The Gate

the-gates

Jingga duduk mencangkung di dahan pohon nangka. Tangan kirinya memegang buku. Tangan kanannya mengambil buah rambutan, dan melemparnya ke arah Basman yang berdiri di bawahnya.
Pletuk!
Basman mendongak. Melotot.
‘Bas, sini naik!’ Pinta Jingga.
‘Panggil nama saja bisa kali, enggak usah pakai nimpuk segala.’ Balas Basman sewot.

Tapi, ia naik juga ke pohon.
Jingga lalu menggeser tubunya sehingga Basman bisa duduk di sebelahnya. Di dahan paling besar itu, mereka akhirnya duduk berdua.
‘Kamu dapet rambutan dari mana?’ tanya Basman.
‘Apa, Bas?’
‘Itu rambutan yang buat nimpuk aku. Dapet dari mana, khan ini pohon nangka.’
Jingga menolehkan wajah, menunjuk pada tas kresek hitam yang menggantung. Basman meraih tas kresek itu. Di dalamnya terdapat macam macam buah. Ada rambutan, pisang, jeruk, apel dan semangka utuh.
‘Buah semua nih. Enggak ada gorengannya.’
‘Enggak Bas. Aku lagi suka ngemil buah. Biar wajahku jadi kenceng.’ Sambil berkata demikian, Jingga mencubit pipinya sendiri. Basman mengernyit.
‘Ih, kok ngelihatnya gitu. Suka yaa..’
Basman menaruh tas kresek di pangkuan dan memasang ekspresi muntah. ‘Ini kok adasemangka utuh segala?’ tanya Basman kemudian.
‘Oh itu. Tadinya buat nimpuk kamu Bas, kalau saja kamu enggak noleh pas aku timpuk pakai rambutan.’
Basman menarik nafas panjang. ‘Jingga, untuk satu ini aku punya sebuah lagu buatmu.’
‘Apa Bas?’
‘TEGANYA TEGANYA TEGANYA…HOOOO…’
‘Basman tidak!!!!!!!’

Buku yang dipegang Jingga berpindah dengan cepat ke wajah Basman. Dengan sigap Basman menangkisnya dengan tangan. Bahkan Basman berhasil merebut buku itu. Buku itu berjudul The Gates yang ditulis oleh John Connolly. Gerbang neraka, akan segera terbuka. Basman membacanya dalam hati.
‘Bagus enggak?’
‘Bagus dong. Justru aku mau ceritain buku ini ke kamu.’
‘Sekarang?’
‘Bukan, tahun depan.’
‘Oh, kalau gitu aku pergi dulu ya.’
Tangan Jingga mengepal gemas.’ Ya sekarang lah, Basman pinterrr!!!’
Matanya melotot. Tapi Basman tenang tenang saja. Malahan ia kemudian berkata;
Jingga, kalau kamu melotot gitu. Aku jadi ingat sebuah judul buku.’
Jingga melotot semakin lebar. Tapi kali ini bukan karena marah tapi penasaran. ‘Oh ya, judul buku apa?’
‘Judulnya, mata yang enak dipandang. Kaya mata kamu barusan.’
‘Wahahahaha..’
Jingga tergelak. Senang. Tidak jadi marah. ‘Nanti aku ceritain deh bukunya. Yang nulis Ahmad Tohari. Mau enggak?’
Jingga mengangguk. ‘Tapi nanti ya, sekarang aku mau cerita buku The Gates dulu.’
‘Gini ceritanya’, Jingga mulai bercerita,’jadi ada anak kecil namanya Samuel. Samuel punya anjing namanya Boswel. Suatu hari mereka memergoki tetangga mereka, Mr. & Mrs Abernathy berserta temannya sedang melakukan ritual pemanggilan setan.

Ritual tersebut kemudian menjadi pembuka jalan bagi Sang Maha Dengki untuk datang ke bumi. Sang Maha Dengki itu semacam rajanya Iblis. Akibat ritual itu, Mr. & Mrs Abernathy berserta temannya berubah menjadi bukan manusia lagi. Aku bacain quotenya Bas.

