Just So Stories

Jpeg

Apa kamu tahu mengapa gajah hidungnya panjang? Ceritanya begini. Pada suatu waktu, hiduplah seorang laki laki yang miskin. Ayah ibunya miskin. Istri pertamanya miskin. Istri keduanya ikut ikutan miskin. Anak laki laki itu punya asisten pribadi yang juga miskin. Ia juga punya tukang kebun, yang juga ikut ikutan miskin. Pokoknya semuanya miskin. Suatu hari, laki laki itu pergi ke gunung mencari batu akik. Di tengah perjalanan, kebetulan ia bertemu dengan seekor gajah. Lalu laki laki itu bertanya kepada gajah mengapa hidungnya begitu panjang. Si gajah pun menjawab sambil tersenyum; sudah dari sananya, Dik. Sejak saat itu, laki laki itu pun tahu alasannya mengapa si gajah hidungnya panjang.

Begitulah ceritanya, mengapa gajah hidungnya panjang. Ternyata sudah dari sananya. Heuheuheu. Tapi kalau kamu tidak puas dengan cerita ini, kamu bisa menemukan cerita yang lainnya. Carilah cerpen dengan judul Kisah Si Anak Gajah.

Sudah pernah lihat unta? Apa kamu ingin tahu dari mana unta mendapatkan punuknya? Jaman dulu kala, punggung unta masih mulus dan rata. Suatu hari seekor unta sedang berjalan di pasang pasir. Tiba tiba ia menemukan botol kecap. Si unta yang suka main bola kemudian menendang botol kecap itu hingga pecah. Lalu dari botol kecap itu keluarlah putri yang cantik. “Oh kuda yang baik, terima kasih sudah menolong aku”, kata si putri. “Saya bukan kuda, tapi unta,” jawab si unta meralat.

Tapi putri itu keukeuh bilang bahwa itu kuda. Mungkin kelamaan di dalam botol kecap membuat otaknya sedikit kongslet. “Kamu itu kuda, bukan unta!”

“Saya unta keles.” Unta juga ikut ngotot.

“Kamu tuh kuda, kamu tuh enggak ada bedanya sama kuda, tahu!”

Demi menuntaskan perdebatan, si unta kemudia berusaha agar ia beda dengan kuda. Si unta mengepalkan dua kaki depannya, merapal ilmu kanuragan yang baru saja ia pelajari. Dan, pluk! Dari punggungnya muncullah tonjolan dua biji. Dengan peluh membasahi dahi, unta berkata kepada putri; “lihat, aku sudah beda kan dengan kuda?”

Si putri mengangguk, kemudian pamit pulang. Si unta kemudian ingin mengembalikan punggungnya seperti semula. Tapi tidak bisa. Karena tekniknya ternyata berbeda. Sejak itulah unta punya punuk di punggungnya. Begitulah ceritanya, darimana unta mendapatkan punuknya. Tapi kalau kamu masih menginginkan kisah yang lain, kamu bisa membacanya di cerpen Bagaimana Unta Mendapatkan Punuknya.

Apa kamu juga ingin tahu kenapa ikan paus tidak memakan manusia? Kisahnya bergulir sewaktu ikan paus masih hidup di darat. Suatu hari, seekor ikan paus melihat ada pesawat jatuh di hutan. Semua orang tewas, kecuali bayi perempuan. Merasa iba, si ikan paus lalu merawat bayi itu. Bayi itu diberi nama Tarsanda. Bertahun tahun kemudian, ikan paus memutuskan hidup di laut. Perpisahan pun terjadi. “Selamat tinggal, paus. Paus teman Tarsanda.”,kata Tarsanda. Itulah sebabnya mengapa paus kemudian tidak memakan manusia. Karena manusia mengingatkannya kepada si Tarsanda. “Tarsanda teman paus. Paus teman Tarsanda.”

