The Babysitter (2017) – Sengatan si Cantik Bee

Seringkali menyenangkan tatkala sebuah lagu yang disukai tiba tiba terputar di salah satu adegan film tanpa kita duga sebelumnya yang tentu saja akan menjadikan adegan tersebut menjadi berkesan. Sebuah kejutan yang manis. Terakhir kali hal itu terjadi waktu saya menonton Valerian and The City of Thousand Planets sewaktu Space Oddity milik David Bowie mengalun di opening scene. Well, saya bukan fans beratnya beliau, tapi siapa yang bakal menolak Space Oddity? Atau siapa yang enggak suka We Are The Champion punya Queen? Benar sekali, di The Babysitter lagu itu terdengar mengiringi salah satu adegan paling keren di film ini. 

The Babysitter bercerita mengenai anak kecil yang sudah terlalu besar untuk punya babysitter tapi ia punya itu. Alasannya karena Cole, nama anak itu, terlalu tidak bisa diandalkan untuk tinggal di rumah sendirian waktu orang tuanya pergi liburan. Cole penakut, dan sering dibully teman temannya. Babysitter yang menjaga Cole bernama Bee. Wanita seksi yang punya potensi untuk ‘menyengat’ setiap pria yang melihatnya. Dan film ini, bassicly emang mau nunjukkin ‘sengatan’ Bee yang sungguh dahsyat, dan tajam. Setajam silet yang sudah diasah sehari semalam. Kan maen. 

Saya enggak mau cerita banyak mengenai jalan ceritanya, karena menurut saya akan lebih baik kalau tahu cuma sedikit saja. Meski kalau tahunya sedikit memang enggak bikin kenyang ya. Jadi masalah bermula ketika Cole didoktrin oleh cewek tetangganya yang mengatakan bahwa biasanya babysitter akan memasukan pacarnya ke dalam rumah waktu bocah yang sedang dijaganya tidur, lalu ena ena deh. Malam harinya, Cole yang penasaran pun pura pura tidur. Lalu mengintip babysitternya itu, dan apa yang ia lihat sungguh mengejutkan, dan sama sekali di luar dugaan. Horor pun dimulai.

The Babysitter sepertinya akan membuat pecinta horor slasher tersenyum. Dengan darah yang tak malu malu menyemprot ke muka, cukup gore untuk ukuran film dengan tokoh utama anak kecil. Tak hanya itu, film ini juga cukup lucu yang akan membuat tergelak di sela sela darah yang mengalir. Serius film ini lebih lucu dari perkiraan saya. Mengingatkan saya dengan film Tucker and Dale vs Evil. Satu satunya pertanyaan yang mengganjal yaitu kok tetangganya pada enggak ada yang dengar ya ribut ribut kayak gitu? Oh, mungkin lagi tidur kali ya. Tanya sendiri dijawab sendiri. Terkadang hidup lebih baik memang seperti itu. Jawaban sendiri bisa memuaskan. Tapi tidak semua pertanyaan bisa dijawab sendiri. Pertanyaan macam ‘sudah punya pacar apa belum?’ itu ya jangan sampai dijawab sendiri. Halu bener. 

Film ini disutradarai oleh sutradara yang namanya lumayan pendek, McG. Beliau menyutradari 3 Days To Kill yang saya tidak suka kecuali Amber Heard nya. Dan otomatis The Babysitter menjadi film favorit dari semua film McG yang pernah saya tonton. Ada banyak momen momen memorable, salah satu sudah saya sebelumnya, yang melibatkan lagunya Queen. Yang lainnya misalnya pembunuhan pertama. Itu shocking sih, enggak nyangka bakal kaya gitu ditambah adegan selanjutnya yang malah bikin ngakak. Tak lupa, babysitter idaman setiap pria, Bee yang somehow kayak hibrid Gena Davis, Megan Fox dan Cinta Laura. Samara Weaving memang sangat pas memerankan Bee. Btw, menurut imdb, si Samara ini pernah tinggal di Indonesia lho. Entah kapan tinggalnya. Namanya juga sering saya dengar. Apalagi pas ada temen nikahan. Semoga samara ya..

Akhirnya, The Babysitter wajib kamu tonton apabila menyukai film film yang penuh darah, dan tak masalah dengan adegan pembunuhan yang ditampilkan secara jelas. Meski demikian, film ini boleh juga menjadi semacam film cooming of age yang bekerja dengan cara unik serta romansa yang malu malu untuk diakrabi. Oh satu lagi, ada setelah bubaran ada lagi satu adegan post credit yang sayang untuk dilewatkan. Sequel? Yes, please.