Sebuah tentakel, permukaannya dipenuhi organ penghisap tajam yang bergerak gerak bagaikan mulut mulut, membelit kaki sosok itu untuk sesaat. lalu tersedot ke dalam tubuh utama. Kulit manjadi putih, kuku berubah dari kuning menjadi merah cat kuku.
dan sesuatu yang hampir menyerupai Mrs. Abernathy berdiri di depan mereka.’

Jingga berhenti bicara. Ia ingin melihat bagaimana tanggapan Basman terlebih dahulu. Tidak tahu sedang diperhatikan, Basman asik mengambil buah dari tas kresek. Jingga melanjutkan reviewnya.

‘Kemudian Samuel pulang ke rumah. Ketika ia memberitahu ibunya tentang peristiwa itu, ibunya tidak percaya. Hingga kemudian setan setan itu benar benar datang ke bumi. Samuel pun harus berusaha untuk melawan setan setan itu dibantu oleh dua orang
temang bermainnya, dan Nurd. Nurd itu setan yang tertarik ke bumi secara tidak sengaja. Gitu Bas ceritanya.’

Basman sedikit menolehkan kepalanya. ‘Hm, temanya sudah umum ya. Anak kecil yang menyelamatkan dunia.’
‘Memang, tapi tahu enggak Bas..’
‘Enggak.’
‘Yee, main samber aja. Kan aku belum selesai ngomong. Jadi gini, buku ini bagus. Enak dibaca. Ringan gitu, bukan bacaan yang bikin dahi berkerut.’
‘Pasti ringan lah. Beratnya saja enggak sampai seratus kilo..’
Basman menggantung perkataannya. Ia baru menyadari bahwa ia telah mengucapkan kata yang tidak boleh dikatakan kepada Jingga. Ia tidak boleh menyinggung berat di atas 50 kilo. Lebih satu kilo saja sudah gawat. Apalagi sampai seratus kilo.

Tapi semua sudah terlambat.
‘Oh, jadi menurutmu aku gendut gitu Bas!!’
Basman gelagapan.’ Bb..bukan, maksudku buku itu yang beratnya tidak sampai seratus kilo.’
‘Tuh kan. Malah ngatain berat badanku seratus kilo.’
‘Enggak Jingga manis.’
‘Eh ngatain gendut lagi. Dasar kamu yah Bas!!’

Tanpa kompromi.
Basman pusing. ‘Yang ngatain kamu gendut itu siapaaa..
‘Banyak alasan! Kamu ngajak ribut ya Bas!’
Jingga berdiri di dahan pohon, lalu melancarkan tendangan ke muka Basman. Basman menjatuhkan diri ke tanah. Jingga pun turun. Sambil salto ia mengirim tendangan lagi. Basman menghindar lagi. Jingga melayangkan pukulan bertubi tubi. Begitulah
akhirnya mereka berkelahi. Tapi jangan khawatir, mereka baik baik saja kok. nanti juga baikan lagi.

***

Berhubung sedang berkelahi, maka saya yang akan melanjutkan review The Gate. Ini versi saya. Sebenarnya cukup mengejutkan ketika buku ini ternyata mampu tampil jenaka. Kejenakaan itu muncul dari nama nama setan yang lebay, tingkah laku Nurd
dengan bawahannya di negeri pembuangan, Nurd dengan orang orang di bumi. Bahkan setan setan yang seharusnya mengerikan, malah dibikin kocak dengan tingkah lakunya menghadapi orang orang yang ingin dibunuh. Akibatnya ialah, saya kehilangan momen untuk merasa ngeri, meski ada beberapa adegan yang cukup gore.

Di buku ini juga disinggung mengenai penciptaan dunia, serta CERN, tempat penelitian tentang materi. CERN juga ada dibuku Angel & Demon-nya Dan Brown. Hanya menurut saya, adanya plot CERN ini tidak terlalu berpengaruh terhadap jalan cerita. Mungkin dibuat agar terlihat lebih ilmiah. Tidak tahu juga.

Pada akhirnya The Gate termasuk buku yang menarik, meski tidak ada momen momen yang membekas dalam hati. Buku ini ditulis oleh John Connolly. Ia juga menulis The Books OF Lost Things, sebuah fantasi yang dark yang berhubungan dengan dongeng dongeng dunia.

