Happy Death Day (2017)

Di hari ulang tahunnya, Tree harus tewas oleh pembunuh bertopeng. Untungnya cewek remaja itu diberi kesempatan untuk hidup lagi tepat di hari ia akan terbunuh. Ia harus bisa mencegah agar tidak terbunuh dengan cara mencari siapa pembunuhnya itu. Apabila tidak berhasil, ia akan kembali mengulang hari kematiannya itu.Yah, tentu saja Tree tidak langsung menyadari kalau ia harus terjebak dalam pengulangan tersebut. Tree harus melalui fase “ini cuma mimpi” hingga fase “sueek, gue harus ngapain lagi ini woy!!” Untungnya ia tidak sampai fase “Duuhh, gue pengen rebahan di perut kucing.” karena itu berarti kepasrahan. Tree tidak menyerah. Ia berjuang. Berjuang. Berjuang sekuat teenagaa. Tetapi jangan lupa. Perjuangan harus pula disertai dengan doaa.. Tau ini lirik lagu siapa? Hebat kamu!

Asiknya, tidak cuma Tree yang pusing mencari pembunuhnya, saya pun demikian. Pembunuh sebenarnya rapi disimpan hingga menit menit terakhir. Saya beberapa kali salah menebak. Dan ketika akhirnya pembunuhnya ketahuan siapa, wow, engga nyangka kalau itu dia.

Sebagai film thriller, Happy Death Day memang menegangnya, sekaligus kocak. Tegangnya ya khas film film pembunuh bertopeng, waktu Tree diburu oleh si pembunuh, dan upayanya untuk mencari siapa yang bunuh, seringkali bikin ketawa. Beberapa kali. Dan akan jauh lebih seru seandainya saya tidak menonton trailernya, karena ada spoiler satu adegan yang seharusnya bakal lebih surprise di filmnya. Tapi menonton trailernya sendiri juga enggak masalah, masih tetap asik untuk ditonton. Dan kelebihan menonton trailernya ialah adanya lagu In Da Club nya 50 Cent yang pas sekali. Cuma sayangnya, enggak muncul di filmnya. Padahal ta tungguin.

Happy Death Day tidak terlalu sadis, adegan pembunuhannya tidak diperlihatkan. Cuma sebaiknya tidak ditonton bagi yang masih dibawah umur, karena ada beberapa dialog yang cukup vulgar, cuma orang dewasa aja yang harusnya tahu. Kalau untuk nudity, film ini relatif aman. Hanya ada kelihatan bagian punggungnya saja. Itu juga bukan sedang ena ena, melainkan jalan jalan di sekolah ga pakai baju.

Akhirnya, Happy Death Day pantas untuk ditonton meski diperankan oleh wajah wajah yang kurang familiar, pembunuhannya akan membuatmu tegang, siapa pembunuh bertopeng sebenarnya akan membuatmu mikir dan mulai nebak nebak, komedinya akan membuatmu tertawa, dan tak lupa sisipan drama yang pas dan tak lebay. Dan tak lupa ada pelajaran yang bisa dipetik bagi yang memang ingin memetiknya. Jreng jreng.

Advertisements

Misteri Patung Garam

misteriptnggaramMulanya saya tertarik dengan covernya yang cukup artsy, bisa dibilang minimalis tapi asik. Ditambah dengan dengan sinopsis di belakang buku, sudah lebih dari cukup buat saya memutuskan untuk membacanya. Novel pembunuhan ini unik, bahkan sepengetahuan saya belum pernah ada di khasanah pernovelan Indonesia, karena korbannya ditemukan telah menjadi patung garam, tubuhnya diolesi dengan garam sepenuhnya. Garam? Kenapa harus garam? Bukan kecap asin, Nutela, Firdaus Oil, atau yang lainnya?

Kemudian saya baca, dan kampret rebus, novel ini bagus. Akhirnya, terakhir kali saya baca novel thriller lokal yang bagus itu Katarsis nya Anastasia Aemilia. Meski berbeda tema, tapi Katarsis dan Misteri Patung Garam sama sama menghanyutkan.

Surabaya. Seorang pianis wanita ditemukan tewas di rumahnya, terduduk di depan piano, memakai gaun merah, senada dengan rambut palsu yang sengaja dipakaikan oleh pembunuhnya. Seluruh tubuhnya putih oleh lapisan garam. Sebuah simbol aneh tertulis di atas piano menggunakan garam.

