Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘thriller’

Jika Marlina punya hobi bikin pantun, apakah filmnya bakal punya judul Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Kali Empat Sama Dengan Enam Belas, Sempat Tidak Sempat Harap Dibalas? Tentu saja tidak demikian. Marlina wajib punya judul aslinya, Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak. Terlihat classy, keren dan bikin penasaran ingin segera menuju bioskop terdekat. Judulnya memang gurih, mengandung umpan yang bakal disambar oleh para penonton film jenis pertama, yaitu golongan penikmat film yang menonton karena judulnya. 

Jalan ceritanya pun benar benar akan membuat golongan penonton tipe kedua mempercepat langkah kakinya menuju bioskop, yaitu jenis penonton film yang menonton karena jalan cerita. Film ini punya jalan cerita yang tak umum. Seorang janda terpaksa membunuh lima perampok yang menyatroni rumahnya, kemudian menenteng kepala salah satu perampok itu menuju kantor polisi sambil dikejar oleh kawan si perampok. 

Keindahan Sumba dalam film ini ialah keindahan haqiqi. Manjain mata. Wajib untuk disaksikan melalui layar bioskop kecuali kamu punya TV LED 100 inch. Itu juga kudu nunggu DVDnya rilis dulu. Kelamaan. Nanti keburu disamber orang. Disamber orang tiketnya maksudnya. Layar bioskop yang besar membuat pemandangan Sumba terlihat begitu memukau. Hamparan rumput kering yang luas, jalan berliku, dengan ujung  samudera biru membentang. Malamnya, biarpun sedikit, ada bulan purnama bulat, besar benderang. Jelasnya, visualnya outstanding, yang bisa jadi akan membuat jenis penonton ketiga; yang menonton karena visualnya, akan memacu kudanya menuju bioskop terdekat menyusul jenis penonton pertama dan kedua.

Film ini juga ingin menunjukkan betapa kuatnya perempuan. Misalnya Novi, temannya Marlina yang lagi hamil itu. Waktu lihat Marlina tenteng itu kepala, responnya cuma beringsut sedikit, sesudahnya mengobrol seperti biasa. Padahal yang ditenteng itu kepala orang. Bukan sayuran, atau buah buahan. Kok ya enggak histeris, shock, terus langsung melahirkan. Kekuatan perempuan terlihat dengan jelas sepanjang film. Jenis penonton yang keempat; yang menonton karena kekuatan wanita kemungkinan besar akan segera mengebut mobilnya menuju bioskop terdekat. 

Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak mengingatkan saya dengan film Quentin Qarantino, Django Unchained. Pengalaman saya nonton film film western emang nol besar, tahunya dari Quentin Tarantino saja. Juga ada sedikit yang seperti cerita cerita karangan Gabriel Garcia Marquez, atau Eka Kurniawan. Perihal hantu tanpa kepala yang memainkan alat musik tradisional Sumba itu memang punya daya magisnya sendiri. Iringan musiknya pun demikian. Dan satu lagu yang dinyanyikan pakai bahasa Sumba itu, masih terngiang sampai sekarang meski tak tahu artinya. Judulnya Lahape Jodoh, nyari di google tak nemu artinya. Tapi dengernya sedih betul. Tentang jodoh yang tak kunjung datang, mungkin. Karena hal hal inilah, maka jenis penonton kelima akan berbondong bondong naik bis pergi ke bioskop; jenis yang menonton film karena genre western, ditambah punya scoring dan lagu yang yahud. (Maksa emang.)

Akhirnya, film ini sangat layak untuk ditonton. Memang brutal dan mengerikan ada kepala menggelinding atau ditenteng dan menyakitkan melihat apa yang terjadi didalamnya. Entah saya saja atau yang lain juga, saya lebih enggak tega melihat Novi. Sewaktu ia lagi lari lari kecil nyamperin Marlina, aduh itu takut jatuh. Lebih parah lagi yang terjadi selanjutnya. Ngeri sekali lihat perutnya. Tapi bukan berarti tanpa kehangatan dan rasa haru. Interaksi antara Marlina dan Topan sedikit memberi angin yang menyejukkan. Yang jelas, nonton Marlina si Pembunuh Dalam Empat Babak di bioskop jadi tamasya yang menyenangkan. Tidak ada duanya. Kecuali nonton lagi, baru ada duanya. Dan, ngeliat sop ayam jadi tidak pernah sama lagi. 

Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak | Dir: Mouly Surya | Cast: Marsha Timothy, Dea Panendra, Yoga Pratama | Rate: 4

Advertisements

Read Full Post »

Kim Byeong Soo terkena dementia. Kadang ia tak ingat siapa dirinya, siapa namanya, ada dimana, dengan siapa, semalam berbuat apa. Ia lupa teman temannya, bahkan anaknya. Masalah bertambah karena ia dulunya seorang pembunuh berantai. Kadang, tubuhnya melakukan gerakan membunuh tanpa ia sadari. Pernah ia pernah mencekik Eun Hee, anak gadis satu satunya, karena menyangkanya orang lain. Sekalipun begitu, Eun Hee sangat mencintai ayahnya itu. Kepikunan ayahnya tak menyurutkan hasratnya untuk berbakti kepada ayahnya semenjak ibunya tiada. Calon mantu idaman. Cantik pula.

Masa lalu ayahnya sebagai pembunuh berantai yang mengubur korban korbannya di hutan bambu tak diketahui oleh Eun Hee atau siapa pun. Suatu hari, Kim Byeong Soo tak sengaja menabrak mobil di depannya hingga bagasi mobil itu terbuka. Di dalam bagasi, ada koper dengan darah yang menetes keluar. Curiga, ia lalu mengambil darah itu lantas memeriksanya. Ternyata darah manusia. Ia pun melaporkan ke polisi, tapi tak ada yang percaya. Suatu ia bertemu kembali dengan orang yang ia tabrak. Orang itu  Min Tae Jo, sedang bersama Eun Hee, mengaku jadi pacarnya. Kim Byeong Soo pun berusaha memisahkan mereka berdua. Keadaan tambah ramai ketika Min Tae Jo juga tak tinggal diam, dan tau bahwa Kim Byeong Soo seorang pembunuh berantai yang insaf.

Konflik antara kedua orang itu berlangsung seru ketika Kim Byeong Soo sedar ingat siapa dirinya. Tapi kalau lagi kumat pikunnya, keadaan akan berbalik 180 derajat; Kim Byeong Soo akan menerima dengan lapang dada hubungan Min Tae Jo dengan putrinya. Seperti ingatan Kim Byeong Soo yang timbul tenggelam, Memoir Of A Murderer pun seringkali berganti antara thriller dan drama ayah dan anak.

Bagi yang menggemari thriller Korea Selatan, film ini boleh dicoba dan kemungkinan bakal suka. Meski tak begitu menegangkan, tapi cuilan drama ayah dan anak barangkali cukup untuk menyentuh hati kalian sekalian. Film ini tak seperti The Chaser, I Saw Devil, No Mercy, melainkan lebih menyerupai Memories Of Murder. Bahkan ada satu scene yang tempatnya mirip; adanya sebuah terowongan.

Memoir of A Murderer juga menjadi ajang pembuktian untuk Seol Hyun dimana tampil cukup baik memerankan Eun Hee meski dengan kosmetik melekat di wajah setiap waktu. Penampilannya jauh berbeda jika dibandingkan waktu ia sedang joget joget bersama grupnya AOA. Sementara itu, Sol Kyung Go berhasil memerankan seorang pensiunan pembunuh berantai yang mengidap dementia. Perubahan saat sadar dan pikunnya kambuh itu terlihat dengan baik.

Ending Memoir of A Murderer mengingatkan saya dengan peribahasa karena nila setitik rusak susu sebelanga. Meski sebenarnya peribahasa itu terlalu berlebihan dibanding yang sebenarnya terjadi. Tapi, saya tak menemukan peribahasa lain yang punya maksud sama. Peribahasa buruk muka cermin dibelah jelas tidak nyambung sama sekali. Nah, maksudnya gimana kok bisa ngingetin sama peribahasa itu? Jadi, ada sedikit scene di ending yang malah menghancurkan scene sebelumnya yang seharusnya sudah perfect untuk menutup film ini. Simplenya, endingnya kepanjangan. Entahlah, mungkin agar lebih membekas di hati penonton, sayangnya bekasnya jadi tidak enak.

Sutradara Won Shin Yeon, yang sebelumnya membesut film action spy thriller The Suspect, barangkali tidak sepenuhnya berhasil membuat film pembunuh berantai yang membuat tegang sepanjang waktu, tapi drama antara ayah dan anak bisa jadi akan membekas dibenak meski tak sampai jadi film penguras air mata.