Begitulah ceritanya. Paus tidak memakan manusia karena mereka berteman. Teman seharusnya tidak makan teman. Betul tidak? Tapi, kalau kamu ingin versi yang lain dari cerita paus, kamu bisa membaca cerpen Kenapa Paus Tidak Bisa Memakan Manusia. Ada di urutan pertama buku kumpulan cerpen Just So Stories karangan Rudyard Kipling.

Just So Stories, atau Sekadar Cerita memang kumpulan dongeng yang berusia sangat tua, ditulis oleh penulis yang juga menulis The Jungle Book. Kisah kisah di buku ini mengambil tema tema yang barangkali tidak terpikirkan oleh kita. Misalnya saja mengapa gajah hidungnya panjang, mengapa ikan paus tidak makan manusia, awal mula unta mendapatkan punuknya, bahkan ada sejarah lahirnya huruf huruf alphabet. Total ada dua belas cerpen. Sebagian besar tema ceritanya memang berkisar mengenai awal mula, kejadian kejadian yang menimpa hewan hewan sehingga mereka berperilaku atau berpenampilan seperti sekarang.

Buku ini mengingatkan saya pada dongeng dongeng lokal, semacam Kancil Nyolong Timun, Bawang Merah Bawang Putih. Oleh karena ini Just So Stories cocok sebagai bacaan untuk adik atau pun keponakan. Ditambah dengan adanya ilustrasi ilistrasi yang menarik di setiap cerita. Salah satu kelebihan buku ini adalah karena ilustrasinya yang sangat nyeni, tidak seperti ilustrasi buat anak anak, tapi tetap seperti ilustrasi anak anak. *hammer*

Jpeg

Kenapa Paus Tidak Bisa Memakan Manusia

Overall, karena ini dongeng, maka banyak hal hal yang tak masuk akal yang terjadi, seolah olah hanya untuk mencocok cocokan supaya hasil akhirnya sesuai dengan cerita. Meski demikian, ada juga cerita yang rasanya dipikirkan dengan masak masak, yaitu cerpen tentang bagaimana huruf alphabet itu di buat. Mengapa huruf A bentuknya seperti itu, huruf B, dan seterusnya. Just So Stories, ialah buku yang harus kamu ambil, seandainya kamu ingin membacakan dongeng untuk adik kecilmu dan kamu sudah tak tahu lagi harus mendongengkan apa. Masa kamu tega mendongengkan kisah cintamu yang menyedihkan itu sama adikmu itu sih?
Judul: Just So Stories
Penulis: Rudyard Kipling
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 158
Rate:3,5

Orang Orang Tanah

orang2tanah

Di bawah pohon, gadis kecil itu berdiri memegang keranjang bambu yang kosong. Angin menerbangkan syal yang melilit lehernya, beserta rambut dan gaun mungilnya yang berwarna merah jambu. Matanya menatap pohon ungu di depannya. Pada batang pohon itu, menyembulah dua pasang mata bercahaya yang menakutkan, seperti mata penyihir Orko dari negeri Trolla. Dua buah apel tergeletak begitu saja di samping kaki si gadis yang mengenakan sepatu pink seperti SNSD.
Ini saya lagi ngomongin cover buku terbarunya Poppy D. Chusfani,berupa kumpulan cerpen Orang Orang Tanah, dimana cover itu bisa jadi merupakan ilustrasi dari apa yang terjadi pada cerita pendek Orang Orang Tanah. Gadis itu namanya Alia. Kalau kamu namanya siapah? #ngokk

Cerita pertama diberi judul Jendela. Dinah menggunakan jendela sebagai media untuk melarikan diri dari kenyataan. Membuka jendela adalah hal yang paling ia sukai. Jendela itu istimewa, sebab ia serupa cahaya. Dinah tinggal bersama ibunya yang kerap dihajar oleh Bang Darwin. Jendela mengangkat tema kekerasan pada perempuan dalam sudut pandang anak kecil.