Judul : The Gates
Penulis : John Connolly
Halaman : 320
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Rate: 3.5

Anya’s Ghost

anya-cover

Haloh..nama gua Anya. Nama lengkapnya enggak usah ya. Ribet nulisnya. Gua aslinya orang Rusia, tapi sekolahnya di Amerika. Gua bukan cewek yang populer di sekolah, temen deket gua aja cuma satu. Namanya Siobhan. Gua juga enggak cantik cantik amat.
Gendut iya. Tapi kata nyokap, gua enggak boleh resah sama kegendutan gua. Nyokap gua bilang gini: Memangnya kenapa kalo kamu gendut sedikit? Di Rusia, gendut artinya kaya. Ya ampun. *Minum antimo segentong*

Tapi keadaan jadi sedikit berubah ketika gua enggak sengaja kecemplung sumur. Salah gua juga sih, jalan sambil ngelamun. Coba gua jalannya sambil goyang itik, pasti ga bakal kecemplung sumur. Palingan dikatain gila doang. Untungnya itu sumur enggak ada airnya. Tapi ada hantunya. Hantu cewek. Namanya Emily. Dia sama sekali enggak seram, dan enggak suka narik narik kaki waktu gua tidur, atau loncat dari lemari. *terkonjuring*
Malah kemudian gua sama Emily jadi teman dekat. Dia bantuin gua nyontek pas ulangan. Terus bantuin gua ngawasin pintu pas gua lagi asik ngerokok di toilet.  Dan yang paing gua demen, dia bantuin gua buat deket sama Sean, gebetan gua. Alhasil, gua akhirnya berhasil jadian sama Sean, lalu menikah, punya anak sepuluh lucu lucu, dan happily efer after, terus gua bangun dari tidur. Mimpi. Sadly, enggak gitu ceritanya.
Awalnya emang gua seneng dibantu sama Emily, tapi lama lama gua malah jadi enggak nyaman banget sama dia. Dan kemudian sampailah saat dimana gua harus mengeluarkan segala kemampuan gua untuk menghadapai Emily. Bayangin aja, gua yang bukan keturunan pengusir hantu, kudu berhadapan dengan hantu. Konspirasi kemakmuran atas kelabilan hati, kalau kata si Vicky mah.

Gua itu ada di buku yang ditulis oleh Vera Brosgol, judulnya Anya’s Ghost. Buku Anya’s Ghost (selanjutnya kita sebut buku gua, gitu ya) pertama kali terbit tahun 2011, dan langsung dapat penghargaan sebagai Best Publication for Young Adults dan Best Original Graphic Publication for Younger Readers. Keren khan ya? Nah, dua tahun kemudian diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh penerbit Mizan Publishing. Setelah dicetak, didistribusikan ke seluruh toko buku. Salah satunya di toko buku di dekat rumah seseorang yang kemudian beli buku gua. Dan, dia ngereview kayak gini:

anay2

Pengalaman saya membaca sebuah novel grafis bisa dihitung dengan jari, baik jarimu sendiri, atau pun jari orang lain, serta jari pasangan masing masing. Kalau punya. Ini artinya saya belum banyak membaca novel grafis. Bahkan buku Anya’s Ghost ini bisa
dikatakan sebagai novel grafis pertama yang saya baca secara utuh. Iya, dahulu kala saya pernah numpang membaca beberapa lembar novel grafis di toko buku. Tapi waktu itu  saya belum punya ketertarikan yang akan menggerakkan tubuh saya untuk membeli buku
itu, meski saya akui, gambar gambar di dalamnya telah memukau pandangan saya sedemikian rupa. Ini aneh. Dan tambah aneh ketika saya baru menyadari keanehan itu bertahun tahun kemudian. Bagaimana bisa sesuatu yang telah membuat saya tertarik, tapi saya tidak ingin membelinya? Tidak masuk akal. Dan sekarang saya malah mencari cari novel grafis itu, yang sudah tak dicetak lagi. Ini seperti kau menemukan orang yang membuatmu bahagia, tapi lantas kau tak berhasrat untuk memilikinya. Ketika kau kemudian merasa kehilangan, orang itu sudah tak ada di sana. Kosong.
anya3
Kembali ke Anya’s Ghost. Yang menarik dari buku ini ialah interaksi para tokohnya yang sering kali kocak. Mereka adalah anak anak SMU yang masih labil. Jikalau bicara tidak pernah dipikir lebih dahulu. Asal saja. Membaca buku ini seperti kita kembali masuk ke dalam masa masa SMU. Banyak yang bikin senyum senyum sendiri kalau dibaca. Dan yang keren adalah terjemahannya. Buku ini diterjemahkan dalam bahasa gaul orang Jakarta. Pakai ‘elo gua‘. Bahkan ada kata ‘anjrit’ segala.
Sangat mudah untuk menyelesaikan Anya’s Ghost. Karena jalan cerita yang tidak terlalu rumit, plus sedikit twist menjelang akhir cerita. Juga karena dialog dialognya yang realistis, dan fleksibel. Tidak lebay dan tidak kaku. Dengan kata lain, bahasanya mengalir. Tapi bukan mengalir seperti sungai yang menenangkan, tapi seperti air keran di bak mandi yang lupa ditutup. Lebih ‘hidup’.
Somehow, buku ini mengingatkan saya dengan Lupus. Rasanya sama.

