[Review] Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi

Judul: Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi
Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Jumlah Halaman: 220
Penerbit: Galang Press

Ketika mandi, sambil gosok gosok badan pakai sabun, ditambah ngunyel nguyel rambut pakai sampo , tentunya sangat asik kalau disambi menyanyikan sebuah lagu, tak peduli apakah suaranya jelek kaya tikus nying nying, atau semerdu penyanyi penyanyi di atas panggung Broadway. Menyanyi di kamar mandi, mempunyai kenikmatan tersendiri sebab kau bisa menyanyi lagu apa pun, dan kalau kau cukup kreatif dan punya imajinasi yang tingi, maka kau bisa berpura pura menjadikan sikat WC menjadi mik, dan gemericik air keran ialah suara gemuruh ribuan penonton. Masuklah ke dunia impian tanpa batas, ketika dinding dinding kamar mandi menjadi hilang, dan kau serasa di atas panggung yang megah. Kau menyanyi sedemikian khidmat, meliuk liuk, geol kanan geol kiri, dan lupa belaka kalau sebenarnya sedang mandi, telanjang bulat pula. Begitulah sensasi menyanyi di kamar mandi. Semua orang pernah melakukannya.

Tak terkecuali Sophie. Ia gemar menyanyi di kamar mandi. Seharusnya hal itu tidak menjadi masalah besar, seandainya tidak ada bapak bapak mesum penghuni kompleks tempat ia mengontrak. Bapak bapak itu sering mencuri dengar nyanyian Sophie ketika ia mandi. Hal itu juga sebenarnya tidak terlalu menjadi masalah, seandainya istri istri bapak bapak mesum tersebut tidak meradang, lantas lapor ketua RT minta agar Sophie diusir. Ketua RT jadi lumayan bingung. Apakah ia harus menuruti permintaan ibu ibu pencemburu itu, atau sebaliknya?
Carilah jawabannya dalam cerpen Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi, yang ada dalam buku kumpulan cerpen dengan judul yang sama karangan Seno Gumira Ajidarma. Ada dua pelajaran yang bisa saya tangkap setelah membaca cerita ini, yaitu pertama bahwasanya pornografi itu tidak berhubungan dengan panca indra, melainkan dengan otak. Kalau ditanggapi dengan biasa saja, denger orang mendesah Oh Yes Oh No, tidak akan jadi horny. Tapi kalau sudah mesum, kambing tetangga lagi berjemur pun, langsung main tindih aja pastinya.
Pelajaran yang kedua ialah, seorang istri harus bisa menjaga kondisi tubuhnya agar tetap bahenol dan seksi sehingga suaminya tidak gampang tergoda kambing tetangga.

Cerpen Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi merupakan cerita terpanjang yang ada di dalam buku, dan ada dua versi pula. Versi pertama merupakan adaptasi dari naskah film, sedang yang kedua dalam bentuk cerpen sebagaimana biasa.
Kemudian ada pula cerpen cerpen lainnya yang tidak kalah ajaibnya sebagai sebuah cerita yang kaya akan pesan pesan dan kritik sosial, dan tak lupa; cinta. Mestikah Kuiris Telingaku Seperti Van Gogh misalnya, bercerita tentang seorang laki laki yang cinta mati kepada seorang pelacur, dan ingin menjadikannya seorang istri. Atau cerita Duduk Di Depan Jendela, kisah tentang seorang perempuan yang terkenang masa lalunya ketika sedang duduk di depan jendela. Saya harus menunggu sampai ending untuk kemudian mengetahui betapa dahsyatnya kisah cinta ini, meski tidak dituliskan dengan gamblang. Saya harus menebak nebak sendiri. Itu juga kalau tebakan saya betul. :D
Segitiga Emas ialah sebuah kisah tentang pagelaran wayang yang ternyata berubah menjadi bencana. Sebuah kritik sosial yang disampaikan dengan gaya surealis dan cenderung tidak masuk akal.
Dan masih banyak lagi cerpen cerpen yang layak untuk dibaca.

Pada akhirnya buku Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi ialah sebuah kendaraan untuk menyinggahi permasalahan permasalahan yang terjadi di sekeliling kita. Barangkali buku ini ditulis bertahun tahun yang lalu, tapi nyatanya ada beberapa isu sosial yang masih relevan dengan apa yang terjadi saat ini. Bangsa ini, dalam beberapa hal, belum banyak berubah ternyata.

Advertisements