Memoir Of Murderer | Dir: Won Shin Yeon |Cast: Sol Kyung Go, Seol Hyun | Rate: 3

Read Full Post »

Ditemukan mayat aneh dan mengerikan. Mayat bocah laki laki, bagian pinggang ke bawah menyambung dengan tubuh rusa. Setengah manusia setengah rusa. Detektif Gabriella Versado ditugaskan untuk menemukan pelakunya. Belum ketemu, eh jatuh korban lagi dengan kondisi lebih mengerikan. Hayo lho…
Gaby, begitu biasanya si detektif dipanggil, punya anak perempuan remaja bernama Layla. Keduanya tinggal berdua serumah ditambah Nyancat, si kucing. Ayahnya bercerai dan sudah menikah lagi. Kesibukan Gaby membuat mereka jarang kumpul berdua. Layla, punya teman bernama Cassandra, panggilannya Cas.

Sementara itu, di sisi lain kota ada seorang pemuda bernama Jonno Haim, yang terpaksa pindah ke Detroit demi hidup yang lebih baik. Bersama pacarnya, Jen yang seorang DJ, mereka berniat untuk membuat sebuah video berita terkini dan menguploadnya di youtube. Mereka ingin terkenal dengan cara itu. Lalu ada Thomas Keen, alias TK. Laki laki tua yang bertugas mengawasi para tunawisma.

Selain tokoh tokoh itu masih ada tokoh lain, tapi inti buku ini menceritakan tokoh tersebut dan tokoh lainnya. Tentang bagaimana mereka kemudian terhubung dengan kasus pembunuhan aneh itu meski awalnya tidak saling kenal dalam sebuah jalinan cerita yang membutuhkan kesabaran. Cenderung lambat. Apalagi dengan jumlah halaman yang lumayan gendut, 600an halaman lebih. Bukan buku yang oleh saya mudah untuk diselesaikan.

Menurut saya, ada beberapa cerita yang seharusnya tidak terlalu detail dan lama. Contohnya mengenai hubungan Layla dan Cas, dan permasalahannya. Juga tentang masa lalu Cas. Seharusnya cukup diceritakan keduanya teman baik saja. Teman curhat. Teman sepermainan. Itu saja sudah cukup. Karena bagian waktu mereka berurusan dengan pedofilia malah menurunkan tempo. Hasrat ngin mengetahui bagaimana kasus pembunuhan itu jadi tertunda. Sesuatu yang tertunda kan biasanya menyebalkan, kecuali sesuatu yang tertunda punya Padi. Top markotop lah itu.

Selain itu, cerita awal mula tokoh tokohnya juga tidak terlalu menarik. Jonno Haim dan pacarnya Jen biasa saja. Justru bagian Jonno dan Cate sedikit lebih menarik. Lebih ada ‘percikan’. Padahal cuma sekilas. Tokoh antagonisnya pun tidak berkesan sama sekali.

Bagian akhir yang seharusnya menegangkan justru dirusak oleh adanya halusinasi halusinasi yang tidak benar benar diberi tahu dari mana asalnya. Halusinasi itu memang mengerikan, cuma masalahnya saya sudah terlanjur tahu bahwa itu tak nyata. Jadi jatuhnya ilfeel. Halah, cuma boongan, gitu kata saya. Juga mengenai pintu pintu simbolis yang kurang jelas gunanya apa. Mungkin saya kurang piknik, jadi enggak terlalu nangkep maksudnya. Terus, biasanya kalau membaca buku atau menonton film yang ada bagian menangkap pembunuhnya kan kadang suka deg degan sendiri ya, saat penjahatnya akan tertangkap, atau waktu bertarung, atau menyelamatkan seseorang. Waktu saya baca buku ini tidak begitu. Lempeng aja. Pasrah tokohnya mau diapain juga. Yang penting cepat selesai. Mungkin buku ini telanjur membosankan, tidak punya sesuatu yang menggetarkan hati. Mungkin karena hati saya yang sudah terlalu keras. Seperti kehidupan. Jeng jeng!

Mungkin juga karena harapan saya terlalu tinggi. Salah saya juga sih, tak baca sinopsis dengan lengkap. Saya hanya tahu ada mayat setengah manusia setengah rusa, dan detektif yang memburu pembunuhnya. Saya kira, ini bakal berbau fantasi dimana mayat aneh itu adalah semacam makhluk fantasi betulan, bukan manusia biasa yang dilem ditubuh rusa. Pembunuhnya juga kurang jelas. Jadi begini, pembunuh sebenarnya ialah mimpi. Mimpi menjadi entitas yang berdiri sendiri, mengontrol manusia untuk membunuh. Alasan kenapa ia harus menyiarkan ke seluruh dunia juga saya gagal paham. Kalau misalnya semua orang tau terus apa. Paling juga gempar sebentar saja. Masalah lainnya ialah sebenarnya mimpi ini siapa? Apakah ia cuma karangan si pembunuh(semacam kepribadian ganda), apakah juga semacam makhluk lain. Alien. Makhluk halus. Tapi kalau makhluk lain, kenapa tidak diceritakan lebih dalam. Heuu.. saya gagal paham. Mungkin juga karena otak saya sudah buntu dan keras. Seperti kehidupan. Jeng jeng!