Cowo:Suara lu kedengeran seksi. Lu cantik nggak? Anya: Cantik buanget. Lebih cantik dari yang lu bayangin.

Cowo:Suara lu kedengeran seksi. Lu cantik nggak?
Anya: Cantik buanget. Lebih cantik dari yang lu bayangin.

Yap, itu dia reviewnya dari mamang yang sudah beli buku gua. Bagus khan? Maksud gua bukunya yang bagus, bukan reviewnya. Kalau reviewnya sih biasa aja. Awal awal review malah rada ribet bahasanya. Lagi mikir apa kali. *Kibas poni*
Jadi intinya buku gua itu bagus, enggak ribet, enak buat dibaca, ringan, enggak berat kaya badan gua. Cocok buat dibaca siapa saja. Eh, tapi yang masih dibawah umur mungkin perlu didampingi orang tua kali ya, secara ada yang kata katanya termasuk kasar gitu. Dan juga perilaku gua yang tidak baik untuk dicontoh oleh generasi muda Indonesia. Cielah.

Judul: Anya’s Ghost
Penulis: Vera Brosgol
Penerbit: Mizan Publishing
Rate: 4

[Review] The Ring Of Solomon

barti

Sebelum kenal dengan Bartimaeus, selanjutnya akan saya tulis Barti saja *1), saya hanya kenal dengan dua jin. Pertama jin biru milik Aladin, sedang yang kedua jin kakek kakek dalam sinetron Jin & Jun yang memaksa dirinya untuk dipanggil Om Jin. Kedua jin itu memiliki satu persamaan; keduanya rela melakukan segala perintah masternya dengan sukarela. Berbeda dengan Barti. Ia melakukan segala perintah masternya dengan terpaksa. Tepatnya karena ia tidak punya pilihan lain. Karena hal yang buruk akan terjadi pada Barti apa bila ia tidak menaati perintah masternya.

Tapi kemudian sosok Barti menjelma menjadi tokoh fiksi yang menempati urutan pertama kategori favorit pilihan diri saya sendiri. Saya masih ingat *2) betapa asiknya membaca buku Barti sebelumnya yang dikenal dengan sebutan Trilogy Bartimaeus. Betapa cepat waktu berlalu. Rasanya seperti baru lima tahun yang lalu. Padahal saya baca Trilogy Bartimaeus sekitar tahun 2007.
Dan jujur saja, ada sedikit rasa kehilangan ketika saya menyelesaikan Trilogy Bartimaeus. Tokoh Barti telah benar benar mencuri hati saya. Tahu alasannya? *3) Karena karakter Barti begitu unik. Mendobrak pakem jin yang telah mengendap di dalam otak saya. Barti itu susah diatur, percaya diri yang berlebihan, narsis maksimal. Tapi ia juga cerdik, dan saya merasa ada kebaikan di dalam dirinya. Barti juga lucu. Meski ia sama sekali tidak bermaksud untuk melucu.