“Dia mirip sekali patung.”

“Seluruh tubuhnya ditempeli dengan adonan garam dan tepung yang dicampur air hingga kalis.”

“Sepertinya adonan garam itu mengeras.”

“Tentu saja, sebab pembunuhnya memanggangnya di dalam oven.”

Kasus itu ditangani oleh Inspektur Kiri Lamari yang baru saja ditugaskan di Surabaya. Ia dibantu oleh Inspektur Saut. Inspektur Kiri Lamari dikenal sebagai polisi yang teliti, dan sudah memecahkan kasus yang gagal dipecahkan oleh polisi yang lain. Mereka berdua kemudian melakukan penyelidikan, sementara itu, si pembunuh pun mulai mencari mangsa yang lain. Korban korban berjatuhan. Semuanya berjenis kelamin perempuan dengan profesi yang berbeda beda. Sudah mapan secara finansial, dan dikenal sebagai perempuan baik baik. Mengapa mereka dibunuh? Siapa yang membunuh?

Inspektur Kiri Lamari dituntut untuk menyelesaikan masalah tersebut, dan juga masalah pribadinya dengan ayahnya yang berhubungan dengan kematian tidak wajar ibunya.

Fokus cerita buku ini memang kebanyakan ada di kisah Kiri Lamari, meski tokoh yang lain juga tak luput untuk diceritakan. Buku ini dibagi menjadi prolog, tiga puluh empat bab inti cerita, dan sebuah epilog. Awalnya saya merasa prolognya agak dipaksakan agar sesuai dengan judul, tapi setelah bukunya selesai dibaca, mungkin prolognya ingin sedikit memberi gambaran betapa sakitnya si pembunuh. Di prolognya tertulis, korban dihukum gara gara menyanyikan lirik sebuah lagu tidak sesuai dengan kemauan pembunuh. Lirik lagu milik Oasis, Don’t Look Back In Anger. Korban bersalah karena menyebutkan kata Sally, dan si pembunuh menginginkan Salty, bukan Sally. Padahal lirik yang benar ialah Sally. Tapi karena si pembunuh terobsesi dengan garam, diganti dengan Salty.

Secara keseluruhan, Misteri Patung Garam ialah sebuah thriller yang apik, tokoh tokoh yang cukup memorable dan menggelitik, terutama si Ireng, dan interaksinya dengan Kiri yang selalu membuat tersenyum, juga ada Inspektur polisi sangar yang hoby nonton Despicable Me, (pakai niruin ngomongnya minion pula :D), serta ahli forensik yang demennya dengerin K-pop. Salah satu kelebihan buku ini memang cukup lucu, bahkan ada bagian yang membuat saya tertawa ngakak. Meski itu tak banyak, which is good. Karena tidak sampai merusak ketegangan yang dibangun sejak awal.

Sayangnya, saya agak sedikit terganggu dengan epilognya. Apa buku ini akan dibikin sequelnya? Kalau iya, saya masih bisa memaklumi epilog tersebut, meski bukan hal yang baru. Tapi, kalau memang tidak akan dibikin sequel, mbok ya enggak usah dibikin epilognya. Buat apa? Memang twist, dan bikin orang penasaran, tapi terlalu tiba tiba dan merusak jalinan manis yang sudah ada sebelumnya. Tapi, semoga saja memang akan dibikin sequel.

Akhirnya, Ruwi Meita sudah berhasil membuat thriller lokal yang menegangnya, dibumbui dengan kisah cinta yang tidak berlebihan, humor yang menggelitik, serta interaksi antar tokoh yang natural dan berkesan. Ada beberapa bagian yang agak kepanjangan, misalnya cerita mengenai kisah segi tiga biru, serta epilognya yang menuntut sebuah jawaban, tapi overall, Misteri Patung Garam terlalu menarik untuk diabaikan. Kampret rebus.

Judul: Misteri Patung Garam
Penulis: Ruwi Meita
Penerbit: GagasMedia
Jumlah Halaman:276
Rate:3,9

Misteri Sebuah Peti Mati 1

misteri-sebuah-peti-mati

Karena ini baru buku pertama,(total ada 2 buku), maka saya tidak akan membahas tentang endingnya karena sudah dapat dipastikan endingnya akan seperti buah pepaya di dahan pohon rambutan; menggantung. Belum selesai. Mengapa buah pepaya sampai di pohon rambutan itu tidak usah dipikirkan, karena pepaya itu ada di pohon manapun akan sama saja menggantung. (intinya sama saja kan?) Tapi kamu bisa memikirkan alasannya sendiri kalau kamu memang menginginkan demikian. Tidak ada paksaan di sini.