Akhir kata, Broken Monsters atau Monster Monster Rusak akan sulit memuaskan kalian yang mencari cerita menegangkan, dengan alur yang cepat. Buku ini lambat, cerita cerita pendukungnya juga biasa saja. Seandainya saja bisa diringkas,mungkin akan jadi lebih baik. Buku ini juga sepertinya ingin menunjukkan bahaya media sosial yang telah mengubah tingkah laku manusia dan bisa menjadi alat yang berbahaya; sebuah alat bagi pembunuh mewujudkan tujuannya. Cara penyampaiannya saja yang terlalu bertele tele. Ada quote menarik yang sedikit meluruskan apa yang dulu dinyanyikan Ahmad Albar, Nicky Astri dan Nike Ardila.

Panggung sandiwara bukanlah dunia, melainkan media sosial, tempat segalanya dipertunjukkan. Sisa kehidupan kita hanya latihan, dipersiapkan untuk tampil menakjubkan secara online.

Sesudah menamatkan buku ini, saya membaca di bagian belakang ada kata kata dari Stephen King; “Sangat menakutkan dan mencekam.” Menurut saya itu terlalu berlebihan. Sama seperti berat buku ini yang berlebih. Tapi ada yang bilang buku tebal itu seksi. Bisa multi fungsi pula. Jadi bantal, ganjel pintu (belum pernah nyoba keduanya). Sekaligus ada makna filosofisnya. Buku yang tebal sebenarnya melambangkan kehidupan. Karena buku yang tebal itu keras. Seperti kehidupan. Jeng jeng!

Broken Monsters | Monster Monster Rusak |Lauren Beukes | PT Gramedia Pustaka Utama | 656 Halaman | Rate: 2

Read Full Post »

blindwmn

Cerita favorit. Birthday Girl. Bercerita mengenai seorang gadis yang melewatkan hari ulang tahunnya yang ke dua puluh dengan bekerja di sebuah restoran Italia menggantikan temannya yang sakit. Pemilik restoran itu tinggal di lantai enam gedung  yang sama, dan tak ada seorang pun yang pernah melihat wajahnya. Setiap hari, manager restoran akan mengantarkan makan malamnya tepat pukul delapan. Setiap hari. Namun, malam itu, si manager mendadak sakit sehingga tugasnya diserahkan kepada gadis yang berulang tahun. Ternyata, si pemilik restoran cukup baik padanya dengan memberinya sebuah kado ulang tahun yang luar biasa.

Cerita ini menjadi favorit karena awalnya cenderung biasa saja, dan jadi menarik ketika dikenalkan tokoh pemilik restoran. Siapakah pemilik restoran itu sebenarnya dan jawaban apa yang diberikan gadis itu mengenai kado ulang tahunnya ialah dua hal yang paling berkesan. Imajinasi jadi liar dipenuhi dengan jangan jangan. Jangan jangan pemilik restoran itu alien, setengah dewa, atau hanya orang biasa yang luar biasa kaya atau kuat. Jangan jangan ia dari masa depan, semacam penyintas waktu. Atau jangan jangan ia adalah seekor kucing. Kucing super. Miaw.

Dan Birthday Girl pun punya ending yang mengesankan kalau tak bisa dibilang agak menyebalkan. Meninggalkan sebuah imajinasi liar, dipenuhi kira kira. Kira kira apa yang saya lakukan kalau di posisi gadis itu?

Cerita paling santai. Perfect Day for Kangaroos. Bisa juga disebut cerita paling datar, tapi asik untuk dibaca. Ini seperti menonton film filmnya Hirokazu Kooreda, Ho Sang Ho yang monoton tapi menghanyutkan. Bercerita mengenai sepasang kekasih yang pergi ke kebun binatang untuk melihat bayi kanguru. Saya diajak untuk jadi obat nyamuk, ngelihatin mereka pacaran sambil ngobrolin kanguru.

Cerita paling horor. The Mirror. Sebenarnya ini satu satunya cerita yang menyinggung hantu hantu, otomatis jadi cerita paling horor. Judulnya cermin. Sudah bisa ditebak khan hantunya muncul dimana. Tidak terlalu seram.

