Spora

spora

Ketika akan membeli sebuah buku, biasanya ada pertimbangan tertentu. Bisa banyak, bisa juga sedikit. Apa lagi kalau buku itu ditulis oleh penulis baru yang kita tidak pernah kenal sebelumnya. Alasannya tentu bisa banyak. Bisa juga sedikit. Bisa karena design covernya yang menarik. Bisa karena sinopsis di belakang bukunya yang membuat penasaran. Bisa juga karena judulnya. Meski kemudian ketiga hal tersebut tidak menarik, ada yang tetap membeli buku tersebut. Bisa jadi beli buat ditimbun dulu, nunggu waktu yang tepat untuk dibaca, bisa jadi beli karena bisikan gaib, atau bisikan teman, atau bisik bisik tetangga, kini mulai terdengar slaluuu.

Dan alasan saya membeli Spora karangan Alkadri adalah semata mata karena design cover, sinopsis di sampul belakang, dan judulnya yang simple. Ada gambar orang yang setengah telungkup dan dari punggungnya muncul seperti cabang pohon, dengan spora beterbangan dari tubuhnya. Ada kurcaci yang menumpuk harta di gunung. Ada anak sekolah yang menemukan mayat di depan sekolahannya dengan kondisi yang mengenaskan. Dan, ada monster yang bangkit mengancam kehidupan manusia. Terdengar lezat bukan? So, apakah memang selezat yang saya bayangkan?

Ternyata tidak.
Awalnya berjalan dengan baik dan menarik, hingga kemudian saya menemukan satu hal yang barangkali sepele, tapi buat saya waktu itu cukup mengganggu. Yaitu tentang pemilihan kata. Terutama tentang reaksi seseorang ketika sedang menanggapi pembicaraan orang lain. Ada banyak pemilihan kata untuk menggambarkan reaksi orang ketika menerima informasi dari lawan bicaranya. Mengerutkan dahi, menatap tajam, menutup mulut dengan tangan, dan lain lain. Bahkan terdiam juga bisa dijadikan contoh. Tapi di buku ini, nyaris hanya ada satu reaksi; mengangkat alis. Seharusnya ini tidak menjadi masalah, tapi ketika ‘mengangkat alis’ terlalu sering digunakan, bahkan sampai dua kali di halaman yang sama, maka lama lama saya jadi ikut mengangkat alis juga. Untung saja cuma mengangkat alis, bukan mengangkat barbel seperti Agung Herkules.

Kalau itu terjadi hanya pada satu tokoh sih wajar, mungkin itu ciri khasnya dia, tapi itu digunakan di semua tokoh. Dan, waktu itu saya jadi punya ‘pekerjaan’ baru selain menebak nebak jalan cerita, yaitu menghitung kapan ‘mengangkat alis’nya muncul. Dan sampai halaman 40an, ada sekitar 11an. Tapi, untunglah kemudian kata itu jarang muncul lagi di pertengahan cerita.
Kemudian ada satu lagi yaitu ‘mengerling’. Memang sih penempatannya tidak salah, cuma agak kurang tepat. Mungkin hanya saya yang merasa seperti itu, tapi saya telanjur berpikir bahwa kata ‘mengerling’ biasanya dilakukan kepada lawan jenis untuk hal hal yang bersifat romantis.  Jadi ketika ada kalimat Alif mengerling kepada polisi, mengerling kepada Roy, jadi agak sedikit janggal. Kurang terbiasa, mungkin.

 Pada zaman dahulu, hiduplah seorang kurcaci.
Ia tinggal di sebuah gua di dalam gunung.
Gunung yang menjulang tinggi melampaui langit.
Tubuhnya kecil, rupanya buruk, dan perangai pun kasar.
Namun, sang kurcaci memiliki sesuatu.
Sesuatu yang  diinginkan oleh segenap manusia di kaki gunung.

Di suatu pagi, Alif menemukan sesosok mayat yang tergeletak di lapangan sekolahnya. Kepalanya pecah berkeping-keping. Sejak saat itulah, mimpi buruk alif dimulai. Satu persatu orang di sekitar Alif jatuh menjadi korban, mati dalam kondisi mengenaskan tanpa diketahui penyebabnya. Polisi mulai melakukan penyelidikan dan mencurigai keterlibatan Alif. Bersamaan dengan itu, masa lalu Alif yang kelam datang untuk menghantuinya kembali.

