Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘sedih’

Coco (2017)

Nontonlah Coco bersama seseorang atau pun sendirian. Karena Coco indah sekali dengan warna warni ceria yang memukau pandangan. Coco juga sedih dan penuh rasa haru yang mungkin akan membuat air matamu berjatuhan. Oleh karena itu, akan lebih baik jika sediakan tisu, sapu tangan, atau bahu seseorang sebagai sandaran. Buat yang nonton sendirian bisa diakali dengan membawa tas punggung besar dan pangkulah di depan. Lalu berikan pelukan. Jangan bayangkan itu adalah seseorang karena itu terdengar menyedihkan. Tapi bayangkan saja kalau itu adalah sekeranjang kucing kucing gendut yang menggemaskan. 

Coco bercerita mengenai Miguel yang ingin jadi musisi. Ia ingin seperti Ernesto de la Cruz, musisi terkenal yang sudah meninggal dan patungnya terlihat keren sekali. Tapi keluarganya yang ingin Miguel menjadi tukang sepatu menentangnya berkali kali. Tapi Miguel tidak peduli. Suatu hari ia ingin ikut tampil di acara musik tapi ia tak punya alat musik sama sekali. Ia pun nekat mengambil gitar Ernersto de la Cruz dengan mencuri. Lalu, keajaiban terjadi. Miguel pergi ke dunia orang mati. Di sana ia bertemu dengan leluhurnya yang sudah lama tak hidup lagi. Miguel bisa kembali ke dunianya kalau leluhurnya itu merestui. Tapi leluhurnya mengajukan syarat, Miguel jangan sampai jadi musisi. Miguel kecewa karena leluhurnya tak mengerti keinginanya, dan kabur mencari Ernesto de la Cruz karena idolanya itu pasti akan mengerti. Di sinilah petualangan dimulai. 

Sebagai film tentang anak kecil yang bermimpi jadi musisi, sudah tentu Coco diiringi musik musik yang menghanyutkan. Lagu lagu hits Ernesto de la Cruz sering diperdengarkan. Lagu khas Mexico dengan petikan gitar nan syahdu namun ada juga yang bisa membuat kakimu ingin menari berloncatan. Belum lagi iringan musik scoring dari composer Michael Giacchino yang juga pernah menggarap The Incredibles, Ratatouille, Up, Inside Out dan The Incredibles 2 tahun depan. 

Coco, benar benar melebihi harapan. Seketika menjadi film Pixar yang saya favoritkan. Selain musik yang enak, animasinya juga halus, dan ceritanya punya twist yang mengesankan. Cerita yang dalam dan penuh makna kehidupan. Terutama dalam hal melupakan. Ingatan dari seseorang jauh lebih penting ketimbang segerobak intan berlian. Karena dilupakan ialah hal yang begitu mengerikan. Seperti kata Dr Hiluluk, manusia mati bukan sewaktu ditembak pakai pistol, saat kena penyakit, ketika diracun, melainkan ketika dilupakan. Maka marilah jangan melupakan, dan berusahalah agar tidak dilupakan. Marilah mengingat orang orang yang telah mendahului kita, dan mendoakan. 

Coco | Dir: Lee Unkrich | Cast: Antonie Gonzales, Gael Garcia Bernal, Benjamin Brat | Rate: 4

Advertisements

Read Full Post »

Hamparan salju dekat pohon di Wind River menjadi saksi bisu kematian seorang perempuan muda. Mayatnya ditemukan Cory Lambert sewaktu ia sedang melacak singa yang menerkam sapi milik mertuanya. Ia adalah seorang pemburu mumpuni yang sanggup membaca jejak jejak apa pun yang sedang diburunya. Hati laki laki itu mencelos waktu mengenali wajah mayat perempuan itu. Namanya Natalie, putri salah satu temannya. Kemudian datanglah agen FBI, Jane Banner yang bermaksud menginvestigasi pembunuhan tersebut dengan dibantu oleh Cory Lambert.

Film ini berisi pencarian penyebab perempuan itu tewas dan siapa yang membunuhnya seperti film film detektiv. Tidak sepenuhnya salah, tapi jika kamu mengharap ada investigasi secara detail, aksi kucing kucingan antara pembunuh dengan polisi maka kamu akan kecewa. Pencarian si pembunuh berlangsung secara sederhana, tidak njlimet dan bikin otak mikir. Karena Wind River lebih menitik beratkan kepada AMDALOYANG, Analisis Mengenai Dampak Kehilangan Orang Tersayang. Kematian Natalie berdampak sangat buruk terhadap kehidupan orang tuanya. Termasuk Cory Lambert. Peristiwa itu memaksanya untuk LLBK, Luka Lama Bersemi Kembali. Luka yang menyebabkan ia bercerai dari istrinya. Tonton saja, nanti kamu juga paham lukanya apa.

Rasa kehilangan itu secara pasti mengubah Wind River menjadi sajian drama yang mengoyak ulu hati, alih alih thriller pembunuhan. Film ini punya apa disebut sebagai freezing moment. Yaitu sebuah keadaan yang membuat saya tak mampu berkata kata, melongo sepersekian detik saking terkejutnya sambil mengumpat dalam hati. Contohnya dalam kehidupan nyata misalnya waktu kamu lagi jalan terus ada kucing lagi duduk sambil jilat jilat perut, lalu kamu menyapanya, ‘Halo?’ dan si kucing membalas ‘Meong’, dan kamu pun kaget seakan tak percaya mendengarnya. Terakhir kali ketemu freezing moment saat nonton Manchester By The Sea. Sewaktu Lee Chandler selesai diinterogasi polisi. Apa yang ia lakukan setelahnya itu benar benar gila dan sakit. Di Wind River freezing moment terjadi sewaktu Cory Lambert pergi ke rumah orang tuanya Natalie. Saya bengong, melihat apa yang dilakukan dengan ibunya. Sama dengan Jane Banner. Dia shock juga. Seandainya Squidward Q Tentacles melihatnya ia niscaya akan melolong sambil memegangi kepalanya yang botak;  Ya ampun. Apa yang kau lakukan. Ini menyakiti hatiku!!

Wind River memang menyakitkan. Apalagi jika melihat bahwa ini didasari oleh kisah nyata. Kondisi Wind River yang selalu tertutup salju dengan badai yang bisa datang sewaktu waktu semakin menambah rasa pilu. Ini diperkuat dengan alunan scoring yang mendukung tiap adegan. Ini seperti kamu sedang diceramahi karena sudah berbuat dosa, tiba tiba mengalun dari speaker gerobak odong odong lagu; insaflah wahai manusiaa…. Klop.

Pujian juga patut diberikan kepada Jeremy Renner sebagai pemburu Cory Lambert yang sukses menanggalkan bayang bayang Hawk Eye. Kalau Elizabeth Olsen sih enggak usah diomong ya. Perannya sebagai agen FBI Jane Banner (sayangnya tidak ada hubungannya dengan Bruce Banner) mengingatkan saya dengan Emily Blunt di Sicario. Eh ternyata sutradaranya memang yang nulis Sicario. Dan pujian terakhir diberikan kepada sutradara sekaligus penulis cerita Taylor Sheridan yang berhasil membuat film yang lekat di hati penonton. Meski itu menyakitkan.

Wind River | 2017| Taylor Sheridan | Jeremy Renner, Elizabeth Olsen | Rate: 4

Read Full Post »