Advertisements

Vegetarian – Han Kang

Yang memutuskan untuk menjadi vegetarian ialah Young Hye, perempuan, yang menurut suaminya biasa biasa saja. Keputusannya menjadi vegetarian mengejutkan suaminya beserta keluarga besarnya. Young Hye benar benar tidak ingin makan daging. Bahkan saat keluarganya memaksa. Penyebabnya ialah mimpi. Suatu hari Young Hye mimpi, bangun dan menjadi vegetarian. Itu saja. Mimpinya apa, nanti diceritakan, tapi ga terlalu jelas juga. Jadi kalau kamu semalam mimpi liat semangka, terus pas bangun kamu pengin jadi semangka maka kamu mirip Young Hye. Rada sableng. Cuma kalau kamu mimpi kawin, terus kamu pengen kawin, hmm ya itu wajar sih. Ehehehe. Tapii, Young Hye mimpinya bukan lihat semangka lho ya.
Yang kemudian menjadi masalah ialah kelakuan Young Hye yang tambah ajaib sejak jadi vegetarian. Stock daging sekulkas dibuang semuanya. (Buat pecinta daging, ini horor banget ya. Bayangin aja sesuatu yang disayang banget malah dibuang gitu aja. Dibuangnya sama orang yang disayang juga. Double ngenesnya.) Memaksa suaminya yang bukan vegeterian ikut tidak makan daging. Tidak hanya itu, ia kadang jadi lebih suka tidak pakai baju. Hingga kemudian terjadi hal yang tragis dan menyedihkan.

Yang menjadi pencerita ialah suami Young Hye, kakak perempuan Young Hye, dan suami kakak perempuan Young Hye alias kakak iparnya. Buku ini memang terbagi menjadi 3 bagian sesuai dengan siapa yang bercerita. Bagian pertama (Suami Young Hye) mengisahkan awal mula Young Hye jadi vegetarian dan kelakuan ajaibnya. Bagian kedua (kakak ipar Young Hye) ialah bagian mesum tapi (anggap saja) nyeni yang melibatkan tubuh tubuh yang dilukis seluruhnya kemudian ena ena. Bagian terakhir diceritakan melalui sudut pandang kakak perempuan Young Hye. Bagian ini mungkin yang paling menyedihkan, dan mbingungi, lantas ditutup dengan ending yang menyebalkan. Potato. Kentang. Mungkin lebih tepatnya, i want more..

Yang sedikit mengejutkan ialah Vegetarian ternyata tidak segore dugaan saya. Mulanya saya berpikir ceritanya tentang seorang yang menjadi vegetarian kemudian jadi gila dan mulai bunuh bunuhin orang, lantas dimakan. Vegetarian lebih ke sisi psikologis, bagaimana perilaku aneh Young Hye mempengaruhi kehidupan mereka. Meski demikian, Vegetarian tetap punya hal hal yang bisa membuat kening berkerut sampai syok ringan. Keadaan Young Hye menjelang akhir itu memang sungguh membuat tidak nyaman.

Yang membuat buku ini menarik untuk dibaca ialah gaya Han Kang dengan mengambil 3 sudut pandang yang membuat novel ini menjadi seperti 3 cerita yang tidak berhubungan satu sama lain. Meski sayangnya, sudut pandang tokoh Young Hye justru malah tidak ada. Padahal ini yang saya tunggu untuk menjelaskan secara langsung fenomena yang ada padanya. Menyelesaikan buku ini jadi semacam ada yang kurang. Untungnya terjemahannya asik, enak untuk dibaca sampai habis. Terima kasih ya kakak penerjemah. Apa yang kamu lakukan itu… keren. Ngikutin gaya Cinta eh kakak Young Hye di buku ini. Ada perkataan kakaknya Young Hye yang sama dengan kata Cinta di film AADC 2. Dua duanya lagi disakitin lelakinya. Lebih jahat lakinya kakaknya Young Hye tapi.

Yang terakhir dari review buku ini, Vegetarian ialah sebuah dongeng yang gelap, aneh dan menyedihkan tanpa menyisakan sedikit pun ruang untuk bahagia. Bagi yang merasa cocok, buku ini akan membiusmu sampai akhir meski bukan dokter. Apa sih.

Buku ini akan menghipnotismu sampai akhir meski bukan Tommy Rafael. Apa lagi ini.

Buku ini akan mengoyak rasa nyamanmu meski bukan bayangan masa lalu. Apa pula ini. Hentikan!

Buku ini.. Sudah cukup, Hayati lelah bang.

4/5

Misteri Patung Garam

misteriptnggaramMulanya saya tertarik dengan covernya yang cukup artsy, bisa dibilang minimalis tapi asik. Ditambah dengan dengan sinopsis di belakang buku, sudah lebih dari cukup buat saya memutuskan untuk membacanya. Novel pembunuhan ini unik, bahkan sepengetahuan saya belum pernah ada di khasanah pernovelan Indonesia, karena korbannya ditemukan telah menjadi patung garam, tubuhnya diolesi dengan garam sepenuhnya. Garam? Kenapa harus garam? Bukan kecap asin, Nutela, Firdaus Oil, atau yang lainnya?

