Just So Stories

Jpeg

Apa kamu tahu mengapa gajah hidungnya panjang? Ceritanya begini. Pada suatu waktu, hiduplah seorang laki laki yang miskin. Ayah ibunya miskin. Istri pertamanya miskin. Istri keduanya ikut ikutan miskin. Anak laki laki itu punya asisten pribadi yang juga miskin. Ia juga punya tukang kebun, yang juga ikut ikutan miskin. Pokoknya semuanya miskin. Suatu hari, laki laki itu pergi ke gunung mencari batu akik. Di tengah perjalanan, kebetulan ia bertemu dengan seekor gajah. Lalu laki laki itu bertanya kepada gajah mengapa hidungnya begitu panjang. Si gajah pun menjawab sambil tersenyum; sudah dari sananya, Dik. Sejak saat itu, laki laki itu pun tahu alasannya mengapa si gajah hidungnya panjang.

Begitulah ceritanya, mengapa gajah hidungnya panjang. Ternyata sudah dari sananya. Heuheuheu. Tapi kalau kamu tidak puas dengan cerita ini, kamu bisa menemukan cerita yang lainnya. Carilah cerpen dengan judul Kisah Si Anak Gajah.

Sudah pernah lihat unta? Apa kamu ingin tahu dari mana unta mendapatkan punuknya? Jaman dulu kala, punggung unta masih mulus dan rata. Suatu hari seekor unta sedang berjalan di pasang pasir. Tiba tiba ia menemukan botol kecap. Si unta yang suka main bola kemudian menendang botol kecap itu hingga pecah. Lalu dari botol kecap itu keluarlah putri yang cantik. “Oh kuda yang baik, terima kasih sudah menolong aku”, kata si putri. “Saya bukan kuda, tapi unta,” jawab si unta meralat.

Tapi putri itu keukeuh bilang bahwa itu kuda. Mungkin kelamaan di dalam botol kecap membuat otaknya sedikit kongslet. “Kamu itu kuda, bukan unta!”

“Saya unta keles.” Unta juga ikut ngotot.

“Kamu tuh kuda, kamu tuh enggak ada bedanya sama kuda, tahu!”

Demi menuntaskan perdebatan, si unta kemudia berusaha agar ia beda dengan kuda. Si unta mengepalkan dua kaki depannya, merapal ilmu kanuragan yang baru saja ia pelajari. Dan, pluk! Dari punggungnya muncullah tonjolan dua biji. Dengan peluh membasahi dahi, unta berkata kepada putri; “lihat, aku sudah beda kan dengan kuda?”

Si putri mengangguk, kemudian pamit pulang. Si unta kemudian ingin mengembalikan punggungnya seperti semula. Tapi tidak bisa. Karena tekniknya ternyata berbeda. Sejak itulah unta punya punuk di punggungnya. Begitulah ceritanya, darimana unta mendapatkan punuknya. Tapi kalau kamu masih menginginkan kisah yang lain, kamu bisa membacanya di cerpen Bagaimana Unta Mendapatkan Punuknya.

Apa kamu juga ingin tahu kenapa ikan paus tidak memakan manusia? Kisahnya bergulir sewaktu ikan paus masih hidup di darat. Suatu hari, seekor ikan paus melihat ada pesawat jatuh di hutan. Semua orang tewas, kecuali bayi perempuan. Merasa iba, si ikan paus lalu merawat bayi itu. Bayi itu diberi nama Tarsanda. Bertahun tahun kemudian, ikan paus memutuskan hidup di laut. Perpisahan pun terjadi. “Selamat tinggal, paus. Paus teman Tarsanda.”,kata Tarsanda. Itulah sebabnya mengapa paus kemudian tidak memakan manusia. Karena manusia mengingatkannya kepada si Tarsanda. “Tarsanda teman paus. Paus teman Tarsanda.”

Begitulah ceritanya. Paus tidak memakan manusia karena mereka berteman. Teman seharusnya tidak makan teman. Betul tidak? Tapi, kalau kamu ingin versi yang lain dari cerita paus, kamu bisa membaca cerpen Kenapa Paus Tidak Bisa Memakan Manusia. Ada di urutan pertama buku kumpulan cerpen Just So Stories karangan Rudyard Kipling.

Just So Stories, atau Sekadar Cerita memang kumpulan dongeng yang berusia sangat tua, ditulis oleh penulis yang juga menulis The Jungle Book. Kisah kisah di buku ini mengambil tema tema yang barangkali tidak terpikirkan oleh kita. Misalnya saja mengapa gajah hidungnya panjang, mengapa ikan paus tidak makan manusia, awal mula unta mendapatkan punuknya, bahkan ada sejarah lahirnya huruf huruf alphabet. Total ada dua belas cerpen. Sebagian besar tema ceritanya memang berkisar mengenai awal mula, kejadian kejadian yang menimpa hewan hewan sehingga mereka berperilaku atau berpenampilan seperti sekarang.