Cerita paling disturbing. Crabs. Maksudnya lebih ke cerita yang sempat membikin perut saya jadi enggak nyaman. Berkisah mengenai dua orang yang menemukan rumah makan kepiting murah meriah dan enak. Akhirnya mereka ketagihan makan di tempat itu. Hingga suatu malam, si lelaki menemukan kenyataan yang mengejutkan, mengguncang kehidupannya yang membuatnya kapok untuk makan kepiting selama lamanya. Kenyataan mengejutkan itulah yang membuat perut bergolak sedikit. Kalau saja waktu itu saya habis makan dua piring, dan bacanya sambil naik wahana perahu Kora Kora, dipastikan saya akan muntah. Dan mau enggak mau, kalau nanti lihat kepiting lagi, mungkin saya akan ingat cerita ini, atau mungkin ingat yang lain. Ingat kamu misalnya. Atau Mr. Krabs di Bikini Bottom.

Cerita paling saya ingin jadi tokohnya. Where I’m Likely to Find It. Bercerita mengenai seorang nyonya yang kehilangan suaminya sewaktu pergi melihat ibunya. Nyonya itu tinggal di lantai 26, dan ibunya di 24. Si suami hilang di tangga antara lantai 24 dan 26. Hilang di udara. Nyonya itu lalu minta bantuan seorang detektiv khusus menangani hal hal yang tidak bisa dijelaskan dengan akal sehat. Nah, saya ingin jadi detektiv tadi. Menyelidiki kasus kasus ganjil. Semacam yang ada di serial X Files.

Cerita paling familiar. Firefly. Pada dasarnya ini adalah versi ringkasnya Norwegian Wood. Dua orang sahabat. Satu wanita. Sanatorium. Bunuh diri. Teman satu kamar yang aneh. Minus Midori dan Reiko. Tapi bagi yang belum membaca Norwegian Wood, lebih baik diskip saja. Biar enak nanti baca Norwegian Woodnya.

Cerita dengan quote yang menawan. New York Mining Disaster. Ada beberapa quote yang berkesan buat saya. Diantaranya: ‘Clothes aren’t important. The real problem is what’s inside them.’ Ini seperti sebuah ungkapan jangan menilai orang dari penampilannya saja. Nilailah dari apa yang ada di dalam hatinya. Karena sebenarnya kita adalah makhluk makhluk yang telanjang apabila sedang mandi.

Selain itu, di cerita ini juga ada tips mengatasi gangguan terlalu banyak pikiran saat malam. ‘When I get depressed, I start to clean. Even if it’s two or three in the morning. I wash the dishes, wipe of the stove, mop the floor, bleach the dish towel, organize my desk drawers, iron every shirt in sight.’ Intinya bisa jadi membuat badan jadi lelah, kalau sudah lelah kan gampang buat tidur.

Selain cerita yang sudah disebutkan di atas, masih banyak cerita cerita yang sayang untuk dilewatkan dengan total 24 cerita. Jumlah yang sangat lumayan. Dengan tema yang sama sekali berbeda. Blind Willow Sleeping Woman, sebuah kumpulan cerita pendek Haruki Murakami yang akan membuatmu terpesona oleh jalinan cerita yang sureal, tak masuk di akal tapi masuk di hati. Tsahh!! Beberapa cerita memang aneh dan butuh pemahaman tingkat tinggi untuk bisa mengambil maksud dan tujuannya. Saya sih enggak terlalu ngoyo biar bisa paham semuanya. Yang penting menikmati.

Terakhir, cerita dengan judul paling menawan. Blind Willow, Sleeping Woman. Dibaca berulang kali tetap indah, menarik dan misterius. Apa hubungan antara pohon Willow dengan wanita yang tertidur? Sebuah dongeng gelap yang terselip di antara kenangan yang merambat saat mengantar sepupu berobat.

Read Full Post »

Seringkali menyenangkan tatkala sebuah lagu yang disukai tiba tiba terputar di salah satu adegan film tanpa kita duga sebelumnya yang tentu saja akan menjadikan adegan tersebut menjadi berkesan. Sebuah kejutan yang manis. Terakhir kali hal itu terjadi waktu saya menonton Valerian and The City of Thousand Planets sewaktu Space Oddity milik David Bowie mengalun di opening scene. Well, saya bukan fans beratnya beliau, tapi siapa yang bakal menolak Space Oddity? Atau siapa yang enggak suka We Are The Champion punya Queen? Benar sekali, di The Babysitter lagu itu terdengar mengiringi salah satu adegan paling keren di film ini.