Kemudian saya baca, dan kampret rebus, novel ini bagus. Akhirnya, terakhir kali saya baca novel thriller lokal yang bagus itu Katarsis nya Anastasia Aemilia. Meski berbeda tema, tapi Katarsis dan Misteri Patung Garam sama sama menghanyutkan.

Surabaya. Seorang pianis wanita ditemukan tewas di rumahnya, terduduk di depan piano, memakai gaun merah, senada dengan rambut palsu yang sengaja dipakaikan oleh pembunuhnya. Seluruh tubuhnya putih oleh lapisan garam. Sebuah simbol aneh tertulis di atas piano menggunakan garam.

“Dia mirip sekali patung.”

“Seluruh tubuhnya ditempeli dengan adonan garam dan tepung yang dicampur air hingga kalis.”

“Sepertinya adonan garam itu mengeras.”

“Tentu saja, sebab pembunuhnya memanggangnya di dalam oven.”

Kasus itu ditangani oleh Inspektur Kiri Lamari yang baru saja ditugaskan di Surabaya. Ia dibantu oleh Inspektur Saut. Inspektur Kiri Lamari dikenal sebagai polisi yang teliti, dan sudah memecahkan kasus yang gagal dipecahkan oleh polisi yang lain. Mereka berdua kemudian melakukan penyelidikan, sementara itu, si pembunuh pun mulai mencari mangsa yang lain. Korban korban berjatuhan. Semuanya berjenis kelamin perempuan dengan profesi yang berbeda beda. Sudah mapan secara finansial, dan dikenal sebagai perempuan baik baik. Mengapa mereka dibunuh? Siapa yang membunuh?

Inspektur Kiri Lamari dituntut untuk menyelesaikan masalah tersebut, dan juga masalah pribadinya dengan ayahnya yang berhubungan dengan kematian tidak wajar ibunya.

Fokus cerita buku ini memang kebanyakan ada di kisah Kiri Lamari, meski tokoh yang lain juga tak luput untuk diceritakan. Buku ini dibagi menjadi prolog, tiga puluh empat bab inti cerita, dan sebuah epilog. Awalnya saya merasa prolognya agak dipaksakan agar sesuai dengan judul, tapi setelah bukunya selesai dibaca, mungkin prolognya ingin sedikit memberi gambaran betapa sakitnya si pembunuh. Di prolognya tertulis, korban dihukum gara gara menyanyikan lirik sebuah lagu tidak sesuai dengan kemauan pembunuh. Lirik lagu milik Oasis, Don’t Look Back In Anger. Korban bersalah karena menyebutkan kata Sally, dan si pembunuh menginginkan Salty, bukan Sally. Padahal lirik yang benar ialah Sally. Tapi karena si pembunuh terobsesi dengan garam, diganti dengan Salty.

Secara keseluruhan, Misteri Patung Garam ialah sebuah thriller yang apik, tokoh tokoh yang cukup memorable dan menggelitik, terutama si Ireng, dan interaksinya dengan Kiri yang selalu membuat tersenyum, juga ada Inspektur polisi sangar yang hoby nonton Despicable Me, (pakai niruin ngomongnya minion pula :D), serta ahli forensik yang demennya dengerin K-pop. Salah satu kelebihan buku ini memang cukup lucu, bahkan ada bagian yang membuat saya tertawa ngakak. Meski itu tak banyak, which is good. Karena tidak sampai merusak ketegangan yang dibangun sejak awal.

Sayangnya, saya agak sedikit terganggu dengan epilognya. Apa buku ini akan dibikin sequelnya? Kalau iya, saya masih bisa memaklumi epilog tersebut, meski bukan hal yang baru. Tapi, kalau memang tidak akan dibikin sequel, mbok ya enggak usah dibikin epilognya. Buat apa? Memang twist, dan bikin orang penasaran, tapi terlalu tiba tiba dan merusak jalinan manis yang sudah ada sebelumnya. Tapi, semoga saja memang akan dibikin sequel.

Akhirnya, Ruwi Meita sudah berhasil membuat thriller lokal yang menegangnya, dibumbui dengan kisah cinta yang tidak berlebihan, humor yang menggelitik, serta interaksi antar tokoh yang natural dan berkesan. Ada beberapa bagian yang agak kepanjangan, misalnya cerita mengenai kisah segi tiga biru, serta epilognya yang menuntut sebuah jawaban, tapi overall, Misteri Patung Garam terlalu menarik untuk diabaikan. Kampret rebus.