Monster itu telah bangkit,
Dan ia takkan berhenti membunuh hingga manusia terakhir mati.

Itu adalah tulisan yang ada di cover belakang. Oh, review saya selanjutnya agak berbau spoiler.
*/SPOILER START

Berdasarkan tulisan di cover belakang, saya mengharapkan porsi cerita kurcaci seimbang dengan kisah Alif, mungkin kurcaci itu pembunuhnya. Monster yang ingin menghabisi umat manusia. Ternyata, kisah kurcaci itu hanya selipan saja. Kisah kurcaci itu ditulis secara terpisah dengan halaman khusus berwarna hitam sebelum bab selanjutnya dimulai. Menarik memang, tapi menurut saya tidak harus dijadikan terpisah seperti itu, kalau nantinya kisah tersebut dikisahkan lagi melalui sebuah percakapan. Percakapan itu juga mengungkap hubungan kisah kurcaci dengan kisah Alif, yang ternyata cuma gitu aja.

Selain itu ada beberapa bagian yang membuat saya bertanya tanya. Pertama ialah sewaktu Alif bertemu dengan monster yang menyerupai bapaknya di rumah Alif. Sebelum monster itu datang, di kulkas ada notes dari ibunya yang member tahu bahwa ibunya sedang menjenguk teh Laras. Setelah monster pergi(Alif bangun), ibunya pulang dan berkata bahwa ia dari mini market. Siapa yang menulis notes di kulkas?
Ada beberapa kemungkinan.
1.    Si monster. Tapi si monster waktu itu hanya bisa hidup di kepala Alif waktu ia sedang tidak sadar.
2.    Ibunya Alif. Mungkin beliau memang menulis notes itu. Jadi sewaktu Alif tidur, ibunya pulang, dan pergi lagi ke mini market.
3.    Alif yang menulis, tapi entah kenapa ia jadi lupa. Mirip kasus di film Modus Anomali.

Kedua, yang membuat saya bingung, dari sekian banyak orang, mengapa tidak ada yang mencurigai ruangan sekeretariat KIR, tempat ditemukannya empat mayat, serta toilet di lantai 3 yang baunya menyengat. Padahal di halaman 8, dikatakan bahwa polisi akan memeriksa seisi sekolah selama 2,3 hari. Padahal hari senin mulai masuk sekolah, dan ada mayat di ruang KIR yang sudah 3 hari dan pasti bau. Polisi baru memeriksa ruangan KIR, setelah ada mayat lagi yang jatuh dari atap setelah pulang sekolah.

Kemudian, masalah sifat dari jamur itu sendiri. Mengapa korban ada yang naik ke atas atap setelah mengurung di toilet sementara empat anggota KIR mayatnya ditemukan tetap di ruangan KIR. Kalau ruangan itu dikunci, bukankah di malam yang sama Sujarwo masuk dan membuka pintu? Juga di hari Sabtu, ada 2 anggotanya yang masuk ke ruang tersebut?
Dan, jamur itu kok terkesan pintar sekali ya. Tahu semua konspirasi mengenai siapa yang membawa jamur itu dari Brazil. Darimana ia tahu semua informasi itu. Apakah ia menyerap informasi dari otak korban? Tapi, para korban tidak punya potensi untuk tahu sampai sedetail itu. Polisi yang jadi korban itu pun bukan polisi tingkat atas, yang menurut  saya tidak tahu menahu masalah itu. Apa jamur itu memang sejenis organisme yang punya intelegensia tinggi?

SPOILER END/*

Selanjutnya adalah ending. Spora punya ending yang tidak saya duga, twist. Biasanya saya suka ending yang seperti itu. Tapi, tidak untuk yang ini. Epilognya memang menceritakan siapa dalangnya, tapi semua muncul terlalu tiba tiba. Tidak ada clue sedikit pun. Biasanya, twist ending selalu punya remeh remeh kecil yang disebar di sepanjang cerita sehingga ketika twistnya keluar, orang akan terkejut,dan mungkin akan bilang; oh, ternyata yang tadi itu.. atau, ‘o, pantes si anu begini’.. tapi buku ini tidak demikian.
Bagian terakhir buku ini memunculkan satu tokoh yang punya peranan besar, tapi jarang diceritakan di  buku. Akibatnya, saya jadi tidak punya perasaan apa apa kebenaran itu terungkap, alias cukup tahu saja. Dan muncul pertanyaan lagi; apa alasan mereka mengambil jamur di Brazil? Apakah untuk membuat senjata biologis? Apakah murni alasan science? Yang jelas sih enggak mungkin ngambil jamur itu buat ditumis. Kalau buat ditumis sih enggak perlu lah jauh jauh ke Brazil, di pasar juga banyak.

