekaligus lucu dalam judul ini. Membayangkan seseorang yang sedang membaca surat cinta sambil duduk manis di sebuah bangku taman, tentunya akan memberi kesan romantis, dan menjadi sedikit lucu ketika hal itu dilakukannya sambil kayang di tengah jalan. Tapi mengapa harus ada gambar senapan dan seekor macan dalam sampul buku ini?
Ialah Antonio Jose Bolivar Proano, lelaki tua itu,yang mengisi masa tuanya dengan membaca kisah kisah cinta dari buku pemberian seorang dokter gigi. Tapi hobinya itu terganggu manakala seorang pendatang ditemukan mati, dengan luka cabikan seekor binatang
buas, macan kumbang. Ia kemudian mencoba melacak keberadaan macan itu bersama beberapa penduduk desa dan sang wali kota yang dipanggil si gendut. Si gendut ini tipe orang kota yang sok tahu dan sok punya kuasa, yang sebenarnya tidak begitu menyukai Antonio Jose Bolivar, tapi ia tak punya pilihan lain sebab lelaki tua itulah satu satunya orang yang tahu seluk beluk hutan melebihi siapa pun yang ia kenal. Berhasilkah mereka membunuh macan kumbang itu, sementara korban kembali berjatuhan?

Tidak seperti judulnya, ternyata buku ini jauh dari romantis, melainkan sedikit muram dan menegangkan. Muram sebab romantisme hujan yang kerap turun di tempat itu telah koyak oleh terbunuhnya beberapa orang oleh si macan kumbang, dan perburuan di tengah hutan yang lebat dan gelap membuatnya jadi sedikit menegangkan, karena si macan tentu saja  lebih mengenal medan dan tak bakal tinggal diam. Tapi buku ini juga lucu, terutama pada bagian awal. Aku sampai tergelak beberapa kali, yang menurutku kelucuan itu terjadi secara tidak sengaja. Maksudku, Luis Sepulveda, si penulis, barangkali tidak bermaksud untuk melucu. Ia hanya menulis apa adanya, yang boleh jadi bagi beberapa orang hal itu malah sama sekali tidak lucu. Tapi menurutku itu lucu. Untuk lebih jelasnya, contohnya seperti ini: bagian ini diambil ketika sedang diadakan pemeriksaan gigi.

Kadangkala ada pasien yang jeritannya membuat takut burung burung, dan ia tangkis catut itu agar tangannya gampang meraih pegangan parang.
“Bersikaplah jantan, banci. Aku tahu sakit memang, dan sudah kubilang salah siapa itu.
Jangan salahkan aku. Duduk diam dan tunjukkan kau berani.”
“Tapi kau robek robek jiwaku dokter. Biarkan aku minum dulu.”

Lucu enggak? Enggak lucu ya? Tak apa, memang lucunya bukan untuk semua orang. Tapi, akan kuberitahu mengapa itu lucu, sebab katanya kalau kau ketawa tanpa alasan, maka sama saja orang gila. Jadi begini lucunya. Perhatikan kalimat pertama, kata ‘agar gampang meraih pegangan parang’ bisa diasumsikan bahwa ia tipe orang sengcok, alias senggol bacok. Biasanya orangnya garang dan menyeramkan.
Lalu pada kalimat terakhir,tiba tiba orang itu berubah jadi orang paling lebay sejagat, alih alih mengancam si dokter dengan kata kata kotor atau mengayunkan parang, misalnya:  “Sialan kamu dok! Mau kupenggal kepalamu, lalu kubawa ke perempatan dan menginjaknya sampai otakmu keluar!’ orang itu malah ngomong:  “Tapi kau robek robek jiwaku dokter.”
Lebay.
Sekarang, lucu enggak? Kalau masih enggak lucu berarti selera humor kita beda, atau mungkin otakku saja yang sedang bermasalah.
Tapi, ‘kelucuan’ itu bukanlah satu satunya hal yang menarik dari buku ini. Hal menarik lainnya ialah aura ekspedisi belantara yang kental, yang oleh karena si penulis begitu lihai merangkai kata dan penerjemahan yang pas oleh Ronny Agustinus, maka seolah olah aku ikut berada di dalamnya. Ikut berbasah ria diguyur hujan, ikut menertawakan wali kota yang sok tahu, dan tegang oleh macan kumbang yang ternyata juga sedang mengintai itu. Kemudian menjelang penghabisan, hatiku dilingkupi oleh rasa haru yang menyedihkan ketika mengetahui alasan sebenarnya si macan kumbang itu membunuh orang orang. Lalu kisah hidup pak tua Jose Bolivar itu sendiri yang juga menarik. Bagaimana kisahnya hingga ia sampai terdampar di tempat terpencil itu dan perkenalannya dengan suku asli Shuar yang mengajarinya berburu, siapa sebenarnya dirinya, atau tentang istrinya, yang punya nama terlalu panjang, Dolores Encarnacion del Santisimo Sacramento Estupinan Otavalo.

Pak Tua Yang Membaca Kisah Cinta, jika dipikirkan lebih mendalam maka dapat dimaknai sebagai sebuah kritik mengenai kebiasaan manusia merusak lingkungannya, yang apabila dirasa sudah keterlaluan, maka alam akan menunjukkan kemarahannya dengan jalan yang sudah tentu tak mengenakkan. Bacalah buku ini, rasakan sebuah petualangan menembus hutan amazon, berjumpa dengan mitos mitos magis penghuninya, dan apabila merasa cukup jenaka, jangan sungkan untuk menertawai jalinan nasib malang menggelikan yang menyertai tokoh tokohnya. Ah, 116 halaman masih terlalu kurang panjang rasanya. Aku ketagihan.

Rating 5 out of 5

Read Full Post »