The Babysitter bercerita mengenai anak kecil yang sudah terlalu besar untuk punya babysitter tapi ia punya itu. Alasannya karena Cole, nama anak itu, terlalu tidak bisa diandalkan untuk tinggal di rumah sendirian waktu orang tuanya pergi liburan. Cole penakut, dan sering dibully teman temannya. Babysitter yang menjaga Cole bernama Bee. Wanita seksi yang punya potensi untuk ‘menyengat’ setiap pria yang melihatnya. Dan film ini, bassicly emang mau nunjukkin ‘sengatan’ Bee yang sungguh dahsyat, dan tajam. Setajam silet yang sudah diasah sehari semalam. Kan maen.

Saya enggak mau cerita banyak mengenai jalan ceritanya, karena menurut saya akan lebih baik kalau tahu cuma sedikit saja. Meski kalau tahunya sedikit memang enggak bikin kenyang ya. Jadi masalah bermula ketika Cole didoktrin oleh cewek tetangganya yang mengatakan bahwa biasanya babysitter akan memasukan pacarnya ke dalam rumah waktu bocah yang sedang dijaganya tidur, lalu ena ena deh. Malam harinya, Cole yang penasaran pun pura pura tidur. Lalu mengintip babysitternya itu, dan apa yang ia lihat sungguh mengejutkan, dan sama sekali di luar dugaan. Horor pun dimulai.

The Babysitter sepertinya akan membuat pecinta horor slasher tersenyum. Dengan darah yang tak malu malu menyemprot ke muka, cukup gore untuk ukuran film dengan tokoh utama anak kecil. Tak hanya itu, film ini juga cukup lucu yang akan membuat tergelak di sela sela darah yang mengalir. Serius, film ini lebih lucu dari perkiraan saya. Mengingatkan saya dengan film Tucker and Dale vs Evil. Satu satunya pertanyaan yang mengganjal yaitu kok tetangganya pada enggak ada yang dengar ya ribut ribut kayak gitu? Oh, mungkin lagi tidur kali ya. Tanya sendiri dijawab sendiri. Terkadang hidup lebih baik memang seperti itu. Jawaban sendiri bisa memuaskan. Tapi tidak semua pertanyaan bisa dijawab sendiri. Pertanyaan macam ‘sudah punya pacar apa belum?’ itu ya jangan sampai dijawab sendiri. Halu bener.

Film ini disutradarai oleh sutradara yang namanya lumayan pendek, McG. Beliau menyutradari 3 Days To Kill yang saya tidak suka kecuali Amber Heard nya. Dan otomatis The Babysitter menjadi film favorit dari semua film McG yang pernah saya tonton. Ada banyak momen momen memorable, salah satu sudah saya sebutkan sebelumnya, yang melibatkan lagunya Queen. Yang lainnya misalnya pembunuhan pertama. Itu shocking sih, enggak nyangka bakal kaya gitu ditambah adegan selanjutnya yang malah bikin ngakak. Tak lupa, babysitter idaman setiap pria, Bee yang somehow kayak hibrid Gena Davis, Megan Fox dan Cinta Laura. Samara Weaving memang sangat pas memerankan Bee. Btw, menurut imdb, si Samara ini pernah tinggal di Indonesia lho. Entah kapan tinggalnya. Namanya juga sering saya dengar. Apalagi pas ada temen nikahan. Semoga samara ya..

Akhirnya, The Babysitter wajib kamu tonton apabila menyukai film film yang penuh darah, dan tak masalah dengan adegan pembunuhan yang ditampilkan secara jelas. Meski demikian, film ini boleh juga menjadi semacam film cooming of age yang bekerja dengan cara unik serta romansa yang malu malu untuk diakrabi. Oh satu lagi, ada setelah bubaran ada lagi satu adegan post credit yang sayang untuk dilewatkan. Sequel? Yes, please.

Read Full Post »

