Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘sejarah’

Kubah

 

Seandainya kamu menemukan buku Kubah karangan Ahmad Tohari di sebuah rak toko buku kemudian terbesit keinginan hendak membeli buku tersebut, maka saran saya, jangan sekali kali membaca sinopsis yang tertulis di lembar belakang buku tesebut, karena mengandung spoiler. Cukup banyak menurut saya. Buat kamu yang tidak begitu mempermasalahkan tentang adanya spoiler, memang tak menjadi soal, tapi bagi kamu yang termasuk dalam golongan die hard anti spoiler, tentunya akan menjadi masalah. Ditambah lagi apabila kamu sedang menderita kelainan aneh kutubuku nomer sembilan, yaitu kelainan-ketika-kamu-baca-spoiler-maka-kamu-akan-kejang-kejang-sambil-pukul-pukul-meja.
Spoiler apakah itu?
Jadi begini, secara garis besar buku ini terbagi menjadi tiga bagian. Apabila diurutkan, maka akan jadi seperti ini: masa kini, masa lalu, dan yang terakhir (masa kini + masa depan). Dan yang tercantum dalam synopsis di lembar belakang buku berisi bagian: masa kini, dan (masa kini + masa depan), bahkan sampai pada ending.
Lalu, kalau sudah terlanjur baca gimana dong?
Gampang saja.

Kamu jedotin saja kepala kamu ke lantai, atau kepruk pakai buku hardcover yang tebal. Menurut paham sinetron, kamu bakal kena amnesia. Tak ingat lagi tentang sinopsis buku Kubah, bahkan tak ingat siapa siapa.
Iss, ngawur banget sih caranya.

Seriusnya begini, kamu tidak usah khawatir apabila terlanjur membacanya, buku ini masih dapat memberikan kesenangan, karena sebagian besar kisah dalam buku ini terjadi pada bagian masa lalu, beserta konflik konflik yang menyertainya. Buku ini juga bisa memberikan keceriaan, bisa membuat kamu tertawa, tapi bukan karena ceritanya yang lucu. Lho, gimana caranya?
Caranya tinggal kamu pegang bukunya, terus gelitikin ke perut kamu.
krik
Hati Karman mendadak galau, justru ketika ia baru saja menghirup bau kebebasan. Karman ialah seorang tahan politik yang dijatuhi hukuman penjara selama dua belas tahun. Karman galau memikirkan apakah masih ada tempat untuk berpulang. Ia tak tahu kabar anaknya, sementara istrinya sudah kawin dengan laki laki lain. Serta ia pun tak bisa menebak bagaimana pandangan penduduk desa Pegaten, tempat ia dilahirkan, terhadap dirinya yang seorang tahanan politik. Seorang anggota PKI.
Berita mengenai keluarnya Karman pun sampai ke telinga istri berserta anaknya. Nah, apakah mereka akan bertemu dan bersatu kembali? Bagaimana pula masyarakat Pegaten menghadapi kebebasan Karman?

Sementara itu, bertahun tahun sebelum Karman mendekam di penjara, ia hanyalah seorang pemuda biasa yang mengadu nasib pada keluarga Haji Bakir, seorang kaya raya di desa Pegaten. Karman bekerja dengan giat, sehingga ia memperoleh kepercayaan dari Haji Bakir. Tapi kemudian sesuatu terjadi di antara mereka, yang melibatkan pihak ketiga. Sesuatu itu kemudian mengubah Karman menjadi pribadi yang lain. Karman menjadi begitu benci kepada Haji Bakir.
Apa yang mebuat Karman menjadi benci kepada Haji Bakir? Bagaimana kisah Karman hingga ia kemudian menjadi tahanan politik?

Meski mengusung tema yang berhubungan dengan organisasi terlarang, tapi tidak lantas membuat Kubah menjadi buku yang berat untuk dibaca. Karena Kubah hanyalah sebuah kisah kehidupan seorang penduduk desa yang terjebak dalam permainan politik, tanpa menitik beratkan pada politik itu sendiri. Ahmad Tohari hanya memberikan kisah hubungan antara partai politik dengan orang orang disekitarnya (dalam hal ini Karman ), bukan kepada pemerintahnya. Maka di sini ada cara cara propaganda yang dilakukan kepada Karman, serta perubahan pandangan hidup Karman.

Selain kisah Karman, diceritakan pula mengenai Marni, istri Karman. Bagaimana perasaannya ketika mendengar Karman dibebaskan, serta apa yang hendak ia lakukan ketika bertemu dengan Karman.

Menulis juga bisa bernilai ibadah. Kalimat yang tertulis dalam bio data twitter milik Ahmad Tohari, @AhmadTohari, yang sayangnya sudah jarang diupdate, ini sangat sesuai dengan apa yang dapat saya simpulkan setelah membaca buku ini. Ada kesan religius yang berhasil menyatu dengan real ke dalam cerita, tanpa bermaksud sebagai dakwah. Contohnya dalam sebuah dialog antara Karman dengan Kastagethek. Iya, namanya Kastagethek. Karman menanyakan tentang istri Kastaghetek yang ditinggal di rumah.

“Kang bila kamu sedang menjalankan rakit seperti ini, bersama siapa istri di rumah? Apakah dia sendiri?
“Ah, tentu tidak, Pak. Bila istriku tinggal sendiri di rumah, mana mungkin saya bisa pergi berhari hari dengan tenang.”
“Tetapi kudengar kamu tidak punya anak, bukan?”
“Benar.”
“Lalu?”
“Di rumah istriku selalu tinggal berdua.”
“Sama?”
“Sama Tuhan,” jawab Kasta sambil tersenyum. Kutitipkan dia kepada Tuhan sehingga saya bisa pergi cari makan dengan perasaan enak.”

Membaca Kubah, saya teringat dengan Entrok & Maryam karangan Oky Madasari, serta Gadis Kretek milik Ratih Kumala. Menyinggung isu isu sensitif di masa lalu tanpa terjebak menjadi bacaan yang bikin pusing kepala. Hanya saja, Kubah berjalan nyaris tanpa memberikan denyutan denyutan yang sanggup membuat hati saya bergetar. Kubah tak mampu mempermainkan emosi saya. Entahlah, saya merasa biasa saja. Saya tidak mengernyitkan dahi, sedih, atau tertawa gembira ria. Muka saya tanpa ekspresi. Flat. Mirip gambar ini.
jihyo

Untung saja, tidak sampai membuat muka saya jadi seperti ini:

kwang_so

Kemudian, saya juga sedikit keberatan mengenai pemilihan Kubah sebagai judul buku ini. Karena kisah tentang kubah, sebagai kata benda, hanya muncul sedikit sekali, yaitu menjelang ending. Sementara saya tidak menemukan adanya simbolisasi kubah dalam seluruh rangkain cerita. Mungkin akan lebih cocok apabila diberi judul Karman, atau yang lainnya.

Pada akhirnya meski Kubah gagal untuk menjadi sebuah bacaan yang berkesan, tapi tidak sampai jatuh menjadi mengecewakan. Kubah akan memberikamu sajian cerita kisah kehidupan manusia, sejarah kelam oraganisasi terlarang bersimbol palu arit, serta kisah cinta, dendam dan penerimaan diri dalam balutan nilai religius yang apa adanya.

Judul: Kubah
Penulis: Ahmad Tohari
Jumlah Halaman: 216
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Rate

Rate

Advertisements

Read Full Post »