Judul: Misteri Patung Garam
Penulis: Ruwi Meita
Penerbit: GagasMedia
Jumlah Halaman:276
Rate:3,9

Misteri Ratu Cinta

ratucinta

Seperti lagunya Rosa, kecantikan seorang wanita pasti akan pudar seiring dengan berlalunya waktu. Karena ada yang bilang, lelaki jatuh cinta dengan melihat, maka kecantikan menjadi krusial, apabila ingin mendapatkan lelaki pujaan. Oleh karena itulah, berbagai hal sering ditempuh agar wajah mereka terlihat cantik. Mulai berdandan secara sederhana, minum jamu, operasi plastik hingga memakai jalur klenik.

Jalur klenik inilah yang dipakai oleh Sukmarani.

Ia adalah seorang tabib yang menempuh cara yang tak lazim agar dirinya tetap awet muda, montok dan menggairahkan suaminya, Rusman. Ia tidak memakai susuk, melainkan menjalankan semacam ilmu hitam yang mengharuskannya bercinta dengan suaminya setiap hari selama ia tidak sedang berhalangan. Kenapa harus bercinta? Karena kalau harus begadang itu melelahkan, dan harus ada artinya, kata bang Roma. Tapi, tentu saja alasan sebenarnya ialah seperti apa yang dikatakan oleh Miranda.

“Sel sel kehidupan dalam spermamu yang memasuki tubuhnya. Itulah yang dimanfaatkan istrimu untuk melawan proses menuanya fisik yang muncul bersamaan dengan merambatnya waktu.”

Yang dijelaskan lebih detail oleh kakek kakek yang ditemui oleh Rusman:

“Karena unsur kehidupan dalam spermamu diambilnya sebagai penangkal proses menuanya tubuh. Sebaliknya, unsur unsur kehidupan dalam sel sel telur Sukmarani sendiri ia pancarkan ke dalam tubuhmu melalui kejantananmu. Itu akan menolongmu untuk tetap perkasa dan sanggup melayani istrimu di tempat tidur, meski tanpa ada hari yang terlewatkan… “

Itulah yang harus dilakukan oleh Sukmarani agar tetap awet mudah. Tapi, dalam waktu waktu tertentu masih ada ritual lain yang harus dilakukannya. Ritual yang melibatkan dupa dupa, lilin, dan darah ayam pelung.

Cerita bermula ketika Rusman kembali bertemu dengan Miranda, mantan kekasihnya yang telah ia campakkan begitu saja demi Sukmarani. Dari Miranda itulah, Rusman tahu kenyataan yang sebenarnya mengenai istrinya. Mulanya Rusman tidak percaya, tapi ketika kemudian terjadi hal hal yang persis seperti apa yang dikatakan oleh Miranda, Rusman pun mulai percaya. Rusman lalu diajak Miranda bertemu kakek kakek, yang ternyata adalah mantan suami Sukmarani sebelumnya, yang masih muda ketika dulu menikah dengan Sukmarani. Rusman pun menyadari bahwa istrinya ternyata sudah berusia sangat tua. Tidak tahu berapa pastinya. Bisa ratusan, bahkan lebih.

“Yang kau lihat itu Rusman,” menggema suara Miranda di telinga Rusman. “Adalah tubuh perempuan tua jompo. Perempuan yang pantas jadi nenekmu, bahkan mungkin juga nenek buyutmu!”

Rusman pun meminta bantuan agar ia terbebas dari permasalahannya itu.

Sementara itu, seorang wanita bernama Astuti dicegat oleh seseorang ketika akan pergi kuliah. Orang itu mengatakan bahwa Astuti harus ikut dengannya ke rumah sakit. Astuti pun menurutinya karena mengira kekasihnya, Hendra, kecelakaan. Tapi, ternyata ia dibawa oleh orang itu beserta dua orang temannya ke sebuah vila di puncak. Astuti, yang sedang hamil muda, disekap agar tidak mengganggu jalannya upacara pernikahan Hendra dengan istrinya. Hubungan Astuti dengan Hendra memang tidak direstui oleh kedua orang tua Hendra, yang menginginkan anaknya punya istri dari kalangan bangsawan.

Tapi penyekapan itu ternyata tidak berjalan sesuai dengan rencana semula. Bencana.

Dua kisah yang tampak tak punya hubungan itu kemudian terhubung dengan jalan yang tidak diduga duga. Mistis. Tapi tidak terkesan dipaksakan. Mengalir begitu saja. Keseruan yang sebenarnya pun dimulai. Abdullah Harahap membangun suspen dengan tidak terburu buru, tapi tetap terjaga hingga akhir, dan ditutup dengan ending yang cukup mengharukan, a bittersweet ending. Akhir yang menurut saya sempurna buat buku ini. Diantara buku Abdullah Harahap yang pernah saya baca, inilah ending yang paling saya suka.