Buku ini mengingatkan saya pada dongeng dongeng lokal, semacam Kancil Nyolong Timun, Bawang Merah Bawang Putih. Oleh karena ini Just So Stories cocok sebagai bacaan untuk adik atau pun keponakan. Ditambah dengan adanya ilustrasi ilistrasi yang menarik di setiap cerita. Salah satu kelebihan buku ini adalah karena ilustrasinya yang sangat nyeni, tidak seperti ilustrasi buat anak anak, tapi tetap seperti ilustrasi anak anak. *hammer*

Jpeg

Kenapa Paus Tidak Bisa Memakan Manusia

Overall, karena ini dongeng, maka banyak hal hal yang tak masuk akal yang terjadi, seolah olah hanya untuk mencocok cocokan supaya hasil akhirnya sesuai dengan cerita. Meski demikian, ada juga cerita yang rasanya dipikirkan dengan masak masak, yaitu cerpen tentang bagaimana huruf alphabet itu di buat. Mengapa huruf A bentuknya seperti itu, huruf B, dan seterusnya. Just So Stories, ialah buku yang harus kamu ambil, seandainya kamu ingin membacakan dongeng untuk adik kecilmu dan kamu sudah tak tahu lagi harus mendongengkan apa. Masa kamu tega mendongengkan kisah cintamu yang menyedihkan itu sama adikmu itu sih?
Judul: Just So Stories
Penulis: Rudyard Kipling
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 158
Rate:3,5

Bastian dan Jamur Ajaib

jamur

Sayangnya, kelereng milik Aldi yang sudah ia kumpulkan harus ia simpan rapi di kaleng roti, karena tren permainan sedang mengalami perubahan. Teman temannya tak lagi menggemari gundu, dan beralih mengadu jangkrik. Jangkriknya pun spesial dan mereka harus mencari sendiri. Karena tidak sembarang jangkrik bisa tahan untuk diadu. Biasanya ada dua jenis yang sering dijadikan aduan, jangkrik jeliteng dan jelabang. Suatu hari Aldi menemukan jangkrik jeliteng. Ia lalu membawa jangkriknya untuk diadu dengan jangkrik temannya yang sudah berulang kali memenangkan pertandingan. Apakah jangkrik Aldi akan menang?

Sebenarnya pertanyaan itu masih kurang tepat, karena isi cerpen pertama yang diberi judul Ode Untuk Jangkrik ini tidak melulu bercerita mengenai jangkrik siapa yang menang atau kalah. Ini adalah kisah Aldi, yang sedang dibutakan oleh permainan adu jangkrik sehingga mengindahkan himbauan orang tuanya. Barangkali nasib yang menimpa Aldi adalah buah dari apa yang telah ia tanam. Cerpen ini, secara samar ingin mengingatkan bahwa mengadu jangkrik itu tidak baik. Secara luas juga dapat diartikan bahwa tidak hanya jangkrik, kita pun tidak boleh mengadu binatang. Ingat lagu Adu Domba milik Kak Rhoma, adu domba mengadu domba, perbuatan tercela.., atau lagu Ayam Jago punya Aida Saskia, ayam jago jangan diadu, kalau diadu jenggernya merah.

Lebih baik mengadu kepintaran atau ilmu kenuragan sahaja. Melalui Ode Untuk Jangkrik, Ratih Kumala berhasil membawa kembali permainan yang sempat menjadi hits di tahun 90an(atau 90an ke bawah) dengan baik, dan akan sedikit membawa nostalgia bagi siapa saja yang pernah mengalaminya.

Sayangnya, persahabatan Aida (bukan yang nyanyi dangdut tadi) dengan Nonik menimbulkan masalah. Aida dinterogasi oleh polisi perihal Nonik. “Sejak kapan kamu kenal Nonik?” tanya polisi. Aida pun menceritakan awal mula ia kenal dengan Nonik. Nonik menganggap Aida sebagai guardian angelnya, yang menjaga Nonik agar tidak kebablasan sewaktu sedang mabuk. Mengapa Aida diinterogasi polisi? Apa yang terjadi dengan Nonik? Melalui cerita Aida, pelan pelan semua akan terungkap. Sesuai judulnya, Nonik, cerpen ini berkisah tentang kehidupan Nonik melalui kacamata sahabatnya, Aida. Tentang nasib Nonik, mungkin mudah untuk ditebak, tapi yang menarik ialah alasannya dibalik semua kejadian itu.

 

Sayangnya, nasib telah menakdirkan Ah Kauw sebagai tukang gali kubur. Tapi bukan tukang gali kubur biasa, karena ia menggali kuburan yang ada isinya. Ah kaw menggali pemakaman, membongkar kuburan. Upahnya lumayan menguntungkan baginya. Apalagi terkadang ia juga mengambil barang perhiasan yang ikut terkubur jika kebetulan ia menggali kuburan orang Cina atau Belanda. Tapi pekerjaannya membuat hubungan dengan orang tuanya renggang. Dan ketika ia juga tak kunjung dikaruniai anak, ia dan istrinya pun berpikir ada yang tidak beres dengan pekerjaannya.

