Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘pembunuhan’

Ajun Komisaris Bursok Sembiring kembali beraksi. Setelah memecahkan kasus peti mati yang bisa terbang, kali ini ia berurusan dengan pembunuhan dan raibnya sesosok manekin milik korban pembunuhan itu. Sst, konon manekinnya bisa hidup sendiri dan mulai menuntut balas atas kematian Rendi, laki laki pemiliknya yang jatuh cinta padanya. Pembunuhan Rendi bukanlah tanpa saksi. Akan tetapi, saksinya sendiri berada jauh berkilo kilometer dari TKP. Saksi tersebut mengetahui kejadian itu melalui gambaran seperti halnya mimpi. 

Ia melihat melalui mata manekin milik Rendi. Saksi itu tak lain adalah saudari kembarnya, Rinda. Rinda mampu terkoneksi secara gaib ke dalam tubuh padat manekin yang dibuat amat mirip dengan dirinya. Keganjilan itu dimanfaatkan oleh Bursok untuk mencari siapa dalang pembunuhan Rendi. Berpacu dengan kecepatan sang manekin yang mulai menuntut balas atas kematian sang kekasih, Rendi.

Abdullah Harahap kembali menyuguhkan cerita horor mistis yang sedikit erotis dibingkai oleh thriller pembunuhan dan usaha untuk menangkap pelakunya. Bagi yang sudah membaca Misteri Peti Mati, tentu sudah tak asing lagi dengan Ajun Komisaris Bursok, yang punya ‘mata elang’, sanggup mendeteksi gerakan sehalus apa pun dari seseorang yang kemudian akan menuntunnya dalam menyelidiki kasus itu. Tapi bagi yang belum membaca Misteri Peti juga tak masalah. Buku ini bukanlah lanjutan dari buku itu. Ini ceritanya lain sekali.

Ciri khas Abdullah Harahap masih ada disini. Pembunuhan dengan cara cara yang di luar akal sehat. Erotisme. Tapi sayangnya, buku ini tidak terlalu bikin merinding. Hantu manekin bukanlah seperti hantu hantu yang lain. Ia spesial meski enggak pakai telor. Manekinnya sendiri pun acap kali membuat laki laki terpesona. Apalagi bibir merahnya yang membara. Membuat ingin menciumnya. Meski kerasss terasa. (Kalau pas ‘hidup’ sih, lembut.) Horornya dibuat dari kematian kematian yang membikin ngilu. Tsadis. 

Apa yang kini terlihat adalah sesosok monster yang berwujud manusia duduk, dengan kedua lengan menyilang di depan wajah. Duduk diam dan kaku, tak begerak gerak. Dengan sekujur tubuh mulai dari ujung rambut sampai ke ujung kaki semuanya terbuat dari lapisan fiberglass. Sesosok monster tanpa wajah.

Yang menarik dari buku ini ialah wujud sang manekin. Disamping wajahnya yang dibuat sangat mirip Rinda, ternyata bagian dalamnya terdiri dari rangkaian kabel kabel laksana robot. Manekin ini tak hanya diam, namun juga bisa bergerak. Meski terbatas dalam gerakan merangkul dan menjepit. Bahkan pahanya juga bisa hangat. Jangan heran, karena sejatinya manekin ini merangkap pula jadi boneka seks. Ini dalam kondisi normal. 

Dalam kondisi yang tak normal, atau dirasuki, manekin itu akan berlaku bak penyihir. Membuat kepalanya melayang layang, membuat kursi kursi bergerak sendiri. Serta bisa jalan lenggang kangkung seperti manusia. Manekin itu seperti dapat kekuatan super, dan digunakan untuk membalas kematian Rendi. Sayangnya, kekuatan super itu tidak meliputi sinar laser yang keluar dari telapak tangan, atau terbang ke langit seperti Iron Man. 

Manekin tidak ubahnya seperti manekin di toko yang memakai baju tidur. Bukan untuk semua orang meski banyak orang menyukai tidur. Tapi, ada orang yang enggak suka tidur. Yaitu, orang enggak ngantukk weee… Intinya ialah buku ini bisa mengobati dahaga atas cerita kriminal berbalut mistis dengan selimut erotis yang tipis. Bukan yang terbaik dari seorang Abdullah Harahap. Bukan pula yang buruk. Yang sedang sedang saja. 