Itulah mengapa ketika tahun ini Jonathan Stroud kembali mengeluarkan buku Barti, saya langsung senang sekali. Saya sampai tidak doyan makan kalau belum lapar, dan susah tidur kalau tidak ngantuk. Buku ini diberi judul The Ring Of Solomon. Kisah dalam buku ini terjadi sebelum peristiwa di buku Trilogy Bartimaeus terjadi. Semacam prekuel. Jadi bagi kalian yang belum membaca ketiga buku sebelumnya tapi ingin langsung membaca buku ini, no problemo. Tidak masalah.

The Ring Of Solomon mengambil setting di Jerusalem pada masa pemerintahan Raja Solomon. Beliau memiliki sebuah cincin yang sakti andraguna yang akan mengabulkan semua permintaan beliau dalam sekejap mata. Hal ini terjadi karena dalam cincin itu terdapat sebuah entitas atau makhluk yang amat teramat sakti sekali *4). Tentu saja kesaktian cincin itu mengundang beberapa orang ingin mencurinya dari Raja Solomon. Dalam menjalankan pemerintahannya, beliau dibantu oleh dewan penyihir. Salah satunya bernama Khaba. Khaba inilah yang menjadi master Barti. Master ialah orang yang memanggil jin, dan permintaannya harus dituruti. Khaba dikenal sebagai penyihir yang kejam. Barti, dan makhluk gaib lainnya *5), cenderung membenci Khaba dan dengan senang hati akan memakannya jika mampu dan punya kesempatan. Khaba juga memiliki bentuk fisik yang aneh, dan bayangan yang mencurigakan. Bayangannya bisa membesar. *6)
Suatu ketika, Barti membuat kesalahan di depan Raja Solomon. Karena Barti adalah budak Khaba, maka Khaba otomatis juga ikut dihukum. Mereka diperintahkan oleh Raja Solomon untuk menumpas gerombolan perampok di sebuah gurun pasir yang akhir akhir ini meresahkan warga.  Suatu hal yang dibenci oleh Khaba, karena hal itu berarti ia semakin jauh dari Raja Solomon.

Di sisi lain, tersebutlah seorang ratu Sheba yang merasa sakit hati kepada Raja Solomon karena utusannya telah mengancam negerinya akan dihancurkan kalau tidak membayar upeti. Sang ratu kemudian mengutus Asmira, pengawal pribadinya dalam sebuah misi rahasia yaitu membunuh raja Solomon. Kemudian tangan nasib pun memmpertemukan Barti dengan Asmira. Mereka bertemu dalam sebuah pertempuran di gurun. Mulanya mereka saling bermusuhan. Hingga kemudian. sifat Asmira yang lugu dan terlalu fanatik kepada ratunya, tapi juga seorang petarung yang handal membuat Barti tertarik. Dan tentu saja, ada lagi satu alasan utama yang membuat Barti mau menjadi ‘teman’ Asmira.
Nah, berhasilkah rencana Asmira? Apakah Khaba akan membiarkan budaknya bertingkah semaunya sendiri, dan apa sebenarnya tujuan Khaba sebenarnya? Apa sebenarnya yang ditwarkan Asmira sehingga Barti mau membantunya untuk membunuh Raja Solomon yang sakti itu?

Kesan pertama ternyata buku ini adalah lucu. Dari awal sampai akhir. Terutama yang berhubungan dengan Barti. Kelucuan ini pun lantas membuat aspek aspek yang lain menjadi tidak terlalu diperdulikan. Kelucuan inilah yang menurut saya paling menonjol dari pada buku ini. Bukan cerita. Karena apabila dibandingnkan dengan ketiga buku sebelumnya, cerita The Ring Of Solomon lebih ringan. Seperti dongeng nina bobo. Tak ada adegan yang sanggup menyentuh perasaan, dalam hal ini perasaan sedih yang sanggup menyentuh hatimu hingga kamu akan berhenti sejenak dan matamu menjadi sedikit hangat. Tapi semua itu terbayar dengan, yah itu tadi, kelucuan. Kelucuan yang ditimbulkan oleh perkataan Barti, atau aksi komikalnya yang dipicu oleh kadar kepercayaan dan kenarsisan yang terlalu berlebihan.

