Feeds:
Posts
Comments

Archive for September, 2012

[Review] Naomi

* persamaan nama, hanya kebetulan semata :)

Eh tau gak sih cyinn..
Apaan?
Kalau nama itu kadang mencerminkan orangnya.
Maksudnya?
Ah dasar sensi banget sih gitu aja gak ngerti.
Sensi? telmi kali!
Iya itu. Lo. Telmi. Gak smart kaya gw.
Terserah lo dah. Trus, maksudnya apaan tadi?
Gini lho cyin. Kadang kita kan suka nebak nebak sifat sama bentuk fisik orang dari namanya aja meski kita belum pernah ketemu sama orangnya. Bener gak?
Iya kali. Contohnya?
Contohnya lo denger nama Sarimin. Pasti yg ada dipikiran lo tuh cowok ganteng lagi manggil senapan. Bener gak?
Sarimin ganteng?
Banget.
Manggil senapan?
Eh, itu mah typo cyin.Maksudnya manggul senapan. Maklum yah, yang nulis lagi galau soalnya.
Contoh yang lain dong!
Yang lain itu…Susi. Pasti kepikiran sama orang ganteng gendut rada chubi gitu.
Susi ganteng juga? Gak salah?
Gak salah dong, kan nama lengkapnya Susilo cyinn.
Sak karepmulah!!

Yap. Seperti halnya cerita diatas, nama Naomi juga telah memberikan sedikit gambaran mengenai bagaimana rupa perempuan itu, bahkan ketika saya belum bertemu dengan orangnya, lebih tepatnya belum membaca bukunya. Naomi, dalam pikiran saya ialah seorang perempuan mungil yang cantik dengan bibir tipis, sedikit pemberontak, tapi juga gampang untuk dicintai. Lalu, apakah tebakan saya benar?
Naomi ialah sebuah novel karangan Junichiro Tanizaki pertama yang saya baca. Bercerita tentang Joji, 28 tahun, yang jatuh cinta kepada Naomi, 15 tahun, seorang pelayan di kafe Diamond. Meski tak mengenal Naomi sebelumnya, tapi Joji sudah terlanjur mencintainya. Maka kemudian ia nekat meminta Naomi untuk menjadi istrinya. Maka begitulah, pasangan itu kemudian menikah, dan bahagia selama lamanya. Ah, tidak juga.
Pernikahan mereka tentunya tidak sama dengan jenis pernikahan pada umumnya. Joji, dengan kebaikan hatinya, menjadikan Naomi sebagai teman, alih alih istrinya. Ia berusaha mengubah Naomi menjadi perempuan yang berwibawa, layaknya perempuan perempuan bangsawan. Ia mendaftarkan Naomi pada kelas bahasa inggris, kursus piano, dan dansa ala orang eropa, dengan sebuah harapan agar kelak ia bisa mendampingi Naomi dengan bangga. Tapi, ada satu hal tidak diketahui oleh Joji, bahwa Naomi mungkin tidak sebaik yang ia kira.

“Novel yang menginspirasi Nabokov untuk menulis Lolita” itulah kurang lebih kalimat yang ada di cover belakang buku ini, yang kemudian menjadi alasan untuk saya membelinya (padahal saya belum pernah baca Lolita). Ini berarti akan ada kisah cinta beda usia, si pemuda mapan dan si daun muda. Mirip dengan The Reader-nya Bernard Schlink, hanya saja menurut saya ini lebih ‘mengganggu’, meski The Reader lebih vulgar. Saya sampai mengerutkan dahi dan berteriak dalam hati (gak pake toa); ini apakahh!!!! Terutama pose anjing laut itu.
Naomi menyebalkan, begitu pula Joji. Grrrr!!
Buku ini bergerak secara lamban, tanpa konflik yang berarti sampai kamu membaca hingga separuh buku. Tapi, saya menikmatinya meski tak senikmat ketika saya membaca buku Haruki Murakami. Tapi, ada rasa seperti itu. Mirip. Rasa sunyi yang menenggelamkanmu ke dalam buku. Kedamaian yang membingungkan. *Lebay*
Jadi, buku ini bukan buku yang akan menjadi kesukaan semua orang.  Tapi jika kamu suka novel jepang, yang ini jangan dilewatkan. Dan nilai 3,5 dari 5, saya rasa cukup mewakilkan.
Psst, ketika saya membaca komen di goodreads, ada gambar yang sangat cocok untuk menggambarkan apa yang seharusnya Joji lakukan kepada Naomi.

comment from: http://www.goodreads.com/review/show/354048747

In the end, buku ini memberikan saya pelajaran bahwa mencari istri harus tau bibit, bobot, dan bebetnya. Jangan hanya karena jatuh cinta semata. Dan, kalau bisa yang umurnya gak terlalu muda. Kalau masih ABG, itu kan biasanya masih labil ya…etapi kalo ceweknya kaya Nabilah JKT48 itu sih yaa…*ilang sinyal*