Manekin | Abdullah Harahap | Paradoks | Jumlah halaman: 520 | Rate: 3

Advertisements

Read Full Post »

Film ini diadaptasi dari buku detektif karangan penulis terkenal Agatha Christie. Salah satu keunggulannya ialah jalan cerita yang tidak mudah tertebak. Saya belum baca bukunya, tapi sudah menonton film versi jadulnya, dan ya, endingnya cukup mengejutkan. Nah, kalau saya sudah tahu jalan ceritanya, mengapa saya masih menonton versi terbaru ini? Kenapa hayo?? Jawabannya, karena saya pengen nonton. Jawaban yang singkat dan sederhana. Kecuali saya ditanya, kenapa eh kenapa minuman itu haram? Maka saya akan menjawab; karena eh karena… merusak pikiran. Ha ha haaaa.. yeaahh!!

Ternyata Murder on the Orient Express terbaru ini lebih asik ketimbang versi yang dahulu itu. Sinematografinya lebih cuamik, tidak hanya menyorot bagian dalam gerbong kereta namun juga view dari kejauhan. Beberapa adegan juga lebih terasa lonjakannya. Saya suka dengan openingnya, ketika Hercule Poirot bicara di depan ratusan orang di depan tembok ratapan. Kesannya epik sekali. Juga para pemainnya yang sebagian besar sudah punya nama. Ada Johny Deep yang lumayan berhasil melepaskan image bajak lautnya. Daisy Ridley yang tampil klasik dan cantik. Bagaimana dengan si detektif sendiri? Kenneth Branagh memerankannya dengan baik sekali. Jauh dari bayang bayang versi yang dahulu. Saya belum membaca bukunya jadi tidak bisa bandingin, tapi yang jelas versi terbaru ini akan memberikan kesan tersendiri di benak penonton. Gayanya yang semau sendiri saking pinternya mungkin. Kadang nyentrik. Yang cukup mengejutkan ialah, ternyata beliau cukup lucu meski ia sama sekali tak berniat melucu. Bahkan ia tak pernah bohong, tapi kata katanya bisa bikin tertawa. Enggak sampai ngakak sih. Inilah mungkin yang dinamakan lawakan yang hakiki; tidak perlu bohong untuk membuat orang tertawa. Dan, jangan lupa kumisnya juga ya. Kumisnya yang sekarang lebih panjang ketimbang versi yang lama. Katanya sih, agar lebih mendekati dengan bukunya.

Film ini juga lebih kena dramanya. Saya enggak menyebutkan yang mana saja, karena akan spoiler. Tegangnya juga lebih terasa, apalagi bagian menuju pungkas. Yang jelas, film ini akan memuaskan mereka yang sudah menonton film jadulnya. Buat mereka yang sudah baca bukunya, rasanya film ini tidak akan mengecewakan. Malah kudu ditonton. Buat penonton secara umum juga sepertinya akan menyukainya. Cara cara Hercule Poirot untuk menemukan siapa pembunuhnya asik untuk disimak. Tapi buat yang mengharapkan banyak aksi yang mendebarkan, sepertinya akan sedikit kecewa. Film ini lebih banyak ngobrolnya. Ngobrol seru.

Murder on the Orient Express sepertinya akan menjadi titik awal franchise Hercule Poirot. Di film ini disinggung kasus pembunuhan lain di Sungai Nil. Ini bisa jadi merujuk pada judul buku Agatha Christie yang lain, Death on the Nile. Dan tidak menutup kemungkinan buku buku yang lainnya pun ikut menyusul. Fans Agatha Christie pasti senang ya. Saya juga ikut senang, walau bukan fansnya. 

Film ini bercerita mengenai sepak terjang detektif terbaik dunia, Hercule Poirot dalam mengungkap pembunuhan yang terjadi di dalam kereta api yang ia tumpangi. Beberapa orang pun ia curigai. Orang orang dengan latar belakang yang berbeda beda. Hingga kemudian penyelidikannya mengantarkannya pada sesuatu yang mengejutkan. Kasus tersebut berbeda dengan kasus yang ia kerjakan sebelumnya. 

Murder on the Orient Express yang terbaru ini mampu menghibur lebih dari yang saya harapkan. Ia punya cerita yang membikin saya penasaran lagi meski saya sudah tahu ceritanya, ditambah sedikit aksi dan drama yang cukup menyentuh. Dan ada pelajaran yang bisa saya dapatkan di film ini. Yaitu bagaimana saya sebaiknya bersikap manakala kaki saya tak sengaja menginjak tahi. Boleh tahi kuda, tahi kebo, tahi kucing, tahi ayam, asal jangan tahi lalat saja. Nanti yang punya marah. Sewaktu menginjak tahi, janganlah mengumpat. Cukup terkejut, dan berkatalah; hmm.. ini tentang keseimbangan..( ini akan membuatmu terlihat smart) kemudian, injaklah tahi itu dengan kaki satunya yang bebas dari tahi. Jadi dua duanya kena tahi. (Ini akan membuatmu terlihat murah hati.) (Atau sinting) (lol) Tapi menginjak tahi juga harus disyukuri, ketimbang menginjak ranjau, atau menginjak ekor kucing.