Yang memutuskan untuk menjadi vegetarian ialah Young Hye, perempuan, yang menurut suaminya biasa biasa saja. Keputusannya menjadi vegetarian mengejutkan suaminya beserta keluarga besarnya. Young Hye benar benar tidak ingin makan daging. Bahkan saat keluarganya memaksa. Penyebabnya ialah mimpi. Suatu hari Young Hye mimpi, bangun dan menjadi vegetarian. Itu saja. Mimpinya apa, nanti diceritakan, tapi ga terlalu jelas juga. Jadi kalau kamu semalam mimpi liat semangka, terus pas bangun kamu pengin jadi semangka maka kamu mirip Young Hye. Rada sableng. Cuma kalau kamu mimpi kawin, terus kamu pengen kawin, hmm ya itu wajar sih. Ehehehe. Tapii, Young Hye mimpinya bukan lihat semangka lho ya.
Yang kemudian menjadi masalah ialah kelakuan Young Hye yang tambah ajaib sejak jadi vegetarian. Stock daging sekulkas dibuang semuanya. (Buat pecinta daging, ini horor banget ya. Bayangin aja sesuatu yang disayang banget malah dibuang gitu aja. Dibuangnya sama orang yang disayang juga. Double ngenesnya.) Memaksa suaminya yang bukan vegeterian ikut tidak makan daging. Tidak hanya itu, ia kadang jadi lebih suka tidak pakai baju. Hingga kemudian terjadi hal yang tragis dan menyedihkan.

Yang menjadi pencerita ialah suami Young Hye, kakak perempuan Young Hye, dan suami kakak perempuan Young Hye alias kakak iparnya. Buku ini memang terbagi menjadi 3 bagian sesuai dengan siapa yang bercerita. Bagian pertama (Suami Young Hye) mengisahkan awal mula Young Hye jadi vegetarian dan kelakuan ajaibnya. Bagian kedua (kakak ipar Young Hye) ialah bagian mesum tapi (anggap saja) nyeni yang melibatkan tubuh tubuh yang dilukis seluruhnya kemudian ena ena. Bagian terakhir diceritakan melalui sudut pandang kakak perempuan Young Hye. Bagian ini mungkin yang paling menyedihkan, dan mbingungi, lantas ditutup dengan ending yang menyebalkan. Potato. Kentang. Mungkin lebih tepatnya, i want more..

Yang sedikit mengejutkan ialah Vegetarian ternyata tidak segore dugaan saya. Mulanya saya berpikir ceritanya tentang seorang yang menjadi vegetarian kemudian jadi gila dan mulai bunuh bunuhin orang, lantas dimakan. Vegetarian lebih ke sisi psikologis, bagaimana perilaku aneh Young Hye mempengaruhi kehidupan mereka. Meski demikian, Vegetarian tetap punya hal hal yang bisa membuat kening berkerut sampai syok ringan. Keadaan Young Hye menjelang akhir itu memang sungguh membuat tidak nyaman.

Yang membuat buku ini menarik untuk dibaca ialah gaya Han Kang dengan mengambil 3 sudut pandang yang membuat novel ini menjadi seperti 3 cerita yang tidak berhubungan satu sama lain. Meski sayangnya, sudut pandang tokoh Young Hye justru malah tidak ada. Padahal ini yang saya tunggu untuk menjelaskan secara langsung fenomena yang ada padanya. Menyelesaikan buku ini jadi semacam ada yang kurang. Untungnya terjemahannya asik, enak untuk dibaca sampai habis. Terima kasih ya kakak penerjemah. Apa yang kamu lakukan itu… keren. Ngikutin gaya Cinta eh kakak Young Hye di buku ini. Ada perkataan kakaknya Young Hye yang sama dengan kata Cinta di film AADC 2. Dua duanya lagi disakitin lelakinya. Lebih jahat lakinya kakaknya Young Hye tapi.

Yang terakhir dari review buku ini, Vegetarian ialah sebuah dongeng yang gelap, aneh dan menyedihkan tanpa menyisakan sedikit pun ruang untuk bahagia. Bagi yang merasa cocok, buku ini akan membiusmu sampai akhir meski bukan dokter. Apa sih.

Buku ini akan menghipnotismu sampai akhir meski bukan Tommy Rafael. Apa lagi ini.

Buku ini akan mengoyak rasa nyamanmu meski bukan bayangan masa lalu. Apa pula ini. Hentikan!

Buku ini.. Sudah cukup, Hayati lelah bang.

4/5

Read Full Post »

misteriptnggaramMulanya saya tertarik dengan covernya yang cukup artsy, bisa dibilang minimalis tapi asik. Ditambah dengan dengan sinopsis di belakang buku, sudah lebih dari cukup buat saya memutuskan untuk membacanya. Novel pembunuhan ini unik, bahkan sepengetahuan saya belum pernah ada di khasanah pernovelan Indonesia, karena korbannya ditemukan telah menjadi patung garam, tubuhnya diolesi dengan garam sepenuhnya. Garam? Kenapa harus garam? Bukan kecap asin, Nutela, Firdaus Oil, atau yang lainnya?