Misteri Ratu Cinta dibagi penceritaanya menjadi dua bagian, dan untungnya perpindahan kisah tersebut dilakukan dengan begitu baik dan semakin membikin penasaran. Jadi tidak main asal putus saja. Meski secara keseluruhan tidak ada tokoh yang benar benar berkesan, tapi Abdullah Harahap menceritakan perubahan karakter tokoh Rusman dengan baik, meski tak terlalu banyak dikisahkan. Mengenai keraguannya kepada istrinya, ketakutannya, hingga rasa cinta yang ternyata masih tetap ada.

Seperti halnya novel Abdullah Harahap yang lain, Misteri Ratu Cinta juga terdapat pembunuhan secara mengerikan yang dilakukan oleh makhluk bukan manusia. Keuntungan pembunuhan oleh makhuk gaib ialah, tidak punya batasan imajinasi. Bisa dilakukan dengan cara apa pun akan tetap diterima. Dibuku ini, misalnya, ada tokoh yang dibunuh dengan dililit pagar kawat yang tiba tiba hidup seperti ular. Dan masih ada yang lebih mengerikan lagi.

Pada akhirnya Misteri Ratu Cinta tidak hanya memberikan sebuah kisah misteri, horror dengan aroma balas dendam, tapi juga berhasil menyelipkan sebuah kisah cinta yang tak biasa, manis tapi getir terasa.

Judul: Misteri Ratu Cinta
Penulis: Abdullah Harahap
Jumlah Halaman: 251
Penerbit: Paradoks
Rate: 3,75

Spora

spora

Ketika akan membeli sebuah buku, biasanya ada pertimbangan tertentu. Bisa banyak, bisa juga sedikit. Apa lagi kalau buku itu ditulis oleh penulis baru yang kita tidak pernah kenal sebelumnya. Alasannya tentu bisa banyak. Bisa juga sedikit. Bisa karena design covernya yang menarik. Bisa karena sinopsis di belakang bukunya yang membuat penasaran. Bisa juga karena judulnya. Meski kemudian ketiga hal tersebut tidak menarik, ada yang tetap membeli buku tersebut. Bisa jadi beli buat ditimbun dulu, nunggu waktu yang tepat untuk dibaca, bisa jadi beli karena bisikan gaib, atau bisikan teman, atau bisik bisik tetangga, kini mulai terdengar slaluuu.

Dan alasan saya membeli Spora karangan Alkadri adalah semata mata karena design cover, sinopsis di sampul belakang, dan judulnya yang simple. Ada gambar orang yang setengah telungkup dan dari punggungnya muncul seperti cabang pohon, dengan spora beterbangan dari tubuhnya. Ada kurcaci yang menumpuk harta di gunung. Ada anak sekolah yang menemukan mayat di depan sekolahannya dengan kondisi yang mengenaskan. Dan, ada monster yang bangkit mengancam kehidupan manusia. Terdengar lezat bukan? So, apakah memang selezat yang saya bayangkan?

Ternyata tidak.
Awalnya berjalan dengan baik dan menarik, hingga kemudian saya menemukan satu hal yang barangkali sepele, tapi buat saya waktu itu cukup mengganggu. Yaitu tentang pemilihan kata. Terutama tentang reaksi seseorang ketika sedang menanggapi pembicaraan orang lain. Ada banyak pemilihan kata untuk menggambarkan reaksi orang ketika menerima informasi dari lawan bicaranya. Mengerutkan dahi, menatap tajam, menutup mulut dengan tangan, dan lain lain. Bahkan terdiam juga bisa dijadikan contoh. Tapi di buku ini, nyaris hanya ada satu reaksi; mengangkat alis. Seharusnya ini tidak menjadi masalah, tapi ketika ‘mengangkat alis’ terlalu sering digunakan, bahkan sampai dua kali di halaman yang sama, maka lama lama saya jadi ikut mengangkat alis juga. Untung saja cuma mengangkat alis, bukan mengangkat barbel seperti Agung Herkules.

Kalau itu terjadi hanya pada satu tokoh sih wajar, mungkin itu ciri khasnya dia, tapi itu digunakan di semua tokoh. Dan, waktu itu saya jadi punya ‘pekerjaan’ baru selain menebak nebak jalan cerita, yaitu menghitung kapan ‘mengangkat alis’nya muncul. Dan sampai halaman 40an, ada sekitar 11an. Tapi, untunglah kemudian kata itu jarang muncul lagi di pertengahan cerita.
Kemudian ada satu lagi yaitu ‘mengerling’. Memang sih penempatannya tidak salah, cuma agak kurang tepat. Mungkin hanya saya yang merasa seperti itu, tapi saya telanjur berpikir bahwa kata ‘mengerling’ biasanya dilakukan kepada lawan jenis untuk hal hal yang bersifat romantis.  Jadi ketika ada kalimat Alif mengerling kepada polisi, mengerling kepada Roy, jadi agak sedikit janggal. Kurang terbiasa, mungkin.