Murder on the Orient Express | Dir: Kenneth Branagh | Cast: Kenneth Branagh, Daisy Ridley, Johnny Deep, Penelope Cruz, Michelle Pfeiffer, Judi Dench, William Dafoe | Rate: 3.5

Read Full Post »

Kurang lebih satu jam kemudian film ini mensleeding hatiku so hard hingga amburadul. Pengalaman menonton film paling menyakitkan tahun ini. Inilah horor yang hakiki. Tak hanya membuat kaget, tapi juga sedih sekali, disusul dengan kemarahan yang meletup letup seperti air dalam panci yukihira nabe saat kamu masak aer biar mateng. Ingin sekali aku masuk ke dalam film dan merubahnya. Tapi tak bisa. Hidup seakan menjelma dalam untaian lagu Tulus; aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi, aku tenggelam dalam lautan luka dalam.. Sungguh, satu adegan itu terus terbayang sepanjang film berjalan, hingga film selesai, bahkan saat kutulis review ini. Masih terasa ada sakitnya. Oh apa yang harus kulakukan? Apa aku harus lari ke hutan kemudian teriakku, atau aku harus lari ke dalam pelukanmu? Uwuwuwuwu.

Kurang lebih satu jam sebelumnya Ikari / Rage / Anger memberikan kisah sebuah pembunuhan sadis sepasang suami istri di rumahnya sendiri. Pembunuhnya meninggalkan tulisan di pintu “Ikari / Anger”. Pembunuh itu lalu kabur dan wajahnya dioperasi plastik. Polisi hanya punya gambar wajah yang si pembunuh sebelum operasi. Siapakah pembunuh itu, mengapa ia membunuh, mengapa ia menulis kata Ikari, marah sama siapa? Aksi kepolisian mengungkap kasus ini menjadi cerita pertama. 

Cerita kedua mengenai seorang ayah, Yohei Maki, dengan putri tersayangnya, Aiko. Ia bekerja di pelabuhan bersama dengan Tetsuya Takihiro. Aiko lalu kencan dengam Takihiro. Sementara itu ayahnya perlahan mulai mencurigai Takihiro sebagai pembunuh yang dicari polisi. Apakah ia memang pembunuhnya?

Selanjutnya ada cerita tentang Yuma Fujita yang bertemu dengan Naoto Onishi dan mulai pacaran. Keduanya laki laki. Pasangan gay itu hidup bahagia sampai kemudian Yuma Fujita mulai ragu dan mengira kalau pacarnya itu adalah pembunuh yang dicari polisi. Apakah ia memang pembunuhnya? 

Cerita terakhir terjadi di sebuah kota di tepi pantai. Lautnya begitu biru. Indah sekali. Di dekatnya ada sebuah pulau tak berpenghuni. Suatu ketika Izumi Komiya pergi ke pulau itu dan di sana tak sengaja bertemu dengan laki laki bernama Singo Tanaka. Singo Tanaka berpesan pada Izumi agar tidak bilang siapa pun kalau ia ada di situ. Izumi Komiya memang tak curiga kalau ia pembunuhnya, yang curiga itu aku. Apakah ia pembunuhnya?

Ikari berbeda dengan film film pembunuhan yang lain. Film ini menyuruhku untuk menebak siapa di antara ketiga orang itu yang benar benar pembunuh. Dan jawabannya baru akan terkuak menjelang film ini berakhir. Tapi kemudian semua itu seakan tak penting. Rasanya ada yang kurang. Rentetan peristiwa yang terjadi sebelum ending telah mencuri rasa penasaran akan identitas pembunuhnya. Peristiwa yang meninggalkan lubang dalam di dada yang susah ditutup kecuali oleh perhatian darimu (uwuwuwuwu), bukan perhatian dari operator di stasiun kereta; “perhatian perhatian, kepada para penumpang jurusan.. ”

Keempat cerita yang berbeda tokoh dan tempatnya itu kemudian akan terhubung satu sama lain. Masing masing kisah ditampilkan bergantian, saling menyalip di antara kisah yang lain. Tapi jangan khawatir dan bimbang, tidak akan membingungkan. Editingnya menang patut diacungi jempol. Penggalan per adegannya benar benar pas dan berhasil menjaga rasa penasaran. Yang patut diacungi jempol satu lagi ialah scoringnya. Eduh, paass banget mbangun suasana muram, galau dan kelam. Apalagi dentingan pianonya, seperti selimut premium nan mahal yang membungkusmu dalam buaian kesengsaraan. 

