Blade Runner 2049

bladerunner2049

Blade Runner 2049 terjadi pada masa ketika orang tak lagi bertanya aslinya dari mana ya?, melainkan kamu asli apa engga?, biarpun kamu adalah makhluk hidup bukan barang dagangan semacam handphone, gundam atau ulekan cabe. Teknologi sudah sedemikian maju sehingga manusia buatan bukanlah sebuah hil yang mustahal. Manusia buatan ini disebut Replicant, dibuat untuk meringankan tugas umat manusia. Seiring waktu, dibuatlah Replicant dengan model yang lebih canggih, sehingga membuat Replicants model lama harus melarikan diri sembunyi karena mereka akan dinonaktifkan alias dibunuh. Para pemburu Replicants disebut Blade Runner. Di film sebelumnya bercerita tentang Blade Runner bernama Deckard, yang muncul juga di film ini. Bagi yang sudah nonton Blade Runner sebelumnya, tentu saja akan menjawab rasa penasaran akan lanjutan nasib beliau.

Di film ini, kita (iya, kita) akan bertemu Blade Runner tipe terbaru yang dipanggil K. K ditugaskan untuk menyelikidi sebuah kasus yang dimulai dengan ditemukannya tulang belulang yang terkubur di bawah pohon. Penyelikidian itu membawanya untuk mencari seorang Deckard yang sudah bertahun tahun menghilang. Selain itu, kasus ini juga menarik minat bos pembuat Replicant yang punya agenda sendiri terhadap kasus tersebut.

Blade Runner 2049, 32 tahun lagi dari sekarang, tapi bumi sudah begitu berubah. Kusam. Lusuh. Muram. Abu abu. Dan dingin. Tumbuhan dan hewan asli menjadi barang langka dan mahal. Di sebuah adegan, seorang tukang loak modern yang dulu mungkin pernah jadi perompak di laut, menawarkan harga yang cukup tinggi untuk sebuah action figure kuda kudaan kecil dari kayu. Mungkin di masa depan, kayu bisa menjadi investasi yang menguntungkan. Ini membuat saya sedih, sebab bumi tak nampak indah dan menyejukkan mata. Keindahan yang haqiqi mungkin tercipta dari pohon pohon hidup dan bernafas, sementara pohon pohon beton hanya menampilkan keindahan semu. Dan dingin. Kalo dilihat atau pun dipeluk.

Ngomongin sedih, enggak nyangka film ini memang membuat saya sedih. Jalan ceritanya punya potensi untuk menggetarkan hati. Saya percaya, seandainya film ini diremake oleh Korea Selatan, bisa jadi akan menjadi film yang menguras air mata, dan sekaligus menguras bak mandi kalau kamu nontonnya sambil nguras bak mandi. Orang kaya mah bebas.

Jadi dimana sedihnya? Jawabnya ada di ujung langit.. kita ke sana dengan seorang anakk…

Sudah ya.

Kesedihan itu terletak pada kisah cinta yang tumbuh mengambang di sungai kehidupan K dan Joi, aplikasi hologram yang mengurusi keperluan hidup K. Jadi Joi ini semacam asissten pribadi yang bisa disuruh apa saja. Menyediakan keperluan si majikan. Makanya di masa depan, lagu Caca Handika yang ‘masak masak sendiri, cuci baju sendiri‘ itu sudah tidak relevan karena jomblowan yang budiman bisa memiliki Joi. Kekurangannya cuma satu, doi hologram alias bayangan doang. Jadi kalau mau megang, ya megang angin. Mau meluk, meluk angin. Mau cium, cium angin. Sedih ya.

Kisah cinta K dan Joi memang tidak terlalu banyak rintangan, tapi bukan berarti berjalan dengan mulus. Padahal keduanya nampak cocok satu sama lain. Meski berbeda.

Kesedihan yang lain ada pada sebuah kisah pencarian keluarga yang lama berpisah oleh keadaan. Perpisahan yang tidak diinginkan. Tapi, memangnya ada perpisahan yang diinginkan? Semua perpisahan tidak diinginkan oleh siapa pun kecuali pisahnya sambel dengan semangkuk bakso; sambelnya dipisah ya bang!