 Pada zaman dahulu, hiduplah seorang kurcaci.
Ia tinggal di sebuah gua di dalam gunung.
Gunung yang menjulang tinggi melampaui langit.
Tubuhnya kecil, rupanya buruk, dan perangai pun kasar.
Namun, sang kurcaci memiliki sesuatu.
Sesuatu yang  diinginkan oleh segenap manusia di kaki gunung.

Di suatu pagi, Alif menemukan sesosok mayat yang tergeletak di lapangan sekolahnya. Kepalanya pecah berkeping-keping. Sejak saat itulah, mimpi buruk alif dimulai. Satu persatu orang di sekitar Alif jatuh menjadi korban, mati dalam kondisi mengenaskan tanpa diketahui penyebabnya. Polisi mulai melakukan penyelidikan dan mencurigai keterlibatan Alif. Bersamaan dengan itu, masa lalu Alif yang kelam datang untuk menghantuinya kembali.

Monster itu telah bangkit,
Dan ia takkan berhenti membunuh hingga manusia terakhir mati.

Itu adalah tulisan yang ada di cover belakang. Oh, review saya selanjutnya agak berbau spoiler.
*/SPOILER START

Berdasarkan tulisan di cover belakang, saya mengharapkan porsi cerita kurcaci seimbang dengan kisah Alif, mungkin kurcaci itu pembunuhnya. Monster yang ingin menghabisi umat manusia. Ternyata, kisah kurcaci itu hanya selipan saja. Kisah kurcaci itu ditulis secara terpisah dengan halaman khusus berwarna hitam sebelum bab selanjutnya dimulai. Menarik memang, tapi menurut saya tidak harus dijadikan terpisah seperti itu, kalau nantinya kisah tersebut dikisahkan lagi melalui sebuah percakapan. Percakapan itu juga mengungkap hubungan kisah kurcaci dengan kisah Alif, yang ternyata cuma gitu aja.

Selain itu ada beberapa bagian yang membuat saya bertanya tanya. Pertama ialah sewaktu Alif bertemu dengan monster yang menyerupai bapaknya di rumah Alif. Sebelum monster itu datang, di kulkas ada notes dari ibunya yang member tahu bahwa ibunya sedang menjenguk teh Laras. Setelah monster pergi(Alif bangun), ibunya pulang dan berkata bahwa ia dari mini market. Siapa yang menulis notes di kulkas?
Ada beberapa kemungkinan.
1.    Si monster. Tapi si monster waktu itu hanya bisa hidup di kepala Alif waktu ia sedang tidak sadar.
2.    Ibunya Alif. Mungkin beliau memang menulis notes itu. Jadi sewaktu Alif tidur, ibunya pulang, dan pergi lagi ke mini market.
3.    Alif yang menulis, tapi entah kenapa ia jadi lupa. Mirip kasus di film Modus Anomali.

Kedua, yang membuat saya bingung, dari sekian banyak orang, mengapa tidak ada yang mencurigai ruangan sekeretariat KIR, tempat ditemukannya empat mayat, serta toilet di lantai 3 yang baunya menyengat. Padahal di halaman 8, dikatakan bahwa polisi akan memeriksa seisi sekolah selama 2,3 hari. Padahal hari senin mulai masuk sekolah, dan ada mayat di ruang KIR yang sudah 3 hari dan pasti bau. Polisi baru memeriksa ruangan KIR, setelah ada mayat lagi yang jatuh dari atap setelah pulang sekolah.

Kemudian, masalah sifat dari jamur itu sendiri. Mengapa korban ada yang naik ke atas atap setelah mengurung di toilet sementara empat anggota KIR mayatnya ditemukan tetap di ruangan KIR. Kalau ruangan itu dikunci, bukankah di malam yang sama Sujarwo masuk dan membuka pintu? Juga di hari Sabtu, ada 2 anggotanya yang masuk ke ruang tersebut?
Dan, jamur itu kok terkesan pintar sekali ya. Tahu semua konspirasi mengenai siapa yang membawa jamur itu dari Brazil. Darimana ia tahu semua informasi itu. Apakah ia menyerap informasi dari otak korban? Tapi, para korban tidak punya potensi untuk tahu sampai sedetail itu. Polisi yang jadi korban itu pun bukan polisi tingkat atas, yang menurut  saya tidak tahu menahu masalah itu. Apa jamur itu memang sejenis organisme yang punya intelegensia tinggi?