Yang patut diacungi jempol lagi ialah akting pemainnya yang super sekali dan seperti roti tawar yang bertabur coklat meises, film ini pun bertabur bintang. Aktor aktor kawakan yang sudah malang melintang di dunia perfilman, maupun yang baru beberapa kali main film namun mampu memberikan akting yang luar biasa. Aktor dan aktris ini boleh jadi adalah idola kamu, seperti contohnya Aoi Miyazaki yang jadi aktris idolaku. Ada pula Suzu Hiroze yang mencuri perhatian sejak ia menjadi saudari kecil di film Our Little Sister / Umimachi Diary. Sedikit saran, buat yang benar benar ngefans dek Suzu Hiroze sebaiknya jangan menonton, takut enggak kuat. Ini serius lho ini! Buat fansnya Sathosi Tsumabuki & Gou Ayano, mungkin akan merasa enggak nyaman karena mereka jadi pasangan sejenis, dan ada adegan dewasanya yang cukup berani dan vulgar. Kemudian ada juga Ken Watanabe dan Kenichi Matsuyama sebagai ayah dan pacar Aiko.

Anak kucing akan menyedot susu ibunya yang kucing, sementara Ikari / Anger / Rage akan menyedot kebahagian dalam hidupmu. Membuatmu patah hati sejenak. Memberikan apa yang seekor kucing tidak bisa berikan kepadamu, yaitu kesedihan. Kesedihan yang memukau, sehingga kamu akan menerima dengan ikhlas meski hati tersakiti. Betapa aneh kalimat ini. Tapi begitulah kadang keajaiban sebuah film, sudah tahu tersakiti, pas ditanya puas atau enggak nontonnya, pasti dijawab puassss!! HLHEDN. Film ini tak semata mata tentang siapa yang membunuh dan alasannya, melainkan tentang kepercayaan dan rasa tak berdaya. Apakah kepercayaan bisa mengoyak rasa cinta? Seberapa dalam manusia bisa menyimpan penyesalan dan rasa bersalah? Akhir kata, seperti judulnya, film ini memang bikin emosi jiwa.

Ikari / Anger / Rage | Dir: Lee Sang Il | Cast: Aoi Miyazaki, Suzu Hirose, Ken Watanabe, Kenichi Matsuyama, Gou Ayano | Rate: 4

Read Full Post »

Jika Marlina punya hobi bikin pantun, apakah filmnya bakal punya judul Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Kali Empat Sama Dengan Enam Belas, Sempat Tidak Sempat Harap Dibalas? Tentu saja tidak demikian. Marlina wajib punya judul aslinya, Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak. Terlihat classy, keren dan bikin penasaran ingin segera menuju bioskop terdekat. Judulnya memang gurih, mengandung umpan yang bakal disambar oleh para penonton film jenis pertama, yaitu golongan penikmat film yang menonton karena judulnya. 

Jalan ceritanya pun benar benar akan membuat golongan penonton tipe kedua mempercepat langkah kakinya menuju bioskop, yaitu jenis penonton film yang menonton karena jalan cerita. Film ini punya jalan cerita yang tak umum. Seorang janda terpaksa membunuh lima perampok yang menyatroni rumahnya, kemudian menenteng kepala salah satu perampok itu menuju kantor polisi sambil dikejar oleh kawan si perampok. 

Keindahan Sumba dalam film ini ialah keindahan haqiqi. Manjain mata. Wajib untuk disaksikan melalui layar bioskop kecuali kamu punya TV LED 100 inch. Itu juga kudu nunggu DVDnya rilis dulu. Kelamaan. Nanti keburu disamber orang. Disamber orang tiketnya maksudnya. Layar bioskop yang besar membuat pemandangan Sumba terlihat begitu memukau. Hamparan rumput kering yang luas, jalan berliku, dengan ujung  samudera biru membentang. Malamnya, biarpun sedikit, ada bulan purnama bulat, besar benderang. Jelasnya, visualnya outstanding, yang bisa jadi akan membuat jenis penonton ketiga; yang menonton karena visualnya, akan memacu kudanya menuju bioskop terdekat menyusul jenis penonton pertama dan kedua.