 

Sayangnya, cerpen yang menjadi judul buku ini, Bastian dan Jamur Ajaib, tidak seperti yang saya bayangkan. Ternyata bukan cerita dongeng, atau apa pun yang berbau fantasi, melainkan cerita tentang Bastian yang sedang patah hati, dan berkelana mencari pil lupa cinta. Cerpen ini terjadi pada masa ketika orang orang menganggap biasa pada sebuah pertanyaan; “Kamu jual pil lupa cinta?” Suatu hari seorang bartender member Bastian minuman yang berwarna kecoklatan atau abu abu, tak jelas karena lampunya remang remang.

“Apa ini” Jus eek?” tanya Bastian.

Ketika diminum, ternyata rasanya mengerikan. Tapi, tak lama setelah kejadian itu sesuatu yang aneh terjadi dengan Bastian. Ia bertemu dengan Raquel, perempuan yang dicintainya. Kemudian diketahui itu adalah efek dari jus eek yang ia minum. Jus itu rupanya berasal dari jamur. Bastian pun ketagihan, dan berusaha menemui seorang tabib yang punya persediaan jamur tersebut, tanpa Bastian ketahui bahwa itu bukanlah jalan yang baik.

Cerpen ini menjadi yang terakhir, dan sedikit kurang nendang kalau dijadikan sebagai penutup. Meski dari seluruh cerpen di buku ini, sebenarnya memang tidak ada yang benar benar nendang. Ceritanya biasa saja. Tak ada yang benar benar menonjol. Bukan berarti jelek, hanya saja terlalu biasa, tidak ada yang membekas begitu selesai membacanya. Buku ini terdiri dari tiga belas cerpen, beberapa sudah pernah terbit di koran. Sebagian besar bercerita mengenai ketidakbahagiaan dengan tema yang beragam, mulai dari penggali kubur sampai putri duyung. Dan, meski gagal untuk memberikan kesan yang mendalam Bastian dan Jamur Ajaib masih bisa dinikmati dengan lezat.

Judul: Bastian dan Jamur Ajaib
Penulis: Ratih Kumala
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman:130
Rate:2,5

 

Untunglah, Susunya

milk3

Untunglah, ayah di buku ini bukan Bang Toyib, jadi si adik dan kakak tak perlu menunggu hingga tiga kali lebaran tiga kali puasa sampai ayah mereka pulang dari membeli susu. Susu di rumah habis, dan makan sereal tak bisa tanpa susu. Si ayah pun pergi beli susu. Karena menunggu adalah pekerjaan yang membosankan, apalagi kalau lagi lapar, maka kepergian si ayah terasa lama sekali. Seperti halnya bertahun tahun, bahkan berabad abad. Padahal tidak selama itu. Jelas, masih lamaan Bang Toyib. Hingga si adik dan kakak berpikir untuk makan acar saja sebagai sarapan.

Untunglah, sebelum kedua anak tersebut benar benar makan acar, si ayah pulang. Ayah kemana saja, kok lama, begitu tanya si adik. Kemudian si ayah pun merasa perlu untuk menjelaskan. Daripada mengeluarkan alasan yang umum, misalnya:

  1. Oh, ayah tadi ketemu teman lama, terus ngobrol keterusan.
  2. Tadi si pemilik tokonya lagi pergi, jadi ayah terpaksa menunggu.
  3. Begini Nak, ayah lupa bawa uang, jadi ayah tadi nyuci piring, nyapu nyapu, sama nguras bak mandi dulu sebagai pengganti uang buat beli susu.

Si ayah malah bercerita seperti ini:

“Aku membeli susu,” kata Ayah. “Dan ya, aku menyapa Mister Ronson dari seberang jalan yang akan membeli Koran. Aku keluar dari took pojok, dan mendengar suara aneh seolah datang dari atasku, suaranya seperti: dhum… dhumm… Aku mendongak, dan kulihat piringan perak besar menggantung di atas jalan Marshal.”

Dengan kata lain, si ayah melihat UFO.

Untunglah, si kakak tidak langsung menuduh si ayah banyak alasan. Ia malah berkata bahwa hal itu belum aneh. Lalu si ayah pun melanjutkan ceritanya, yang tambah lama tambah aneh. Si ayah di angkat masuk ke dalam piring terbang yang ternyata berisi alien yang ingin menata ulang bumi. Sebelum disiksa oleh alien itu, si ayah keburu kabur lewat sebuah pintu aneh. Pintu itu ternyata kalau dibuku bisa mengacaukan ruang dan waktu. Dan dimulailah petualangan si ayah, yang setelah membuka pintu darurat itu malah kecebur ke laut di jaman bajak laut. Lalu di selamatkan oleh seorang professor dengan mesin waktunya. Profesor itu bernama Steg, dan ia seekor dinosaurus.

Untunglah, meski Neil Gaiman menceritakan petualangan si ayah dengan begitu absurd, dan tidak masuk akal, tapi  ceritanya sungguh fresh dan orisinil. Profesor dengan tubuh dinosaurus, alien yang hoby renovasi planet dengan mengganti semua tumbuhan dengan flamingo plastik, dan awan awan dengan lilin plastik, dan botol susu yang menyelamatkan alam semesta.

Untunglah, imajinasi seliar itu dilengkapi dengan ilustrasi yang hampir ada di setiap halaman. Dan ilustrasinya itu keren keren. Bisa melihat bagaimana bentuk Profesor Steg dan mesin waktunya, si ayah dan botol susunya, alien alien peñata lingkungan dan lainnya. Bukunya termasuk tipis, enggak perlu waktu lama untuk menyelesaikannya.