Spora juga ditulis menggunakan bahasa yang agak kaku. Dialognya kadang menggunakan bahasa resmi, kadang bahasa sehari hari. Jadi terkesan tidak natural. Masih ada typo, dan penggunaan kata ganti orang yang berubah ubah. Dan, si Alif ini kok rasanya tidak pantas ya jadi tokoh utama. Menyebalkan. Saya jadi ingat salah satu adegan di film Prometheus, ketika ada scientist  bertemu alien yang mirip ular, terus mati dicaplok alien itu. Sama juga dengan Alif. Alif ini type orang keras kepala yang bikin celaka temannya.

Akhirnya, setelah membaca buku ini kesan pertama yang baik akhirnya jadi berantakan. Ada banyak kejanggalan yang saya temukan, di jalan cerita atau pun penulisan. Mungkin  waktu saya membaca ada yang terlewat. Tapi saya suka idenya. Saya jarang menemukan buku lokal yang punya premis seperti ini. Spora punya potensi untuk dikembangkan menjadi sebuah sequel. Dan seandainya memang akan ditulis kelanjutannya, semoga akan jadi lebih baik.

Judul: Spora
Penulis: Alkadri
Jumlah  halaman :238
Penerbit: Moka Media
Rate: 2

Her Sunny Side

sunny

Jadi gini, sebelum nulis review, gue mau cerita dulu ya. Kalau gue koprol dulu kan bisa mumet kepala. Apalagi koprolnya sambil ngerjain TTS. TTS pake sandi rumput pula. Rumputnya rumput gajah. Gajahnya gajah bengkak, dst.
Jadi begini ceritanya…
Basman menyelamatkan rusa dari kebakaran dan membawanya ke tempat yang aman. Si rusa mengucapkan terima kasih, dan meminta pertolongan lagi kepada Basman. “Minta tolong apa?” Tanya Basman.
“Begini, sebenarnya aku bukan rusa betulan. Aslinya aku adalah pangeran. Tapi aku akan berubah jadi pangeran lagi kalau ada yang menciumku. Jadi, kamu mau cium aku?”
“Enggak salah?” Tanya Basman, “biasanya gadis yang disuruh cium.”
“Untuk kasusku, tidak masalah laki laki atau gadis yang mencium. Sama khasiatnya.”
Tapi Basman langsung menolak.
“Kenapa, nanti aku kasih hadiah.”
Basman tetap menolak.
Si rusa terus berusaha. “Enggak pakai nafsu juga enggak apa apa kok.”
“Sialan. Yang nafsu sama kamu itu sapa!”
“Heuheuheuheu.”
“Jangan ketawa!!”
“Ah iya aku baru ingat,” kata si rusa tiba tiba, “ciumnya enggak di bibir kok. Di pantat juga boleh”
“Masa? Tapi, enggak di pantat juga kali”
“Iya, boleh dimana saja. Mau ya. nanti tak kasih hadiah banyak.”
Basman pun mencium si rusa, di keningnya. Dan, munculah asap tebal menyelubungi rusa itu. Basman mundur, dan menunggu dengan sabar sampai rusa kembali ke bentuk semula; menjadi pangeran.

Dua jam kemudian.
Asap itu masih belum hilang. Si rusa belum kelihatan. “Woi, rusa! Kapan kamu berubahnya!”
“Nunggu asapnya hilang dulu.” Teriak si Rusa.
“Kapan itu?”
“Yah, kira kira dua harian lah.”
“Eh, buset. Lama beut.” Basman keki, dan keluarlah sifat alaynya. “bisa jamuran nih aku nunggu.”
“Tidak apa apa. Kalau kamu jamuran, nanti aku sembuhkan.”
“Bukan jamuran seperti itu maksudku.” Basman mulai berpikir si rusa agak kurang daya pikirnya.
“Bukan jamur seperti itu?.” tanya si rusa.
“Bukan. Sama sekali bukan.”
Terjadi keheningan sebentar, dan si rusa bicara lagi. “Aku mengerti.”
“Mengerti apa?” Tanya Basman.
“Kamu akan bosan menungguku. Jadi lebih baik kamu pulang dulu ke rumah. Nanti balik lagi ke sini.”
Mendengar hal itu, Basman menarik kembali anggapannya mengenai daya pikir rusa.
Lalu Basman pamit pergi.
“Hati hati,” teriak si rusa, “salam buat istrimu.”
“Aku belum punya istri.”
“Oh, kalau gitu salam buat anakmu.”
Basman terhenti, apakah rusa ini benar benar bodoh? Tanyanya dalam hati.
“Heuheuheu, aku becanda..” Basman ikut tertawa. Tentu saja ia becanda, pikirnya. Kemudian si rusa berkata lagi, “maksudku aku nitip salam buat cucumu.”
Basman tidak menjawabnya. Pun ketika si rusa berteriak “hei, aku serius, salam buat cucumu ya!”