Film ini juga ingin menunjukkan betapa kuatnya perempuan. Misalnya Novi, temannya Marlina yang lagi hamil itu. Waktu lihat Marlina tenteng itu kepala, responnya cuma beringsut sedikit, sesudahnya mengobrol seperti biasa. Padahal yang ditenteng itu kepala orang. Bukan sayuran, atau buah buahan. Kok ya enggak histeris, shock, terus langsung melahirkan. Kekuatan perempuan terlihat dengan jelas sepanjang film. Jenis penonton yang keempat; yang menonton karena kekuatan wanita kemungkinan besar akan segera mengebut mobilnya menuju bioskop terdekat. 

Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak mengingatkan saya dengan film Quentin Qarantino, Django Unchained. Pengalaman saya nonton film film western emang nol besar, tahunya dari Quentin Tarantino saja. Juga ada sedikit yang seperti cerita cerita karangan Gabriel Garcia Marquez, atau Eka Kurniawan. Perihal hantu tanpa kepala yang memainkan alat musik tradisional Sumba itu memang punya daya magisnya sendiri. Iringan musiknya pun demikian. Dan satu lagu yang dinyanyikan pakai bahasa Sumba itu, masih terngiang sampai sekarang meski tak tahu artinya. Judulnya Lahape Jodoh, nyari di google tak nemu artinya. Tapi dengernya sedih betul. Tentang jodoh yang tak kunjung datang, mungkin. Karena hal hal inilah, maka jenis penonton kelima akan berbondong bondong naik bis pergi ke bioskop; jenis yang menonton film karena genre western, ditambah punya scoring dan lagu yang yahud. (Maksa emang.)

Akhirnya, film ini sangat layak untuk ditonton. Memang brutal dan mengerikan ada kepala menggelinding atau ditenteng dan menyakitkan melihat apa yang terjadi didalamnya. Entah saya saja atau yang lain juga, saya lebih enggak tega melihat Novi. Sewaktu ia lagi lari lari kecil nyamperin Marlina, aduh itu takut jatuh. Lebih parah lagi yang terjadi selanjutnya. Ngeri sekali lihat perutnya. Tapi bukan berarti tanpa kehangatan dan rasa haru. Interaksi antara Marlina dan Topan sedikit memberi angin yang menyejukkan. Yang jelas, nonton Marlina si Pembunuh Dalam Empat Babak di bioskop jadi tamasya yang menyenangkan. Tidak ada duanya. Kecuali nonton lagi, baru ada duanya. Dan, ngeliat sop ayam jadi tidak pernah sama lagi. 

Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak | Dir: Mouly Surya | Cast: Marsha Timothy, Dea Panendra, Yoga Pratama | Rate: 4

Read Full Post »

Kim Byeong Soo terkena dementia. Kadang ia tak ingat siapa dirinya, siapa namanya, ada dimana, dengan siapa, semalam berbuat apa. Ia lupa teman temannya, bahkan anaknya. Masalah bertambah karena ia dulunya seorang pembunuh berantai. Kadang, tubuhnya melakukan gerakan membunuh tanpa ia sadari. Pernah ia pernah mencekik Eun Hee, anak gadis satu satunya, karena menyangkanya orang lain. Sekalipun begitu, Eun Hee sangat mencintai ayahnya itu. Kepikunan ayahnya tak menyurutkan hasratnya untuk berbakti kepada ayahnya semenjak ibunya tiada. Calon mantu idaman. Cantik pula.

Masa lalu ayahnya sebagai pembunuh berantai yang mengubur korban korbannya di hutan bambu tak diketahui oleh Eun Hee atau siapa pun. Suatu hari, Kim Byeong Soo tak sengaja menabrak mobil di depannya hingga bagasi mobil itu terbuka. Di dalam bagasi, ada koper dengan darah yang menetes keluar. Curiga, ia lalu mengambil darah itu lantas memeriksanya. Ternyata darah manusia. Ia pun melaporkan ke polisi, tapi tak ada yang percaya. Suatu ia bertemu kembali dengan orang yang ia tabrak. Orang itu  Min Tae Jo, sedang bersama Eun Hee, mengaku jadi pacarnya. Kim Byeong Soo pun berusaha memisahkan mereka berdua. Keadaan tambah ramai ketika Min Tae Jo juga tak tinggal diam, dan tau bahwa Kim Byeong Soo seorang pembunuh berantai yang insaf.