Ibu mengerang. Darah mengalir di mulutnya. Tangan Dinah berhenti bergerak. Tanpa mengalihkan tatapan ibu,Dinah mengulurkan tangan masuk ke jendela, merasakan angin lembut dan aliran tenaga di sana, seperti sengatan listrik.

Pelarian mengisahkan Lara, gadis remaja yang punya kemampuan khusus; bisa bernafas di dalam air, dan ketangkasan lainnya. Ia tergabung dalam Garda Laut, pasukan elit kerajaan yang bertugas menghalau bajak laut. Lara sepenuhnya mengabdi kepada Ratu penguasa kerajaan. Hingga suatu hari, ibunya menceritakan rahasia yang akan mengubah kehidupan Lara selamanya.
Saya suka ceritanya. Berharap bahwa cerita ini akan dilanjutkan menjadi sebuah novel tersendiri. Karena banyak hal yang menarik untuk diceritakan lebih lanjut lagi.

Ada banyak cara untuk menumbuhkan isnpirasi di kala mood menulis sedang rubuh. Salah satunya ialah dengan menyewa sebuah pondok terpencil di tengah hutan. Tanpa ada siapa pun di seklilingnya. Seperti yang dilakukan oleh tokoh utama dalam cerita Pondok Paling Ujung. Di sana, ia memang menemukan kembali hasrat menulisnya. Bersamaan dengan hal itu, perlahan ia juga diganggu oleh gambaran gambaran mengerikan. Misteri apa yang sebenarnya terkubur di dalam pondok itu?
Pondok Paling Ujung menjadi cerita paling mencekam. Dengan menggunakan pov orang pertama, membuat saya ikut pula merasakan ketegangan yang dialami tokoh aku.

Tiba tiba sesuatu menarikku ke belakang. Aku memekik nyaring dan terempas ke dinding.  Punggungku terbentuk keras, membuat seluruh tulangku berdenyut. Aku berusaha menggapai ke depan, namun tak mampu bergerak. Sangat ketakutan, aku mengeluarkan suara merintih.

Dan, cerita ini juga memberikan pelajaran bahwasanya tidak terlalu bijak seandainya kau memutuskan untuk menginap sendirian di tempat yang terpencil, hanya gara gara ingin mencari inspirasi. Ada banyak tempat untuk mencari isnpirasi. Cari yang sekiranya tidak dihuni oleh makhluk yang mengerikan.

Makhluk mengerikan itu misalnya ada dalam cerita selanjutnya; Bulan Merah. Masih menggunakan pov aku, Bulan Merah bercerita mengenai kegelisahan seorang pemuda yang mendapatkan bisikan malaikat bahwa dunia akan berakhir. Ia bukan pemuda biasa. Ia biasa dikurung di kamar jika malam tiba, dan hidup bersama orang tuanya yang menganut sebuah sekte aneh yang mewajibkan untuk mandi darah hewan jika berbuat kesalahan. Pemuda itu punya kekasih yang juga aneh. Ami, nama kekasihnya,  pernah diundang ke liang Pangeran Penghisap Darah. Suatu malam saat bulan purnama pemuda itu pergi menemui Ami. Tapi, kali ini ia dalam bentuk yang berbeda.

Dewa Kematian. Seorang wanita bernama Venus terbangun tanpa mengingat apa yang telah terjadi sebelumnya. Bersamanya, nampak seorang wanita yang terus saja mengajukan pertanyaan. Perlahan, ingatan Venus pun kembali hadir sekaligus menguak fakta mengerikan mengenai apa yang sebenarnya terjadi padanya.
Salah satu yang saya tak bisa menebak endingnya dengan benar. Misterinya tetap terjaga hingga akhir. Saya terus menebak siapa sebenarnya Venus, dan siapa wanita yang bersamanya sebenarnya itu.