Mengapa saya harus menjelaskan tentang pembahasan ending, karena biasanya bagus tidaknya ending akan mempengaruhi penilaian akhir sebuah buku. Tak jarang buku yang bagus akan jadi jelek hanya karena endingnya. Ini seperti peribahasa karena nila setitik, rusak susu sebelahnya.  Dan dibuku ini poin itu tidak disertakan.

Lanjut.

“Ada yang tiba tiba menerobos masuk,” salah seorang warga memberi tahu.
“Siapa?” tanya sang komandan regu.
Pertanyaan yang jelas keliru. Karena jawaban yang kemudian mereka dengar, memang sungguh di luar dugaan.
“Sebuah peti mati!”

Misteri Sebuah Peti Mati memulai kisahnya dengan adegan tabrak lari dengan korban bernama Juarsih yang waktu itu sedang bersama suaminya. Juarsih meninggal dunia. Kemudian mayat Juarsih dimasukkan ke dalam peti mati. Di sinilah letak masalahnya.
Secara ajaib peti mati berisi mayat Juarsih terbang dan menghilang. Hal ini tentu saja membuat terkejut semua orang. Termasuk Bursok dan anak buahnya. Polisi yang menangani kasus tersebut.
Di lain tempat, seorang yang merupakan pelaku tabrak lari ditemukan meninggal. Menurut saksi, ia diculik oleh peti mati Juarsih yang masuk lewat jendela. Hingga kemudian korban korban berjatuhan. Bursok pun menyelidiki kasus ini. Dan ternyata hal ini menyangkut dendam masa lalu yang belum terbalaskan. Seperti yang dikeluhkan oleh Bursok “Sepertinya aku akan memasuki sebuah lorong waktu, ”

Dari buku Abdullah Harahap yang pernah baca, boleh jadi inilah buku paling menarik yang saya baca. Juga paling panjang karena terbagi menjadi 2 buku. Mulanya ini seperti kisah detektif, Bursok dengan keahliannya berusaha untuk memecahkan kasus itu. Meneliti detail demi detail. Menggabungkan fakta demi fakta. Kemudian perlahan menjadi thriller pembunuhan yang ganjil. Serta nilai mistik yang tak kurang kurang. Urban legend yang tiba tiba menjadi nyata. Ritual aneh yang menjijikan.

Buku pertama ini menjelaskan hampir semua tanda tanya yang hadir ketika saya membaca buku ini. Hampir. Karena ada satu pertanyaan yang belum saya temukan jawabannya. Mungkin di buku selanjutnya bakal ada.

Pada akhirnya buku ini menarik untuk diikuti. Cerita yang bergerak cepat, meski disertai beberapa cerita masa lalu. Serta erotisme yang biasanya ada di buku Abdullah Harahap. Tapi kali ini tidak terlalu diceritakan secara gamblang dan panas. Tapi bikin melongo. Misalnya ketika bagian mayat Juarsih yang hidup kembali harus bersetubuh dengan empat puluh ekor monyet jadi jadian di tanah lapang di bawah naungan bulan purnama.
Nggilani.

Judul buku: Misteri Sebuah Peti Mati buku 1
Penulis: Abdullah Harahap
Jumlah halaman: 352
Penerbit: Paradoks
Rate: 4

[Review] Endless Night Tragedi di Villa Horor

endles night
Dalam dunia film, ada istilah film popcorn, mengacu kepada jenis film film yang murni untuk hiburan. Dan buku Endless Night Tragedi Villa Horor ini bisa dikatakan termasuk dalam golongan itu. Dari judulnya mungkin kita akan langsung bisa menebak bagaimana jalan ceritanya. Yap, buku ini bercerita tentang pembunuhan di sebuah vila. Seperti yang tertulis dalam sinopsis di belakang buku. Pernah nonton film Scream? Kira kira seperti itu.