Konflik antara kedua orang itu berlangsung seru ketika Kim Byeong Soo sedar ingat siapa dirinya. Tapi kalau lagi kumat pikunnya, keadaan akan berbalik 180 derajat; Kim Byeong Soo akan menerima dengan lapang dada hubungan Min Tae Jo dengan putrinya. Seperti ingatan Kim Byeong Soo yang timbul tenggelam, Memoir Of A Murderer pun seringkali berganti antara thriller dan drama ayah dan anak.

Bagi yang menggemari thriller Korea Selatan, film ini boleh dicoba dan kemungkinan bakal suka. Meski tak begitu menegangkan, tapi cuilan drama ayah dan anak barangkali cukup untuk menyentuh hati kalian sekalian. Film ini tak seperti The Chaser, I Saw Devil, No Mercy, melainkan lebih menyerupai Memories Of Murder. Bahkan ada satu scene yang tempatnya mirip; adanya sebuah terowongan.

Memoir of A Murderer juga menjadi ajang pembuktian untuk Seol Hyun dimana tampil cukup baik memerankan Eun Hee meski dengan kosmetik melekat di wajah setiap waktu. Penampilannya jauh berbeda jika dibandingkan waktu ia sedang joget joget bersama grupnya AOA. Sementara itu, Sol Kyung Go berhasil memerankan seorang pensiunan pembunuh berantai yang mengidap dementia. Perubahan saat sadar dan pikunnya kambuh itu terlihat dengan baik.

Ending Memoir of A Murderer mengingatkan saya dengan peribahasa karena nila setitik rusak susu sebelanga. Meski sebenarnya peribahasa itu terlalu berlebihan dibanding yang sebenarnya terjadi. Tapi, saya tak menemukan peribahasa lain yang punya maksud sama. Peribahasa buruk muka cermin dibelah jelas tidak nyambung sama sekali. Nah, maksudnya gimana kok bisa ngingetin sama peribahasa itu? Jadi, ada sedikit scene di ending yang malah menghancurkan scene sebelumnya yang seharusnya sudah perfect untuk menutup film ini. Simplenya, endingnya kepanjangan. Entahlah, mungkin agar lebih membekas di hati penonton, sayangnya bekasnya jadi tidak enak.

Sutradara Won Shin Yeon, yang sebelumnya membesut film action spy thriller The Suspect, barangkali tidak sepenuhnya berhasil membuat film pembunuh berantai yang membuat tegang sepanjang waktu, tapi drama antara ayah dan anak bisa jadi akan membekas dibenak meski tak sampai jadi film penguras air mata.

Memoir Of Murderer | Dir: Won Shin Yeon |Cast: Sol Kyung Go, Seol Hyun | Rate: 3

Read Full Post »

Ditemukan mayat aneh dan mengerikan. Mayat bocah laki laki, bagian pinggang ke bawah menyambung dengan tubuh rusa. Setengah manusia setengah rusa. Detektif Gabriella Versado ditugaskan untuk menemukan pelakunya. Belum ketemu, eh jatuh korban lagi dengan kondisi lebih mengerikan. Hayo lho…
Gaby, begitu biasanya si detektif dipanggil, punya anak perempuan remaja bernama Layla. Keduanya tinggal berdua serumah ditambah Nyancat, si kucing. Ayahnya bercerai dan sudah menikah lagi. Kesibukan Gaby membuat mereka jarang kumpul berdua. Layla, punya teman bernama Cassandra, panggilannya Cas.

Sementara itu, di sisi lain kota ada seorang pemuda bernama Jonno Haim, yang terpaksa pindah ke Detroit demi hidup yang lebih baik. Bersama pacarnya, Jen yang seorang DJ, mereka berniat untuk membuat sebuah video berita terkini dan menguploadnya di youtube. Mereka ingin terkenal dengan cara itu. Lalu ada Thomas Keen, alias TK. Laki laki tua yang bertugas mengawasi para tunawisma.

Selain tokoh tokoh itu masih ada tokoh lain, tapi inti buku ini menceritakan tokoh tersebut dan tokoh lainnya. Tentang bagaimana mereka kemudian terhubung dengan kasus pembunuhan aneh itu meski awalnya tidak saling kenal dalam sebuah jalinan cerita yang membutuhkan kesabaran. Cenderung lambat. Apalagi dengan jumlah halaman yang lumayan gendut, 600an halaman lebih. Bukan buku yang oleh saya mudah untuk diselesaikan.