Jadi laper.

Rasa sedih ini ditambah dengan scoring yang pas, haunting tapi enak buat didengarkan. Nah, jadi di Blade Runner 2049 ini ada romansa cinta laki laki dan perempuan sekaligus cinta keluarga. Korea Selatan kan biasanya paling jago yang beginian ya. Betul tidak?

Blade Runner 2049 meski durasinya dua jam setengah tapi sama sekali enggak bosan untuk ditonton. Tapi tentu saja ini masalah selera. Kalau kamu ingin nonton film yang banyak aksinya maka lebih baik jangan nonton. Boleh dibilang ini film drama misteri dengan setting masa depan yang melibatkan manusia tiruan mengendarai mobil terbang. Denis Villeneuve, sekali lagi, tidak membuat saya kecewa. Baiklah, akan saya tutup review film ini dengan salah satu quote bagus yang kira kira bunyinya begini: Sometimes to love someone, you have to be a stranger. Nasibmu Pak.

Advertisements

Misteri Peti Mati 2

misteri-sebuah-peti-mati2

Kisah Ajun Komisaris Bursok mengungkap teror peti mati terus berlanjut. Korban korban sudah berjatuhan. Kecurigaan Bursok terhadap Herman, suami Juarsih yang mayatnya dibawa lari peti mati, semakin bertambah. Keadaan semakin runyam ketika anak buahnya ditemukan tewas tertembus peluru ketika sedang mengintai Ranggadi, petani tua yang dicurigai  terlibat dalam kejadian peti mati itu.

Di sisi lain, benang benang kusut mulai terurai. Bursok mulai memahami maksud dari semua kejadian itu dengan dibantu oleh Linda dan kakeknya yang bernama Abimanyu. Abimanyu ternyata seorang yang punya ilmu gaib. Melalui dirinyalah kemudian terangkai cerita mengenai tragedi cinta dan perebutan kekuasaan di masa lalu yang sekarang akan berlanjut lagi menimpa anak keturunannya.

Dibagi menjadi 2 buku, Misteri Sebuah Peti Mati tidaklah berubah menjadi buku yang panjang dan melelahkan. Pacenya berlalu dengan cepat. Ada banyak misteri yang menunggu untuk dipecahkan. Tentang siapa korban selanjutnya, apakah alasan sebenarnya dibalik pembunuhan itu, serta misteri misteri yang tak kasat mata; rahasia mengejutkan tentang monyet monyet desa Cikeruh, sosok penunggang kuda, dan lainnya.

Wujud leher serta kepala ular berwarna merah membara, dengan moncong yang menganga terbuka. Memperlihatkan sepasang taring runcing serta juluran lidah yang juga merah membara. Yang terus turun memanjang sampai mendekati janin di rerumputan. Dimana moncong sang ular membuka lebih lebar. Lalu dengan cepat dan sangat tiba tiba, bergerak mematuk. Mematuk sang janin tak berdaya.

Dan seperti buku Abdullah Harahap yang lain, selain mistis, buku ini juga mengandung erotisme yang lumayan banyak. Ada beberapa adegan panas, serta kata kata berlebihan yang menjurus, meski seharusnya bisa ditulis biasa saja.

Secara keseluruhan, Misteri Sebuah Peti Mati (1&2) adalah sebuah buku yang menghibur, penuh misteri dan hal hal gaib yang tak masuk akal, ditambah dengan penyelidikan polisi membuatnya seperti cerita detektif, dan  adegan panas yang menyatu dengan cerita, tidak dibuat buat hanya untuk sekedar fan service belaka. Dan buku ini tidak bikin merinding, tapi penasaran pada hal hal ganjil yang ada di dalamnya.

Judul: Misteri Sebuah Peti Mati 2
Penulis: Abdullah Harahap
Penerbit: Paradoks
Jumlah Halaman: 517
Rate: 4

 

The Cuckoo’s Calling

dekutburugnkukut

Lula Landry ditemukan tewas terjatuh. Polisi menetapkannya sebagai bunuh diri. Beberapa bulan kemudian, John Bristow, kakaknya mendatangi Cormoran Strike, seorang detektif partikelir, untuk mengusut kematian Lula Landry sebab ia kukuh pada pendiriannya bahwasanya adik perempuannya itu mati dibunuh.