Dua hari kemudian, Basman kembali ke tempat itu. Asap telah hilang. Berarti si rusa telah berubah jadi pangeran. Basman mencari sosok pangeran itu. Basman melihat ada yang datang dari balik pohon, dan berkata kepada Basman. “Halo, kita bertemu lagi.”
Alis Basman tertarik ke atas. “Siapa kamu?”
“Aku si rusa. Sekarang aku sudah berubah.”
“Itu dusta.”
“Tidak. Aku si rusa yang kemarin kamu tolong.”
Basman menolak kenyataan itu. Di depannya berdiri sosok pangeran yang berbeda jauh dari bayangannya. “K-kemarin katanya kamu akan berubah jadi pangeran?”
“Iya, aku pangeran.”
“T-tapi kamu kan babi?”
“Lha iya, aku kan pangeran babi.”
Basman tak bisa berkata apa apa. Shock.

Maaf kalau ceritanya kepanjangan. Nanti ada terusannya kok. Jadi begini, kondisi Basman sama gue setelah membaca buku ini agak agak mirip. Bedanya, gue enggak ketemu rusa yang bisa ngomong. Bedanya gue enggak lagi di hutan. Persamaanya, sama sama ketemu hal yang tidak terduga, tapi kemudian bahagia. Memang cerita di atas, Basman belum terlihat bahagia, tapi nanti. Semua akan indah pada waktunya, begitu kira kira.
Yang gue maksud dengan ketemu hal yang tidak terduga yaitu gue lagi ngomogin cerita di buku Her Sunny Side. Mulanya memang agak datar, tapi menjelang ending, twistnya buat gue keren. Gue sama sekali enggak bisa nebak. Somehow gue jadi inget Haruki Murakami, sama Hayao Miyazaki.
Pokoknya endingnya sukses menjungkir balikan prediksi jalan cerita yang gue pikir bakal berakhir klise.

Kalau sudah jodoh, nanti bakal ketemu di pelaminan. Kalau enggak jadi pengantinnya, ya jadi tamunya  gitu ya. Ungkapan itu (kayaknya) cocok dengan kondisi Okuda Kosuke yang kembali bertemu dengan teman masa kecilnya, Watarai Mao. Pertemuan itu membuat Okuda Kosuke kembali mengenang ke masa dimana ia dan Mao pernah menjadi teman sekolah. Waktu itu, Kosuke sering membantu gadis itu dalam hal pelajaran, karena Mao tidak terlalu pintar. Tapi 10 tahun kemudian, setelah Kosuke bertemu lagi dengan Mao, gadis itu telah berubah. Keduanya lalu menjadi dekat, dan akhirnya memutuskan untuk menikah.

Tapi, ada sesuatu tentang Mao yang Kosuke tidak tahu. Rahasia Mao pun perlahan terungkap. Dan, kesungguhan cinta Kosuke pun diuji.

Buku yang punya judul asli, Hidamari no Kanojo ini tidak terlalu mengumbar konflik, bahkan cenderung biasa saja. Sebagian besar menceritakan keseharian pasangan baru itu. Mungkin bagi yang mengharapkan kisah yang mengharu biru bakal kecewa. Kisah cinta mereka dituturkan secara sederhana, ringan, dan manis. Buku ini juga sudah difilmkan dengan judul The Girl In The Sun, dimana Watarai Mao diperankan oleh Ueno Juri.

Pada akhirnya, hal yang paling menarik dari buku ini adalah endingnya. Koshigaya Osamu berhasil memberikan kisah cinta yang unik, sebuah slice of life dengan ending yang tiada duanya. Magical, menurut gue. Tapi, gue juga punya pemikiran kalau endingnya itu tergolong love and hate ending. Kalau suka ya bakal suka sekali, kalau enggak suka, bakalan protes; apa sih ini!