Untunglah, Susunya secara keseluruhan cukup menghibur, meski mungkin time paradoksnya agak membingungkan buat anak anak. Saya pribadi tidak terlalu suka, terlalu gurih rasanya. Ringan, tanpa ampas. Yang paling saya suka itu ilustrasinya, serta penempatan jenis dan ukuran font yang berbeda beda. Lebih enak dilihat. Yang masih mengganjal itu sebenarnya judul. Untunglah, Susunya. Semacam tidak enak buat diucapkan, seperti ada yang mengganjal dan tidak kompak. Seperti bait puisi Rako Prijanto; seperti berjelaga jika kusendiri. Entahlah.

Judul: Untunglah, Susunya
Penulis: Neil Gaiman
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman:128
Rate: 2,5

Jpeg

Kaki yang Terhormat

kakiygterhormat

Judulnya ngingetin saya sama puisinya Pablo Neruda yang kira kira begini bunyinya:

But I love your feet /only because they walked /upon the earth and upon /the wind and upon the waters, /until they found me

Keduanya sama sama menjunjung tinggi kaki, ketimbang bagian tubuh lain yang sering kali dijadikan sebagai inspirasi sebuah karya sastra. Puisinya Neruda tentu saja romantis, dan hal itu membuat saya jadi punya pemikiran bahwa jangan jangan Kaki yang Terhormat juga tak berbeda meski kaki yang terhormat tentu saja agak sedikit berbeda dengan kaki yang dicintai.

Kaki yang dicintai adalah milik sang kekasih, sementara kaki yang dihormati bisa milik siapa saja. Milikmu, milikku, milik kita semua berhak untuk mendapatkan penghormatan, apalagi jika kamu adalah seorang pembina upacara.

Cerita tersebut ada di urutan ketujuh dari dua belas cerpen yang ada di buku kumpulan cerpen yang ditulis oleh Gus Tf Sakai ini. Saya belum kenal beliau secara mendalam, tapi saya tahu cerpen cerpen beliau sudah wara wiri di surat kabar, dan saya pun meyakini bahwa saya sudah pernah membaca salah satu cerpen itu, meski saya gagal untuk mengingat apa judul cerpennya. Terus terang saya lupa. Enggak apa apa ya saya lupa, dari pada saya joget.

Cerpen pertama judulnya Kulah. Kulah bisa disebut juga mata air. Mengisahkan tentang Marni yang hendak pergi ke mata air yang dulunya sering disebut sebagai mata air Marni. Marni ingin tahu, mengapa tempat itu bisa menjadi penyebab keponakannya meninggal. Cerpen ini adalah sebuah kritik terhadap pengrusakan lingkungan yang disebabkan oleh kemajuan jaman. Dengan flashback yang bergantian, saya jadi ikut merasakan kegelisahan yang dialami Marni, serta rasa kehilangannya.

Lalu ada Upit yang dipaksa oleh orang tuanya untuk menikah di usia muda meski ia masih ingin bersekolah. Upit dinikahkan dengan majikannya yang umurnya hampir empat puluh. Kehidupan rumah tangga Upit terusik ketika ada seorang laki laki yang mengontrak di depan rumahnya. Mulanya saya mengira akan membaca sebuah kisah cinta segitiga, tapi saya salah. Cerpen dengan judul Upit ini ternyata tak hanya berkisah tentang cinta, tapi juga tentang perilaku orang orang yang masih melihat bukan ‘apa’ tapi ‘siapa’?

Cerpen Kaki yang Terhormat sendiri berkisah tentang seorang nenek yang begitu menghargai kakinya. “Kaki! Lebih penting pelihara kaki!” katanya kepada cucu cucunya. Kemana mana nenek lebih suka jalan kaki. Suatu hari ada kabar bahwa anaknya Harun, sudah menjadi orang kaya di kota. Bahkan naiknya pakai helikopter. Nenek pun senang, dan kabar itu cepat tersebar di kampungnya. Hingga kemudian terdengar kabar yang mengejutkan.

Kurang dahsyat sebenarnya cerpen ini sebagai sebuah cerpen yang jadi judul buku. Biasa saja. Saya lebih memilih cerpen Kak Ros sebagai cerpen yang paling saya suka. Kak Ros ceritanya tentang penulis yang menginap di kos kosan temannya. Suatu hari ia melihat Kak Ros, perempuan setengah baya sedang membungkuk menyemprot rimbun daun. Tapi, anehnya wajahnya nampak sangat dekat dengan daun itu, dan bibirnya terbuka seperti sedang bicara. Kata temannya, Kak Ros memang sedang bicara dengan daun daun. Tentu saja penulis itu enggak percaya dan perlahan ia terus memikirkan Kak Ros.

Saya suka ide perempuan yang bisa bicara dengan tanaman. Dan, endingnya membuat cerpen ini jauh lebih baik. A dark twist. Cerpen terbaik di buku ini. Dan, judulnya memang kelewat sederhana. Mungkin akan lebih greget kalau judulnya diganti jadi ‘Perempuan yang Bicara Dengan Daun’.

