Cindaku

cindaku

Covernya sederhana, seorang anak laki laki berdiri sambil menutupi mukanya dengan meninggalkan celah untuk kedua matanya memandang. Pose yang boleh jadi akan dilakukan oleh dedek dedek gemes manakala sedang ketakutan, atau ketika merasa malu tapi mau yang ditandai dengan dua bola mata mengintip dari sela jemarinya. Dari punggung tangan sebelah tepi anak laki laki itu, terlukis wajah harimau lengkap dengan tiga kumis tegak melintang di kedua sisinya. Sehingga apabila dilihat secara menyeluruh, maka akan terlihat seorang anak laki laki dengan wajah harimau. Hal ini sesuai dengan judul buku ini, Cindaku.

Kalau begitu berarti cindaku itu..?
Iya, tebakanmu benar anak muda, tapi kurang tepat.
Kurang tepat bagaimana, kisanak?
Begini, anak muda. Kamu pasti menebak kalau Cindaku itu adalah manusia yang berubah menjadi harimau, betul?
Iya betul. Apa itu tebakan saya itu adalah sebuah kesalahan?
Tidak. Hanya kurang tepat. Sekarang saya tanya, bagaimana manusia itu berubah jadi harimau?
Saya akan berusaha menjawab pertanyaan tersebut menurut pemahaman saya. Menurut saya, manusia itu berubah menjadi harimau dengan merapal mantera yang telah dikuasainya terlebih dahulu, pilihan kedua ialah dengan menggunakan gerakan gerakan tertentu seperti yang dilakukan oleh Kotaro Minami manakala hendak berubah menjadi Ksatria Baja Hitam, dan pilihan ketiga ialah kombinasi keduanya, mantra dan gerakan. Bagaimanakah jawaban saya menurut kisanak, apakah betul atau salah. Mohon kisanak jawab dengan segera, sehingga saya tidak perlu menunggu terlalu lama karena setiap orang butuh kepastian, bukankah Cici Paramida telah dengan gamblang menjelaskan akibat dari menunggu terlalu lama melalui lagunya yang berjudul Jangan Tunggu Lama Lama. Saya akan menyanyikan buat kisanak, jangan tunggu lama lama, nanti lama lama, dia diambil orang…

Sudah hentikan anak muda. Telinga saya belum siap mendengarkannya. Tapi saya akan memberikan jawabannya sekarang. Jawabanmu salah. Cindaku tidak berubah dengan jalan seperti itu. Bahkan cindaku pun tidak melulu menjadi seekor harimau. Ada beberapa yang menjadi tikus, atau babi. Cindaku ialah sebutan buat orang orang sakti yang meninggal tapi tidak diterima oleh langit dan bumi, kemudian rohnya menjelma menjadi hewan hewan. Jenis hewannya tergantung dari tingkatan kesaktian. Paling rendah menjadi tikus, dan paling tinggi menjadi harimau.

Buku ini tidak selamanya membahas cindaku, meski kata itu telah disepakati menjadi judul. Cindaku nyatanya berupa kisah kehidupan anak manusia bernama Salim, yang hidup bersama ibunya. Ayahnya telah meninggal dibunuh orang orang karena memelihara ilmu hitam, dan kemudian dirumorkan bahwa ayahnya telah menjadi cindaku. Kesehariannya diisi dengan membantu ibunya, berlatih silat dan malamnya tidur di surau. Suatu hari, seperti halnya laki laki Minang pada umumnya, Salim pergi merantau. Ia ingin memperbaiki nasibnya. Sekaligus membuktikan kepada orang orang bahwa ia bisa menjadi orang sukses. Kepergian Salim tidak hanya membuat sedih sang ibu, tapi juga gadis tetangga bernama Laila, yang telah jatuh hati padanya. Di perantauan, nasib Salim benar benar diuji. Prahara menimpanya bertubi tubi. Apakah Salim berhasil mencapai tujuannya? Bagaimana nasib cintanya dengan Laila?

Azwar Sutan Malaka menulis Cindaku dengan mengambil budaya Minang. Mengingatkan saya dengan Ahmad Tohari dengan kesederhanaan Jawanya. Buku ini memang banyak melukiskan suasana kampung beserta interaksi masyarakatnya. Diselipi dengan cerita masa lalu bagaimana ayah Salim memperoleh kesaktiannya. Cerita bagaimana ayah Salim dibunuh menjadi bagian yang cukup menarik. Seru, dan ada lucunya. Komedi hitam yang pas. Cindaku memang Salimsentris. Dan, kisahnya dibuku ini menurut saya terlalu sinetron. Tokoh Salim digambarkan sering teraniaya, khususnya di perantauan, tapi ada orang orang yang kemudian berbaik hati menolongnya, baik tanpa pamrih maupun ada maunya. Kisah hidup Salim yang naik turun itu memberikan cerita yang naik turun dan tidak mudah ditebak, meski terlihat cheese dibeberapa bagian. Tapi ada juga twist yang lumayan mencengangkan. Terutama menjelang ending. Sayangnya, ending buku ini terkesan terburu buru, padahal tensi sedang seru serunya. Keadaan seperti ini tidak baik bagi penjual tahu gejrot. Lho bagaimana bisa orang yang lagi baca buku yang tiba tiba ending itu, merugikan penjual tahu gejrot? Bisa dong, karena biasanya orangnya akan berkata: lagi seru serunya, eh tahu tahu sudah habis. Gimana ini!