Cormoran Strike, yang sedang paceklik uang akhirnya menyetujui permintaan John Bristow. Kemudian, Strike pun mulai menyelidiki penyebab sebenarnya kematian model terkenal itu dibantu oleh karyawan sementaranya, Robin Ellacott.

Apakah Lula Landry mati dibunuh, atau memang murni bunih diri?

Satu pertanyaan besar itu terus saja berputar mengelilingi kepala, bersamaan dengan beberapa pertanyaan kecil, misalnya apakah alasan Robin mendadak berhenti kuliah psikologi? Apakah akan tumbuh benih benih cinta antara Strike dan Robin? Dan, apakah rambut Strike benar benar seperti jembut?

Novel ini dikarang oleh Robert Galbraith, tapi semua tahu belaka bahwa itu adalah nama samaran milik JK Rowling. Sebagai sebuah novel criminal, The Cuckoo’s Calling tampil dengan tempo yang lambat. Tapi masih dapat untuk dinikmati tanpa rasa bosan.  Robert Galbraith menuliskannya dengan deskripsi yang mampu memikat saya dari awal. Sehingga seperti apa pun jalan ceritanya nanti, tetap bisa saya nikmati.

Kemudian, saya juga menemukan ada beberapa terjemahan yang terbaca lumayan ganjil, dan bikin senyum senyum sendiri.   Tapi saya tak terlalu suka dengan ukuran bukunya yang terlalu besar (mungkin Guy Some akan suka).  Jadi kurang nyaman buat dibawa bawa.

Pada akhirnya, buku ini sedikit kurang mempermainkan emosi pembaca, rasa penasaran yang terbentuk biasa saja, tapi  justru tokoh tokoh di dalamnya mampu tampil tak terlupakan.

Judul: The Cuckos’s Calling / Dekut Burung Kukut
Penulis: Robert Galbraith
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 517
Rate: 4

[Review] Misteri Kalung Setan

misteri_kalung_setan

“Ceritakan padaku tentang kolang kaling!”  pinta seorang wanita.
Kemudian si lelaki membacakan tulisan ini:

Anton punya istri namanya Eliza. Anaknya bernama Amelia. Suatu malam Eliza terbunuh dengan misterius. Kalungnya jadi hidup dan mencekik lehernya. Sejak kejadian itu, Amelia mentalnya jadi terganggu. Tak bisa bicara dengan baik, hanya keluar suara; shiisisii..taa..ta….
Kemudian Anton punya istri baru. Ningsih namanya. Punya anak lagi. Solavina dan Rudi. Ningsih gila harta, begitu pula Solavina. Suatu ketika Anton pergi mengambil kalung yang masih melingkar di leher Eliza, istrinya. Malam malam, ia pergi ke kuburan Eliza, membongkar, dan mengambil kalungnya, dan diakhiri dengan mengencingi kerangka Eliza.
Yah, semua itu dilakukan atas perintah dukun sakti, sebagai syarat agar Anton bisa menguasai harta Amelia.
Dan, mulai saat itulah, teror kemudian menghantui kehidupan Anton.

Misteri Kalung Setan ibaratnya kisah perebutan harta dengan bumbu supranatural. Mainannya setan. Sayangnya, tidak ada perkelahian antara setan dan manusia, seperti di buku Abudllah Harahap yang saya baca sebelumnya, Misteri Perawan Kubur. Yang ada hanya manusia yang dimangsa setan, ini pun caranya tidak terlalu kreatif. Mengapa harus berhubungan dengan birahi? Nanggung pula.  Mungkin ini memang disengaja, sebab penulis dikenal sering menyisipkan erotisme ke dalam buku bukunya.

Buku ini tidak berhasil membuat saya ngeri dan takut, tapi pertanyaan pertanyaan yang timbul ketika membaca buku ini sudah cukup untuk menggantikan kekurangan tersebut. Siapa yang membunuh Eliza. Apakah sebenarnya setan yang ada di kalung itu. Mengapa Amelia diberi obat telur mentah, lalu dimakan dengan cangkangnya. Berpihak kepada siapakah setan itu. Dan semua pertanyaan itu terjawab ketika buku ini selesai dibaca.