Menurut saya, ada beberapa cerita yang seharusnya tidak terlalu detail dan lama. Contohnya mengenai hubungan Layla dan Cas, dan permasalahannya. Juga tentang masa lalu Cas. Seharusnya cukup diceritakan keduanya teman baik saja. Teman curhat. Teman sepermainan. Itu saja sudah cukup. Karena bagian waktu mereka berurusan dengan pedofilia malah menurunkan tempo. Hasrat ngin mengetahui bagaimana kasus pembunuhan itu jadi tertunda. Sesuatu yang tertunda kan biasanya menyebalkan, kecuali sesuatu yang tertunda punya Padi. Top markotop lah itu.

Selain itu, cerita awal mula tokoh tokohnya juga tidak terlalu menarik. Jonno Haim dan pacarnya Jen biasa saja. Justru bagian Jonno dan Cate sedikit lebih menarik. Lebih ada ‘percikan’. Padahal cuma sekilas. Tokoh antagonisnya pun tidak berkesan sama sekali.

Bagian akhir yang seharusnya menegangkan justru dirusak oleh adanya halusinasi halusinasi yang tidak benar benar diberi tahu dari mana asalnya. Halusinasi itu memang mengerikan, cuma masalahnya saya sudah terlanjur tahu bahwa itu tak nyata. Jadi jatuhnya ilfeel. Halah, cuma boongan, gitu kata saya. Juga mengenai pintu pintu simbolis yang kurang jelas gunanya apa. Mungkin saya kurang piknik, jadi enggak terlalu nangkep maksudnya. Terus, biasanya kalau membaca buku atau menonton film yang ada bagian menangkap pembunuhnya kan kadang suka deg degan sendiri ya, saat penjahatnya akan tertangkap, atau waktu bertarung, atau menyelamatkan seseorang. Waktu saya baca buku ini tidak begitu. Lempeng aja. Pasrah tokohnya mau diapain juga. Yang penting cepat selesai. Mungkin buku ini telanjur membosankan, tidak punya sesuatu yang menggetarkan hati. Mungkin karena hati saya yang sudah terlalu keras. Seperti kehidupan. Jeng jeng!

Mungkin juga karena harapan saya terlalu tinggi. Salah saya juga sih, tak baca sinopsis dengan lengkap. Saya hanya tahu ada mayat setengah manusia setengah rusa, dan detektif yang memburu pembunuhnya. Saya kira, ini bakal berbau fantasi dimana mayat aneh itu adalah semacam makhluk fantasi betulan, bukan manusia biasa yang dilem ditubuh rusa. Pembunuhnya juga kurang jelas. Jadi begini, pembunuh sebenarnya ialah mimpi. Mimpi menjadi entitas yang berdiri sendiri, mengontrol manusia untuk membunuh. Alasan kenapa ia harus menyiarkan ke seluruh dunia juga saya gagal paham. Kalau misalnya semua orang tau terus apa. Paling juga gempar sebentar saja. Masalah lainnya ialah sebenarnya mimpi ini siapa? Apakah ia cuma karangan si pembunuh(semacam kepribadian ganda), apakah juga semacam makhluk lain. Alien. Makhluk halus. Tapi kalau makhluk lain, kenapa tidak diceritakan lebih dalam. Heuu.. saya gagal paham. Mungkin juga karena otak saya sudah buntu dan keras. Seperti kehidupan. Jeng jeng!

Akhir kata, Broken Monsters atau Monster Monster Rusak akan sulit memuaskan kalian yang mencari cerita menegangkan, dengan alur yang cepat. Buku ini lambat, cerita cerita pendukungnya juga biasa saja. Seandainya saja bisa diringkas,mungkin akan jadi lebih baik. Buku ini juga sepertinya ingin menunjukkan bahaya media sosial yang telah mengubah tingkah laku manusia dan bisa menjadi alat yang berbahaya; sebuah alat bagi pembunuh mewujudkan tujuannya. Cara penyampaiannya saja yang terlalu bertele tele. Ada quote menarik yang sedikit meluruskan apa yang dulu dinyanyikan Ahmad Albar, Nicky Astri dan Nike Ardila.

Panggung sandiwara bukanlah dunia, melainkan media sosial, tempat segalanya dipertunjukkan. Sisa kehidupan kita hanya latihan, dipersiapkan untuk tampil menakjubkan secara online.

Sesudah menamatkan buku ini, saya membaca di bagian belakang ada kata kata dari Stephen King; “Sangat menakutkan dan mencekam.” Menurut saya itu terlalu berlebihan. Sama seperti berat buku ini yang berlebih. Tapi ada yang bilang buku tebal itu seksi. Bisa multi fungsi pula. Jadi bantal, ganjel pintu (belum pernah nyoba keduanya). Sekaligus ada makna filosofisnya. Buku yang tebal sebenarnya melambangkan kehidupan. Karena buku yang tebal itu keras. Seperti kehidupan. Jeng jeng!