Dan ada cerpen cerpen lainnya yang semuanya sudah pernah dimuat di surat kabar pada rentang waktu 1986 – 2011. Cerpen cerpennya kebanyakan mengambil budaya Sumatra, lengkap dengan istilah istilahnya. Ditulis dengan kalimat yang cenderung pendek pendek, dengan tema yang tidak jauh dari masalah kehidupan sehari hari. Kaki yang Terhormat sayangnya gagal untuk menjadi sebuah buku yang memorable secara keseluruhan. Alur cerita mau pun pemilihan kata terkesan biasa saja. Untungnya cerpen tersebut tidak terlalu panjang sehingga dengan cepat bisa diselesaikan.

 

Judul:  Kaki yang Terhormat
Penulis: Gus Tf Sakai
Penerbit:  Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 117
Rate: 2.5

The Cuckoo’s Calling

dekutburugnkukut

Lula Landry ditemukan tewas terjatuh. Polisi menetapkannya sebagai bunuh diri. Beberapa bulan kemudian, John Bristow, kakaknya mendatangi Cormoran Strike, seorang detektif partikelir, untuk mengusut kematian Lula Landry sebab ia kukuh pada pendiriannya bahwasanya adik perempuannya itu mati dibunuh.

Cormoran Strike, yang sedang paceklik uang akhirnya menyetujui permintaan John Bristow. Kemudian, Strike pun mulai menyelidiki penyebab sebenarnya kematian model terkenal itu dibantu oleh karyawan sementaranya, Robin Ellacott.

Apakah Lula Landry mati dibunuh, atau memang murni bunih diri?

Satu pertanyaan besar itu terus saja berputar mengelilingi kepala, bersamaan dengan beberapa pertanyaan kecil, misalnya apakah alasan Robin mendadak berhenti kuliah psikologi? Apakah akan tumbuh benih benih cinta antara Strike dan Robin? Dan, apakah rambut Strike benar benar seperti jembut?

Novel ini dikarang oleh Robert Galbraith, tapi semua tahu belaka bahwa itu adalah nama samaran milik JK Rowling. Sebagai sebuah novel criminal, The Cuckoo’s Calling tampil dengan tempo yang lambat. Tapi masih dapat untuk dinikmati tanpa rasa bosan.  Robert Galbraith menuliskannya dengan deskripsi yang mampu memikat saya dari awal. Sehingga seperti apa pun jalan ceritanya nanti, tetap bisa saya nikmati.

Kemudian, saya juga menemukan ada beberapa terjemahan yang terbaca lumayan ganjil, dan bikin senyum senyum sendiri.   Tapi saya tak terlalu suka dengan ukuran bukunya yang terlalu besar (mungkin Guy Some akan suka).  Jadi kurang nyaman buat dibawa bawa.

Pada akhirnya, buku ini sedikit kurang mempermainkan emosi pembaca, rasa penasaran yang terbentuk biasa saja, tapi  justru tokoh tokoh di dalamnya mampu tampil tak terlupakan.

Judul: The Cuckos’s Calling / Dekut Burung Kukut
Penulis: Robert Galbraith
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 517
Rate: 4

The Gate

the-gates

Jingga duduk mencangkung di dahan pohon nangka. Tangan kirinya memegang buku. Tangan kanannya mengambil buah rambutan, dan melemparnya ke arah Basman yang berdiri di bawahnya.
Pletuk!
Basman mendongak. Melotot.
‘Bas, sini naik!’ Pinta Jingga.
‘Panggil nama saja bisa kali, enggak usah pakai nimpuk segala.’ Balas Basman sewot.

Tapi, ia naik juga ke pohon.
Jingga lalu menggeser tubunya sehingga Basman bisa duduk di sebelahnya. Di dahan paling besar itu, mereka akhirnya duduk berdua.
‘Kamu dapet rambutan dari mana?’ tanya Basman.
‘Apa, Bas?’
‘Itu rambutan yang buat nimpuk aku. Dapet dari mana, khan ini pohon nangka.’
Jingga menolehkan wajah, menunjuk pada tas kresek hitam yang menggantung. Basman meraih tas kresek itu. Di dalamnya terdapat macam macam buah. Ada rambutan, pisang, jeruk, apel dan semangka utuh.
‘Buah semua nih. Enggak ada gorengannya.’
‘Enggak Bas. Aku lagi suka ngemil buah. Biar wajahku jadi kenceng.’ Sambil berkata demikian, Jingga mencubit pipinya sendiri. Basman mengernyit.
‘Ih, kok ngelihatnya gitu. Suka yaa..’
Basman menaruh tas kresek di pangkuan dan memasang ekspresi muntah. ‘Ini kok adasemangka utuh segala?’ tanya Basman kemudian.
‘Oh itu. Tadinya buat nimpuk kamu Bas, kalau saja kamu enggak noleh pas aku timpuk pakai rambutan.’
Basman menarik nafas panjang. ‘Jingga, untuk satu ini aku punya sebuah lagu buatmu.’
‘Apa Bas?’
‘TEGANYA TEGANYA TEGANYA…HOOOO…’
‘Basman tidak!!!!!!!’