Pintu Kembali dibuka dengan sebuah kalimat yang mengatakan bahwa tokoh utama telah mati. Ini berarti cerita selanjutnya terjadi di alam kematian. Cerita pendek ini mengisahkan tentang Kiran dan pengalamannya di dunia kematian. Di sana, ditemani oleh seekor anjing, Kiran berusaha menemukan sebuah pintu. Meski ia diganggu oleh serigala yang terus mengejarnya.
Cerita ini mungkin sudah bisa ditebak endingnya akan seperti apa. Hanya saja, alasan mengapa Kiran sampai dalam kondisi seperti itulah yang membuat cerita ini jadi lebih menarik.

Lelaki Tua Dan Tikus. Ini juga jadi cerita favorit saya. Bercerita mengenai Sari. Wanita yang sedang mencari pekerjaan. Ia tinggal sendiri di rumah susun. Ia bertetangga dengan seorang lelaki tua yang memelihara tikus. Mulanya Sari merasa risih kepadanya, hingga kemudian sebuah kejadian membuatnya mengubah sikap. Lelaki tua itu bukan lelaki biasa, begitu pula tikus tikus miliknya.
Meski ceritanya cukup ramai, tapi saya malah merasa cerita ini sepi. Mungkin ini karena tokohnya yang memang tak banyak bergaul dengan orang. Hidup di rumah susun yang sempit, dimana kebanyakan tetangga sibuk dengan urusan masing masing.

Sang Penyihir, tentu saja bercerita Keira yang dituduh sebagai penyihir. Sebenarnya Keira orang baik. Ia membantu mengobati sakit orang orang. Bahkan salah seorang pemuda jatuh cinta padanya. Tapi semua itu tak berhasil menghentikan penduduk desa untuk menyerbu rumahnya.  Cerita mengambil setting jaman dahulu, dimana prakter sihir dilarang dengan ancaman hukuman mati.

Buku ini ditutup dengan cerita Orang Orang Tanah. Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, Orang Orang Tanah bercerita tentang gadis cilik bernama Alia yang menginap di perkebunan milik ayahnya yang jauh dari kota. Alia membenci ibu tirinya yang kerap kejam kepadanya. Di perkebunan itu, Alia berkenalan dengan Edi, anak seorang pekerja. Edi bercerita bahwa di satu pohon di tempat itu, hidup orang orang tanah yang akan keluar pada tengah malam. Orang orang tanah itu suka memakan sesuatu yang hidup. Setelah menyaksikan sendiri orang orang tanah, Alia lalu berusaha memanfaatkan mereka untuk mencapai tujuan pribadinya.

Buku Orang Orang Tanah terdiri dari sembilan cerita pendek dengan tema yang cukup random. Menariknya, di antara cerita tersebut ada beberapa yang mengingatkan saya kepada Haruki Murakami dan Hayao Miyazaki. Pada Lelaki Tua Dan Tikus, lelaki tua di sana mengingatkan saya kepada Nakata  di Kafka On The Shore. Kesendiriannya, serta bakat uniknya. Lelaki tua di sini berhubungan dengan tikus, sementara Nakata bisa ngomong sama kucing. Pondok terpencil di hutan mengingatkan saya kepada pondok tempat Kafka tinggal untuk sementara. Dan suasana alam di Orang Orang Tanah sedikit mirip dengan rumah tempat Mei bertemu dengan Totoro di film My Neighbor Totoro.

Pada akhirnya, buku ini tampil cukup legit untuk dinikmati dengan tema yang bervariasi, dan tokoh tokohnya yang cukup unik. Tapi sebaiknya tidak dibaca oleh mereka yang masih dibawan umur, meski covernya terlihat imut. Orang Orang Tanah, sebuah buku yang sayang untuk dilewatkan.

Judul: Orang-orang Tanah
Penulis: Poppy D. Chusfani
Halaman : 200
Penerbit: Gramedia Pustaka  Utama
Rate: 4