SPOILER END/*

Selanjutnya adalah ending. Spora punya ending yang tidak saya duga, twist. Biasanya saya suka ending yang seperti itu. Tapi, tidak untuk yang ini. Epilognya memang menceritakan siapa dalangnya, tapi semua muncul terlalu tiba tiba. Tidak ada clue sedikit pun. Biasanya, twist ending selalu punya remeh remeh kecil yang disebar di sepanjang cerita sehingga ketika twistnya keluar, orang akan terkejut,dan mungkin akan bilang; oh, ternyata yang tadi itu.. atau, ‘o, pantes si anu begini’.. tapi buku ini tidak demikian.
Bagian terakhir buku ini memunculkan satu tokoh yang punya peranan besar, tapi jarang diceritakan di  buku. Akibatnya, saya jadi tidak punya perasaan apa apa kebenaran itu terungkap, alias cukup tahu saja. Dan muncul pertanyaan lagi; apa alasan mereka mengambil jamur di Brazil? Apakah untuk membuat senjata biologis? Apakah murni alasan science? Yang jelas sih enggak mungkin ngambil jamur itu buat ditumis. Kalau buat ditumis sih enggak perlu lah jauh jauh ke Brazil, di pasar juga banyak.

Spora juga ditulis menggunakan bahasa yang agak kaku. Dialognya kadang menggunakan bahasa resmi, kadang bahasa sehari hari. Jadi terkesan tidak natural. Masih ada typo, dan penggunaan kata ganti orang yang berubah ubah. Dan, si Alif ini kok rasanya tidak pantas ya jadi tokoh utama. Menyebalkan. Saya jadi ingat salah satu adegan di film Prometheus, ketika ada scientist  bertemu alien yang mirip ular, terus mati dicaplok alien itu. Sama juga dengan Alif. Alif ini type orang keras kepala yang bikin celaka temannya.

Akhirnya, setelah membaca buku ini kesan pertama yang baik akhirnya jadi berantakan. Ada banyak kejanggalan yang saya temukan, di jalan cerita atau pun penulisan. Mungkin  waktu saya membaca ada yang terlewat. Tapi saya suka idenya. Saya jarang menemukan buku lokal yang punya premis seperti ini. Spora punya potensi untuk dikembangkan menjadi sebuah sequel. Dan seandainya memang akan ditulis kelanjutannya, semoga akan jadi lebih baik.

Judul: Spora
Penulis: Alkadri
Jumlah  halaman :238
Penerbit: Moka Media
Rate: 2

Aku Tahu Kamu Hantu

atkh

Dengan design cover yang terlalu riang untuk sebuah novel horor, boleh jadi Aku Tahu Kamu Hantu akan luput dari perhatian pecinta horor, dan seandainya mereka kebetulan melihatnya pun, boleh jadi, akan menganggap buku ini sebagai kisah cinta antara manusia dengan setan seperti halnya manusia dan vampire di Twilight, dan mereka, boleh jadi, akan melewatkan buku ini dan memilih buku yang lain yang mereka anggap lebih seram. Meski demikian, boleh jadi mereka akan tetap membeli buku ini karena alasan yang lain.

Untungnya saya sudah terlebih dahulu membaca bukunya Eve Shi yang lain yaitu Lost dan untungnya Lost termasuk dalam buku yang saya suka meski kalau dilihat dari segi cerita masih ada kekurangan, tapi untungnya beliau punya sesuatu yang jarang dimiliki oleh penulis lain, yaitu dinosaurus… untungnya saya bercanda, beliau tidak punya dinosaurus, tapi punya gaya penulisan yang menarik sehingga saya jadi penasaran dengan karya beliau yang lain, dan untungnya saya kemudian menemukannya di toko buku.

Ternyata buku yang bercerita tentang murid SMU bernama Olivia yang biasa dipanggil Liv yang punya kemampuan bisa melihat makhluk halus yang kemudian memanfaatkan kemampuan uniknya itu untuk membantu mengungkap sebuah tragedi hilangnya salah seorang murid yang bernama Frans meski ada pihak pihak yang menghalangi tujuannya serta beberapa masalah yang juga sedang dihadapinya yang berhubungan dengan sahabat karibnya yang bernama Daniel yang tiba tiba bersikap aneh kepada Liv, juga rasa sukanya kepada salah satu murid sekolah yang justru membuat keadaan menjadi tambah rumit ini, sangat asik untuk diikuti.

Kata kata yang digunakan tidak berbelit belit, terasa pas sekali. Dengan alur maju, membuat buku ini mudah untuk diikuti sambil berusaha menebak nebak misteri yang ada di dalamnya. Dan karena ini buku horor, tentu ada beberapa penampakan penampakan serta ilustrasi seram sebagai tambahan agar semakin menakutkan. Meski penampakan tersebut pada akhirnya ada yang tidak dijelaskan secara detail padahal sebenarnya karakternya sudah kuat. Sedikit mengecewakan tentu saja. Sudah seram dan lumayan ada chemistry dengan Liv. Tapi, siapa tahu itu akan dibahas di buku selanjutnya. Siapa tahu kisah Liv ini akan jadi semacam franchise baru tentang cewek SMU yang bisa melihat hantu.

