Manusia Serigala

manusia_serigala

 

Ingatan saya mengenai manusia serigala ialah seperti ini: ia laki laki yang dikutuk jadi serigala ketika bulan purnama tiba. Serigala jadi
jadian itu kemudian pergi meneror orang orang. Membunuh dengan cakar  gigitannya yang tajam. Ia menyeramkan. Namun manusia serigala dalam persepsi Abdullah Harahap tidaklah persis demikian. Ia memang tetap menyeramkan, tapi perubahan yang terjadi tidak disebabkan oleh bulan purnama.  Setiap malam ia selalu berubah. Kemudian ia akan membunuh manusia dengan cara dicakar dan digigit, setelah itu lalu hati korbannya akan dimakan mentah mentah sebab kalau dimasak lebih dulu bakal kelamaan.

Manusia Serigala memulai kisahnya dengan sebuah adegan kecelakaan tragis yang merenggut nyawa ibu dari Mia. Gadis remaja itu menyaksikan sendiri bagaimana ibunya tewas diterjang mobil yang dikendarai oleh Edi, anak orang kaya. Ternyata pengadilan membuat keputusan yang menyakiti hati Mia. Dendam pun membara di hati Mia. Waktu berlalu, Mia sudah besar sekarang. Ia menjadi wartawati dengan nama samaran Sum Kuning, karena nama aslinya adalah Sumiyati dan kulitnya kuning langsat. Kalau kulitnya putih, mungkin jadi Sum Putih. Kalau kulitnya merah, jadi Sum Merah. Kalau kulitnya hijau, jadi Hulk.

Mia mempunyai ayah bernama Suharyadi yang mempunyai kelainan aneh. Tubuhnya berubah menjadi makhluk penuh bulu ketika hari sudah gelap. Untuk itu ia harus dipasung. Tapi pada suatu hari ia lepas.
Sementara itu di sebuah tempat ditemukan mayat dengan kondisi mengenaskan. Mayat itu kemudian diselidiki oleh Rukmana, seorang Komisaris polisi. Mia, sebagai seorang wartawan ikut datang ke tempat kejadian. Mia curiga kejadian ini ada hubungannya dengan ayahnya. Kecurigaannya bertambah ketika ia mengetahui mayat itu ternyata punya hubungan dengan kejadian di masa lalu yang telah merenggut kebahagian milik Mia. Meski demikian, ia tak melaporkan kecurigaannya kepada Komisaris Rukmana.
Hingga suatu malam ayahnya mendatangi Mia dengan wujud serigalanya. Dan, korban korban pun berjatuhan.

Bagian bagian awal buku ini merupakan yang terbaik. Bagian itu mampu membuat saya tak nyaman, hal yang seharusnya memang terjadi ketika membaca buku dengan genre semacam ini. Abdullah Harahap menuliskan kecelakaan yang menimpa ibu Mia dengan begitu menyentak. Seperti nonton film Final Destination.

Perempuan itu tak sempat menoleh. Bahkan barangkali ia juga tidak tahu apa yang sekonyong konyong menghantam pahanya begitu keras. Sangat keras, sehingga ia terangkat seketika dari tanah, terbang melewati selokan, lalu hinggap di pagar bambu pekarangan rumah terdekat. Pagar tersebut langsung pecah berantakan. Sebilah di antara pecahan bambu itu menghujam langsung ke lambung si perempuan.

Tapi horor yang sebenarnya terjadi ketika si perempuan sudah ada di rumah sakit. Salah satu bagian  paling seram di buku ini. Dengan nuansa gore melodramatis yang membuat dada dan perut sesak; ini akan mengaduk perutmu sementara dadamu dipenuhi rasa haru. Dan ini bahkan masih di bab 1.
Permulaan yang baik.
Kemudian tempo berubah menjadi pelan, dan semakin misterius. Kisah dibalik perubahan manusia serigala perlahan terungkap. Penyelidikan Komisaris Rukmana pun semakin dalam. Menghasilkan twist yang tak terduga. Dan ditutup dengan ending yang kembali memunculkan ketegangan seperti awal cerita.

Ini ketiga kalinya saya membaca buku karangan Abdullah Harahap. Beliau adalah penulis yang kebanyakan mengusung genre horor dengan balutan erotisme. Karya karyanya sempat booming pada tahun 80an, sebelum beliau berhenti menulis sekitar tahun 90an. Meski beliau menulis buku horor, ternyata beliau adalah seorang penakut juga. Tapi itu justru menguntungkan, sebab dengan demikian ia jadi tahu tulisan seperti apa yang bakal menakutkan. Katanya, seperti dikutip dari Wikipedia, kalau kita tidak takut saat menulis bagian seramnya, maka itu berarti novel tersebut gagal. Kalau sang pengarang saja tidak takut, apalagi yang
membacanya?

Manusia Serigala tampil dengan cover yang keren. Sesosok manusia serigala berdiri sambil memamerkan giginya yang runcing. Matanya merah menyala, membelakangi rembulan yang sedang purnama. Seperti tokoh superhero luar negeri. Salah satu cover buku Abdullah Harahap yang saya suka. Dan seperti buku beliau lainnya, yang dicetak kembali oleh penerbit Paradoks,
Manusia Serigala dicetak dalam ukuran buku saku. Lebih kecil dari buku novel lainnya. Seukuran dengan novel Agatha Christie cetakan baru.
Manusia Serigala akan membuat perasaanmu tak enak, yang perlahan hilang karena terlampau asik mengurai misteri yang ada di dalamnya, sampai kemudian ketegangan memuncak, dan membuatmu merenungi nasib tokohnya.

Pipi jenazah itu ia usap dengan penuh kasih sayang dan mulutnya berkata penuh cinta, “Kita tidur, Ibu? Kita tidur, ya?”

Judul: Manusia Serigala
Penulis: Abdullah Harahap
Jumlah Halaman: 320
Penerbit: Paradoks

 

Rate

Rate

 

Advertisements