Dan yang terakhir, gue mau nerusin cerita Basman. Tinggal dikit.
Basman akhirnya menerima kenyataan, dan memilih pulang. Di perjalanan pulang ia bertemu dengan gadis berambut singa; rambutnya awut awutan mirip singa. Gadis itu menghampiri Basman.
“Kamu lihat rusa?”
Basman berhenti. “Rambutmu kenapa?”
“Aku tanya sekali lagi, kamu lihat rusa?”
“Aku juga tanya sekali lagi. Rambutmu kenapa?”
Gadis itu mendengus kesal. “Jawab dulu pertanyaanku!”
Basman enggak mau kalah. “Pertanyaanku dulu lah.”
“Aku dulu!”
“Aku dulu!”
“Aku dulu!”
“Aku dulu!”

Empat jam lima belas menit dua puluh detik kemudian.

“Aku capek,” kata gadis itu, “baiklah aku aku jawab pertanyaan kamu.”
“Iya, aku juga capek. Aku juga akan menjawab pertanyaan kamu.”
“Aku dulu yang jawab ya.”
“Aku dulu aja yang jawab.”
“Aku dulu!”
“Aku dulu!”
“Aku dulu!”
“Aku dulu!”

Tiga jam dua puluh sembilan menit empat puluh detik kemudian, gadis itu yang pertama menjawab setelah keduanya melakukan suit. Dan, satu jam kemudian mereka mulai akrab. Dan bertahun tahun kemudian mereka tetap bersama sama, setelah gadis itu mengajak Basman untuk bergabung menjadi agen rahasia AAB Corp. Nama gadis itu Jingga.

Judul: Her Sunny Side
Penulis: Koshigaya Osamu
Penerbit: Haru
Tebal: 224 hlm
Rate: 3,75

The Giver

thegiver

Dunia ideal versi Lois Lawry dalam The Giver adalah dunia yang absurd, flat dan hampa. Orang orangnya, meski nampak bahagia, tapi mereka sesungguhnya tidak tahu kebahagian yang sesungguhnya. Seperti robot saja. Apa yang mereka kerjakan sehari hari sudah diatur. Pekerjaan mereka sudah diatur. Bahkan kata kata yang mereka gunakan pun sudah diatur. Misalnya kalau ada orang yang minta maaf padamu, maka kamu wajib menjawab ‘ya aku menerima permintaan maafmu’. Memang sih dengan begitu masalah akan lebih cepat selesai, tapi ya enggak ada seninya aja gitu ya. Dan kalau ada yang melanggar peraturan maka akan diperingatkan melalui speaker, kayak di stasiun kereta; PERHATIAN PERHATIAN…

Tapi yang lebih keterlaluan, mereka sampai tidak kenal konsep warna, dunia mereka satu warna semua, baik itu daun, pohon, dll. Mereka tidak kenal hal hal yang biasa kita temukan, rasakan di dunia kita sekarang. Apa yang terjadi dengan dunia mereka sebenarnya adalah sebuah bentuk proteksi, agar hal hal buruk yang terjadi di masa lalu tidak terulang, agar manusia tidak lagi merasakan sakit, kesepian, ketakutan, kebencian, semua jenis penderitaan apa pun itu.

Mereka melupakan masa lalu. Tapi bukan berarti masa lalu itu hilang begitu saja. Kenangan masa lalu itu hanya diketahui dan disimpan dalam kepala Sang Pemberi. Sang Pemberilah yang memikul beban masa lalu umat manusia sendirian. Merasakan sakitnya, kepedihannya, kemarahannya, juga kehangatan dan kebahagian. Sang Pemberi mengetahi semua sejarah dan kisah kisah, tapi ia tak boleh menceritakannya dengan siapa pun. Kecuali kepada orang yang telah dipilih untuk menjadi penerusnya. Sang Penerima Ingatan. Jonas.
The Giver menceritakan tentang Jonas, anak laki laki ber’usia’ Dua Belas yang telah dipilih untuk menjadi Sang Penerima. Jadi, di komunitas ada sebuah peraturan bahwa setiap anak yang telah menjadi Dua Belas,akan dianggap dewasa dan dipilihkan pekerjaan; ada yang menjadi Dokter, Buruh, Asisten Direktur Rekreasi, bahkan Ibu Kandung. Dan Penerima Ingatan berada pada posisi yang paling penting.
Jonas kemudian berlatih untuk menerima ingatan dari Sang Pemberi. Jonas pun menerima pengetahuan baru yang selama ini tidak ia ketahui. Ia mengenal kehangatan mentari, dinginnya salju, dan seiring waktu ia juga menerima ingatan rasa sakit, kelaparan, kehilangan yang semua itu membuatnya tersiksa karena meski itu cuma ingatan, tapi tubuhnya juga ikut merasakan. Jadi kalau Jonas mendapatkan ingatan kakinya patah, maka ketika ia sadar,kakinya akan sakit sekali. Hal tersebut kemudian mengubah cara pandang Jonas terhadap komunitasnya. Ada yang salah. Sang Pemberi pun menyadari hal tersebut, tapi ia tak punya kekuatan untuk mengubahnya. Namun kemudian keduanya sepakat untuk melakukan sesuatu, meski itu akan membahayakan mereka.