Kemudian yang menarik lagi ialah bentuk asli setan kalung itu sendiri. Namanya Kolang Kilung. Kalau melihat covernya, bentuknya seperti ular betulan yang mengerikan. Tapi aslinya sama sekali lain.

Ujung yang satu sama besar dengan ujung yang lainnya. Hanya jika salah satu ujung itu terangkat, dan tampak bintik bintik merah kehijuauan, dapat ditebak, ujung itulah kepalanya. Dan ketika ujung lainnya yakni ekornya mengibas ngibas, terdengarlah suara berdesis samar samar dari lubang kecil menganga pada bagian bawah. Lubang duburnya.

Misteri Kalung Setan ialah kisah umat manusia yang takluk oleh nafsu dunia sehingga menghalalkan berbagai cara yang justru menjadi bumerang. Kemudian semua i..


“Cukup!! Mana kolang kalingnya?”, tanya si wanita.
“Kolang kaling?”, si lelaki balas bertanya.
“Iya, kolang kaling!”
“Bukan kolang kilung?”
“Bukaaannn!!” *gebrak gebrak meja*

Judul Buku: Misteri Kalung Setan
Penulis: Abdullah Harahap
Jumlah Halaman:336
Penerbit: Paradoks

Rate

Rate

Review: Misteri Perawan Kubur

misteri_perawan_kubur

Asap mengepul di depan Rena yang sedang memegangi perutnya karena lapar. Lalu muncul monster kue. Bentuknya seperti manusia, hanya saja semua bagian tubuhnya terbuat dari kue yang bisa dimakan.
“Ohayo. Apakah kamu sedang lapar?”, tanya monster kue kepada Rena.
Emm, jawab Rena sambil mengangguk.
“Baiklah, kamu boleh memakan tubuhku.”
Mata Rena melebar. “Benarkah?”
Monster kue berjalan mendekat. “Kamu mau makan yang mana anak manis?”
Rena menatap jari telunjuk kiri monster kue yang berbentuk tumpukan donat kecil berwarna warni. “Aku mau itu!!”
“Kamu mau jari telunjukku?”
“Iya, bolehkah?”
“Boleh saja, tapi sebaiknya kamu memilih yang lain.”
Rena menelengkan kepalanya. “Kenapa?”
“Mm..karena jari telunjukku baru saja kupakai buat mengupil.”
Rena malah tersenyum semakin lebar. “Kamu lucu. Apa di situ masih ada upilmu?”
“Ee..kupikir begitu.”
“Hihihi, tidak apa apa. Aku yakin upilmu pun manis rasanya.”
Monster kue ikut tersenyum. Kemudian memberikan jari telunjuknya kepada Rena. “Ini, silahkan.”
Rena menerima dengan riang. “Arigato!!!”

Bayangkan kamu yang menulis cerita di atas. Kemudian pada suatu hari kamu didatangi oleh monster kue. Kebetulan hari itu kamu
sedang lapar, dan sedang tak ada makanan karena kamu adalah jomblo ngenes yang tinggal sendirian. Apa yang kamu rasakan? Barangkali senang sekaligus heran mengapa tokoh fiksi karanganmu bisa muncul di dunia nyata.
Perasaan seperti itulah yang dialami Ramandita. Suatu pagi, ia didatangi oleh seorang perempuan cantik, yang mengaku sebagai anak
dari Larasati, tokoh fiktif dalam novel horor yang ia tulis. Dalam novelnya, Larasati diceritakan telah mati dibunuh ketika ia sedang
mengandung anaknya. Ajaib, anaknya berhasil lahir dengan selamat.  Anaknya inilah yang lalu pergi menemui Ramandita. Tentu saja
Ramandita tak percaya bahwa perempuan yang menemuinya pagi itu adalah salah satu anak dari tokoh yang ia karang sendiri.