Begitulah, kalau tahu tahu sudah habis, kan enggak bisa bikin tahu gejrot. Kembali ke laptop, ending yang buru buru, ending yang dipilih oleh Azwar Sutan Malaka ini kalau dipikirkan masak masak, ternyata punya potensi untuk dibikin sequel, sehingga dahaga pembaca akan nasib Salim (dan yang lainnya) bisa terpuaskan.

Pada akhirnya, Cindaku ini segmented. Cindaku merupakan kumpulan kisah mistis, tragedi kehidupan, romance yang silih beganti mengisi 236 lembar buku ini. Bagi kamu yang menyukai buku Ahmad Tohari atau Abdullah Harahap (minus erotisme dan gore) mungkin akan menyukai buku ini. Saya termasuk salah satunya. Memang bukan buku yang warbiyasak, tapi paling tidak, saya cukup enjoy membacanya. Dan yang terakhir, bagi yang menjumpai buku ini di toko buku, saya menghimbau agar sinopsis di bagian belakang buku tidak dibaca semuanya. Cukup dibaca setengah paragraph satu saja. Akhir paragraph satu itu sudah masuk spoiler. Paragraph dua apalagi. Spoiler banget. Memang masih banyak yang dikisahkan dalam buku ini, tapi tetap saja akan mengurangi efek kejut di dalamnya.

Judul: Cindaku
Penulis: Azwar Sutan Malaka
Jumlah Halaman: 236
Penerbit: Kakilangit Kencana
Rate: 3,75

Misteri Peti Mati 2

misteri-sebuah-peti-mati2

Kisah Ajun Komisaris Bursok mengungkap teror peti mati terus berlanjut. Korban korban sudah berjatuhan. Kecurigaan Bursok terhadap Herman, suami Juarsih yang mayatnya dibawa lari peti mati, semakin bertambah. Keadaan semakin runyam ketika anak buahnya ditemukan tewas tertembus peluru ketika sedang mengintai Ranggadi, petani tua yang dicurigai  terlibat dalam kejadian peti mati itu.

Di sisi lain, benang benang kusut mulai terurai. Bursok mulai memahami maksud dari semua kejadian itu dengan dibantu oleh Linda dan kakeknya yang bernama Abimanyu. Abimanyu ternyata seorang yang punya ilmu gaib. Melalui dirinyalah kemudian terangkai cerita mengenai tragedi cinta dan perebutan kekuasaan di masa lalu yang sekarang akan berlanjut lagi menimpa anak keturunannya.

Dibagi menjadi 2 buku, Misteri Sebuah Peti Mati tidaklah berubah menjadi buku yang panjang dan melelahkan. Pacenya berlalu dengan cepat. Ada banyak misteri yang menunggu untuk dipecahkan. Tentang siapa korban selanjutnya, apakah alasan sebenarnya dibalik pembunuhan itu, serta misteri misteri yang tak kasat mata; rahasia mengejutkan tentang monyet monyet desa Cikeruh, sosok penunggang kuda, dan lainnya.

Wujud leher serta kepala ular berwarna merah membara, dengan moncong yang menganga terbuka. Memperlihatkan sepasang taring runcing serta juluran lidah yang juga merah membara. Yang terus turun memanjang sampai mendekati janin di rerumputan. Dimana moncong sang ular membuka lebih lebar. Lalu dengan cepat dan sangat tiba tiba, bergerak mematuk. Mematuk sang janin tak berdaya.

Dan seperti buku Abdullah Harahap yang lain, selain mistis, buku ini juga mengandung erotisme yang lumayan banyak. Ada beberapa adegan panas, serta kata kata berlebihan yang menjurus, meski seharusnya bisa ditulis biasa saja.

Secara keseluruhan, Misteri Sebuah Peti Mati (1&2) adalah sebuah buku yang menghibur, penuh misteri dan hal hal gaib yang tak masuk akal, ditambah dengan penyelidikan polisi membuatnya seperti cerita detektif, dan  adegan panas yang menyatu dengan cerita, tidak dibuat buat hanya untuk sekedar fan service belaka. Dan buku ini tidak bikin merinding, tapi penasaran pada hal hal ganjil yang ada di dalamnya.

Judul: Misteri Sebuah Peti Mati 2
Penulis: Abdullah Harahap
Penerbit: Paradoks
Jumlah Halaman: 517
Rate: 4