Awalnya tidak terlalu menikmati, ketika cerita berkutat mengenai keadaan Jonas dan komunitasnya, tapi menjadi semakin menarik ketika Jonas mulai berhubungan dengan Sang Pemberi. Interaksi keduanya adalah bagian yang saya suka, terutama waktu Sang Pemberi menceritakan tentang anak yang dahulu gagal menjadi Penerima Ingatan. Lama lama, saya jadi kasihan. Bayangkan bagaimana rasanya menanggung semua ingatan sekaligus. Mungkin tidak masalah kalau hanya ingatan yang menyenangkan, tapi ada juga ingatan yang menyedihkan. Sangat menyedihkan.

The Giver adalah bagian dari tetralogi, dan karenanya endingnya terkesan gantung. Buku ini juga punya cerita yang boleh dibilang tanpa konflik yang berarti (menegangkan) sehingga terkesan datar saja. Kesannya malah jadi muram, demi mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi pada semua orang, dan perasaan Sang Pemberi yang sendirian menanggung beban. The Giver juga sudah difilmkan tahun ini.

Judul: The Giver
Penulis: Lois Lowry
Jumlah Halaman: 232
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Rate: 3,5

[Mini Review] Cermin Api, Kolam Darah dan Persik Raksasa

 

miror&dreamChitra Banerjee Divakaruni sudah menulis buku trilogi, The Brotherhood of the Conch Trilogy. Buku pertama , buku kedua The Miror of Fire and Dreaming, dan buku terakhir; Shadowland. The Conch Bearer sudah diterjemahkan menjadi Keong Ajaib beberapa tahun lampau, dan buku kedua belum lama diterjemahkan menjadi Cermin Api dan Mimpi. Buku ketiga belum diterjemahkan ke bahasa Indonesia.
Baru ada dua buku yang diterjemahin. Hanya saja, dalam waktu yang cukup lama. Hingga saya jadi tidak tahu kalau, buku berwarna ungu yang saya beli waktu itu adalah buku kedua. Barangkali karena saya enggak terlalu tahu buku buku Divakaruni, barangkali karena di sampul buku tidak ada pemberitahuan apa pun mengenai hal tersebut, barangkali karena buku Cermin Api dan Mimpi itu sudah ditakdirkan untuk menjadi milik saya, enggak kayak dia yang jadi milik orang lain *elaahhhh…
Anyway, meski kemudian jadi agak sedikit kecewa, karena saya lebih suka baca buku dari yang pertama dulu kemudian baru yang kedua, tapi pada akhirnya saya harus belajar untuk menerima kenyataan. Pada awalnya memang jadi agak roaming, ketika sekonyong konyong saya harus dijejali informasi mengenai adanya keong ajaib yang punya kekuatan super serta peristiwa peristiwa yang terjadi di buku pertama yang fantastis ( dikerjar penyihir, ular raksasa merah), tapi lama kelamaan saya cukup enjoy bacanya.
Meski enggak enjoy enjoy banget.
Karena sebagai sebuah novel fantasi, ternyata ceritanya biasa saja, tidak ada hal yang wah banget. Ceritanya sendiri meneruskan kisah Anand yang berhasil menyelamatkan Keong Ajaib, dan kemudian suatu hari harus mencuri Keong Ajaib tersebut untuk menolong gurunya, Abhaydatta yang sedang dalam bahaya sekaligus untuk menyelamatkan sebuah negeri dari cengkeraman penyihir jahat yang dibantu oleh jin maha sakti.
Ceritanya terlalu flat, tokoh tokohnya juga tidak ada yang berkesan. Hanya sekedar numpang lewat saja.
Dan, yang jadi pertanyaan saya adalah mengapa buku pertamanya tidak diterbitkan ulang, lalu ditaruh berdampingan di toko buku? Siapa tahu banyak yang beli dua duanya, atau beli yang pertama dulu, kemudian dilanjut beli yang kedua. Rate  2,5/5