Perempuan itu kemudian meminta tolong kepada Ramandita agar mau membalaskan dendamnya kepada orang orang yang telah membunuh ibunya. Makin pusing lah si Ramandita. Ramandita tidak menganggap serius perkataan perempuan itu. Beberapa hari kemudian, Ramandita yang kebetulan berprofesi sebagai wartawan, diajak bosnya untuk meliput pembunuhan misterius yang
mengerikan. Mayat korban pembunuhan itu hanya berupa kerangkanya saja. Dari keterangan saksi, sebelum dibunuh korban terlihat
bersama seorang perempuan. Seiring berjalannya waktu, Ramandita mulai berpikir bahwa pembunuhan ini ada hubungannya dengan perempuan misterius yang ia jumpai tempo hari. Apakah sebenarnya yang terjadi?

Covernya serem. Mirip poster film horor seks yang beberapa waktu lalu marak di bioskop tanah air. Dan, unsur horor dan seks memang ada di dalam buku ini. Ditambah dengan sedikit roman dan misteri pembunuhan. Sayangnya, unsur horor yang meski tampil dominan, ternyata belum cukup mampu untuk membuat saya merinding ketakutan. Barangkali karena setannya tidak terlalu seram.

Dan tubuh yang menjepitnya sedemikian kuat dan kejam itu bukanlah tubuh si perempuan cantik. Ia tak tahu apa. Kecuali bahwa sosok tubuh itu teramat aneh dan menakutkan. Dari tubuh itu bersembulan keluar tonjolan tonjolan hitam yang menganga bergerigi, lalu menyayat dan menggerogoti tanpa kenal ampun.

Berasa nonton anime :D
Membaca buku ini kemudian mengingatkan saya kepada film vampir china yang dahulu tayang di televisi swasta. Film vampir tesebut
ada scene yang (seharusnya) menakutkan, dan ada pula yang lucu, terutama ketika sedang ingin menangkap vampirnya.
Nah, di buku ini pun demikian. Bagian berantem sama setannya lucu abis. Komikal. Ditambah dengan kemampuan setan itu yang juga
hilarious. Saya jadi membayangkan pertempuran penyihir di Harry Potter. Dan ya, itu adalah bagian terbaik dari buku ini.

Misteri Perawan Kubur memang tidak terlalu menyeramkan seperti covernya, bahkan ceritanya pun agak sedikit kriuk. Kentang. Ya kali bisa begini, pikir saya. Tapi entah mengapa, saya malah justru enjoy. Barangkali karena saya lelah dengan setan setan luar negeri, sehingga keberadaan buku ini sangatlah membantu sebagai hiburan. Selain dijadikan hiburan, buku ini juga bisa dijadikan alat penyejuk ruangan lho. Caranya, tinggal kamu pegang bukunya, terus kipas kipasin deh ke muka kamu.

krik

Misteri Perawan Kubur merupakan karya penulis Abdullah Harahap pertama yang saya baca. Beliau adalah dedengkotnya cerita horor misteri yang sempat booming beberapa puluh tahun silam. Dan, ternyata beliau tidak mengecewakan saya.

 

Judul Buku: Misteri Perawan Kubur
Penulis: Abdullah Harahap
Jumlah Halaman:318
Penerbit: Paradoks
Rating: 3.5

Review Siapa Pembunuh Palomino Molero?

Judul: Siapa Pembunuh Palomino Molero?

Penulis: Mario Vargas Llosa

Jumlah Halaman: 192

Penerbit: Komodo Books

Dalam versi bahasa inggrisnya, setelah sejenak mengintip di amazon.com, kata pertama buku ini ialah sebuah umpatan ‘son of the b***h’, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi ‘kutukupret’, dan entah mengapa gue langsung terbayang wajah Tukul Arwana, lalu gue tertawa. Kutukupret.
Tapi kemudian kejenakaan itu langsung sirna manakala gue membaca kalimat selanjutnya;

Lituma tergagap gagap menahan muntah. “Mereka benar benar menghabisimu, nak.” Bocah itu menggantung pada pohon khurnub tua sekaligus mendelik ke arahnya, dengan posisi yang begitu absurd sampai sampai lebih mirip orang orangan sawah atau bonek karnaval busuk ketimbang mayat. Entah sebelum atau sesudah dibunuh ia dihajar dengan kekejaman tiada tara: hidung dan mulutnya robek, darah kering bergumpal gumpal, mukanya lebam penuh luka sayat dan sundutan rokok. Dan seakan itu belum cukup, Lituma juga melihat mereka juga mencoba mengebirinya, karena buah zakarnya melorot menutupi pangkal paha.