Buku yang dipegang Jingga berpindah dengan cepat ke wajah Basman. Dengan sigap Basman menangkisnya dengan tangan. Bahkan Basman berhasil merebut buku itu. Buku itu berjudul The Gates yang ditulis oleh John Connolly. Gerbang neraka, akan segera terbuka. Basman membacanya dalam hati.
‘Bagus enggak?’
‘Bagus dong. Justru aku mau ceritain buku ini ke kamu.’
‘Sekarang?’
‘Bukan, tahun depan.’
‘Oh, kalau gitu aku pergi dulu ya.’
Tangan Jingga mengepal gemas.’ Ya sekarang lah, Basman pinterrr!!!’
Matanya melotot. Tapi Basman tenang tenang saja. Malahan ia kemudian berkata;
Jingga, kalau kamu melotot gitu. Aku jadi ingat sebuah judul buku.’
Jingga melotot semakin lebar. Tapi kali ini bukan karena marah tapi penasaran. ‘Oh ya, judul buku apa?’
‘Judulnya, mata yang enak dipandang. Kaya mata kamu barusan.’
‘Wahahahaha..’
Jingga tergelak. Senang. Tidak jadi marah. ‘Nanti aku ceritain deh bukunya. Yang nulis Ahmad Tohari. Mau enggak?’
Jingga mengangguk. ‘Tapi nanti ya, sekarang aku mau cerita buku The Gates dulu.’
‘Gini ceritanya’, Jingga mulai bercerita,’jadi ada anak kecil namanya Samuel. Samuel punya anjing namanya Boswel. Suatu hari mereka memergoki tetangga mereka, Mr. & Mrs Abernathy berserta temannya sedang melakukan ritual pemanggilan setan.

Ritual tersebut kemudian menjadi pembuka jalan bagi Sang Maha Dengki untuk datang ke bumi. Sang Maha Dengki itu semacam rajanya Iblis. Akibat ritual itu, Mr. & Mrs Abernathy berserta temannya berubah menjadi bukan manusia lagi. Aku bacain quotenya Bas.

Sebuah tentakel, permukaannya dipenuhi organ penghisap tajam yang bergerak gerak bagaikan mulut mulut, membelit kaki sosok itu untuk sesaat. lalu tersedot ke dalam tubuh utama. Kulit manjadi putih, kuku berubah dari kuning menjadi merah cat kuku.
dan sesuatu yang hampir menyerupai Mrs. Abernathy berdiri di depan mereka.’

Jingga berhenti bicara. Ia ingin melihat bagaimana tanggapan Basman terlebih dahulu. Tidak tahu sedang diperhatikan, Basman asik mengambil buah dari tas kresek. Jingga melanjutkan reviewnya.

‘Kemudian Samuel pulang ke rumah. Ketika ia memberitahu ibunya tentang peristiwa itu, ibunya tidak percaya. Hingga kemudian setan setan itu benar benar datang ke bumi. Samuel pun harus berusaha untuk melawan setan setan itu dibantu oleh dua orang
temang bermainnya, dan Nurd. Nurd itu setan yang tertarik ke bumi secara tidak sengaja. Gitu Bas ceritanya.’

Basman sedikit menolehkan kepalanya. ‘Hm, temanya sudah umum ya. Anak kecil yang menyelamatkan dunia.’
‘Memang, tapi tahu enggak Bas..’
‘Enggak.’
‘Yee, main samber aja. Kan aku belum selesai ngomong. Jadi gini, buku ini bagus. Enak dibaca. Ringan gitu, bukan bacaan yang bikin dahi berkerut.’
‘Pasti ringan lah. Beratnya saja enggak sampai seratus kilo..’
Basman menggantung perkataannya. Ia baru menyadari bahwa ia telah mengucapkan kata yang tidak boleh dikatakan kepada Jingga. Ia tidak boleh menyinggung berat di atas 50 kilo. Lebih satu kilo saja sudah gawat. Apalagi sampai seratus kilo.

Tapi semua sudah terlambat.
‘Oh, jadi menurutmu aku gendut gitu Bas!!’
Basman gelagapan.’ Bb..bukan, maksudku buku itu yang beratnya tidak sampai seratus kilo.’
‘Tuh kan. Malah ngatain berat badanku seratus kilo.’
‘Enggak Jingga manis.’
‘Eh ngatain gendut lagi. Dasar kamu yah Bas!!’

Tanpa kompromi.
Basman pusing. ‘Yang ngatain kamu gendut itu siapaaa..
‘Banyak alasan! Kamu ngajak ribut ya Bas!’
Jingga berdiri di dahan pohon, lalu melancarkan tendangan ke muka Basman. Basman menjatuhkan diri ke tanah. Jingga pun turun. Sambil salto ia mengirim tendangan lagi. Basman menghindar lagi. Jingga melayangkan pukulan bertubi tubi. Begitulah
akhirnya mereka berkelahi. Tapi jangan khawatir, mereka baik baik saja kok. nanti juga baikan lagi.