 

kolamdarah
Bisa jadi, Kolam Darah ini adalah buku Abdullah Harahap yang menurut saya tidak semenarik buku buku beliau yang lain. Mungkin karena tebakan saya salah. Jadi begini, pertama kali baca judulnya, saya langsung berpikir bahwa buku ini bakal bercerita banyak mengenai kolam darah, dan yang pasti bakal berdarah darah, karena kalau berlele lele, itu namanya kolam lele. Tapi nyatanya tidak seperti itu.
Kolam darah itu hanya sebagai sebuah mimpi si Agus, yang ia yakini sebagai pertanda.
Dalam mimpi ia melihat ayah serta dua saudara angkatnya Maharani dan Rudi terperosok dalam kubangan darah yang menggeliat serta menyedot liar. Lebih liat daripada lumpur atau pasir hidup yang siap menelan hidup-hidup mangsanya yang terjebak. Agus kemudian melihat dirinya nekat terjun ke tengah kubangan darah, berusaha menyelamatkan ketiga orang anak beranak yang sudah setengah terpejam dan mengggapai ribut serte putus asa itu.
Cerita dimulai dengan terbunuhnya ayah angkat Agus dengan kondisi yang mengenaskan. Sementara polisi menetapkan pembantu laki lakinya yang ternyata ayah Agus juga sebagai tersangka. Tapi kemudian kejadian bertambah semakin buruk. Ada sosok misterius yang dicurigai sebagai tersangka dan melakukan kembali pembunuhan pembunuhan anggota keluarga tersebut. Ternyata itu semua berawal dari sebuah dendam masa lalu yang melibatkan sebuah senjata keris maha sakti, keris Nagapati.
Dengan cover kuning ceria, Kolam Darah secara keseluruhan memang tidak terlalu menakutkan. tidak ada bagian yang benar benar berkesan, dan sinopsis di cover belakang menurut saya agak spoiler. Rate 2/5

jamesAda banyak cara untuk berpetualang, dan James Henry Trotter pergi berpetualang menggunakan buah persik raksasa bersama temannya, serangga yang bisa bicara. James yang yatim piatu tinggal bersama dua bibinya yang jahat. Suatu hari, pria tua misterus memberi James sekantong kristal berwarna hijau yang aneh. “Kekuatan dan kejaiban dalam benda benda ini lebih banyak dari pada seluruh keajaiban di dunia dijadikan satu,” kata pria itu.
Tapi James ceroboh, kristal ajaib itu lalu jatuh ke tanah. Akibatnya, di lain hari, munculah buah persik raksasa. Suatu malam, James menemukan sebuah lubang di buah persik raksasa itu. Ketika ia masuk ke dalam, ternyata di sana ia bertemu dengan sekelompok serangga yang ukurannya lebih besar dari serangga biasa, dan mereka bisa bicara. Ada Kakek Belalang Hijau, Laba Laba besar, Kepik raksasa, Lipan, Cacing Tanah, Ulat Sutra, dan Cacing Cahaya. Bersama mereka, James terlibat petualangan seru melintasi samudera, bertemu dengan Manusia Awan, dan memperdaya burung burung.
James dan Persik Raksasa ditulis oleh Roald Dahl dan ada bayak ilustrasi ilustrasi dari Quentin Blake yang menggambarkan cerita di dalamnya. Buku ini memang buku untuk anak anak, meski ada bagian kekerasan yang di buku lain mungkin bisa terlihat terlalu sadis. Jadi begini, membaca buku ini seperti kita menonton kartun Tom and Jerry, dimana kekerasan tidak terlihat mengerikan, tapi lucu (rrr..mungkin lucu bukan kata yang tepat, tapi tahu kan maksud saya). Hal yang menurut saya janggal adalah kematian orang tua James. Ditelan badak mengamuk di siang hari. Hmm…
Overall, buat saya buku ini biasa saja, faktor U mungkin. Rate 2,5/5