Kemudian saya baca, dan kampret rebus, novel ini bagus. Akhirnya, terakhir kali saya baca novel thriller lokal yang bagus itu Katarsis nya Anastasia Aemilia. Meski berbeda tema, tapi Katarsis dan Misteri Patung Garam sama sama menghanyutkan.

Surabaya. Seorang pianis wanita ditemukan tewas di rumahnya, terduduk di depan piano, memakai gaun merah, senada dengan rambut palsu yang sengaja dipakaikan oleh pembunuhnya. Seluruh tubuhnya putih oleh lapisan garam. Sebuah simbol aneh tertulis di atas piano menggunakan garam.

“Dia mirip sekali patung.”

“Seluruh tubuhnya ditempeli dengan adonan garam dan tepung yang dicampur air hingga kalis.”

“Sepertinya adonan garam itu mengeras.”

“Tentu saja, sebab pembunuhnya memanggangnya di dalam oven.”

Kasus itu ditangani oleh Inspektur Kiri Lamari yang baru saja ditugaskan di Surabaya. Ia dibantu oleh Inspektur Saut. Inspektur Kiri Lamari dikenal sebagai polisi yang teliti, dan sudah memecahkan kasus yang gagal dipecahkan oleh polisi yang lain. Mereka berdua kemudian melakukan penyelidikan, sementara itu, si pembunuh pun mulai mencari mangsa yang lain. Korban korban berjatuhan. Semuanya berjenis kelamin perempuan dengan profesi yang berbeda beda. Sudah mapan secara finansial, dan dikenal sebagai perempuan baik baik. Mengapa mereka dibunuh? Siapa yang membunuh?

Inspektur Kiri Lamari dituntut untuk menyelesaikan masalah tersebut, dan juga masalah pribadinya dengan ayahnya yang berhubungan dengan kematian tidak wajar ibunya.

Fokus cerita buku ini memang kebanyakan ada di kisah Kiri Lamari, meski tokoh yang lain juga tak luput untuk diceritakan. Buku ini dibagi menjadi prolog, tiga puluh empat bab inti cerita, dan sebuah epilog. Awalnya saya merasa prolognya agak dipaksakan agar sesuai dengan judul, tapi setelah bukunya selesai dibaca, mungkin prolognya ingin sedikit memberi gambaran betapa sakitnya si pembunuh. Di prolognya tertulis, korban dihukum gara gara menyanyikan lirik sebuah lagu tidak sesuai dengan kemauan pembunuh. Lirik lagu milik Oasis, Don’t Look Back In Anger. Korban bersalah karena menyebutkan kata Sally, dan si pembunuh menginginkan Salty, bukan Sally. Padahal lirik yang benar ialah Sally. Tapi karena si pembunuh terobsesi dengan garam, diganti dengan Salty.

Secara keseluruhan, Misteri Patung Garam ialah sebuah thriller yang apik, tokoh tokoh yang cukup memorable dan menggelitik, terutama si Ireng, dan interaksinya dengan Kiri yang selalu membuat tersenyum, juga ada Inspektur polisi sangar yang hoby nonton Despicable Me, (pakai niruin ngomongnya minion pula :D), serta ahli forensik yang demennya dengerin K-pop. Salah satu kelebihan buku ini memang cukup lucu, bahkan ada bagian yang membuat saya tertawa ngakak. Meski itu tak banyak, which is good. Karena tidak sampai merusak ketegangan yang dibangun sejak awal.

Sayangnya, saya agak sedikit terganggu dengan epilognya. Apa buku ini akan dibikin sequelnya? Kalau iya, saya masih bisa memaklumi epilog tersebut, meski bukan hal yang baru. Tapi, kalau memang tidak akan dibikin sequel, mbok ya enggak usah dibikin epilognya. Buat apa? Memang twist, dan bikin orang penasaran, tapi terlalu tiba tiba dan merusak jalinan manis yang sudah ada sebelumnya. Tapi, semoga saja memang akan dibikin sequel.

Akhirnya, Ruwi Meita sudah berhasil membuat thriller lokal yang menegangnya, dibumbui dengan kisah cinta yang tidak berlebihan, humor yang menggelitik, serta interaksi antar tokoh yang natural dan berkesan. Ada beberapa bagian yang agak kepanjangan, misalnya cerita mengenai kisah segi tiga biru, serta epilognya yang menuntut sebuah jawaban, tapi overall, Misteri Patung Garam terlalu menarik untuk diabaikan. Kampret rebus.

Judul: Misteri Patung Garam
Penulis: Ruwi Meita
Penerbit: GagasMedia
Jumlah Halaman:276
Rate:3,9

Read Full Post »

Older Posts »