Begitulah kemudian gue akhirnya menyadari satu hal; gue bakal suka banget sama ini buku.  Rasanya seperti bertemu teman lama, terus ia bilang begini; bro, mau duit sekarung gak?

Absurd.

Siapa Membunuh Palomino Molero? ialah sebuah novel yang ditulis oleh Mario Vargas Llosa, yang telah berhasil mendapatkan Nobel Sastra pada tahun 2010 silam. Ini novel misteri pembunuhan pertama yang gue beri nilai nyaris sempurna. Sepanjang halaman buku ini, gue diajak berkeliling mencari petunjuk petunjuk yang sekiranya bisa membantu mengungkap siapa pembunuhnya melalui kacamata seorang Lituma, anggota Guardian Civil (semacam polisi), beserta atasannya, Letnan Silva. Tapi, jangan harapkan ada adegan aksi atau kejar kejaran di sini, karena buku ini lebih menitikberatkan pada kelihaian penegak hukum dalam rangka menginvestigasi saksi saksi, yang dituangkan dalam dialog dialog yang memikat dan blak blakan. Anak kecil dihimbau jangan ikutan baca.
Selain itu, jangan lewatkan usaha Letnan Silva untuk mengambil hati (baca: meniduri) wanita pujaan hatinya bernama Dona Adriana, si gendut pemilik rumah makan dan juga istri seorang pelaut. Letnan Silva tergila gila pada perempuan itu, yang digambarkan oleh Mario Vargas dengan begitu seksi, sekaligus absurd.

meski Letnan mendengar dan mengajak bicara soal pertemuan dengan Komandan Pangkalan Angakatan Udara nanti, segenap jiwa raganya terkonsentrasi pada gerak menggelombang Dona Adriana yang sedang menyapu restoran. Gerakannya tangkas dan gesit, kadang membuat ujung roknya terangkat naik sampai ke atas lutut, menyingkap sepotong paha tebal nan keras.

Jadi, apakah mereka bakal menemukan siapa sebenarnya pembunuh Palomino Molero? Apa motif dari pada pembunuhan itu? Lalu, apakah Letnan Silva berhasil menuntaskan hasratnya?

Tapi yang ia minati cuma Dona Adriana. Ia pun sudah mengakuinya ke Lituma, “Akan kutiduri si gendut itu, sialan.”

Ternyata jawabannya cukup menyedihkan dan sungguh di luar dugaan. Tapi, nasib Letnan Silva dan Dona Adriana lah yang justru terasa banget kejutannya. Antara nelangsa, dan ngakak tak terkira.

Pada akhirnya, buku ini cocok buat anda yang mengharapkan cerita misteri pembunuhan yang lain dari biasanya. Bagi yang suka nonton film, buku ini mengingatkan gue sama film thriler korea Memories Of Murder nya Bong Joon Ho. Atmosfirnya hampir sama, terutama pas openingnya.
Mengenai terjemahan buku ini, bisa dibilang nyaris sempurna, begitu nyaman buat dibaca. Dan, setelah gue baca siapa penerjemahnya, gue paham, ternyata ia adalah orang yang sama yang telah menerjemahkan Rumah Arwah, Daughter Of Fortune (yang juga gue sukai), yaitu Ronny Agustinus. Hanya saja, ada sedikit yang mengganjal yaitu di halaman 144.
Di situ tertulis: “Aku sesuatu yang panas, kopi itu kalau tak ada lainnya, kata gadis itu…

Mungkin maksudnya begini:
“Aku ingin sesuatu yang panas, kopi itu .. dst..

Tapi dari segi cerita, buku ini mantap betulan. Tak heran kalau si penulis memang pantas menyandang Nobel Sastra 2010 itu.

Rating 4.5 aout of 5