Aku Tahu Kamu Hantu mengetengahkan cerita horor dengan sedikit romansa serta thriller pembunuhan yang dikemas dengan cita rasa anak muda yang boleh jadi akan disuka oleh siapa saja yang menyukainya. Boleh jadi buku ini akan benar benar membuat anda takut. Kalau pun anda tidak takut, boleh jadi anda akan menyukai misteri di dalamnya. Mohon maaf kalau ada salah kata.

Judul: Aku Tahu Kamu Hantu
Penulis: Eve Shi
Penerbit: Gagas Media
Jumlah Halaman: 269
Rate: 3.5

 

 

Misteri Sebuah Peti Mati 1

misteri-sebuah-peti-mati

Karena ini baru buku pertama,(total ada 2 buku), maka saya tidak akan membahas tentang endingnya karena sudah dapat dipastikan endingnya akan seperti buah pepaya di dahan pohon rambutan; menggantung. Belum selesai. Mengapa buah pepaya sampai di pohon rambutan itu tidak usah dipikirkan, karena pepaya itu ada di pohon manapun akan sama saja menggantung. (intinya sama saja kan?) Tapi kamu bisa memikirkan alasannya sendiri kalau kamu memang menginginkan demikian. Tidak ada paksaan di sini.

Mengapa saya harus menjelaskan tentang pembahasan ending, karena biasanya bagus tidaknya ending akan mempengaruhi penilaian akhir sebuah buku. Tak jarang buku yang bagus akan jadi jelek hanya karena endingnya. Ini seperti peribahasa karena nila setitik, rusak susu sebelahnya.  Dan dibuku ini poin itu tidak disertakan.

Lanjut.

“Ada yang tiba tiba menerobos masuk,” salah seorang warga memberi tahu.
“Siapa?” tanya sang komandan regu.
Pertanyaan yang jelas keliru. Karena jawaban yang kemudian mereka dengar, memang sungguh di luar dugaan.
“Sebuah peti mati!”

Misteri Sebuah Peti Mati memulai kisahnya dengan adegan tabrak lari dengan korban bernama Juarsih yang waktu itu sedang bersama suaminya. Juarsih meninggal dunia. Kemudian mayat Juarsih dimasukkan ke dalam peti mati. Di sinilah letak masalahnya.
Secara ajaib peti mati berisi mayat Juarsih terbang dan menghilang. Hal ini tentu saja membuat terkejut semua orang. Termasuk Bursok dan anak buahnya. Polisi yang menangani kasus tersebut.
Di lain tempat, seorang yang merupakan pelaku tabrak lari ditemukan meninggal. Menurut saksi, ia diculik oleh peti mati Juarsih yang masuk lewat jendela. Hingga kemudian korban korban berjatuhan. Bursok pun menyelidiki kasus ini. Dan ternyata hal ini menyangkut dendam masa lalu yang belum terbalaskan. Seperti yang dikeluhkan oleh Bursok “Sepertinya aku akan memasuki sebuah lorong waktu, ”

Dari buku Abdullah Harahap yang pernah baca, boleh jadi inilah buku paling menarik yang saya baca. Juga paling panjang karena terbagi menjadi 2 buku. Mulanya ini seperti kisah detektif, Bursok dengan keahliannya berusaha untuk memecahkan kasus itu. Meneliti detail demi detail. Menggabungkan fakta demi fakta. Kemudian perlahan menjadi thriller pembunuhan yang ganjil. Serta nilai mistik yang tak kurang kurang. Urban legend yang tiba tiba menjadi nyata. Ritual aneh yang menjijikan.

Buku pertama ini menjelaskan hampir semua tanda tanya yang hadir ketika saya membaca buku ini. Hampir. Karena ada satu pertanyaan yang belum saya temukan jawabannya. Mungkin di buku selanjutnya bakal ada.

Pada akhirnya buku ini menarik untuk diikuti. Cerita yang bergerak cepat, meski disertai beberapa cerita masa lalu. Serta erotisme yang biasanya ada di buku Abdullah Harahap. Tapi kali ini tidak terlalu diceritakan secara gamblang dan panas. Tapi bikin melongo. Misalnya ketika bagian mayat Juarsih yang hidup kembali harus bersetubuh dengan empat puluh ekor monyet jadi jadian di tanah lapang di bawah naungan bulan purnama.
Nggilani.

Judul buku: Misteri Sebuah Peti Mati buku 1
Penulis: Abdullah Harahap
Jumlah halaman: 352
Penerbit: Paradoks
Rate: 4