Berkisah mengenai tujuh orang yang memutuskan untuk merayakan tahun baru di sebuah villa. Mereka adalah Ricky, sang pemilik villa, Nirina, pacar Ricky, dan Edi, Aryo, Jefry, Heru, Renata, dan Cheryl. Agak susah untuk membedakan mereka berdasarkan karakter karena karakterisasi tidak terlalu ditonjolkan dalam buku ini.
Mereka adalah tipikal remaja remaja yang kuliahan kebanyakan. Ah, barangkali seperti ini saja. Jefry berpacaran dengan Renata. Renata sebenarnya tidak ingin pergi bersama mereka tapi dipaksa oleh Jefry. Heru, ialah playboy kampus yang suka ganti ganti wanita. Mencari wanita hanya untuk kesenangannya dia. Heru membawa Cheryl untuk menemaninya ke villa itu. Cheryl, hampir mirip dengan Heru, wanita yang hanya ingin bersenang senang. Lalu ada Aryo, salah satunya yang nasibnya tidak seberuntung yang lain. Ia tidak kaya, dan kalau ngomong suka gagap. Bagaimana dengan Edi? Edi ya, teman mereka. Titik. Atau, anggap saja ia pemain figuran. Karena karakternya terlau biasa. Bukan jenis tokoh yang akan dikenang. :D
Pada hari yang ditentukan, mereka menginap di villa. Dan menjelang tengah malam, teror pun dimulai. Pertanyaannya ialah, siapa yang melakukan hal itu, dan mengapa? Siapa dan Mengapa.
Dua pertanyaan itu yang menjadi modal penting bagi buku ini untuk tetap menjadi menarik untuk diikuti. Membuat aku penasaran, dan pada akhirnya aku gagal untuk menebak siapa yang membunuh dan motif pembunuhan tersebut. Buku ini banyak pembunuhan. Seperti halnya film film psikopat. Meski demikian, buku ini sedikit gagal untuk membangun atmosfer kengerian. Rasanya biasa saja membaca bagian bunuh bunuhan itu. Barangkali metodenya terlalu standar. Tapi misterinya tetap terjaga hingga akhir cerita. Inilah yang membuatku betah, dan terhibur.
Hoeda Manis, penulis buku ini, telah melakukan tugasnya dengan baik dalam membuat sebuah buku yang menghibur. Tanpa membuat pembacanya berpikir keras lalu kemudian bosan. Hal ini ditunjang dengan penulisan yang tidak terlalu dibuat sastra, sehingga mudah untuk dimengerti.

Endless Night Tragedi di Villa Horor memang bukan buku yang dinilai berdasarkan kualitas penokohan, tema atau pun gaya penulisan. Ini bukan jenis buku yang biasanya akan masuk dalam nominasi penghargaan tertentu. Tapi ini adalah buku yang akan menghibur semua orang. Ah, dari tadi aku berkali kali bilang buku ini menghibur, menghibur dari mana memangnya? Sudah pernah nonton film Scream. Itu lho yang anak anak remaja pada dibunuh. Ketika menonton film Scream, biasanya kita akan sibuk menerka siapa yang bakal (lebih dulu) dibunuh, siapa pembunuhnya, dengan cara apa korban akan dibunuh, serta apa sih sebenarnya motif dari si pelaku. Tak terkecuali buat mereka yang nonton matanya ditutup bantal.
Nah, hal seperti itu juga menimpa padaku. Bukankah menyenangkan, menebak nebak seperti itu. Buku ini cocok untuk kamu yang mencari bacaan ringan. Meski temanya tentang pembunuhan, tapi masih bisa untuk teman minum teh di kala sedang santai. Empat bintang untuk buku ini.

Judul : Endless Night Tragedi Villa Horor
Penulis: Hoeda Manis
Penerbit: Jenius Publiser
Jumlah Halaman: 227

[Review] Kronik Kematian Yang Telah Direncanakan

Judul: Kronik Kematian Yang Telah Direncanakan (Chronicle of a Death Foretold)
Penulis: Gabriel Garcia Marquez
Penerbit: Selasar Publishing
Halaman:175

Semua orang tahu belaka bahwa Santiago Nazar hendak dibunuh oleh dua orang bersaudara itu. Meskipun demikian, banyak orang yang tak percaya begitu saja. Dianggapnya dua bersaudara itu sedang mabuk berat setelah merayakan pesta pernikahan adik mereka semalaman. Tapi ketika paginya, berbarengan dengan kedatangan uskup di kota itu, sirine meraung sedih, orang orang baru tersadar bahwa kembar bersaudara itu benar benar serius melakukannya. Santiago Nasar telah terbunuh.
Dua puluh tujuh tahun kemudian, seseorang berusaha menyusun kembali lembaran lembaran sejarah pembunuhan itu yang telah lapuk oleh waktu. Ditemuinya orang orang yang telah ia anggap tahu mengenai detail pembunuhan di hari yang naas itu. Mengapa Santiago Nasar dibunuh?