Misalnya Barti ketahuan menghina Raja Solomon melalui sebuah nyanyian. Dalam lirik nyanyian itu disamping isinya merendahkan Raja Solomon, juga diselipkan lirik memuji diri sendiri ‘Bartimaeus paling hebat’ yang diulang berkali kali. *7) Kemudian yang tidak kalah serunya ialah mengikuti hubungan antara Barti dan temannya sesama jin, Faquarl. Faquarl bisa dibilang lebih kejam daripada Barti. Tapi tidak berarti lebih hebat. Kejam dalam artian ia tak segan segan memakan manusia jika ada kesempatan. Nah, Faquarl dan Barti sebenarnya tidak terlalu suka berteman, tapi keadaanlah yang memaksa mereka berdua menjalin hubungan. Mengasikkan sekali melihat akward chemistry di antara keduanya. Keduanya seringkali berbeda pendapat, tapi disitulah menariknya. Misalnya dalam sebuah adegan ketika keduanya sedang membangun sebuah kuil.

“Lihat lihat dong kalau menjatuhkan serpihan batu,” bentak Faquarl. “Hujan serpihan barusan menimpa leherku.”

“Sori.”

“Dan sebaiknya kau mengenakan rok yang lebih panjang. Aku jadi takut melihat ke atas.”

Aku berhenti memahat. “Aku hanya mengikuti mode terkini.”

Seandainya kamu terhibur dengan quote di atas, maka percayalah, hal seperti itu banyak di buku ini. Tapi jika kamu menganggapnya biasa saja, jangan kawatir. Karena apabila ditinjau dari segi cerita, buku ini masih sangat layak untuk diikuti. Ditulis dengan beberapa sudut padang para tokoh di dalamnnya, menjadikan misterinya lebih terasa karena terkadang ketika sedang tegang tegangnya, tiba tiba harus berganti ke tokoh lain, yang tentu saja menjadi sedikit tertunda ceritanya. *8) Dan lima ratus dua puluh empat halaman pun dengan cepat terselesaikan.
Pada akhirnya The Ring Of Solomon barangkali masih belum mampu menandingi tiga buku sebelumnya, tapi sudah cukup menuntaskan kerinduan pada sosok Barti. Dan akan kembali menunggu buku berikutnya terbit. Entah kapan. Empat bintang untuk buku ini. *9)

Judul: The Ring Of Solomon, diterjemahkan menjadi Cincin Solomon
Penulis: Jonathan Stroud
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman:524

catatan kaki:
*1) Tadinya mau saya tulis Bartigagahcelaluw, tapi terlalu alay, dan kepanjangan juga. Yang panjang panjang belum tentu yang terbaik.
*2) Samar samar. Beradu dengan ingatan tentang seseorang. *tengadah memandang langit*
*3) Ini retoris. Tidak perlu dijawab.
*4) Kalau ingin lebih diperjelas, bisa ditambahkan dibelakangnya: yakinlah sumpah ciyus enelan.
*5) Makhluk gaib disini bukan tuyul, wewe gombel, genderuwo, kuntilanak, pocong, atau kolor ijo. Tapi berupa imp, foliot dan jin. Penjelasan lengkapnya ada di dalam buku.
*6) Tapi tetap hitam. Bukan pelangi. Siapa tahu ada yang berpikiran seperti itu. Yah siapa tahu, namanya juga manusia.
*7) Sebuah pelajaran kehidupan, kalau menghina orang jangan sambil narsis. Catet!
*8) Hm, kalimatnya memang membingungkan. Tapi kita lihat contohnya:
Mawar (bukan nama sebenarnya)
Mawar mendekati Udin dengan pelan. Tangannya memegang parang. Di belakang Udin, Mawar mengayunkan parang itu ke leher Udin.

(sampai di sini tokoh yang bercerita berubah menjadi Udin.)
Udin (juga bukan nama sebenarnya)
Udin duduk di kursi sambil mengisi TTS. Ia tertahan di pertanyaan nomer 39 mendatar: Nama hewan yang paling romantis dan ditunggu para pasangan. Tiba tiba ia merasa lehernya dihantam sesuatu. Trang!! Suara parang jatuh. Udin menengok ke belakang. “Kamu ngapain? Aku kan robot.”
*9) Cuma mau tanya aja sih, kira kira setelah menulis review ini kira kira kadar ketampanan saya tambah berapa persen?