Broken Monsters | Monster Monster Rusak |Lauren Beukes | PT Gramedia Pustaka Utama | 656 Halaman | Rate: 2

Read Full Post »

Hamparan salju dekat pohon di Wind River menjadi saksi bisu kematian seorang perempuan muda. Mayatnya ditemukan Cory Lambert sewaktu ia sedang melacak singa yang menerkam sapi milik mertuanya. Ia adalah seorang pemburu mumpuni yang sanggup membaca jejak jejak apa pun yang sedang diburunya. Hati laki laki itu mencelos waktu mengenali wajah mayat perempuan itu. Namanya Natalie, putri salah satu temannya. Kemudian datanglah agen FBI, Jane Banner yang bermaksud menginvestigasi pembunuhan tersebut dengan dibantu oleh Cory Lambert.

Film ini berisi pencarian penyebab perempuan itu tewas dan siapa yang membunuhnya seperti film film detektiv. Tidak sepenuhnya salah, tapi jika kamu mengharap ada investigasi secara detail, aksi kucing kucingan antara pembunuh dengan polisi maka kamu akan kecewa. Pencarian si pembunuh berlangsung secara sederhana, tidak njlimet dan bikin otak mikir. Karena Wind River lebih menitik beratkan kepada AMDALOYANG, Analisis Mengenai Dampak Kehilangan Orang Tersayang. Kematian Natalie berdampak sangat buruk terhadap kehidupan orang tuanya. Termasuk Cory Lambert. Peristiwa itu memaksanya untuk LLBK, Luka Lama Bersemi Kembali. Luka yang menyebabkan ia bercerai dari istrinya. Tonton saja, nanti kamu juga paham lukanya apa.

Rasa kehilangan itu secara pasti mengubah Wind River menjadi sajian drama yang mengoyak ulu hati, alih alih thriller pembunuhan. Film ini punya apa disebut sebagai freezing moment. Yaitu sebuah keadaan yang membuat saya tak mampu berkata kata, melongo sepersekian detik saking terkejutnya sambil mengumpat dalam hati. Contohnya dalam kehidupan nyata misalnya waktu kamu lagi jalan terus ada kucing lagi duduk sambil jilat jilat perut, lalu kamu menyapanya, ‘Halo?’ dan si kucing membalas ‘Meong’, dan kamu pun kaget seakan tak percaya mendengarnya. Terakhir kali ketemu freezing moment saat nonton Manchester By The Sea. Sewaktu Lee Chandler selesai diinterogasi polisi. Apa yang ia lakukan setelahnya itu benar benar gila dan sakit. Di Wind River freezing moment terjadi sewaktu Cory Lambert pergi ke rumah orang tuanya Natalie. Saya bengong, melihat apa yang dilakukan dengan ibunya. Sama dengan Jane Banner. Dia shock juga. Seandainya Squidward Q Tentacles melihatnya ia niscaya akan melolong sambil memegangi kepalanya yang botak;  Ya ampun. Apa yang kau lakukan. Ini menyakiti hatiku!!

Wind River memang menyakitkan. Apalagi jika melihat bahwa ini didasari oleh kisah nyata. Kondisi Wind River yang selalu tertutup salju dengan badai yang bisa datang sewaktu waktu semakin menambah rasa pilu. Ini diperkuat dengan alunan scoring yang mendukung tiap adegan. Ini seperti kamu sedang diceramahi karena sudah berbuat dosa, tiba tiba mengalun dari speaker gerobak odong odong lagu; insaflah wahai manusiaa…. Klop.

Pujian juga patut diberikan kepada Jeremy Renner sebagai pemburu Cory Lambert yang sukses menanggalkan bayang bayang Hawk Eye. Kalau Elizabeth Olsen sih enggak usah diomong ya. Perannya sebagai agen FBI Jane Banner (sayangnya tidak ada hubungannya dengan Bruce Banner) mengingatkan saya dengan Emily Blunt di Sicario. Eh ternyata sutradaranya memang yang nulis Sicario. Dan pujian terakhir diberikan kepada sutradara sekaligus penulis cerita Taylor Sheridan yang berhasil membuat film yang lekat di hati penonton. Meski itu menyakitkan.

Wind River | 2017| Taylor Sheridan | Jeremy Renner, Elizabeth Olsen | Rate: 4

Read Full Post »

Older Posts »