Dari sini tentu sudah bisa ditebak, bahwa buku ini berisi semacam investigasi mengungkap kasus pembunuhan. Tapi untuk menyebutnya sebagai cerita detektif, saya rasa tidak terlalu tepat. Sebab pembunuhnya sudah lebih dulu diketahui, dan seseorang yang sedang melakukan investigasi pun bukanlah seorang penegak hukum, hanya orang biasa saja. Maka saya lebih suka menyebutnya, cerita yang mengandung unsur per-kepo-an. Sebab saya gagal menangkap maksud lain dari diadakannya investigasi itu, selain untuk menuruti ego dari si pencari berita. Sungguh mati aku jadi penasaran, begitu Bang Rhoma Irama pernah menyinggungnya dalam sebuah lagu di masa silam.
Dan wabah kepo itu kemudian menyerang saya dengan begitu perlahan namun pasti. Saya jadi penasaran, dan itu bikin tidak tenang. Tapi di tengah tengah rasa penasaran itu, saya sempat pusing juga, sebab ada begitu banyak tokoh yang berlalu lalang, dengan ceritanya sendiri sendiri, meski kesemuanya itu memang memegang peranan dalam investigasi yang sedang dilakukan.
Tapi rasa pusing saya perlahan menghilang, dan berganti menjadi rasa tak enak di perut, dan hati sedikit nelangsa, yang barangkali oleh orang yang paling lebay sejagat akan ditafsirkan dengan tindakan menangis meraung raung bergulingan di lantai, sambil memegangi dadanya, dan berteriak: Cukup! Hentikan semua ini!!  Aku sudah gak gak gak kuat..gak gak gak level!!!

Serius, diantara buku karangan Gabriel Garcia Marquez yang pernah saya baca, cuma buku ini yang berhasil membuat saya merinding, dan sedikit merasa bersalah kepada Santiago Nazar. Mulanya saya merasa ia memang pantas dibunuh, tapi kemudian ketika perlahan kebenaran mulai terungkap, saya jadi bertanya tanya; benarkah Nazar yang melakukan perbuatan itu? Ah, kasihan sekali kamu Nazar.

Tapi membaca buku ini memang kudu bersabar sebab sepanjang buku kita hanya akan diajak mengikuti perjalanan orang orang yang kebetulan mengenal Santiagao Nazar dan tahu tentang kejadian mengerikan itu. Apa lagi kalau belum familiar dengan nama amerika latin yang kadang kadang ajaib itu. Meskipun demikian, buku ini tetap layak untuk dibaca, terutama jika anda penggemar Gabriel Garcia Marquez, atau sastra amerika latin pada umumnya.
Terakhir, entah mengapa saya jadi teringat novel Lelaki Harimau, dari penulis favorit saya yang lain, Eka Kurniawan. Sebab ada sebuah kabar pembunuhan di awal cerita. Dan, bagian ketika kolonel Lazaro Aponte merampas pisau yang hendak digunakan untuk membunuh Santiago Nazar, mengingatkan saya pada saat Mayor Sadrah(namanya kalau tidak salah) merampas samurai karatan yang dipegang oleh Margio beberapa saat sebelum ia membunuh Anwar Sadat.

Rating 4 dari 5

Review Siapa Pembunuh Palomino Molero?

Judul: Siapa Pembunuh Palomino Molero?