[Review] Rumah Kopi Singa Tertawa

Judul: Rumah Kopi Singa Tertawa
Penulis: Yusi Avianto Pareanom
Jumlah Halaman: 172 halaman
Penerbit: Banana

Rumah Kopi Singa Tertawa. Eww, apaan tuh yak? kira kira kaya gitu deh, reaksi awal saya ketika pertama kali baca judul. Aneh. Semakin aneh karena saya malah jadi keingetan judul film horseks Hantu Puncak Datang Bulan. Keduanya punya judul yang sekilas kagak
nyambung sama sekali. Untungnya, dari segi kualitas Rumah Kopi Singa Tertawa jauh mengungguli film horseks tersebut. Kemudian saya mulai mencoba menebak apa sebenarnya arti dari judul absurd itu.

Tebakan pertama, Rumah Kopi Singa Tertawa, bisa berarti sebuah rumah kopi yang di dalamnya ada singa yang lagi tertawa. Jadi kalau kamu kebetulan lagi minum kopi di situ, jangan kaget kalau menjumpai singa yang lagi duduk ngopi ngopi, sambil tertawa. Aum..aum..aumumuum..<=== kira kira kaya gini ketawanya.
Tebakan kedua, Rumah Kopi Singa Tertawa bisa berarti sebuah rumah yang jual kopi khusus buat singa, manusia dilarang masuk. Karena khusus buat singa, tentu saja di dalamnya bakal ada singa singa yang tertawa. Jadi kalau kamu ingin minum kopi di sana, pasti
tidak boleh.
Penjaga: kamu tidak boleh masuk. Ini khusus singa!
Kamu: *brb berubah jadi singa* udah boleh masuk kan?
Penjaga: Tetep gak boleh!
Kamu: Lho, kan udah jadi singa.
Penjaga: Tapi hari ini khusus singa betina doang. Kamu kan jantan. Mending beli kopi di toko sebelah aja tuh!
Kamu: Gak jadi deh. Mo gantung diri ajah!! *ngambek*

Rumah Kopi Singa Tertawa sebenarnya sebuah kumpulan cerpen dari penulis Yusi Avianto Pareanom. Di dalamnya terdapat 18 cerpen, termaasuk cerpen Rumah Kopi Singa Tertawa yang sekaligus menjadi judul buku ini. Tidak usah panjang lebar lagi, markitbahsatsat, alias mari kita bahas satu satu. Setuju? Yang setuju angkat tangan. Yang tidak setuju angkat barbel.

Tapi, setelah dipikir pikir, kalau semuanya dibahas, nanti jadi kepanjangan. Sedikit saja kalau begitu. Jadi, intinya semua cerpen di buku ini, bisa bikin tertawa sekaligus mikir. Cerpen Cara Cara Mati Yang Kurang Aduhai misalnya. Ada banyak kematian di sini, tapi dibawakan dengan cara yang jenaka. Sampai sampai membuat saya sedikit merasa berdosa, sebab dengan enaknya menertawakan nasib buruk orang lain. Lain lagi cerpen Dosa Besar no 14. Bercerita tentang Malik, yang sedang menulis daftar dosa yang pernah ia lakukan sepanjang hidupnya. Lalu, dosa apakah yang menempati posisi 14 itu? Selain menggelitik, cerita ini juga sedikit mengingatkan saya akan dosa dosa saya sendiri. Jika ditulis satu persatu, berapa banyak dosa saya? Ah, tak mampu saya bayangkan…
Dan, cerpen Rumah Kopi Singa Tertawa, menurutmu memang ada singanya atau tidak? Tapi,saya beritahu, cerpen ini unik, dan aduhai.

Buku ini lucu, sekaligus kritis dengan caranya sendiri. Ada beberapa isu isu sosial yang dihadirkan dengan pas, tanpa ada kesan menggurui, yang ditulis dengan gaya penceritaan yang begitu enak buat dibaca. Kemudian ditutup dengan ending yang mengguncang. Pada akhirnya, Rumah Kopi Singa Tertawa telah membuat saya tertawa dengan cara yang aduhai.

Rating 5 out of 5