***

Berhubung sedang berkelahi, maka saya yang akan melanjutkan review The Gate. Ini versi saya. Sebenarnya cukup mengejutkan ketika buku ini ternyata mampu tampil jenaka. Kejenakaan itu muncul dari nama nama setan yang lebay, tingkah laku Nurd
dengan bawahannya di negeri pembuangan, Nurd dengan orang orang di bumi. Bahkan setan setan yang seharusnya mengerikan, malah dibikin kocak dengan tingkah lakunya menghadapi orang orang yang ingin dibunuh. Akibatnya ialah, saya kehilangan momen untuk merasa ngeri, meski ada beberapa adegan yang cukup gore.

Di buku ini juga disinggung mengenai penciptaan dunia, serta CERN, tempat penelitian tentang materi. CERN juga ada dibuku Angel & Demon-nya Dan Brown. Hanya menurut saya, adanya plot CERN ini tidak terlalu berpengaruh terhadap jalan cerita. Mungkin dibuat agar terlihat lebih ilmiah. Tidak tahu juga.

Pada akhirnya The Gate termasuk buku yang menarik, meski tidak ada momen momen yang membekas dalam hati. Buku ini ditulis oleh John Connolly. Ia juga menulis The Books OF Lost Things, sebuah fantasi yang dark yang berhubungan dengan dongeng dongeng dunia.

Judul : The Gates
Penulis : John Connolly
Halaman : 320
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Rate: 3.5

Orang Orang Tanah

orang2tanah

Di bawah pohon, gadis kecil itu berdiri memegang keranjang bambu yang kosong. Angin menerbangkan syal yang melilit lehernya, beserta rambut dan gaun mungilnya yang berwarna merah jambu. Matanya menatap pohon ungu di depannya. Pada batang pohon itu, menyembulah dua pasang mata bercahaya yang menakutkan, seperti mata penyihir Orko dari negeri Trolla. Dua buah apel tergeletak begitu saja di samping kaki si gadis yang mengenakan sepatu pink seperti SNSD.
Ini saya lagi ngomongin cover buku terbarunya Poppy D. Chusfani,berupa kumpulan cerpen Orang Orang Tanah, dimana cover itu bisa jadi merupakan ilustrasi dari apa yang terjadi pada cerita pendek Orang Orang Tanah. Gadis itu namanya Alia. Kalau kamu namanya siapah? #ngokk

Cerita pertama diberi judul Jendela. Dinah menggunakan jendela sebagai media untuk melarikan diri dari kenyataan. Membuka jendela adalah hal yang paling ia sukai. Jendela itu istimewa, sebab ia serupa cahaya. Dinah tinggal bersama ibunya yang kerap dihajar oleh Bang Darwin. Jendela mengangkat tema kekerasan pada perempuan dalam sudut pandang anak kecil.

Ibu mengerang. Darah mengalir di mulutnya. Tangan Dinah berhenti bergerak. Tanpa mengalihkan tatapan ibu,Dinah mengulurkan tangan masuk ke jendela, merasakan angin lembut dan aliran tenaga di sana, seperti sengatan listrik.

Pelarian mengisahkan Lara, gadis remaja yang punya kemampuan khusus; bisa bernafas di dalam air, dan ketangkasan lainnya. Ia tergabung dalam Garda Laut, pasukan elit kerajaan yang bertugas menghalau bajak laut. Lara sepenuhnya mengabdi kepada Ratu penguasa kerajaan. Hingga suatu hari, ibunya menceritakan rahasia yang akan mengubah kehidupan Lara selamanya.
Saya suka ceritanya. Berharap bahwa cerita ini akan dilanjutkan menjadi sebuah novel tersendiri. Karena banyak hal yang menarik untuk diceritakan lebih lanjut lagi.

Ada banyak cara untuk menumbuhkan isnpirasi di kala mood menulis sedang rubuh. Salah satunya ialah dengan menyewa sebuah pondok terpencil di tengah hutan. Tanpa ada siapa pun di seklilingnya. Seperti yang dilakukan oleh tokoh utama dalam cerita Pondok Paling Ujung. Di sana, ia memang menemukan kembali hasrat menulisnya. Bersamaan dengan hal itu, perlahan ia juga diganggu oleh gambaran gambaran mengerikan. Misteri apa yang sebenarnya terkubur di dalam pondok itu?
Pondok Paling Ujung menjadi cerita paling mencekam. Dengan menggunakan pov orang pertama, membuat saya ikut pula merasakan ketegangan yang dialami tokoh aku.

Tiba tiba sesuatu menarikku ke belakang. Aku memekik nyaring dan terempas ke dinding.  Punggungku terbentuk keras, membuat seluruh tulangku berdenyut. Aku berusaha menggapai ke depan, namun tak mampu bergerak. Sangat ketakutan, aku mengeluarkan suara merintih.

Dan, cerita ini juga memberikan pelajaran bahwasanya tidak terlalu bijak seandainya kau memutuskan untuk menginap sendirian di tempat yang terpencil, hanya gara gara ingin mencari inspirasi. Ada banyak tempat untuk mencari isnpirasi. Cari yang sekiranya tidak dihuni oleh makhluk yang mengerikan.