Penulis: Mario Vargas Llosa

Jumlah Halaman: 192

Penerbit: Komodo Books

Dalam versi bahasa inggrisnya, setelah sejenak mengintip di amazon.com, kata pertama buku ini ialah sebuah umpatan ‘son of the b***h’, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi ‘kutukupret’, dan entah mengapa gue langsung terbayang wajah Tukul Arwana, lalu gue tertawa. Kutukupret.
Tapi kemudian kejenakaan itu langsung sirna manakala gue membaca kalimat selanjutnya;

Lituma tergagap gagap menahan muntah. “Mereka benar benar menghabisimu, nak.” Bocah itu menggantung pada pohon khurnub tua sekaligus mendelik ke arahnya, dengan posisi yang begitu absurd sampai sampai lebih mirip orang orangan sawah atau bonek karnaval busuk ketimbang mayat. Entah sebelum atau sesudah dibunuh ia dihajar dengan kekejaman tiada tara: hidung dan mulutnya robek, darah kering bergumpal gumpal, mukanya lebam penuh luka sayat dan sundutan rokok. Dan seakan itu belum cukup, Lituma juga melihat mereka juga mencoba mengebirinya, karena buah zakarnya melorot menutupi pangkal paha.

Begitulah kemudian gue akhirnya menyadari satu hal; gue bakal suka banget sama ini buku.  Rasanya seperti bertemu teman lama, terus ia bilang begini; bro, mau duit sekarung gak?

Absurd.

Siapa Membunuh Palomino Molero? ialah sebuah novel yang ditulis oleh Mario Vargas Llosa, yang telah berhasil mendapatkan Nobel Sastra pada tahun 2010 silam. Ini novel misteri pembunuhan pertama yang gue beri nilai nyaris sempurna. Sepanjang halaman buku ini, gue diajak berkeliling mencari petunjuk petunjuk yang sekiranya bisa membantu mengungkap siapa pembunuhnya melalui kacamata seorang Lituma, anggota Guardian Civil (semacam polisi), beserta atasannya, Letnan Silva. Tapi, jangan harapkan ada adegan aksi atau kejar kejaran di sini, karena buku ini lebih menitikberatkan pada kelihaian penegak hukum dalam rangka menginvestigasi saksi saksi, yang dituangkan dalam dialog dialog yang memikat dan blak blakan. Anak kecil dihimbau jangan ikutan baca.
Selain itu, jangan lewatkan usaha Letnan Silva untuk mengambil hati (baca: meniduri) wanita pujaan hatinya bernama Dona Adriana, si gendut pemilik rumah makan dan juga istri seorang pelaut. Letnan Silva tergila gila pada perempuan itu, yang digambarkan oleh Mario Vargas dengan begitu seksi, sekaligus absurd.

meski Letnan mendengar dan mengajak bicara soal pertemuan dengan Komandan Pangkalan Angakatan Udara nanti, segenap jiwa raganya terkonsentrasi pada gerak menggelombang Dona Adriana yang sedang menyapu restoran. Gerakannya tangkas dan gesit, kadang membuat ujung roknya terangkat naik sampai ke atas lutut, menyingkap sepotong paha tebal nan keras.

Jadi, apakah mereka bakal menemukan siapa sebenarnya pembunuh Palomino Molero? Apa motif dari pada pembunuhan itu? Lalu, apakah Letnan Silva berhasil menuntaskan hasratnya?

Tapi yang ia minati cuma Dona Adriana. Ia pun sudah mengakuinya ke Lituma, “Akan kutiduri si gendut itu, sialan.”

Ternyata jawabannya cukup menyedihkan dan sungguh di luar dugaan. Tapi, nasib Letnan Silva dan Dona Adriana lah yang justru terasa banget kejutannya. Antara nelangsa, dan ngakak tak terkira.

Pada akhirnya, buku ini cocok buat anda yang mengharapkan cerita misteri pembunuhan yang lain dari biasanya. Bagi yang suka nonton film, buku ini mengingatkan gue sama film thriler korea Memories Of Murder nya Bong Joon Ho. Atmosfirnya hampir sama, terutama pas openingnya.
Mengenai terjemahan buku ini, bisa dibilang nyaris sempurna, begitu nyaman buat dibaca. Dan, setelah gue baca siapa penerjemahnya, gue paham, ternyata ia adalah orang yang sama yang telah menerjemahkan Rumah Arwah, Daughter Of Fortune (yang juga gue sukai), yaitu Ronny Agustinus. Hanya saja, ada sedikit yang mengganjal yaitu di halaman 144.
Di situ tertulis: “Aku sesuatu yang panas, kopi itu kalau tak ada lainnya, kata gadis itu…

Mungkin maksudnya begini:
“Aku ingin sesuatu yang panas, kopi itu .. dst..

Tapi dari segi cerita, buku ini mantap betulan. Tak heran kalau si penulis memang pantas menyandang Nobel Sastra 2010 itu.

Rating 4.5 aout of 5