Judul: Naomi
Penulis:Junichiro Tanizaki
Penerbit: Komodo Books
Jumlah Hal: 236

Advertisements

Read Full Post »

Judul: The Reader (Sang Juru Baca)
Penulis: Bernhard Schlink
Penerbit: Elex Media Komputindo
Jumlah Halaman: 227

Sewaktu sedang berjalan jalan, penyakit kuning Michael Berg kambuh. Ia lalu ditolong oleh perempuan setengah baya bernama Hanna. Keesokan harinya, Michael Berg mengunjungi rumah Hanna. Ia bermaksud untuk mengucapkan terima kasih. Tapi kemudian terjadilah sesuatu, waktu ia tak sengaja melihat Hanna sedang memakai stocking, dan terlihat kakinya. Ia berumur lima belas tahun, dan masih lugu hingga ia langsung kabur keluar dari rumah Hanna.Tapi insiden pasang stocking itu telah begitu mengusik ketenangan hidupnya. Ia penasaran.
Begitulah kemudian ia mulai menemui Hanna lagi, dan tak butuh waktu lama hingga benih benih cinta mulai tumbuh di hati keduanya. Tapi ada sesuatu tentang Hanna yang tidak diketahui oleh Michael Berg.

Pertama kali melihat The Reader, saya langsung jatuh cinta pada covernya. Simple, tapi elegan, dalam balutan warna hitam dan putih. Sebuah buku yang terbuka, dengan sekuntum bunga mawar di atasnya. Buku yang terbuka, berarti sedang dibaca, dan ini tentu saja merujuk pada judul buku ini, The Reader, yang diterjemahkan menjadi Sang Juru Baca. Sementara sekuntum bunga mawar, menurut saya, menggambarkan dualisme makna cinta yang saling kontradiktif satu sama lain. Mahkota mawar sebagai simbol keindahan cinta, sementara durinya melambangkan rasa sakit yang menyertainya. Dan fakta bahwa buku ini termasuk dalam daftar 1001 Buku yang Harus Kau Baca Sebelum Mati, serta ingatan bahwa saya pernah sekali menonton filmnya di masa lalu( meski tak sampai selesai ) membuat saya tak ragu untuk membelinya.

Buku ini ternyata dibagi menjadi tiga bagian. Tiga bagian itu dibagi lagi menjadi beberapa bab. Dalam satu bab, hanya ada beberapa lembar halaman. Tak banyak. Hal itu seharusnya membuat buku ini mudah untuk dibaca, karena ini seperti memisah misah bagian buku menjadi kecil. Seperti memakan kue nastar rainbow (salah satu varian terbaru kue nastar) satu demi satu. Nikmat. Tentu saja, bagi orang yang biasa makan kue nastar langsung satu toples sekaligus, logika ini menjadi tidak valid.
Tapi ternyata kenikmatan itu tidaklah abadi. Memasuki bagian dua, saya tak lagi menikmati buku ini. Bab demi bab yang sedikit itu nyatanya terlalu melelahkan untuk dibaca. Ini karena Bernhard Schlink terlalu bertele tele dalam bercerita. Terlalu asik memainkan pemikiran pemikiran dari Michael Berg, hingga sampai pada titik ga-usah-mikir-gitu-juga-ga-ngaruh. Hal yang seharusnya selesai dalam satu dua kalimat, malah melebar kemana mana.
Ada kalanya hal ini cukup membantu untuk menciptakan chemistry ke dalam tokoh tokohnya, tapi apabila tidak dikerjakan dengan benar, yang terjadi malah sebaliknya. Untunglah, mendekati akhir cerita, saya kembali menemukan kenikmatan membaca buku ini terutama karena jalinan cerita yang tidak mudah untuk ditebak itu.
The Reader mulanya merujuk pada Michael Berg yang kerap membacakan sebuah novel kepada Hanna, sewaktu mereka sedang berdua. Namun maksud ‘The Reader’ ini semakin meluas ketika mendekati ending. Alasan mengapa Hanna kerap memintanya untuk membaca novel inilah yang kemudian menjadi kunci dari segala peristiwa yang terjadi.
Buku ini memang tidak mampu memberikan sesuatu yang mengesankan, sesuatu yang akan saya nikmati ketika sedang membaca, tapi saya lupakan setelahnya. Bahkan dengan aura muram yang biasanya sanggup untuk menyentuh hati itu. Ah ya, buku ini sebaiknya dijauhkan dalam jangkauan anak anak. Karena isinya sanggup untuk membikin orang berpikir yang tidak tidak, terutama pada bagian bagian awal. Dan bagi yang sudah membaca bukunya, dan ingin melihat imajinasinya menjadi kenyataan, maka tontonlah filmnya. Sebab The Reader telah diadaptasi menjadi sebuah film dengan judul yang sama, dan dibintangi oleh Kate Winslet.

Rating 3 of 5

Read Full Post »