Makhluk mengerikan itu misalnya ada dalam cerita selanjutnya; Bulan Merah. Masih menggunakan pov aku, Bulan Merah bercerita mengenai kegelisahan seorang pemuda yang mendapatkan bisikan malaikat bahwa dunia akan berakhir. Ia bukan pemuda biasa. Ia biasa dikurung di kamar jika malam tiba, dan hidup bersama orang tuanya yang menganut sebuah sekte aneh yang mewajibkan untuk mandi darah hewan jika berbuat kesalahan. Pemuda itu punya kekasih yang juga aneh. Ami, nama kekasihnya,  pernah diundang ke liang Pangeran Penghisap Darah. Suatu malam saat bulan purnama pemuda itu pergi menemui Ami. Tapi, kali ini ia dalam bentuk yang berbeda.

Dewa Kematian. Seorang wanita bernama Venus terbangun tanpa mengingat apa yang telah terjadi sebelumnya. Bersamanya, nampak seorang wanita yang terus saja mengajukan pertanyaan. Perlahan, ingatan Venus pun kembali hadir sekaligus menguak fakta mengerikan mengenai apa yang sebenarnya terjadi padanya.
Salah satu yang saya tak bisa menebak endingnya dengan benar. Misterinya tetap terjaga hingga akhir. Saya terus menebak siapa sebenarnya Venus, dan siapa wanita yang bersamanya sebenarnya itu.

Pintu Kembali dibuka dengan sebuah kalimat yang mengatakan bahwa tokoh utama telah mati. Ini berarti cerita selanjutnya terjadi di alam kematian. Cerita pendek ini mengisahkan tentang Kiran dan pengalamannya di dunia kematian. Di sana, ditemani oleh seekor anjing, Kiran berusaha menemukan sebuah pintu. Meski ia diganggu oleh serigala yang terus mengejarnya.
Cerita ini mungkin sudah bisa ditebak endingnya akan seperti apa. Hanya saja, alasan mengapa Kiran sampai dalam kondisi seperti itulah yang membuat cerita ini jadi lebih menarik.

Lelaki Tua Dan Tikus. Ini juga jadi cerita favorit saya. Bercerita mengenai Sari. Wanita yang sedang mencari pekerjaan. Ia tinggal sendiri di rumah susun. Ia bertetangga dengan seorang lelaki tua yang memelihara tikus. Mulanya Sari merasa risih kepadanya, hingga kemudian sebuah kejadian membuatnya mengubah sikap. Lelaki tua itu bukan lelaki biasa, begitu pula tikus tikus miliknya.
Meski ceritanya cukup ramai, tapi saya malah merasa cerita ini sepi. Mungkin ini karena tokohnya yang memang tak banyak bergaul dengan orang. Hidup di rumah susun yang sempit, dimana kebanyakan tetangga sibuk dengan urusan masing masing.

Sang Penyihir, tentu saja bercerita Keira yang dituduh sebagai penyihir. Sebenarnya Keira orang baik. Ia membantu mengobati sakit orang orang. Bahkan salah seorang pemuda jatuh cinta padanya. Tapi semua itu tak berhasil menghentikan penduduk desa untuk menyerbu rumahnya.  Cerita mengambil setting jaman dahulu, dimana prakter sihir dilarang dengan ancaman hukuman mati.

Buku ini ditutup dengan cerita Orang Orang Tanah. Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, Orang Orang Tanah bercerita tentang gadis cilik bernama Alia yang menginap di perkebunan milik ayahnya yang jauh dari kota. Alia membenci ibu tirinya yang kerap kejam kepadanya. Di perkebunan itu, Alia berkenalan dengan Edi, anak seorang pekerja. Edi bercerita bahwa di satu pohon di tempat itu, hidup orang orang tanah yang akan keluar pada tengah malam. Orang orang tanah itu suka memakan sesuatu yang hidup. Setelah menyaksikan sendiri orang orang tanah, Alia lalu berusaha memanfaatkan mereka untuk mencapai tujuan pribadinya.

Buku Orang Orang Tanah terdiri dari sembilan cerita pendek dengan tema yang cukup random. Menariknya, di antara cerita tersebut ada beberapa yang mengingatkan saya kepada Haruki Murakami dan Hayao Miyazaki. Pada Lelaki Tua Dan Tikus, lelaki tua di sana mengingatkan saya kepada Nakata  di Kafka On The Shore. Kesendiriannya, serta bakat uniknya. Lelaki tua di sini berhubungan dengan tikus, sementara Nakata bisa ngomong sama kucing. Pondok terpencil di hutan mengingatkan saya kepada pondok tempat Kafka tinggal untuk sementara. Dan suasana alam di Orang Orang Tanah sedikit mirip dengan rumah tempat Mei bertemu dengan Totoro di film My Neighbor Totoro.

Pada akhirnya, buku ini tampil cukup legit untuk dinikmati dengan tema yang bervariasi, dan tokoh tokohnya yang cukup unik. Tapi sebaiknya tidak dibaca oleh mereka yang masih dibawan umur, meski covernya terlihat imut. Orang Orang Tanah, sebuah buku yang sayang untuk dilewatkan.

Judul: Orang-orang Tanah
Penulis: Poppy D. Chusfani
Halaman : 200
Penerbit: Gramedia Pustaka  Utama
Rate: 4